Volume 5 No. Tahun 2025 Halaman 1 Ae 12 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Nilai-Nilai Kearifan Lokal Pada Tradisi Upacara Kasada Sebagai Sumber Pembelajaran IPS Shinta Dewi Kusumaningrum . Wiwik Sri Utami . Riyadi . Dian Ayu Larasati . Program Studi S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya Abstrak Era 4. 0 atau era digital memberikan tantangan baru yang berpotensi mengikis nilai-nilai budaya bangsa. Oleh karena itu, diperlukan adanya sebuah pembelajaran yang dapat berperan untuk menanamkan kembali nilai-nilai kearifan lokal guna memperkuat karakter generasi muda agar memiliki kesadaran budaya dan menghadapi dampak negatif Masyarakat Suku Tengger yang tetap mempertahankan tradisi upacara Kasada menjadi contoh nyata pelestarian nilai-nilai budaya lokal di tengah arus kemajuan teknologi seperti saat ini. Dengan mengintegrasikan nilainilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi upacara Kasada sebagai sumber pembelajaran IPS diharapkan tercipta pembelajaran IPS yang menarik dan tidak membosankan serta dapat membuat peserta didik lebih mengenal budaya lokal yang ada di daerahnya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Upacara Kasada memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang meliputi nilai religi, nilai sosial, nilai budaya, nilai ekologis, dan nilai Nilai-nilai tersebut tercermin dari sikap yang menunjukkan penghormatan terhadap Sang Hyang Widhi dan para roh leluhur, solidaritas masyarakat dalam gotong royong, pelestarian budaya lokal, upaya dalam menjaga keseimbangan lingkungan, serta selalu mengingat, menghormati, dan menjalankan perintah para leluhur karena ajaranajaran dari para leluhur sangat berpengaruh bagi kehidupan. Nilai-nilai kearifan lokal dari tradisi Upacara Kasada memiliki relevansi dengan Capaian Pembelajaran Fase D IPS dan dapat dikembangkan menjadi sumber pembelajaran IPS dalam materi AuPelestarian Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi dan GlobalisasiAy kelas IX SMP. Kata Kunci: Kearifan Lokal. Upacara Kasada. Sumber Pembelajaran IPS Abstract The 4. 0 era or the digital era presents new challenges that have the potential to erode the nation's cultural values. Therefore, a learning process is needed that can play a role in re-instilling local wisdom values to strengthen the character of the younger generation so that they have cultural awareness and face the negative impacts of globalization. The Tengger Tribe community, which still maintains the Kasada ceremony tradition, is a real example of preserving local cultural values amidst the current flow of technological progress. By integrating the local wisdom values contained in the Kasada ceremony tradition as a source of social studies learning, it is hoped that interesting and engaging social studies learning will be created and can make students more familiar with the local culture in their area. The research method used is a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of interviews and observations. The results of the study show that the Kasada Ceremony Tradition has local wisdom values that include religious values, social values, cultural values, ecological values, and educational values. These values are reflected in attitudes that demonstrate respect for Sang Hyang Widhi and ancestral spirits, community solidarity through mutual cooperation, preservation of local culture, efforts to maintain environmental balance, and always remembering, respecting, and carrying out the commands of ancestors, as their teachings are highly influential for life. The local wisdom values of the Kasada Ceremony tradition are relevant to the Phase D Social Studies Learning Outcomes and can be developed into a social studies learning resource in the "Preservation of Local Wisdom Amidst Modernization and Globalization" topic for ninthgrade junior high school students. Keywords: Local Wisdom. Kasada Ceremony. Social Studies Learning Resource How to Cite: Kusumaningrum. Utami. Riyadi, & Larasati. Nilai-Nilai Kearifan Lokal Pada Tradisi Upacara Kasada Sebagai Sumber Pembelajaran IPS. Dialektika Pendidikan IPS. Vol . : halaman 1 - 12 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 1-12 PENDAHULUAN Perkembangan revolusi industri 4. 0 atau era digital merupakan era yang mendorong adanya kemajuan pada bidang teknologi hingga kemajuan pada bidang Pendidikan (Cholily. Putri, & Kusgiarohmah, 2. Adanya kemajuan tersebut khususnya dalam bidang Pendidikan tentu memberikan manfaat yakni dapat membantu mempermudah proses kegiatan pembelajaran. Namun, perubahan tersebut tentu dapat menimbulkan suatu masalah baru bagi bidang pendidikan. Perubahan yang muncul pasti memberikan masalah baru yang harus dihadapi dan tentunya akan mempengaruhi kehidupan manusia. Tantangan yang dihadapi bidang pendidikan era revolusi 0 ditunjukkan dengan gaya peserta didik berpikir, belajar, dan bertindak dalam kaitannya dengan mengembangkan inovasi dan kreativitas di bidang Pendidikan (Nursyifa, 2. Adanya era 4. 0 tentunya menjadi suatu permasalahan baru yang wajib dihadapi bersama guna menghasilkan kualitas pendidikan yang baik. Selain memberikan perubahan dalam dunia pendidikan, adanya kemajuan teknologi di era 4. 0 juga memberikan berbagai permasalahan baru bagi generasi muda. Saat ini banyak budaya asing yang bertentangan dengan norma serta tanpa seleksi yang baik masuk ke bangsa Indonesia. Hal tersebut dapat mengakibatkan tumbuhnya sikap yang hedonisme dan individualis. Dengan adanya sikap dan perilaku anak bangsa yang seperti itu tentu menjadi ancaman tersendiri bagi dirinya dan bagi bangsa Indonesia. Maka diperlukan adanya suatu pengembangan nilai-nilai kearifan lokal melalui proses pembelajaran. Hal ini penting karena di era seperti saat ini banyak peserta didik yang kurang mengetahui tentang budaya lokal di Masuknya budaya-budaya asing tersebut tentu menjadi ancaman bagi budaya lokal, sehingga cara yang tepat dalam menghadapi dampak dari adanya kemajuan teknologi tersebut yakni dengan mengenalkan dan mewariskan budaya lokal dari daerah sekitarnya kepada peserta didik melalui proses pembelajaran karena mereka juga merupakan generasi penerus bangsa. Menerapkan nilai-nilai kearifan lokal sebagai cara untuk mengatasi dampak kemajuan teknologi dapat dilakukan melalui pembelajaran IPS. Pembelajaran IPS dikenal sebagai pembelajaran yang sangat membosankan dan berkesan hafalan sehingga IPS seolah-olah tidak ada maknanya bagi peserta didik. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi pendidik yang tidak hanya mengembangkan metode dan model pembelajaran yang inovatif, tetapi juga menggunakan isu-isu sosial sebagai media pembelajaran khususnya tentang nilai kearifan lokal yang terdapat dalam masyarakat serta hidup dalam keseharian peserta didik dengan harapan dapat menjadikan pembelajaran IPS lebih menarik, menyenangkan, dan bermakna (Hadi, 2. Tujuan dari menerapkan nilai-nilai kearifan lokal melalui pembelajaran IPS yakni sebagai upaya untuk meningkatkan rasa saling peduli terhadap sesama, toleransi, gotong royong, memberikan pemahaman tentang budaya di sekitarnya, serta sebagai upaya untuk meminimalisir dampak globalisasi akibat adanya kemajuan teknologi. Keunikan dan nilai sosial kearifan lokal yang dapat diterapkan sebagai sumber belajar IPS juga dirancang untuk membantu siswa melihat dan memahami makna kehidupan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-harinya (Widyanti, 2. Masyarakat yang masih mempertahankan adat dan tradisinya di era kemajuan teknologi saat ini merupakan contoh dalam upaya untuk mempertahankan adat istiadatnya. Salah satu kearifan lokal yang masih bertahan hingga saat ini adalah tradisi Upacara Kasada yang dilestarikan oleh masyarakat Suku Tengger. Walaupun berada di tengah era kemajuan teknologi seperti saat ini, masyarakat Tengger tetap menjaga tradisi upacara Kasada sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Tradisi ini mencerminkan keberhasilan masyarakat lokal dalam menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhurnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi upacara Kasada dan mengintegrasikan nilai kearifan lokal dari tradisi upacara Kasada sebagai sumber pembelajaran IPS agar tercipta pembelajaran IPS yang menarik dan tidak Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 1-12 membosankan serta dapat membuat peserta didik lebih mengenal budaya lokal yang ada di METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi Upacara Kasada sebagai sumber pembelajaran IPS. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggali makna, pengalaman, serta praktik budaya yang hidup di masyarakat Suku Tengger. Penelitian dilaksanakan di Desa Ngadisari. Kecamatan Sukapura. Kabupaten Probolinggo. Subjek penelitian yang dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan Kepala Desa Ngadisari. Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Perwakilan Kabupaten Probolinggo, dan Romo Dukun Pandhita, serta dilengkapi observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan mengikuti tahapan Miles dan Huberman, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Keabsahan data dilakukan dengan uji kredibilitas melalui teknik triangulasi teknik dan waktu. HASIL DAN PEMBAHASAN Letak Geografis dan Administratif Desa Ngadisari Ngadisari merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. Ngadisari berasal dari kata Ngadi dan Sari. Ngadi berarti berguna atau bagus dan Sari berarti bunga atau inti yang penting, kemudian digabungkan menjadi Ngadisari yang berarti bunga yang bagus. Makna dari Ngadisari ini adalah agar desa Ngadisari bisa menjadi Desa yang bagus dan indah serta menjadi contoh bagi desa yang lain. Desa Ngadisari terletak di dataran tinggi yakni di lereng gunung Bromo. Secara geografis. Desa Ngadisari secara geografis berada pada koordinat 7A56Ao30Ay Lintang Selatan dan 112A37Ao Bujur Timur, dengan luas wilayah mencapai 775,3 hektare. Terletak pada ketinggian sekitar 1. 800 meter di atas permukaan laut, desa ini memiliki curah hujan tahunan rata-rata sebesar 3. 577 mm serta suhu udara berkisar antara 10AC hingga 20AC. Letak orbitasi desa Ngadisari dengan pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan tidak terlalu jauh. Adapun jarak desa Ngadisari ke Ibu Kota Kecamatan yakni 15 km dengan waktu tempuh 0. 5 jam. Lalu, jarak desa Ngadisari ke Ibu Kota Kabupaten yakni 80 km dengan waktu tempuh 2. 5 jam dan jarak desa Ngadisari ke Ibu Kota Provinsi 118 km dengan waktu tempuh 3. 5 jam. Desa Ngadisari ini terbagi menjadi 3 . Dusun yakni Dusun Wanasari. Dusun Ngadisari, dan Dusun Cemara Lawang. Secara administratif, adapun batas-batas Desa Ngadisari yakni: Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sapih Kecamatan Lumbang Kabupaten Probolinggo. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Ngadas dan Laut Pasir Gunung Bromo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Wonotoro Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Wonokitri dan Laut Pasir Gunung Bromo Kecamatan Tosari Kabupaten Probolinggo. Masyarakat desa Ngadisari adalah suku Tengger. Secara admistratif, suku Tengger berada di 4 . wilayah Kabupaten yakni Kabupaten Lumajang. Kabupaten Malang. Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Probolinggo. Kondisi Sosial. Ekonomi. Keagamaan, dan Budaya Desa Ngadisari Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 1-12 Pada era modern saat ini, penduduk Desa Ngadisari sudah sangat memperhatikan pendidikan anakanaknya. Dapat terlihat dari banyaknya penduduk yang berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga perguruan tinggi. Berikut jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan: Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan No Tingkat Pendidikan Jumlah 1 PAUD 2 TK 3 Tamat SD 4 Tamat SLTP 5 Tamat SLTA 6 Tamat D-3 7 Tamat S-1 8 Tamat S-2 Total Sumber: Data Primer, 2022 Berdasarkan tabel di atas, tingkat pendidikan masyarakat Desa Ngadisari paling banyak adalah lulusan SLTA dengan jumlah 508 orang. Sedangkan jumlah lulusan paling sedikit adalah lulusan D-3 atau Diploma i dengan jumlah 5 orang. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa pendidikan sangat penting bagi penduduk masyarakat Desa Ngadisari. Tabel 2. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur No Kel. Umur Laki-Laki Perempuan Jumlah 0-4 Th 5-9 Th 10-14 Th 15-19 Th 20-24 Th 25-29 Th 30-34 Th 35-39 Th 40-44 Th 45-49 Th 50-54 Th 55-59 Th 60-64 Th 65-69 Th 70-74 Th 75 Th Total Sumber: Data Primer, 2022 Berdasarkan tabel di atas. Desa Ngadisari merupakan wilayah dengan jumlah penduduk sebanyak 461 jiwa, yang terdiri atas 701 penduduk laki-laki dan 760 penduduk perempuan. Desa Ngadisari memiliki luas wilayah 775,3 Ha dengan mayoritas mata pencahariannya adalah petani. Kondisi tanah yang subur karena adanya erupsi dari gunung Bromo menyebabkan masyarakat Tengger memanfaatkannya sebagai sarana pertanian. Hasil pertanian yang dihasilkan yaitu kentang, kubis. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 1-12 jagung, bawang daun, sawi, bawang prei, dan tomat. Namun, selain dari sektor pertanian masyarakat Ngadisari juga mendapatkan penghasilan dari sektor pariwisata. Hal ini dikarenakan adanya wisata Gunung Bromo yang memberikan pengaruh baik untuk perekonomian masyarakat desa Ngadisari. Tabel 3. Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian Pekerjaan Petani Buruh Tani Pedagang Pemilik Toko Pemilik Losmen Pemilik Warung/Depot Pemilik Kios Pemilik Wartel TNI/POLRI PNS Pensiunan Penjahit Sopir Jasa Hotel Industri/Kerajinan Tukang Cukur Tukang Kayu Tukang Bangunan Jumlah Sumber: Data Primer, 2022 Berdasarkan tabel di atas, mayoritas penduduk Desa Ngadisari bekerja sebagai petani dengan jumlah 114 orang. Sementara itu, penduduk yang membuka usaha Losmen atau penginapan menempati urutan kedua dengan jumlah 124 orang. Masyarakat desa Ngadisari yang penduduknya adalah suku Tengger maka sebagian besar masyarakatnya menganut agama Hindu, namun terdapat pula penduduk yang beragama Islam. Penduduk yang menganut agama Islam kebanyakan adalah warga pendatang. Adapun rincian jumlah penduduk menurut agama sebagai berikut: Tabel 4. Jumlah Penduduk Menurut Agama Agama Jumlah Agama Islam Agama Kristen Protestan Agama Kristen Katolik Agama Hindu Agama Budha Total Sumber: Data Primer, 2022 Berdasarkan tabel di atas, secara keseluruhan masyarakat Desa Ngadisari memeluk agama Hindu dengan jumlah 1. 455 orang dan yang memeluk agama Islam hanya berjumlah 6 orang. Masyarakat yang menganut agama Islam adalah warga pendatang karena adanya pernikahan beda agama. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 1-12 Pernikahan beda agama tersebut terjadi antara penduduk asli Suku Tengger yang berada di desa Ngadisari dengan penduduk lain diluar Suku Tengger. Fenomena tersebut merupakan hal biasa dan tidak sedikit pula warga Desa Ngadisari yang melakukan pernikahan beda agama. Dalam kehidupan masyarakat Desa Ngadisari terdapat tradisi-tradisi budaya yang terus dilakukan hingga saat ini. Tradisi tersebut berupa ritual-ritual upacara yang dilakukan dengan 2 . macam yaitu ritual secara komunal dan ritual individual. Ritual komunal yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Ngadisari Ritual upacara Kasada/Yadnya Kasada, merupakan sebuah upacara yang diadakan setahun sekali setiap bulan purnama Kasada atau mangsa ashada yakni bulan ke 12 . ua bela. Upacara ini dilaksanakan di Pura Luhur Poten yang berada di lautan pasir atau segara wedhi sebelah barat Gunung Bromo. Ritual upacara Karo/Hari Raya Karo, merupakan upacara pawedhalan untuk memperingati sebuah proses penciptaan atau kelahiran. Upacara ini ditujukan untuk atma/arwah leluhur. Upacara Karo ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan kedua setelah upacara Yadnya Kasada karena dalam melewati sebuah kelahiran pasti diawali oeh 2 . kekuatan yakni laki-laki dan Oleh sebab itu, ditetapkanlah upacara pawedhalan jagat di bulan kedua mengingat orang terdekat manusia adalah orang tua. Upacara Karo ini berlangsung selama 15 hari tetapi kegiatan ritualnya dilaksanakan selama 1 minggu penuh yang diawali dengan proses pembukaan 7 . hari sebelum hari H pelaksanaan upacara dan ditutup dengan proses penutupan 7 . hari setelah hari H upacara. Upacara Unan-Unan, merupakan upacara bersih desa atau yang disebut dengan mayu desa. Upacara ini dilakukan 5 tahun sekali setiap bulan Karo atau Hari Raya Karo. Upacara ini dilakukan untuk memohon keselamatan desa agar terhindar dari gangguan roh-roh halus dan untuk menyucikan para arwah yang telah tiada agar tenang di alam lain. Upacara ini dilakukan di balai desa dengan sesajen berupa hewan kerbau. Upacara Entas-Entas, merupakan upacara kematian. Setelah melakukan pemakaman, pada sore hari keluarga yang ditinggalkan melaksanakan upacara misahi yaitu upacara perpisahan dengan orang yang meninggal. Setelah 44 hari, diadakan upacara entas-entas dengan tujuan memohon ampun kepada Sang Maha Agung agar arwah almarhum/almarhumah bisa masuk surga. Selametan sumber air, merupakan ritual yang dilaksanakan di lokasi sumber air. Makna dari selamatan tersebut yakni sebagai bentuk ucapan terima kasih atas keberlangsungan sumber air untuk kehidupan masyarakat Tengger saat ini dan yang akan dating. Sedekah Pangonan, merupakan ritual yang dilakukan dengan cara memberikan suguhan berupa sedikit makanan di ladang, di tempat sakral, di sumber air, di semua lapangan, dan di semua penjuru mata angin. Sedangkan ritual individual artinya ritual yang dilakukan secara pribadi. Salah satu ritual individual masyarakat Desa Ngadisari yakni: Ngeliweti, merupakan ritual dengan memberikan makanan di lading milik sendiri. Tetamping, merupakan ritual dengan memberikan sedikit makanan di penjuru rumah, pondok tegalan, dan di lokasi lain yang diyakini terdapat roh halus seperti perempatan jalan. Tradisi Upacara Kasada Sejarah Suku Tengger Pada jaman pra-sejarah, diawali dengan diciptakannya manusia pertama oleh Sang Hyang Brahma yang diturunkan di Gunung Brahma dan diberi nama Maha Resi Dadap Putih. Agar segera memiliki keturunan, maka diturunkanlah sifat perempuan dari kayangan bernama Dewi Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 1-12 Jeneng. Kemudian Dewi Jeneng mempunyai 3 . orang anak laki-laki yang bernama: pertama. Kaki Bomo yang memperistri bidadari kayangan yang bernama Dewi Mijil Sari dan mempunyai anak bernama Dewi Roro Anteng. Kaki Dadap Banyu Pait yang memperistri Bidadari Kayangan bernama Dewi Anjarsari dan mempunyai anak bernama Joko Seger. Kaki Slamber Nyowo atau Dewa Brata yang tidak menikah/bujang selamanya. Kemudian. Dewi Roro Anteng dan Joko Seger menikah dan memiliki 25 orang anak. Dewi Roro Anteng dan Joko Seger bermukim di lereng Gunung Tengger kemudian membangun sebuah desa. Itulah yang menjadi asal mula adanya Suku Tengger di Desa Ngadisari. Nama Tengger sendiri diambil dari singkatan nama antara Roro Anteng AuTengAy dengan Joko Seger AuGerAy yang kemudian digabung menjadi Tengger. Kata AuTengAy memiliki arti damai anteng dan kata AuGerAy artinya sehat segar bugar. Masyarakat Suku Tengger menganut agama Hindu sebagai keyakinan utama mereka. Ajaran Hindu yang diwariskan oleh Roro Anteng dan Joko Seger menanamkan nilai-nilai persaudaraan yang kuat, sehingga dalam kehidupan sosial masyarakat Suku Tengger tidak diterapkan sistem kasta. Seluruh individu dipandang setara tanpa adanya pembedaan status sosial. Selain itu, masyarakat suku Tengger menjalankan gaya hidup yang sederhana dan jujur. Latar Belakang Upacara Kasada Asal-usul upacara Kasada ini berawal dari Raden Kusuma yakni anak bungsu Roro Anteng dan Joko Seger yang menggantikan kedudukan Sang Hyang Brahma atau Dewa Brahmana yang kemudian ia berpesan ketika purnama bulan Kasada atau mangsa ashada dikirimi hasil bumi. Hasil bumi atau tandur tuwuh yang digunakan dalam upacara Kasada merupakan salah satu sesajen yang wajib dibawa oleh para peserta upacara. Sesajen yang dibawa saat upacara Kasada ada 2 . macam yakni sesajen pribadi dan sesajen desa atau yang disebut ongkek. Sesajen pribadi yakni sesajen yang dibawa masing-masing individu yang bisa dibawa 1 hari sebelum upacara, saat upacara, maupun setelah upacara tergantung apa yang bisa dibawa. Untuk sesajen pribadi, apabila dalam satu keluarga terdapat ayah, ibu, anak dan anak tersebut belum menikah maka sesajen yang dibawa mengikuti kedua orangtua. Namun, untuk anak yang sudah menikah dan sudah memiliki lahan maka membawa hasil buminya sendiri bersama suami atau istrinya. Sedangkan sesajen desa atau ongkek merupakan sesajen pokok yang wajib dibawa. Isi dari ongkek tersebut adalah hasil bumi atau tandur tuwuh berupa daun beringin, buah-buahan, sayur-sayuran, serta terdiri dari bunga senikir, dan bunga tanalayu. Hal ini juga selaras dengan (Zurohman. Bahrudin, & Risqiyah, 2. yang menyatakan bahwa isi pokok dari ongkek adalah bunga kumitir atau gumitir, bunga tana layu, bunga waluh, daun pakis, daun beringin, daun telotok, daun tebu 2 batang, kacangkacangan, kubis 2 bungkul, jantung pisang 2 biji, buah pare 2 biji, dan buah pisang 2 sisir. Apabila terdapat sesajen berupa hewan ternak, maka sesajen tersebut diartikan sebagai nadzar dari masing-masing orang atas keberhasilan yang diperoleh. Isi dari sesajen pribadi berupa hasil bumi yang harus berasal dari hasil tanaman sendiri walaupun hasil bumi yang dimiliki tidak banyak. Kasada dalam bahasa Tengger yakni wiksudapuni artinya mensucikan alam. Maka dapat disimpulkan bahwa Kasada diartikan sebagai sedekah bumi yang artinya mengirimkan sebagian dari mineral yang telah diperoleh manusia berupa hasil bumi atau tandur tuwuh. Proses Pelaksanaan Upacara Kasada Proses pelaksanaan Upacara Kasada dilakukan secara sistematis oleh masyarakat Suku Tengger dengan melibatkan seluruh warga. Prosesi upacara Kasada diawali dengan mempersiapkan Ongkek merupakan sesajen desa yang wajib dibawa pada saat upacara Kasada. Ongkek dibuat khusus untuk kepentingan desa dan setiap desa harus membuat 2 ongkek. Isi dari ongkek tersebut adalah hasil bumi atau tandur tuwuh berupa daun beringin, buah-buahan, sayur-sayuran, serta terdiri dari bunga senikir, dan bunga tanalayu. Pada saat membuat ongkek, terdapat beberapa syarat yang harus diperhatikan yakni jika 44 hari sebelum hari H upacara Kasada ada warga yang meninggal di salah satu desa, maka desa tersebut tidak diperbolehkan untuk Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 1-12 membawa ongkek. Hal itu dianggap sebagai sebuah gangguan atau sandungan. Apabila sampai 4 hari sebelum hari H tidak ada yang meninggal, maka masyarakat sudah mulai membuat ongkek. Sesajen desa atau ongkek sebelum dibawa ke Gunung Bromo diberi ritual pelepasan ongkek terlebih dahulu oleh dukun pandhita dan para sesepuh yang datang menyaksikan. Salah satu ongkek dibawa ke rumah Kepala Desa oleh wong sepuh lalu ritual tersebut dilaksanakan di rumah Kepala Desa tersebut. Ritual dilaksanakan pada sore hari kemudian baru dibawa ke Gunung Bromo atau Pura Luhur Poten pada saat tengah malam. Setelah ritual pelepasan selesai, ongkek tetap diletakkan di rumah Kepala Desa sambal menunggu pemberangkatan ke Gunung Bromo. Kemudian, ongkek yang sudah dibuat dan dilepas di rumah Kepala Desa dipersembahkan di Dingklik . ntuk desa-desa di daerah Pasurua. atau di Cemoro Lawang . ntuk desa-desa di daerah Kabupaten Probolingg. Sedangkan ongkek yang satunya dibawa ke Pura Luhur Poten di lautan pasir atau segara wedhi sebelah barat Gunung Bromo. Setelah proses ritual pelepasan sesajen desa atau ongkek selesai, maka dilanjut acara pembukaan atau mekakat. Pada pukul 03. 00 dini hari acara pembukaan atau mekakat yang dibuka secara simbolis oleh Sekretaris Paruman Dukun Sekawasan Tengger dan Ketua Persatuan Hindu Darma (PHDI) dengan membaca mantra mekakat dan dihadiri oleh seluruh masyarakat Tengger dan elemen pemerintahan. Saat acara tersebut para hadirin juga disajikan pertunjukan tarian Roro Anteng dan Joko Seger, kidung-kidung, serta hiburan-hiburan lainnya. Setelah acara pembukaan selesai, dilanjutkan dengan pembacaan sejarah upacara Kasada yang dipimpin oleh dukun Kemudian, proses inti dari upacara Kasada yakni para dukun pandhita sekawasan Tengger melakukan puja bersama yakni ritual berdoa atau memuja bersama-sama dengan membaca mantra yang di depannya terdapat ongkek. Setelah proses inti upacara selesai, berikutnya yakni acara mulunen atau ujian calon dukun apabila Setelah acara mulunen selesai, dilanjut dengan penyampaian pengumuman-pengumuman. Kemudian yang terakhir adalah penutupan dengan membaca mantra mekakat wayon yang artinya ritual di Pura Luhur Poten telah selesai dilaksanakan kemudian bersama-sama membawa untuk melabuhkan sesajen atau ongkek ke Kawah Gunung Bromo. Setelah seluruh rangkaian acara upacara Kasada di Gunung Bromo selesai, pada siang hari atau malam hari masing-masing Kepala Desa mewakili semua masyarakatnya melaksanakan upacara pujan Kasada atau slametan yang dipimpin oleh dukun di Balai Desa atau di rumah Kepala Desa. Nilai-Nilai Kearifan Lokal Pada Tradisi Upacara Kasada Dalam upacara Kasada banyak ditemukan nilai-nilai kearifan lokal yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Nilai-nilai kearifan lokal dari upacara Kasada juga menjadi pedoman hidup bagi masyarakat Tengger dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Nilai-nilai kearifan lokal yang bisa diteladani dan diwariskan oleh nenek moyang melalui upacara tradisional Kasada antara lain adalah sebagai berikut: Nilai Religi Nilai religius dari tradisi upacara Kasada terlihat dari keyakinan dan penghormatan masyarakat suku Tengger kepada Sang Hyang Widhi dan para roh leluhur. Upacara ini merupakan sebuah bentuk rasa syukur atas segala anugerah kehidupan yang telah diberikan kepada mereka serta memohon perlindungan dan kelancaran rezeki. Dengan mempersembahkan sesajen ke kawah Gunung Bromo merupakan wujud dalam menyampaikan rasa syukur atas hasil bumi, keselamatan, dan kesuburan tanah yang telah diberikan. Upacara Kasada ini mencerminkan keyakinan spiritual yang mendalam terutama hubungan harmoni antara manusia, alam, dan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 1-12 Proses berdoa bersama yang dipimpin oleh dukun pandhita juga mencerminkan upaya masyarakat untuk mencapai keharmonisan dengan Sang Pencipta dan leluhur. Nilai Sosial Nilai sosial dalam upacara Kasada terlihat mulai dari persiapan upacara. Seluruh masyarakat Tengger terlibat aktif dalam persiapan hingga pelaksanaan upacara. Mereka saling bergotong royong dalam mempersiapkan tempat upacara, mengumpulkan hasil bumi, pembuatan sesaji atau ongkek, dan pelaksanaan ritual. Masyarakat saling berbondong-bondong membersihkan rumput di jalan raya, memasang banner dan penjor, serta menyiapkan segala ubarampe di Pura Luhur Poten. Para pemuda-pemuda desa pun turut serta dalam membantu mempersiapkan segala kebutuhan upacara. Dengan adanya kebersamaan dan kerja sama tersebut mencerminkan semangat gotong royong yang dapat memperkuat ikatan sosial dan solidaritas antarwarga. Dalam masyarakat suku Tengger juga tidak ada sistem kasta, mereka tidak saling membedakan kedudukan dan status sosial. Hal tersebut dikarenakan mereka mewariskan ajaran dari Roro Anteng dan Joko Seger yang mengajarkan tentang persaudaraan. Masyarakat suku Tengger juga menunjukkan sikap terbuka kepada siapapun masyarakat luar yang ingin menyaksikan upacara Kasada. Hal tersebut mencerminkan bahwa mereka dapat hidup berdampingan dengan agama Nilai Budaya Nilai budaya berkaitan dengan identitas dari masyarakat. Tradisi upacara Kasada mencerminkan identitas budaya masyarakat suku Tengger dan keberlanjutan warisan leluhur. Masyarakat suku Tengger tetap mempertahankan dan melaksanakan upacara Kasada hingga saat ini. Dalam upacara Kasada tepatnya sebelum acara dimulai terdapat ritual kidung-kidung atau uyon-uyon yakni menyanyikan lagu-lagu sakral yang berisi ajaran-ajaran suci dan pitutur leluhur. Kidungkidung ini dinyanyikan oleh semua peserta upacara dengan menggunakan Bahasa Jawa kuno. Salah satu cara yang juga dilakukan untuk mewariskan ritual tersebut, kidung-kidung diterapkan dalam pelajaran muatan lokal di tingkat SD. SMP, dan SMA. Dengan terus melaksanakan upacara Kasada, masyarakat suku Tengger menjaga kelestarian tradisi dan identitas budaya Nilai Ekologis Nilai ekologis berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam. Masyarakat Tengger sangat menjaga lingkungan sekitarnya sebagai bentuk penghormatan manusia kepada Tuhan dan alam. masyarakat Suku Tengger menganut ajaran Tri Hita Karana atau Tigo Weningan yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan makhluk lainnya, dan manusia dengan alam semesta beserta isinya. Wujud dari harmonisasi manusia kepada Tuhan yakni terlihat dari ritual keagaman yang dilaksanakan dan wujud dari harmoni manusia dengan lingkungan tampak pada pelestarian lingkungan. Dalam pelaksanaan upacara Kasada, masyarakat suku Tengger wajib membawa sesajen berupa hasil bumi atau tandur tuwuh yang diperoleh dari hasil ladangnya sendiri untuk dilarungkan ke gunung Bromo. Dengan melarungkan sesajen tersebut masyarakat suku Tengger menganggap bahwa mereka sedang mengembalikan sebagian dari mineral yang telah diberikan. Masyarakat suku Tengger percaya bahwa Gunung Bromo merupakan mineral yang menjadikan lahan di Tengger menjadi subur. Sehingga setiap tahun mereka wajib mengembalikannya sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih pada alam. Nilai Pendidikan Tradisi upacara Kasada, masyarakat Tengger mengajarkan tentang pentingnya rasa syukur, pengorbanan, dan penghormatan terhadap leluhur. Dalam tradisi upacara Kasada masyarakat suku Tengger diajarkan untuk bersyukur kepada Sang Pencipta atas segala hal yang telah Masyarakat suku Tengger juga menunjukkan sikap untuk rela berkorban dengan memberikan sebagian hasil bumi yang dimiliki ke kawah Gunung Bromo sebagai ungkapan syukur dan memohon berkah. Sikap tersebut dapat mengajarkan kepada generasi muda tentang Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 1-12 pentingnya sebuah pengorbanan demi kehidupan dan kebaikan bersama. Melalui upacara Kasada masyarakat suku Tengger juga diajarkan untuk selalu mengingat, menghormati, dan menjalankan perintah para leluhur karena ajaran-ajaran dari para leluhur sangat berpengaruh bagi kehidupan. Nilai-Nilai Kearifan Lokal Pada Tradisi Upacara Kasada Sebagai Sumber Pembelajaran IPS Kurikulum Merdeka memberikan ruang untuk memanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal dalam pembelajaran IPS. Pembelajaran yang berbasis kearifan lokal menjadi sangat urgent dan strategis dalam membentuk karakter peserta didik. Membangun karakter peserta didik yang dimulai dari proses pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat menjadi media pendidikan dalam melestarikan serta mewariskan nilai sejarah dan budaya bangsa (Karsiwan. Retnosari. Lisdiana, & Hamer, 2. Dalam konteks Kurikulum Merdeka guru juga memiliki kebebasan untuk memilih konten dari kurikulum untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Khotimah. Prasetya. Hariyanto, & Segara, 2. Dengan adanya kebebasan tersebut, maka guru dapat memanfaatkan kearifan lokal yang ada di lingkungan sekitarnya sebagai salah satu sumber belajar dalam materi pembelajaran IPS. Budaya lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran IPS salah satunya adalah tradisi upacara Kasada. Tradisi upacara Kasada merupakan warisan budaya masyarakat suku Tengger yang memiliki banyak makna dan nilai bagi kehidupan sosial, budaya, dan lingkungan. Nilai-nilai kearifan lokal dari tradisi upacara Kasada dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran IPS dikarenakan adanya kesesuaian dengan Capaian Pembelajaran dan materi IPS SMP. Keterkaitan Capaian Pembelajaran dan materi IPS dengan nilai-nilai kearifan lokal dari tradisi upacara Kasada yaitu pada Fase D Kurikulum Merdeka kelas IX dalam materi AuPelestarian Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi dan GlobalisasiAy. Tradisi Upacara Kasada menjadi salah satu contoh nyata dari nilainilai kearifan lokal yang tetap dijaga dan dipertahankan di tengah-tengah arus modernisasi dan Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi upacara Kasada dapat dijadikan sebagai pedoman atau sebagai contoh dalam kehidupan bermasyarakat peserta didik guna menghadapi globalisasi yang terus berlangsung semakin signifikan dan meluas hingga bidang kehidupan termasuk kebudayaan masyarakat dunia. Tradisi Upacara Kasada yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Tengger merupakan salah satu contoh nyata dari nilai-nilai kearifan lokal yang tetap dijaga dan dipertahankan di tengah-tengah arus modernisasi dan globalisasi. Nilai-nilai tersebut dapat dijabarkan sebagai Nilai Religi Nilai religi nampak pada penghormatan, dan persembahan masyarakat suku Tengger kepada Sang Hyang Widhi dan para roh leluhur sebagai bentuk rasa syukur mereka. Sikap tersebut memperlihatkan bagaimana keyakinan religius masyarakat Tengger dapat bertahan dalam menghadapi modernisasi. Dengan adanya globalisasi yang menyebabkan perubahan secara cepat dan kompleks tidak melemahkan nilai keagamaan dan spiritual mereka. Peserta didik dapat menganalisis bagaimana perubahan sosial modern tidak menghapus nilai spiritual dan dapat memperkuat nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Nilai Sosial Nilai sosial dalam upacara Kasada tampak pada sikap masyarakat suku Tengger yang saling bergotong royong dalam mempersiapkan segala keperluan upacara dari awal hingga akhir pelaksanaan upacara. Masyarakat suku Tengger juga menunjukkan sikap terbuka kepada Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 1-12 siapapun yang ingin menyaksikan upacara Kasada. Dengan mengintegrasikan nilai sosial tersebut ke dalam pembelajaran IPS, maka dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan pemahaman sosial, membentuk rasa kebersamaan, empati sosial, toleransi, memberikan ilustrasi nyata tentang pentingnya solidaritas sosial dalam bermasyarakat, serta menumbuhkan sikap peduli sosial dan kesadaran akan pentingnya kerja sama dalam masyarakat. Nilai Budaya Upacara Kasada sebagai identitas budaya dari masyarakat suku Tengger mampu bertahan dan beradaptasi di tengah arus modernisasi. Masyarakat suku Tengger hingga saat ini tetap melaksanakan upacara tersebut dengan baik. Dalam pembelajaran IPS nilai tersebut dapat menjadi sarana dalam mewariskan budaya kepada siswa, membantu peserta didik untuk menumbuhkan kesadaran akan pelestarian budaya di tengah-tengah arus globalisasi, serta memberikan penguatan tentang identitas budaya lokal kepada peserta didik. Hal tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya lokal seperti upacara Kasada mampu bertahan dan menjadi pondasi identitas yang kuat di tengah keragaman budaya global. Nilai Ekologi Dalam ritual upacara Kasada, masyarakat suku Tengger melakukan penghormatan terhadap alam khususnya ke gunung Bromo dengan cara mempersembahkan sesajen ke kawah gunung Bromo. Masyarakat suku Tengger percaya bahwa gunung Bromo merupakan mineral yang menjadikan lahan di Tengger menjadi subur sehingga mereka sangat menjaga lingkungan Sikap tersebut merupakan simbol dalam menjaga keharmonisan manusia dengan Upacara Kasada juga mengajarkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan sesuai ajaran Tri Hita Karana atau Tigo Weningan. Nilai ekologis tersebut dapat dijadikan bahan pembelajaran mengenai interaksi manusia dengan alam dan memberikan contoh nyata kepada peserta didik tentang bagaimana masyarakat suku Tengger menjaga keberlanjutan lingkungan di tengah modernisasi. Nilai Pendidikan Nilai pendidikan yang terkandung dalam tradisi Upacara Kasada mengajarkan tentang pentingnya rasa syukur, pengorbanan, penghormatan terhadap leluhur, serta semangat gotong royong dan kerukunan memiliki keterkaitan terhadap materi IPS. Rasa syukur dan pengorbanan, melalui persembahan sesajen kepada leluhur menanamkan sikap menghargai warisan budaya. Penerapan nilai penghormatan leluhur ini mengajarkan peserta didik untuk bersikap konsisten dalam melanjutkan nilai-nilai budaya sebagai wujud dalam menjaga identitas lokal mereka. Melalui upacara Kasada dapat menanamkan karakter sosial siswa dan memperkuat pemahaman budaya lokal, serta partisipasi langsung dalam proses tradisi budaya dapat membantu peserta didik untuk membentuk rasa tanggung jawab, empati, bangga terhadap budaya lokal, serta membangun sikap menghargai dan melestarikan budaya lokal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan mengenai nilai-nilai kearifan lokal pada Tradisi Upacara Kasada sebagai sumber pembelajaran IPS, maka dapat disimpulkan bahwa tradisi upacara Kasada merupakan salah satu tradisi yang dimiliki oleh masyarakat suku Tengger di Desa Ngadisari. Kecamatan Sukapura. Kabupaten Probolinggo. Jawa Timur. Upacara ini merupakan wujud dari penghormatan masyarakat suku Tengger kepada Sang Hyang Widhi dan para roh leluhur sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang telah diberikan kepada mereka. Tradisi Upacara Kasada memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang meliputi nilai religi, nilai sosial, nilai budaya, nilai ekologis, dan nilai pendidikan. Nilai-nilai tersebut tercermin dari sikap yang menunjukkan penghormatan terhadap Sang Hyang Widhi dan para roh leluhur, solidaritas masyarakat dalam gotong royong, pelestarian budaya lokal, upaya dalam menjaga keseimbangan lingkungan, serta selalu mengingat, menghormati, dan menjalankan perintah para leluhur karena ajaran-ajaran dari Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 1-12 para leluhur sangat berpengaruh bagi kehidupan. Nilai-nilai kearifan lokal dari tradisi Upacara Kasada memiliki relevansi dengan Capaian Pembelajaran Fase D IPS dan dapat dikembangkan menjadi sumber pembelajaran IPS dalam materi AuPelestarian Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi dan GlobalisasiAy kelas IX SMP. Pembelajaran yang berbasis kearifan lokal sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pada pembelajaran yang relevan dengan kehidupan siswa dan lingkungan sekitar. Dengan mengintegrasikan tradisi upacara Kasada dalam pembelajaran IPS diharapkan bisa menjadi inovasi baru bagi para guru agar tercipta pembelajaran IPS yang menarik dan tidak membosankan serta dapat membuat siswa lebih mengenal budaya lokal yang ada di daerahnya. DAFTAR PUSTAKA