JSIP 11 . Journal of Social and Industrial Psychology http://journal. id/sju/index. php/sip Intensi Berwirausaha Terhadap Orientasi Masa Depan pada Mahasiswa UNNES dalam Masa Quarter Life Crisis Yudit Priyambudi A. Abdul Azis Jurusan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang. Indonesia Info Artikel Abstrak ________________ ___________________________________________________________________ Keywords: entrepreneurial intentions, future orientation, quarter life crisis. ____________________ Masa quarter life crisis dapat terjadi pada rentang usia 20-25 tahun, dimana individu dapat merasakan kebingungan serta kekhawatiran dirinya dimasa depan. Pada usia tersebut, terdapat mahasiswa UNNES yang sedang menempuh perkuliahan, maka dari itu mahasiswa UNNES dapat termasuk ke dalam masa quarter life crisis. Mahasiswa UNNES dalam proses pembelajarannya menerima banyak mata kuliah, diantaranya ialah pendidikan kewirausahaan yang dapat menjadi gambaran orientasi masa depannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensi berwirausaha terhadap orientasi masa depan pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Sampel berjumlah 344 mahasiswa UNNES yang berada dalam masa quarter life crisis dengan teknik convenience sampling. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis regresi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala intensi berwirausaha dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,927 dari 41 item valid serta skala orientasi masa depan dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,931 dari 30 item valid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh intensi berwirausaha terhadap orientasi masa depan pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis. Hipotesis penelitian diterima karena diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,729 antara intensi berwirusaha dan orientasi masa depan. Hasil uji regresi diperoleh koefisien determinasi (R squar. sebesar 0,171 yang berarti 17,1% orientasi masa depan pada mahasiswa UNNES dipengaruhi oleh intensi berwirausaha. Abstract The period of a quarter life crisis can occur at the vulnerable age of 20-25 years, where individuals can feel confusion and worry about themselves in the future. At that age, there are UNNES students who are currently studying, therefore UNNES students can be included in the quarter life crisis. UNNES students in the learning process receive many courses, including entrepreneurship education that can illustrate their future orientation. This study aims to determine the effect of entrepreneurial intentions on future orientation of UNNES students during the quarter life crisis. This research is a correlational quantitative research. The sample consisted of 344 UNNES students who were in a quarter life crisis using convenience sampling technique. The analysis method used is regression analysis. The data was collected using an entrepreneurial intention scale with a reliability coefficient of 0. 927 out of 41 valid items and a future orientation scale with a reliability coefficient of 0. 931 from 30 valid items. The results showed that there was an effect of entrepreneurial intention on future orientation of UNNES students during the quarter life crisis. The research hypothesis was accepted because it was obtained a correlation coefficient of 0. 729 between entrepreneurial intentions and future orientation. The regression test results obtained a coefficient of determination (R squar. 171, which means that 17. 1% of future orientation of UNNES students is influenced by entrepreneurial intentions. ___________________________________________________________________ Alamat korespondensi: Gedung A1 Lantai 2 FIP Unnes Kampus Sekaran. Gunungpati. Semarang, 50229 E-mail: yuditpriyambudi@students. ISSN 2252-6838 Yudit Priyambudi / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . PENDAHULUAN Fenomena quarter life crisis merupakan fenomena yang dapat membuat individu merasa cemas, kebingungan serta adanya ketidakpastian di masa depan. Quarter life crisis dapat terjadi di berbagai aspek kehidupan, menurut survei yang dilakukan oleh Sindo news . alam Nurdifa, 2. pada Bulan April, individu pada usia 18-25 tahun mengalami quarter life crisis pada lima aspek yaitu karier, jodoh, pendidikan, persaingan global, dan kesehatan. Survei tersebut didominasi oleh mahasiswa sebesar 95%. Fenomena quarter life crisis dapat terjadi di semua orang di masa dewasa awal, seperti yang di alami artis Cantika Abigail yang dimuat di Detik Health . alam Nabila, 2. Cantika mengaku bahwa dirinya pernah dalam masa quarter life crisis yaitu dirinya merasa takut menjadi tua sehingga keriput dan menjadi tidak produktif lagi karena penurunan fisik. Selain itu pada bulan Januari 2020, dalam acara festival literasi kesehatan mental yang ditulis oleh Hadi . , terdapat diskusi dengan para dosen mengenai fenomena quarter life crisis. Salah satu dosen psikologi dalam diskusi tersebut. Ibu Rahmatika KR menyatakan bahwa quarter life crisis merupakan fenomena yang terjadi pada anak muda usia 20-an dan pada jaman ini media sosial membuat fenomena quarter life crisis meningkat. Quarter life crisis yang terjadi pada usia 20-an dapat berpengaruh tehadap masa dewasa awal Menurut Arnett . alam Santrock, 2. pada usia 18 sampai 25 termasuk dalam masa dewasa awal. Masa dewasa awal ditandai dengan munculnya perilaku eksperimen serta eksplorasi. Selain eksperimen dan eksplorasi. Arnett . alam Santrock, 2. menjelaskan lima ciri individu memasuki masa dewasa awal, yaitu munculnya eksplorasi identitas, ketidakstabilan, terfokus pada diri sendiri, merasa berada pada masa peralihan, serta memilki berbagai kemungkinan yang banyak. Perubahan-perubahan yang terjadi berdampak positif serta negatif pada diri individu, seperti ketidakstabilan emosi yang mengakibatkan kecemasan, ketidakpastian, kebingungan, ketakutan, dan ketidakberdayaan (Rosalinda, 2. Ketidakpastian serta kebingungan yang dialami pada tahap perkembangan dewasa awal dapat disebut sebagai masa quarter life crisis. Kebingungan serta ketidakpastian pada kehidupan di masa depan dapat mempengaruhi dalam merancang orientasi masa depan mahasiswa tersebut. Menurut Hermawati . kebingungan yang ditimbulkan pada masa quarter life crisis dapat berupa rasa pesimis akan kehidupan di masa depan, hal tersebut dapat mengganggu individu dalam membentuk orientasi masa depannya. Nurmi . memaparkan orientasi masa depan merupakan bagaimana sesorang memandang masa depan yang menyangkut harapan-harapan, tujuan standar, perencanaan serta strategi pencapaian tujuan. Orientasi masa depan digunakan untuk menggambarkan tujuan serta cara yang akan digunakan individu untuk mencapai tujuannya. Mengenai pembentukan orientasi masa depan, terdapat tiga aspek yang bertahap dalam pembentukan orientasi masa depan, yaitu motivasi, perencanaan, serta evaluasi. Motivasi dalam diri individu menunjukan adanya minat mengenai kehidupan di masa depan, dimana motivasi tersebut dapat mengarahkan individu dalam menentukan tujuan yang akan dicapai di masa depan. Perencanaan merupakan bentuk rencana yang dibuat oleh diri individu untuk dapat merealisasikan tujuan dari motivasi di tahapan awal. Evaluasi dilakukan oleh individu mengenai kemungkinan tujuan yang dapat direalisasikan. Peneliti melakukan studi pendahuluan kepada 57 mahasiswa dengan menggunakan skala sederhana, yang kemudian dapat diketahui meskipun mahasiswa telah merencanakan masa depannya hingga 93%, namun mahasiswa masih merasa cemas sebesar 82% serta tidak yakin sebesar 75% dengan masa depannya. Selain itu mahasiswa masih belum menunjukan perilaku yang mengarah kepada masa depan yang direncanakan, hal tersebut dibuktikan dengan besarnya angka kesalahan yang diulang serta bermalas-malasan dalam mengerjakan tugasnya. Hasil tersebut ditambah dengan hasil dari wawancara dengan subjek berinisial FM yang merasa khawatir akan Yudit Priyambudi / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . pekerjaan serta kariernya di masa depan, meskipun telah memiliki rencana secara umum untuk masa depannya. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di atas, orientasi masa depan pada individu dapat terjadi oleh beberapa faktor. Menurut Nurmi . alam Agusta, 2. terdapat dua faktor yang mempengaruhi orientasi pada individu yaitu faktor individu serta faktor kontekstual. Faktor indvidu yang berpengaruh terhadap orientasi berasal dari dalam indvidu yaitu konsep diri yang memengaruhi penetapan tujuan dan perkembangan kognitif yang berpengaruh pada kemampuan intelektual pada individu. Faktor kontekstual terdiri dari jenis kelamin, status soial ekonomi, usia, teman sebaya, serta hubungan dengan orang tuanya. Mahasiswa yang memiliki motivasi terhadap orientasi masa depannya dapat melakukan perilaku-perilaku serta usaha-usaha yang digunakan sebagai antisipasi kemungkinan di masa depan. Perilaku atau usaha yang dilakukan mahasiswa dapat berupa intensi akan banyak hal, salah satunya adalah intensi berwirausaha. Sikap, perilaku, serta pengetahuan mahasiswa tentang berwirausaha akan membentuk kecenderungan mereka membuka usaha-usaha baru di masa yang akan datang (Andika, 2. Penelitian tentang orientasi masa depan juga dilakukan oleh Vemmy pada siswa SMK di Yogyakarta 2012, memberikan hasil signifikan mengenai proses pembelajaran yang kurang optimal dapat memengaruhi orientasi masa depan para siswanya, sehingga kurang memiliki intensi Kemudian pada penelitian Radian dkk . mengenai intensi berwirausaha pada status karyawan di Semarang pada tahun 2016 mendapatkan hasil bahwa intensi berwirausaha memiliki pengaruh terhadap orientasi masa depan. Gaji, kenaikan pangkat serta tunjangan yang didapatkan karyawan membuat intensi berwirausaha semakin meningkat. Berdasarkan penjelasan fenomena dan teori yang telah didapatkan di atas, peneliti menganggap masih diperlukannya penelitian mengenai hubungan intensi berwirausaha dengan orientasi masa depan pada masasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis. Perbedaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti dengan penelitian terdahulu adalah mengaitkan langsung hubungan antara intensi berwirausaha dengan orientasi masa depan, sehingga peneliti berharap hasil dari penelitian ini dapat menjadi salah satu acuan dalam menyusun orientasi masa depan pada mahasiswa dalam masa quarter life crisis. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Variabel dalam penelitian ini adalah intensi berwirausaha dan orientasi masa depan. Adapun definisi operasional intensi berwirausaha adalah suatu keinginan atau niat dari individu yang didasari oleh ketertarikan dan keyakinan akan kemampuan yang dimiliki untuk melakukan kegiatan wirausaha. Sedangkan, definisi operasional orientasi masa depan adalah bentuk gambaran masa depan individu hidup dengan pekerjaan hingga hubungan sosial. Instrumen yang digunakan dalam penelitian yaitu menggunakan skala intensi berwirausaha yang memperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,927 dan 41 item valid dari 42 total item serta skala orientasi masa depan yang memperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,931 dan 29 item valid dari 30 total item. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa UNNES dalam masa quarter life Adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 344 orang yang diambil dengan menggunakan teknik incidental sampling dengan cara menyebar link kuesioner melalui google form. Adapun metode analisis dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik analisis regresi sederhana dengan bantuan program pengolah data. Yudit Priyambudi / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Hasil Analisis Besarnya Pengaruh Intensi Berwirausaha terhadap Orientasi Masa Depan Model Summary Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Model R Square Predictors: (Constan. X Tabel 1 di atas dapat menjelaskan bahwa nilai regresi antara variabel intensi berwirausaha terhadap orientasi masa depan memperoleh nilai (R) sebesar 0,414 dengan nilai koefisien determasi atau R square sebesar 0,171. Pada nilai R square yaitu 0,171 menjelaskan bahwa 17,1% intensi berwirausaha dapat menjelaskan orientasi atau menjadi sebab orientasi masa depan. Sedangkan sisanya . %-17,1% = 82,9%) dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang memengaruhi orientasi masa depan. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penjelasan tersebut adalah adanya pengaruh intensi berwirusaha terhadap orientasi masa depanpada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life Tabel 2. Kategorisasi Kriteria Orientasi Masa Depan pada Mahasiswa UNNES dalam Masa Quarter Life Crisis Rumus ( 1E) O X ( - 1E) O X < ( 1E) X < ( - 1E) Interval Skor 106,3 O X 67,7 O X < 106,3 X < 50 Total Kategori Tinggi Sedang Rendah Persentase 82,6% 17,4% 0,0% Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui bahwa orientasi masa depan pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis dari sebanyak 344 subjek dengan rincian sebanyak 284 subjek berada pada kategori tinggi . ,6%) dan sebanyak 60 orang berada pada kategori sedang . ,4%) serta tidak ada subjek dalam kategori rendah . ,0%). Pada hasil perhitungan stastistik deskriptif, diperoleh mean empirik sebesar 117,61 yang mana apabila dilihat dalam tabel 2, nilai mean empirik tersebut termasuk dalam kategori tinggi yang berada pada interval skor 106,3 O X. Hasil pengolahan data pada gambaran umum diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa orientasi masa depan pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis dalam kategori tinggi. Tabel 3. Kategorisasi Kriteria Intensi Berwirausaha pada Mahasiswa UNNES dalam Masa Quarter Life Crisis Rumus ( 1E) O X ( - 1E) O X < ( 1E) X < ( - 1E) Interval Skor 154 O X 98 O X < 154 X < 98 Total Kategori Tinggi Sedang Rendah Persentase 14,2% 83,1% 2,6% Berdasarkan tabel 3, dapat diketahui intensi berwirausaha pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis dari sebanyak 344 subjek dengan rincian sebanyak 49 subjek berada pada kategori tinggi . ,2%) dan sebanyak 286 subjek berada pada kategori sedang . ,1%) serta 9 subjek Yudit Priyambudi / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . dalam kategori rendah . ,6%). Pada hasil perhitungan stastistik deskriptif, diperoleh mean empirik sebesar 132,93 yang mana apabila dilihat dalam tabel 3, nilai mean empirik tersebut termasuk dalam kategori sedang yang berada pada interval skor 98 O X < 154. Dari hasil pengolahan data pada gambaran umum diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa orientasi masa depan pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis dalam kategori sedang. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa hipotesis yang berbunyi AuAda pengaruh intensi berwirausaha terhadap orientasi masa depan pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisisAy dapat diterima. Hasil uji korelasi memberikan hasil bahwa adanya korelasi sebesar 0,414 antara intensi berwirausaha dan orientasi masa depan. Hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa variabel bebas . ntensi berwirausah. depat memengaruhi variabel terikat . rientasi masa depa. Hasil hipotesis penelitian ini juga diperkuat dengan penelitian sebelumnya yang cukup relevan, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Radian . yang membuktikan bahwa semakin kuat individu memiliki intensi berwirausaha maka individu tersebut akan semakin besar kemungkinan untuk berwirausaha dimasa depannya. Intensi berwirausaha para pekerja outsourcing memiliki banyak pengetahuan bekerja, namun memiliki kontrak pekerjaan yang kurang pasti. Faktanya, karyawan outsourcing memilih untuk menjadi wirausahawan dibandingkan dengan terus bekerja di perusahaan Hal ini terjadi karena selama berpindah-pindah perusahaan, karyawan tersebut menimbulkan intensi berwirausaha sehingga memiliki orientasi masa depan untuk dapat menjadi Adapun penelitian lainnya yang sesuai dengan hasil penelitian ini ialah penelitian yang dilakukan oleh Agusta . yang menyatakan bahwa orientasi masa depan memiliki hubungan yang positif terhadap kesiapan mengenai dunia kerja. Subjek pada penelitian tersebut adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dimana untuk mengetahui kesiapan kerja memiliki pengaruh terhadap orientasi kerja. Pengetahuan dan keterampilan termasuk dalam intensi sehingga memberikan dampak yang positif terhadap orientasi masa depan. Mahasiswa yang memiliki kesiapan kerja yang baik akan memiliki orientasi masa depan yang kuat pula sehingga mahasiswa lebih siap untuk bekerja setelah lulus dari jenjang perkuliahan, dan hasil penelitian ini menunjukan hal tersebut. Mahasiswa yang memiliki kesiapan kerja yang baik akan memiliki orientasi masa depan yang kuat pula sehingga mahasiswa lebih siap untuk bekerja setelah lulus dari jenjang Sementara itu, penelitian sebelumnya mengenai orientasi masa depan pada mahasiswa dilakukan oleh Hermawati . yang menunjukan bahwa adanya pengaruh motivasi yang berasal dari intensi terhadap orientasi masa depan mahasiswa. Motivasi yang dibentuk dari intensi pada mahasiswa dalam penelitian ini memiliki korelasi yang positif terhadap orientasi masa depan, dengan kata lain semakin tinggi motivasi yang membentuk motivasi mahasiswa maka semakin tinggi pula orientasi masa depan yang dibuat oleh mahasiswa. Intensi berwirausaha dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang positif terhadap orientasi masa depan sehingga dapat disesuaikan dengan penlitian di atas. Hasil penelitian mengenai intensi berwirausaha sejalan penelitian oleh Mundiah . , dimana faktor utama yang memengaruhi adanya intensi berwirusaha ialah motivasi dalam diri individu tersebut. Sebesar 95,64% intensi berwirausha dipengaruhi oleh motivasi pada mahasiswa, oleh karena itu dalam penelitian ini tidak dalam kategori tinggi karena mahasiswa dalam masa quarter life crisis yang memiliki kecenderungan untuk memiliki motivasi rendah. Adapun penelitian lainnya yang dilakukan oleh Tangkeallo . mengenai orientasi masa depan pada mahasiswa tingkar akhir. Dalam peneliltian tersebut, mahasiswa tingkat akhir memiliki karakteristik serupa dengan mahasiswa dalam quarter life crisis, dimana mahasiswa tingkat akhir berusia 21-25 tahun yang memiliki tugas-tugas perkembangan serta tantangan mengenai dunia karir dimasa depannya. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa mahasiswa yang memiliki kepercayaan diri yang baik akan berdampak terhadap orientasi masa depan yang meningkat pula. Penelitian tersebut berkorelasi Yudit Priyambudi / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . dengan hasil penelitian peneliti yang mana semakin tinggi mahasiswa percaya diri maka semakin meningkat pula orientasi masa depannya. Terdapat pula quarter life crisis hanya rasa kekawatiran terhadap keadaan dimasa depan, bukan terhadap kepercayaan diri sendiri. Mahasiswa yang memiliki kekhawatiran terhadap keadaannya di masa depan namun memiliki rasa percaya diri yang baik maka orientasi masa depan yang diciptakan mahasiswa tersebut dapat berubah menjadi semakin baik pula. Orientasi masa depan diungkapkan berdasarkan 3 . aspek yang diungkapkan melalui skala orientasi masa depan. Skala orientasi masa depan digunakan untuk menggambarkan skor atau nilai yang menggambarkan tingkatan orientasi masa depan. Skor tinggi yang didapatkan dalam skala orientasi masa depan menggambarkan kondisi orientasi masa depan yang tinggi, begitu pula sebaliknya, skor rendah yang didapatkan dari skala orientasi masa depan maka menggambarkan kondisi yang rendah pula orientasi masa depan pada subjek. Adapun aspek yang digunakan dalam penyusunan orientasi masa depan adalah motivasi, perencanaan, serta evaluasi. Berdasarkan hasil perhitungan statistik deskriptif yang dilakukan oleh peneliti, menghasilkan nilai pada aspek pertama yaitu notivasi dengan rata-rata berada pada kategori tinggi dengan presentase 85,8% sedangkan sisanya sebesar 14,2% berada pada kategori sedang. Adapun hasil mean empirik pada aspek motivasi sebesar 45,7 berada pada kategori tinggi yaitu 40,3 O X. Hal tersebut menunjukan mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis memiliki kecenderungan yang tinggi pada motivasi dalam mempengaruhi orientasi masa depan. Pada aspek kedua yaitu perencanaan, hasil perhitungan deskriptif yang dilakukan oleh peniliti menghasilkan rata-rata berada pada kategori tinggi dengan presentase sebesar 78,8%, sedangkan sisanya sebesar 21,2% berada pada kategori sedang. Adapun mean empirik yang didapatkan pada aspek perencanaan ialah sebesar 48,01 yang berada pada interval 44 O X. Hasil yang didapatkan pada aspek perencanaan dapat menunjukan kemungkinan dalam membentuk orientasi masa depan, perencanaan memiliki pengaruh yang tinggi pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis. Pada aspek ketiga yaitu evaluasi, hasil perhitungan deskriptif yang dilakukan oleh peniliti menghasilkan rata-rata berada pada kategori tinggi dengan presentase sebesar 79,4%, sedangkan sisanya sebesar 20,6% berada pada kategori sedang. Adapun mean empirik yang didapatkan pada aspek evaluasi ialah sebesar 23,84 yang berada pada interval 23 O X. Hasil yang didapatkan pada aspek perencanaan dapat menunjukan kemungkinan dalam membentuk orientasi masa depan, evaluasi memiliki pengaruh yang tinggi pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis. Aspek yang memiliki hasil tertinggi ialah aspek motivasi dengan hasil mean empirik sebesar 48,01 dengan presentase 78,8% yang terdapat pada kategori tinggi. Sebagai aspek yang memiliki nilai mean empirik tertinggi memiliki pengertian bahwa motivasi memiliki pengaruh yang dominan dalam menentukan tinggi rendahnya orientasi masa depan. Adanya motivasi pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis untuk membentuk orientasi masa depan. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh intensi berwirusaha terhadap orientasi masa depan pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis. Perceived feasibility pada mahahasiswa UNNES dalam masa quarter lifie crisis yang didapatkan dari pengetahuan dalam mata kuliah memberikan dampak kepada motivasi yang menjadi dimensi orientasi masa depan, sehingga mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis dapat memiliki intensi berwirausaha yang berpengaruh terhadap orientasi masa depanya. Meskipun demikian, peneliti dalam melakukan penelitian menemui keterbatasan. Keterbatasan tersebut antara lain peneliti tidak dapat memberikan skala yang berbentuk fisik kepada subjek dan pada lampiran penelitian, hal ini dikarenakan adanya anjuran social distancing dari pemerintah. Referensi yang berkaitan dengan fenomena quarter life crisis pada mahasiswa tidak terlalu banyak, sehingga hasil penelitian ini bersifat general dalam masa quarter life crisis. Terbatasnya landasan teori mengenai Yudit Priyambudi / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . variabel intens berwirausaha yang berasal dari kajian ilmu psikologi, serta populasi yang tidak diketahui pasti. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh intensi berwirausaha terhadap orientasi masa depan pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis, gambaran orientasi masa depan pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis berada pada kategori tinggi, dan gambaran intensi berwirausaha pada mahasiswa UNNES dalam masa quarter life crisis berada pada kategori sedang. UNNES sebagai rumah bagi mahasiswa dalam masa quarter life crisis sekaligus rumah ilmu dapat memperdalam penyampaian ilmu kewirausahaan kepada mahasiswa sehingga dapat menjadi bekal dalam masa quarter life crisis, serta dapat memberikan kelas psikologi perkembangan, sehingga dapat memberi wawasan psikologis bagi mahasiswa untuk dapat memahami diri. Adapun saran bagi peneliti selanjutnya, sebaiknya dapat menggunakan teori yang berasal dari dalam negeri sehingga dapat memunculkan aspek serta skala yang lebih sesuai dengan keadaan sosial budaya di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA