Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Prodi Pendidikan Sosiologi Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Peran Guru Kelas dan Orangtua dalam Mencegah Cyberbullying di Sekolah Dasar Mohammad Afif Jerusalem1. Dian Hidayati2 Manajemen Pendidikan. Universitas Ahmad Dahlan Email: 2207046022@webmail. Manajemen Pendidikan. Universitas Ahmad Dahlan Email: dian. hidayati@mp. Abstract. This research was conducted descriptive qualitatively using a case study approach. The research location is in a private elementary school in Yogyakarta City. The aim of this research is to determine the role of classroom teachers and parents in preventing cyberbullying in elementary schools. Cyberbullying among elementary school students has become an increasingly disturbing issue, requiring serious attention for effective prevention and treatment. This research explores the important role of classroom teachers and parents in efforts to prevent cyberbullying in elementary school environments. Classroom teachers play a central role in providing education to students regarding healthy online behavior, digital ethics, and the negative impact of cyberbullying. They also act as active monitors in the school environment, identifying potential signs of cyberbullying, and administering appropriate sanctions. On the other hand, parents have a responsibility to monitor children's online activities, use parental control tools, and be directly involved in their digital lives. By keeping open channels of communication, parents can create an environment where children feel comfortable talking about their online experiences. Close collaboration between classroom teachers and parents, with a focus on education, supervision and support, is considered the main key in creating an elementary school environment that is safe from the threat of cyberbullying. This study aims to provide a holistic view of the role of both and support the implementation of sustainable prevention strategies at the primary school level. Keywords : Cyberbullying. Elementary School. Parents. Classroom Teachers Abstrak. Penelitian ini dilakukan dengan kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian ada di salah satu SD swasta di Kota Yogyakarta. Tujuan penelitian ini yaitu untuk dapat mengetahui Peran Guru Kelas dan Orangtua dalam pencegahan Cyberbullying di sekolah dasar. Cyberbullying di kalangan siswa sekolah dasar telah menjadi isu yang semakin meresahkan, memerlukan perhatian serius untuk pencegahan dan penanganan yang efektif. Penelitian ini mengeksplorasi peran penting guru kelas dan orang tua dalam upaya pencegahan cyberbullying di lingkungan sekolah dasar. Guru kelas memegang peran sentral dalam memberikan edukasi kepada siswa mengenai perilaku online yang sehat, etika digital, serta dampak negatif dari cyberbullying. Mereka juga berperan sebagai pengawas aktif di lingkungan sekolah, mengidentifikasi tanda-tanda potensial cyberbullying, dan memberikan sanksi yang sesuai. Di sisi lain, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memantau aktivitas online anak-anak, menggunakan alat kontrol parental, dan terlibat langsung dalam kehidupan digital mereka. Dengan membuka saluran komunikasi yang terbuka, orangtua dapat menciptakan lingkungan di mana anak-anak merasa nyaman berbicara tentang pengalaman online mereka. Kerjasama erat antara guru kelas dan orangtua, dengan fokus pada pendidikan, pengawasan, dan dukungan, dianggap sebagai kunci utama dalam menciptakan lingkungan sekolah dasar yang aman dari ancaman cyberbullying. Studi ini bertujuan memberikan pandangan holistik terhadap peran keduanya dan mendukung implementasi strategi pencegahan yang berkelanjutan di tingkat sekolah dasar. Kata Kunci : Cyberbullying. Sekolah Dasar. Orangtua. Guru Kelas Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 PENDAHULUAN Internet memiliki peran yang sangat besar dalam transformasi cara kita berkomunikasi, belajar, bekerja, dan mengakses informasi. Namun, seiring dengan manfaatnya, internet juga membawa potensi bahaya yang perlu diwaspadai. Bahkan seiring dengan kemajuan dan perkembangan teknologi informasi tersebut, banyak orang mempunyai gadget dan cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya (Chakan & Millenio, 2. Banyaknya kegiatan disekitar kita kini sering berkaitan dengan dunia maya dan tentu saja ada positif dan negative yang didapatkan. Beberapa dampak negative yang didapat dari penggunaan yang berhubungan dengan internet. Dampak negatif internet tersebut diantaranya: internet addiction. Cyberbullying, cyber pornography, risiko kesehatan, penipuan dan kekerasan yang mendistorsi perkembangan peserta didik(Bauman et al. , 2. Meskipun Cyberbullying lebih umumnya terjadi di tingkat sekolah menengah atau tinggi, tidak dapat diabaikan bahwa ancaman ini juga dapat merambah ke lingkungan sekolah dasar. Terlebih lagi, anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar, kini telah akrab dengan penggunaan gadget dan media sosial. Adapun salah satu tantangan yang sering muncul adalah fenomena Cyberbullying atau perundungan siber di kalangan mereka(Darmawan et al. , 2. Cyberbullying di sekolah dasar dapat terjadi melalui pesan teks, media sosial, atau bahkan dalam bentuk ancaman dan pelecehan online. Oleh karena itu, peran orang tua dan pendidik sangat penting dalam memberikan pemahaman tentang etika online, kesadaran keamanan digital, dan pengelolaan waktu secara bijak dalam menggunakan internet. Dengan pendekatan yang tepat, internet dapat menjadi alat pendidikan yang kuat, asalkan siswa diberdayakan dengan pemahaman yang baik tentang potensi risiko dan tanggung jawab online oleh orangtua siswa maupun Sekolah. Peran orang tua sangat besar bagi masingmasing agar dapat memiliki karakter dan kepribadian yang baik. Setiap orang tua diharapkan dapat memberikan suri teladan yang baik tentang bagaimana cara menghargai dan menghormati setiap individu lain secara hormat serta dalam batas- batas prilaku yang dianggap sebagai suatu perbuatan bullying sehingga anak mengetahui dengan pasti apa yang ia rasakan serta dapat melaporkan prilaku tersebut kepada orang tua. (Anggraeni & Rahmi, 2. Sekolah bukan hanya sekadar memberikan kesempatan untuk belajar, tetapi juga merupakan langkah penting dalam membuka pintu bagi pengalaman sosial yang berharga. Orang tua yang menitipkan anak mereka di sekolah ingin memberikan yang terbaik bagi perkembangan pendidikan dan sosial anak-anak mereka. Di sekolah, anak-anak memiliki kesempatan untuk belajar dari guru yang terlatih dan memperoleh pengetahuan yang dapat membentuk dasar perkembangan mereka. Selain itu, interaksi dengan teman sebaya di sekolah juga memainkan peran krusial dalam membentuk kemampuan sosial dan keterampilan interpersonal anak-anak. Proses belajar dan bermain bersama teman-teman sekelas membantu membentuk kepribadian anak-anak, mengajarkan nilai-nilai kerjasama, dan memberikan pengalaman berharga yang membawa dampak positif dalam kehidupan sehari-hari mereka. Peran guru dan orang tua siswa memberikan dampak yang sangat besar dalam pendidikan anak(Qadafi, 2. Dengan menitipkan anak di sekolah, orang tua secara tidak langsung membuka pintu untuk anak mereka belajar tidak hanya dari buku pelajaran, tetapi juga dari interaksi sosial yang luas dan beragam bahkan terkait bersosialisasi dengan temannya untuk pencegahan Bullying. Cyberbullying, sebagai permasalahan serius dalam konteks pendidikan, memerlukan perhatian bersama dari seluruh komunitas sekolah. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi korban secara emosional, tetapi juga dapat memiliki dampak jangka panjang pada perkembangan psikologis dan sosial mereka. Terlebih pada usia sekolah dasar yang rentan akan tersinggung dan kesalahpahaman diantara teman sebayanya (Olweus, 2. Oleh karena itu. Guru dan orang tua perlu memiliki strategi untuk dapat mencegah Bullying maupun Cyberbullying sejak dini yaitu ketika anak-anak berada disekolah dasar. Kolaborasi antara guru dan orangtua inilah yang diharapkan lebih maksimal dibandingkan hanya dilakukan oleh guru atau orangtua sendiri. Adapun Tujuan dari penelitian kami yaitu Bagaimana Strategi Guru dan Orangtua dalam mencegah Cyberbullying di Sekolah Dasar. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 METODE PENELITIAN Penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang nantinya menghasilkan data deskriptif yang berbentuk kata-kata tertulis dari orang yang telah diteliti dan diwawancarai. Peneliki akan menggunakan pendekatan studi kasus. Tempat ini penelitian dilaksanakan di salah satu SD Swasta di Kota Yogyakarta. Lokasi sekolah dipilih karena salah satu sekolah swasta yang berada di Kota Yogyakarta dan aktivitas guru, orang tua dan siswa sudah paham dalam penggunaan teknologi serta siswa beberapa sudah menggunakan Handphone sendiri. Tabel 1. Daftar Informan Informan Teknik Jumlah Guru Kelas 4 Wawancara Orangtua/ Walimurid Kelas 4 Wawancara Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Muhammadiyah Nitikan dengan melibatkan orang tua dan guru yang melatarbelakangi penelitian ini untuk menemukan pola kolaborasi dalam pencegahan Cyberbullying pada siswa sekolah dasar. Wawancara adalah pemilihan penulis dalam Teknik pengumpulan data nantinya. Selanjutnya data yang diperoleh oleh peneliti dianalisis dengan menggunakan model analisis Miles dan Huberman (Miles et al. , 2. Analisis data nantinya akan dilakukan dengan empat Langkah, yaitu dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan Pengumpulan Data Penyajian Data Reduksi Data Penarikan Kesimpulan Gambar 1. Langkah-langkah penelitian Penelitian kualitatif dilakukan dari kegiatan pengumpulan data. Peneliti akan Menyusun kisikisi instrument, kemudian menganalisis sumber informasi dan refrensi yang ada serta mewawancarai Kegiatan selanjutnya yaitu reduksi data. Kegiatan ini peneliti mulai menyeleksi dan menganalisis hasil dari wawancara peneliti terhadap responden. Data dipilah-pilah sesuai kode, dan dikategorikan serta dibuat ringkasan. Kegiatan Ketiga yaitu penyajian data. Data dibuat narasi, selanjutnya diberi penguatan dari hasil pembahasan. Langkah terakhir yaitu penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan ini terkait tujuan penelitian penulis yaitu Peran Guru Kelas dan Orangtua dalam pencegahan Cyberbullying di Sekolah Dasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk CyberBullying di Sekolah Dasar Cyberbullying di sekolah dasar dapat muncul dalam berbagai bentuk, meskipun cenderung lebih sederhana dan kurang kompleks dibandingkan dengan kasus di tingkat sekolah menengah atau Berikut beberapa bentuk umum Cyberbullying di sekolah dasar: Pesan Kasar atau Menghina (Cyberbullying Verba. Anak-anak dapat menggunakan pesan teks atau media sosial untuk menyebarkan kata-kata kasar, menghina, atau merendahkan teman sekelas mereka. Beberapa orang mengatakan kata-kata kasar untuk melampiaskan emosinya yang meliputi emosi kesal atau marah kepada seseorang (Muhammad Fikri Salim & Iman, 2. Penggunaan kata-kata kasar, cacian, atau ejekan secara langsung terhadap target cyberbullying Penyebaran Gossip atau Rencana Jahat (Cyberbullying Relasiona. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Anak-anak mungkin menggunakan platform online untuk menyebarkan gosip palsu atau menciptakan rencana jahat yang dapat merugikan atau merendahkan teman sekelas mereka. Gossip bisa jadi mengarah kepada penyebaran berita palsu atau hoax. Hoax dapat diartikan sebagai sebuah informasi yang belum pasti sebuah fakta, karena pengertian informasi itu adalah kumpulan dari beberapa data yang bersifat fakta(Rahmadhany et al. , 2. Penyebaran gossip atau rencana jahat merupakan perilaku yang dapat merugikan dan merusak hubungan antarindividu. Dalam era digital saat ini, platform media sosial dan komunikasi online memberikan wadah yang lebih luas untuk penyebaran gossip dan rencana jahat. Individu yang terlibat dalam kegiatan ini seringkali menggunakan media sosial sebagai alat untuk menyebarkan informasi palsu atau merendahkan, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kredibilitas dan reputasi korban. Pelecehan Daring (Cyberbullying Psikologi. ada situasi di mana anak-anak memposting pesan atau gambar yang merendahkan secara psikologis, mengakibatkan kerugian emosional atau psikologis bagi korban Cyberbullying. Konteks komunikasi yang terjadi antar pelaku dengan korban menggunakan unsur pelecehan dan di setiap komunikasinya(Contoh et al. , 2. Isolasi dan Penarikan Diri (Cyberbullying Sosia. Melalui media sosial atau pesan teks, anak-anak dapat menciptakan situasi yang membuat teman sekelas merasa diabaikan atau diisolasi secara sosial. Melalui media sosial dan lebih seringnya penggunaan WhatsApp siswa mengajak teman lainnya untuk mengajak menjauhi seseorang. Agar tidak berteman tengan orang tersebut. Hal ini memunculkan teman sekelas diabaikan secara terencana melalui ajakan teman yang lainnya. Panggilan Nama lain yang tidak sesuai atau Menghancurkan Reputasi (Cyberbullying Reputas. Anak-anak dapat mencoba merusak reputasi teman sekelas mereka melalui pesan online atau komentar yang merendahkan. Secara umum perilaku perundungan verbal tersebut bentuknya seperti memanggil nama orangtua atau keluarganya yang lain, memanggil sesuai fisik, menghina hasil pekerjaan temannya atau hasil ujian, dan membentak temannya. Perilaku tersebut dilakukan oleh lawan jenis gender laki- laki dan perempuan baik sebagai pelaku maupun korban. Perilaku terjadi karena awalnya hanya bercanda atau iseng saja kemudian terjadi kesalah (Syahida Kurnia Dinda & Christiana Elisabeth, 2. Kebanyakan kasus Cyberbullying di sekolah dasar melibatkan interaksi antara teman sekelas, dan pendidik serta orang tua memiliki peran kunci dalam mendeteksi, mencegah, dan mengatasi situasi tersebut. Melibatkan anak-anak dalam diskusi tentang etika online, empati, dan menjaga hubungan yang sehat dapat membantu mengurangi risiko Cyberbullying di sekolah dasar. Dampak Negatif Cyber-Bullying pada Siswa Sekolah Dasar Cyberbullying di sekolah dasar dapat memiliki dampak negatif yang serius pada perkembangan sosial, emosional, dan akademis anak-anak. Berikut adalah beberapa dampak negatif yang mungkin Gangguan Emosional: Anak-anak yang menjadi korban Cyberbullying dapat mengalami gangguan emosional seperti kecemasan, depresi, dan stres. Serangan verbal atau psikologis melalui internet dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan mental mereka. Rendah Diri dan Harga Diri: Cyberbullying dapat merusak harga diri anak-anak dan membuat mereka merasa rendah diri. Serangan online terhadap penampilan, kemampuan, atau karakter seseorang dapat menghancurkan rasa percaya diri mereka. Isolasi Sosial: Korban Cyberbullying mungkin merasa terisolasi secara sosial karena takut atau malu untuk berinteraksi dengan teman sekelasnya. Ini dapat menghambat perkembangan keterampilan sosial dan hubungan interpersonal mereka. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Gangguan Akademis: Anak-anak yang menjadi korban Cyberbullying mungkin mengalami gangguan dalam konsentrasi dan fokus belajar. Dampak emosionalnya dapat merugikan prestasi akademis mereka. Ketakutan dan Kecemasan: Anak-anak yang mengalami Cyberbullying dapat mengembangkan ketakutan dan kecemasan terkait penggunaan teknologi atau interaksi online. Hal ini dapat mempengaruhi partisipasi mereka dalam kegiatan pendidikan yang melibatkan teknologi. Pentingnya Tanggapan Negatif: Cyberbullying dapat menciptakan lingkungan di mana anak-anak merasa tidak aman dan tidak Ini dapat merangsang tanggapan negatif dari anak-anak yang menjadi korban, dan dalam beberapa kasus, mereka mungkin merespon dengan melakukan tindakan balasan yang juga tidak sehat. Potensi Dampak Fisik: Dalam beberapa kasus ekstrem. Cyberbullying dapat memicu dampak fisik seperti masalah kesehatan mental yang lebih serius, gangguan makan, atau bahkan perilaku menyakiti diri sendiri. Oleh karena itu, penting bagi pendidik, orang tua, dan pihak sekolah untuk bekerja sama dalam mengatasi dan mencegah Cyberbullying di sekolah dasar. Karena orang tua dan guru saling berkaitan tugas dan dapat memudahkan dalam penyelesaian masalah Cyberbullying. Peran Sekolah dan Orangtua dalam Pencegahan Cyber-Bullying Pencegahan Cyberbullying di sekolah dasar memerlukan kerja sama antara sekolah dan Sebagai seorang guru. Guru kelas di sekolah dasar memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah dan mengatasi bullying. Berikut adalah beberapa upaya guru kelas dalam upaya pencegahan bullying di lingkungan sekolah dasar. Pertama. Pendidikan Anti-Bullying. Guru kelas dapat menyelenggarakan sesi pembelajaran yang berfokus pada pemahaman konsep bullying, dampaknya, dan pentingnya menghormati perbedaan. Pendidikan ini dapat dilakukan melalui cerita, diskusi, atau kegiatan kelompok. Kedua. Pembentukan Budaya Positif. Membangun budaya kelas yang positif dan inklusif di mana setiap siswa merasa diterima dan dihormati. Guru dapat memberikan perhatian khusus pada kerjasama dan persahabatan di antara siswa. Ketiga. Peran Model. Menjadi teladan positif dengan menunjukkan sikap yang ramah, adil, dan mendukung. Guru dapat mengajarkan siswa tentang empati, penghargaan terhadap perbedaan, dan cara berkomunikasi dengan baik. Keempat. Pengawasan dan Intervensi. Memantau interaksi di antara siswa, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Guru harus peka terhadap tanda-tanda bullying dan melakukan intervensi segera jika ditemukan tindakan bullying. Kelima. Mengenali Tanda-tanda Bullying. Guru perlu belajar dan melatih diri untuk mengenali tanda-tanda bullying, baik secara langsung maupun melalui perubahan perilaku atau emosi siswa. Hal ini mencakup perhatian terhadap perubahan suasana kelas atau kelompok. Keenam. Melibatkan Orangtua. Berkomunikasi secara teratur dengan orangtua untuk berbagi informasi tentang upaya pencegahan bullying dan mendapatkan dukungan dari rumah. Orangtua dapat menjadi mitra penting dalam menciptakan lingkungan yang aman. Ketujuh. Menyediakan Saluran Pelaporan. Menyediakan saluran pelaporan anonim atau terbuka bagi siswa yang mengalami bullying atau yang menyaksikannya. Hal ini dapat memberikan kepercayaan diri kepada siswa untuk melaporkan insiden tanpa takut akan balasan. Peran aktif dan mendukung orangtua, dapat diciptakan lingkungan yang mendukung di sekolah dasar dan mencegah terjadinya bullying. Kolaborasi antara sekolah dan orangtua adalah kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan positif bagi semua anak. Berikut upaya orangtua dalam pencegahan bullying di sekolah dasar. Pertama. Komunikasi Terbuka. Membangun saluran komunikasi terbuka dengan anak-anak mereka untuk memahami pengalaman mereka di Orangtua perlu mendengarkan dan memberikan dukungan aktif agar anak merasa nyaman berbicara tentang masalah yang mungkin mereka hadapi. Kedua. Pendidikan Etika Online. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Memberikan pendidikan tentang etika online kepada anak-anak, termasuk perilaku yang baik dan aman saat berinteraksi di dunia maya. Orangtua dapat memberikan panduan tentang bagaimana menggunakan media sosial dan teknologi secara positif. Ketiga. Monitoring Aktivitas Online. Memantau aktivitas online anak-anak dan memastikan bahwa mereka berinteraksi secara positif. Orangtua perlu tahu dengan siapa anak-anak berkomunikasi online dan apa yang mereka lakukan di dunia maya. Keempat. Mengajarkan Empati dan Menghargai Perbedaan. Mengajarkan nilai-nilai seperti empati, toleransi, dan menghargai perbedaan kepada anak-anak. Hal ini membantu membentuk sikap positif terhadap keberagaman dan mencegah tindakan bullying berbasis Kelima. Pelibatan dalam Kegiatan Sekolah. Terlibat aktif dalam kegiatan sekolah dan berpartisipasi dalam kehidupan anak-anak di lingkungan sekolah. Ini dapat membantu orangtua memahami dinamika sosial di sekolah dan memberikan dukungan tambahan. Keenam. Kolaborasi dengan Guru Kelas. Berkomunikasi secara teratur dengan guru kelas untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan anak-anak di sekolah. Kolaborasi ini memungkinkan orangtua untuk lebih efektif mendukung anak-anak dalam menghadapi tantangan. KESIMPULAN Siswa memang tidak membawa HP tetapi ketika da ejekan lewat media whatsapp, rasa sakit hatinya dibawa ketika masuk sekolah. Oleh karena itu, penting bagi pencegahan Cyberbullying di tingkat sekolah dasar. Peran guru kelas dan orangtua sangat vital dalam upaya pencegahan cyberbullying di lingkungan sekolah dasar. Guru kelas memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada siswa mengenai perilaku online yang sehat, etika digital, dan dampak negatif dari cyberbullying. Mereka dapat menyelenggarakan program pembelajaran yang fokus pada pemahaman risiko online, mempromosikan toleransi, serta membangun kesadaran terhadap pentingnya menghormati satu sama lain di dunia maya. Selain itu, guru kelas juga berperan sebagai pengawas aktif di lingkungan sekolah, mengidentifikasi tandatanda potensial dari cyberbullying, dan memberikan sanksi yang sesuai kepada pelaku. Di sisi lain, peran orangtua tak kalah penting. Orangtua memiliki tanggung jawab untuk memantau aktivitas online anak-anak, menggunakan alat kontrol parental, dan terlibat langsung dalam kehidupan digital mereka. Dengan membuka saluran komunikasi yang terbuka, orangtua dapat menciptakan lingkungan di mana anak-anak merasa nyaman berbicara tentang pengalaman online mereka. Jika anakanak mengalami situasi cyberbullying, orangtua perlu memberikan dukungan emosional, membimbing mereka dalam menghadapi masalah tersebut, dan melibatkan pihak sekolah jika diperlukan. Kerjasama erat antara guru kelas dan orangtua, dengan fokus pada pendidikan, pengawasan, dan dukungan, merupakan kunci utama dalam menciptakan lingkungan sekolah dasar yang aman dari ancaman DAFTAR PUSTAKA