Jurnal Abdimas Prakasa Dakara https://doi. org/10. 37640/japd. e-ISSN 2776-768X Pergeseran Nilai-Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Betawi di Era Digital Gandhi Seputra Nur1*. Jeanne Abigail Reza Hardian2. Jonatan Edward Saputro3. Naizha Putri Mandala4 1,2,3,4 Fakultas Hukum. Universitas Tarumanegara *gandhi. nur@gmail. Abstrak Pengaruh integrasi Kecerdasan Buatan (AI) terhadap budaya betawi di Indonesia dalam pelestarian dan pengembangan budaya di era digital dapat membawa dampak positif seperti meningkatkan kreatifitas seniman, memperluas indetitas karya seni, dan memperkuat identitas budaya serta mengeksplorasi potensi dan tantangan yang Namun terdapat juga dampak negatif seperti kurangnya faktor emosi/human touch, penurunan kreatifitas, dan risiko privasi dan keamanan data. Penelitian ini menyimpulkan bahwa AI memiliki peran yang sangat penting dalam pelestarian dan pengembangan budaya betawi jika tidak maka dikhawatirkan maka budaya betawi akan tergeser oleh perkembangan jaman. Tetapi dari semuanya itu perlu didukung oleh kesadaran berpikir kritis dalam penggunaannya untuk menghindari dampak negatif dan memaksimalkan manfaatnya. Kata kunci: AI, budaya betawi, era digital, kearifan lokal, kecerdasan buatan Dikirim: 30 Oktober 2025 Direvisi: 4 Maret 2026 Diterima: 29 April 2026 PENDAHULUAN Era digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Betawi. Orang hanya mengetahui budaya betawi sebatas pada seni dan kuliner, budaya betawi sesungguhnya memegang peranan penting bagi pembangunan berkelanjutan di ibu kota sebagai penduduk asli Jakarta. Namun nilai-nilai tradisional yang sebelumnya dipegang teguh mulai tergeser akibat pengaruh globalisasi dan modernisasi. Dengan berkembangnya arus informasi, urbanisasi, dan industrialisasi, nilai-nilai peradaban ini menghadapi tantangan serius. Perubahan gaya hidup terutama masyarakat perkotaan di Jakarta, menimbulkan risiko bagi tradisi lokal dengan terkikisnya kepedulian terhadap budaya asli di sekitarnya. Perubahan teknologi dapat membawa dampak pada cara hidup dan nilai-nilai masyarakat, termasuk nilai-nilai kearifan lokal. Oleh karena itu, pergeseran nilai-nilai kearifan lokal Betawi dalam era digital dapat dipengaruhi oleh perubahan teknologi. Meski begitu, teknologi digital juga dapat menjadi hal yang positif untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi, seperti melalui platform media sosial dan aplikasi digital. Perkembangan kecerdasan buatan dapat mempengaruhi nilai-nilai kearifan lokal, termasuk di Betawi, karena teknologi ini dapat membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan dukungan negara dalam hal ini pengakuan dan perlindungan negara terhadap hukum adat. Pengakuan negara terhadap hukum adat Content from this work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. 33 | Nur. Hardian. Saputro, & Mandala dan masyarakat hukum adat dapat menjadi landasan untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal, termasuk di era digital. Pengakuan negara telah diatur dalam UUD 1945 yang mengakui, menjamin dan melindungi masyarakat adat yaitu Pasal 18B ayat . yang mengakui hak masyarakat hukum adat. Pasal 28I ayat . yang melindungi identitas budaya dan hak masyarakat tradisional, serta Pasal 32 ayat . yang menjamin kebebasan memelihara dan mengembangkan nilai budaya nasional. Pasal-pasal ini menekankan dan menegaskan akan pengakuan dan perlindungan dari negara terhadap keanekaragaman budaya serta hak-hak masyarakat adat di Indonesia. Untuk mengatasi pergeseran nilai-nilai kearifan lokal Betawi dalam era digital diperlukan pemberdayaan manusia. Dengan memberdayakan masyarakat, individu dan komunitas dapat mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan kebutuhan mereka. Disamping itu juga dapat membantu meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi, sehingga nilai-nilai kearifan lokal dapat terus dipertahankan dan dikembangkan dalam era digital. Untuk menghadapi pergeseran budaya yang kian masif ini, pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting untuk diupayakan. Pemberdayaan dapat dilakukan dengan banyak cara, seperti pendidikan, pelatihan, dan pengembangan keterampilan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat dapat menjadi kunci untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi di era digital. Upaya-upaya apa yang harus dilakukan agar kearifan lokas betawi tetap lestari pada era digital ada pada artikel dibawah ini. METODE PELAKSANAAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode penelitian kualitatif, dengan jenis studi deskriptif eksplanatif. Metode ini dipilih karena fokus dari penelitian ini adalah untuk menggali makna, nilai , dan prinsip hidup dari masyarakat betawi itu sendiri dengan di reaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat global dalam upaya pelestarian lingkungan. Sumber Data Sumber Data dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis yaitu: Data Primer: Diperoleh melalui wawancara mendalam dengan rekaman video oleh narasumber utama yang merupakan budayawan adat Betawi. Data Sekunder: Berupa dokumen tertulis seperti buku, artikel ilmiah , arsip budaya, dokumen komunitas lokal , sebagai referensi untuk penelitian ini Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data utama dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam dengan disertai rekaman video. Dilakukan secara semi- terstruktur untuk memberikan ruang eksplorasi yang luas kepada Narasumber. Pertanyaan yang difokuskan kepada pemahaman adat Betawi dengan tujuan agar dapat direaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat global Pergeseran Nilai-Nilai A | 34 Observasi Partisipatif Peneliti melakukan pengamatan langsung berupa kunjungan kepada lembaga kebudayaan Betawi agar dapat memahami secara langsung prinsip hidup adat budaya Betawi dengan harapan dapat di reaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat global. Teknik Analisis Data Teknik Analisis Data secara kualitatif dengan menggunakan data dianalisis menggunakan teknik analisis yang iteratif dan reflektif, di mana data dianalisis secara berulang-ulang untuk menemukan pola, tema, dan makna yang muncul secara organik dari data itu sendiri. Pengumpulan Data: Data didapat dari survey, wawancara, observasi dan Reduksi Data: menyederhanakan dan mengorganisir data agar lebih mudah dipahami dan dianalisis Penyajian Data: menyajikan data secara visual untuk membuat informasi yang terkandung dalam data menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam proses Penarikan kesimpulan/ Verifikasi: menyimpulkan temuan atau pola yang muncul dari data tersebut Transkrip Wawancara Pengelompokan tema-tema berdasarkan keterkaitan makna interpretasi data secara kontekstual dengan mengaitkan hasil wawancara dan observasi dengan teori-teori sosial budaya dan pelestarian lingkungan. HASIL DAN PEMBAHASAN Dikutip dari website w. com tentang Visi Misi Lembaga Kebudayaan Betawi yaitu diputuskannya Undang Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Disebutkan pada bab V pasal 26 ayat 6, bahwa pemerintah Provinsi DKI Jakarta melestarikan dan mengembangkan budaya masyarakat Betawi serta melindungi berbagai budaya masyarakat daerah lain yang ada di daerah Provinsi DKI Jakarta. Dengan dasar kebijakan pemerintah daerah dan pemerintah pusat tersebut diatas, maka otomatis Lembaga Kebudayaan Betawi menjadi salah satunya laboratorium budaya tradisional betawi yang resmi didukung oleh pemerintah daerah untuk menjalankan amanat masyarakat Jakarta umumnya dan warga Betawi khususnya, dalam melestarikan, membina, mengembangkan dan memberdayakan budaya tradisional Betawi diwilayah DKI Jakarta, sekaligus juga menjadi lembaga yang diharapkan dapat menyejahterakan para pelaku dan seniman Betawi itu Wawancara dengan tokoh Budayawan dan Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Drs. Yahya Andi Saputra. Hum yang akrab dipanggil "Bang Yahya" dan Sekretaris Umum LKB Bang Imbong Hasbullah tanggal 12 September 2025 bahwa Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) yang dibentuk pada tanggal 22 Juni 1976 harusnya diharapkan 35 | Nur. Hardian. Saputro, & Mandala menjadi wadah masyarakat Betawi untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi. Menurut mereka tantangan keterbatasan dana sangat menghambat pengembangan program-program kreatif seperti film dan festival, padahal mereka membutuhkan adopsi teknologi digital dan AI untuk memperkenalkan budaya Betawi secara luas melalui platform seperti YouTube dan Instagram, serta mendongkrak ekonomi sanggar-sanggar binaannya. Disamping itu mereka mengatakan juga kekurangan tenaga ahli di bidang teknologi AI yang dapat mengelola budaya betawi kedalam teknologi AI tersebut. Terhambatnya proses pengembangan terhadap berbagai seni budaya tradisional Betawi menurut mereka juga disebabkan karena tidak adanya peningkatan antara pembinaan, pengembangan dan pemberdayaan serta kesejahteraan dilingkungan pelaku dan senimannya. Mereka seolah bertarung sendiri untuk tetap dapat bertahan hidup, dengan bermodalkan keterbatasan dana dan kemampuan yang mereka miliki secara turun temurun. Mereka berjuang berhadapan dengan derasnya arus globalisasi kebudayaan urbanisasi dan kebudayaan barat kontemporer yang modern dan berteknologi sehingga sulit bagi pelaku seniman tersebut berkompetisi ditengah masyarakat yang cenderung ingin menikmati sebuah sajian budaya yang kreatif dan inovatif, terutama bagi lingkungan masyarakat perkotaan seperti Jakarta khususnya dan kota-kota metropolitan lainnya di Indonesia. Padahal kekuatan bertahan hidup mereka sehari hari, adalah justru mengandalkan dari dari apresiasi masyarakat yang menggunakan jasa mereka. Untuk itu dibutuhkan dukungan yang lebih besar dari pemerintah, masyarakat dan sektor swasta untuk mengembangkan strategi yang inovatif dalam memanfaatkan teknologi digital dan AI, guna melestarikan budaya Betawi dan memberikan manfaat ekonomi bagi para seniman serta sanggar binaannya. Beberapa upaya yang telah dilakukan adalah dengan diluncurkannya aplikasi Betawi Akses yang terhubung dengan situs LKB. Dikutip dari artikel di website wartakotalive berjudul: Lembaga Kebudayaan Betawi Luncurkan Aplikasi Betawi Akses untuk Eksistensi di Era Milenial: Upaya meluncurkan aplikasi Betawi Akses tersebut agar budaya Betawi bertahan di tengah maraknya pengaruh budaya nusantara dan mancanegara, termasuk untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi. Melalui aplikasi ini semua informasi kebetawian bisa dapat dikonsumsi. Semua ditampilkan melalui teks di web, juga video. Salah satu contoh lain kemajuan teknologi yang dipergunakan masyarakat Betawi saat ini adalah pengamen ondel-ondel. Seperti yang kita sering jumpai, pengamen ondel-ondel berkeliling dengan mengenakan boneka khas betawi berpakaian tradisi betawi disebut ondel-ondel sambil menari dan menyanyi untuk menghibur orang-orang di jalan. Dahulu, pengamen ondel-ondel melakukan kegiatannya tersebut dengan alat musik sederhana dan tradisional seperti kendang atau rebana untuk mengiringi penampilan mereka. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, teknologi telah dipakai dalam ngamen ondel-ondel, di mana sebagian besar pengamen menggunakan speaker portabel dan alat musik elektronik seperti keyboard atau gitar listrik. Beberapa pantun betawi sebagai penghormatan dan apresiasi terhadap budaya betawi yang tetap bersemangat memajukan bangsa dan mengikuti Pergeseran Nilai-Nilai A | 36 perkembangan jaman digital dengan ilmu pengetahuan. Berikut beberapa pantun "Pergi berbelanje ke pasar Saking besarnye jadi kesasar Jika ingin menjadi pintar Tentulah harus rajin belajar". "Siang hari enaknye santai Tidur siang lupakan dunie Jadilah siswe yang rajin dan pandai Demi masa depan bangse dan negare" SIMPULAN Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) berjuang untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi di tengah tantangan globalisasi dan keterbatasan Mereka membutuhkan adopsi teknologi digital dan AI untuk memperkenalkan budaya Betawi secara luas dan meningkatkan ekonomi sanggar Dukungan yang lebih besar dari pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk mengembangkan strategi inovatif dalam memanfaatkan teknologi digital dan AI, guna melestarikan budaya Betawi dan memberikan manfaat ekonomi bagi para seniman serta sanggar binaannya. Beberapa upaya telah dilakukan, seperti peluncuran aplikasi Betawi Akses, untuk meningkatkan eksistensi budaya Betawi di era digital. DAFTAR PUSTAKA