Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 ANALISIS KEUNTUNGAN RELATIF DAN TITIK IMPAS USAHATANI KACANG HIJAU DI KAWASAN TRANSMIGRASI DESA WEOE KECAMATAN WEWIKU KABUPATEN MALAKA (Relative Profit Analysis and Break Even Point of Mung Bean at Transmigration Area. Desa Weoe. Kecamatan Wewiku. Kabupaten Malak. Oleh: Yusuf Usman. Ida Nurwiana. Eman Nevianus Bureni Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Nusa Cendana Alamat E-mail Korespondensi: idanurwiana@gmail. Diterima: 12 Agustus 2024 Disetujui: 21 Agustus 2024 ABSTRACT Mung bean farming activities are often faced with low production by farmers. Farmers face a variety of problems, including annual increases in the price of labour, seeds, fertilisers, pesticides and output prices. Thus, improvements at the farm level and price stability are required. This helps to ensure increased income and profits for farmers, and will also encourage farmers to be more intensive in managing their farms. This study aims to: . Identify farmers' income from mung bean farming, . Knowing the relative profit of farmers from mung bean farming and . Knowing the break-even point obtained by farmers from mung bean farming in the Weoe Village Transmigration Area. Wewiku District. Malacca Regency. This research uses a survey method, the data used are primary data and secondary data. The research location in the Weoe Village Transmigration Area. Wewiku Sub-district. Malacca Regency was determined purposively, based on the potential for production development and the area of mung bean land. Samples were taken by simple random sampling of 60 respondents. The analysis method used income analysis. R/C ratio and Break Even Point. The results showed that, . the income obtained from mung bean farming was Rp 134,486,076 or Rp 5,655,428, -per hectare. the relative profit obtained is 3. 07, which means that the farm is economically profitable so it is feasible to develop, . the break-even point of production is 73. 77 kg, meaning that when the production amount is 73. 77 kg the mung bean farm is at the break-even point or the amount of production returns capital so that production of 875 kg/ha has exceeded the break-even point by 11 times in other words, it is profitable. While the price break-even point is Rp. 3,124/kg, meaning that when the selling price of peanuts is Rp. 3,124/kg, farmers have recovered their capital. With an average selling price of Rp. 14,683/kg, which exceeds the break-even point by more than 4 times, mung bean farming is in a profitable position. keywords: break even point, farming, income, relative profit ABSTRAK Kegiatan usahatani kacang hijau sering dihadapkan dengan rendahnya produksi yang dihasilkan oleh petani. Dalam perkembangannya, petani menghadapi berbagai masalah, antara lain, kenaikan harga upah tenaga kerja, benih, pupuk, pestisida dan harga output setiap tahunnya. Sehingga, diperlukan usaha perbaikan di tingkat usahatani dan stabilitas harga. Hal ini membantu memastikan peningkatan pendapatan dan keuntungan bagi petani, juga akan mendorong petani untuk lebih intensif dalam mengelola usahataninya. Penelitian ini bertujuan untuk: . Mengetahui pendapatan petani dari usahatani kacang hijau, . Mengetahui keuntungan relatif petani dari usahatani kacang hijau dan . Mengetahui titik impas yang diperoleh petani dari usahatani kacang hijau di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe Kecamatan Wewiku Kabupaten Malaka. Penelitian ini menggunakan metode survei, data yang digunakan adalah data primer Usman, et all. Analisis Keuntungan Relatif dan Titik Impas Usahatani Kacang. Page 110 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 dan data sekunder. Lokasi penelitian di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe Kecamatan Wewiku Kabupaten Malaka yang ditentukan secara purposive, didasarkan potensi pengembangan produksi dan luas lahan kacang hijau. Sampel diambil secara acak sederhana . imple random samplin. sebanyak 60 responden. Metode analisis menggunakan analisis pendapatan. R/C ratio dan Break Even Point. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, . pendapatan yang diperoleh dari usahatani kacang hijau sebesar Rp 134. atau Rp 5. 428, -per hektar. keuntungan relatif yang diperoleh sebesar 3,07 yang berarti secara ekonomi usahatani menguntungkan sehingga layak untuk dikembangkan, . titik impas produksi sebesar 73,77 kg, artinya pada saat jumlah produksi 73,77 kg usahatani kacang hijau berada pada titik impas atau jumlah produksi balik modal sehingga produksi sebesar 875 kg/ha telah melebihi titik impas sebesar 11 kali lipat dengan kata lain memperoleh keuntungan. Sedangkan titik impas harga sebesar Rp 3. 124/kg, artinya pada saat harga jual kacang Rp. 124/kg mencapai titik impas, petani telah memperoleh kembali modalnya. Dengan harga jual rata-rata Rp. 683/kg, yang melampaui titik impas lebih dari 4 kali lipat, usahatani kacang hijau berada pada posisi yang menguntungkan. kata kunci: keuntungan relatif, pendapatan, titik impas, usahatani PENDAHULUAN Pertanian perekonomian nasional Indonesia, dengan subsektor tanaman pangan, hortikultura, memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi pangan, pendapatan petani, penyerapan tenaga kerja, dan ekspor. Keanekaragaman hayati Indonesia mencakup tanaman pangan yang menyediakan nutrisi esensial seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air, yang penting untuk kesehatan manusia. Contoh tanaman pangan penting di Indonesia meliputi padi-padian, umbi-umbian, kacang-kacangan, dan biji-bijian (Harper dkk, 1985 dalam Rasyid. Usaha tanaman pangan harus mencapai produksi optimal dan penerimaan maksimal dengan meminimalkan biaya produksi dan meningkatkan penerimaan. Perencanaan yang baik, pengelolaan faktor produksi yang efisien, dan strategi pengendalian biaya serta peningkatan penerimaan sangat penting. Salah satu tanaman pangan yang potensial adalah kacang hijau, yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan kandungan gizi penting. Kacang hijau mudah dibudidayakan, tahan kekeringan, memiliki umur panen pendek, dan harga jual stabil (Kasno, 1. Namun, harga kacang hijau di Kecamatan Wewiku berfluktuasi. Faktor-faktor seperti musim tanam dan panen, permintaan pasar, dan biaya produksi mempengaruhi harga. Data produksi kacang hijau di Kecamatan Wewiku menunjukkan penurunan dari 489 ton pada 2019 menjadi 270 ton pada Produktivitasnya juga berfluktuasi, mempengaruhi pendapatan petani. Produktivitas nasional kacang hijau mencapai 1,2 ton/ha, tetapi di Kecamatan Wewiku hanya 0,48-0,90 ton/ha. Rendahnya produksi maupun produktivitas kacang hijau di Kecamatan Wewiku dalam perkembangannya, petani menghadapi berbagai masalah, seperti kenaikan harga upah tenaga kerja, benih, pupuk dan pestisida setiap tahunnya. Ketidakpastian harga kacang hijau juga menjadi tantangan serius, mempengaruhi keputusan petani dalam melakukan pemeliharaan tanaman kacang hijau secara optimal. Hal tersebut menyebabkan ketidakstabilan produksi, karena tidak semua petani mampu atau bersedia mengeluarkan biaya tinggi untuk pemeliharaan optimal, terutama ketika pendapatan yang dihasilkan tidak dapat menutupi biaya, maka diperlukan kajian untuk menganalisis keuntungan relatif dan titik impas dalam peningkatan produksi, pendapatan, keuntungan petani, serta mendorong pengelolaan usahatani yang lebih METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe Kecamatan Wewiku Kabupaten Malaka, mulai Bulan Maret sampai April 2024. Penentuan sampel dilakukan dalam dua tahap yaitu secara sengaja . urposive Usman, et all. Analisis Keuntungan Relatif dan Titik Impas Usahatani Kacang. Page 111 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 samplin. dan secara acak sederhana . impel random samplin. Penelitian ini menggunakan metode survei. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Pengumpulan data Analisis data menggunakan: Biaya produksi adalah semua biaya yang dikeluarkan petani kacang hijau dalam proses produksi selama satu musim, meliputi biaya tetap dan biaya variabel dirumuskan sebagai TC = TFC TVC Dimana: TC = Biaya Total TFC = Total Biaya Tetap TVC = Total Biaya Variabel Penerimaan . adalah total produksi dikali harga kacang hijau di tingkat petani (R. , dirumuskan sebagai berikut: TR = P . Dimana : TR = Total Revenue . enerimaan P = Price . Q = Quantity . umlah produks. Pendapatan (Incom. adalah penerimaan dikurangi biaya selama satu musim (R. , dirumuskan sebagai berikut: I = TR - TC Keterangan: :Pendapatan usahatani kacang (R. TR :Total Revenue . (R. TC : Total Cost . otal biay. (R. R/C Ratio adalah rasio antara penerimaan Ratnawati dkk, . yacAE yayaoyayaya = yaayayayayayayayaoyaoya yaC yaAyayaoyayao Keterangan: R . : Total penerimaan usahatani kacang hijau (R. C . : Total biaya usahatani kacang hijau (R. Kriteria: R/C ratio < 1 : Usahatani kacang hijau tidak menguntungkan sehingga tidak layak p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 R/C ratio = 1 : Usahatani kacang hijau tidak menguntungkan dan tidak merugikan. R/C ratio > 1 : usahatani kacang hijau menguntungkan sehingga layak untuk Titik Impas (Break Even Poin. merupakan tingkat aktivitas dimana suatu usahatani tidak mendapat laba dan tidak juga mengalami rugi, dirumuskan menurut Hijriani, . sebagai berikut: A Break Even Point (BEP) Unit yaAyayaoyayao yaayayayayyayayaya BEP Produksi . = yayaoyayayao yayayaoyau A Break Even Point (BEP) Rupiah yaAyayaoyayao yaayayayayyayayaya BEP Harga (Rp/k. = yayayayayyayayaya HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Hasil produksi usahatani kacang hijau di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1. Produksi Kacang Hijau di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe Selama Satu Musim. Komponen Produksi Kacang Hijau Total Produksi (K. Per Petani (K. Per Hektar (K. Sumber: Data Primer Diolah, 2024 Total produksi usahatani kacang hijau di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe sebanyak 800 kg siap dipasarkan dan produksi per petani sebesar 347 kg atau sebesar 875 kg per Hasil produksi ini bila dibandingkan dengan hasil penelitian Tani . yang sebesar 458,92 kg per hektar, masih lebih besar. Begitu juga hasil penelitian Manoe . dengan jumlah produksi sebesar 372,68 kg per hektar, masih lebih rendah dibanding dengan hasil penelitian ini. Total Biaya Produksi Total biaya produksi usahatani kacang hijau adalah sebesar Rp. 007 dengan biaya produksi per petani sebesar Rp. 117 atau Usman, et all. Analisis Keuntungan Relatif dan Titik Impas Usahatani Kacang. Page 112 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Rp. 844,- per hektar sebagaimana disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Total Biaya Produksi Usahatani Kacang Hijau di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe Selama Satu Musim. Komponen Biaya Biaya Tetap Biaya Pajak Total Biaya Produksi (R. Per Petani (R. Per Hektar (R. Biaya Penyusutan Peralatan Sub Total Biaya Variabel Biaya Benih Biaya Pupuk Biaya Pestisida Biaya Tenaga Kerja Sub Total Total (A B) Sumber: Data Primer Diolah, 2024 Pendapatan Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya. Penerimaan usahatani kacang hijau selama satu musim sebesar Rp. 083 dan per petani Rp. 551,atau sebesar Rp. 271,- per hektar, sedangkan total biaya sebesar Rp. 007 dan per petani Rp. 117,- atau Rp. 843,per hektar. Maka pendapatan usahatani kacang hijau per petani sebesar Rp. 435 atau Rp. 428,- per hektar sebagaimana disajikan pada Tabel 3. Hasil pendapatan ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan hasil penelitian Tani . yang sebesar Rp. 518,- per hektar dan Manoe . yang sebesar Rp. 484,per hektar. Hal ini disebabkan produksi usahatani kacang hijau di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe lebih besar sehingga berpengaruh pada penerimaan dan pendapatan petani. Tabel 3. Pendapatan Usahatani Kacang Hijau di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe Selama Satu Musim Uraian Jumlah (R. 1 Penerimaan 2 Biaya 3 Pendapatan Sumber : Data Primer Diolah, 2024 Keuntungan Relatif (R/C Rati. Keuntungan relatif diukur melalui rasio penerimaan atas biaya, yang menunjukkan berapa besar penerimaan yang diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan dalam produksi Per Petani (R. Per Hektar (R. usahatani kacang hijau. Dari angka rasio penerimaan atas biaya tersebut, dapat diketahui apakah suatu usahatani menguntungkan atau Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai keuntungan relatif adalah sebesar 3,07 yang > 1. Angka hasil perhitungan menunjukkan bahwa Usman, et all. Analisis Keuntungan Relatif dan Titik Impas Usahatani Kacang. Page 113 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 nilai ini lebih besar dari kriteria R/C ratio > 1, artinya secara ekonomi usahatani kacang hijau yang diusahakan petani menguntungkan sehingga layak untuk dikembangkan, dimana biaya Rp. 1,yang dikeluarkan akan mendapatkan penerimaan sebesar Rp. 3,07,- sebagai imbalannya. Hasil analisis R/C Ratio ini jika dibandingkan dengan penelitian Tetik dan Fallo . dengan nilai R/C Ratio 2,2 masih lebih besar, begitu juga hasil penelitian Manoe . dengan nilai R/C Ratio 1,6 lebih rendah dari hasil penelitian ini. Hal ini disebabkan produksi usahatani kacang hijau hasil penelitian ini jauh lebih besar dibanding 2 . penelitian tersebut. Titik Impas (Break Even Poin. Titik Impas Produksi (BEP produks. kacang hijau sebesar 73,77 kg dengan produksi sebesar 875 kg/ha, yang artinya pada saat jumlah produksi 73,77 kg usahatani kacang hijau berada pada titik impas atau jumlah produksi balik modal sehingga produksi sebesar 875 kg/ha telah melebihi titik impas sebesar 11 kali lipat atau memperoleh keuntungan. Sedangkan Titik Impas Harga (BEP harg. sebesar Rp. 124,-/kg, dengan harga jual rata-rata sebesar Rp. 683,/kg yang artinya pada saat harga jual kacang hijau Rp. 124/kg berada pada harga impas, sehingga petani telah memperoleh modalnya karena harga jual rata-rata petani sebesar Rp. 683,-/kg telah melampaui titik impas sebesar 4 kali lipat atau usahatani kacang hijau berada pada posisi sangat Hasil titik impas produksi dan titik impas harga kacang hijau ini berbeda jika dibandingkan dengan hasil penelitian Manoe . dengan titik impas produksi sebesar 230,57 kg dan titik impas harga sebesar Rp. 662/kg. Begitu juga hasil penelitian Tani . dengan hasil titik impas produksi sebesar 178,96 kg dan titik impas harga sebesar Rp. 687/kg lebih menguntungkan dibandingkan hasil penelitian ini. Hal ini disebabkan oleh harga jual kacang hijau di lokasi penelitian ini lebih tinggi, sebesar Rp. 683/kg, dibandingkan dengan harga jual di lokasi penelitian Manoe sebesar Rp. 000/kg dan di lokasi penelitian Tani yang hanya Rp. 000/kg. Perbedaan harga jual ini berpengaruh signifikan terhadap keuntungan yang diperoleh petani. p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 PENUTUP Kesimpulan Pendapatan usahatani kacang hijau di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe Kecamatan Wewiku Kabupaten Malaka selama satu musim sebesar Rp. 435,per petani atau Rp. 428,- per hektar. Keuntungan relatif usahatani kacang hijau di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe Kecamatan Wewiku Kabupaten Malaka selama satu musim sebesar 3,07, artinya Rp. 1,- biaya yang dikeluarkan oleh petani akan mendapatkan penerimaan sebesar Rp. 3,07,- sebagai imbalannya, maka secara ekonomis menguntungkan/layak untuk Break Even Point (BEP) produksi usahatani kacang hijau di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe Kecamatan Wewiku Kabupaten Malaka sebesar 73,77 kg dan Break Even Point (BEP) harga sebesar Rp. 124,- per kg. Saran Petani kacang hijau di Kawasan Transmigrasi Desa Weoe diharapkan berimbang dan pengendalian organisme pengganggu tanaman seperti hama dan penyakit, serta penggunaan benih varietas lain yang berkualitas. Kepada penyuluh maupun pemerintah agar terus mendampingi para petani dan memberikan informasi ataupun inovasi baru terkait budidaya usahatani kacang hijau. DAFTAR PUSTAKA