Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. Lomba Simulasi Code Blue Untuk Peningkatan Kualitas Resusitasi Tenaga Kesehatan Indonesia Di Sumatera Selatan Zulkifli1. Stevanus Eliansyah Handrawan2. Masagus Ahmad Rifqi Murtadho3. Syahri Banun4 1,2,3,4Department Anestesiologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Sriwijaya-RS Mohammad Hoesin. Palembang. Indonesia 1Ketua. Persatuan Dokter Anestesi Indonesia Sumatera Selatan. Indonesia *e-mail: dr. span@gmail. com1, stevanus. handrawan@gmail. com2, edhomurtadho96@gmail. syahribanun2000@gmail. Abstrak Henti jantung di rumah sakit (In-Hospital Cardiac Arrest/IHCA) merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan deteksi dan penanganan cepat untuk mencegah kematian. Protokol AuCode BlueAy dikembangkan sebagai sistem respons terstandar untuk meningkatkan keberhasilan resusitasi, namun masih terdapat kesenjangan kompetensi dan koordinasi tim dalam implementasinya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kesiapsiagaan tenaga kesehatan dalam penanganan IHCA melalui kompetisi simulasi, yang dilaksanakan dalam bentuk lomba simulasi Code Blue pada 13 Januari 2024 di PSCC Palembang dengan melibatkan 106 tim . dari berbagai rumah sakit di Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan oleh PERDATIN Sumatera Selatan bekerja sama dengan PP PERDATIN. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, dan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, dengan perlombaan yang terdiri dari babak penyisihan dan final serta dinilai oleh 40 juri dari berbagai organisasi profesi kesehatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan resusitasi jantung paru berkualitas tinggi, koordinasi tim, dan kepercayaan diri peserta dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan, serta berhasil memecahkan rekor MURI untuk peserta terbanyak dalam lomba simulasi Code Blue dengan RSUD dr. Mohammad Zayn Kabupaten Sampang sebagai juara utama, disertai pemberian penghargaan best costume dan best supporter. Dampak kegiatan ini meliputi terbentuknya jejaring profesional antar institusi kesehatan, standardisasi protokol Code Blue, dan peningkatan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi IHCA, sehingga kegiatan ini dapat menjadi model efektif untuk meningkatkan kualitas pelayanan kegawatdaruratan di rumah sakit Indonesia. Kata kunci: Code Blue. Henti Jantung. IHCA. Pengabdian Masyarakat. Simulasi Medis Abstract In-hospital cardiac arrest (IHCA) is a critical emergency requiring rapid detection and intervention to prevent mortality, and the AuCode BlueAy protocol has been developed as a standardized response system to improve resuscitation success. however, gaps in competency and team coordination still exist in its This community service activity aimed to enhance the skills and preparedness of healthcare workers in managing IHCA through a simulation competition held on January 13, 2024, at PSCC Palembang, involving 106 teams . from various hospitals across Indonesia, and organized by PERDATIN South Sumatra in collaboration with PP PERDATIN, the South Sumatra Provincial Government, and Dr. Mohammad Hoesin Central Hospital Palembang. The competition consisted of preliminary and final rounds, with evaluations conducted by 40 judges from multiple professional health organizations. The activity demonstrated significant improvements in high-quality cardiopulmonary resuscitation skills, team coordination, and participantsAo confidence in handling emergency situations, and successfully set a MURI record for the largest number of participants in a Code Blue simulation competition, with RSUD dr. Mohammad Zayn Sampang winning first place, alongside additional awards for best costume and best The impact of this activity includes the establishment of professional networks among healthcare institutions, standardization of the Code Blue protocol, and increased awareness of the importance of preparedness in facing IHCA, positioning this initiative as an effective model for improving emergency care quality in hospitals. Keywords: Cardiac Arrest. Code Blue. Community Service. IHCA. Medical Simulation P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. PENDAHULUAN Henti jantung paru adalah penghentian fungsi jantung dan pernapasan yang memadai dan dapat mengakibatkan kematian. Mekanisme listrik yang paling umum yang bertanggung jawab atas 50 hingga 80% henti jantung paru adalah fibrilasi ventrikel. Sementara itu, 20% hingga 30% merupakan penyebab disritmia yang kurang umum, meliputi Pulseless Electrical Activity (PEA), dan asistol. , . In-hospital cardiac arrest (IHCA) dikaitkan dengan risiko kematian yang tinggi, tetapi dengan tingkat mortalitas lebih rendah dibandingkan out-of hospital cardiac arrest (OHCA). Insiden henti jantung IHCA yang dilaporkan saat ini bervariasi antara institusi dan negara di seluruh dunia. Basis data henti jantung nasional telah melaporkan tingkat IHCA antara 1,2 dan 9Ae 10 per 1000 pasien rawat inap. Kejadian henti jantung dapat muncul baik pada pasien yang sedang dalam perawatan, pasien rawat jalan, pengunjung rumah sakit, ataupun pegawai yang sedang bertugas. Prinsip utama dalam penanganan henti jantung adalah mendeteksi kondisi tersebut secara dini dan memberikan respons yang cepat serta tepat guna mengembalikan fungsi jantung ke irama normal secepat mungkin. Respons yang cepat hanya dapat dicapai jika tersedia tenaga terlatih yang mampu menjalankan chain of survival secara efektif. Code blue adalah sistem kode kegawatdaruratan yang digunakan di rumah sakit dan harus segera diaktifkan ketika ditemukan individu atau pasien yang mengalami henti jantung dan paru di lingkungan rumah Kondisi ini dapat berkembang menjadi kematian mendadak jika tidak segera Meskipun demikian, henti jantung paru dapat diatasi dengan resusitasi kardiopulmoner dan/atau kardioversi atau defibrilasi, atau pemasangan alat pacu jantung. Beberapa penelitian melalukan penelitian terhadap waktu respon Code Blue terhadap luaran pada Didapatkan hasil waktu yang efektif untuk mencapai hasil pasien yaitu <5 menit. Respon pemanggilan tim code blue yang cepat dan tepat dapat mengoptimalkan hasil outcame pada pasien tergantung pada kondisi pasien. , . Implementasi sistem Code Blue di Indonesia menghadapi berbagai kendala, terutama terkait kesenjangan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan. Studi di RSUD Bari Palembang menunjukkan adanya gap yang signifikan antara kemampuan staf dengan regulasi yang ada, sehingga diperlukan pelatihan berkelanjutan untuk meningkatkan respons efektif terhadap kegawatdaruratan kardiorespirasi. Penelitian lain mengidentifikasi bahwa hanya 41,33% implementasi code blue yang konsisten dengan protokol, sehingga berdampak pada rendahnya tingkat Return of Spontaneous Circulation (ROSC) pasien. Penelitian menunjukkan bahwa pelatihan simulasi berbasis komunitas dapat meningkatkan kepercayaan diri tim code blue, keterampilan komunikasi, dan kerja sama tim secara signifikan. Implementasi mock code menggunakan simulasi in-situ terbukti efektif meningkatkan self-confidence perawat dalam menjalankan perannya . = 0,697. p = 0,. dan kemampuan komunikasi efektif . = 0,500. p = 0,. Pengalaman sukses program pengabdian masyarakat di bidang kesehatan di Indonesia menunjukkan potensi besar pendekatan community-based training. Program pelatihan berbasis komunitas terbukti feasible dan efektif dalam mengatasi kebutuhan kesehatan masyarakat yang tidak terlayani, sekaligus meningkatkan rekrutmen tenaga kesehatan minoritas dan mendorong praktik di daerah underserved. Oleh karena itu, kami menyelenggarakan lomba simulasi Code Blue yang diikuti oleh tenaga kesehatan dari rumah sakit yang tersebar di Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi dan membangun rasa percaya diri tenaga kesehatan dalam melaksanakan code blue. P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. METODE Waktu dan Lokasi Kegiatan Kegiatan lomba code blue ini dilakukan dengan di Palembang Sport and Convention Center (PSCC) Palembang. Sumatera Selatan pada 13 Januari 2024 pukul 06. 00 Ae 15. 30 WIB. Peserta dan Mitra Peserta kegiatan ini berasal dari seluruh Indonesia. PERDATIN (Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif Indonesi. Cabang Sumatera Selatan bekerja sama dengan PP Perdatin. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan RS Mohammad Hoesin Palembang untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Kegiatan diketuai oleh dr. Zulkifli. Sp. AN-TI. Subsp. TI(K). Kes. MARS. Tahapan Kegiatan Tujuan kegiatan ini digunakan sebagai wadah pelatihan, penyegaran, pembaruan, dan silaturahmi di lingkungan tenaga medis di seluruh Indonesia terutama di Sumatera Selatan. Sebelum perlombaan dimulai dilakukan technical meeting peserta sebanyak 2 kali via Zoom Meeting, yaitu pada 7 dan 11 Januari 2024. Technical meeting bersama juri pada tanggal 12 Januari 2024 via Zoom Meeting. Dan 2 kali technical meeting bersama asisten juri yaitu pada 7 dan 12 Januari 2024. Rangkaian acara : Pembukaan Pembukaan dimulai dengan registrasi peserta, laporan oleh ketua panitia dan kata Penyampaian materi code blue Penyampaian materi dan simulasi code blue disampaiakan oleh dr. Zulkifli. Sp. An-TI. Subsp. TI(K). Kes. MARS. Perlombaan Lomba terdiri dari 1 tim yang beranggotakan 5 orang . erdiri dari 1 leader, 1 kompresor, 1 airway, 1 pemberi obat, dan 1 notulen. Perlombaan terdiri dari 2 babak, yaitu babak penyisihan dan babak final. Babak pertama penyisihan masing-masing tim akan melakukan simulasi code blue. Setiap putaran akan dinilai 20 tim dan akan diambil 6 tim dengan nilai tertinggi. 6 tim dari nilai tertinggi akan masuk babak final dan melakukan simulasi code blue disertai dengan penggunaan alat defibrilator. Penilaian dilakukan dengan form penilaian (Lampiran . secara online dengan menggabungkan nilai dari kedua juri serta tingkat keberhasilan CPR . ardiopulmonary resuscitatio. Sebanyak 40 juri yang terdiri dari berbagai institusi dikerahkan. Institusi yang terlibat sebagai juri yaitu. PERDATIN. PERKI. IDAI. Hipercci (RSMH dan RS Charita. Hipgabi. IKKI, dan IPAI. Pengumuman pemenang lomba dan pemberian hadiah Dari semua kelompok peserta code blue akan dipilih sebanyak 3 juara utama, 3 juara harapan, 3 juara best costume, dan 3 juara best supporter. Penutupan Acara ditutup dengan hiburan dan flash mob. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan lomba simulasi Code Blue yang diselenggarakan oleh PERDATIN (Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesi. Cabang Sumatera Selatan bekerja sama dengan PP PERDATIN. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, dan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang berhasil mencatatkan rekor MURI sebagai lomba simulasi Code Blue dengan peserta terbanyak. Acara yang dilaksanakan di Palembang Sport and Convention Center (PSCC) P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. pada tanggal 13 Januari 2024 (Gambar . menjadi salah satu momentum penting dalam upaya peningkatan kualitas penanganan kegawatdaruratan di rumah sakit. Gambar 1. Lokasi Kegiatan Rangkaian acara dimulai dengan registrasi peserta pada pukul 06. 00 WIB, dilanjutkan dengan pembukaan resmi yang meliputi menyanyikan lagu Indonesia Raya dan MARS PERDATIN, serta sambutan dari berbagai pihak termasuk Ketua Panitia, perwakilan MURI, dan PJ Gubernur Sumatera Selatan. Sebelum kompetisi dimulai, peserta mendapatkan penyegaran materi dan simulasi Code Blue dari dr. Zulkifli. Sp. An-TI. Subsp. TI(K). Kes. MARS yang juga menjabat sebagai Ketua PERDATIN Sumatera Selatan. Babak penyisihan berlangsung dari pukul 09. 00 WIB dengan format 20 tim per putaran dan durasi 30 menit untuk setiap putaran. Penilaian dilakukan oleh 40 juri dari berbagai organisasi profesi kesehatan termasuk PERDATIN. PERKI. IDAI. HIPERCCI. HIPGABI. IKKI, dan IPAI. Setelah istirahat makan siang, diumumkan 6 tim terbaik yang melaju ke babak final yang berlangsung pukul 13. 00 WIB dengan format soal dinamis untuk menguji kemampuan tim dalam situasi kegawatdaruratan yang berbeda-beda. Lomba Code Blue ini diikuti oleh 530 tenaga kesehatan yang terbagi dalam 106 tim dengan komposisi 5 anggota per tim . leader, 1 kompresor, 1 airway, 1 pemberi obat, dan 1 Peserta berasal dari berbagai rumah sakit di seluruh Indonesia, dengan distribusi geografis yang luas mencakup Sumatera. Jawa, dan Kalimantan. Keragaman peserta ini menunjukkan tingginya minat dan kesadaran tenaga kesehatan terhadap pentingnya keterampilan Code Blue dalam penanganan kegawatdaruratan. Berdasarkan hasil analisis data penilaian babak final (Tabel . , terlihat bahwa tim pemenang memiliki keunggulan signifikan dalam aspek kualitas resusitasi jantung paru (RJP) yang diukur menggunakan manekin high-fidelity. Peringkat Juara 1 Juara 2 Juara 3 Juara Harapan 1 Juara Harapan 2 Tabel 1. Hasil Penilaian Tim Finalis Lomba Code blue. Nilai Kualitas RJP Tim Juri (%) RSUD dr. Mohammad Zayn Kabupaten Sampang RS Abdul Manap Jambi RSUD Dr. Mohammad Rabain Muara Enim Tim 2 RS Pertamina Prabumulih 2 RSUD Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan Tim 4 Total Nilai Analisis data menunjukkan bahwa rata-rata nilai juri untuk 6 tim finalis (Gambar . adalah 90,2 dengan nilai tertinggi 97,5 (RSUD dr. Mohammad Zayn Kabupaten Sampan. dan nilai terendah 75,5 (RS Pertamina Prabumulih . Sementara itu, rata-rata kualitas RJP adalah 17,8%, dengan hanya 4 dari 6 tim finalis yang berhasil mencapai nilai kualitas RJP di atas 0%. Hal P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. ini mengindikasikan bahwa meskipun pemahaman teoritis tentang protokol Code Blue sudah baik, masih terdapat kesenjangan dalam implementasi teknis RJP berkualitas tinggi yang sesuai dengan standar American Heart Association (AHA). Kegiatan lomba Code Blue ini memberikan dampak signifikan dalam beberapa aspek: Peningkatan Kompetensi Tenaga Kesehatan: Melalui lomba ini, peserta mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan resusitasi dalam lingkungan kompetitif yang mensimulasikan tekanan situasi kegawatdaruratan nyata. Berdasarkan studi serupa di RSUD Cut Meutia Aceh Utara, pelatihan Code Blue terbukti meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan sebesar 19,94 poin . ari 71,5 menjadi 91,. Pembentukan Jejaring Profesional: Dengan peserta dari berbagai rumah sakit di Indonesia, kegiatan ini memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengalaman antar institusi kesehatan, yang berpotensi meningkatkan kolaborasi dalam pengembangan sistem tanggap darurat di masa depan. Dibandingkan dengan kegiatan pelatihan Code Blue konvensional, lomba simulasi Code Blue ini memiliki skala yang jauh lebih besar dengan 530 peserta. Pendekatan kompetitif dalam format lomba juga memberikan dimensi motivasional yang tidak ditemukan dalam pelatihan Penelitian oleh Irawan et al. menunjukkan bahwa 56,4% tim Code Blue memiliki perilaku baik dalam implementasi Bantuan Hidup Dasar (BHD), dengan 64,1% memiliki pengetahuan baik dan 87,2% memiliki sikap positif. Lomba simulasi Code Blue ini memberikan kesempatan untuk mengukur dan meningkatkan ketiga aspek tersebut secara simultan melalui penilaian komprehensif yang mencakup aspek teoritis dan praktis. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah terselenggaranya kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk perlombaan code blue bagi tenaga kesehatan, yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian akibat IHCA serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Tahap akhir dari pelaksanaan kegiatan ini berupa pembuatan laporan pertanggungjawaban kegiatan pencatatan rekor MURI dengan peserta terbanyak lomba simulasi code blue (Gambar 4 dan . Peserta juga dapat mengintegrasikan standar kualitas Code Blue yang digunakan dalam lomba ke dalam program akreditasi rumah sakit, sehingga menjadi bagian dari peningkatan penilaian kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Gambar 2. Pelaksanaan Lomba Gambar 3. Pemenang Lomba P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. Gambar 4. Penganugerahan Rekor MURI Gambar 5. Publikasi Kegiatan di Media Elektronik KESIMPULAN Kegiatan lomba simulasi Code Blue terbukti menjadi sarana edukatif dan pengabdian masyarakat yang efektif dalam meningkatkan keterampilan teknis, kesiapsiagaan, serta kepercayaan diri tenaga kesehatan dalam menangani kejadian henti jantung di rumah sakit. Hal ini tercermin dari hasil evaluasi kompetensi peserta yang menunjukkan peningkatan kemampuan dalam menerapkan protokol resusitasi secara tepat dan cepat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya kerja tim, komunikasi efektif antarprofesi, serta pengambilan keputusan klinis yang berbasis situasi kegawatdaruratan. Keberhasilan acara ini turut dibuktikan melalui pencapaian Rekor MURI sebagai lomba simulasi Code Blue dengan jumlah peserta terbanyak di Indonesia, serta tingginya antusiasme dan partisipasi dari berbagai rumah sakit, baik dari institusi pemerintah maupun swasta di seluruh penjuru tanah air. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pelatihan kegawatdaruratan seperti ini tidak hanya relevan, tetapi juga sangat dibutuhkan sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan nasional secara berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Tim perdatin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam membantu sehingga kegiatan ini dapat berjalan lancar. Banyak pihak yang terlibat dalam pendanaan kegiatan yaitu PT. Philips Indonesia. PT. Berca Niaga Medika. PT. IdsMed Indonesia. Bernofarm. PT. Bank Mandiri (Perser. Tbk. PT. Lynas Medikal. PT. ITS Science. PT. BRI. PT. Draeger Medical. PT. Global Medik Persada. Laboratorium Prodia. PT. Surgika, serta Perdatin P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. Cabang Sumatera Selatan. Pengadaan alat peraga dan kontrapretasi dalam bentuk barang juga banyak dibantu oleh berbagai pihak yakni Tawada. Philips. Mindray. Surgika. Glomeda. IdsMed. RS Charitas Palembang. RSUD Palembang Bari. RS Bhayangkara. RS Islam Siti Khodijah Palembang. RS Muhammadiyah Palembang. RS Siloam Sriwijaya. Dinkes Provinsi Sumatera Selatan. FK Universitas Sriwijaya. BeningAos Clinic. Implora Cosmetics, dan Dettol. DAFTAR PUSTAKA