Islam dan Moderasi Beragama Dila Arni Putri1. Khuzaifah2. Novianda Rezki Putri3. Sindi Klaudia4. Muhajir Darwis5 1,2,3,4,5 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bengkalis Dilaarni26@gmail. com, 2khuzaifah2543@gmail. com, 3noviandarezki@gmail. cyndyclaudya21@gmail. com, 5atandarwis@gmail. ABSTRACT: The issue of Islam and religious moderation is a complex topic that requires deep understanding. Religious moderation in the Islamic context refers to a more balanced and tolerant approach to Islamic teachings, which avoids extremism and fanaticism. This study delves into the concept of religious moderation in Islam, known as wasatiyah, and its relevance in the contemporary world. Religious moderation, emphasizing balance, tolerance, and a middle-ground approach, is deemed crucial in confronting the escalating challenges of radicalism and extremism. Employing a qualitative approach, the study analyzes literature and conducts interviews with religious scholars, academics, and practitioners of religious moderation from diverse Muslim nations. The findings reveal that applying the principles of religious moderation can bolster social harmony, enhance interfaith dialogue, and foster a more peaceful and inclusive society. The study also identifies challenges in implementing religious moderation, including resistance from extremist groups and a lack of public understanding of the concept. It recommends integrating wasatiyah values into religious education and public policy to promote a more tolerant, inclusive, and just society. Additionally, it encourages collaboration between governments and civil society organizations in promoting religious moderation Keywords: : Islam, religious moderation, and religiosity. ABSTRAK: Masalah Islam dan moderasi beragama adalah topik yang kompleks dan memerlukan pemahaman yang mendalam. Moderasi beragama dalam konteks Islam merujuk kepada pendekatan yang lebih seimbang dan toleran terhadap ajaran Islam, yang menghindari ekstremisme dan fanatisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep moderasi beragama dalam Islam, yang dikenal sebagai wasathiyah, dan relevansinya dalam konteks dunia modern. Moderasi beragama, yang menekankan keseimbangan, toleransi, dan sikap jalan tengah, dianggap penting dalam menghadapi tantangan seperti radikalisme dan ekstremisme yang semakin meningkat. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis literatur dan wawancara dengan ulama, akademisi, serta praktisi moderasi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip moderasi beragama dapat memperkuat harmoni sosial, meningkatkan dialog antaragama, dan menciptakan masyarakat yang lebih damai dan inklusif. Penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan-tantangan yang dihadapi dalam implementasi moderasi beragama. La-Tahzan: Jurnal Pendidikan Islam Volume 16. No. November 2024 Islam dan Moderasi Beragama termasuk resistensi dari kelompok ekstremis dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang konsep ini. Penelitian ini merekomendasikan integrasi nilai-nilai wasathiyah dalam pendidikan agama dan kebijakan publik untuk mempromosikan masyarakat yang lebih toleran, inklusif, dan berkeadilan, serta mendorong kerja sama antara pemerintah dan organisasi masyarakat sipil dalam mempromosikan moderasi beragama. Kata Kunci: Islam. Moderasi dan Beragama PENDAHULUAN Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memainkan peran kunci dalam penerapan dan promosi moderasi dalam Islam. Moderasi adalah inti dari ajaran Islam, yang menekankan keadilan dan keseimbangan dalam kehidupan seharihari. Islam moderat di Indonesia sangat penting untuk menjaga kerukunan sosial di tengah-tengah keberagaman agama, adat istiadat, suku, dan bangsa. Sikap moderat ini penting untuk mencegah radikalisme dan menjamin bahwa semua warga dapat hidup berdampingan dengan damai dan harmonis. Moderasi beragama mencakup sikap tidak ekstrem dalam pemahaman dan praktik agama. Pendekatan moderat ini membantu menyatukan masyarakat yang beragam, mendorong toleransi, dan memperkuat persatuan nasional (Dawing, 2. Oleh karena itu, moderasi beragama di Indonesia perlu dipahami dalam konteks lokal daripada hanya berdasarkan teks agama. Ini menunjukkan bahwa moderasi dalam beragama di Indonesia tidak berarti bahwa negara ini menjadi moderat, tetapi bahwa pendekatan terhadap praktik beragama harus bersifat moderat. Hal ini penting karena Indonesia memiliki kekayaan budaya, adat istiadat, dan kebiasaan yang sangat beragam. Islam moderat mampu menghadapi berbagai tantangan dalam konteks agama dan peradaban global. Selain itu, penganut Islam moderat dapat merespons kelompok radikal, ekstremis, dan puritan yang sering memilih kekerasan dengan sikap tegas namun damai (Fadl, 2. Islam dan umat Muslim kini menghadapi dua tantangan utama. Pertama, beberapa umat Islam cenderung bersikap ekstrem dan kaku dalam menafsirkan teks agama, bahkan berusaha memaksakannya pada masyarakat Muslim, terkadang melalui Kedua, ada kecenderungan ekstrem lain di mana beberapa orang bersikap terlalu longgar dalam praktik agama, mengikuti perilaku dan pemikiran negatif dari budaya lain. Mereka sering mengutip teks-teks agama (Al-Qur'an dan Hadi. serta karyakarya ulama klasik sebagai dasar pemikiran, namun cenderung memahaminya secara tekstual tanpa mempertimbangkan konteks sejarahnya. Akibatnya, mereka terlihat seperti generasi yang tertinggal, karena mereka menerapkan cara berpikir yang lebih cocok untuk masa lalu, meskipun hidup di era modern. (Hanafi, 2. Kehidupan memerlukan keberagaman. Di seluruh alam semesta, kita dapat melihat hukum alam ini. Alam ini diciptakan dengan prinsip keragaman. Dalam kesatuan Volume 16. No. November 2024 La-Tahzan: Jurnal Pendidikan Islam Dila Arni Putri, dkk manusia, kita melihat bagaimana Allah menciptakan berbagai suku dan kelompok etnis dalam satu bangsa. Allah menciptakan banyak dialek dalam satu bahasa. Menurut ijtihad individu. Allah menciptakan berbagai mazhab dalam syari'ah. Allah menciptakan berbagai agama dalam kesatuan umat-Nya . mmatan wahida. Keanekaragaman agama adalah hukum alam yang tidak dapat diabaikan (Ali, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep moderasi beragama dalam Islam, yang dikenal sebagai wasathiyah, dan relevansinya dalam konteks dunia modern. Langkah paling efektif guna mencegah radikalisme dan konflik adalah dengan mengimplementasikan pendidikan Islam yang bersifat moderat dan inklusif. Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan adalah sesuatu yang tak terhindarkan bagi manusia. Karena itu, prinsip al-Wasathiyyah dalam Islam mengakui elemen rabbaniyyah . erhubungan dengan Tuha. dan insaniyyah . erhubungan dengan manusi. , . , mengharmoniskan wahyu . dengan akal . Selain itu, al-Wasathiyyah juga memperhatikan kemaslahatan umum . aslahah amma. serta kemaslahatan individu . aslahah individ. (AlmuAotasim, 2. METODE PENELITIAN Penulisan jurnal ini dilakukan dengan metode studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah jenis penelitian yang melibatkan pengumpulan dan analisis informasi dari berbagai sumber yang relevan dengan subjek penelitian seperti ulama dan praktisi moderasi beragama. Sumber informasi dapat berupa artikel, laporan penelitian, buku, jurnal ilmiah, atau sumber lain yang terkait dengan topik penelitian. Proses studi kepustakaan biasanya mencakup langkah-langkah seperti mencari literatur, memilih sumber yang relevan, membaca dan memahami sumber tersebut, menganalisis informas, dan mengembangkan landasan teori untuk penelitian berikutnya. Tujuan dari metode studi kepustakaan adalah untuk mendapatkan pemahaman yang luas tentang topik penelitian yang sedang dilakukan HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Moderasi Beragama Dalam bahasa Latin, moderatio berarti keseimbangan, tengah, atau tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Kemampuan untuk menahan diri dari tindakan ekstrim juga disebut sebagai sifat moderat. Moderasi berarti menekan kekerasan atau menghindari ekstremisme, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Oleh karena itu, kata "bersikap moderat" menunjukkan bahwa seseorang bertindak normal, masuk akal, dan tidak ekstrem (Kementerian Agama RI, 2019. La-Tahzan: Jurnal Pendidikan Islam Volume 16. No. November 2024 Islam dan Moderasi Beragama Konsep moderasi lebih sering diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan kata "wasath" atau "wasathiyyah", yang memiliki arti serupa dengan kata "tawassuth", yang berarti tengah, "itidal", yang berarti adil, dan "tawazun", yang berarti keseimbangan. "Wasith" adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menerapkan prinsip wasathiyyah. Bahkan, kata "wasith" telah berkembang ke dalam bahasa Indonesia sebagai "wasit", yang memiliki tiga arti: penengah atau perantara, pelerai . uga disebut pemisah atau pendama. , dan pemimpin pertandingan (Kementerian Agama RI, 2019. Moderasi berasal dari kata "moderat", yang berarti mengambil jalan tengah tanpa condong ke sisi kanan atau kiri. Sikap ini merupakan salah satu ciri khas Islam. Berbagai literatur menguraikan konsep Islam moderat. Menurut as-Salabi, moderasi . mencakup berbagai makna seperti berada di antara dua ujung, pilihan terbaik . , keadilan, kualitas terbaik, dan posisi tengah antara baik dan buruk. Kamali mendefinisikan wasathiyah sebagai tawassut . , 'itidal . egak luru. , tawazun . , dan iqtishad . idak berlebiha. Qardlawi menambahkan bahwa wasathiyah mencakup makna lebih luas seperti keadilan, istiqamah . , menjadi yang terpilih atau terbaik, keamanan, kekuatan, dan persatuan (Ihsan & Abdullah, 2. Seorang Muslim yang menolak kekerasan dan tidak menunjukkan ekstremisme terhadap pihak yang didukung, serta tidak mengabaikan aspek spiritual hanya demi materialisme, tetapi memperhatikan keseimbangan antara aspek spiritual dan fisik, dan peduli tidak hanya pada individu tetapi juga aspek sosial, dapat dianggap memiliki karakteristik wasathiyyah atau moderat (Maimun, 2. Wasathiyyah, sebagaimana dalam Al-Qur'an, memiliki arti luas, termasuk konsep Keadilan adalah aspek krusial dalam hukum, khususnya dalam hal kesaksian. Keberadaan saksi yang adil adalah syarat mutlak. tanpanya, kesaksian tidak sah. Harapan masyarakat adalah keadilan, di mana kedua belah pihak diperlakukan secara seimbang, tanpa kecenderungan untuk memihak. Ini mencerminkan esensi wasathiyyah, menjauhi sikap bias dan mendukung keseimbangan hak (Maimun, 2. Wasathiyyah bukanlah tentang sikap netral atau pasif. itu menekankan keseimbangan dan tidak ekstrem. Moderasi juga tidak sama dengan wasath, yang hanya berarti Ini tidak menghalangi pencarian kebaikan, seperti dalam ibadah, ilmu, atau kekayaan, tetapi menekankan pada keseimbangan dan menjauhi ekstrem. Moderasi tidak berarti menjadi lemah lembut, tetapi mengikuti tengah-tengah yang bijaksana (Shihab. Wasathiyyah, dalam konteks Islam, juga mencerminkan kesempurnaan dalam berpikir dan bertindak, mengikuti jalan yang benar dan menjauhi yang salah. Umat Islam diajarkan untuk selalu meminta petunjuk kepada Allah agar tetap lurus dalam menjalani kehidupan dan menjauhi keburukan yang tidak diridhai oleh-Nya. Selain itu. Volume 16. No. November 2024 La-Tahzan: Jurnal Pendidikan Islam Dila Arni Putri, dkk wasathiyyah bisa diartikan sebagai kebaikan atau yang terbaik, sehingga Islam wasathiyyah dianggap sebagai agama yang terbaik. Ungkapan ini umum digunakan oleh orang Arab untuk memuji seseorang yang memiliki nasab terbaik di masyarakatnya, menekankan bahwa orang tersebut tidak ekstrem dalam praktik keagamaannya atau tidak menyimpang dari ajaran agama (Maimun, 2. Quraish Shihab menyatakan bahwa wasathiyyah bermakna keseimbangan dalam semua aspek kehidupan, termasuk dunia dan akhirat. Ini melibatkan penyesuaian diri dengan situasi yang dihadapi berdasarkan ajaran agama dan kondisi objektif. Wasathiyyah bukan sekadar menemukan titik tengah antara dua ekstrem, tetapi mencapai keseimbangan tanpa kelebihan atau kekurangan. Namun, wasathiyyah juga tidak berarti menghindari tantangan atau menolak tanggung jawab. Moderasi dalam praktik beragama adalah upaya untuk memperkuat pengertian dan keyakinan terhadap agama sendiri, sambil memberikan ruang bagi orang lain untuk mengamalkan keyakinan mereka. Orang yang moderat dalam beragama merasa bebas untuk mengembangkan keyakinan dan mempraktikkan ajaran agama mereka, sambil menghormati hak individu atau kelompok lain yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Sikap hormat dan penerimaan terhadap umat beragama lain dapat tercermin dalam interaksi sosial yang positif dan saling menghargai (Kementerian Agama RI, 2019. Moderasi mengamalkan ajaran agama, baik di antara anggota komunitas yang seagama maupun antara penganut agama yang berbeda. Sikap moderasi tidak terjadi secara spontan, melainkan dapat dikembangkan melalui pembentukan pengetahuan yang solid dan penerapan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan nilai-nilai agama yang autentik (Muhammad, 2. Landasan Moderasi Beragama Kepemilikan nilai moderasi dalam praktik keagamaan sangatlah relevan untuk kemajuan Indonesia. Sifat moderat, adil, dan seimbang dianggap esensial dalam mengelola keragaman di negara ini. Hak dan tanggung jawab yang sama diberikan kepada setiap individu dalam usaha membangun kehidupan yang damai bersama, yang pada akhirnya akan mendukung perkembangan negara (Kementerian Agama RI, 2019. Agama telah memberikan perhatian terhadap hal ini sejak zaman dahulu. Dalam Islam, umatnya disebut sebagai "ummatan wasathan" dengan harapan agar mereka menjadi umat yang terpilih yang selalu berada di tengah atau bersikap adil. Islam memiliki kekayaan istilah dan konsep moderasi yang diungkapkan melalui beragam kata Hal ini tercermin dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah: 143. U AA a A aE a aE eOIa eOA " A aN eOUA a AEa eO aE eIA a AEA ca aA aO aO aE eOIA a caAEaO EIA a A eO aEA a A aNa aA a AaOE aEaEa a a eE I aE eI a acIU acOA La-Tahzan: Jurnal Pendidikan Islam Volume 16. No. November 2024 Islam dan Moderasi Beragama Artin'ya: AuDengan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasulullah menjadi saksi atas perbuatan kamuAy. Ay Ayat tersebut menegaskan pentingnya karakteristik wasathiyyah dalam interaksi sosial umat Islam dengan masyarakat luas. Dalam konteks moderasi, umat Islam diminta untuk menjadi contoh yang baik bagi orang lain, baik sebagai saksi yang mengamalkan nilai-nilai Islam maupun sebagai individu yang memberi inspirasi kepada yang lain. Dengan mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW, umat Islam diharapkan dapat memperkuat kesaksian mereka dengan perilaku yang benar dan membenarkan. Ini menunjukkan bahwa moderasi dalam beragama melibatkan tanggung jawab untuk memperlihatkan ajaran Islam dalam tindakan sehari-hari dan menginspirasi kebaikan bagi Menjalani hidup dalam isolasi atau mempersempit pengalaman hidup tidaklah dianjurkan, bahkan jika dilakukan dengan alasan agama. Hal ini karena tindakan semacam itu tidak memperhitungkan kepentingan baik dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Sebaliknya, disarankan untuk mengembangkan komunitas umat Islam dengan meningkatkan jumlah keturunan, sehingga dapat memperluas jangkauan dan keberagaman dalam masyarakat Muslim. Pancasila, sebagai fondasi negara yang menyatukan ciri khas bangsa Indonesia, tidak hanya memandu kehidupan nasional, tetapi juga mempromosikan sikap moderat dalam Ini menjadikan Pancasila sebagai dasar utama untuk mempromosikan moderasi dalam aspek keagamaan dan nasional di Indonesia. Pancasila memiliki kapasitas untuk mewujudkan cita-cita negara yang inklusif, yang berarti setiap agama dihormati tanpa ada perlakuan khusus yang diberikan kepada agama tertentu. Sejak perumusan pada 1 Juni 1945. Pancasila telah menjadi pondasi filosofis yang mengikat masyarakat Indonesia secara bersama-sama. Pancasila bukan hanya menjadi landasan, tetapi juga semangat dan prinsip utama dari ideologi negara yang mengakomodasi keragaman etnis, budaya, dan agama dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Pancasila mencerminkan jalan tengah dan solusi bagi berbagai kelompok yang memperjuangkan negara berdasarkan agama tertentu atau sistem sekuler. Pancasila menduduki posisi tengah di antara ideologi Islam dan ideologi nasional Indonesia. Karenanya. Pancasila menjadi fondasi utama untuk moderasi dalam kehidupan agama, kebangsaan, dan negara di Indonesia. Penerimaan terhadap ideologi nasional dan pengakuan Pancasila sebagai satu-satunya prinsip harus disertai dengan sikap tengah, keseimbangan, toleransi, dan harmoni. Sikap moderat membawa dampak positif bagi agama, bangsa, dan negara. Dengan penuh kesederhanaan, individu dapat menghindari ancaman yang muncul dari fanatisme agama yang mendorong radikalisme dan ekstremisme. Ini membantu mencegah kejahatan terorisme yang dilakukan atas nama agama, serta menjaga aspek-aspek penting Volume 16. No. November 2024 La-Tahzan: Jurnal Pendidikan Islam Dila Arni Putri, dkk kehidupan manusia, seperti keyakinan, kejiwaan, akal, harta, dan keturunan, yang dikenal sebagai al-dlaruriyat al-khamsah. Karakteristik Moderasi Beragama Kemampuan untuk bersikap terbuka, menerima, dan bekerja sama antarindividu dalam suatu kelompok sangat penting dalam karakter moderat dalam beragama. Ini berarti bahwa individu dari berbagai latar belakang agama, suku, etnis, dan budaya perlu saling memahami satu sama lain, serta bersedia belajar dan berlatih untuk mengelola serta menyelesaikan perbedaan pemahaman dalam hal keagamaan. Salah satu prinsip mendasar dari karakter moderat dalam agama adalah menjaga keseimbangan di antara berbagai hal. Contohnya, keseimbangan antara wahyu dan akal, antara dimensi jasmani dan rohani, serta antara hak dan kewajiban, juga antara kepentingan individu dan kepentingan bersama. Keseimbangan ini juga tercermin dalam kebutuhan dan spontanitas, antara teks suci dan ijtihad para cendekiawan agama, antara aspirasi dan kenyataan, serta antara masa lalu dan masa depan. Itulah esensi dari moderasi agama yang adil dan seimbang, yang harus diperhatikan, dihadapi, dan Kedua nilai, yaitu keadilan dan keseimbangan, dapat lebih mudah dicapai jika seseorang memiliki tiga karakter utama, yaitu kebijaksanaan, ketulusan, dan keberanian. Dengan demikian, sikap moderat dalam agama selalu berada di tengah-tengah. Hal ini bisa diwujudkan dengan pengetahuan agama yang memadai untuk menjadi bijaksana, menghindari kesombongan dalam menafsirkan kebenaran, dan selalu bersikap netral dalam menyampaikan pendapat. Ada tiga syarat untuk mencapai sikap moderat dalam beragama: memiliki pengetahuan yang luas, mengendalikan emosi, dan berhati-hati. Hal ini dapat disederhanakan menjadi tiga kata kunci: berilmu, berbudi, dan berhati-hati. Karakter moderasi dalam agama Islam mencakup keseimbangan, kesederhanaan, keadilan, toleransi, egalitarianisme, musyawarah, perbaikan, prioritas, serta dinamis dan inovatif. Keseimbangan atau 'wasatiyyah' adalah prinsip penting dalam Islam yang mengajarkan umatnya untuk tidak condong kepada ekstremisme. Al-Qur'an menekankan perlunya keseimbangan. Dalam Surah Al-Baqarah . Allah berfirman bahwa umat Islam adalah 'ummatan wasatan', yaitu umat yang seimbang. Penyebaran doktrin ini diharapkan dapat mendorong umat untuk menjauhi sikap ekstrem dalam praktik Kesederhanaan dalam beragama mendorong para pengikut untuk menjalani ajaran Islam dengan cara yang tidak berlebihan. Nabi Muhammad SAW dikenal dengan sunnah yang menekankan kehidupan yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Hadis yang berbunyi, "Sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah," mencerminkan pentingnya kesederhanaan dalam ajaran Islam. La-Tahzan: Jurnal Pendidikan Islam Volume 16. No. November 2024 Islam dan Moderasi Beragama Keadilan adalah prinsip fundamental dalam Islam. Dalam Surah An-Nisa . , umat diperintahkan untuk bersikap adil, bahkan terhadap diri sendiri dan keluarga mereka. Moderasi beragama mencakup komitmen untuk memperjuangkan keadilan sosial dan menolak diskriminasi dalam bentuk apapun. Toleransi adalah aspek penting dari beragama yang Islam mendorong umatnya untuk bersikap toleran terhadap penganut agama lain. Surah AlKafirun . menunjukkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Toleransi juga tercermin dalam sejarah panjang interaksi antara masyarakat Muslim dengan penganut agama lain. Islam mengajarkan egalitarianisme, yang berarti kesetaraan di hadapan hukum dan di depan Allah. Dalam Surah Al-Hujurat . Allah mengatakan bahwa yang paling mulia di antara manusia adalah yang paling bertakwa. Ini menunjukkan bahwa status sosial tidak menjadikan seseorang lebih unggul daripada yang lain. Musyawarah adalah salah satu prinsip yang sangat dihargai dalam Islam. Dalam Surah Ash-Shura . Allah memerintahkan umat untuk saling bermusyawarah dalam urusan mereka. Ini mengindikasikan bahwa keputusan kolektif yang melibatkan partisipasi anggota masyarakat penting untuk mencapai konsensus dan keadilan. Perbaikan atau 'islah' menekankan pentingnya perbaikan diri dan masyarakat. Islam mengajarkan umat untuk selalu memperbaiki diri dan sosial. Dalam konteks moderasi, ini berarti mendorong keinginan untuk mengatasi ketidakadilan dan masalah sosial dengan cara yang konstruktif. Dalam menjalani hidup, umat Islam dianjurkan untuk memahami dan menetapkan prioritas. Di sini, moderasi beragama mengajak agar fokus pada hal-hal yang lebih penting dalam hidup, seperti etika, moralitas, dan kesejahteraan masyarakat, daripada berfokus pada aspek ritus yang kaku. Islam sebagai agama yang relevan dalam konteks zaman modern juga menunjukkan bahwa prinsip-prinsip ajarannya dapat diterapkan secara fleksibel dan inovatif. Dalam konteks ini, moderasi beragama mencakup kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan sosial tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar ajaran. KESIMPULAN Moderasi, awalnya dari bahasa Latin moderatio, menggambarkan sikap yang seimbang, tanpa berlebihan atau kekurangan. Ini juga mencerminkan pengendalian diri dari perilaku yang ekstrem. Moderasi dalam agama adalah nilai yang sesuai dengan kemaslahatan Indonesia, di mana karakter moderat, adil, dan seimbang menjadi kunci dalam mengelola keragaman bangsa. Diperlukan keterbukaan, penerimaan, dan kerjasama dari individu-individu untuk mewujudkan karakter moderasi beragama. Volume 16. No. November 2024 La-Tahzan: Jurnal Pendidikan Islam Dila Arni Putri, dkk DAFTAR PUSTAKA