ARUMBAE: JURNAL ILMIAH TEOLOGI DAN STUDI AGAMA Available online at: http://ojs. id/index. php/arumbae E-ISSN: 2715-775X Vol. No. 2 (Desember, 2. : 320-334 DOI: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Teologi-Etika Solidaritas dalam Diakonia Transformatif Gereja Protestan Maluku Meike Lely Lewankoru Fakultas Teologi. Universitas Kristen Satya Wacana Email: meikelewankoru@gmail. Submitted: 21-11-2023 Accepted: 30-09-2024 Published: 27-12-2024 Abstract Maluku is still ranked as the fourth poorest province in Indonesia. The issue of poverty in Maluku is also a focus of the Maluku Protestant Church (GPM). Through the transformative diaconia program, the church continues to strive to improve the quality of life of the congregation so that they can escape the problem of poverty. This article aims to theologically analyze the ethics of solidarity in the GPM transformative diaconia program. The author uses qualitative research methods with data collection techniques in the form of in-depth interviews with GPM pastors and conducts a literature review to develop tools for analyzing the theology of solidarity ethics. The results of this research show that transformative diakonia is a GPM effort to empower the congregation to be free from the problem of poverty. The author believes that transformative diaconia, which is oriented toward human liberation from poverty is a manifestation of the theology-ethics of solidarity. The author's arguments are outlined in this research, starting from showing the reality of poverty in the Maluku community, interpreting transformative diakonia, the theological-ethical concept of solidarity, and exploring the GPM transformative diakonia service program as a form of ethical theology of Keywords: Theology-Ethics of Solidarity. Transformative Diaconia. Maluku Protestant Church. Abstrak Maluku masih berada di peringkat empat Provinsi termiskin di Indonesia. Persoalan kemiskinan di Maluku juga menjadi bagian dari perhatian dan pergumulan Gereja Protestan Maluku (GPM). Melalui program diakonia transformatif, gereja terus berupaya meningkatkan kualitas hidup jemaat untuk dapat keluar dari jeratan masalah kemiskinan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara teologi etika solidaritas terhadap program diakonia transformative GPM. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dengan para pendeta GPM, dan melakukan kajian pustaka untuk membangun piranti analisis teologi etika Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa diakonia transformatif sebagai upaya GPM memberdayakan jemat untuk terbebas dari persoalan kemiskinan. Penulis berargumen bahwa diakonia transformatif yang berorientasi pada pembebasan manusia dari kemiskinan merupakan sebuah perwujudan teologi-etika solidaritas. Argumentasi penulis diuraikan dalam penelitian ini mulai dari menunjukkan realitas kemiskinan masyarakat Maluku, memaknai diakonia transformatif, konsep teologi-etika solidaritas, dan mendalami program pelayanan diakonia transformatif GPM sebagai bentuk teologi etika solidaritas Kata-kata Kunci:Teologi-Etika Solidaritas. Diakonia Transformatif. Gereja Protestan Maluku. @ Copyright: Author 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 Generic License Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. PENDAHULUAN Provinsi Maluku mempunyai sumber daya alam yang melimpah, namun sayangnya masih terjerat dengan persoalan kemiskinan akut. Pada level nasional. Maluku berada di provinsi keempat termiskin dari di Indonesia. 1 Tercatat dalam data Badan Pusat Statistik Maluku No. 41/07/81/Th. XXVI. 01 Juli 2024 bahwa jumlah penduduk miskin di Maluku per bulan Maret 2024 sebesar 297, 68 ribu orang. Presentase penduduk miskin berdasarkan wilayah, di daerah perkotaan 5,14% sedangkan di daerah pedesaan 24, 43%. Kemudian garis kemiskinan makanan 73, 42 % dan garis kemiskinan non makanan 26, 58%. Senada dengan hal ini, indeks kedalaman kemiskinan di Provinsi Maluku 3, 10 sedangkan indeks keparahan kemiskinan di Maluku 0, 89. Profil kemiskinan di Maluku per Maret 2024 tentu sangat memprihatinkan dan perlu disikapi dengan bijak. Gambar 1. Profil Kemiskinan di Maluku. Maret 2024 Mengulik masalah kemiskinan di Maluku, penulis melakukan wawancara bersama dengan warga jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) dan Pendeta GPM untuk menggali lebih jauh terkait persoalan kemiskinan yang dihadapi. Kemiskinan banyak dijumpai dalam bentuk keterbatasan ekonomi. Selain itu, faktor pendidikan yang masih minim di daerah pedesaan juga berkontribusi. 3 Bahkan masih ada masyarakat yang tidak mendapatkan hakhak mereka secara utuh. 4 Kesejahteraan hidup dirasakan oleh masyarakat tidak merata. Fridolin R Kwalomine. AuKemiskinan Dan Struktur Sosial Di Maluku Dalam Perspektif Social Capital,Ay ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi Dan Studi Agama 3, no. doi:10. 37429/arumbae. Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku. AuProfil Kemiskinan Maluku Maret 2024,Ay 2024. Rolland A Parihala Y. Samson. AuPendidikan Yang Membebaskan Masyarakat Waemite Dari Kemiskinan,Ay Arumbae, vol. 1, 2019, http://ojs. id/index. php/arumbae. S (Pendeta GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 24 November 2022. M (Warga Jemaat GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 25 November Teologi-Etika Solidaritas dalam Diakonia Transformatif Gereja Protestan Maluku Meike Lely Lewankoru Persoalan kemiskinan menyita perhatian dan kepedulian GPM. Sebagai persekutuan umat dan isntitusi pelayanan. GPM menyatakan kehadirannya di tengah dunia, dalam realitas kemiskinan di Maluku, melalui berbagai program pemberdayaan terhadap jemaat yang dikenal sebagai diakonia transformatif. 6 Tujuan dari diakonia transformatif adalah memberdayakan jemaat, dan bersama jemaat mengupayakan pembebasan dari jeratan masalah kemiskinan. 7 Diakonia transformatif yang dilakukan oleh GPM telah menjadi agenda utama yang mengisi setiap program pelayanan mulai tingkat Jemaat. Klasis, dan Sinode. Diakonia secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya melayani dalam rangka menyembuhkan, menolong, dan memberdayakan manusia. Diakonia menjadi sebuah panggilan untuk peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan . ang miskin dan juga tertinda. Itu artinya bahwa diakonia tidak terbatas pada soal memberi uang. Diakonia mestinya berfungsi melalui aksi-aksi konkrit yang dilakukan dan dapat memberikan wujud cinta kasih bagi komunitas . Sehubungan dengan ini, maka perlu dipahami bahwa diakonia transformatif sesungguhnya menunjuk pada suatu usaha Pembebasan yang dimaksudkan tidak hanya berfokus pada individu . melainkan menjangkau juga kelompok dan masyarakat dan atau jemaat. Diakonia seperti ini cenderung untuk mengembangkan konsistensi sasaran garapan melalui program dan kegiatan pemberdayaan serta pengorganisasian. Apabila diakonia transformatif diterapkan oleh GPM, maka GPM sedang masalah-masalah Pusatintervensinya ditujukan kepada warga gereja yang terdiskriminasi, tersingkirkan dan terbuang dari tatanan sosial-masyarakat. Pusat intervensi tergolong dalam kerangka praktik pekerjaan sosial yang lebih mengarah pada tindakan pencegahan, rehabilitasi, jaminan, pemberdayaan dan perlindungan sosial. 11 Hal ini menegaskan bahwa diakonia tranformatif P (Pendeta GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 24 November 2022. George Marthen Likumahwa. John A Titaley, and Steve Gaspersz. AuKELUAR DARI KEMISKINAN: STUDI PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN JEMAAT DI DUSUN SIAHARI. KECAMATAN SERAM UTARA TIMUR,Ay ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi Dan Studi Agama 2, no. , doi:10. 37429/arumbae. Welhelmus Abraham Beresaby. AuPemberdayaan Jemaat Dalam Perspektif Diakonia Transformatif: Studi Implementasi Dana Sharing GPM,Ay ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi Dan Studi Agama 3, no. : 201Ae17, doi:https://doi. org/10. 37429/arumbae. Elizabeth Marantika, dkk. Delapan Dekade GPM (Salatiga: Satya Wacana University Press, 2. Josef P. Widyatmadja. Diakonia Sebagai Misi Gereja (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2. Elizabeth Marantika dkk. Delapan Dekade GPM, 173. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. GPM bukan hanya berhubungan dengan tindakan amal melainkan gereja melakukan perubahan sampai ke akar persoalan yang membawa manusia untuk menemukan eksistensi Kerajaan Allah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian Teologi-Etika Solidaritas terhadap program diakonia transformatif GPM. Teologi berpautan pada pemahaman melakukan peran individu. Sedangkan etika solidaritas berasosiasi pada tindakan melakukan peran. Maka dari itu, teo-etika solidaritas memberikan perubahan yang radikal dan menghasilkan kualitas baru. Dalam hal berpikir dan bertindak, perubahan terwujud oleh tindakan yang menjadi bagian yang sangat penting. Ini berhubungan dengan akuntabilitas, artinya kemampuan untuk merepresentasikan jaminan diri. Menjadi sahabat dan saudara bagi sesama melalui aksi dengan kesediaan untuk bertindak dengan penuh kepedulian serta merangkul dunia yang penuh keadilan. Teologi-etika solidaritas menegaskan fokus pada kualitas manusia berdasarkan afirmasi terhadap manusia sebagai ciptaan Allah. Manusia sebagai cipataan Allah perlu diperhatikan dan diberdayakan untuk ada dalam sebuah perubahan. Maka dari itu dialog yang konstruktif hadir untuk membawa perubahan, mendukung perubahan, dan pemberdayaan umat. Dalam rangka merealisasikan hal ini, maka perekrutan . ader of solidarit. atau pemimpinpemimpin yang solider menjadi upaya transformasi yang terwujud oleh etika solidaritas. Dengan demikian, ada sebuah kesiapan untuk bertindak sebagai komunitas yang saling bertumbuh untuk keadilan sosial. Penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya. Monica Silitonga meneliti mengenai Tinjauan Teo-Etika Solidaritas terhadap Pemberdayaan Insan dengan Disabilitas (IDD). Hasil dari penelitian ini mengungkapkan pemberdayaan IDD memberikan pemahaman baru pada masyarakat bahwa IDD dapat dijadikan sebagai rekan kerja dalam kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat sosial. 14 David Eko & Novi Saria juga meneliti berbagai bentuk pelayanan diakonia transformatif. Hasil penelitian ini menunjukan tiga bentuk diakonia transformasif, pendidikan teologis transformatif tentang konsep kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan jemaat melalui pemberdayaan ekonomi dan Rebecca Todd Peters. Solidarity Ethicts: Transformation in a Globalized World (Minneapolis: Fortress Press, 2. Rebecca Tood Peters. Solidarity Ethicts: Transformation in a Gloalizied World, 13-14. Silitonga Monica. AuTinjauan Teo-etika Solidaritas terhadap Pemberdayaan Insan dengan Disabilitas Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat Hephata Siboolga,Ay https://repository. edu/bitstream/123456789/30562/2/T1_712019235_Isi. Teologi-Etika Solidaritas dalam Diakonia Transformatif Gereja Protestan Maluku Meike Lely Lewankoru perbaikan mutu pendidikan, sertamenghidupkan konsep rasionalitas komunikatif Jurgen Habermas di dalam Gereja. 15 Welhelmus Abraham Baresaby meneliti pentingnya pemberdayaan jemaat dalam perspektif diakonia transformatif. Hasil penelitian ini menunjukkan GPM telah mengamanatkan pelaksanaan pemberdayaan jemaat sebagai fokus diakonia transformatif, namun realisasinya masih mengutamakan penguatan institusi dan 16 Berbeda dari penelitian sebelumnya, penulis lebih fokus untuk menganalisis tentang bagaimana memahami secara teologi-etika solidaritas program diakonia transformatif GPM. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan model penelitian kualitatif untuk memahami fenomena dan realitas sosial, serta menggali maknanya. 17 Dalam penelitian ini, penulis mengumpulkan data melalui studi kepustakaan terhadap berbagai literatur yang membahas tema diakonia transformatif dan teologi etika solidaritas. Penulis juga melakukan wawancara mendalam Pendeta GPM dan anggota jemaat untuk memahami pandangan, pengalaman, dan pemikiran mereka tentang diakonia transformatif GPM. Penulis kemudian melakukan penelitian dengan teknik analisis tematik,18 untuk menjelaskan berbagai gagasan mengenai diakonia transformatif, teologi etika solidaritas, dan meninjau program diakonia transformatif GPM. HASIL DAN PEMBAHASAN Diakonia Transformatif Diakonia merupakan sebuah panggilan untuk peduli terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan. Sesama itu, antara lain, adalah yang miskin dan tertindas. Kepedulian ini tidak hanya terbatas soal memberi uang, namun merembes sampai kepada kebutuhan untuk memberdayakan. 19 Menghadirkan diakonia dalam dunia penting, karena dunia ini penuh dengan kontradiksi dan kompleksitas persoalan sosial, sehingga gereja perlu David Setiawan and Novita Harita. AuBerbagai Bentuk Pelayanan Diakonia Transformatif: Sebuah Jembatan Misi Perintisan Jemaat Kepada Kaum Miskin Di Indonesia,Ay KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen 3, no. : 123Ae40, doi:10. 34307/kamasean. Beresaby. AuPemberdayaan Jemaat Dalam Perspektif Diakonia Transformatif: Studi Implementasi Dana Sharing GPM. Ay Felisianus Efrem Jelahut. AuAneka Teori & Jenis Penelitian Kualitatif (Sebuah Review Pada Buku Second Edition-Qualitative Inquiry & Research Design Choosing Among Five Approachers. London: Sage Publication, 2007. Jhon W. Creswel. ,Ay Akademia Pustaka, 2022, 24. Novendawati Wahyu Sitasari. AuMengenal Analisa Konten Dan Analisa Tematik Dalam Penelitian Kualitatif,Ay Forum Ilmiah 19 . : 77. Marantika Elizabeth dkk. Delapan Dekade GPM, 171-172. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. hadir dan berdiakonia dalam rangka menjawab setiap kebutuhan-kebutuhan mereka yang 20 Tugas diakonia juga harus berkesinambungan dan menyentuh masalahmasalah yang konkrit dalam jemaat. 21 Diakonia yang dilakukan oleh gereja diharapkan dapat membantu jemaat dan meringankan beban, serta keluar dari kemiskinan. Cara berdiakonia dibagi menjadi tiga bentuk. Pertama, diakonia karikatif. Diakonia karikatif adalah cara berdiakonia yang diwujudkan melalui pemberian barang kepada orang miskin, peduli terhadap orang yang sakit, dan menerapkan perbuatan amal kebajikan. Kedua, diakonia reformatif. Diakonia reformatif berpusat pada pengembangan keterampilan dengan memberikan modal pada kelompok masyarakat agar mereka bisa melakukan 22 Ketiga, diakonia tranformatif atau pembebasan, diakonia ini bertujuan untuk mengangkat ketidakadilan di tengah rakyat kecil dan membebaskan mereka dari belenggu Diakonia transformatif diaplikasikan oleh gereja dalam hal melayani umat dengan memperhatikan banyak dimensi, yaitu mencakup roh, jiwa dan tubuh. Selain itu, diakonia transformatif juga berdasar pada hal-hal sektoral, seperti: ekonomi, politik, kultural, hukum dan agama. Hal ini mengarahkan kita untuk dengan jelas melihat bahwa diakonia bukan lagi hanya sekadar tindakan-tindakan amal yang dilakukan oleh gereja, tetapi diakoni transformatif berupa tindakan yang membawa perubahan sampai pada titik persoalan manusia dan menolong manusia untuk menjumpai eksitensi kerajaan Allah. Diakonia transformatif merupakan implementasi misi pembebasan oleh gereja dalam menghadapi kenyataan sosial ekonomi politik yang diwarnai dengan ketidakadilan, kemiskinan, dan pelanggaran-pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Misi pembebesan melibatkan gereja dalam misi Allah bagi manusia yang terbelenggu oleh dosa sehingga gereja harus bertindak sebagai nabi dalam mengahadapi kekuatan dominasi orang-orang atau lembaga-lembaga yang membelenggu atau menindas yang lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu gereja dalam diakonia transformatif berfungsi menyuarakan keadilan. Josef P. Widyatmadja. Diakonia Sebagai Misi Gereja, 41-42. Emanuel Gerrit Singgih. Reformasi Dan Transformasi Pelayanan Gereja (Yogyakarta: Kanisius. Josef P. Widyatmadja. Yesus dan Wong Cilik: Praksis Diakonia Transformatif dan Teologi Rakyat Di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Josef P. Widyatmadja. Yesus dan Wong Cilik, 44. Bambang Subandrijo. Agama Dalam Praksis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Teologi-Etika Solidaritas dalam Diakonia Transformatif Gereja Protestan Maluku Meike Lely Lewankoru kebenaran terhadap para penguasa serta bertindak dalam mendorong dan mendampingi orang-orang yang sedang menyandang masalah atau memperjuangkan hidupnya. Diakonia transformatif tidak bisa dipisahkan dari jemaat sebagai dasarnya. Diakonia yang hidup dalam jemaat yang bersifat transformatif memang menantang jemaat dan gereja sendiri untuk melakukan perubahan. Dalam ajaran GPM tercatat Ausebagai salah satu tugas gereja, pelayanan atau diakonia bukan hanya bersifat karikatif tetapi juga bersifat reformatif. Dengan demikian maka dapat dipahami bahwa diakonia yang berkaitan dengan tindakan pemberdayaan jemaat adalah diakonia transformatif. Teologi-Etika Solidaritas Rebecca Todd Peters merupakan salah satu tokoh etika yang memfokuskan perhatiannya pada teladan Yesus Kristus, dengan sikap solidaritas terhadap orang-orang yang terpinggirkan. Menurut Peters makna solidaritas bukanlah istilah dengan definisi Dalam bukunya yang berjudul AuSolidarity Ethics: Transformation in a Globalized WorldAy, ia mengeksplorasi bentuk solidaritas bagi hak istimewa melalui lensa etika sosial Kristen, sebuah teologi publik yang terlibat dalam analisis sosial kritis untuk mengembangkan moral normatif. Hal ini juga berhubungan dengan kriteria untuk membantu membentuk perilaku manusia dan kebijakan sosial dengan memeriksa masalah-masalah penindasan interstruktur, sudut pandang istimewa teori dan pentingnya lokasi sosial, serta penekanannya tentang mengembangkan hubungan lintas garis perbedaan. 27 Peters menekankan penegasan bahwa terlalu banyak fokus pada harga diri dan martabat individu sehingga mengaburkan pandangan kita tentang kebaikan bersama. Argumentasi Rebecca berakar pada nilai-nilai dari kebersamaan, keadilan, dan keberlanjutan yang menjadi landasan sebuah etika dari solidaritas. Bagi Peters ada beberapa pendasaran dalam mengembangkan etika solidaritas. Pertama, memahami lokasi sosial dan hak istimewa. Lokasi sosial termasuk setiap pembentuk identitas keadaan, yakni berhubungan dengan jenis kelamin, etnis, budaya, seksual orientasi, dan kelas. Hal ini memengaruhi satu pengalaman dari komunitas tertentu. Dengan memperhatikan lokasi sosial yang dimaksud maka kita dapat memahami kebutuhan Elizabeth Marantika, dkk. Delapan Dekade GPM. Elizabeth Marantika, dkk. Delapan Dekade GPM. Libby Mae Grammer. Privilege. Risk, and Solidarity (USA: WIPF & STOCK, 2. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. sesuai lokasi sosial tersebut dan mengikutsertakan tindakan-tindakan konkrit yang membantu dengan keseriusan. Seperti turut berkontribusi terhadap masalah kemiskinan. Kedua, mengembangkan hubungan dengan lintas baris dari perbedaan. Di tengah perbedaan yang ada justru mestinya melahirkan rasa solidaritas bukan menutup interaksi antar sesama. Dengan demikian, perbedaan yang ada perlu dilintasi dengan rasa solidaritas melalui peran-peran yang berguna bagi sesama dan membantu kebutuhan sesama. 29 Ketiga. Memperhatikan penerapan sturktual. Hal ini berhubungan dengaan keadilan yang perlu diterapkan bagi mereka yang miskin dan terpinggirkan, yang membutuhkan keadilan. Maka dengan demikian mesti adanya perubahan struktural. Tentunya ini menolong kita sebagai manusia untuk menyadari tugas dan kewajiban untuk menciptakan keadilan. Berdasar pada pemahaman mengenai etika solidaritas di atas, maka teologi-etika solidaritas, berhubungan dengan teolog dan etika solidaritas. Teologi berpautan pada pemahaman melakukan peran individu. Sedangkan etika solidaritas berasosiasi pada tindakan atau peran. Maka dari itu, teologi-etika solidaritas memberikan perubahan yang radikal dan menghasilkan kualitas baru. Perubahan terwujud oleh tindakan. Ini berhubungan dengan akuntabilitas, artinya kemampuan untuk merepresentasikan jaminan diri. Menjadi sahabat dan saudara bagi sesama melalui aksi dengan kesediaan untuk bertindak dengan penuh kepedulian serta merangkul dunia yang penuh keadilan. Teologi-etika solidaritas menegaskan fokus pada kualitas manusia berdasarkan afirmasi terhadap manusia sebagai ciptaan Allah. Manusia sebagai cipataan Allah perlu diperhatikan dan diberdayakan untuk ada dalam sebuah perubahan. Maka dari itu dialog yang konstruktif hadir untuk membawa perubahan, mendukung perubahan, dan pemberdayaan umat. Dalam rangka merealisasikan hal ini, maka perekrutan . ader of solidarit. atau pemimpin-pemimpin yang solider menjadi upaya transformasi yang terwujud oleh etika solidaritas. Dengan demikian, ada sebuah kesiapan untuk bertindak sebagai komunitas yang saling bertumbuh untuk keadilan sosial. Teologi-etika solidaritas mengusung empat cara dalam menangkal ketidakadilan sosial sebagai bentuk panggilan etis. Pertama, tanggung jawab untuk menghargai perbedaan. Etika solidaritas menandaskan sikap hormat terhadap martabat manusia, dengan Libby Mae Grammer. Privilage. Risk and Solidarity, 101. Libby Mae Grammer. Privilage. Risk and Solidarity, 102 Libby Mae Grammer. Privilage. Risk and Solidarity, 103-106. Rebecca Tood Peters. Solidarity Ethicts: Transformation in a Gloalizied World, 13. Rebecca Tood Peters. Solidarity Ethicts: Transformation in a Gloalizied World, 14. Teologi-Etika Solidaritas dalam Diakonia Transformatif Gereja Protestan Maluku Meike Lely Lewankoru memandang perbedaan sebagai suatu hal yang unik. Kedua, metanoia. Konsep metanoia membidik pada sebuah perubahan yang berkaitan dengan cara berpikir, juga bertindak yang nyata dan bermuara pada perubahan yang bergerak menuju tatanan sosial yang lebih adil yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Ketiga, solidaritas berciri akuntabilitas. Cerminan solidaritas dalam wujud akuntabilitas menjadikan manusia menjalin mitra yang baik dengan orang lain. Hal ini menegaskan orang Kristen untuk Aumengasihi sesamamu seperti dirimu sendiriAy (Matius 12:. Keempat, aksi atau tindakan nyata. Prinsip teologi-etika solidaritas bukan hanya soal sikap tetapi soal tindakan terhadap orang lain, sehingga menghasilkan transformasi yang diupayakan oleh individu maupun kelompok untuk peduli terhadap yang tertinda dan termarginalkan. Hal ini berguna bagi terwujudnya kehidupan yang adil dalam sosial masyarakat. Teologi-Etika Solidaritas dalam Diakonia Transformatif GPM Tertuang dalam peraturan pokok Gereja Protestan Maluku nomor 09/SND/36/2010 BAB II, pasal 2 bahwa AuGereja Protestan Maluku bercirikan kebersamaan dan persekutuan yang saling berbagi dan menopang dari jemaat-jemaat Gereja Protestan Maluku sebagai wujud pertanggungjawaban iman seluruh warganya di bawah Terang Firman Allah yang terdapat di dalam Alkitab. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta dalam tuntunan Roh KudusAy. Hal ini pun sejalan dengan Tata Gereja. Gereja Protestan Maluku nomor 08/SND/37/2016 BAB I pasal 2 bahwa GPM mewujudkan dirinya sebagai jemaat-jemaat, klasis-klasis dan sinode. Berdasarkan peraturan pokok GPM dan Tata Gereja GPM yang telah diuraikan di atas, maka GPM sudah saatnya mengembangkan diakonia transformatif sebagai sebuah gerakan pensejahteraan sosial bagi jemaat yang sedang berhadap-hadapan dengan masalahnya untuk tujuan memperbaiki kondisi kesejahteraan sosial atau mengembalikan keberfungsian Keberfungsian sosial tidak terlepas dari karakteristik orang . dalam lingkungan sosial. AuSocial functioning refers to the way individuals or collectives . amilies, assoctions, communaties, and so o. behave in order to carry out their life task and meet their needsAy. Keberfungsian sosial juga menunjuk pada cara-cara individual maupun tugas-tugas Sebab Rebecca Tood Peters. Solidarity Ethicts: Transformation in a Gloalizied World, 60-63. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. keberfungsian sosial bagi warga gereja sangat berkaitan dengan peran-peran, gerakangerakan yang tepat pada sasaran garapannya. Praktik diakonia transformatif ke arah pensejahteraan sosial berhubungan dengan upaya memperbaiki kualitas hidup . uality of lif. , karena itu ketika kualitas warga gereja diintervensikan oleh GPM secara professional, maka GPM turut menarik keluar setiap permasalahan yang dihadapi oleh jemaat dari tekanan masalah yang dialaminya. GPM harus merumuskan instrumen kebijakan dan perencanaan berbasis diakonia transformatif yang tepat untuk melayani setiap umat dalam jangkauan pelayanan GPM. Tidak terlepas dari perspektif ini. GPM mesti merumuskan regulasi-regulasi di bidang pelayanan diakonia sebagai jembatan melayani dan menggerakan seluruh potensi gereja (GPM) dalam rangka mengendalikan diakonal yang utuh dan paripurna. Sebagai agen perubahan. GPM juga mesti tanggap dan bersikap responsif, terbuka dan mampu membangun pola berjejaring dengan semua stakeholders sebagai mitra kerja dan penyalur berkat bagi sesama. Menurut informan L. P, diakonia transformatif adalah suatu pelayanan yang dilakukan dalam kaitannya dengan pemberdayaan umat. Pelayanan harus memberikan sumbangsih sehingga umat bisa diberdayakan. Diakonia tranformatif merujuk pada upaya pemberian bantuan, tetapi di sisi lain bisa mengusahan dan memberdayakan apa yang diterima oleh Berdasarkan pengamatan informan sebagai pendeta jemaat, sejauh ini diakonia transformatif sudah di lakukan di jemat-jemaat berdasarkan anjuran dari sinode dan klasis. Diakonia transformatif sudah tertuang dalam PIP-RIPP GPM. Aksentuasi PIP-RIPP tentunya lebih nampak pada perencanaan di jemaat. Di jemaat-jemaat ada banyak bentuk diakonia transformatif. Diakonia transformatif menjadi kebutuhan jemaat karena melalui program-program yang di selenggarakan, jemaat tertolong dalam memerangi segala masalah-masalah seperti kemiskinan, minimnya pendidikan, pelanggaran HAM dll. Program-program dari sinode-klasis-jemaat menolong umat untuk diberdayakan. 37 Hal ini sangat nyata di rasakan sehingga diakonia tranformatif sebagai sikap kritis yang di tindaklanjuti oleh GPM hadir memberikan ruang bagi pengembangan dan pemberdayaan Elizabeth Marantika dkk. Delapan Dekade GPM, 171. Elizabeth Marantika dkk. Delapan Dekade GPM, 172-173. M (Anggota Jemaat GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 25 November 2022. S (Anggota Jemaat GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 25 November Teologi-Etika Solidaritas dalam Diakonia Transformatif Gereja Protestan Maluku Meike Lely Lewankoru umat sekaligus membawa umat umat serta membantu umat keluar dari belenggu-belenggu masalah kemiskinan ekonomi, pendidikan. HAM, dan lain sebagainya. Diakonia transformatif GPM diwujudkan melalui berbagai program, seperti: Diakonia tranformatif mencakup tindakan-tindakan konkret, berupa pemberdayaan kelompok-kelompok usaha, pemberian beasiswa, pengembangan bahan pangan lokal, dan pengembangan musik etnik. Diakonia tranfromatif bagi informan adalah hal yang sangat penting. Karena melalui diakonia transformatif yang diterapkan, umat dapat diberdayakan, agar tidak pasif tapi aktif dan tidak pesimis tapi optimis. Pelayanan diakonia bagi orang sakit, kegiatan bedah rumah, dan pemberdayaan kaum Diakonia transformatif diupayakan melalui penanggulangan hukum. HAM, dan Pada posisi ini. GPM tidak hanya melakukan diakonia karikatif seperti pemberian bantuan yang habis pakai, tetapi GPM menjadikan pendidikan sebagai sesuaatu yang sangat penting. Contohnya: Di kabupaten Aru, melalukan launching sekolah model. Sekolah-sekolah YPPK dikembangkan menjadi sekolah-sekolah yang tidak kalah saing dengan sekolah-sekolah lain. Itu adalah sebuah langkah pemberdayaan. Ketika anak-anak ada dalam pendidikan yang berkualitas di sekolah-sekolah YPPK tentunya membuat generasi gereja menjadi orang-orang yang berdaya guna dan punya 40 Selain itu, pemberdayaan dan penganan HAM (Hak Asasi Manusi. oleh GPM, diupayakan melalui tim advokat gereja yang harus hadir sebagai media untuk menaggulangi HAM yang dirampas. Oleh sebab itu, bagi informan ini merupakan bagian penting dari diakonia transformatif yang terus menyadarkan, dengan hak-hak yang dimiliki, sehingga melalui tindakan yang di lakukan oleh gereja (GPM) umat dapat turut merasakan pembebasan dan keadilan. GPM juga melakukan pemberdayaan melalui gerakan keluarga menanam, melaut dan memasarkan . M). Gerakan ini menyadarkan para pelayan dan seluruh umat atau jemaat bahwa potensi sumber daya alam yang Tuhan karuniakan untuk hidup. Oleh sebab itu mesti dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi bagi keluarga-keluarga, sehingga umat tidak hanya bergantung pada belas kasihan orang lain. 42 Output dari gerakan ini P (Pendeta GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 24 November 2022. P (Pendeta GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 24 November 2022. S (Pendeta GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 24 November 2022. S (Pendeta GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 24 November 2022. S (Pendeta GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 24 November 2022. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. adalah munculnya UKM-UKM di jemaat-jemaat. Harapannya diakonia tranformatif bisa dilaksanakan secara optimal dan berkontribusi bagi peningkatan kualitas hidup umat. Jelas telah terurai upaya-upaya yang dilakukan oleh Gereja Prostestan Maluku, melalui program-program pemberdayaan di setiap jemaat-jemaat, namun ada informan yang menyampaikan bahwa masih ditemukan jemaat-jemaat yang belum tersentuh dengan upaya diakonia transformatif tersebut. Namun. GPM terus ada dalam proses diakonia transformatif Karena sampai hari ini gereja terus berupaya melakukan diakonia transformatif untuk pemberdayaan umat. Besar harapan informan, dengan semua yang dilakukan gereja dalam program pelayanan bisa berdampak bagi gereja sebagai lembaga dan gereja sebagai umat. Hal ini tentunya disesuaikan dengan keberagaman karakterisik umat, persoalan umat, dan ini perlu terus diupayakan dengan konsisten agar GPM tetap menyentuh kehidupan umat dalam pelayanan. Melalui diakonia transformatif. GPM turut mengambil bagian untuk menciptakan perubahan yang radikal dan menghasilkan kualitas baru melalui program-program yang Bahkan GPM sendiri mampu menjadi sahabat dan saudara bagi sesama melalui aksi dengan kesediaan untuk bertindak dengan peduli terhadap sesama manusia, serta merangkul dunia yang penuh keadilan. Diakonia transformatif memberikan kontribusi bagi kebutuhan jemaat, dan tindakan ini berhubungan erat dengan teologi-etika solidaritas. Diakonia tranfromatif memperlihatkan sumbangsih terhadap batas-batas perbedaan, struktural, dan menciptakan keadilan serta memberdayakan umat untuk ada dalam refleksi bahwa mereka punya potensi diri yang luar biasa dan dapat menjadi saluran berkat bagi sesama yang membutuhkan. Beberapa program diakonia transformatif GPM berkaitan dengan teologi etika solidaritas. Pertama, program gerakan keluarga menanam, gerakan keluarga melaut dan keluarga memasarkan, merupakan suatu tindakan pelayanan berupa pemberdayaan dengan melihat situasi, lokasi dan kebutuhan jemaat. Hal ini sejalan dengan apa yang telah diuraikan oleh penulis bahwa perlu di perhatikan dalam teo-etika solidaritas yakni, lokasi sosial. Oleh sebab, itu dengan memperhatikan lokasi sosial, maka sinode GPM sendiri mengadakan gerakan keluarga menanam, gerakan keluarga melaut dan gerakan keluarga memasarkan. T (Pendeta GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 24 November 2022. S (Pendeta GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 24 November 2022. S (Pendeta GPM). Wawancara oleh Meike Lewankoru. Via telepon. Tanggal 24 November 2022. Teologi-Etika Solidaritas dalam Diakonia Transformatif Gereja Protestan Maluku Meike Lely Lewankoru Hal ini sangat sesuai dengan lokasi dalam wilayah GPM yang memang di kelilingi oleh daratan dengan melimpahnya SDA begitupun juga lautan. Kemudian dalam konteks GPM, hal memasarkan menjadi bagian penting karena menolong jemaat untuk menjual segala macam hasil yang telah dikelola baik di darat maupun juga di laut. Dengan demikian, terjawab bahwa tindakan diakonia tranformatif yang dilakukan oleh gereja bagi jemaat sesunggunya berhubungan erat dengan teologi-etika solidaritas. Kedua, meninjau jawaban dari informan bahwa diakonia transformatif bukan hanya merujuk pada pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya, tetapi juga mestinya merujuk pada pemberdayaan dan penaganan masalah Hak Asasi Manusia (HAM). Di sinode GPM ada tim advokat gereja yang harus hadir sebagai media untuk menaggulangi HAM yang dirampas. Menurut informan, ini menjadi bagian penting dari diakonia transformatif yang terus memperjuangkan hak-hak asasi yang dimiliki oleh umat. Oleh karenanya, melalui tindakan yang dilakukan oleh GPM, umat dapat turut merasakan pembebasan dan keadilan. Hal ini selaras dengan pandangan teologi-etika solidaritas mengenai peran yang harus di lakukan untuk mewujudnyatakan keadilan dan pembebasan bagi jemaat sebagai ciptaan Tuhan yang berharga. Ketiga. GPM dengan sangat tekun memperhatikan upaya diakonia transformatif karena ini sudah tertuang dalam PIP-RIPP GPM. Penerapannya nampak di jemaat masingmasing. Oleh karena itu diakonia tranformatif menjadi hal serius yang diperhatikan dan diterapkan karena menjawab kebutuhan jemaat di setiap masalah-masalah yang dihadapi oleh jemaat. Diakonia transformatif menjadi kebutuhan jemaat karena melalui programprogram yang di selenggarakan, jemaat tertolong dalam memerangi segala masalah-masalah seperti kemiskinan, minimnya pendidikan, pelanggaran HAM, dan seterusnya. Hal ini sangat nyata dirasakan sehingga diakonia tranformatif GPM hadir memberikan ruang bagi pengembangan dan pemberdayaan umat sekaligus membawa umat keluar dari belenggubelenggu masalah kemiskinan ekonomi, pendidikan. HAM, dan lain sebagainya. Keempat, teologi-etika solidaritas hadir dalam sikap diakonia transformatif GPM melalui pemberdayaan bahan pangan lokal. Pemberdayaan bahan pangan lokal menolong jemaat untuk menghasilkan kualitas yang baru dan turut memberikan kontribusi besar dalam hal memerangi kemiskinan yang menjadi realitas di tengah daerah Maluku. Karena berdasarkan data yang telah disinggung oleh penulis di bagian pendahuluan maka kemiskinan menjadi hal serius yang perlu ditanggapi dengan berbagai macam pemberdayaan yang dilakukan. Pemberdayaan jemaat melalui swasembada pangan lokal. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. dihrapkan dapat menolong jemaat untuk bertahan di tengah ancaman dan krisis pangan, dan dapat terus dikembangkan untuk membantu perekonomian jemaat. Dengannya, jemaat dapat mengalai perubahan kehidupan, dan dapat keluar dari keterpurukan kemiskinan melalui aksi solidaritas gereja, yaitu diakonia transformatif. KESIMPULAN Meninjau upaya diakonia transformatif Gereja Prostestan Maluku berdasarkan kajian teologi-etika solidaritas, maka dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah konkret yang diupayakan GPM melalui diakonia transformatif, sesungguhnya menjawab kebutuhan jemaat, sekaligus menegakan keadilan, kesejahteraan dan kesetaraan. GPM telah menaruh perhatian terhadap keadilan dan kesejahteraan umat, karena ini merupakan sebuah Hal ini berguna, agar persoalan kemiskinan dan ketidakadilan yang terjadi di mana-mana, mampu diatasi melalui partisipasi gereja. GPM telah mengupayakan kesejahteraan jemaat dengan melibatkan jemaat dalam berbagai program-program diakonia Jemaat tidak dijadikan sebagai objek, melainkan subjek yang turut serta berjuang dalam aksi dan keterlibatan solidaritas untuk keluar dari belenggu persoalan Melalui diakonia transformatif dalam perspektif teologi-etika solidaritas, diharapkan dapat tercipta kesetaraan karena GPM mampu hadir menjadi sahabat dan saudara bagi sesama melalui aksi nyata dengan peduli terhadap sesama manusia, serta memperjuangkan dunia yang penuh keadilan dan kesejahteraan. DAFTAR PUSTAKA