Pengembangan Panduan Solution Focused Brief Counseling untuk Menurunkan Perilaku Fear Of Missing Out (FOMO) pada Siswa SMP PENGEMBANGAN PANDUAN SOLUTION FOCUSED BRIEF COUNSELING UNTUK MENURUNKAN PERILAKU FEAR OF MISSING OUT (FOMO) PADA SISWA SMP Sri Liana Ali Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email: sri. 21082@mhs. Bambang Dibyo Wiyono Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email: bambangwiyono@unesa. Abstrak Fear Of Missing Out (FOMO) merupakan sebuah fenomena yang kerap ditemui pada orang sekitar. FOMO kerap ditandai dengan munculnya rasa cemas, ketakutan, serta kekhawatiran secara berlebihan terhadap perkembangan pada orang lain dan kerap di temui pada media sosial. Munculnya perasaan ini biasanya bermula karena adanya perasaan takut tertinggal terhadap individu akan pencapaian orang lain. Dengan adanya fenomena ini peneliti mengembangkan sebuah produk berupa buku panduan Solution Focused Brief Counseling untuk menurunkan perilaku Fear Of Missing Out dengan tujuan agar dapat membantu guru BK dalam menangani permasalahan ini. Research & Development (R&D) merupakan desain penelitian yang digunakan dengan ketentuan penggunaan 5 tahapan . Pengumpulan informasi, . Perencanaan, . Desain produk, . Validasi desain, dan . Revisi desain. Merujuk pada hasil yang telah didapatkan sebesar 95% pada uji materi dan 98,4% pada uji media dengan kriteria sangat baik. Maka pengembangan panduan Solution Focused Brief Counseling untuk menurunkan perilaku Fear Of Missing Out pada siswa SMP memenuhi kriteria akseptabilitas untuk dipergunakan dalam ranah konseling dan guru BK. Kata Kunci: panduan. Solution Focused Brief Counseling. Fear Of Missing Oout Abstract Fear of Missing Out (FOMO) is a phenomenon that is often found in people around you. FOMO is often characterized by the emergence of feelings of anxiety, fear and excessive worry about developments in other people and is often found on social media. The emergence of this feeling usually begins because of the individual's feeling of fear of being left behind by other people's achievements. With this phenomenon, researchers developed a product in the form of a Solution Focused Brief Counseling guidebook to reduce Fear of Missing Out behavior with the aim of helping guidance and counseling teachers in dealing with this problem. Research & Development (R&D) is a research design used with 5 stages of use: . Information collection, . Planning, . Product design, . Design validation, and . Design revision. Referring to the results obtained, it was 95% in the material test and 98. 4% in the media test with very good criteria. So the development of the Solution Focused Brief Counseling guide to reduce Fear of Missing Out behavior in junior high school students meets the acceptability criteria for use in the realm of counseling and guidance and counseling teachers. Keywords: guide. Solution Focused Brief Counseling. Fear Of Missing Out dapat digunakan untuk internet. Internet PENDAHULUAN sendiri merupakan sebuah jaringan Era Revolusi Industri 4. 0 merupakan komunikasi global yang menghubungkan sebuah era perkembangan dunia terkhusus seluruh jaringan di seluruh dunia melalui pada bidang teknologi dan internet. gawai atau gadget yang digunakan khalayak Perkembangannya sangatlah pesat dan Internet merupakan jaringan untuk Dapat ditilik dalam tahun 2000pengguna agar mendapatkan informasi an awal dimana internet belum merebak di yang ada di dunia komputer (Cahyono et Indonesia. Dengan era awal penggunaan , 2. Perlahan tapi pasti dunia ponsel genggam yang hanya dapat teknologi semakin berkembang pesat, digunakan untuk berbagi SMS (Short dimulai dengan adanya kemunculan Message Servic. yang digunakan untuk beberapa ponsel pintar pada masanya. bertukar kabar pada kala itu menggunakan Blackberry atau Nokia merupakan sebuah Ponsel jaman dulu hanya digunakan merek ponsel yang sangat hype pada kala untuk mengirim pesan dan juga Tak lama kemudian Blackberry Jaringan pada saat itu tidak Pengembangan Panduan Solution Focused Brief Counseling untuk Menurunkan Perilaku Fear Of Missing Out (FOMO) pada Siswa SMP meluncurkan sejenis aplikasi bernama BBM (Blackberry Messenge. yang dimana individu satu dengan individu lain dapat berkirim pesan tanpa menggunakan pulsa melainkan menggunakan sinyal internet. Gawai pada masa itu berkembang lebih pesat semenjak muncul kehadiran android dan beberapa merk ponsel lain seperti Samsung. I-phone. Evercross dan lain Gawai atau lebih spesifiknya ponsel genggam juga dilengkapi dengan beberapa fitur menarik seperti kamera, aplikasi media sosial seperti FaceBook. Twitter . ang kini berganti nama X). Line dan lain sebagainya. Aplikasi-aplikasi game atau permainan juga kerap melengkapi gawai pada masa itu. Seiring berjalannya waktu gawai, ponsel pintar semakin merebak dikalangan Bagai menabur garam di dalam masakan hal tersebut langsung tercamput dan membaur diberbagai usia, dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan hingga lansia. Aplikasi-aplikasinya-pun kerap berkembang ditemani dengan adanya keberadaan Tiktok. Instagram. Flipside. Spotify. WhatsApp dan masih banyak aplikasi sosial media lainnya. Penggunaan aplikasi tersebut pun beragam mulai dari tempat mengunggah foto dan vidio, tempat untuk mengirim pesan, serta tempat untuk mendengarkan musik. Aplikasi yang kini sedang hype dikalangan anak muda adalah Tiktok. Tiktok sendiri digunakan untuk mengunggah video atau foto dengan latar belakang suara dan efek yang beragam. Video tersebut dapat diunggah ataupun diunduh dan dibagikan secara publik dengan sebutan FYP (For Your Pag. Dari aplikasi ini-pun masyarakat berlomba-lomba dari kalangan muda-mudi hingga orang tua untuk mengunggah videonya agar viral di media Viral atau perasaan ingin dilihat dan tenar di kalangan banyak orang menuai berbagai kontrofersi terkhusus pada pengguna aplikasi ini. Kerap diantara mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan viewers atau penonton. Dimulai dari konten yang sedikit berbau porno, konten yang membahayakan diri, bahkan muncul tren-tren aneh yang merugikan banyak orang seperti prank (Practial Joke. Tren tersebut kadang diikuti oleh anak-anak atau remaja yang tidak sesuai dengan umur mereka. Kementerian Komunitas dan Informatika (KOMINFO) telah memberikan batasan pengguna tiktok dari umur 13 tahun yang semulanya adalah umur 12 tahun. Tapi terlepas dari adanya pembatasan usia melalui KOMINFO tidak pula membatasi anak-anak atau bahkan remaja yang berusia dibawah 13 tahun untuk tetap bermain Tiktok. Jika berbicara mengenai aplikasi dan media sosial seperti Tiktok misalnya, secara otomatis terbesit dalam benak untuk melakukan kegiatan AuscrollingAy unggahan yang ada di Tiktok atau media sosial lain secara terus-menerus dan Hal tersebut jika dilakukan secara berlebihan dapat menimbulkan beberapa gejala seperti kecanduan media sosial, cemas, dan juga stress. Lamanya seseorang mengakses media sosial merupakan salah satu faktor yang menjadi pemicu Fear Of Missing Out (FOMO) (Aisafitri & Yusriyah. FOMO atau Fear Of Missing Out ini merupakan sebuah fenomena dimana seesorang mengalami perasaan cemas secara komplusif dan khawatir jika berinteraksi sosial. Individu yang terkena FOMO ini kerap berperilaku agresif untuk mencari peluang terlibat dalam media sosial (Firda, 2. Dalam penelitian lain juga menghasilkan perilaku Fear Of Missing Out memiliki rasa ketakutan atau kekhawatiran untuk tertinggal dari suatu informasi yang berharga dari orang sekitarnya dan mereka cenderung memiliki perilaku penggunaan media sosial secara berlebihan (Risdyanti et al. , 2. Individu tersebut seakan terbelenggu pada media sosial, dengan salah satu karakteristik yang timbul adalah dorongan untuk terus menerus menggunakan media sosial (Rahardjo, 2. Penderita FOMO kerap Pengembangan Panduan Solution Focused Brief Counseling untuk Menurunkan Perilaku Fear Of Missing Out (FOMO) pada Siswa SMP merasakan sensasi kesenangan dan muncul perasaan candu untuk mengakses internet. Individu juga kerap bergantung dan merasakan kecemasan, perasaan tidak nyaman, dan gelisah apabila tidak mengakses internet, hal inilah yang menyebabkan munculnya perasaan up to date atau rasa ingin selalu tahu tentang apa yang terjadi pada saat ini (Ayuningtyas & Wiyono, 2. Hubungan Fear Of Missing Out dengan kecanduaan media sosial pada remaja memberikan sebuah data mengenai keadaan remaja saat ini. Dengan penggambilan sampel sebanyak 168 responden dan menghasilkan 6 responden yang tidak masuk dalam kategori FOMO, 9 dengan kategori beresiko FOMO, 55 responden dengan FOMO ringan, 78 dengan FOMO sedang, dan 20 dengan FOMO berat (Pratiwi & Fazriani, 2. Hal tersebut diperkuat pada temuan skripsi yang menyatakan remaja di kota Makassar memiliki tingkat Fear Of Missing Out (FOMO) sedang . ,1%) dengan data 29 orang remaja dalam tingkat sangat tinggi, 62 remaja dengan kategori tinggi, 104 remaja dengan kategori sedang, 48 remaja dalam kategori rendah, dan 10 remaja dalam kategori sangat rendah (Siregar. Di Surabaya sebanyak 383 responden dengan rentang usia 12-23 tahun yang aktif menggunakan media sosial. Dengan sebaran data 252 orang perempuan dan 131 laki-laki. Menghasilkan persentase FOMO sebanyak 1,6% subjek dengan kategori tinggi, 21,1% subjek dengan kategori tinggi, 29,8% dengan kategori sedang, 33,4% dengan kategori rendah dan 14,1% dengan kategori sangat rendah (Farida et al. , 2. Diperkuat dengan fenomena yang ditemui oleh peneliti pada salah satu sekolah di Surabaya. mengamati perilaku siswa-siswi SMP (Sekolah Menengah Pertam. yang dimana terdapat perilaku siswa-siswi yang kerap bermain ponsel Bahkan pada saat peneliti memasuki kelas untuk mengajar beberapa diantara mereka membuat video Tiktok dan ada yang bermain game. Hal serupa juga terjadi di beberapa kelas baik itu kelas 7, 8. Pada saat guru mengajar adapun beberapa siswa ataupun siswi yang kerap bermain ponsel mereka juga. Umumnya sosial merupakan sebuah hal yang kerap membantu masyarakat dalam beraktifitas, terkhusus pada kegiatan bertukar kabar. Yang dilaksanakan tanpa harus pergi ke suatu tempat atau bahkan mengirimkan sebuah surat ke kantor pos. Pada saat ini pun lebih dipermudah dengan bermedia sosial, individu dapat mengirimkan kabar pada unggahannya dilaman sosial media Pada bulan November 2024 peneliti berkesempatan untuk melakukan observasi menggunakan angket untuk mengetahui tingkat FOMO siswa-siswi SMP. Didapati hasil bahwa 83 siswa yang mengisi responden dari kelas 8-9, terdapat sebanyak 28 siswa menduduki rentang Diperkuat dengan observasi selama peneliti mengajar disekolah tersebut, siswasiswi kerap mengakses media sosialnya pada saat ada jam pelajaran yang menggunakan ponsel dan enggan menuruti permintaan guru saat ponsel tersebut harus dikumpulkan kembali, mereka juga terkesan mengelak. Fenomena yang ditemui inilah mirip dengan salah satu ciriciri individu yang terjangkit FOMO, yaitu tidak dapat menjauhkan diri dari ponsel (Maghfiroh et al. , 2. Kemudian dilanjutkan dengan wawancara pada bulan Juni 2024 oleh guru bimbingan dan konseling mengenai upaya penanganan. Belum adanya penanganan secara khusus dalam menanggapi hal ini. Hanya berupa mengingatkan untuk penggunaan gadget di sekolah, dan belum ada inspeksi lebih lanjut mengenai siswa yang terjangkit FOMO Penggunaan berdampak negatif pada diri pengguna. Dengan adanya fenomena Fear Of Missing Out ini adanya peningkatan lebih tinggi seiring perkembangan teknologi dan juga media sosial. Masalah yang timbul Pengembangan Panduan Solution Focused Brief Counseling untuk Menurunkan Perilaku Fear Of Missing Out (FOMO) pada Siswa SMP cenderung berkaitan dengan selalu mengecek dan terlibat dalam media sosial untuk melihat kabar atau tren lainnya. Hal tersebut yang menyebabkan peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana cara mengurangi perilaku Fear Of Missing Out terhadap media sosial menggunakan salah satu teknik konseling. Teknik konseling yang dipilih adalah Solution Focused Brief Counseling (SFBC), yang dimana pada pendekatan ini mementingkan solusi atas permasalahan dengan tujuan perubahan pada individu. Keterkaitan FOMO dengan teori in juga telah dijelaskan dalam salah satu penelitian yang menjelaskan mengenai penanganan FOMO dalam sudut pandang SFBC. (Khadijah et al. , 2. menjelaskan bahwa SFBC dipandang mampu mengatasi FOMO, karena SFBC dirasa mampu untuk menghasilkan perubahan positif pada diri dan memberdayakan kemampuan yang ada, pada teori ini juga mengedepankan solusi atas suatu permasalahan yang ada. Fokus pencarian solusi nantinya bukan mengartikan jika konselor sepenuhnya berkontribusi. Konselor membantu konseli dnegan menyadari kekuatan pada dalam diri konseli disaat konseli merasa suatu hal menyebabkan dirinya terpuruk atau hal tidak Kekuatan inilah yang nantinya akan menjadi alternatif untuk mengatasi masalah yang dirasakannya. SFBC juga memiliki asumsi-asumsi bahwa manusia itu sehat dan mampu . , memiliki kapasitas untuk mengkonstruksikan solusi sehingga individu tersebut tidak berkutat pada masalah yang Dengan teori pendekatan SFBC jika diterapkan pada fenomena ini bertujuan agar seorang individu dapat terlepas dari permasalahan yang ia hadapi. pengembangan, namun berdasarkan tujuan dari penelitian hanya terbatas sampai tahap kelima, hal ini disebabkan keterbatasan waktu dan biaya. Berikut beberapa tahapan pelaksanaan pada penelitian : . Pengumpulan Informasi, . Peerencanaan, . Desain Produk, . Validasi Desain, dan . Revisi Desain. Uji validasi desain penelitian ini akan diuji melalui ahli materi, ahli media. Sedangkan data yang akan digunakan menggunakan data kuantitatif dan kualitatif yang didapatkan berdasarkan hasil uji ahli. Analisis yang digunakan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan data kualitatif berdasarkan hasil angket pada ahli. Metode yang digunakan adalah Ocycu ycy y 100% Ocycuycn Keterangan: P : Hasil persentase Ocycu : Jumlah skor ahli Ocxi : Jumlah skor total Tabel 1. Ketentuan Skoring Jawaban Sangat Sesuai (SS) Sesuai (S) Tidak Sesuai (TS) Sangat Tidak Sesuai (STS) Skor Tabel 2. Kriteria Kualitas Produk Presentase Kriteria 76%-100% Sangat baik atau tidak 51%-75% Baik atau tidak revisi 26%-50% Kurang baik atau perlu 0-25% Tidak baik atau perlu Sumber: (Arikunto Suharsimi, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sampel sebanyak 83 peserta didik dari kelas Vi dan IX SMP Muhammadiyah 2 Taman Sidoarjo, teridentifikasi 17 peserta didik dengan skor FOMO yang tinggi dan sisanya masuk dalam kategori Menilik dari banyaknya peserta didik yang mengalami FOMO, panduan ini diharapkan mampu membantu Guru BK dalam menurunkan perilaku FOMO siswa sebagai referensi konseling individu. Berdasarkan model pengembangan oleh Borg & Gall dalam (Sugiyono, 2. terdapat sepuluh tahapan, dimana pada penelitian ini menggunakan kelima tahapan yaitu : . Pengumpulan Informasi, . Peerencanaan, . Desain Produk, . Validasi Desain, dan . Revisi Desain. Pengumpulan Informasi METODE Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) merupakan metode penelitian dengan output menghasilkan produk tertentu, serta menguji keefektifan dari produk tersebut. Pada penelitian ini produk yang dikembangkan berupa buku panduan Solution Focused Brief Counseling untuk menurunkan perilaku Fear Of Missing Out (FOMO) pada siswa SMP. Ada sepuluh tahapan dalam metode pengembangan, namun berdasarkan tujuan dari penelitian hanya terbatas sampai tahap kelima, hal ini disebabkan keterbatasan waktu dan Borg & Gall dalam (Sugiyono, 2. menjelaskan ada sepuluh tahapan dalam metode Pengembangan Panduan Solution Focused Brief Counseling untuk Menurunkan Perilaku Fear Of Missing Out (FOMO) pada Siswa SMP Pengumpulan tahapan awal yang dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November 2024 mulai dari observasi hingga permasalahan yang terjadi dan ditemukan adanya Fear Of Missing Out peeserta didik yang relatif Perencanaan Setelah mengumpulkan informasi tahapan selanjutnya adalah pengembangan produk awal. Perencanaan ini termasuk menentukan kriteria subjek uji coba dan isi dari panduan dengan ketentuan meliputi, aspek teori, media, sasaran, dan tujuan (Khusumadewi et al. , 2. Tujuannya adalah membantu guru BK di sekolah dalam memberikan layanan kepada peserta didik. Desain Produk Terdapat empat langkah yang digunakan dalam mengembangkan desain produk, yakni sebagai . Merumuskan tujuan awal dan manfaat dari menurunkan perilaku Fear Of Missing Out (FOMO) peserta didik kelas Vi dan IX SMP Muhammadiyah 2 Taman Sidoarjo. Tujuaanya adalah memenuhi standar produk yang dapat diterima dengan cakupan kelayakan, kegunaan, ketepatan, dan kepatutan dengan melalui tahap validasi ciptaan. Dengan salah satu manfaatnya adalah alternative yang dapat digunakan guru BK dalam memberikan layanan konseling individu sebagai upaya menyampaikan informasi dan pemahaman peserta didik agar dapat menurunkan perilaku FOMO. Mempersiapkan bahan materi yang diperlukan dalam pembuatan media bahan Materi yuang diberikan tentunya disesuaikan dengan informasi yang dibutuhkan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Mempersiapkan desain dan bahan perlakuan yang menarik dengan memilih ukurann, jenis kertas, jenis huruf, dan pemilihan gambar pendukung untuk penyampaian materi. Mempersiapkan lembar validasi desain yang digunakan untuk evaluasi dari uji ahli berisi penilaian produk agar dapat di Validasi Desain Tahap validasi desain pada media atau produk ini dilakukan dengan melakukan uji validasi ahli . ateri dan medi. Setelah pengembangan selesai pada tahap awal dilanjutkan dengan tahapan uji validasi produk berupa panduan oleh ahli materi dan ahli media. Berikut ini akan diuraikan hasil dari uji validasi: Tabel 3. Hasil Penilaian Ahli materi No Kategori Presentase Kriteria Kegunaan Sangat baik Kelayakan 93,7% Sangat baik Ketepatan Sangat baik Kepatutan 91,6% Sangat baik Rata-rata Sangat baik Didapatkan hasil rata-rata dengan nilai presentase sebesar 95% Tabel 4. Hasil Penilaian Ahli Media Kategori Presentase Kegunaan Kriteria Sangat baik atau Kelayakan Sangat baik atau Ketepatan Sangat baik atau Kepatutan 93,75% Sangat baik atau Rata-rata 98,4% Sangat baik atau Didapatkan hasil rata-rata dengan nilai presentase sebesar 98% Revisi Desain Berdasarkan saran dan juga komentar yang diberikan oleh ahli, produk akan diperbaiki dan Penambahan desain sampul yang lebih menarik disertai dengan gambaran proses konseling, kemudian penambahan lampiran angket FOMO dan penulisan pergantian tahun. Pembahasan Penelitian pengembangan media panduan Pengembangan Panduan Solution Focused Brief Counseling untuk Menurunkan Perilaku Fear Of Missing Out (FOMO) pada Siswa SMP Solution Focused Brief Counseling untuk menurunkan perilaku Fear Of Missing Out (FOMO) pada peserta didik SMP ini dibuat berdasarkan fenomena yang ditemui dengan 10 langkah dalam penelitian pengembangan (Sugiyono, 2. Akan tetapi, pada penelitian ini hanya memakai 5 tahapan karena keterbatasan waktu dan biaya. Hasil yang diperoleh berdasarkan observasi adalah fenomena yang dideskripsikan yakni peserta didik yang terindikasi FOMO dengan rentang tinggi. Guru BK sendiri belum memiliki tindakan penyelesaian unutk menangani permasalahan tersebut, sehingga peneliti tertarik untuk mengembangkan media agar dapat dijadikan sebagai alternatif bantuan terhadap guru BK dalam memberikan informasi dan pemahaman melalui konseling individual dengan tujuan agar layanan ini dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta Penelitian ini bertujuan agar menghasilkan produk berupa buku panduan Solution Focused Brief Counseling untuk menurunkan perilaku Fear Of Missing Out peserta didik SMP diman aproduk tersebut memenuhi standar dan dapat diterima. Hasil dari para uji ahli mengatakan bahwa produk ini masuk dalam kategori sangat baik dalam hal kegunaan, kelayakan, ketepatan, dan ketaputan. Pada data kualitatif terdapat komentar dan juga saran dari ahli tentang penambahan desain pada cover buku panduan. Pergantian tahun pada judul cover dan penambahan lampiran angket FOMO yang digunakan pada saat peneliti memberikan pre-test. Pada penelitian pengembangan panduan konseling individu Solution Focused Brief Counseling untuk menurunkan Fear Of Missing Out pada siswa SMP memiliki beberapa keunggulan diantaranya adalah . Dapat membantu peserta didik dalam menurunkan perilaku FOMO, . Penggunaan bahasa yang mudah sehingga mudah dipahami, . Pemilihan huruf dan font yang mudah dibaca, . Dapat digunakan dimana saja, . Tidak menggunakan perangkat tambahan untuk penunjang Selain itu, adapun keterbatasan pada panduan ini meliputi . Produk adalah media cetak sehingga tidak dapat menampilkan konten atau video, . Perlu penyimpanan yang baik agar tidak mudah rusak. sebesar 98,4% dengan kriteria sangat baik atau tidak Maka produk ini dinyatakan memenuhi kriteria akseptabilitas dengan kategori sagat baik. Saran