Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Pengembangan Model PBL Berbasis Pembelajaran Mendalam dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Iis Lisnawati1*. Welly Nores Kartadiredja2. Agi Ahmad Ginanjar3 1,2,3 Universitas Siliwangi. Indonesia E-mail: iislisnawati@unsil. id1, wellykartadireja@unsil. id2, ahmadginanjar@unsil. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-11-20 Revised : 2025-11-27 Accepted : 2025-11-29 KEYWORDS Deep Learning. Problem-Based Learning. Indonesian Language Learning KATA KUNCI Pembelajaran Mendalam. Problem Based Learning. Pembelajaran Bahasa Indonesia. ABSTRACT This study aims to develop a Deep LearningAebased Problem-Based Learning (PBL) model for Indonesian language instruction through a systematic literature Deep Learning is conceptualized as an approach that emphasizes comprehensive conceptual understanding, active learner engagement, and the holistic integration of cognitive, affective, and psychomotor processes. The research procedure consisted of four stages: . identifying relevant literature on Deep Learning. PBL, and Indonesian language instruction. selecting sources based on inclusion and exclusion criteria. conducting thematic analysis to map key concepts. synthesizing findings to formulate a model design. The results indicate that PBL is the most suitable model for integrating Deep Learning principles, as it promotes contextual learning, authentic problemsolving, and higher-order thinking skills. The literature review also reveals that three main approaches in Indonesian language instruction Genre Pedagogy, the Scientific Approach, and Content and Language Integrated Learning (CLIL) are highly compatible with Deep Learning principles. Based on these findings, the study proposes a conceptual PBL model grounded in Deep Learning as an alternative framework for developing Indonesian language instruction that is more meaningful, reflective, and oriented toward knowledge construction. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengembangkan model Problem-Based Learning (PBL) berbasis Pembelajaran Mendalam dalam pembelajaran Bahasa Indonesia melalui metode systematic literature review. Pembelajaran Mendalam dipahami sebagai pendekatan yang menekankan pemahaman konsep secara utuh, keterlibatan aktif peserta didik, serta integrasi olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga secara Prosedur penelitian meliputi empat tahap: . identifikasi literatur relevan mengenai Pembelajaran Mendalam. PBL, dan pembelajaran Bahasa Indonesia. seleksi sumber berdasarkan kriteria inklusiAeeksklusi. analisis tematik untuk memetakan konsep. sintesis temuan untuk merumuskan rancangan model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBL merupakan model yang paling sesuai untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip Pembelajaran Mendalam karena mendorong pembelajaran kontekstual, pemecahan masalah autentik, dan proses berpikir tingkat tinggi. Selain itu, kajian literatur menemukan bahwa tiga pendekatan utama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia Pedagogi Genre. Pendekatan Saintifik, dan Content and Language Integrated Learning (CLIL) memiliki kompatibilitas kuat dengan prinsip Pembelajaran Mendalam. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menghasilkan rancangan konseptual model PBL berbasis Pembelajaran Mendalam sebagai alternatif pengembangan 285 | JPI. Vol. No. November 2025 pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih bermakna, reflektif, dan berorientasi pada konstruksi pengetahuan. Pendahuluan Perkembangan dunia yang kian terhubung lintas negara menempatkan setiap bangsa pada situasi baru yang sarat perubahan. Indonesia tidak terkecuali. Sejumlah kajian ilmiah (Silitonga, 2020. Ulfiah. Dewi, & Hayati, 2023. Sitakar dkk. , 2. mengungkap bahwa arus global membawa konsekuensi yang berlapis, menjalar ke ranah pemerintahan, perekonomian, pandangan hidup, hingga dinamika sosial dan kebudayaan. Rangkaian perubahan tersebut berpengaruh langsung terhadap mutu manusia sebagai aset utama bangsa. Oleh karena itu, sistem pendidikan tidak lagi cukup berfokus pada transfer pengetahuan, melainkan harus membentuk individu yang luwes menghadapi perubahan, unggul dalam kompetensi, serta terampil bernalar secara mendalam agar mampu berkiprah di kancah internasional. Sejalan dengan pandangan Hariyanti dkk. , pendidikan menempati posisi kunci sebagai fondasi strategis yang menentukan daya tahan dan keberhasilan bangsa dalam merespons transformasi global yang berlangsung cepat dan sering kali sulit diprediksi. Menghadapi dinamika abad ke-21, negara mengambil peran aktif dalam menyiapkan kualitas manusia melalui pembenahan kebijakan pendidikan. Pemerintah Indonesia mengarahkan berbagai inisiatif pada penguatan kapasitas SDM dengan melakukan rekonstruksi kurikulum, mendorong penguasaan kompetensi 4C (Communication. Collaboration. Critical Thinking. Creativit. , serta menggulirkan agenda strategis seperti Program Indonesia Emas dan penerapan Kurikulum Merdeka sebagai fondasi pembelajaran baru. Seiring dengan itu, praktik pendidikan di Indonesia juga pembelajaran yang beragam dari waktu ke waktu. Model-model seperti Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). PAKEM. PAIKEM. Contextual Teaching and Learning (CTL), hingga pembelajaran berdiferensiasi dalam kegiatan intrakurikuler dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. telah menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan peserta didik, sebagaimana diungkapkan oleh Suyanto dkk. Pembelajaran Bahasa Indonesia bergerak ke arah yang semakin beragam seiring meningkatnya kompleksitas tuntutan literasi. Kerangka kurikulum yang berlaku tidak lagi bertumpu pada satu pola tunggal, melainkan mengombinasikan sejumlah strategi, antara lain pendekatan saintifik, pedagogi genre, serta Content and Language Integrated Learning (CLIL) (Kemdikbud, 2. Perpaduan ini diarahkan untuk mengembangkan daya nalar kritis, keluwesan dalam mengolah bahasa, dan kemampuan membangun makna yang berakar pada konteks sosial dan budaya. Meski demikian, realitas di lapangan menunjukkan adanya hambatan yang belum sepenuhnya teratasi. Sejumlah kajian mencatat bahwa praktik pembelajaran masih kerap terjebak pada penguasaan materi secara mekanis, minim memberi ruang bagi penyelesaian persoalan nyata, serta belum secara maksimal menumbuhkan literasi kritis pada peserta didik, baik dari sisi konsep maupun penerapannya di kelas. Kondisi tersebut membuka ruang bagi hadirnya Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. sebagai alternatif yang dinilai mampu memperkaya kualitas proses belajar. Pendekatan ini tidak berhenti pada penguasaan konsep semata, melainkan mengaitkan aktivitas kognitif, emosional, nilai, dan fisik peserta didik dalam satu kesatuan pengalaman belajar. Melalui proses tersebut, peserta didik diarahkan untuk menafsirkan pengalaman, melakukan refleksi, serta membangun pengetahuan secara otonom (Suyanto dkk. , 2. Meskipun potensinya besar, telaah pustaka memperlihatkan bahwa riset yang mengangkat penerapan Pembelajaran Mendalam dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia masih relatif jarang dan umumnya bersifat konseptual, belum menyentuh perancangan model pembelajaran yang operasional. Lebih jauh, kajian yang menelaah secara spesifik keterpaduan antara Pembelajaran Mendalam dan Problem-Based Learning (PBL) sebagai strategi pembelajaran berbasis masalah nyata untuk mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi juga belum banyak ditemukan. Kekosongan kajian yang ada menegaskan kebutuhan akan perancangan strategi pembelajaran baru yang memadukan landasan Pembelajaran Mendalam dengan keunggulan Problem-Based Learning pembelajaran Bahasa Indonesia. Atas dasar itu, studi ini memiliki urgensi untuk merespons tuntutan pengembangan model pembelajaran yang tidak hanya relevan dengan Kurikulum Merdeka, tetapi juga efektif dalam meningkatkan kecakapan literasi, kemahiran berbahasa, dan daya nalar kritis peserta Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 286 Berdasarkan uraian tersebut, tujuan penelitian ini adalah . mengkaji konsep Pembelajaran Mendalam dan relevansinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, . menganalisis kesesuaian PBL sebagai model yang dapat mengintegrasikan Pembelajaran Mendalam, dan . menghasilkan rancangan konseptual model PBL berbasis Pembelajaran Mendalam dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Tinjauan Literature Hakikat Pembelajaran Mendalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk membekali peserta didik dengan kecakapan menggunakan bahasa sebagai sarana berinteraksi. Kemampuan tersebut tercermin dalam penguasaan sejumlah aspek kebahasaan yang mencakup aktivitas memahami dan menghasilkan bahasa. Pada satu sisi, peserta didik dilatih menyerap informasi melalui kegiatan menyimak, membaca, dan memirsa sebagai bagian dari keterampilan reseptif. Pada sisi lain, mereka dituntut mengekspresikan gagasan melalui berbicara, mempresentasikan, serta menulis yang termasuk dalam ranah keterampilan produktif. Penguasaan keterampilan tersebut diharapkan mengantarkan peserta didik pada pencapaian sasaran pembelajaran sekaligus arah besar pendidikan Hal ini selaras dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2025 yang Peraturan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Regulasi tersebut menegaskan bahwa kurikulum dirancang untuk mengembangkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, memperkuat nilai kewargaan, menumbuhkan kemampuan bernalar kritis, kreativitas, kolaborasi. Di samping itu, kurikulum diarahkan untuk mengembangkan cipta, rasa, dan karsa peserta didik agar tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila melalui penerapan Kurikulum Merdeka. Paparan perencanaan, pelaksanaan, hingga penilaian pembelajaran perlu dirancang sebagai ruang yang memungkinkan peserta didik mengembangkan seluruh kapasitas dirinya sekaligus menanamkan nilai-nilai kepribadian yang konstruktif. Pendidikan dengan demikian tidak cukup berorientasi pada penguasaan kemampuan teknis semata, tetapi juga harus membina kecakapan nonteknis. Sejalan dengan pandangan Suyanto dkk. , kondisi ini menuntut lahirnya terobosan dan strategi pembelajaran yang lebih inovatif agar pengaruh pendidikan dapat diperkuat dan dipercepat. Dalam konteks tersebut. Pembelajaran Mendalam (PM) dipandang sebagai salah satu pendekatan yang relevan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Konsep Pembelajaran Mendalam (PM) dipahami secara beragam oleh para ahli. Sebagian kalangan memaknainya sebagai kerangka kurikulum, sementara yang lain menempatkannya sebagai strategi dalam proses belajar. Penegasan resmi disampaikan pada November 2024 oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Abdul MuAoti, yang menyatakan bahwa PM tidak dimaksudkan sebagai Pandangan ini sejalan dengan sejumlah kajian sebelumnya yang menempatkan PM dalam ranah pendekatan pedagogis (Putri dkk. Suyanto dkk. , 2025. Fatmawati, 2. Penerapan Pembelajaran Mendalam (PM) dalam kerangka Kurikulum Merdeka dipandang sebagai sarana untuk mengoptimalkan capaian kurikulum Melalui pendekatan ini, proses belajar diarahkan agar memiliki makna dan daya guna nyata dalam membangun keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, membentuk akhlak yang luhur, serta mengembangkan potensi cipta, rasa, dan karsa peserta didik. Dengan demikian, peserta didik diharapkan tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2024. Pembelajaran Mendalam (PM) diposisikan sebagai strategi belajar yang mengutamakan pendalaman konsep serta pencapaian kompetensi secara komprehensif pada ruang lingkup materi Dalam pendekatan ini, peserta didik tidak berperan sebagai penerima informasi pasif, mengeksplorasi dan mendalami topik pembelajaran hingga mencapai pemahaman yang lebih substansial (Istanti, 2. Proses belajar diarahkan melalui kegiatan menalar secara kritis, mengaitkan pengetahuan baru dengan skema pengetahuan yang telah dimiliki, serta menggunakannya dalam situasi yang kontekstual. Melalui mekanisme tersebut. PM keterampilan aplikatif dalam kehidupan nyata sekaligus membangun orientasi belajar sepanjang hayat (Diputera, 2. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 287 | JPI. Vol. No. November 2025 Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh melalui PM tidak berhenti pada penguasaan informasi secara mekanis. Sejalan dengan pandangan Adnyana . , pendekatan ini menekankan proses belajar yang reflektif dan bermakna, bukan sekadar pengulangan atau reproduksi fakta. Suyanto dkk. menegaskan bahwa PM membangun pengalaman belajar yang sadar, bermakna, dan menyenangkan melalui keterpaduan aspek intelektual, emosional, nilai, dan fisik peserta didik. Senada dengan itu. Sujinem . memandang PM sebagai pendekatan yang menitikberatkan partisipasi aktif, penalaran kritis, serta pemanfaatan pengetahuan secara bermakna, sehingga melampaui pembelajaran permukaan dan menghasilkan pemahaman bahasa yang lebih Karena penekanan PM pada kedalaman pemahaman, proses reflektif, dan kebermaknaan belajar menempatkannya sebagai pendekatan yang berorientasi pada pengalaman belajar yang kaya. Fatmawati . menjelaskan bahwa dalam ranah pendidikan. PM diwujudkan melalui perancangan situasi dan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik membangun pemahaman secara optimal, sekaligus merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi serta mendorong penggunaan pengetahuan dalam beragam konteks kehidupan Ketentuan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2025 menjabarkan Pembelajaran Mendalam (PM) sebagai pendekatan yang berorientasi pada penghargaan terhadap peserta didik melalui penciptaan iklim belajar yang sadar, bermakna, dan Proses pembelajaran dirancang secara terpadu dengan melibatkan dimensi intelektual, emosional, afektif, dan fisik secara Melalui pendekatan ini, peserta didik diarahkan untuk mengikuti pembelajaran dengan kesadaran penuh, merasakan keterlibatan emosional yang positif, serta mampu menafsirkan relevansi materi dengan realitas kehidupannya. Kondisi tersebut mendorong partisipasi aktif, memfasilitasi pengaitan pengetahuan baru dengan pengalaman yang telah dimiliki, dan membentuk pemahaman yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Merujuk pada berbagai pandangan mengenai Pembelajaran Mendalam (PM) yang telah dipaparkan, dapat dirumuskan bahwa PM mengarahkan proses belajar pada pendalaman konsep dan pencapaian kompetensi secara Pendekatan ini menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam pengalaman belajar yang dirancang secara sadar, bermakna, dan menyenangkan dengan melibatkan dimensi intelektual, emosional, afektif, serta fisik secara Melalui keterpaduan tersebut. PM bertujuan mendukung tercapainya kecakapan berbahasa yang berkembang secara utuh dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip Pembelajaran Mendalam Pembelajaran Mendalam (PM) dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu kesadaran dalam belajar, kebermaknaan proses belajar, dan suasana belajar yang menyenangkan. Penerapan prinsip-prinsip tersebut tidak hanya menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga mengangkat peran guru dan para pemangku kepentingan pendidikan lainnya sebagai bagian penting dalam ekosistem belajar. Melalui pendekatan ini, guru merancang pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik memahami konsep secara mendalam, menerapkannya dalam beragam situasi, serta melakukan refleksi atas proses belajar yang dijalani. Secara struktural, kerangka PM mencakup unsur praktik pedagogis, penciptaan lingkungan belajar yang mendukung, penguatan kemitraan dalam pembelajaran, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana pendukung (Suyanto, 2. Ketentuan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2025 menguraikan bahwa pembelajaran berkesadaran ditandai oleh peran aktif peserta didik dalam mengelola proses belajarnya sendiri. Dalam kondisi ini, peserta didik mengetahui arah dan sasaran pembelajaran, terdorong oleh motivasi yang bersumber dari dalam diri, serta mampu merancang dan menyesuaikan strategi belajar guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Kesadaran semacam ini memungkinkan peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membentuk kapasitas diri sebagai pembelajar sepanjang hayat. Suyanto dkk. menjelaskan bahwa keterlibatan peserta didik secara utuh dalam proses Pada kondisi ini, peserta didik hadir secara mental dan emosional, berpartisipasi aktif, serta mampu memusatkan perhatian pada materi yang sedang dipelajari. Situasi tersebut juga menciptakan rasa aman dan nyaman dalam belajar, menumbuhkan keingintahuan, serta mendorong keterbukaan terhadap sudut pandang dan gagasan yang berbeda. Belajar menjadi bermakna ketika peserta didik diperolehnya dalam situasi nyata dan sesuai dengan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 288 konteks kehidupan. Proses pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman materi atau penguasaan isi, tetapi diarahkan pada keterampilan menerapkan pengetahuan tersebut, yang pada gilirannya memperkuat daya ingat dalam jangka panjang. Keterkaitan pembelajaran dengan lingkungan sekitar membantu peserta didik mengenali jati diri, memahami posisi mereka, serta menyadari peran yang dapat dijalankan dalam kehidupan sosial. Pendekatan ini mengaitkan kegiatan belajar dengan persoalan autentik yang dekat dengan pengalaman pribadi hingga lingkup lokal, nasional, dan global. Selain itu, pembelajaran bermakna mendorong keterlibatan orang tua, masyarakat, maupun komunitas sebagai sumber pengalaman nyata, sekaligus menumbuhkan sikap tanggung jawab dan kepedulian sosial pada peserta didik. Suasana belajar yang menggembirakan ditandai oleh iklim pembelajaran yang kondusif, menantang, dan mampu membangkitkan semangat peserta didik. Perasaan positif yang muncul selama proses belajar memperkuat keterikatan emosional, sehingga peserta didik lebih mudah memahami materi, memanfaatkannya dalam praktik. Ketika kegiatan belajar dirasakan menyenangkan, dorongan dari dalam diri peserta didik berkembang secara alami, memicu keingintahuan, daya cipta, dan partisipasi yang lebih aktif. Kondisi ini menjadikan proses belajar sebagai pengalaman yang bermakna dan Selain itu, aspek kegembiraan dalam belajar tercapai apabila peserta didik merasa aman dan nyaman, serta kebutuhan dasarnya terpenuhi, mulai dari kebutuhan fisik, rasa aman, kasih sayang dan kebersamaan, penghargaan diri, hingga kesempatan untuk mengaktualisasikan potensi diri. Indahri . menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam (PM) dibangun di atas tiga landasan utama yang saling melengkapi untuk menciptakan pengalaman belajar yang utuh. Unsur pembelajaran berkesadaran menekankan kehadiran penuh peserta didik dalam proses belajar, sehingga membantu meningkatkan fokus, kemampuan reflektif, dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi. Sementara itu, pembelajaran bermakna menautkan isi pelajaran dengan situasi kehidupan nyata agar peserta didik terdorong untuk berpikir kritis, kreatif, serta terampil dalam menyelesaikan persoalan. Adapun pembelajaran menggembirakan diarahkan pada penciptaan interaksi belajar yang positif dan menyenangkan guna memperkuat motivasi serta partisipasi aktif. Di luar ketiga elemen tersebut, pendekatan PM juga dapat diperkaya melalui penerapan healthful learning dan happyful learning yang memperhatikan keseimbangan kesehatan fisik, mental, dan emosional, sehingga proses belajar tidak hanya efektif, tetapi juga mendukung pembentukan karakter peserta didik secara menyeluruh. Penerapan prinsip-prinsip tersebut tercermin dalam rangkaian pengalaman belajar yang dilalui peserta didik, mulai dari membangun pemahaman, menggunakan pengetahuan dalam berbagai situasi, hingga melakukan refleksi atas proses yang dijalani. Pelaksanaan Pembelajaran Mendalam (PM) diperkuat oleh strategi pedagogis yang dirancang guru, penciptaan iklim belajar yang aman dan nyaman, pemanfaatan teknologi digital secara tepat, serta dukungan kemitraan pembelajaran yang terkelola dengan baik. Taksonomi Belajar dalam Pembelajaran Mendalam Taksonomi belajar dalam PM digambarkan oleh Suyanto . sebagai berikut. Gambar 1. Taksonomi Belajar dalam Pembelajaran Mendalam (Suyanto, dkk. , 2. Gambar tersebut menunjukkan bahwa PM relevan dengan taksonomi belajar dalam kurikulum yang sedang berlaku. Hal ini terlihat dari relevansi taksonomi Bloom dengan pengalaman belajar dalam PM seperti yang tertera pada gambar teraebut. Metode Penelitian ini menerapkan metode kajian pustaka sebagai pendekatan utama. Data dan informasi dihimpun dari beragam rujukan, meliputi buku, artikel jurnal, prosiding ilmiah, serta dokumen relevan lainnya. Menurut Creswell . , kajian pustaka berfungsi untuk memetakan perkembangan pengetahuan, baik yang telah ada maupun yang mutakhir, terkait topik yang diteliti. Informasi tersebut diperoleh melalui penelaahan berbagai sumber tertulis, kemudian diseleksi, dirangkum, dan didokumentasikan secara sistematis sesuai dengan tujuan penelitian. Prosedur penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang saling berkesinambungan. Tahap awal difokuskan pada penelaahan konsep Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 289 | JPI. Vol. No. November 2025 Pembelajaran Mendalam (PM). Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap praktik pembelajaran Bahasa Indonesia yang tengah diterapkan. Tahap berikutnya diarahkan pada upaya penyelarasan prinsip-prinsip pembelajaran Bahasa Indonesia. Setelah itu, ditetapkan model pembelajaran yang dinilai mampu mewadahi integrasi PM dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Tahap akhir berupa perancangan skema pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menerapkan model Problem-Based Learning (PBL) yang berlandaskan prinsip Pembelajaran Mendalam. Hasil dan Pembahasan Pembelajaran Mendalam dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Penerapan Pembelajaran Mendalam (PM) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia menuntut adanya keselarasan dengan landasan pembelajaran Bahasa Indonesia sebagaimana diarahkan dalam kurikulum (Kemdikbud, 2. Dalam kerangka tersebut, pembelajaran Bahasa Indonesia dirancang sebagai perpaduan dari tiga pendekatan utama, yakni pedagogi genre, pendekatan saintifik, dan CLIL (Content Language Integrated Learnin. Pedagogi Genre diterapkan melalui rangkaian empat tahap pembelajaran yang dikenal dengan istilah 4M. Tahapan tersebut mencakup kegiatan menganalisis contoh atau teks model, melakukan penyusunan teks dengan pendampingan, serta mengembangkan karya secara mandiri oleh peserta Pendekatan saintifik dalam pembelajaran diterapkan melalui lima tahapan utama yang dikenal sebagai 5M, meliputi kegiatan mengamati, mengajukan pertanyaan, menghimpun data atau informasi, menalar, serta menyampaikan hasil Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, rangkaian 5M dimanfaatkan terutama untuk membangun pemahaman pengetahuan. Proses ini selaras dengan penerapan pedagogi genre pada tahap pengenalan konteks dan analisis contoh teks. Adapun pengembangan keterampilan berbahasa dalam pedagogi genre dilakukan melalui fase penyusunan teks dengan bimbingan hingga tahap produksi teks secara mandiri. Pendekatan CLIL diterapkan melalui kerangka 4K yang mencakup Konten. Komunikasi. Kognisi, dan Kultur sebagai upaya memperkaya proses Dalam kerangka ini, materi pembelajaranAibaik berupa teks contoh maupun penugasanAidirancang tidak hanya menyajikan isi, tetapi juga memuat nilai karakter, perluasan wawasan, serta penumbuhan kepedulian sebagai bagian dari masyarakat nasional dan global. Aspek kebahasaan ditempatkan sebagai sarana utama untuk mengekspresikan beragam tujuan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, setiap jenis teks dipahami memiliki pola berpikir khas yang perlu disadari agar proses penyampaian makna berlangsung lebih efektif. Unsur budaya turut menjadi perhatian penting, karena keberhasilan berbahasa dan berkomunikasi menuntut pemahaman etika, kesantunan, serta sensitivitas terhadap konteks budaya, baik pada tataran lokal, nasional, maupun Pelaksanaan berbagai pendekatan tersebut selaras dengan tahapan pengalaman belajar dalam Pembelajaran Mendalam, yang mencakup proses membangun pemahaman, menerapkan pengetahuan, serta melakukan refleksi. Keterpaduan antara pedagogi genre, pendekatan saintifik, dan CLIL dengan prinsip Pembelajaran Mendalam ditampilkan melalui ilustrasi pada gambar berikut. Gambar 2. Pembelajaran Mendalam dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa penerapan Pembelajaran Mendalam (PM) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia diwujudkan melalui pemanfaatan beragam pendekatan, yakni pedagogi genre, pendekatan saintifik, dan CLIL, yang dipadukan dengan prinsip belajar berkesadaran, bermakna, serta Proses belajar berlangsung melalui menggunakan pengetahuan dalam praktik, dan melakukan refleksi. Keseluruhan proses tersebut berada dalam satu kerangka pembelajaran yang penciptaan iklim belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan kemitraan pembelajaran. Melalui keterpaduan ini, pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kecakapan berbahasa sehingga peserta didik mampu berkomunikasi secara efektif, baik dalam ranah formal maupun nonformal, di berbagai situasi dan konteks. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 290 Dalam pelaksanaan pembelajaran, praktik pedagogis berkaitan dengan pilihan pendekatan dan cara mengajar yang digunakan pendidik untuk mengantarkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran serta dimensi profil lulusan yang diharapkan (Suyanto, 2. Wahab . menyatakan bahwa model pembelajaran merupakan rancangan strategi pengajaran yang disusun secara sistematis untuk mencapai sasaran instruksional Pandangan tersebut menunjukkan bahwa model berfungsi sebagai pola strategi yang telah terstruktur dan siap diterapkan dalam kegiatan Penerapan Pembelajaran Mendalam (PM) dapat difasilitasi melalui beragam pendekatan dan model Beberapa di antaranya meliputi pembelajaran berbasis inkuiri, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran kolaboratif, pembelajaran yang mengintegrasikan pemikiran desain (Design Thinkin. , serta pendekatan lintas disiplin seperti STEAM (Science. Technology. Engineering. Arts. Mathematic. dan SETS (Science. Environment. Technology, and Societ. Ragam strategi tersebut memberikan alternatif bagi pendidik dalam mewujudkan proses belajar yang selaras dengan prinsip PM (Suyanto, 2. Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Pembelajaran Mendalam Menggunakan Problem Based Learning Bertolak dari paparan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa penerapan Pembelajaran Mendalam (PM) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia memerlukan dukungan strategi atau model pembelajaran yang mampu mewadahi seluruh prinsip dan proses yang telah dijelaskan. Di antara berbagai alternatif yang ada, model Problem-Based Learning (PBL) dipandang sebagai salah satu pendekatan yang berpotensi efektif untuk pembelajaran Bahasa Indonesia. Efektivitas model Problem-Based Learning (PBL) dalam proses pembelajaran telah banyak ditunjukkan melalui berbagai temuan penelitian. Sejumlah studi melaporkan bahwa PBL berkontribusi pada peningkatan penguasaan tata bahasa dan keterampilan berbicara dalam bahasa Inggris (Fahmi et al. , 2. Selain itu, penerapan model ini juga berdampak positif terhadap sikap belajar peserta didik, seperti tumbuhnya semangat, rasa percaya diri, dan kemandirian, serta peningkatan kemampuan berbahasa dalam ranah lisan maupun tulisan (Wijaya, 2. Temuan lain menunjukkan bahwa PBL efektif dalam mengembangkan keterampilan menulis teks prosedur (Nurrochmat. Prabowo. Aryanto, 2. , meningkatkan keaktifan belajarAiterlihat dari partisipasi peserta didik dalam menyimak, bertanya, dan menjawab pertanyaanAi serta memperbaiki capaian hasil belajar (Haslinda. Lebih lanjut. PBL juga terbukti mampu mendorong motivasi belajar peserta didik secara signifikan (Barzi. Istyadji. Sari, 2. Berbagai studi tersebut menelaah penerapan Problem-Based Learning (PBL) dalam proses pembelajaran pada konteks Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka, menghubungkannya secara langsung dengan kerangka Pembelajaran Mendalam. Kondisi ini menunjukkan adanya ruang kajian yang belum terisi, sehingga penelitian yang secara khusus mengkaji Pembelajaran Mendalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada Kurikulum Merdeka menjadi relevan dan perlu untuk dilakukan. Rancangan model Problem-Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan prinsip Pembelajaran Mendalam (PM) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk menyatukan pendalaman konsep, pencapaian kompetensi secara menyeluruh, dan partisipasi aktif peserta didik. Proses belajar melibatkan keterpaduan dimensi intelektual, emosional, nilai, dan fisik sehingga peserta didik terlibat secara utuh dalam kegiatan pembelajaran. Implementasi PBL berbasis PM dilaksanakan melalui lima fase pembelajaran, yaitu pengenalan permasalahan, pengelolaan aktivitas belajar peserta didik, pendampingan kegiatan penyelidikan secara individu maupun kelompok, perancangan serta penyampaian hasil kerja, dan penelaahan serta penilaian terhadap proses pemecahan masalah. Pada setiap fase, unsur Pedagogi Genre. Pendekatan Saintifik. Content and Language Integrated Learning (CLIL), serta pemanfaatan teknologi digital saling Melalui penguasaan materi kebahasaan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran belajar yang bermakna dan menyenangkan sebagaimana ditekankan dalam kerangka Pembelajaran Mendalam. Tahap awal dalam pembelajaran, yakni pengenalan masalah, dimulai dengan mengaitkan materi dengan pengalaman serta pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik mengenai jenis teks yang akan dibahas. Peserta didik terlebih dahulu menyimak tayangan audiovisual yang menampilkan teks fungsional yang akrab dengan aktivitas keseharian, kemudian terlibat dalam dialog bersama guru untuk menelaah pola penyusunan dan unsur Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 291 | JPI. Vol. No. November 2025 kebahasaan yang digunakan. Pada fase ini, unsur Pedagogi Genre terwujud melalui kegiatan pengondisian konteks, sedangkan pendekatan Saintifik tercermin dalam aktivitas pengamatan. Prinsip CLIL tampak pada penekanan isi teks sebagai bahan kajian, sementara pemanfaatan media digital terlihat dari penggunaan video dan perangkat teknologi pendukung. Ditinjau dari sudut pandang Pembelajaran Mendalam, rangkaian kegiatan tersebut menciptakan proses belajar yang sadar dan bermakna karena berpijak pada realitas peserta didik, sekaligus menumbuhkan suasana menyenangkan akibat relevansi materi dengan kehidupan mereka. Dalam keseluruhan proses ini, guru berfungsi sebagai rekan belajar yang membimbing peserta didik untuk mengenali dan memahami persoalan inti yang akan diselesaikan. Pada fase berikutnya, kegiatan pembelajaran difokuskan pada pengelompokan peserta didik ke dalam unit-unit kecil yang beranggotakan empat Pendidik menyediakan bahan bacaan dan lembar kerja sebagai panduan agar peserta didik memahami arah dan target tugas yang harus dicapai. Tahap ini masih berfungsi sebagai penguatan konteks dalam pedagogi genre serta selaras dengan tahapan mempertanyakan dalam pendekatan saintifik, karena peserta didik didorong untuk menelaah dan merumuskan hal-hal penting yang perlu dipahami dari teks. Aktivitas bertanya tersebut menjadi bagian sentral dari proses membangun pemahaman dalam kerangka Pembelajaran Mendalam, sekaligus berfokus pada aspek kebahasaan sebagaimana prinsip CLIL. Melalui kerja kelompok, peserta didik dilatih untuk menyadari tanggung jawab dan peran masing-masing, sehingga proses belajar berlangsung secara sadar dan bermakna, bukan sekadar rutinitas. Interaksi kolaboratif yang terbangun juga memperkuat keterlibatan emosional dan sosial, yang merupakan ciri penting Pembelajaran Mendalam. Pada tahap ini, pembelajaran berlangsung melalui komunikasi intensif antara peserta didik dengan guru maupun antarsesama peserta didik, menjadikan kolaborasi sebagai faktor kunci keberhasilan kegiatan belajar. Fase ketiga menempatkan peserta didik pada inti kegiatan inkuiri, yakni proses penyelidikan yang dilakukan secara mandiri sekaligus kolaboratif. Pada awal tahap ini, peserta didik melakukan telaah teks secara perorangan untuk mengidentifikasi susunan teks, muatan isi, serta karakteristik kebahasaan yang Aktivitas tersebut sejalan dengan tahapan analisis contoh teks dalam pedagogi genre, sekaligus menghimpun informasi dalam pendekatan saintifik. Proses analisis individu ini berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran belajar, karena peserta didik diajak mengaitkan pengetahuan awal dengan informasi baru, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada hafalan semata, melainkan membangun makna. Selanjutnya, peserta didik memasuki tahap diskusi kelompok untuk membandingkan dan memperdalam hasil temuan masing-masing. Pada bagian ini, pendidik berperan sebagai fasilitator dengan memanfaatkan media digital inovatif, seperti Wordwall atau aplikasi pembelajaran berbasis gim, guna menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan menyenangkan. Diskusi kelompok berfungsi sebagai proses penyusunan pengetahuan secara terbimbing, di mana peserta didik saling melengkapi pemahaman. Prinsip CLIL tercermin dari penekanan pada aspek kebahasaan sebagai fokus kajian, sementara penggunaan teknologi digital memperluas pengalaman belajar melalui kemudahan akses terhadap berbagai sumber informasi. Rangkaian aktivitas ini tidak hanya memperdalam penguasaan konsep, tetapi juga menumbuhkan dorongan belajar yang bersumber dari dalam diri peserta didik. Fase keempat berfokus pada perwujudan dan pemaparan hasil kerja, yang menjadi titik puncak dalam proses pembentukan pengetahuan. Pada tahap ini, setiap kelompok mengolah hasil diskusi menjadi materi presentasi sebagai bentuk penerapan pemahaman yang telah diperoleh. Peserta didik merumuskan kesimpulan mengenai pola penyusunan menyampaikannya dengan memanfaatkan media digital, seperti Canva atau PowerPoint. Aktivitas ini merepresentasikan proses penyusunan pengetahuan secara terpandu sekaligus mandiri dalam pedagogi genre, selaras dengan kegiatan menalar dan menyampaikan gagasan pada pendekatan saintifik, serta mencerminkan penerapan pengetahuan dalam kerangka Pembelajaran Mendalam. Pemaparan hasil kerja antarkelompok membuka ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan pemahaman mereka, sekaligus memperoleh umpan balik dalam suasana belajar yang kolaboratif. Pertukaran gagasan ini menciptakan pengalaman belajar yang sadar, bermakna, dan menyenangkan, karena peserta didik tidak hanya merefleksikan hasil belajarnya sendiri, tetapi juga menyerap wawasan dari kelompok lain. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, penguasaan teks prosedur tidak hanya bersifat konseptual, melainkan juga teraktualisasi dalam situasi yang relevan dengan kehidupan nyata. Fase terakhir diarahkan pada penelaahan dan penilaian kembali proses penyelesaian masalah Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 292 sebagai ruang refleksi pembelajaran. Pada tahap ini, peserta didik melakukan perbaikan terhadap hasil kerja kelompok dengan memanfaatkan umpan balik yang diperoleh saat sesi pemaparan. Kegiatan tersebut mencerminkan proses pengembangan pengetahuan secara mandiri dalam kerangka menyempurnakan hasil belajarnya berdasarkan pemahaman baru yang terbentuk. Unsur pendekatan saintifik tampak melalui kegiatan menyampaikan kembali hasil revisi sekaligus merefleksikan tahapan pembelajaran yang telah dilalui. Dari sudut pandang CLIL, peserta didik mulai menerapkan pengetahuan kebahasaan yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan sehari-hari, sehingga pembelajaran tidak lagi dipandang sekadar sebagai penguasaan materi, melainkan sebagai bekal keterampilan praktis. Pemanfaatan teknologi digital kembali mendukung proses ini melalui pengumpulan hasil revisi menggunakan surat elektronik atau platform pembelajaran daring seperti Google Classroom. Interaksi yang terjalin antara guru dan peserta didik maupun antarpeserta didik menunjukkan bahwa evaluasi dan refleksi berlangsung dalam iklim kerja sama yang kondusif, selaras dengan prinsip Pembelajaran Mendalam yang menekankan kesadaran, kebermaknaan, dan suasana belajar yang Penerapan Problem-Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan prinsip Pembelajaran Mendalam (PM) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia memperlihatkan bahwa belajar bahasa melampaui sekadar pengenalan jenis teks dan aturan kebahasaan. Proses pengalaman yang utuh dengan melibatkan dimensi intelektual, emosional, sosial, serta pemanfaatan teknologi secara terpadu. Melalui PBL, peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengasah daya nalar kritis, berkolaborasi dengan teman sebaya, dan mengekspresikan gagasan secara komunikatif. Sementara itu, pendekatan Pembelajaran Mendalam memastikan setiap tahapan belajar memberikan makna dan kontribusi nyata bagi perkembangan pengetahuan maupun pembentukan karakter peserta Keterpaduan pedagogi genre memungkinkan peserta didik memahami susunan dan tujuan teks secara terstruktur, pendekatan saintifik mendorong penemuan pola kebahasaan melalui proses penyelidikan. CLIL menghadirkan konteks penggunaan bahasa yang autentik, dan dukungan teknologi digital memperluas pengalaman belajar melalui ragam sumber dan media. Dengan perpaduan tersebut. PBL berbasis PM terbukti mampu mendorong peningkatan literasi, memperkuat kecakapan abad ke-21, serta menghadirkan pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih berpusat pada manusia, reflektif, dan responsif terhadap dinamika perkembangan zaman. Tahapan ini berkaitan langsung dengan penerapan pengetahuan yang telah dipelajari dalam kerangka Pembelajaran Mendalam (PM). Produk hasil perbaikan disampaikan melalui sarana digital, seperti email atau Google Classroom. Proses tersebut menuntut keterlibatan penuh peserta didik untuk menilai ketepatan pemahaman yang dimiliki, baik dari sisi kebenaran maupun kelengkapan Kesadaran ini membuat peserta didik menyadari nilai dari proses belajar yang dijalani, sehingga pembelajaran dirasakan bermakna dan menghadirkan rasa senang karena kemampuan serta potensi diri dioptimalkan. Dalam pelaksanaannya, peran guru dan sesama peserta didik menjadi mitra belajar yang saling mendukung sepanjang kegiatan Rangkaian aktivitas belajar Bahasa Indonesia yang dirancang dengan model Problem-Based Learning (PBL) berbasis Pembelajaran Mendalam (PM) diarahkan untuk mendorong tercapainya karakteristik lulusan yang diharapkan. Melalui proses tersebut, peserta didik diharapkan berkembang dalam aspek spiritual melalui penguatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kesadaran sebagai warga negara, serta mampu berpikir kritis dan kreatif. Selain itu, pembelajaran ini juga menumbuhkan kemampuan bekerja sama, kemandirian, kepedulian terhadap kesehatan, serta kecakapan berkomunikasi sebagai bagian dari pembentukan profil lulusan yang utuh. Kesimpulan Bertumpu pada keseluruhan pembahasan, dapat dirangkum bahwa Pembelajaran Mendalam (PM) dipahami sebagai strategi pembelajaran yang mengarahkan proses belajar pada pendalaman konsep, pencapaian kompetensi secara utuh, dan partisipasi aktif peserta didik. Proses tersebut berlangsung dalam iklim belajar yang sadar, bernilai, dan menyenangkan, dengan melibatkan keterpaduan dimensi intelektual, emosional, afektif, serta fisik. Melalui pendekatan yang holistik ini, peserta didik didorong untuk mencapai sasaran pembelajaran sekaligus memenuhi profil kompetensi yang telah Penerapan Pembelajaran Mendalam (PM) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat diwujudkan dengan memadukan prinsip-prinsip PM ke dalam Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 293 | JPI. Vol. No. November 2025 model pembelajaran yang sesuai. Salah satu alternatif yang dinilai paling mendukung adalah Problem-Based Learning (PBL), karena model ini memungkinkan peserta didik mengembangkan pemahaman, membangun pengetahuan, dan menyelesaikan persoalan melalui kerja sama. Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia berlandaskan PM merupakan proses belajar yang menyatukan pengalaman belajar peserta didik, nilainilai utama PM, serta tiga pendekatan pokok dalam pembelajaran bahasa, yakni Pedagogi Genre. Pendekatan Saintifik, dan Content and Language Integrated Learning (CLIL). Pelaksanaannya diperkuat oleh kerangka pembelajaran yang meliputi strategi pedagogis, penggunaan teknologi digital, relasi kemitraan antara guru dan peserta didik, serta pengembangan iklim belajar yang mendukung. Mengingat kajian ini masih berada pada tataran konseptual, diperlukan penelitian lanjutan berbasis data empiris untuk menguji keefektifan rancangan pembelajaran PM dalam praktik kelas, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih inovatif dan berorientasi pada pendalaman Referensi