Pendekatan Metode Lean Six Sigma Pada Genteng Palentong Gio Patria Mulia1. Julian Robecca2 Program Studi Teknik Industri. Universitas Komputer Indonesia. Bandung Jl Dipati Ukur No 112-116 40132. Telp . Fax . 2533754 gio250395@gmail. com1, julian. robecca@email. ABSTRAK Kriteria penting yang menjadi faktor keberhasilan dalam suatu bisnis dan pertimbangan pelanggan dalam memilih produk adalah mutu produk itu sendiri. Metode Lean Six Sigma merupakan metode pendekatan untuk mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan . atau aktivitas Aeaktivitas yang tidak bernilai tambah untuk mencapai kinerja enam Lean merupakan metode pendekatan yang berfokus pada pemborosan. Six sigma berfokus pada peningkatan kualitas melalui siklus DMAIC yaitu Define, measure, analyze, improve dan control. Objek penelitian adalah genteng palentong, penelitian dilakukan di PG. Mulia Jatiwangi. Permasalahan yang terjadi pada perusahaan yaitu jumlah produksi tidak sesuai dengan yang diinginkan. Metode lean six sigma dibagi menjadi 4 tahapan yaitu define, measure, analyze dan improve. Pada tahap define menggunakan CTQ untuk mengindentifikasi faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap genteng dan diagram histogram untuk menentukan cacat paling dominan genteng, tahapan measure dilakukan penentuan cacat genteng, perhitungan level six sigma untuk mengukur kegalan dalam produksi genteng, dan pembuatan value stream mapping untuk mengetahui aliran informasi dan fisik dalam pembuatan genteng. Pada tahap analyze mencari akar penyebab terjadinya cacat dan pemborosan pada genteng dengan menggunakan fishbone, tabel identifikasi waste dan sub waste genteng, dan. Pada tahapan improve dilakukan perbaikan untuk masalah yang sudah dijabarkan dengan analisis 5 why untuk memberikan solusi dalam melakukan perbaikan genteng dengan menggunakan 5W 1H. Hasil dari penelitian diketahui bahwa pada produk genteng palentong mempunyai lima jenis cacat yaitu gopel, pecah, keropos,retak, dan gosong. Jenis cacat yang sering terjadi pada periode 2016 yaitu jenis cacat gopel. Faktor penyebab terjadinya kecacatan yaitu manusia dan metode yang mengakibatkan waste transportation dan waste motion pada proses produksi. Usulan diberikan peneliti untuk meminimalisir cacat pada produk dan meminimasi pemborosan dengan meningkatkan kesadaran dari operator untuk melakukan pekerjaan, memberikan pelatihan, dan membuat standar operasional prosedur dalam melakukan pekerjaan. Kata Kunci : Cacat. Kualitas. DMAIC. Lean Six Sigma 1 Pendahuluan Dalam perindustrian tanah liat khususnya pabrik genteng sangat pesat dan banyak persaingan. Berdasarkan hal tersebut menuntut setiap pabrik genteng harus memberikan produk yang bermutu kepada konsumen. Mutu produk harus diberikan dan dipenuhi oleh setiap perusahaan kepada pelanggannya. Pengendalian mutu produk sangat penting guna untuk menekan jumlah cacat yang terjadi pada proses produksi dan menekan jumlah biaya produksi. Pengendalian kualitas sangat diperlukan oleh sebuah perusahaan yang bertujuan untuk mengurangi jumlah cacat, dan dapat mengkoreksi terjadinya penyimpangan dalam produksinya. Inaque Vol. 6 No. 2 AGUSTUS 2018 PG. Mulia Jatiwangi ini berlokasi di desa Burujul Wetan, kecamatan Jatiwangi, kabupaten Majalengka. Industri Genteng di Desa Burujul Wetan merupakan salah satu UMKM unggulan. Pangsa pasar wilayah lokal Genteng dari Desa Burujul Wetan yaitu kabupaten Majalengka. Sedangkan wilayah regional yaitu Kabupaten Sumedang. Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Tegal. PG. Mulia Jatiwangi hanya memproduksi genteng jenis palentong Pada proses produksi genteng palentong diketahui terdapat kecacatan yang diakibatkan oleh adanya pemborosan . pada proses produksi yang terjadi. Adapun cacat yang terjadi adalah pecah, retak, gopel, keropos, dan gosong. Hal ini mengakibatkan produksi genteng palentong tidak stabil. Pada tahun 2016 jumlah cacat yang terjadi sebesar 35210, terjadinya cacat tersebut dikarenakan pengendalian kualitas masih ditekankan pada proses akhir produksi. Diharapkan dengan menggunakan tahap DMAIC yang terdapat dalam metode lean six sigma, perusahaan dapat mengidentifikasi bahkan menghilangkan pemborosan yang terjadi. Metode ini merupakan metode gabungan dari lean dan six sigma, yang mana dapat mengidentifikasi pemborosan yang terjadi pada proses produksi dan melakukan continuous improvement untuk mencapai target kinerja 6 sigma. Adapun tujuan dari penelitian adalah mengidentifikasi jenisjenis cacat pada produk genteng palentong, jenis waste yang terjadi pada genteng palentong, dan usulan perbaikan kualitas produk genteng palentong. 2 Studi Literatur 1 Kualitas Pengambilan keputusan dalam persaingan antara produsen produk atau jasa yang diinginkan membutuhkan kriteria mutu berdasarkan konsumen. Untuk itu dibutuhkan peningkatan mutu dan keberhasilan strategi bisnis yang terintegrasi. 2 Lean Lean merupakan usaha terus menerus dalam menghilangkan pemborosan . dan meningkatkan nilai tambah . alue adde. produk agar memberikan nilai kepada pelanggan. Suatu pendekatan sistemik dan sistematik untuk mengidentifikasi dan menghilangkan waste yang dihasilkan atau aktivitas-aktivitas yang tidak menghasilkan bernilai tambah, juga dapat dikatakan definisi dari Lean. Sedangkan value stream merupakan proses dalam memproduksi dan menyerahkan produk ke Pada proses produksi, value stream mencakup supplier, perusahaan dan assembly maupun proses distribusi kepada customer. Value Stream Mapping (VSM) menurut Giri, merupakan metode dalam menjelaskan informasi dan aliran material. Metode ini membantu dalam proses identifikasi waste dalam sistem. 3 Six sigma Pelanggan akan puas apabila mereka menerima produk yang mereka harapkan. Ukuran target kinerja proses industri, yang mana menunjukkan baik tidaknya suatu proses transaksi produk antar produsen dan konsumen dapat dilihat dari level sigma yang dihasilkan. Semakin tinggi level sigma yang dicapai maka kinerja proses juga semakin baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa 6 sigma lebih baik dari 4 sigma maupun 3 sigma. Pengendalian proses yang berfokus pada pelanggan dalam strategi perusahaan, dapat meningkatkan kinerja perusahaan juga merupakan target six sigma. Tahapan yang digunakan dalam mewujudkan level six sigma adalah Define. Measure. Analyze. Improve, dan Control (DMAIC). Pendekatan Metode Lean Six Sigma Pada Genteng Palentong 4 Metode Lean Six Sigma Metode lean six sigma adalah suatu metode yang mengkolaborasikan antara pendekatan sistemik dan sistematik dalam mengidentifikasi dan menghilangkan waste atau aktifitas-aktifitas yang no value added melalui perbaikan secara terus menerus. Cara untuk mencapai kinerja 6 sigma adalah dengan menggunakan sistem tarik dari pelanggan baik internal maupun eksternal sehingga mencapai kesempurnaan dan keunggulan. Ini hanya bisa dicapai apabila perusahaan menghasilkan operasi 3,4 DPMO atau sebanyak 3,4 produk gagal setiap satu juta kesempatan. Pada tahap Define, peneliti mendefinisikan dan menguatkan produk yang akan diteliti, tahap kedua yaitu Measure, menentukan produk yang diteliti, menentukan nilai sigma, menentukan cacat yang akan diteliti, dan pemetaan Value Stream Mapping. Tahap ketiga yaitu Analyze dimana pada tahap ini peneliti menganalisis produk dan jenis cacat yang sudah ditentukan pada tahap sebelumnya dengan diagram fishbone . ebab akiba. , dan terakhir mengidentifkasi waste. Pada tahap terakhir yaitu Improve, yang mana meliputi perbaikan kualitas genteng dari hasil 5 why yaitu dengan menggunakan metode 5W 1H. 5 5W 1H Metode 5W 1H merupakan rencana tindakan baik itu untuk memperbaiki suatu proses atau mengidentifikasi suatu permasalahan yang sedang terjadi serta memecahkan masalah. 6 5 WhyAos Analysis Merupakan alat bantu berupa akar permasalahan dalam menyelesaikan suatu masalah atau ketidaksesuaian pada proses. Tool ini biasanya dapat digunakan bersamaan dengan fishbone 5 WhyAos Analysis menggunakan teknik iterasi dengan membuat pertanyaan . dan diulang sampai menemukan akar masalah yang terjadi. 3 Hasil Penelitian Hasil penelitian berdasarkan tahapan yang telah dilakukan adalah: Define Produk yang telah terpilih untuk proses selanjutnya berdasarkan rata-rata cacat paling tinggi melalui identifikasi variable CTQ dari genteng. Hasil CTQ menunjukan bahwa terdapat 5 jenis variabel yang mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap produk yaitu Gopel. Pecah. Keropos. Retak, dan Gosong. Measure Langkah berikutnya adalah menentukan jenis cacat yang menjadi prioritas penelitian, menghitung tingkat level sigma yang dihasilkan, dan pembuatan Value Stream Mapping (VSM) Pada gambar 3. 1 dapat dilihat jenis-jenis cacat produk yang dihasilkan proses dan cacat Gopel merupakan jenis cacat yang paling dominan dihasilkan. Level six sigma dari produk genteng palentong adalah 3. Sedangkan pada gambar 3. 2 merupakan gambar VSM dari produk genteng untuk melihat alur proses produk genteng palentong. Inaque Vol. 6 No. 2 AGUSTUS 2018 Gambar 3. 1 Diagram Pareto Jenis Cacat pada Produk Genteng Palentong Gambar 3. 2 Value Stream Mapping Produk Genteng Palentong Analyze Tahap Analyze merupakan tahapan mencari penyebab terjadinya ketidaksesuaian dan pemborosan dengan menggunakan diagram fishbone. Pada 5 jenis cacat produk, diperoleh faktor manusia dan metode merupakan penyebab ketidaksesuaian yang terjadi. Sedangkan transportation dan motions merupakan waste yang sering terjadi saat produksi genteng. Improve Tahapan ini merupakan tahap perbaikan kualitas genteng yang akan dijabarkan pada 5 WhyAos Analysis dan memberikan solusi pada metode 5W 1H. Pada tabel 3. 1 identifikasi akar penyebab dari jenis cacat gopel, tabel 3. 2 identifikasi akar penyebab dari jenis cacat pecah, tabel 3 identifikasi akar penyebab dari jenis cacat keropos, tabel 3. 4 identifikasi akar penyebab dari jenis cacat retak, dan tabel 3. 5 identifikasi akar penyebab dari jenis cacat kosong. Tabel 3. 1 Why Klasifikasi Cacat Gopel Tabel 3. 2 Why Klasifikasi Cacat Pecah Pendekatan Metode Lean Six Sigma Pada Genteng Palentong Tabel 3. 3 Why Klasifikasi Cacat Keropos Tabel 3. 4 Why Klasifikasi Cacat Retak Tabel 3. 5 Why Klasifikasi Cacat Gosong 5W 1H Klasifikasi Cacat Gopel Pada klasifikasi cacat gopel disebabkan adapun usulan perbaikan dari hasil pengidentifikasian klasifikasi cacat gopel menggunakan metode 5 Why, agar operator lebih berhati-hati dalam mengangkat dan meletakan genteng, tidak tergesa-gesa saat dan diadakan nya pelatihan dalam melakukan pekerjaan. 5W 1H Klasifikasi Cacat Pecah Pada klasifikasi cacat pecah disebabkan adapun usulan perbaikan dari hasil pengidentifikasian klasifikasi cacat pecah menggunakan metode 5 Why, agar operator lebih memperhatikan suhu api pada saat proses pembakaran dan diadakannya pelatihan dalam melakukan pekerjaan. 5W 1H Klasifikasi Cacat Keropos Pada klasifikasi cacat keropos adapun usulan perbaikan dari hasil pengidentifikasian klasifikasi cacat keropos menggunakan metode 5 Why agar operator lebih teliti dalam pembelian bahan baku tanah dan diadakan nya pelatihan dalam memilih bahan baku tanah. 5W 1H Klasifikasi Cacat Retak Pada klasifikasi cacat retak adapun usulan perbaikan dari hasil pengidentifikasian klasifikasi cacat gopel menggunakan metode 5 Why agar operator lebih teliti dalam pembelian bahan baku tanah dan diadakannya pelatihan dalam memilih bahan baku tanah. Analisis 5W 1H Klasifikasi Cacat Gosong Pada klasifikasi cacat gosong adapun usulan perbaikan dari hasil pengidentifikasian klasifikasi cacat gosong menggunakan metode 5 Why, agar operator lebih memperhatikan suhu api pada saat proses pembakaran dan mengadakan pelatihan. Inaque Vol. 6 No. 2 AGUSTUS 2018 4 Kesimpulan Hasil dari pengolahan data dan analisis yang dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Produk genteng palentong yang teridentifikasi mempunyai lima jenis cacat antara lain Gopel. Pecah. Keropos. Retak dan Gosong selama periode 2016. Pada proses produksi genteng palentong masih banyak terjadinya kecacatan yang akan merugikan pabrik genteng. Kecacatan yang terjadi diakibatkan oleh berbagai faktor penyebab diantaranya manusia dan metode. Dari hasil penelitian juga diketahui jenis waste apa saja yang terjadi pada proses produksi genteng palentong adalah waste transportation dan waste motions yang mengakibatkan kecacatan. Dengan menerapkan metode lean six sigma diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk genteng palentong, mengurangi waste yang terjadi dan mencapai tingkat kecacatan nol . ero Usulan yang dapat diberikan peneliti untuk meningkatkan mutu produk genteng Pada jenis klasifikasi cacat gopel diketahui mempunyai faktor penyebab kecacatan yaitu manusia yang mengakibatkan waste transportation. Usulan yang diberikan peneliti dengan melakukan pelatihan kepada operator dalam melakukan pekerjaan. Pada waste motions usulan yang diberikan peneliti dengan memberikan pelatihan dalam mengangkat dan meletakan genteng. Pada jenis klasifikasi cacat pecah diketahui faktor penyebab terjadinya kecacatan yaitu manusia dan metode yang mengakibatkan waste motion. Usulan yang diberikan peneliti adalah diberikannya pelatihan dalam melakukan pekerjaan. Pada faktor penyebab metode waste motion. Usulan yang diberikan peneliti diberikannya pelatihan dalam memilih kayu bakar. Pada Pada jenis klasifikasi cacat keropos diketahui faktor penyebab terjadinya kecacatan yaitu metode yang mengakibatkan waste motion. Usulan yang diberikan peneliti adalah diberikannya pelatihan dalam melakukan pekerjaan agar tidak salah dalam memilih bahan baku tanah. Pada jenis klasifikasi cacat retak diketahui faktor penyebab terjadinya kecacatan yaitu manusia dan metode yang mengakibatkan waste motion. Usulan yang diberikan peneliti adalah diberikannya pelatihan dalam melakukan pekerjaan Pada jenis klasifikasi cacat gosong diketahui faktor penyebab terjadinya kecacatan yaitu manusia dan metode yang mengakibatkan waste motion. Usulan yang diberikan peneliti adalah diberikannya pelatihan dalam melakukan pekerjaan Pada faktor penyebab metode waste yang terjadi yaitu waste motion. Usulan yang diberikan peneliti diberikannya pelatihan dalam pembakaran genteng. Daftar Pustaka