Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 1-11, 2025 DOI: https://doi. org /10. 51352/jim. ANALISIS RHODAMIN B PADA LIPSTIK IMPOR YANG BEREDAR DI PASAR PAGI KOTA SAMARINDA DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE Submitted : 22 Agustus 2024 Edited : 15 Mei 2025 Accepted : 28 Mei 2025 Ruth Gratia Dwi Pangestika1. Nurillahi Febria Leswana2. Adhe Septa Ryant Agus3 Program Studi Sarjana Farmasi. STIKES Dirgahayu Samarinda. Kalimantan Timur. Indonesia Email: ruthgratia87@gmail. 1,2,3 ABSTRAK Rhodamin B umumnya digunakan sebagai zat warna untuk tekstil . utra, wool, kapa. , cat, kertas atau pakaian, dalam jangka waktu yang lama apabila termakan atau tertelan, maka dapat mengiritasi saluran pernafasan, mata, kulit, menyebabkan mual dan muntah serta dapat menyebabkan kanker hati bahkan kematian sel. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi zat warna Rhodamin B pada lipstik impor yang beredar di Pasar Pagi Kota Samarinda. Penelitian ini menggunakan pengujian secara kualitatif dan kuantitatif. Pengujian secara kualitatif yaitu dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT), eluen yang digunakan yaitu etil asetat : etanol : amonia . :2:. dan secara kuantitatif menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian uji kualitatif dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) menunjukkan bahwa sampel H memiliki nilai Rf yang mendekati dengan Rf baku yaitu 0,529 cm sedangkan nilai Rf pembanding Rhodamin B adalah 0,623 cm. Uji kuantitatif senyawa Rhodamin B diketahui kadarnya pada sampel A yaitu . ,12%), sampel B . ,19%), sampel C . ,16%), sampel F . ,20%), sampel G . ,16%), sampel H . ,37%). Sampel I . ,27%), sampel J . ,03%). Pada uji validitas didapatkan hasil yang linear, pada uji presisi didapatkan hasil nilai RSD (Relative Standard Deviatio. sampel G sebesar . ,7 %), nilai RSD sampel H sebesar . ,7 %), nilai RSD sampel I sebesar . ,7%) dan pada uji akurasi didapatkan % recovery pada sampel G dengan konsentrasi 2 bpj yaitu . %), 4 bpj yaitu . %) dan 6 bpj yaitu . %), pada sampel H dengan konsentrasi 2 bpj yaitu . %), 4 bpj yaitu . %) dan 6 bpj yaitu . %). Kata Kunci: Rhodamin B, lipstik impor, spektrofotometri UV-Vis ABSTRACT Rhodamine B is commonly used as a dye for textiles . ilk, wool, cotto. , paint, paper, and Prolonged ingestion or exposure may irritate the respiratory tract, eyes, and skin, cause nausea and vomiting, and potentially lead to liver cancer or even cell death. This study aims to identify the presence of Rhodamine B dye in imported lipsticks sold at Pasar Pagi. Samarinda City. The research involved both qualitative and quantitative analyses. The qualitative test was conducted using Thin Layer Chromatography (TLC) with an eluent mixture of ethyl acetate : ethanol : ammonia . :2:. , while the quantitative test employed UV-Vis spectrophotometry. The qualitative results using TLC showed that sample H had an Rf value of 0. 529 cm, which closely resembled the standard Rhodamine B Rf value of 0. 623 cm. The quantitative analysis revealed Rhodamine B concentrations in sample A . 12%), sample B . 19%), sample C . 16%), sample F . 20%), sample G . 16%), sample H . 37%), sample I . 27%), and sample J . 03%). The validity test indicated a linear The precision test showed Relative Standard Deviation (RSD) values of 1. 7% for samples G. H, and I. The accuracy test yielded recovery percentages in sample G of 92% . , 99% . , and 86% . and in sample H of 88% . , 98% . , and 94% . Keywords: Rhodamine B, imported lipstick. UV-Vis spectrophotometry This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC-SA) 4. 0 International license. Copyright . 2025 Jurnal Ilmiah Manuntung How to Cite . SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA Pangestika RGD. Leswana NF. Agus ASR. ANALISIS RHODAMIN B PADA LIPSTIK IMPOR YANG BEREDAR DI PASAR PAGI KOTA SAMARINDA DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan. : 1Ae11. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 1-11, 2025 PENDAHULUAN Bagi setiap wanita penampilan merupakan hal yang sangat penting yang harus diperhatikan agar terlihat cantik dan menarik. Kosmetik sudah dikenal sejak zaman dahulu, walaupun fungsinya jauh berbeda seperti zaman modern ini. Orang terdahulu sering menggunakan kosmetik untuk berbagai tujuan seperti ritual agama dan menambah aura kecantikan. Salah satu produk kosmetik yang paling banyak digunakan saat ini yaitu Hal inilah membuat industri kosmetik bersaing untuk memproduksi produk-produk lipstik yang diinginkan para wanita, beberapa produsen lipstik juga memilih menggunakan pewarna sintetis sebagai bahan campuran untuk menambah daya tarik warnanya. Lipstik adalah suatu sediaan kosmetik yang digunakan untuk mewarnai bibir dengan sentuhan artistic untuk meningkatkan estetika dalam tata rias wajah, namun tidak menimbulkan iritasi pada bibir. Pewarna pada lipstik berdasarkan sumbernya ada dua, yaitu warna alami merupakan zat warna yang diperoleh dari akar, daun, bunga dan buah. Seperti zat warna hijau dari daun suji dan zat warna orange dari Jenis zat pewarna buatan . yang biasa digunakan oleh produsen lipstik adalah Rhodamin B. Rhodamin B merupakan pewarna fluoresen merah terang, tidak berbau dan berbentuk benang kristal berwarna hijau atau ungu kemerahan yang dapat digunakan sebagai pewarna kertas, tekstil, dan cat. Lipstik akan mempunyai kesan lebih menarik di mata konsumen jika ditambahkan bahan pewarna. Namun, ada oknum tidak bertanggung jawab yang menambahkan pewarna berbahaya, seperti Rhodamin B pada sediaan lipstik. Pemerintah Indonesia Peraturan Menteri Kesehatan (Permenke. No. 239/Menkes/ Per/V/85 menetapkan 30 zat pewarna berbahaya. Rhodamin B merupakan salah satu zat pewarna yang dinyatakan sebagai zat pewarna berbahaya dan dilarang digunakan pada produk pangan. Rhodamin B telah digunakan sejak lama dan jika termakan atau tertelan zat ini akan mengiritasi saluran pernafasan, mata, kulit, menyebabkan mual, muntah, dan dapat menyebabkan kanker hati bahkan kematian sel . Beredarnya produk kosmetik impor yang tidak memenuhi syarat saat ini dilihat semakin mengkhawatirkan. Banyak produk kosmetik impor yang beredar di pasaran masih berasal dari produk impor yang tidak terdaftar dan tidak mencantumkan informasi mengenai zat-zat yang terkandung di dalamnya, dimana produk tersebut harus mengandung bahan-bahan yang memenuhi . menghasilkan kosmetik yang baik . Beberapa penelitian mengenai uji kandungan Rhodamin B telah dilakukan di Kota Malang, dilaporkan terdapat sampel lipstik yang positif Rhodamin B, karena sampel uji berubah warna menjadi jingga ketika ditetesi HCl kuat dan biru saat terkena NaOH 10%. Selain itu penelitian lain juga mengandung Rhodamin B pada liptint ekstrak lidah buaya dengan metode rapid test kit, beberapa sampel positif mengandung Rhodamin B setelah perubahan warna mulai dari merah hingga ungu. Penelitian lain di wilayah Kediri, mempunyai sampel lipstik yang positif mengandung pewarna Rhodamin B setelah dianalisis dengan beberapa metode pengujian yaitu pewarnaan, rapid test kit, kromatografi lapis tipis (KLT), dan spektrofotometri UV-Vis. Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian mengenai analisis kadar Rhodamin B pada lipstik impor yang beredar di Pasar Pagi Kota Samarinda dengan metode Spektrofotometri UV-Vis. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia STIKES Dirgahayu Samarinda yang berlangsung pada bulan April-Juli 2024. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif laboratorium yaitu dengan menguji sampel lipstik impor secara kualitatif untuk mengetahui ada atau tidaknya zat warna Rhodamin B. Sampel lipstik impor diuji secara kuantitatif agar mengetahui jumlah kadar zat warna Rhodamin B yang terkandung dalam sampel. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 1-11, 2025 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan teknik Random Purposive Sampling yaitu sampel yang didapatkan secara acak dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah 10 sampel. Pembuatan Larutan Fase Gerak Pemilihan fase gerak dilakukan untuk memperoleh kromatografi dengan bercak yang bundar, tidak melebar dan tidak berekor. Optimasi dilakukan dengan menotolkan bercak larutan pembanding Rhodamin B kemudian dielusi dengan berbagai fase gerak, yaitu etil asetat : etanol : amonia . :2:. sebanyak 50 ml dengan diambil etil asetat 39,2 ml, etanol 7,1 ml dan amonia 3,5 ml. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan antara lain spektrofotometer UV-visibel (Labsta. , plat KLT silica gel (MerckA), timbangan analitik (FujitsuA), gelas ukur (IwakiA), labu ukur (IwakiA), chamber, hotplate, batang pengaduk, botol timbang, corong, pipet volume, pipet tetes dan pipa kapiler. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain sampel lipstik impor yang diambil secara acak, kertas saring. Rhodamin pro analisis (Loba Chemi. , etanol, amonia (Merc. , asam klorida (Aneka Kimi. , etil asetat (Fisher Scientifi. Pembuatan Larutan Baku Sejumlah 5 mg Rhodamin B dilarutkan dengan 10 ml etanol 70%. Identifikasi Sampel dengan KLT Plat KLT berukuran 10x10 cm diaktifkan dengan cara dipanaskan di dalam oven pada suhu 100oC selama 30 menit. Larutan uji dan larutan baku ditotolkan dengan pipa kapiler pada jarak 1 cm dari bawah bagian plat. Jarak antara noda adalah 1,5 cm. Kemudian plat dibiarkan beberapa saat hingga mengering. Plat KLT yang telah mengandung cuplikan dimasukkan ke dalam bejana yang terlebih dahulu telah dijenuhkan dengan fase gerak terpilih. Plat dibiarkan hingga terelusi sempurna, kemudian diangkat dan dikeringkan pada suhu ruang. Warna secara visual dan warna di bawah sinar lampu ultraviolet diamati, jika secara visual noda berwarna merah jambu dan di bawah sinar lampu ultraviolet berfluorosensi merah muda atau jingga, hal ini menunjukkan adanya zat warna Rhodamin B, nilai Rf dihitung. Analisis Data Data akan dibuat dalam bentuk tabel, grafik dan pembahasan. Hasil penelitian kualitatif berupa nilai dan warna noda di lempeng KLT dari sampel maupun standar Rhodamin B sebagai pembanding. Nilai harga Rf diketahui dari rumus penentuan harga Rf. Hasil penelitian uji kuantitatif berupa nilai absorbansi sampel dan larutan baku Rhodamin B. Kadar sampel dapat diketahui dari hasil perhitungan absorbansi dan data kadar terukur dinyatakan berupa %b/b. Analisis Kuantitatif Prosedur Penelitian Pembuatan Larutan Baku Rhodamin B 100 bpj Sejumlah 50 mg pewarna Rhodamin B dilarutkan dalam labu ukur 100 ml dengan etanol 70% sampai dengan tanda batas . idapatkan 500 bp. kemudian untuk mendapatkan 100 bpj dilakukan pengenceran dengan cara diambil 5 ml baku Rhodamin 500 bpj diencerkan dalam labu ukur 25 ml . idapatkan baku Rhodamin B 100 bp. Larutan dikocok secara homogen. Analisis Kualitatif Uji Organoleptik Dilakukan identifikasi Rhodamin B pada sampel menggunakan uji organoleptis berdasarkan warna, aroma dan bentuk. Pembuatan Larutan Sampel Larutan uji dibuat dengan cara melelehkan 500 mg sampel lipstik di atas hot plate, kemudian ditambahkan 4 tetes HCl 4 M, dan 5,0 ml etanol 70%. Filtrat etanol dipisahkan dengan kertas saring kemudian filtrat dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml, dihomogenkan dan ditambahkan kembali etanol 70% sampai dengan tanda batas. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Dipipet sebanyak 0,6 ml larutan Rhodamin B 100 bpj dengan menggunakan Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 1-11, 2025 pipet volume dan dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml . onsentrasi 6 bp. , lalu ditambahkan etanol sampai tanda batas dan dihomogenkan. Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Serapan maksimum diukur dengan rentang panjang gelombang 400-800 nm. Larutan blangko yang digunakan adalah etanol 70%. jumlah kuadrat residu garis regresi yang dapat diterima, adapun cara menentukan uji linearitas yaitu dengan dibuatnya larutan standar dari Rhodamin B pada masing-masing konsentrasi pengukuran serapan larutan standar Rhodamin B pada konsentrasi 2. 10 bpj. Masingmasing konsentrasi dilakukan pengukuran ulang sebanyak 3 kali dengan spektrofotometri UV-Vis. Dibuat kurva kalibrasi dan persamaan garis linier untuk uji kuantitatif dari sampel yang mengandung Rhodamin B. Penentuan Kurva Baku Larutan Rhodamin B 100 bpj dipipet dengan menggunakan pipet volume kedalam labu ukur 10 ml berturut-turut 0,2 ml. 0,4 ml. 0,6 ml. 0,8 ml. dan 1 ml . onsentrasi 2, 4, 6, 8, 10 bp. ke dalam masing-masing labu ukur kemudian ditambahkan etanol 70% sampai tanda batas, kocok hingga homogen. Penentuan kurva baku dilakukan dengan mengukur seri konsentrasi larutan baku standar, yaitu 2. 8, dan 10bpj menggunakan pipet volume dan dimasukan ke labu ukur 10 ml. Pada masingmasing konsentrasi dilakukan pengukuran serapan dengan menggunakan panjang gelombang serapan maksimum. Akurasi Akurasi menunjukkan kedekatan hasil yang diperoleh dari hasil pengamatan dengan hasil yang sebenarnya, untuk mencapai akurasi yang tinggi dilakukan dengan cara mengurangi galat sistemik seperti menggunakan peralatan yang telah dikalibrasi, menggunakan pereaksi dan pelarut yang baik, pengontrolan suhu dan pelaksanaan yang cermat dan sesuai dengan prosedur, adapun cara melakukan akurasi yaitu dengan mengambil sampel sebanyak 50 mg dilelehkan di atas hot plate, ditambahkan 4 tetes HCl 4 M dan 5,0 ml etanol 70%. Filtrat etanol dipisahkan dengan kertas saring dan dimasukkan filtrat ke dalam labu ukur 25,0 ml dan ditambahkan baku Rhodamin B sebanyak 0,5 ml untuk 2 bpj, 1 ml untuk 4 bpj dan 1,5 ml untuk 6 bpj kemudian ditambahkan etanol 70% sampai tanda batas. Larutan tersebut diukur dengan spektrofotometer UVVis pada panjang gelombang maksimum. Dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Penentuan akurasi dihitung dari persentase Nilai recovery dihitung dengan cara membandingkan nilai konsentrasi terukur dengan nilai konsentrasi yang sebenarnya kemudian dikalikan 100. Syarat akurasi yaitu pada rentang rata-rata persen perolehan kembali adalah 80-110%. Penetapan Kadar Sampel Sampel diambil sebanyak 50 mg, ditambahkan 4 tetes HCl 4 M dan 5,0 ml Campuran bahan dilelehkan di atas hot plate. Filtrat etanol dipisahkan dengan kertas saring dan dimasukkan filtrat ke dalam labu ukur 25,0 ml, dihomogenkan dengan sedikit etanol 70%, dan ditambahkan kembali sampai dengan tanda batas. Larutan tersebut diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Pengulangan perlakukan dilakukan sebanyak tiga kali dan dihitung kadar total Rhodamin B menggunakan kurva kalibrasi dengan persamaan regresi y = bx A a. Presisi Presisi biasanya dinyatakan sebagai deviasi standar atau deviasi standar relative (%RSD) atau koefisien variasi (KV), presisi dinyatakan sebagai keterulangan atau Kriteria presisi diberikan jika metode memberikan deviasi standar relative (RSD) atau koefisien variasi (KV) sebesar O A 2% dan standar deviasi (SD) sebesar O A 2, adapun cara melakukan uji presisi yaitu dengan dengan mengukur absorbansi sebanyak 3 Uji Validitas Linearitas Sebagai parameter adanya hubungan linier digunakan koefisien korelasi r pada analisis regresi linier y= a bx. Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai b = 0 dan r = 1 atau -1 tergantung pada arah garis. Data dari garis regresi dapat menunjukkan perkiraan derajat linearitas seperti koefisien korelasi, perpotongan sumbu y, arah garis regresi dan Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 1-11, 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN sampel yang sudah dipreparasi . menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum dan direplikasi sebanyak 7 kali. Kemudian diukur konsentrasi sampel menggunakan persamaan regresi linear y = a bx dan dihitung nilai RSD. Nilai RSD yang dapat memenuhi kriteria uji presisi yaitu O 2%. Tabel 1. Hasil uji organoleptis Hasil Uji Organoleptis Telah dilakukan penelitian identifikasi Rhodamin B pada 10 sampel dengan menggunakan uji organoleptis berdasarkan warna, aroma serta bentuk. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada (Tabel . Sampel Warna Bau Bentuk Merah Merah Merah Merah terang Merah Merah terang Merah terang Merah terang Merah terang Merah Aroma wangi Aroma wangi Menyengat Aroma wangi Aroma wangi Aroma wangi Tidak berbau Aroma wangi Aroma wangi Aroma wangi Padat Padat Padat Padat Padat Padat Padat Padat Padat Padat Pemeriksaan menunjukkan aroma dari lipstik. Aroma semua sampel hampir sama hanya terdapat perbedaan ketajaman aroma, sampel A. I, dan J memiliki aroma wangi, sedangkan sampel C memiliki aroma yang menyengat, dan sampel G tidak memiliki Aroma wangi tersebut berasal dari parfum yang berfungsi menutup aroma dari minyak atau lemak. Warna menunjukkan sedikit perbedaan namun tidak mencolok, sampel A. E dan J berwarna merah, sedangkan sampel D. H, dan I memiliki warna merah terang, begitupun dengan tekstur atau bentuk dari sampel yang sama. Uji Kualitatif Rhodamin B dengan Metode KLT Analisis kualitatif Rhodamin B dengan metode KLT Telah dilakukan uji kromatografi lapis tipis pada 10 sampel yang beredar di Pasar Pagi Kota Samarinda. Hasil yang diperoleh yaitu pada (Gambar . Gambar 1. Bercak noda baku Rhodamin B dan sampel A-J Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 1-11, 2025 Analisis dilakukan menggunakan kromatografi lapis tipis, metode pemisahan yang melibatkan fase diam berupa zat padat dan fase gerak berupa zat cair. Langkah pertama adalah memilih fase gerak dan fase Plat silika gel digunakan sebagai fase diam karena memiliki ketebalan dan aktivitas yang konsisten, serta mampu memisahkan hampir semua jenis zat. Plat silika gel harus diaktifkan terlebih dahulu untuk menghilangkan molekul air. Penelitian ini menggunakan dua fase yaitu fase gerak dan fase diam. Fase gerak yang digunakan adalah campuran etil asetat, etanol, dan amonia, karena ketiga zat ini bersifat polar. Eluen polar dipilih untuk mengelusi Rhodamin B yang juga bersifat polar. Fase gerak harus dijenuhkan terlebih dahulu agar atmosfer dalam chamber penuh dengan uap eluen, sehingga elusi berlangsung merata. Setelah penjenuhan eluen, plat yang sudah diberi sampel dan baku pembanding dimasukkan ke dalam chamber, kemudian diamati pergerakan fase gerak hingga tanda batas. Plat kemudian diangkat, dikeringkan, dan diamati di bawah sinar UV 365 nm pada penelitian ini plat KLT diamati di bawah sinar UV 365 nm dikarenakan bercak pada plat lebih terlihat dibandingkan menggunakan sinar UV 254 nm. Salah satu hasil identifikasi pada sampel H menunjukkan hasil positif dengan fluoresensi kuning (Gambar . Setelah noda terlihat di bawah sinar UV, nilai Rf dihitung untuk perbandingan Rhodamin B dan sampel. Sampel H memiliki nilai Rf yang mendekati dengan Rf baku yaitu dengan nilai Rf 0,529 cm, sedangkan nilai Rf pembanding Rhodamin B adalah 0,623 Sampel lainnya tidak memiliki nilai Rf yang mendekati Rf Rhodamin B, seperti sampel A . , sampel B . , sampel D . , sampel F . , sampel G . , dan sampel I . Sampel C. E, dan J tidak menunjukkan bercak apapun, baik secara visual maupun di bawah sinar UV 365 nm, uji kualitatif tidak bisa mendeteksi sampel dalam konsentrasi yang sangat kecil, sehingga Rhodamin B dengan kadar yang sangat kecil tidak memunculkan noda pada plat KLT. Hasil dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Penentuan nilai Rf larutan baku Rhodamin B dan sampel Sampel Nilai Rf Hasil Baku 0,623 Positif 0,129 Negatif 0,117 Negatif Negatif 0,141 Negatif Negatif 0,117 Negatif 0,117 Negatif Rf1 = 0,141 Rf2 = 0,258 Positif Rf3 = 0,529 0,117 Negatif Negatif Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 1-11, 2025 Penentuan Kurva Absorbansi Penentuan maksimal Rhodamin B dilakukan dengan mengukur rentang panjang 400-800 nm. Berikut merupakan hasil yang diperoleh maksimum Rhodamin B menggunakan spektrofotometri UV-Visible dapa t dilihat pada (Gambar . Gambar 2. Panjang gelombang () maksimum Rhodamin B Tabel 3. Absorbansi larutan baku Rhodamin B Dalam penelitian ini, penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada rentang panjang gelombang 400-800 nm dengan konsentrasi 2 bpj, 4 bpj, 6 bpj, 8 bpj, dan 10 bpj. Hasilnya menunjukkan panjang gelombang maksimum sebesar 550 nm dengan absorbansi 1,2179 (Gambar Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang juga menunjukkan panjang gelombang maksimum 550 nm . Penentuan panjang gelombang maksimum bertujuan untuk mengetahui daerah serapan yang dapat dihasilkan, berupa nilai absorbansi dari larutan baku Rhodamin B yang diukur dengan spektrofotometer UV-Vis. Konsentrasi . Absorbansi 0,548 0,836 1,2794 1,6665 1,9306 Hasil regresi linier y = 0,1798x 0,1734 Koefisien korelasi . = 0,9932 Hasil dari absorbansi larutan standar digunakan untuk membuat kurva kalibrasi larutan standar Rhodamin B, linearitas. Kurva kalibrasi menyatakan hubungan absorbansi dengan konsentrasi dari serangkaian larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya, pada kurva kalibrasi hal yang perlu diperhatikan adalah tingkat linearitasnya. Fungsi kurva kalibrasi adalah untuk menentukan konsentrasi suatu zat dalam suatu sampel yang tidak diketahui dengan membandingkan zat yang tidak Penentuan Kurva Kalibrasi Berdasarkan pengukuran absorbansi terhadap larutan baku Rhodamin B diperoleh hasil pada (Tabel . Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 1-11, 2025 diketahui tersebut kedalam seperangkat sampel standar yang konsentrasinya Kurva kalibrasi Rhodamin B diperoleh dengan mengukur absorbansi dari larutan Rhodamin B dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil dari kurva kalibrasi dapat dilihat pada (Gambar . Gambar 3. Grafik kurva kalibrasi larutan baku Rhodamin B Penentuan Kadar Rhodamin B pada Sampel Rhodamin B dapat dianalisis secara Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 550 nm karena senyawa Rhodamin B mempunyai gugus kromofor yaitu gugus dalam senyawa organik yang mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak seperti gugus karboksil, senyawa aromatik dan juga mempunyai gugus auksokrom yaitu gugus yang memiliki pasangan elektron bebas seperti NR2. Cara penentuan kadar Rhodamin B dilakukan dengan mengukur setiap larutan secara spektrofotometri cahaya tampak pada panjang gelombang 550 nm. Sedangkan untuk menghitung kadar Rhodamin B pada sampel dihitung dengan menggunakan kurva kalibrasi dengan persamaan regresi y = bx A a. Hasil kadar dapat dilihat pada (Tabel . Tabel 4. Kadar Rhodamin B di dalam Sampel Sampel Replikasi (R) Absorbansi Konsentrasi Rhodamin B . Rata-rata Kadar Rhodamin B (%b/. 0,6243 0,6266 0,6269 0,8784 0,8783 0,8794 0,7540 0,7542 0,7570 0,1241 0,1245 0,1228 2,507 2,520 2,522 3,921 3,920 3,926 3,229 3,330 3,245 -0,274 -0,271 -0,281 0,12% 0,12% 0,12% 0,19% 0,19% 0,19% 0,16% 0,16% 0,16% -0,01% -0,01% -0,01% Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 1-11, 2025 0,1059 0,1144 0,1179 0,9182 0,9184 0,9170 0,7615 0,7621 0,7664 1,5388 1,5420 1,5457 1,1475 1,1515 1,1580 0,3002 0,3008 0,3014 Pada 10 sampel yang dianalisis dengan 3 kali pengulangan terdapat 2 sampel yang tidak mengandung Rhodamin B (D dan E) karena memiliki kadar yang negatif, kemudian 7 sampel lain (A. J) memiliki kadar yang kecil, tetapi untuk sampel H memiliki kadar yang besar dibandingkan sampel lainnya, hal tersebut juga sejalan dengan analisis kualitatif yang dilakukan sebelumnya bahwa sampel H memberikan nilai Rf yang mendekati dengan nilai Rf baku, sehingga dimungkinkan bahwa sampel H mengandung Rhodamin B dengan kadar sebesar 0,37%. Hal tersebut akan berpotensi membahayakan konsumen karena semakin banyak Rhodamin B yang masuk ke dalam tubuh, semakin besar efek toksiknya. Rhodamin B ditambahkan pada lipstik impor untuk meningkatkan kualitas warna agar lebih menarik bagi konsumen. Banyak produsen kosmetik masih menggunakan Rhodamin B karena harganya relatif murah dan stabilitas warnanya lebih tinggi dibandingkan dengan pewarna alami, sehingga produk tersebut lebih terjangkau bagi masyarakat umum. -0,375 -0,330 -0,328 4,142 4,143 4,135 3,270 3,270 3,298 7,593 7,611 7,632 5,417 5,439 5,476 0,705 0,708 0,711 -0,01% -0,01% -0,01% 0,20% 0,20% 0,20% 0,16% 0,16% 0,16% 0,37% 0,37% 0,37% 0,27% 0,27% 0,27% 0,03% 0,03% 0,03% Linearitas Linearitas merupakan kemampuan suatu metode untuk memperoleh hasil pengujian yang berbanding lurus dengan konsentrasi analit yang diberikan. Linearitas suatu metode merupakan ukuran seberapa baik kurva kalibrasi yang menghubungkan antara respon . dengan konsentrasi . Berdasarkan kurva kalibrasi dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis yang absorbansi, diperoleh persamaan linear y = 0,1798x 0,1734 dengan koefisien korelasi . = 0,9932. Hasil yang diperoleh hampir sama dengan penelitian lain yaitu dengan nilai r sebesar 0,9999. Hasil koefisien dinyatakan memenuhi syarat kriteria korelasi yang linear. Nilai koefisien korelasi . yang mendekati 1 menyatakan hubungan yang linier antara konsentrasi dengan serapan yang dihasilkan, dengan kata lain peningkatan nilai absorbansi analit berbanding lurus dengan konsentrasinya yang sesuai dengan kriteria penerimaan korelasi . Sehingga dapat dinyatakan uji linearitas untuk Rhodamin B menghasilkan korelasi yang linear. Hasil uji linearitas dapat dilihat pada (Gambar . Uji Validitas Untuk membuktikan bahwa parameter yang digunakan dapat memenuhi persyaratan maka dilakukan uji validitas. Parameter yang digunakan dalam uji ini yaitu uji linearitas, akurasi dan presisi. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 1-11, 2025 Gambar 4. Grafik kurva kalibrasi larutan baku Rhodamin B dan nilai RSD sebesar 1,7 %, nilai SD sampel H sebesar 0,1334 dan nilai RSD sebesar 1,7 %, nilai SD sampel I sebesar 0,0966 dan nilai RSD sebesar 1,7 % yang dinyatakan bahwa metode ini memenuhi kriteria persyaratan uji presisi yaitu sebesar <2% sehingga mendapatkan hasil yang akurat. Hasil presisi dapat dilihat pada (Tabel . Presisi Presisi adalah ukuran kedekatan nilai data satu dengan yang lainnya dalam suatu pengukuran dan kondisi analisis yang sama. Pada pengujian ini dilakukan sebanyak 7 kali pengulangan pada 3 sampel berbeda, diukur panjang gelombang 550 nm. Hasil dari penelitian ini diperoleh nilai SD sampel G sebesar 0,0597 Tabel 5. Hasil uji presisi sampel Sampel Replikasi (R) Absorbansi 0,7621 0,7717 0,7853 0,7803 0,7869 0,7615 1,5028 1,5420 1,5275 1,4794 1,5457 1,5388 1,5242 1,1515 1,1954 1,158 1,1475 1,1674 1,1822 1,1763 Akurasi Akurasi merupakan ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analisis dengan kadar analit yang sebenarnya yang dinyatakan sebagai persen perolehan kembali . Pada uji ini dilakukan dengan cara menambahkan 2 sampel yang berbeda dan Rhodamin B dengan konsentrasi masing-masing 2 bpj, 4 bpj dan 6 bpj. Berdasarkan hasil uji RSD (%) 0,0597 1,7905 0,1334 1,7785 0,0966 1,7473 didapatkan % recovery pada sampel G dengan konsentrasi 2 bpj . %), 4 bpj . %) dan 6 bpj . %), pada sampel H dengan konsentrasi 2 bpj . %), 4 bpj . %) dan 6 bpj . %). Uji akurasi ini dinyatakan memenuhi persyaratan dari nilai % recovery yaitu 80-110% sehingga metode ini mendapatkan hasil yang baik. Hasil akurasi dapat dilihat pada tabel 6. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 1-11, 2025 Tabel 6. Hasil Uji Akurasi Sampel Sampel Konsentrasi . Absorbansi % Recovery 0,9694 1,3598 1,5718 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan yaitu pada uji analisis kualitatif sampel H memiliki nilai Rf yang mendekati dengan nilai Rf baku Rhodamin B, yaitu sampel H dengan nilai Rf 0,529 cm, sedangkan nilai Rf pembanding Rhodamin B adalah 0,623 cm, dimana sampel H tersebut memiliki noda bercak berwarna kuning jika diletakkan di bawah sinar UV 365 nm, sama seperti noda bercak yang dimiliki larutan baku Rhodamin B. Pada hasil penetapan kadar berdasarkan uji kuantitatif kadar Rhodamin B dari 10 sampel yang diteliti diketahui kadar pada sampel A . ,12%), sampel B . ,19%), sampel C . ,16%), sampel F . ,20%), sampel G . ,16%), sampel H . ,37%). Sampel I . ,27%), sampel J . ,03%). DAFTAR PUSTAKA