JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI, Vol. No. 1 ,Juli 2024 p-ISSN : 1979-116X . e-ISSN : 2621-6248 . Doi : 10. 51903/kompak. http://journal. id/index. php/kompak Stratifikasi Sosial Masyarakat Pembudidaya Ikan Dan Strategi Pembangunan Budidaya Perikanan Di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur Aisna Hardin1. Fitriyana2. Juliani3 . Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Mulawarman, email : :aisnahardin9@gmail. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Mulawarman, email :fitriyana@fpik. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Mulawarman ARTICLE INFO Article history: Received 30 Mei 2024 Received in revised form 2 Juni2024 Accepted 10 Juni 2024 Available online 1 Juli 2024 ABSTRACT The objectives of this study were to identify the social strata/layers of the fish farming community in Samarinda City and to determine the strategy for aquaculture development in Samarinda City. Respondents in this study were selected using purposive sampling with a total of 26 respondents from fish farmers and 5 staff of the Fisheries Service. Data were analyzed using descriptive qualitative and quantitative and SWOT analysis. The results of the study found that there are two social stratifications in the cultivation community in Samarinda City, namely middlemen/collecting traders and owner fish farmers. Positions as middlemen/collecting traders and fish farmers are status roles that are obtained because they are fought for through their own choices or efforts . chieved statu. The top social layer is occupied by middlemen or collecting traders by looking at the level of wealth owned . wnership of vehicles, living conditions and ownership of luxury good. The strategy that can be carried out for the development of aquaculture in Samarinda City is an aggressive strategy, namely optimizing technology and infrastructure to support the marketing of aquaculture products. Keyword : Social stratification, aquaculture, development strategy, fish farmers Received Mei 23, 2024. Revised Juni 2, 2024. Accepted Juni 22, 2024 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248n PENDAHULUAN Stratifikasi sosial . ocial stratificatio. adalah pengelompokkan manusia kedalam kelompok-kelompok menurut kelas dan status yang memiliki parameter tertentu di dalam kelompok masyarakat (Dewi, 2. Dalam stratifikasi sosial, terbetuknya pelapisan masyarakat diperlukan pertemuan dua orang individu atau lebih sehingga menimbulkan perbedaan strata sosial tertentu dalam masyarakat yang memiliki kesamaan karakteristik. Hasibuan et. setiap orang yang mempunyai tingkat atau status sosial yang ada dalam kehidupan komunal akan terlihat lapisan sosial hadir lingkungan masyrakat dan akan tampak adanya kelas. Hal yang sama diungkapkan oleh Rahman dan Ega . bahwa stratifikasi sosial atau lapisan sosial dimasyarakat merupakan satu diantara hasil dari culture yang berkembang dan dipertahankan oleh komunitas masyarakat tertentu. Singgih . pengelompokkan masyarakat didasarkan adanya suatu simbol yang dianggap berharga atau bernilai secara sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya dan dimensi lainnya. Kota Samarinda adalah kota dengan potensi perikanan budidaya yang bisa dikembangkan. Potensi tersebut terutama pada perikanan budidaya air tawar. Dikarenakan Kota Samarinda tidak memiliki wilayah perairan laut, sehingga tidak ada kegiatan usaha budidaya perikanan laut yang dijalankan. Menurut data Badan Pusat Statistik . produksi perikanan budidaya di Kota Samarinda tahun 2022 sebesar 893, 50 ton. Jumlah tersebut sudah termasuk 676,50 ton produksi kolam dan 217 ton produksi karamba. Total jumlah produksi sepanjang tahun 2022 mengalami peningkatan dibandingkan dua tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2020 sebesar 706,60 ton dan tahun 2021 sebesar 736 ton. Semakin berkembangnya usaha budidaya perikanan di Kota Samarinda akan menjadi peluang besar kedepan jika melibatkan kerjasama yang dilakukan oleh masyarakat pelaku usaha budidaya dan pemangku kebijakan dalam hal ini Dinas Perikanan Kota Samarinda. Salah satu opsi upaya yang bisa dilakukan untuk pengembangan perikanan budidaya adalah dengan pemberdayaan SDM (Sumber Daya Manusi. pelaku usaha budidaya perikanan. Sumber Daya Manusia pelaku usaha budidaya yang memadai dari aspek sosial dan teknis akan menjadikan profuktivitas hasil budidaya meningkat dan semakin baik. Oleh karena itu penting dan menarik dilakukan kajian tentang masyarakat pelaku usaha budidaya perikanan untuk melihat eksistensi masyarakat pembudidaya tersebut sebagai subsistem komunitas yang dinilai memberikan kontribusi terhadap perkembangan sosial dan ekonomi pada sektor perikanan. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi stratifikasi/pelapisan sosial masyarakat pembudidaya ikan di Kota Samarinda. Merumuskan strategi pembangunan budididaya perikanan di Kota Samarinda METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2023. Adapun lokasi penelitian dilaksanakan di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Prosedur Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, kuisioner dan dokumen. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari responden, sedangkan data sekunder didapat melalui referensi pustaka jurnal, data badan pusat statistik dan data informasi dari Dinas Perikanan Kota Samarinda. Data kuantitatif diperlukan untuk mengetahui gambaran secara umum terkait tengkulak/pedagang pengumpul dan pembudidaya, sekaligus untuk mengetahui posisi mereka dalam kelas/tingkatan pelapisan masyarakat. Sedangkan data kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan Stratifikasi Sosial Masyarakat Pembudidaya Ikan Dan Strategi Pembangunan Budidaya Perikanan Di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. (Aisna Hardi. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 perkembangan kegiatan budidaya ikan dan pola internaksi antara tengkulak/pedagang pengumpul dengan pembudidaya ikan. Pengambilan sampel responden menggunakan teknik purposive sampling. Teknik tersebut diambil berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Menurut Sugiyono . teknik purposive sampling adalah cara pengambilan sampel responden dengan menerapkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Dalam penelitian ini reponden penlitian sebanyak 24 orang pembudidaya di Kota Samarinda dan 2 orang tengkulak/pedagang pengumpul. Responden dari sisi Dinas Perikanan Kota Samarinda adalah Kabid budidaya dan 3 orang KASI Serta 1 orang penyuluh dinas perikanan. Pengolahan dan Analisis Data Data penelitian ini diolah menggunakan deskripsi kuantitatif dan Analisis SWOT. Pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan mentabulasi silang dan melakukan perhitungan Hasil pengolahan data kuantitatif disajikan dalam bentuk tabel, grafik maupun Sedangkan untuk data kualitatif dilakukan dengan interprestasi yang disajikan berupa teks naratif disesuaikan dengan alur pembahasan. HASIL DAN PEMBAHASAN Stratifikasi Sosial Masyayarakat Pembudidaya Ikan di Kota Samarinda Identifikasi Sosial Masyarakat Pembudidaya di Kota Samarinda Studi kasus masyarakat pembudidaya di Kota Samarinda teridentifikasi dengan mengamati penguasaan aset-aset produksi, bahwa terdapat stratifikasi sosial meskipun tidak begitu kompleks seperti pada stratifikasi sosial yang berada didaerah pedesaan yang cenderung memiliki karakter sosial yang tinggi. Sama hal yang diungkapkan oleh Zuraidah . pada umumnya hubungan sesama masyarakat pedesaan cenderung lebih terasa kedekatannya dibanding masyarakat perkotaan. Sistem stratifikasi sosial pada masyarakat pembudidaya di Kota Samarinda bersifat terbuka . chieved statu. Achieved status adalah kedudukan/jabatan yang didapat oleh seseorang dengan usaha yang disengaja. Menurut Galuh . dalam sistem pelapisan sosial atau stratifikasi sosial masyarakat pembudidaya ikan paling umum ada 3 strata, strata atas adalah mereka yang memiliki dan menguasai wilayah tambak/budidaya yang luas, strata menengah yaitu mereka yang mempunyai tambak/budidaya yang sedang atau kecil, serta strata bawah yaitu mereka yang mengelola lahan budidaya/buruh budidaya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat teridentifikasi 2 . strata sosial masyarakat pembudidaya yang ada di Kota Samarinda yaitu : strata atas ditempati oleh tengkulak/Pedagang pengumpul, sedangkan kelompok pembudidaya terdapat pembudidaya Sampel kelompok pembudidaya berdasarkan strata secara terperinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 1. Sampel yang teridentifikasi berdasarkan strata sosial pembudidaya di Kota Samarinda Kelompok Jumlah (Oran. Persentase (%) Tengkulak/pedagang Pembudidaya Pemilik Jumlah JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 22 Ae 3 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248n Data primer yang diolah, 2023 Sistem stratifikasi sosial pada masyarakat pembudidaya yang ada di Kota Samarinda teridentifikasi yaitu adanya stratifikasi sosial yang terbentuk dengan tujuan tertentu antara pembudidaya dengan pedagang pengumpul. Sistem stratifikasi sosial dari segi ukuran ekonomi pada masyarakat pembudidaya bersifat terbuka, karena seseorang bisa saja berubah posisi dari suatu strata ke strata yang lainnya. Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Sistem Stratifikasi Sosial Masyarakat Pembudidaya Terbentuknya stratifikasi sosial berasal dari kebiasaan manusia dalam berkomunikasi, berhubungan dan bersosialisasi secara teratur maupun tersusun, baik secara individu maupun kelompok (Turambi dan Debby, 2. Identifikasi kriteria yang berperan sebagai penentu posisi dalam stratifikasi sosial masyarakat terbilang beragam. Kriteria tersebut antara lain : sifat keaslian status, pengaruh dan kehormatan, tingkat umur dan senioritas, tingkat pendidikan dan tingkat kekayaan. Sifat Keaslian Status Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, status seseorang ada yang didapat karena keturunan ada pula karena diusahakan. Hal terssebut sejalan yang diungkapkan oleh Mundaryana . bahwa dahulu stratifikasi sosial masyarakat didapat melalui keturunan, akan tetapi seiring berjalannya waktu stratifikasi sosial mulai didapat dari usaha sendiri. Menurut Aji . perpindahan stratifikasi/lapisan sosial disebabkan mobilisasi sosial yang artinya berpindahnya posisi masyarakat dari lapisan yang satu ke lapisan yang lain atau dari dimensi yang satu kedimensi yang lain Sifat keaslian status tidak begitu memberi pengaruh terhadap sistem sratifikasi sosial pada masyarakat pembudidaya di Kota Samarinda. Hal tersebut dikarenakan tengkulak/pedagang pengumpul dan pembudidaya pemilik menjalankan usaha berdasarkan hasil usahanya sendiri. Pengaruh dan Kekuasaan Pengaruh dan kekuasaan seseorang dalam masyarakat sangat berhubungan erat dengan kedudukan orang tersebut sebagai yang berkuasa dan dihormati pada daerah Hal yang sama diungkapkan Korompis et. bahwa salah satu penyebab terbentuknya stratifikasi sosial dimasyarakat adalah kekuasaan dan biasanya faktor kekuasaan tersebut yang menempati posisi lapisan teratas. Studi kasus pada stratifikasi sosial di Kota Samarinda yang berkaitan dengan pengaruh dan kekuasaan tidak selalu mempengaruhi sistem stratifikasi masyarakat di kalangan Pembudidaya di Kota Samarinda secara umum tidak membeda-bedakan antara strata yang satu dengan yang lainnya, walaupun misalnya dia adalah seorang tengkulak atau pedagang pengumpul. Bagi pembudidaya yang ada di Kota Samarinda, status sosial atau yang memiliki pengaruh dan kekuasaan adalah seorang pejabat pemerintah. Pejabat tersebut misalnya Lurah. Camat. Anggota DPRD maupun pejabat publik lainnya. Selain pejabat pemerintahan status sosial yang memiliki pengaruh adalah para pemuka agama seperti, guru agama. Imam Masjid. Ustadz maupun Ulama. Tingkat Umur dan Senioritas Pada umumnya dalam menekuni usaha budidaya ya ng lebih produktif dan berhasil rata-rata adalah mereka yang memiliki usaha lebih lama dan umur yang lebih tua. Saktiawan et al. Umur yang lebih tua berarti pembuddiaya tersebut memiliki pengalaman yang banyak dalam usaha budidaya ikan sehingga lebih terampil. Fajarwati et. keterampilan pembudidaya didapat dari belajar otodidak yang diperoleh dari pembelajaran kelompok pembudidaya ikan. Hal tersebut membuktikan bahwa umur dan lamanya dalam menjalankan usaha antara Pedagang pengumpul yang ada di Kota tidak terlalu berbeda dengan pembudidaya. Stratifikasi Sosial Masyarakat Pembudidaya Ikan Dan Strategi Pembangunan Budidaya Perikanan Di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. (Aisna Hardi. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Tabel 2. Perbandingan Tingkat Umur dan lama usaha Responden Pedagang Pengumpul dan Pembudidaya Kategori Tengkulak (Pedagang Pengumpu. Pembudidaya Jiwa Persentase (%) Jiwa Persentase (%) Usaha 5-9 Umur (Th. Interval Jumlah Lama (Th. Lebih Jumlah Data primer yang diolah, 2023 Tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa umur pedagang pengumpul/tengkulak berada pada kisaran 35-44 tahun. Pedagang pengumpul tersebut tidak melakukan kegiatan budidaya, mereka hanya berfokus melakukan penjualan ikan yang dibeli dari pembudidaya yang ada di Kota Samarinda. Sedangkan kisaran umur untuk pembudidaya beramam mulai pada kisaran 25-34 sampai dengan usia diatas 50 tahun. Lamanya seseorang dalam menjalankan usaha, menunjukkan bahwa usaha tersebut tetap memberikan harapan yang besar kepada pelaku usaha itu sendiri. Hal tersebut berlaku juga bagi pembudidaya yang ada di Kota Samarinda. Lamanya usaha tidak menjadikan tengkulak menempati posisi yang lebih tinggi didalam masyarakat hanya karena ia lebih senior atau lebih lama pengalamannya dalam usaha. Terlebih posisi tengkulak disini adalah sebagai pedagang pengumpul saja tidak ikut dalam proses berbudidaya ikan. Tingkat Kekayaan Ukuran kekayaan dapat dilihat dari kepemilikan tanha, kepemilikan mobil/kendaraan pribadi lainnya, kepemilikan barang mewah dan lain-lain (Galuh, 2. Berbagai faktor yang telah diuraikan sebelumnya, menunjukkan tidak terllihat perbedan yang mencolok yang dapat berpengaruh terhadap penempatan posisi pembudididaya dalam lapisan tertentu. Dibawah ini lebih akan diuraikan mengenai tingkat kekayaan yang dimiliki oleh tengkulak dan pembudidaya ikan yang ada di Kota Samarinda. Kepemilikan Lahan Salah satu yang menjadi faktor munculnya stratifikasi sosial masyarakat adalah luas lahan yang dimiliki (Asniar, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap responden pembudidaya di Kota Samarinda hampir semua memiliki lahan budidaya sendiri. Mereka mengelola tanah milik mereka sendiri sehingga disebut juga sebagai pembudidaya Pembudidaya di Kota Samarinda tidak menggunakan tenaga upah atau buruh untuk mengelola lahan budidaya yang mereka miliki. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 22 Ae 3 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248n Tabel 3. Perbandingan persentase Penguasaan lahan budidaya Lahan . Tengkulak (Pedagang Pembudidaya Pengumpu. Jiwa Persentase (%) Jiwa Persentase (%) Diatas 55 Jumlah Kondisi Tempat Tinggal dan Kepemilikan Kendaraan Kondisi tempat tinggal antara pembudidaya ikan dan tengkulak/pedagang pengumpul di Kota Samarinda beragam, akan tetapi tidak begitu berbeda jauh. Tengkulak dan pembudidaya di Kota Samarinda ada yang sudah menempati hunian rumah yang permanen dan semi permanen. Tempat tinggal yang semi permanen yaitu rumah dengan atap seng, dinding dan lantai sebagian beton dan papan kayu yang tersusun rapi dan dalam keadaan Sedangkan hunian rumah yang permanen yaitu rumah dengan pondasi yang kokoh, dinding dari batu bata/batako, atap dari genteng dan lantai dari semen atau keramik. Ada juga rumah yang tidak permanen yaitu rumah dengan atap kajang, dinding dan lantainya kayu yang tidak tersusun rapi dan dalam kondisi yang tidak terlalu sempurna. Menurut Karmila dan Swis . bentuk rumah permanen biasanya identik dengan orang yang memiliki penghasilan tinggi. Pedagang pengumpul dan pembudidaya yang ada di Kota Samarinda berdasarkan penelitian terhadap responden ditemukan bahwa semua rumah yang mereka tinggali milik Untuk lebih jelasnya klasifikasi terhadap kondisi tempat tinggal bisa dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 4. Perbandingan kondisi tempat tinggal dan kepemilikan kendaraan pembudidaya dan tengkulak di Kota Samarinda Stratifikasi Sosial Masyarakat Pembudidaya Ikan Dan Strategi Pembangunan Budidaya Perikanan Di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. (Aisna Hardi. n p-ISSN : 1979-116X Kategori Tengkulak Pengumpu. e-ISSN : 2621- 6248 (Pedagang Pembudidaya Jiwa Persentase (%) Jiwa Persentase (%) Permanen Kondisi Tempat Semi Permanen Tinggal Tidak Permanen Jumlah Kepemilikan Kendaraan Tidak ada Sepeda motor Sepeda dan mobil pick-up Jumlah Data primer yag diolah, 2023 Tabel 4 menunjukkan perbandingan kondisi tempat tinggal antara pembudidaya ikan dan pedagang pengumpul di Kota Samarinda. Dari jumlah responden 1 orang tengkulak/pedagang pengumpul memiliki rumah dengan kondisi permanen dan 1 orang lagi dengan kondisi semi Sedahangkan pembudidaya sebanyak 17 persen dengan kondisi tempat tinggal yang permanen dan 75 persen semi permanen serta 8 persen dengan kondisi tempat tinggal yang tidak permanen. Menurut Purnamasai et. dalam penelitian lain menemukan bahwa seseorang yang memiliki lahan tambak yang luas biasanya mampu membangun rumah dengan kondisi permanen, juga membeli kendaraan dan barang mewah secara lengkap. Sedangkan untuk kepemilikan kendaraan antara pembudidaya ikan dan pedagang pengumpul/tengkulak keseluruhan sudah memiliki kendaraan berupa sepeda motor sebagai penunjang dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Ada 1 orang tengkulak yang sudah memiliki sepeda motor dan sekaligus kendaraan mobil pick-up. Kepemilikan Barang Mewah Kepemilkan barang-barang mewah seperti barang elektronik (TV/DVD/Radio/Tap. merupakan hal yang umum bagi pembudidaya dan pedagang pengumpul. Terlebih Kota Samarinda merupakan salah satu kawasan perkotaan yang terbilang maju. Hal tersebut dikarenakan kemudahan dalam akses teknologi, listrik yang tersedia dan lain lain sehingga pembudidaya dengan mudah melengkapi fasilitas rumah mereka dengan barang elektronik dan barang mewah lainnya seperti Kulkas, mesin cuci bahkan ada pembudidaya yang sudah menggunakan laptop. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 22 Ae 3 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248n Tabel 5. Klasifikasi kepemilikan barang mewah antara tengkulak dan pembudidaya Kepemilikan Barang Mewah Tengkulak (Pedagang Pembudidaya Pengumpu. Jiwa Persentase (%) Jiwa Persentase (%) Tidak memiliki Barang Mewah Radio/Tape dan TV/DVD Radio/Tape. TV/DVD dan Kulkas Radio/Tape. TV/DVD dan Kulkas dan 2 Mesin Cuci Radio/Tape. TV/DVD dan Kulkas. Mesin Cuci. Laptop dan lain-lain Jumlah Strategi Pembangunan Budidaya Perikanan di Kota Samarinda dengan SWOT Analisis Faktor Strategi Internal Eksternal Faktor internal dan faktor eksternal diajukan dalam bentuk kuisioner kepada responden penelitian. Pada kuisioner ini peneliti memilih 24 orang pembudidaya sebagai responden didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu. Untuk mengetahui lebih jelas jawaban yang menyangkut faktor internal dan eksternal dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 6 Matrix internal Factor Evaluation (IFE Matri. Uraian Bobot Rating Skor KEKUATAN Perikanan adalah Organisasi Perangkat Daerah yang 0,07 Independen SDM Dinas Perikanan Memadai dilihat dari segi tingkat 0,07 Samarinda Menjadi Pusat Pemasaran Hasil Perikanan Pelaku Usaha Budidaya cukup banyak 0,07 0,28 Tersedianya Fasilitas Balai Benih Ikan (BBI) Tekologi yang memadai dalam Membantu Distribusi 0,07 Pemasaran Dukungan Pemerintah Pusat (KKP) 0,21 0,28 0,21 2,18 KELEMAHAN Program pakan mandiri belum mampu menjawab akan 0,05 mahalnya harga pakan Tenaga penyuluh Dinas Perikanan kurang 0,07 Koordinasi/Komunikasi Pembudidaya dan Pihak Dinas 0,07 masih kurang Keterbatasan Anggaran 0,07 Program bantuan belum terkelola dengan baik Keterbatasan modal usaha pembudidaya 0,14 0,14 0,07 Stratifikasi Sosial Masyarakat Pembudidaya Ikan Dan Strategi Pembangunan Budidaya Perikanan Di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. (Aisna Hardi. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 0,75 Total 2,93 Tabel 6 menunjukkan angka 2,93 untuk nilai IFE matrix yang artinya dalam pembangunan budidaya di Kota Samarinda posisi Dinas Perikanan masuk dalam kategori kuat dalam hal kekuatan internal dikarenakan nilai IFE matrix berada diatas rataan 2,5. Tabel 7 Matrix External Factor Evaluation (IFE Matri. URAIAN Bobot Rating Skor PELUANG Ditetapkannya Kaltim sebagai IKN Potensi Budidaya Maritim di daerah Bantuas 0,05 0,15 Kebutuhan akan protein ikan di masyarakat 0,073 Infrastruktur pendukung yang memadai terutama 0,073 dalam hal pemasaran hasil Semakin berkembangnya Usaha pengolahan yang berbahan baku ikan Adanya Perguruan tinggi dan Lembaga Penelitian 0,073 yang siap membangun kerjasama 0,219 0,219 0,219 1,50 ANCAMAN Harga Pakan yang Mahal Perubahan Iklim yang Ekstrim 0,073 0,146 Serangan Hama dan Penyakit ikan 0,073 0,073 Fenomena terjadinya air bangai 0,05 Kualitas air semakin menurun 0,073 0,146 Eksisting lahan budidaya . ata ruang sempi. Penurunan jumlah pembudidaya karena beralih 0,073 profesi ke sektor non perikanan 0,146 0,91 Total 2,41 Tabel 7 menunjukkan angka 2,41 untuk nilai EFE matrix yang artinya dalam pembangunan budidaya di Kota Samarinda posisi Dinas Perikanan masuk dalam kategori lemah dalam hal peluang eksternal yang ada dikarenakan nilai EFE matrix berada dibawah rataan 2,5. Selanjutnya dilakukan perhitungan selain tabel untuk menentukkan strategi yang tepat yang perlu dijalankan oleh pihak Dinas Perikanan di Kota samarinda. Perhitungan tersebut dengan melihat selisih antara kekuatan dan kelemahan pada faktor internal serta melihat selisih antara peluang dan ancaman pada faktor eksternal. Pada tabel IFE Matrix nilai kekuatan sebesar 2,18 dan nilai kelemahan sebesar 0,75, selisih antar kedua nilai tersebut adalah 1,43. Sedangkan nilai dari faktor eksternal peluang sebesar 1,50 dan nilai ancaman sebesar 0,91, selisih antara kedua nilai tersebut adalah 0,59. Hasil nilai antara faktor internal dan eksternal yang sudah dihitung selisihnya kemudian membentuk titik kordinat . ,43 . Berdasarkan titik kordinat JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 22 Ae 3 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248n tersebut posisi dinas perikanan Kota Samarinda berada paa kuadran 1 . endukung strategi Matrix SWOT Strategi Dinas Perikanan Kota Samarinda Setelah melakukan perhitungan nilai IFE dan EFE sekalifus pembuatan titik koordinat untuk mengetahui strategi apa yang paling tepat, langkah selanjutnya adalah membuat tabel matrix SWOT untuk membuat strategi kebijakan yang bisa dijalankan oleh Dinad Perikanan Kota Samarinda dalam pembangunan budidaya perikanan. Tabel 8. Matrik SWOT Kekuatan Faktor Internal Faktor Eksternal Peluang Ditetapkannya KALTIM sebagai IKN Potensi Budidaya Maritim Bantuas Kebutuhan akan protein ikan dimasyarakat Infrastruktur pendukung yang memadai terutama dalam hal pemasaran Semakin berkembangnya Usaha berbahan baku ikan Adanya Perguruan tinggi dan Lembaga Penelitian yang siap membangun Ancaman Harga Pakan Mahal Perubahan iklim yang Kelemahan Dinas Perikanan Organisasi Perangkat Daerah yang Independen SDM Dinas Perikanan Memadai dilihat dari segi tingkat pendidikan Samarinda Menjadi Pusat Pemasaran Hasil Perikanan Pelaku Usaha Perikanan Budidaya cukup Banyak Tersedianya Fasilitas BBI (Balai Benih Ika. Tekologi dalam Membantu Distribusi Pemasaran Dukungan Pemerintah Pusat Stategi S-O . Program pakan mandiri belum mampu menjawab akan mahalnya harga pakan . Tenaga penyuluh dinas perikanan kurang . Koordinasi/Komunikasi Pembudidaya dan Pihak Dinas masih kurang . Keterbatasan anggaran . Program bantuan belum terkelola dengan baik . Keterbatasan Pengoptimalan Teknologi Infrastruktur mendukung pemasaran hasil budidaya perikanan (S3. S6. S7. O1. O3,O. Strategi W-O Rekrutmen tenaga PPL (Penyuluh Pertanian Lapanga. memenuhi secara kualitas dan kuantitas (W2. W3. W5. O1. Pengoptimalan lapangan dan inovasi terkait kebutuhan pelaku usaha budidaya (W2. W3. W5. W6. O3. O5. Strategi S-T Strategi W-T Peningkatan perikanan yang berbasis Non-Urban (S1. S4. S5. S7. Alokasi anggaran yang tepat sasaran dan sumber diperluas (APBN. APBD Stratifikasi Sosial Masyarakat Pembudidaya Ikan Dan Strategi Pembangunan Budidaya Perikanan Di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. (Aisna Hardi. n Serangan hama dan penyakit ikan Fenomena terjadinya air Eksisting budidaya . ata ruang Penurunan beralih profesi ke sektor non perikanan p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : T2. T3. T5. 2621- 6248 dan CSR/Swast. (W1. W4. W5. W6. T1. T5. Peningkatan kualitas SDM (W2. W3. W5. T2. T3. Pengoptimalan pakan mandiri dan pakan tinggi/akademisi (W1. Peningkatan bantuan untuk modal usaha pembudidaya (W5. W6. T1. T5. Kesimpulan Stratifikasi/pelapisan sosial masyarakat pembudidaya di Kota Samarinda terdapat 2 strata, yaitu tengkulak/pedagang pengumpul dan pembudidaya ikan pemilik. Status sosial yang didapat oleh pedagang pengumpul dan pembudidaya ikan pemilik diperoleh karena diperjuangkan melalui pilihan dan usahanya sendiri sehingga bisa mengalami perubahan, baik peningkatan status maupun sebaliknya mengalami penurunan bergantung pada kemampuan masing-masing pelaku . chieved statu. Lapisan sosial teratas ditempati oleh tengkulak/pedagang pengumpul dengan melihat tingkat kekayaan yang dimiliki (Kepemilikan kendaraan, kondisi tempat tinggal dan kepemilikan barang mewa. Lapisan kedua ditempati oleh pembudidaya ikan pemilik. Posisi Dinas Perikanan Kota Samarinda berada dalam kuadran 1, sehingga strategi yang tepat dijalankan adalah mendukung strategi agresif. Sehingga dari 8 . strategi pada matrix SWOT yang paling tepat adalah strategi S-O yaitu pengoptimalan teknologi dan infrastruktur untuk mendukung pemasaran hasil budidaya perikanan. DAFTAR PUSTAKA