Meningkatkan Keterampilan Berbicara dengan Metode Paired Story Telling (Bercerita Berpasanga. pada Siswa Kelas IV Di SDN 4 Cakranegara Tahun Pelajaran 2015/2016 Sri Mardiana. Muhammad Tahir, dan I Nyoman Sudika FKIP. Universitas Mataram. Indonesia e-mail: penulis@email. Abstrak This Classroom Action Research aims to increase studentsAo speaking skill through method Paired Story Telling at grade IV SDN 4 Cakranegara Academic Year 2015/2016. This research was conducted in two cycles. Data collecting Method used were observation, test and documentation whereas, method of data analysis were descriptive quantitaive and Based on data analysis result held in cycle 1, classical mean score was 67 with the number of successful studens were 20 and failed students were 12. Highest score was 75 and the lowest score was 50. So that the classical successful students in cycle 1 was 62,5%. The result of reflection in cycle 1 showed that remedial action in next cycle was required. Based on analysis conducted in cycle 2, the number of successful students were 28 and failed students were 4, with the higherst score was 95 and the lowest score was 60. The classical mean score was 77 with classical successful was 87. 5 %. That result showed that the application of method paired story telling could increse speaking skill of grade IV students at SDN 4 Cakranegara Academic Year 2015/2016. Kata Kunci: method paired story telling, speaking skill PENDAHULUAN Bahasa memiliki peranan yang sentral dalam dunia pendidikan, yang salah satu fungsi bahasa yaitu penyampai Manusia tidak lepas dari penggunaan bahasa sebagai alat atau menyampaikan hasil pemikiran, ide, atau Bahasa selalu mengikuti dan mewarnai kehidupan manusia sehari-hari, baik manusia sebagai anggota suku maupun bangsa. Fungsi bahasa sebagai penyampai informasi ini berkaitan dengan aspek-aspek dalam pembelajaran bahasa Indonesia mulai di jenjang Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Pembelajaran bahasa Indonesia kemampuan peserta didik berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Terdapat empat aspek kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran Bahasa Indonesia SD yaitu . mendengarkan, . berbicara, . membaca, dan . Keempat aspek di atas merupakan satu kesatuan atau saling berkaitan, karena dalam kenyataan penggunaan bahasa tidak lepas dari seluruh aspek tersebut. Ketika melakukan kegiatan menulis, membaca dan berbicara. Demikian juga jika melakukan kegiatan berbicara, maka diperlukan aspek keterampilan bahasa yang lain. Sekolah Dasar merupakan waktu keterampilan siswa sebagai bekal untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Keterampilan berbicara yakni keterampilan yang bersumber dari proses - proses berpikir seseorang berupa gagasan, pikiran maupun perasaan yang disampaikan melalui artikulasi kata. Bahasa pikirannya, semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pikirannya, maksudnya yaitu jika siswa memiliki keterampilan berbicara yang baik, maka Ia akan sangat mudah untuk menyalurkan isi pemahamannya, gagasan, serta perasaan dengan baik. Keterampilan berbicara hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak Proses Indonesia yang dilaksanakan guru pada siswa kelas IV SDN 4 Cakranegara lebih banyak terfokus pada penyampaian Kegiatan pembelajaran yang mendominasi adalah kegiatan membaca dan menulis sebagai upaya untuk soal-soal pemahaman siswa terhadap materi yang Selain itu, siswa kesulitan dalam berkomunikasi disebabkan karena siswa tidak terbiasa aktif berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, siswa lebih banyak menggunakan bahasa daerah khususnya bahasa sasak dalam berkomunikasi dengan guru maupun menggunakan bahasa daerah siswa lebih mudah memahami pembicaraan seseorang dibanding dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini diketahui berdasarkan hasil observasi di SDN 4 Cakranegara pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas IV tahun pelajaran 2015/2016 menunjukkan siswa banyak yang salah dalam pemakaian atau cara berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, siswa pasif dikelas tidak ada yang berani mengungkapkan ide atau gagasan serta mengeluarkan pendapat dan dari hasil belajar khususnya pada keterampilan berbicara tergolong masih rendah. Hal itu ditunjukkan dengan adanya persentaase ketuntasan siswa, dari 32 siswa kelas IV terdapat 12 siswa yang tuntas, yang berarti bahwa 37,5% siswa yang mampu memenuhi syarat standar kelulusan, sedangkan 62,5% siswa lainnya belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah yaitu nilai 70. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka peneliti menawarkan salah satu alternatif metode pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk memenuhi tuntutan tersebut yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran Paired Story Telling. Pembelajaran Paired Story Telling, merupakan salah satu metode pembelajaran yang digunakan dalam upaya melatih keterampilan berbicara siswa. Metode pembelajaran kooperatif Paired Story Telling mampu menciptakan interaksi positif antara guru, siswa, dan materi pembelajarannya, dapat merangsang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi, serta memberi banyak kesempatan pada siswa untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan Oleh melakukan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan metode Paired Story Telling meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas IV di SDN 4 Cakranegara. Hal tersebut pula yang menyebabkan peneliti mengangkat judul skripsi Au Meningkatkan Keterampilan Berbicara dengan Metode Paired Story Telling (Bercerita Berpasanga. Pada Siswa Kelas IV Di SDN 4 Cakranegara Tahun Pelajaran 2015/2016Ay. METODE Penelitian ini dilaksanakan di SDN 4 Cakranegara Kelas IV tahun pelajaran 2015/2016. Adapun waktu pelaksanaannya yaitu pada semester 2 tahun pelajaran 2015/2016. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 4 Cakranegara tahun pelajaran 2015/2016 yang terdiri dari 32 siswa dengan perincian laki-laki 12 orang dan perempuan 20 orang. Adapun observer dalam penelitian ini adalah guru kelas IV SDN 4 Cakranegara yaitu Robiah. Pd. Faktor-faktor yang menjadi fokus penelitian ini diantaranya adalah faktor guru, yakni aktivitas guru selama proses pembelajaran berlangsung dengan menerapkan metode Paired Story Telling dan faktor siswa, yakni aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan keterampilan berbicara siswa dengan menggunakan metode Paired Story Telling Variabel penelitian ini dibagi dua, yaitu variabel operasional harapan yakni, peningkatkan keterampilan berbicara siswa dan variabel operasional tindakan, yakni penerapan pembelajaran kooperatif Paired Story Telling. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari empat langkah tindakan dilakukan, yaitu: . perencanaan, . tindakan, . dan evaluasi, dan . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian siklus I dan II menjelaskan bahwa kegiatan proses pembelajaran mengalami peningkatan dan terlaksana dengan baik. Hal ini terlihat dari adanya perolehan dan peningkatan hasil evaluasi keterampilan berbicara siswa pada siklus I dan II yakni dari rata-rata nilai pada siklus I yang ditampilkan di atas yaitu 67 meningkat menjadi 77 pada siklus II. Begitupun dengan ketuntasan klasikal pada siklus I diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 62,5 % meningkat menjadi 87,5% pada siklus II. Peningkatan keterampilan berbicara yang diperoleh menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan metode paired story telling yang telah dilaksanakan secara efektif dan maksimal sehingga mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan yakni mencapai Selain peningkatan hasil keterampilan berbicara, aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa pada siklus I dan II pada tabel di atas juga menunjukkan adanya Pada hasil observasi aktivitas mengajar guru pada siklus I menunjukkan bahwa kriteria yang diperoleh adalah baik. Hal ini mengajar guru mendapatkan skor 39 dari skor maksimal 60 , dan pada siklus II meningkat menjadi 55 dengan kriteria sangat baik. Meningkatnya jumlah skor yang diperoleh dalam pembelajaran tersebut terjadi karena perencanaan yang lebih baik serta perbaikan-perbaikan yang Begitupun untuk aktivitas belajar siswa juga menunjukkan adanya peningkatan. Pada hasil observasi aktivitas belajar siswa pada siklus I berkategori cukup aktif dengan jumlah skor perolehan sebesar 34 dari skor maksimal 60, sedangkan pada siklus II aktivitas belajar siswa berkategori sangat aktif dengan skor perolehan 51 dari skor maksimal 60 , sehingga disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus I mengalami peningkatan di siklus II. Peningkatan aktivitas belajar siswa terjadi karena adanya perencanaan dan perbaikan yang baik dari tiap siklus untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan keterampilan berbicara siswa dengan metode paired story telling pada siswa kelas IV di SDN 4 Cakranegara tahun pelajaran 2015/2016. SIMPULAN (PENUTUP) Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi dimana pada siklus I aktivitas mengajar guru berkategori baik dan pada siklus II berkategori sangat baik. Begitupun dengan aktivitas belajar siswa pada siklus I berkategori cukup aktif dan pada siklus II berkategori sangat aktif. Sedangkan dilihat dari persentase ketuntasan klasikal, pada siklus I persentase klasikal pada mata pelajaran bahasa Indonesia siswa mencapai 62,5% pada siklus II meningkat menjadi 87,5%. DAFTAR PUSTAKA Aqib. Zainal, dkk. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV. Yrama Widya. Arikunto. S, dkk. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara Asrori. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV Wacana Prima. Hamdani. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia. Helmawati. AuPenerapan Metode Artikulasi Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V SDN 2 Meninting Tahun Ajaran 2012/2013Ay. Mataram: FKIP Universitas Mataram. Huda. Miftahul. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka