Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Hubungan Kehamilan Remaja terhadap Kejadian Stunting pada Bayi di Rumah Sakit YARSI Periode Januari 2023 Ae Desember 2023 dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam The Relationship between Teenage Pregnancy and Stunting Incidents in Infants at YARSI Hospital in the Period January 2023 Ae December 2023 and Review According to Islamic Perspective Alisa Fidelia Putri1. Wan Nedra2. Firman Arifandi3. Elsye Souvriyanti2 1Fakultas Kedokteran. Universitas YARSI. Jakarta Indonesia 2Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia 3Bagian Agama Fakultas Kedokteran. Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia Email : alisafideliap@gmail. KATA KUNCI stunting, kehamilan remaja, bayi, maqashid al-shariah ABSTRAK Pendahuluan: Pada tahun 2022, prevalensi stunting di Provinsi DKI Jakarta adalah sebesar 14. Stunting pada bayi laki-laki ditandai dengan PB O 46,1 cm dan pada bayi perempuan O 45,4 Salah satu faktor risiko stunting yaitu kehamilan remaja. Indonesia, angka perkawinan usia dini masih cukup tinggi sehingga berdampak pada peningkatan angka kehamilan remaja. Al-QurAoan dan sunnah tidak mengatur secara konkrit mengenai batas usia melangsungkan pernikahan. Akan tetapi, hal ini dapat ditinjau dari konsep maqashid al-shariah untuk menghindari kemudharatan yang akan ditimbulkan. Dengan demikian, penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui hubungan kehamilan remaja terhadap kejadian stunting di RS YARSI tahun 2023 dan tinjauannya menurut pandangan Islam. Metodologi: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah case control dengan populasi berjumlah 1801 kelahiran di RS YARSI tahun Penetapan sampel menggunakan simple random sampling dengan besar sampel sebanyak 95 bayi stunting dan 95 bayi tidak Data dikumpulkan melalui rekam medis elektronik kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square menggunakan bantuan software SPSS versi 29. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan kehamilan remaja terhadap kejadian stunting pada bayi di Rumah Sakit YARSI periode Januari 2023 Ae Desember 2023 dengan p-value = 0,534 dan OR = 1,810 . % CI 0,512-6,. Simpulan: Kehamilan remaja merupakan salah satu faktor tidak langsung yang menyebabkan stunting pada bayi. Terdapat faktor risiko lain yang menyebabkan stunting, meliputi tinggi badan ibu, pemenuhan nutrisi, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan ekonomi ibu. Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Meskipun demikian, hasil penelitian ini menyatakan bahwa kehamilan remaja tetap berisiko 1,810 kali lebih tinggi menyebabkan stunting. KEYWORDS stunting, teenage pregnancy, infant, maqashid al-shariah ABSTRACT Introduction: In 2022, the prevalence of stunting in DKI Jakarta Province was 14. Stunting in baby boys is characterized by a height of O 46. 1 cm and in baby girls O 45. 4 cm. One of the risk factors for stunting is teenage pregnancy. In Indonesia, the rate of early marriage is still quite high, which has an impact on increasing the rate of teenage The Qur'an and Sunnah do not specifically regulate the age limit for marriage. However, this can be reviewed from the concept of maqashid al-shariah to avoid the harm that will be caused. Thus, this study was conducted to determine the relationship between teenage pregnancy and the incidence of stunting at YARSI Hospital in 2023 and its review according to Islamic perspective. Method: The method used in this study was case control with a population of 1801 births at YARSI Hospital in 2023. The sample determination used simple random sampling with a sample size of 95 stunted babies and 95 non-stunted Data were collected through electronic medical records and then analyzed using the Chi-Square test using SPSS software version 29. Result: This study found that there was no relationship between teenage pregnancy and the incidence of stunting in infants at YARSI Hospital in the period January 2023 - December 2023 with a p-value = 0,534 and OR = 1. % CI 0. Conclusion: Teenage pregnancy is one of the indirect factors that causes stunting in infants. There are other risk factors that cause stunting, including maternal height, nutritional fulfillment, education level, work, and mother's economy. However, the results of this study state that teenage pregnancy still has a 1,810 times higher risk of causing stunting. PENDAHULUAN Saat ini, stunting menjadi salah satu masalah kesehatan global yang menarik perhatian banyak praktisi di bidang kesehatan. Alasan kuat yang masalah serius pada anak di seluruh dunia yang memiliki efek negatif jangka panjang, seperti penurunan produktivitas (Syafrawati et al. , 2. Stunting diartikan sebagai kondisi yang dialami oleh anak usia di bawah 5 tahun dengan ukuran panjang atau tinggi badan < - 2 standar deviasi dari standar pertumbuhan rata-rata yang telah ditetapkan oleh WHO. Stunting dapat menjadi penanda risiko tumbuh kembang yang buruk pada anak, terlebih apabila stunting terjadi pada anak di bawah usia 2 tahun (Laksono et , 2. Pada usia 0 bulan, bayi lakilaki tergolong stunting apabila panjang badan O 46,1 cm sedangkan bayi perempuan tergolong stunting apabila panjang badan O 45,4 cm (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Pada tahun 2020, terdapat 149,2 juta anak usia di bawah 5 tahun mengalami stunting (WHO dalam Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Menurut hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka kejadian stunting di Indonesia pada tahun 2022 sebanyak 21,6%. Adapun prevalensi stunting di provinsi DKI Jakarta pada tahun 2022 adalah sebesar 14,8% (Munira, 2. Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting adalah kehamilan di usia remaja, anemia pada ibu hamil, berat badan lahir rendah (BBLR). ASI pemberian MPASI yang tidak tepat, dan terserang infeksi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 mengatur terkait batasan usia bagi lakilaki dan perempuan yang diizinkan untuk melangsungkan perkawinan, yaitu minimal 19 tahun. Pada usia ini, laki-laki dan perempuan diharapkan sudah siap jiwa dan raga, mampu mencapai tujuan perkawinan, menekan menurunkan angka kematian pada ibu dan anak, serta dapat memenuhi semua hak yang dimiliki oleh anak untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal (Pemerintah Pusat, 2. Angka kejadian pernikahan dini di dunia mencapai 650 juta orang dengan prevalensi di Indonesia pernikahan dini di dunia (UNICEF . dalam Yulyani et al. , 2. Pada tahun 2018, prevalensi perkawinan anak di Indonesia adalah sebesar 11,21% (UNICEF Indonesia et al. , 2. Cukup tinggi nya angka perkawinan anak dapat meningkatkan risiko terjadi nya kehamilan remaja. Mengacu pada definisi yang telah ditetapkan oleh WHO, remaja adalah seseorang dengan rentang usia 10-19 tahun (UNICEF, 2. Pada usia remaja, tubuh sedang dalam proses perkembangan (Ghose & John, 2. Selain itu, organ reproduksi pada remaja juga belum berfungsi secara sempurna (Kurniawati. Sujiyatini, & Saputro, 2. Beberapa dampak yang dapat dirasakan oleh ibu dengan kehamilan remaja, yaitu anemia pada ibu, ketuban pecah dini prematur, bayi lahir prematur, dan bayi mengalami berat badan lahir rendah (BBLR) (Maheshwari et al. , 2. Kehamilan remaja berisiko 3,562 kali lebih tinggi menyebabkan stunting pada anak usia 2-3 tahun dibandingkan ibu berusia 2035 tahun (Kurniawati. Sujiyatini, & Saputro, 2. Meskipun tidak terdapat dalil yang secara konkrit menyebutkan batasan usia untuk melangsungkan perkawinan, tetapi terdapat tinjauan mengenai usia ideal sesuai dengan konsep maqasid al-shariAoah. Maqashid alshariah berarti tujuan ditetapkannya berbagai aturan Allah sesuai dengan akidah dan hukum Islam untuk mencapai suatu kebaikan (Helim. Beberapa hal di atas menjadi latar belakang dilakukannya penelitian mengenai hubungan kehamilan remaja terhadap kejadian stunting pada bayi di rumah sakit YARSI periode Januari 2023 Ae Desember 2023 dan pandangan maqashid al-shariah tentang usia perkawinan sebagai upaya pencegahan METODOLOGI Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan metode case control. Populasi pada penelitian ini Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 adalah semua kelahiran yang terjadi di rumah sakit YARSI periode Januari 2023 Ae Desember 2023 yang berjumlah 1801 kelahiran. Penetapan sampel menggunakan metode simple random sampling dan besar sampel ditetapkan Slovin. Didapatkan besar sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 95 bayi kelompok kasus . ayi stuntin. dan 95 bayi kelompok kontrol . ayi tidak stuntin. yang memenuhi kriteria Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah bayi lahir di RS YARSI pada tahun 2023, bayi lahir cukup bulan . , dan bayi memiliki data panjang atau tinggi badan, berat badan, serta usia ibu di dalam rekam Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah bayi yang dilahirkan oleh ibu yang memiliki penyakit komorbid dan bayi dengan data rekam medis yang sebagai sumber data penelitian. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang dikumpulkan dengan menggunakan rekam medis elektronik kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square menggunakan bantuan software SPSS HASIL Karakteristik Ibu Diperoleh data bahwa pada kelompok kasus . ayi stuntin. terdapat 7 ibu . ,7%) yang berusia < 20 tahun dan 88 ibu . ,3%) yang berusia Ou 20 tahun. Sedangkan pada kelompok . ayi didapatkan sebanyak 4 ibu . ,1%) yang berusia < 20 tahun dan 91 ibu . ,9%) yang berusia Ou 20 tahun. Pada penelitian ini, total ibu yang hamil di usia remaja adalah sebanyak 11 ibu . ,8%) dan total ibu yang tidak tergolong kehamilan remaja adalah sebanyak 179 ibu . ,2%). Pada penelitian ini, didapatkan data bahwa sebanyak 31 ibu . ,3%) pada kelompok kasus memiliki kadar hemoglobin < 11 g/dL dan sebanyak 64 ibu . ,7%) memiliki kadar hemoglobin Ou 11 g/dL. Adapun pada kelompok kontrol diperoleh sebanyak 17 ibu . ,9%) memiliki kadar hemoglobin < 11 g/dL dan sebanyak 78 ibu . ,1%) memiliki kadar hemoglobin Ou 11 g/dL. Total ibu yang mengalami anemia pada dua kelompok di penelitian ini . elompok kasus dan kelompok kontro. yaitu berjumlah 48 ibu . ,3%) dan total ibu yang tidak mengalami anemia yaitu 142 ibu . ,7%). Tabel 1 Distribusi frekuensi karakteristik ibu Variabel Kasus* Karakteristik Ibu Usia < 20 tahun Ou 20 tahun Kadar Hemoglobin < 11 g/dL Ou 11 g/dL Total Keterangan: = Stunting Kontrol** Total Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 ** = Tidak stunting Karakteristik Bayi Diperoleh data terkait usia kelahiran bayi pada dua kelompok sampel penelitian. Pada kelompok kasus . ayi stuntin. , terdapat 72 bayi . ,9%) yang lahir pada usia kehamilan 38 minggu, 15 bayi . ,9%) pada usia kehamilan 39 minggu, 5 bayi . ,6%) pada usia kehamilan 40 minggu, dan 3 bayi . ,6%) pada usia kehamilan 41 Adapun pada kelompok kontrol . ayi tidak stuntin. , terdapat 56 bayi . ,5%) yang lahir pada usia kehamilan 38 minggu, 16 bayi . ,4%) pada usia kehamilan 39 minggu, 19 bayi . %) pada usia kehamilan 40 minggu, dan 4 bayi . ,1%) pada usia kehamilan 41 minggu. Jumlah bayi pada dua kelompok dalam penelitian ini yang lahir pada usia kehamilan 38 minggu adalah sebanyak 128 bayi . ,4%), lahir pada usia kehamilan 39 minggu sebanyak 31 bayi . ,3%), lahir pada usia kehamilan 40 minggu sebanyak 24 bayi . ,6%), dan yang lahir pada usia kehamilan 41 minggu sebanyak 7 bayi . ,7%). Dalam penelitian ini, pada kelompok kasus diperoleh data yaitu terdapat 61 bayi . ,1%) laki-laki dan 34 bayi . ,9%) perempuan. Kemudian pada kelompok kontrol didapatkan sebanyak 56 bayi . ,5%) laki-laki dan 39 bayi . ,5%) perempuan. Jumlah bayi laki-laki pada dua kelompok dalam penelitian ini adalah sebanyak 117 bayi . ,6%) dan jumlah bayi perempuan sebanyak 73 bayi . ,4%). Tabel 2 Distribusi frekuensi karakteristik bayi Variabel Kasus* Karakteristik Bayi Usia Kelahiran 38 minggu 39 minggu 40 minggu 41 minggu Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Keterangan: = Stunting ** = Tidak stunting Hubungan Kehamilan Remaja terhadap Kejadian Stunting Hasil menyatakan bahwa ibu dengan kehamilan remaja yang memiliki anak stunting berjumlah 7 orang . ,6%) dan ibu dengan kehamilan remaja yang memiliki anak tidak stunting berjumlah Kontrol** Total 4 orang . ,4%). Kemudian, ibu bukan kehamilan remaja yang memiliki anak stunting berjumlah 88 orang . ,2%) dan ibu bukan kehamilan remaja yang memiliki anak tidak stunting berjumlah 91 orang . ,8%). Hasil uji Chi-Square antara . ehamilan Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 dan variabel dependen . menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Didapatkan p-value = 0,534 . > 0. yang mengindikasikan bahwa H1 ditolak dan H0 diterima. Dalam penelitian ini, dinyatakan tidak terdapat hubungan kehamilan remaja terhadap kejadian stunting pada bayi di Rumah Sakit YARSI periode Januari 2023 Ae Desember 2023. Meskipun demikian, pada penelitian ini diperoleh hasil analisis odds ratio = 1,810 yang berarti kehamilan remaja terbukti berisiko 1,810 kali lipat menyebabkan terjadinya stunting pada bayi. Tabel 3 Hubungan kehamilan remaja terhadap kejadian stunting pada bayi di rumah sakit yarsi periode januari 2023 Ae desember 2023 Kehamilan Remaja Bukan Kehamilan Remaja Kejadian Stunting Tidak Stunting PEMBAHASAN Berdasarkan analisis statistik yang telah dilakukan, diperoleh data terkait gambaran kehamilan remaja di RS YARSI periode Januari 2023 Ae Desember 2023. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa angka kehamilan remaja pada kelompok kasus . ayi stuntin. maupun pada kelompok kontrol . ayi tidak stuntin. tergolong Pada kelompok kasus, jumlah ibu berusia < 20 tahun adalah sebanyak 7 ibu . ,7%) dan pada kelompok kontrol sebanyak 4 ibu . ,1%). Total ibu dengan kehamilan remaja pada dua kelompok ini hanya berjumlah 11 ibu . ,8%). Sedangkan ibu yang berusia Ou 20 tahun berjumlah lebih banyak, yaitu 88 ibu . ,3%) pada kelompok kasus . ayi stuntin. dan 91 ibu . ,9%) pada kelompok kontrol . ayi tidak stuntin. Adapun total ibu yang bukan kehamilan remaja adalah sebanyak 179 ibu . ,2%). Ditinjau dari statistik, jumlah ibu dengan kehamilan remaja Total p-value 0,534 1,810 memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan jumlah ibu yang bukan kehamilan remaja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan kehamilan remaja terhadap kejadian stunting di Rumah Sakit YARSI periode Januari 2023 Ae Desember 2023 dengan p-value = 0,534 dan OR = 1,810 . % CI 0,5126,. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Syah. Kandarina, & Wahab. Diperoleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kehamilan remaja dengan kejadian stunting dan wasting . -value = 0,39 OR = 1,. Hal ini mungkin terjadi disebabkan oleh kesiapan ibu dalam mengunjungi kebutuhan gizi, serta terdapat faktor penentu pertumbuhkembangan lain seperti faktor ekonomi dan pola asuh. Kendati Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 dilakukan strategi penurunan angka kehamilan remaja melalui penyuluhan bahaya pernikahan dini supaya kondisi kesehatan masyarakat terus meningkat (Syah. Kandarina, & Wahab, 2. Erlinda . telah melakukan penelitian serupa dengan sampel balita dan didapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara riwayat kehamilan remaja dengan stunting . = 0,. Terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya stunting, seperti faktor ekonomi, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pemberian ASI eksklusif (Erlinda, 2. Kemudian penelitian Trisyani et al. faktor-faktor pada ibu yang berisiko menyebabkan kondisi stunting pada Pada penelitian ini, didapatkan hasil bahwa usia ibu hamil tidak berhubungan dengan kejadian stunting . = 0,. Hal tersebut mungkin disebabkan karena usia ibu merupakan faktor tidak langsung yang dapat Selain itu, masih banyak faktor utama terjadinya stunting seperti asupan makanan bergizi, infeksi. ASI eksklusif, berat badan saat lahir, serta tingkat ekonomi (Trisyani et al. , 2. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Pangaribuan et yang telah dilakukan pada tahun Di dalam penelitian tersebut menunjukkan p-value = 0,000 yang berarti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kehamilan remaja dengan kejadian stunting pada bayi di Desa Bangun Rejo. Ibu dengan kehamilan remaja berisiko untuk melahirkan bayi prematur dan BBLR. Pengetahuan serta pengalaman untuk mengurus bayi yang dimiliki oleh ibu dengan kehamilan remaja juga masih Selain itu, pertumbuhan dan perkembangan fisik ibu masih tetap Hal ini dapat mengganggu proses metabolisme tubuh ibu dan pemenuhan asupan nutrisi untuk janin (Pangaribuan et al. , 2. Penelitian selanjutnya yang tidak mendukung hasil dari penelitian ini yaitu penelitian yang telah dilakukan oleh Putri. Arlenti, & Zainal tahun 2023 di Puskesmas Ulu Talo Kabupaten Seluma. Hasil uji analisis bivariat menunjukkan p-value = 0,001 dengan OR = 5,09. Pada penelitian ini dijelaskan bahwa kehamilan remaja memiliki hubungan yang signifikan dalam meningkatkan risiko terjadinya Ibu berusia < 19 tahun . ehamilan remaj. berisiko 5 kali lipat lebih tinggi melahirkan balita stunting dibandingkan dengan ibu berusia > 19 tahun . sia reproduksi norma. Dampak lain yang mungkin timbul akibat kehamilan remaja adalah terkait masalah kesehatan ibu dan bayi yang buruk, masalah saat persalinan, status gizi yang buruk. KDRT, pendidikan yang rendah, kemiskinan, serta tingkat produktivitas yang menurun (Putri. Arlenti, & Zainal, 2. Rosyida. Widyaningsih. Gayatri telah melakukan penelitian terkait stunting pada tahun 2023 dan didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan mengenai kehamilan remaja terhadap kejadian stunting . = 0,578 OR = 1,. Faktor risiko lain yang berpengaruh dalam kejadian stunting pada anak meliputi penambahan berat badan selama kehamilan dan tinggi badan ibu. Ibu dengan penambahan berat badan < 10 kg selama kehamilan memiliki risiko 2,948 kali lebih tinggi untuk melahirkan anak stunting . value = 0,. Adapun ibu yang Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 memiliki tubuh pendek dengan tinggi < 150 cm berisiko 2. 937 kali lipat lebih tinggi melahirkan anak stunting (Rosyida. Widyaningsih, & Gayatri. Penyebab terjadinya stunting antara lain adalah kebutuhan gizi yang tidak terpenuhi dalam kurun waktu yang lama . , asupan gizi dan tingkat kesehatan ibu yang tidak baik, adanya riwayat penyakit berulang, serta pola makan yang tidak adekuat untuk bayi dan anak (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Beberapa hal yang berhubungan dengan kejadian stunting pada bayi baru lahir, yaitu jenis kelamin bayi, berat badan bayi saat lahir, ibu bertubuh pendek, ibu mengalami gizi buruk yang kronis, dan season of conception (Gonete et al. , 2. Selanjutnya, ada beberapa faktor lain yang juga terbukti signifikan terhadap kejadian stunting, yakni jarak kelahiran terlalu dekat (< 2 tahu. BBLR, asupan makan tidak beragam dan keamanan pangan yang rendah, serta lingkar lengan atas ibu < 23 cm (Ejigu, & Tafese. Faktor pemenuhan asupan makanan untuk bayi, penyakit infeksi, dan karakteristik bayi/anak seperti jenis kelamin, berat badan saat lahir, dan pola makan. Sedangkan faktor risiko tidak langsung kejadian stunting antara lain ASI tidak kesehatan, dan karakteristik keluarga seperti tingkat ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan (Yani et al. , 2. Meskipun dalam hasil penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan kehamilan remaja terhadap kejadian stunting di Rumah Sakit YARSI periode Januari 2023 Ae Desember 2023 . = 0,534 dan OR = 1,. , tetapi ibu yang hamil pada usia remaja terbukti berisiko 1,8 kali lebih tinggi melahirkan anak Untuk itu, diperlukan kewaspadaan dan dukungan seluruh melangsungkan perkawinan di usia dewasa dan matang guna menghindari risiko terjadinya stunting akibat kehamilan remaja sehingga dapat tercipta generasi yang sehat, cerdas, dan bersinergi di Indonesia. Dalam Islam, terdapat sebuah konsep yang dikenal dengan maqashid al-shariah. Maqashid al-shariah berarti tujuan atau hasil yang diinginkan sebagai akibat ditegakkannya berbagai macam aturan dan hukum dalam agama Allah Swt. Terdapat 5 unsur dasar dalam pembagian maqashid alshariah, al-din . emeliharaan agam. , muhafazah alnafs . emeliharaan jiw. , muhafazah alAoaql . emeliharaan aka. , muhafazah alnasl/al-nasb . emeliharaan keturuna. , dan muhafazah al-mal . emeliharaan hart. (Helim, 2. Apabila ditinjau dari sudut pandang maqashid al-shariah, maka dilangsungkannya perkawinan dan dampak apa yang mungkin timbul akibat perkawinan yang terlalu dini. Menurut Jamaluddin Atiyyah dalam Rohman . , tujuan dari pernikahan antara lain untuk menegakkan aturan bagi setiap laki-laki dan perempuan mengenai hak dan kewajibannya sebagai seorang suami ataupun istri, mendapatkan dzuriyyah, mewujudkan keluarga yang penuh ketenteraman cinta, kasih sayang, serta kedamaian, menjaga nasab, menghargai nilai-nilai pernikahan, memberikan arah dalam menjalin kekerabatan yang baik, serta Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 lebih memperhatikan perekonomian keluarga (Rohman, 2. Kendati di dalam hukum Islam tidak ditetapkan batas usia absolut untuk melangsungkan perkawinan, memastikan kembali apakah ia sudah memasuki usia yang matang dan kemaslahatan yang akan dicapai dan kemudharatan (Supyan, 2. Berdasarkan mengenai berbagai kemaslahatan dan kemudharatan yang ada, maka ditarik kesimpulan bahwa usia minimal bagi laki-laki perkawinan adalah minimal 25 tahun sedangkan bagi perempuan adalah minimal 20 tahun. Pada usia ini, baik laki-laki perempuan dianggap sudah layak, dewasa, dan mampu secara agama, fisik, mental, emosional, sosial, dan berbagai aspek penting lainnya. Kedua calon pasangan pun diharapkan sudah mampu memenuhi tanggung jawab membangun keluarga yang sesuai syariAoat Islam, serta mampu untuk mencapai tujuan pernikahan (Rohman. SIMPULAN Pada penelitian ini, tidak terdapat hubungan kehamilan remaja terhadap kejadian stunting pada bayi di Rumah Sakit YARSI periode Januari 2023 Ae Desember 2023 dengan hasil pvalue = 0,534. Meskipun demikian, hasil analisis menunjukkan bahwa ibu dengan kehamilan remaja berisiko melahirkan bayi stunting dengan OR = 1,810 . % CI 0,512-6,. Dengan perkawinan oleh perempuan dengan usia Ou 20 tahun menunjukkan bahwa telah dilakukan upaya pencegahan stunting dengan tidak melakukan perkawinan dini yang berpotensi meningkatkan angka kehamilan remaja dan berisiko menimbulkan stunting pada bayi yang dilahirkan. Dalam perspektif maqashid al-shariah tindakan ini bertujuan untuk memelihara jiwa dan memelihara keturunan. DAFTAR PUSTAKA