Journal of Information System. Applied. Management. Accounting and Research. http://journal. id/index. php/jisamar , jisamar@stmikjayakarta. id , jisamar2017@gmail. e-ISSN: 2598-8719 (Onlin. , p-ISSN: 2598-8700 ( Printe. Vol. 10 No. 3 (August 2. ANALISIS MANAJEMEN RISIKO PROYEK INFRASTRUKTUR CCTV LALU LINTAS DENGAN PMBOK DAN ISO 31000:2018 DINAS PERHUBUNGAN PEMERINTAH KOTA SURABAYA Ramandika Arya Wibowo1. Muhammad Farhan Maheswara2. Muhammad Andik Izzudin3 Program Studi Sistem Informasi1,2,3 Fakultas Sains dan Teknologi1,2,3 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya1,2,3 Correspondent Author: ramandikacamp@gmail. Authors Email: ramandikacamp@gmail. com 1, mfarhanmaheswara@gmail. Received: May 10, 2026. Revised: May 28, 2026. Accepted: July 15. Issue Period: Vol. 10 No. Pp. Abstrak: Penelitian ini menganalisis manajemen risiko proyek pemeliharaan ClosedCircuit Television (CCTV) pada Surabaya Intelligent Transport System (SITS) menggunakan integrasi Project Management Body of Knowledge (PMBOK) dan ISO 31000:2018. Data observasi lapangan dan studi literatur dievaluasi melalui matriks risiko serta Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Hasilnya memetakan empat kategori risiko: infrastruktur eksternal, perangkat keras, penjadwalan, dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. Risiko K3 akibat kelalaian penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) mencatat Risk Priority Number (RPN) tertinggi . , diikuti dominasi gangguan jaringan eksternal penyebab downtime. Strategi mitigasi yang dirumuskan meliputi pengetatan SOP keselamatan, standardisasi penundaan kerja saat cuaca ekstrem, dan penguatan Service Level Agreement (SLA) lintas instansi untuk meminimalisir deviasi jadwal serta menjamin keselamatan pekerja. Kata kunci: CCTV. ISO 31000. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Manajemen Risiko. PMBOK. Abstract: This study analyzes risk management in the Closed-Circuit Television (CCTV) maintenance project at the Surabaya Intelligent Transport System (SITS) using an integrated Project Management Body of Knowledge (PMBOK) and ISO 31000:2018 framework. Field observation and literature data were evaluated using a risk matrix and Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). The results mapped four risk categories: external infrastructure, hardware, scheduling, and Occupational Health and Safety (OHS). OHS risks due to negligence in using Personal Protective Equipment (PPE) recorded the highest Risk Priority Number (RPN) of 75, followed by external network disruptions causing downtime. Formulated mitigations include tightening safety SOPs, standardizing work postponement during extreme weather. DOI: 10. 52362/jisamar. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. Journal of Information System. Applied. Management. Accounting and Research. http://journal. id/index. php/jisamar , jisamar@stmikjayakarta. id , jisamar2017@gmail. e-ISSN: 2598-8719 (Onlin. , p-ISSN: 2598-8700 ( Printe. Vol. 10 No. 3 (August 2. and improving cross-agency Service Level Agreement (SLA) to minimize schedule deviation and ensure worker safety. Keywords: CCTV. ISO 31000. Occupational Health and Safety. PMBOK. Risk Management. PENDAHULUAN Pemanfaatan teknologi informasi dalam sektor pelayanan publik telah menjadi pilar utama bagi instansi pemerintahan, khususnya dalam tata kelola perkotaan. Dinas Perhubungan (Dishu. Kota Surabaya melalui Surabaya Intelligent Transport System (SITS) mengandalkan sistem pengendalian lalu lintas adaptif (ATCS) yang sangat bergantung pada operasional ratusan kamera pengawas atau Closed-Circuit Television di berbagai persimpangan jalan . Kehadiran infrastruktur CCTV memiliki peran yang sangat vital tidak hanya sebagai instrumen pengawasan visual dan penanganan kemacetan, tetapi juga sebagai alat pelindung dan investigasi kejadian di ruang publik . Mengingat krusialnya fungsi tersebut, ketika terjadi gangguan seperti layar pemantauan yang kehilangan koneksi, waktu tempuh respons lalu lintas dapat terhambat secara signifikan. Oleh karena itu, kegiatan pemeliharaan infrastruktur CCTV tidak dapat dipandang sekadar sebagai rutinitas operasional harian, melainkan sebuah siklus proyek teknologi informasi yang harus dikelola secara terstruktur agar memenuhi standar mutu, biaya, dan waktu. Dalam disiplin ilmu manajemen proyek. Project Management Body of Knowledge merupakan standar global yang paling sering digunakan untuk mengelola kelayakan dan keberhasilan sebuah proyek teknologi informasi . Pelaksanaan proyek pemeliharaan infrastruktur TI di lapangan memiliki kompleksitas yang tinggi karena melibatkan interaksi yang rentan antara perangkat keras, perangkat lunak, dan sumber daya manusia . Ketidakmampuan dalam mengelola proyek pemeliharaan ini sering kali berujung pada pemborosan berupa keterlambatan jadwal penyelesaian, yang pada akhirnya menurunkan persentase tingkat keberhasilan proyek secara keseluruhan . Dalam kasus SITS Dishub Surabaya, proyek pemeliharaan sering dihadapkan pada deviasi jadwal yang disebabkan oleh berbagai kendala, baik dari sisi internal seperti kerusakan komponen keras, hingga faktor eksternal seperti pemadaman listrik PLN dan gangguan jaringan dari pihak penyedia (Telkom/Kominf. Dalam kasus SITS Dishub Surabaya, proyek pemeliharaan sering dihadapkan pada deviasi jadwal yang disebabkan oleh berbagai kendala, baik dari sisi internal seperti kerusakan komponen keras, hingga faktor eksternal seperti pemadaman listrik PLN dan gangguan jaringan dari pihak penyedia. Signifikansi penggunaan berbagai literatur ini menegaskan bahwa kompleksitas proyek infrastruktur TI tidak bisa diselesaikan hanya dengan keahlian teknis tunggal, melainkan mutlak membutuhkan tata kelola manajerial yang komprehensif agar deviasi jadwal dan anggaran dapat ditekan secara efektif. Selain masalah teknis dan penjadwalan, proyek pemeliharaan CCTV di persimpangan jalan raya menuntut perhatian khusus terhadap aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. Teknisi lapangan harus bekerja di ketinggian menggunakan skylift di tengah padatnya arus lalu lintas perkotaan. Risiko cuaca ekstrem seperti hujan deras kerap memaksa proyek perbaikan diundur untuk menghindari kerusakan komponen elektronik akibat air . Di sisi lain, potensi human error seperti ketidakpatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) berupa helm proyek memiliki probabilitas yang cukup tinggi di lapangan. Kondisi lapangan yang dinamis ini sejalan dengan karakteristik proyek infrastruktur pada umumnya, di mana risiko kecelakaan kerja dan cuaca menjadi variabel dominan yang dapat mengancam keselamatan personel sekaligus menghambat parameter kesuksesan proyek . Berdasarkan tingkat kompleksitas tersebut, penerapan area pengetahuan Project Risk Management sangat mendesak untuk dieksekusi guna mengidentifikasi potensi kegagalan secara dini, mencegah eskalasi kerugian finansial akibat perbaikan berulang, serta secara proaktif menjamin keselamatan nyawa teknisi dari risiko kecelakaan fatal di jalan raya . Meskipun tim teknis SITS memiliki respons yang baik dalam mengatasi kerusakan, instansi pemerintahan umumnya masih memerlukan formalisasi dokumen tata kelola risiko untuk mencegah insiden berulang . Kerangka kerja ISO 31000:2018 diakui sebagai standar baku internasional yang komprehensif dalam mengelola risiko organisasi, termasuk aset teknologi informasi . Secara arsitektural, standar ISO 31000:2018 dibangun di atas tiga pilar utama: Klausul 4 (Prinsi. yang berfokus pada penciptaan nilai. Klausul DOI: 10. 52362/jisamar. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. Journal of Information System. Applied. Management. Accounting and Research. http://journal. id/index. php/jisamar , jisamar@stmikjayakarta. id , jisamar2017@gmail. e-ISSN: 2598-8719 (Onlin. , p-ISSN: 2598-8700 ( Printe. Vol. 10 No. 3 (August 2. 5 (Kerangka Kerj. yang menekankan integrasi kepemimpinan, dan Klausul 6 (Prose. yang menguraikan operasional penilaian risiko . Pendekatan ini telah terbukti efektif diimplementasikan pada instansi pemerintahan daerah untuk memetakan risiko operasional dan mengevaluasi infrastruktur kritis secara terstruktur . , . Evaluasi risiko yang mengintegrasikan standar pengukuran PMBOK dengan metodologi klausul ISO 31000 terbukti mampu memberikan rekomendasi mitigasi yang presisi dan terukur . Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merancang strategi mitigasi risiko pada proyek pemeliharaan infrastruktur CCTV di SITS Dishub Kota Surabaya. Integrasi kerangka kerja PMBOK digunakan untuk membingkai kegiatan pemeliharaan sebagai siklus proyek yang terukur, sementara instrumen ISO 31000 digunakan untuk melakukan identifikasi, penilaian probabilitas dan dampak, hingga evaluasi mitigasi risiko di lapangan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan dokumen risk register yang komprehensif sebagai acuan Standar Operasional Prosedur bagi Dishub Kota Surabaya dalam meminimalisir downtime layanan TI dan menekan angka kecelakaan kerja teknisi . II. METODE DAN MATERI Alur Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memberikan gambaran sistematis mengenai profil risiko pada proyek pemeliharaan CCTV . Objek penelitian difokuskan pada unit operasional Surabaya Intelligent Transport System (SITS) di bawah naungan Dinas Perhubungan Kota Surabaya. Tahapan penelitian disusun secara sistematis yang diilustrasikan pada Gambar 1. DOI: 10. 52362/jisamar. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. Journal of Information System. Applied. Management. Accounting and Research. http://journal. id/index. php/jisamar , jisamar@stmikjayakarta. id , jisamar2017@gmail. e-ISSN: 2598-8719 (Onlin. , p-ISSN: 2598-8700 ( Printe. Vol. 10 No. 3 (August 2. Gambar 1. Alur Penelitian Metode Pengumpulan Data Data penelitian dikumpulkan melalui dua metode utama, yaitu observasi lapangan dan studi literatur. Observasi dilakukan selama proses pemeliharaan infrastruktur di persimpangan jalan raya untuk mengidentifikasi potensi bahaya fisik, kendala cuaca, serta interaksi teknisi dengan perangkat keras. Sementara studi literatur dilakukan dengan menelaah dokumen SOP internal, logbook perbaikan, serta artikel jurnal ilmiah yang relevan dengan topik manajemen proyek dan risiko TI . Manajemen Risiko Berdasarkan ISO 31000:2018 Secara spesifik, kerangka kerja analisis risiko dalam penelitian ini tidak menggunakan keseluruhan pedoman ISO 31000, melainkan berfokus penuh pada penerapan Klausul 6, yaitu Proses Manajemen Risiko . Pemilihan Klausul 6 sebagai landasan utama didasarkan pada kebutuhan praktis penelitian untuk turun langsung ke lapangan dan melakukan penilaian risiko operasional. Penggunaan klausul ini mencakup penerapan tiga tahapan krusial, yaitu: identifikasi risiko, analisis risiko, serta evaluasi risiko . Klausul ini dipilih karena menyediakan alur kerja paling taktis dan terukur yang dapat langsung diintegrasikan dengan pemodelan kegagalan proyek di lapangan. DOI: 10. 52362/jisamar. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. Journal of Information System. Applied. Management. Accounting and Research. http://journal. id/index. php/jisamar , jisamar@stmikjayakarta. id , jisamar2017@gmail. e-ISSN: 2598-8719 (Onlin. , p-ISSN: 2598-8700 ( Printe. Vol. 10 No. 3 (August 2. Analisis risiko dilakukan dengan menentukan nilai kemungkinan . dan besaran dampak . Kriteria penilaian risiko menggunakan skala Likert 1-5 yang didefinisikan pada Tabel 1. Tabel 1. Kriteria Skala Penilaian Risiko Skala Likelihood (Frekuens. Impact (Dampak Operasional/K. Sangat Sering (Hampir pasti terjad. Katastropik (Kematian/Layanan lumpuh tota. Sering (Beberapa kali dalam setahu. Besar (Cedera berat/Downtime > 24 ja. Sedang (Mungkin terjad. Moderat (Cedera sedang/Downtime 12-24 ja. Jarang (Jarang terjad. Sangat Jarang (Hampir tidak perna. Kecil (Cedera ringan/Downtime < 12 ja. Tidak Signifikan (Tidak ada cedera/Tanpa Integrasi PMBOK dan ISO 31000 diwujudkan dalam penyusunan Risk Register dan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). FMEA digunakan untuk mengukur Risk Priority Number (RPN) berdasarkan variabel tingkat keparahan . , tingkat kejadian . , dan tingkat deteksi . Strategi mitigasi atau perlakuan risiko . isk treatmen. kemudian dirumuskan untuk setiap risiko yang berada pada kategori tinggi dan ekstrem guna meminimalisir dampak negatif terhadap operasional layanan publik di Kota Surabaya. Kerangka kerja analisis risiko dalam penelitian ini mengadopsi standar internasional ISO 31000:2018. Berdasarkan standar tersebut, siklus manajemen risiko dimulai dari penetapan konteks, yang kemudian diikuti oleh proses penilaian risiko yang terdiri dari tiga tahap: identifikasi risiko, analisis risiko, dan evaluasi risiko . Identifikasi risiko dilakukan untuk mendata seluruh kemungkinan kejadian yang dapat menghambat pencapaian tujuan proyek pemeliharaan. Analisis risiko dilakukan dengan menentukan nilai kemungkinan . dan besaran dampak . dari setiap kejadian menggunakan skala likert 1-5 . Selanjutnya, evaluasi risiko dilakukan dengan memetakan posisi risiko ke dalam matriks analisis risiko . isk matri. untuk menentukan level prioritas penanganan (Rendah. Sedang. Tinggi, atau Ekstre. Kerangka Kerja PMBOK Project Management Body of Knowledge merupakan pedoman standar internasional yang diterbitkan oleh Project Management Institute (PMI) untuk mengelola kelayakan dan keberhasilan sebuah proyek. Dalam penelitian ini. PMBOK difungsikan sebagai kerangka konseptual untuk mentransformasi sudut pandang pemeliharaan infrastruktur CCTV dari sekadar rutinitas operasional harian menjadi sebuah siklus proyek teknologi informasi yang terukur . Pendekatan ini krusial karena setiap kegiatan perbaikan di lapangan pada dasarnya adalah "proyek mikro" yang dibatasi oleh parameter batasan utama (Triple Constrain. , yakni: batas waktu penyelesaian . , alokasi biaya . , mutu layanan . , serta aspek keselamatan personel . Secara spesifik, penelitian ini mengadopsi beberapa area pengetahuan (Knowledge Area. dari PMBOK yang relevan dengan kondisi lapangan SITS Dishub Surabaya. Area tersebut meliputi Project Risk Management sebagai fondasi identifikasi ketidakpastian. Project Schedule Management untuk mengevaluasi deviasi waktu akibat faktor cuaca ekstrem atau hambatan eksternal . , serta Project Human Resource Management untuk menyoroti urgensi kedisiplinan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. teknisi di lapangan . Melalui kacamata PMBOK, setiap risiko yang dinilai menggunakan matriks ISO 31000 nantinya tidak hanya dipandang sebagai kegagalan teknis perangkat keras, melainkan dianalisis dampaknya terhadap kegagalan pencapaian target proyek secara komprehensif. PEMBAHASAN DAN HASIL DOI: 10. 52362/jisamar. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. Journal of Information System. Applied. Management. Accounting and Research. http://journal. id/index. php/jisamar , jisamar@stmikjayakarta. id , jisamar2017@gmail. e-ISSN: 2598-8719 (Onlin. , p-ISSN: 2598-8700 ( Printe. Vol. 10 No. 3 (August 2. Identifikasi Risiko Berdasarkan hasil observasi pada operasional SITS Dishub Surabaya, proses identifikasi risiko dilakukan dengan memetakan kejadian-kejadian yang menyebabkan kegagalan sistem . ailure mod. atau hambatan kerja teknisi. Hasil identifikasi menunjukkan adanya empat kategori risiko utama: Infrastruktur Eksternal. Teknis Perangkat Keras. Penjadwalan, dan Keselamatan Kerja (K. Tabel 2 merangkum daftar risiko yang ditemukan di lapangan. Kode Tabel 2. Identifikasi Proyek Pemeliharaan CCTV Kejadian Risiko Penyebab Dampak Gangguan Koneksi (Blan. Pemadaman PLN / Gangguan Telkom Downtime pemantauan lalu lintas Kerusakan Fisik Jaringan Kabel FO putus / Gigitan Kegagalan transmisi Penundaan Jadwal Cuaca buruk (Hujan dera. Schedule delay proyek Kecelakaan Kerja Tidak menggunakan APD (Hel. Cedera fatal pada Kerusakan Komponen Power Supply / Kamera rusak (Usi. Biaya penggantian Analisis dan Evaluasi Risiko ISO 31000:2018 Tahap analisis risiko dilakukan dengan mengukur nilai Likelihood (L) dan Impact (I) berdasarkan skala yang telah ditetapkan pada Tabel 1. Data primer menunjukkan bahwa gangguan koneksi akibat pihak eksternal (R. dan kerusakan komponen fisik (R. memiliki frekuensi kejadian yang cukup sering. Evaluasi level risiko dilakukan dengan mengalikan nilai L dan I untuk dipetakan ke dalam matriks risiko. Tabel 3. Penilaian Level Risiko Kode Likelihood Impact Skor Risiko Level Risiko Tinggi (Hig. Tinggi (Hig. Sedang (Mediu. Tinggi (Hig. Sedang (Mediu. Risiko R1 (Gangguan Koneks. menempati skor tertinggi . karena meskipun penyebabnya berada di luar kendali Dishub (PLN/Telko. , dampaknya melumpuhkan fungsi ATCS secara menyeluruh. Sementara itu. DOI: 10. 52362/jisamar. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. Journal of Information System. Applied. Management. Accounting and Research. http://journal. id/index. php/jisamar , jisamar@stmikjayakarta. id , jisamar2017@gmail. e-ISSN: 2598-8719 (Onlin. , p-ISSN: 2598-8700 ( Printe. Vol. 10 No. 3 (August 2. risiko K3 (R. meskipun probabilitasnya rendah . karena belum pernah terjadi insiden jatuh, namun memiliki skor dampak ekstrem . karena risiko fatalitas di jalan raya . Temuan observasi mengenai jarangnya penggunaan helm proyek oleh teknisi meningkatkan urgensi penanganan pada risiko ini. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Analisis FMEA dilakukan untuk menentukan prioritas mitigasi berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN). Penilaian tambahan diberikan pada variabel Detection (D), yaitu seberapa cepat sistem kendali SITS menyadari adanya kegagalan sebelum dampak meluas . Tabel 4. Analisis FMEA Severity Occurrence (S) (O) Kejadian Risiko Detection (D) RPN Gangguan PLN/Jaringan Kerusakan FO/Perangkat Kelalaian APD (K. Hasil RPN menunjukkan bahwa risiko K3 (R. memiliki nilai tertinggi . Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat deteksi (D=. terhadap kelalaian individu teknisi di lapangan sebelum terjadi kecelakaan. Hal ini mengonfirmasi bahwa manajemen keselamatan kerja harus menjadi prioritas utama dalam strategi perlakuan risiko . Analisis Dampak Proyek Berdasarkan Kerangka Kerja PMBOK Selain pendekatan matriks risiko menggunakan ISO 31000, kejadian di lapangan juga dievaluasi melalui kacamata PMBOK. Kerangka kerja ini mengevaluasi kesuksesan sebuah proyek berdasarkan batasan parameter utamanya (Triple Constrain. , yang dalam konteks proyek fisik mencakup: Waktu (Schedul. Mutu (Qualit. Biaya (Cos. , dan Keselamatan (Safet. Pemetaan dampak dari masing-masing risiko operasional terhadap parameter PMBOK diuraikan pada Tabel 5. Tabel 5. Pemetaan Dampak Risiko terhadap Parameter PMBOK Kode Kejadian Risiko di Lapangan Gangguan Koneksi Eksternal Kerusakan Jaringan Penundaan Jadwal (Cuac. Fisik Parameter PMBOK Terdampak Mutu (Qualit. Deskripsi Dampak pada Proyek Mutu & Biaya (Quality Cos. Kegagalan transmisi data yang memunculkan pembengkakan biaya (Cost Overru. untuk penggantian kabel fiber optic. Waktu (Schedul. Deviasi waktu perbaikan (Schedule Dela. harian yang berujung pada pemborosan waktu kerja teknisi . Penurunan Degradatio. akibat hilangnya pemantauan ATCS secara instan. (Quality DOI: 10. 52362/jisamar. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. Journal of Information System. Applied. Management. Accounting and Research. http://journal. id/index. php/jisamar , jisamar@stmikjayakarta. id , jisamar2017@gmail. e-ISSN: 2598-8719 (Onlin. , p-ISSN: 2598-8700 ( Printe. Vol. 10 No. 3 (August 2. Kecelakaan Kerja (Tanpa APD) Keselamatan (Safety / HR) Ancaman fatalitas nyawa teknisi yang menunjukkan lemahnya kedisiplinan Project Human Resource Management . Kerusakan Komponen Usang Biaya (Cos. Membutuhkan perbaikan/penggantian perangkat keras . ower supply/kamer. yang tidak terduga. Berdasarkan Tabel 5, terlihat jelas bagaimana setiap risiko fisik di lapangan menggerus keberhasilan proyek pemeliharaan SITS. Pertama, dari segi Waktu, kejadian cuaca ekstrem (R. secara langsung menyebabkan penundaan di lapangan yang memundurkan target penyelesaian harian teknisi. Keterlambatan ini dikategorikan sebagai pemborosan . waktu pelaksanaan kerja proyek . Kedua, dari segi Mutu, ketergantungan pada vendor eksternal (R. mengakibatkan SITS kehilangan fungsi utamanya meskipun perangkat CCTV internal Dishub tidak rusak. Ketiga, parameter Keselamatan merupakan aspek kritis yang paling disoroti oleh PMBOK dalam eksekusi proyek lapangan . Tingginya RPN pada kelalaian APD (R. membuktikan bahwa tata kelola sumber daya manusia (Project Human Resource Managemen. di SITS membutuhkan intervensi kedisiplinan yang lebih kuat agar penyelesaian perbaikan perangkat tidak mengorbankan nyawa teknisi. Perlakuan Risiko Strategi mitigasi dirumuskan berdasarkan temuan lapangan, standar ISO 31000, serta panduan PMBOK . Implementasi standarisasi mitigasi ini tentu memiliki tantangan tersendiri dan membutuhkan komitmen kuat dari pihak manajemen agar tidak sekadar menjadi dokumen administratif . Untuk risiko cuaca buruk (R. yang memicu schedule delay, tim SITS telah menerapkan langkah preventif dengan menutup panel CCTV segera saat hujan turun untuk mencegah short circuit, kemudian memundurkan jadwal hingga kondisi kondusif. Langkah ini secara efektif memitigasi dampak fisik . Untuk risiko eksternal (R. yang menurunkan mutu layanan, disarankan penguatan koordinasi lintas instansi (SLA) agar pemadaman listrik atau gangguan jaringan dapat diinformasikan lebih awal. Sedangkan untuk risiko K3 (R. , penelitian ini merekomendasikan pengetatan pengawasan penggunaan APD (Helm Proye. melalui supervisi lapangan yang lebih ketat sebelum teknisi menaiki skylift, sebagai wujud tata kelola Project Human Resource Management yang baik. IV. KESIMPULAN Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada proyek pemeliharaan infrastruktur CCTV di SITS Dishub Kota Surabaya, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini merupakan tahapan proyek krusial yang dihadapkan pada ketidakpastian mutu, waktu, dan keselamatan kerja. Integrasi kerangka kerja PMBOK dan standar ISO 31000:2018 terbukti mampu memetakan profil risiko secara objektif. Terdapat empat kategori risiko utama di lapangan, di mana analisis Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) menunjukkan bahwa risiko kelalaian penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) oleh teknisi . isiko K. menempati prioritas penanganan tertinggi dengan nilai Risk Priority Number (RPN) Selain itu, faktor gangguan dari pihak ketiga . emadaman PLN/Telko. teridentifikasi sebagai risiko dengan frekuensi dan dampak operasional terbesar . kor risiko . yang melumpuhkan layanan pemantauan secara Penelitian ini merekomendasikan SITS Dishub Surabaya untuk memperkuat strategi perlakuan risiko yang Hal ini dapat dicapai melalui formalisasi pengawasan APD sebelum pengerjaan skylift, pembakuan prosedur penjadwalan ulang saat cuaca ekstrem untuk mencegah delay yang tidak terukur, dan re-negosiasi Service Level Agreement (SLA) dengan instansi eksternal untuk mempercepat deteksi pemadaman. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis maupun praktis bagi pengembangan ilmu tata kelola layanan TI di sektor publik, serta dapat dikembangkan oleh peneliti selanjutnya dengan mengintegrasikan sistem pelaporan insiden otomatis . elpdesk syste. untuk menurunkan nilai hambatan deteksi kerusakan di lapangan. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat menjadi ruang perbaikan bagi studi selanjutnya. Pertama, pengisian skor probabilitas dan dampak pada matriks ISO 31000 serta FMEA masih bertumpu pada pendekatan kualitatif dan observasi dalam rentang waktu terbatas, sehingga unsur subjektivitas peneliti masih cukup Kedua, ruang lingkup identifikasi risiko dalam penelitian ini baru memotret kendala fisik dan operasional DOI: 10. 52362/jisamar. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. Journal of Information System. Applied. Management. Accounting and Research. http://journal. id/index. php/jisamar , jisamar@stmikjayakarta. id , jisamar2017@gmail. e-ISSN: 2598-8719 (Onlin. , p-ISSN: 2598-8700 ( Printe. Vol. 10 No. 3 (August 2. K3, dan cuac. Analisis ini belum menjangkau risiko keamanan siber . pada jaringan infrastruktur Internet of Things ATCS, seperti potensi peretasan akses CCTV atau kebocoran data server. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan data historis rekapitulasi downtime secara kuantitatif dalam periode tahunan, serta mengintegrasikan standar keamanan informasi seperti ISO/IEC 27001 untuk melengkapi profil risiko infrastruktur SITS secara komprehensif. REFERENSI