Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Antara Manual dan Digital: Tantangan Pendidikan Pesantren Tradisional dan Modern dalam Perspektif Sosiologi Pendidikan Erlina Uswatun Khasanah 1. Laili RifAoah Maftuhah 2. Nurul Hidayah 3. SaAoadi 4 Universitas Islam Negeri Salatiga Email: linuswatun162@gmail. com, lailimaftuhah1@gmail. com, nurulhidayahsecang1@gmail. saadi@uinsalatiga. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pendidikan pesantren tradisional dan pesantern modern dalam menghadapi perkembangan teknologi digital ditinjau dari perspektif sosiologi pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus multi-situs yang dilaksanakan di dua pondok pesantren modern (Bina Insani Baran Susuka. dan pesantren tradisional (Roudlotut Tholibin Jetis Susuka. Informan penelitian meliputi pengasuh pesantren, ustaz/ustazah, dan santri yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren tradisional tetap mempertahankan pembelajaran kitab kuning melalui metode bandongan dan diniyah sebagai identitas utama pendidikan pesantren, dengan pemanfaatan teknologi secara terbatas sebagai media pendukung pembelajaran, pesantren tradisional menekankan pelestarian tradisi keilmuan Islam, pembentukan karakter, dan penguatan nilai-nilai keagamaan dengan, sangat menekankan etika relasi sosial trdisional antara kiai . ebagai pengasuh pesantre. dan para santri. Sedangkan pesantren modern telah mengintegrasikan teknologi digital dalam proses pembelajaran dan pengelolaan pendidikan melalui pemanfaatan internet, media digital, serta kurikulum yang memadukan pendidikan agama dan pendidikan formal, dan lebih berorientasi pada inovasi dan pengembangan kompetensi digital, dengan etika relasi sosial yang lebih longgar . antara kiyai dan para santri karena manajemen pesantren lebih banyak diperankan oleh direktur, kepala madrasah dan para ustad/ustadzah. Dari perspektif sosiologi pendidikan, perbedaan sistem pendidikan tersebut merupakan bentuk adaptasi sosial terhadap perkembangan zaman. Meskipun memiliki pendekatan yang berbeda, kedua pesantren tetap berperan dalam membentuk generasi muslim yang berilmu, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di era digital tanpa kehilangan identitas pesantren. Kata Kunci: Pesantren Modern. Pesantren Tradisional. Teknologi Digital. Sosiologi Pendidikan. Pendidikan Islam. PENDAHULUAN Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, moral, dan pengembangan keilmuan keislaman masyarakat (Niswah et al. , 2. Selain berfungsi sebagai tempat transfer ilmu agama, pesantren juga menjadi institusi sosial yang membentuk budaya, nilai, dan pola kehidupan Seiring perkembangan zaman, pesantren mengalami berbagai perubahan yang ditandai dengan munculnya dua corak utama, yaitu pesantren modern dan pesantren tradisional (AR. Kedua jenis pesantren tersebut memiliki karakteristik sistem pendidikan yang berbeda dalam merespons perubahan sosial dan perkembangan teknologi (Arifin, 2. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Penggunaan internet, media digital, dan berbagai aplikasi pembelajaran telah menciptakan pola belajar yang lebih fleksibel dan efektif. Kondisi ini mendorong seluruh lembaga pendidikan, termasuk pesantren, untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi utamanya (Basith et al. , 2. Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan bagi pesantren dalam mempertahankan tradisi pendidikan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, pendidikan dipahami sebagai proses sosial yang berperan dalam membentuk nilai, norma, dan perilaku masyarakat. Emile Durkheim menjelaskan bahwa pendidikan berfungsi sebagai sarana internalisasi nilai sosial untuk menciptakan keteraturan dan solidaritas sosial (Fathoni et al. , 2024. Sementara itu. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann melalui teori konstruksi sosial menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi (Suci & Suprapto. Oleh karena itu, sistem pendidikan yang berkembang di pesantren dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara tradisi keagamaan, kebutuhan masyarakat, dan perkembangan Pesantren modern cenderung mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendidikan formal serta memanfaatkan teknologi digital dalam proses pembelajaran dan pengelolaan pendidikan (Harmathilda et al. , 2. Sebaliknya, pesantren tradisional tetap mempertahankan sistem pembelajaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan, dan halaqah sebagai ciri khasnya (Ibrahim, 2. Meskipun demikian, beberapa pesantren tradisional mulai melakukan adaptasi terhadap perkembangan teknologi secara terbatas. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya variasi strategi dalam menghadapi tantangan digitalisasi pendidikan tanpa menghilangkan identitas masing-masing pesantren. Berdasarkan hasil pra-survei yang dilakukan di Pondok Pesantren Bina Insani Baran Susukan dan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Jetis Susukan, ditemukan adanya perbedaan pola pendidikan dalam merespons perkembangan teknologi digital. Pondok Pesantren Bina Insani telah memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari sistem pembelajaran dan administrasi pendidikan. Sementara itu. Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin masih mempertahankan pembelajaran kitab kuning secara konvensional dengan penggunaan teknologi yang sangat terbatas. Temuan tersebut menunjukkan adanya dinamika sosial pendidikan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut dari perspektif sosiologi pendidikan. Berbagai penelitian sebelumnya telah membahas digitalisasi pendidikan Islam, namun masih sedikit penelitian yang secara khusus membandingkan sistem pendidikan pesantren modern dan tradisional dalam menghadapi perkembangan teknologi digital. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis sistem pendidikan yang diterapkan pada kedua jenis pesantren tersebut serta memahami bagaimana keduanya mempertahankan nilai-nilai keislaman di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian sosiologi pendidikan Islam serta menjadi referensi bagi pesantren dalam merumuskan strategi pendidikan yang relevan di era digital. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus multisitus untuk memahami secara mendalam sistem pendidikan pesantren modern dan tradisional dalam menghadapi perkembangan teknologi digital ditinjau dari perspektif sosiologi pendidikan (Nasarudin et al. , 2. Penelitian dilaksanakan di Pondok Pesantren Bina Insani Baran Susukan sebagai representasi pesantren modern dan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Jetis Susukan sebagai representasi pesantren tradisional. Pemilihan kedua lokasi tersebut didasarkan pada perbedaan karakteristik sistem pendidikan dalam merespons perkembangan teknologi digital. Subjek penelitian meliputi pengasuh pesantren, ustaz atau ustazah, pengurus, dan santri yang terlibat secara langsung dalam kegiatan pendidikan Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu memilih informan yang dianggap memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait sistem pendidikan pesantren serta adaptasinya terhadap perkembangan teknologi digital (Muid et al. , 2. Informan penelitian terdiri atas pengasuh pesantren, tiga ustaz dan tiga ustazah, serta tiga santri yang aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Prosedur penelitian diawali dengan observasi awal untuk mengenali kondisi lapangan dan menentukan fokus penelitian, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti . uman instrumen. yang didukung oleh pedoman observasi, pedoman wawancara, dan lembar dokumentasi. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi terhadap aktivitas pembelajaran, penggunaan teknologi digital, dan interaksi sosial di lingkungan pesantren, wawancara mendalam dengan informan penelitian, serta dokumentasi berupa foto kegiatan dan arsip Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi tempat untuk memastikan validitas dan konsistensi data (Husnullail & Jailani. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Qomaruddin & SaAodiyah, 2. Melalui tahapan tersebut, penelitian ini mampu menggambarkan secara komprehensif perbedaan dan persamaan sistem pendidikan pesantren modern dan tradisional dalam menghadapi perkembangan teknologi digital dari perspektif sosiologi pendidikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem Pendidikan Pesantren Modern dalam Menghadapi Perkembangan Teknologi Digital Hasil penelitian di Pondok Pesantren Bina Insani Baran Susukan menunjukkan bahwa pesantren modern telah mengintegrasikan teknologi digital dalam sistem pembelajaran dan pengelolaan pendidikan. Berdasarkan hasil observasi, proses pembelajaran di pesantren menggunakan media digital seperti proyektor, laptop, internet, dan aplikasi pembelajaran sebagai sarana pendukung kegiatan belajar mengajar. Penggunaan teknologi tersebut terlihat dalam penyampaian materi pelajaran, presentasi tugas, hingga kegiatan administrasi Selain itu, beberapa kegiatan pembelajaran juga memanfaatkan platform digital untuk mempermudah komunikasi antara ustaz dan santri. Pesantren modern ini juga menggabungkan kurikulum keagamaan dengan kurikulum formal nasional sehingga santri Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 memperoleh pendidikan agama dan pendidikan umum secara seimbang. Santri tidak hanya mempelajari kitab-kitab keislaman, tetapi juga mata pelajaran umum seperti matematika, bahasa, dan ilmu pengetahuan lainnya. Integrasi kurikulum tersebut dilakukan agar santri mampu memiliki kompetensi akademik sekaligus pemahaman agama yang baik. Berdasarkan hasil observasi, fasilitas pendidikan di pesantren modern juga mendukung proses pembelajaran berbasis teknologi. Tersedianya ruang kelas formal, jaringan internet, laboratorium komputer, dan media pembelajaran digital menunjukkan adanya upaya pesantren dalam menyesuaikan sistem pendidikan dengan perkembangan zaman. Selain kegiatan belajar di kelas, santri juga diberikan pelatihan keterampilan teknologi sebagai bekal menghadapi perkembangan masyarakat modern dan dunia pendidikan digital. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran. Santri terlihat lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dan lebih mudah memahami materi yang disampaikan melalui media visual dan Penggunaan internet membantu santri memperoleh akses informasi yang lebih luas sehingga wawasan mereka tidak hanya terbatas pada materi yang diberikan di kelas. Dengan demikian, integrasi teknologi digital di pesantren modern menjadi salah satu bentuk adaptasi pendidikan pesantren terhadap perkembangan sosial dan teknologi di era modern. Hasil wawancara dengan pengasuh pesantren menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital dianggap penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan santri menghadapi perkembangan zaman. Santri tidak hanya diajarkan ilmu agama, tetapi juga diberikan keterampilan teknologi dan kemampuan akademik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran dinilai membantu santri memperoleh akses informasi yang lebih luas dan mempermudah proses Selain itu, hasil wawancara dengan ustaz atau ustadzah pesantren menunjukkan bahwa penggunaan media digital seperti komputer, proyektor, dan internet membantu proses penyampaian materi menjadi lebih efektif dan menarik. Ustaz atau ustadzah menyampaikan bahwa teknologi mempermudah santri dalam memahami materi pembelajaran serta memberikan kesempatan kepada santri untuk mencari referensi tambahan melalui media digital. Namun demikian, penggunaan teknologi tetap diawasi agar tidak disalahgunakan oleh santri. Sementara itu, hasil wawancara dengan santri menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital memberikan manfaat dalam proses belajar karena santri dapat memperoleh informasi dan materi pembelajaran dengan lebih cepat. Santri juga merasa lebih mudah memahami pelajaran melalui penggunaan media digital dalam kelas. Meskipun demikian, santri tetap menganggap pembelajaran kitab kuning dan bimbingan langsung dari ustaz dan ustadzah sebagai bagian penting dalam pendidikan pesantren. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pesantren modern berupaya melakukan adaptasi terhadap perubahan sosial melalui modernisasi sistem pendidikan. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, pendidikan berfungsi sebagai agen perubahan sosial yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat (Prasetya et al. , 2. Pesantren modern tidak hanya mempertahankan pendidikan agama sebagai identitas utama, tetapi juga membangun sistem pendidikan yang relevan dengan perkembangan teknologi digital. Selain itu, penggunaan teknologi digital di pesantren modern menunjukkan adanya proses integrasi antara tradisi keislaman dan modernisasi pendidikan. Teknologi tidak dipandang sebagai ancaman Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 terhadap identitas pesantren, melainkan sebagai media yang mendukung efektivitas pembelajaran (Ramdhan, 2. Temuan ini memperlihatkan bahwa pesantren modern berusaha menjaga keseimbangan antara nilai-nilai keislaman dan tuntutan perkembangan Temuan penelitian ini juga sejalan dengan pandangan Azyumardi Azra yang menyatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan sosial tanpa kehilangan identitas keislamannya. Menurut Azra, modernisasi pesantren tidak berarti meninggalkan tradisi keilmuan Islam, melainkan melakukan pembaruan sistem pendidikan agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang (Purnamasari, 2. Dalam konteks penelitian ini, integrasi teknologi digital di Pondok Pesantren Bina Insani menunjukkan adanya upaya pembaruan pendidikan yang tetap berlandaskan nilai-nilai Islam dan tradisi kepesantrenan. Lebih lanjut, pandangan Mastuhu menegaskan bahwa pesantren merupakan sistem pendidikan yang bersifat dinamis dan memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan sosial (Harisah, 2. Modernisasi pendidikan pesantren dapat dilakukan melalui pengembangan kurikulum, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan teknologi sebagai sarana pembelajaran. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Bina Insani telah menerapkan prinsip tersebut melalui integrasi teknologi digital, penyediaan fasilitas pembelajaran modern, dan pengembangan kompetensi santri yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga keterampilan yang dibutuhkan di era digital. Dari perspektif sosiologi pendidikan, kondisi tersebut juga dapat dijelaskan melalui teori modernisasi pendidikan yang dikemukakan oleh Talcott Parsons. Parsons memandang pendidikan sebagai institusi sosial yang berfungsi mempersiapkan individu untuk menjalankan peran-peran sosial dalam masyarakat modern. Dalam konteks pesantren modern, penggunaan teknologi digital menjadi bagian dari proses penyesuaian lembaga pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan berbasis teknologi (Thamrin et al. , 2. Oleh karena itu, integrasi teknologi dalam pendidikan pesantren dapat dipahami sebagai bentuk transformasi sosial yang tetap mempertahankan fungsi utama pesantren sebagai lembaga pembinaan moral dan keagamaan. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi pendidikan pesantren melalui pemanfaatan teknologi digital tidak menghilangkan identitas pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam. Sebaliknya, teknologi menjadi instrumen yang mendukung efektivitas pembelajaran, memperluas akses pengetahuan, serta mempersiapkan santri agar mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat modern tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar pendidikan pesantren. Sistem Pendidikan Pesantren Tradisional dalam Menghadapi Perkembangan Teknologi Digital Hasil penelitian di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Jetis Susukan menunjukkan bahwa pesantren masih mempertahankan sistem pendidikan tradisional yang berpusat pada pembelajaran kitab kuning sebagai sumber utama keilmuan Islam. Berdasarkan hasil wawancara dengan ustaz, proses pembelajaran dilaksanakan melalui dua kegiatan utama, yaitu Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 pembelajaran diniyah dan bandongan. Sekitar 90% materi pembelajaran menggunakan kitabkitab klasik . itab kunin. , sedangkan kegiatan bandongan dilaksanakan secara rutin setelah salat Dzuhur. Maghrib, dan Isya. Dalam kegiatan tersebut, ustaz atau kiai membacakan kitab, menjelaskan isi materi, kemudian santri menyimak, memberikan makna pada teks, dan mencatat penjelasan yang disampaikan. Metode yang paling sering digunakan adalah metode bandongan karena dianggap mampu menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus memudahkan santri memperoleh pemahaman langsung dari guru. Hasil wawancara dengan santri menunjukkan bahwa mereka aktif mendengarkan, menulis, dan berusaha memahami materi yang diajarkan. Meskipun pada awalnya merasa asing dengan kitab kuning karena menggunakan bahasa Arab klasik, santri mulai memahami bahwa kitab kuning merupakan sumber utama ilmu agama yang memiliki kedalaman materi dan otoritas keilmuan yang tinggi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dominasi penggunaan kitab kuning dan metode bandongan merupakan bentuk pelestarian tradisi pendidikan Islam klasik yang telah berlangsung secara turun-temurun. Menurut Mastuhu . , ciri utama pesantren salaf adalah keberlangsungan transmisi ilmu agama melalui kitab kuning yang diajarkan secara langsung oleh kiai dan ustaz. Tradisi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai proses transfer ilmu, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter, adab, dan spiritualitas santri (Basri. Hal tersebut tampak pada aktivitas pembelajaran di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin yang menempatkan kitab kuning sebagai sumber utama pembelajaran sekaligus media pembentukan budaya belajar dan nilai-nilai keislaman bagi santri. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin masih bersifat terbatas dan belum menjadi bagian utama dalam sistem pembelajaran. Menurut ustaz, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung untuk mencari referensi tambahan dan memperluas akses informasi. Namun, pesantren tetap menempatkan kitab-kitab klasik sebagai sumber pembelajaran utama yang dianggap lebih otoritatif dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Hasil wawancara dengan santri juga menunjukkan bahwa penggunaan handphone atau perangkat digital tidak diperbolehkan selama berada di lingkungan pesantren. Kebijakan tersebut diterapkan agar santri lebih fokus dalam mengikuti pembelajaran dan tidak terdistraksi oleh media sosial maupun aktivitas digital lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi di pesantren masih dilakukan secara terbatas dengan tetap mengutamakan pembelajaran langsung melalui kitab kuning dan bimbingan guru. Berdasarkan hasil wawancara, tantangan terbesar yang dihadapi pesantren dalam era digital adalah pengaruh budaya luar yang semakin mudah masuk melalui perkembangan Ustaz menjelaskan bahwa perubahan perilaku santri sering kali terlihat setelah mereka kembali dari masa liburan. Pengaruh lingkungan luar secara perlahan dapat memengaruhi pola pikir, kebiasaan, dan karakter santri meskipun tidak selalu disadari. Oleh karena itu, pesantren terus berupaya mempertahankan tradisi pendidikan Islam melalui pembelajaran kitab kuning, metode bandongan dan diniyah, serta penanaman nilai adab dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Kedisiplinan santri juga lebih banyak dibangun melalui kesadaran diri untuk menaati aturan pesantren daripada melalui pemberian hukuman. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral santri. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Hubungan antara ustaz dan santri menjadi salah satu ciri khas pendidikan di pesantren Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan tersebut masih dilandasi oleh nilai tawaduk dan penghormatan yang tinggi kepada guru. Santri merasa memiliki hubungan yang lebih dekat dengan kiai dan ustaz dibandingkan hubungan antara siswa dan guru di sekolah formal karena adanya budaya salim, penghormatan, dan keteladanan yang kuat. Namun, rasa hormat yang sangat tinggi terkadang menimbulkan sikap sungkan sehingga sebagian santri merasa enggan bertanya atau mengemukakan pendapat dalam proses Meskipun demikian, hubungan sosial yang terjalin antara ustaz dan santri tetap memberikan dampak positif dalam menjaga kewibawaan guru serta keberlangsungan tradisi pendidikan pesantren. Tradisi bandongan, penghormatan kepada guru, dan pembatasan penggunaan teknologi merupakan bentuk realitas sosial yang telah terobjektivasi dalam kehidupan pesantren. Melalui proses internalisasi yang berlangsung secara terus-menerus, santri menerima nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari budaya pesantren yang harus dijaga dan dilestarikan. Hasil wawancara dengan pengasuh pesantren menunjukkan bahwa modernisasi pendidikan tidak dipandang sebagai ancaman terhadap keberlangsungan pesantren, melainkan sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam. Pengasuh menjelaskan bahwa pesantren saat ini menerapkan perpaduan antara sistem pendidikan tradisional dan sistem madrasah yang mengintegrasikan kurikulum pesantren dengan kurikulum pemerintah. Dalam konteks perkembangan teknologi digital, pesantren menerapkan prinsip al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, yaitu mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Oleh karena itu, teknologi diterima sebagai sarana pendukung pembelajaran yang dapat membantu pemahaman santri melalui penggunaan video, proyektor, dan media pembelajaran lainnya, tanpa menggeser peran kitab kuning maupun otoritas guru dalam proses pendidikan. Pandangan ini menunjukkan bahwa pesantren berupaya menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi keilmuan Islam dan tuntutan modernisasi pendidikan di era digital. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pesantren tradisional berfungsi sebagai lembaga sosial yang menjaga keberlangsungan nilai, norma, dan budaya Islam di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung (Qotrunada et , 2. Temuan ini sejalan dengan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menjelaskan bahwa realitas sosial terbentuk melalui proses internalisasi yang berlangsung secara terus-menerus dalam kehidupan masyarakat (Dharma, 2. Dalam konteks pesantren, tradisi pembelajaran kitab kuning, budaya tawaduk kepada guru, serta pembentukan karakter santri merupakan realitas sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui proses pendidikan. Temuan ini juga mendukung pandangan Azyumardi Azra yang menyatakan bahwa pesantren memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan sosial tanpa kehilangan identitas keislamannya (Lubis & Ok, 2. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tradisional masih memiliki relevansi yang kuat di era digital. Baik ustaz maupun santri memandang bahwa modernisasi pendidikan merupakan hal yang positif selama tidak menghilangkan identitas dan nilai dasar pesantren. Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan peran guru, kitab kuning. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 dan tradisi keilmuan yang menjadi fondasi utama pendidikan pesantren. Dengan demikian, pesantren tradisional tetap mampu mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang berperan dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri keislamannya. Perspektif Sosiologi Pendidikan terhadap Perbedaan Sistem Pendidikan Pesantren Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan sistem pendidikan antara Pondok Pesantren Bina Insani Baran Susukan dan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Jetis Susukan merupakan bentuk respons yang berbeda terhadap perkembangan sosial dan teknologi digital. Pesantren modern cenderung melakukan adaptasi melalui integrasi teknologi digital, pengembangan kurikulum formal, serta penyediaan fasilitas pembelajaran berbasis teknologi. Sebaliknya, pesantren tradisional lebih menekankan pelestarian tradisi keilmuan Islam melalui pembelajaran kitab kuning, metode bandongan, dan pembentukan karakter santri. Meskipun memiliki pendekatan yang berbeda, kedua pesantren tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu membentuk santri yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa lembaga pendidikan merupakan institusi sosial yang terus berinteraksi dengan lingkungan Menurut Emile Durkheim, pendidikan berfungsi sebagai sarana pewarisan nilai, norma, dan budaya yang diperlukan untuk menjaga keteraturan sosial (Fathoni et al. , 2024. Fungsi tersebut terlihat pada kedua pesantren yang sama-sama berupaya menanamkan nilai keislaman, kedisiplinan, tanggung jawab, dan akhlak kepada santri. Perbedaannya terletak pada cara nilai tersebut ditransmisikan. Pesantren modern menggunakan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, sedangkan pesantren tradisional mempertahankan metode pembelajaran klasik sebagai sarana pewarisan budaya dan tradisi Islam. Temuan penelitian juga dapat dijelaskan melalui teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann yang menyatakan bahwa realitas sosial terbentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi (Santoso, 2. Pada pesantren tradisional, tradisi pembelajaran kitab kuning, metode bandongan, budaya tawaduk kepada guru, serta pembatasan penggunaan teknologi merupakan realitas sosial yang telah terobjektivasi dan diterima sebagai budaya pesantren. Melalui proses internalisasi yang berlangsung secara terusmenerus, santri memahami dan menghayati nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari identitas diri dan kehidupan pesantren. Sementara itu, pada pesantren modern, penggunaan teknologi digital, integrasi kurikulum formal, dan pengembangan keterampilan teknologi juga telah menjadi realitas sosial baru yang diinternalisasikan kepada santri sebagai bagian dari kebutuhan pendidikan masa kini. Perbedaan sistem pendidikan tersebut juga dapat dipahami melalui teori modernisasi yang dikemukakan oleh Talcott Parsons. Parsons memandang pendidikan sebagai institusi yang berfungsi mempersiapkan individu untuk menjalankan peran sosial dalam masyarakat yang terus berkembang (Mardizal & Ramatni, 2. Dalam konteks ini, pesantren modern menunjukkan proses adaptasi yang lebih cepat terhadap kebutuhan masyarakat digital dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan kompetensi santri. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Sebaliknya, pesantren tradisional lebih menekankan pada penguatan fondasi keagamaan dan karakter sebagai bekal menghadapi perubahan sosial. Kedua pendekatan tersebut menunjukkan bahwa proses modernisasi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk yang sama, melainkan dapat disesuaikan dengan karakter dan tujuan masing-masing lembaga Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa modernisasi dan pelestarian tradisi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Pesantren modern berusaha memadukan nilainilai keislaman dengan perkembangan teknologi, sedangkan pesantren tradisional memanfaatkan teknologi secara selektif tanpa menghilangkan identitas kepesantrenan. Kondisi ini sejalan dengan pandangan Azyumardi Azra yang menyatakan bahwa pesantren memiliki kemampuan adaptif dalam menghadapi perubahan sosial tanpa kehilangan jati diri keislamannya (Joutulis & Muzaki, 2. Modernisasi pesantren bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi melakukan pembaruan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sambil tetap mempertahankan nilai-nilai dasar pendidikan Islam. Selain itu, temuan penelitian menunjukkan bahwa kedua pesantren memiliki kontribusi yang berbeda tetapi saling melengkapi dalam pembangunan masyarakat. Pesantren modern berkontribusi dalam menyiapkan santri yang memiliki kompetensi akademik, literasi digital, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Sementara itu, pesantren tradisional berperan penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan Islam, memperkuat karakter religius, serta membentuk moral dan spiritualitas santri. Dengan demikian, keberadaan kedua model pendidikan pesantren tersebut menunjukkan keragaman sistem pendidikan Islam di Indonesia yang berkembang sesuai kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan tujuan utamanya sebagai lembaga pembinaan ilmu, akhlak, dan keagamaan. Secara keseluruhan, perspektif sosiologi pendidikan menunjukkan bahwa perbedaan sistem pendidikan pesantren modern dan tradisional merupakan bentuk adaptasi sosial yang wajar terhadap perubahan zaman. Pesantren modern merepresentasikan orientasi pendidikan yang lebih terbuka terhadap inovasi dan teknologi, sedangkan pesantren tradisional merepresentasikan upaya pelestarian tradisi keilmuan dan budaya Islam. Kedua model tersebut tidak dapat diposisikan sebagai sistem yang saling bertentangan, melainkan sebagai bentuk strategi pendidikan yang berbeda dalam mencapai tujuan yang sama, yaitu membentuk generasi muslim yang berilmu, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di era modern. Implikasi Secara teoretis, penelitian ini memperkuat kajian sosiologi pendidikan, khususnya teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann serta teori fungsi pendidikan Emile Durkheim yang menjelaskan bahwa sistem pendidikan merupakan hasil konstruksi sosial yang terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. Secara praktis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi digital dalam pendidikan pesantren dapat dilakukan tanpa menghilangkan tradisi dan nilai-nilai dasar kepesantrenan. Oleh karena itu, pesantren dapat mengembangkan model pendidikan yang seimbang antara pelestarian tradisi keilmuan Islam dan pemanfaatan teknologi sebagai sarana peningkatan kualitas Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Bagi pengelola pesantren, disarankan untuk terus mengembangkan strategi pemanfaatan teknologi digital secara bijaksana dan terarah sesuai dengan karakteristik masing-masing pesantren. Pesantren modern perlu memperkuat pengawasan serta pendidikan karakter agar penggunaan teknologi tetap sejalan dengan nilai-nilai keislaman. Sementara itu, pesantren tradisional dapat meningkatkan pemanfaatan teknologi sebagai media pendukung pembelajaran tanpa mengurangi peran kitab kuning dan interaksi langsung antara guru dan santri. Bagi pemerintah dan pemangku kebijakan pendidikan, diperlukan dukungan dalam bentuk pelatihan literasi digital, pengembangan infrastruktur teknologi, dan program penguatan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren agar mampu menghadapi tantangan pendidikan di era digital. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengkaji lebih mendalam mengenai efektivitas integrasi teknologi digital dalam pembelajaran pesantren, pengaruhnya terhadap pembentukan karakter santri, serta perbandingan sistem pendidikan pesantren pada wilayah yang lebih luas sehingga diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai transformasi pendidikan pesantren di era digital. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan pesantren modern dan pesantren tradisional memiliki karakteristik yang berbeda dalam menghadapi perkembangan teknologi digital, namun keduanya tetap berorientasi pada tujuan yang sama, yaitu membentuk santri yang berilmu, berakhlak, dan memiliki pemahaman keislaman yang Pondok Pesantren Bina Insani Baran Susukan sebagai pesantren modern menunjukkan adaptasi yang lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi melalui integrasi media digital, pemanfaatan internet, serta penggabungan kurikulum keagamaan dan pendidikan formal. Sementara itu. Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Jetis Susukan sebagai pesantren tradisional tetap mempertahankan pembelajaran kitab kuning, metode bandongan, dan penanaman nilai adab sebagai identitas utama pendidikan pesantren, dengan pemanfaatan teknologi secara terbatas dan selektif sebagai media pendukung pembelajaran. Perbedaan sistem pendidikan pesantren modern dan tradisional menunjukkan bahwa proses adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital berlangsung melalui strategi yang berbeda. Pesantren modern cenderung melakukan integrasi teknologi sebagai bagian dari modernisasi pendidikan, sedangkan pesantren tradisional melakukan adaptasi secara selektif untuk menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan Islam. Meskipun berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mempertahankan identitas keislaman sekaligus menyiapkan santri menghadapi perubahan sosial. Ditinjau dari perspektif sosiologi pendidikan, perbedaan sistem pendidikan tersebut merupakan bentuk adaptasi sosial terhadap perubahan zaman. Pesantren modern merepresentasikan proses modernisasi pendidikan yang berorientasi pada pengembangan kompetensi akademik dan literasi digital, sedangkan pesantren tradisional merepresentasikan upaya pelestarian tradisi keilmuan Islam, nilai-nilai religius, dan budaya kepesantrenan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa modernisasi dan pelestarian tradisi bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan secara berdampingan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing pesantren. Dengan demikian, keberagaman sistem pendidikan pesantren menunjukkan kemampuan lembaga pendidikan Islam untuk Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 beradaptasi terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai DAFTAR PUSTAKA