Vol. No. Mei 2024 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan kepatuhanA Faktor-Faktor Terkait Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kota Pangkalpinang Factors associated treatment adherence among hypertension patients at Gerunggang Health Centre in Pangkalpinang City Dwiana Hermaniati1,Lana Sari1. Zahriah1 Jurusan Farmasi Ae Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang. Indonesia E-mail Korespondensi: lanasari28@gmail. ABSTRACT Hypertension is a condition where systolic blood pressure Ou140 mmHg and diastolic blood pressure Ou90 mmHg. Hypertension had the highest patient visits in Pangkalpinang City in 2021. The Health Center in Pangkalpinang City had the highest number of hypertension visits in 2021, which is Gerunggang Health Center with 7,746 visits. The research objective was to know the factors related to medication adherence in patients with hypertension at the Gerunggang Public Health Center in Pangkalpinang City. The method used was analytic observational with a cross-sectional approach. Sampling used an accidental sampling technique. The research sample consisted of 96 respondents. The measuring instrument used is a questionnaire analyzed by univariate and bivariate using the chi-square test. The results showed that the factors of long-suffering from hypertension . = 0. , level of knowledge . = 0. affordability of access to health services . = 0. , family support . = 0. , the role of health workers . = 0. , and motivation for treatment . =0. was related to medication adherence in patients with hypertension. Factors of gender . =0. , education level . =0. , employment status . =0. , and health insurance participation . =0. were not related to medication adherence in patients with hypertension. The findings of this study can offer valuable insights for Community Health Centers to mobilize PTM cadres and deliver education on the significance of adherence to medication for individuals with hypertension. Keywords: Compliance. Hypertension Patients. Public Health Center ABSTRAK Hipertensi adalah suatu kondisi dimana tekanan darah sistolik Ou140 mmHg dan tekanan darah diastolik Ou90 mmHg. Hipertensi merupakan penyakit dengan kunjungan pasien tertinggi di Kota Pangkalpinang pada tahun 2021. Puskesmas di Kota Pangkalpinang yang memiliki jumlah kunjungan hipertensi tertinggi pada tahun 2021 yaitu Puskesmas Gerunggang dengan jumlah kunjungan sebanyak 7. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kota Pangkalpinang. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Sampel penelitian terdiri dari 96 responden. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chisquare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lama menderita hipertensi . = 0,. , tingkat pengetahuan . = 0,. , keterjangkauan akses pelayanan kesehatan . = 0,. , dukungan keluarga . = 0,. , peran petugas kesehatan . = 0,. , dan motivasi berobat . = 0,. berhubungan dengan kepatuhan berobat pada pasien hipertensi. Faktor jenis kelamin . =0,. , tingkat pendidikan . =0,. , status pekerjaan . =0,. , dan keikutsertaan asuransi kesehatan . =0,. tidak berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Temuan penelitian ini dapat memberikan masukan yang berharga bagi Puskesmas untuk memobilisasi kader PTM dan memberikan edukasi mengenai pentingnya kepatuhan minum obat bagi penderita hipertensi. Kata kunci: Kepatuhan. Penderita Hipertensi. Puskesmas Dwiana Hermaniati Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) PENDAHULUAN Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian di dunia. Hipertensi adalah kondisi dimana tekanan darah seseorang Ou140 mmHg . dan Ou90 mmHg . dan hipertensi sering disebut the silent killer karena hanya 5-10% yang diketahui penyebabnya. Jumlah hipertensi terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 miliar orang penderita hipertensi, dan sekitar 9,4 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat hipertensi dan komplikasinya . Indonesia berada di urutan ke-5 negara dengan penderita hipertensi terbanyak di dunia. Institute for Health Metrics and Evaluation tahun 2017 menyatakan bahwa dari total 1,7 juta kematian di Indonesia salah satunya disebabkan faktor risiko tekanan darah tinggi . Prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia ada di provinsi Kalimantan Selatan sebesar 44,1%, diikuti oleh Jawa Barat sebesar 39,6%, dan Bangka Belitung di urutan ke-17 sebesar 29,9% . Salah satu faktor risiko meningkatnya angka kejadian morbiditas dan mortalitas hipertensi adalah ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Beberapa alasan pasien tidak menggunakan obat antihipertensi karena keterbatasan biaya untuk membeli obat, penggunaan obat antihipertensi yang lama, terlalu sibuk dengan pekerjaan, tidak merasakan gejala atau keluhan, dan efek samping obat. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa 50%-70% penderita hipertensi tidak mematuhi pengobatan antihipertensi yang diresepkan. Kepatuhan pengobatan pasien hipertensi merupakan hal penting karena pengobatan hipertensi membutuhkan waktu seumur hidup dan penyakit hipertensi harus selalu dikontrol atau dikendalikan agar tidak terjadi komplikasi yang dapat berujung pada kematian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperkecil jumlah penderita hipertensi adalah dengan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien hipertensi dalam menjalani pengobatan untuk meningkatkan efek terapi dan sebagai langkah pertama dalam usaha menangani permasalahan tersebut. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang hipertensi merupakan penyakit dengan jumlah kunjungan pasien tertinggi di Kota Pangkalpinang. Puskesmas di Kota Pangkalpinang yang memiliki kunjungan hipertensi terbanyak di tahun 2021 adalah Puskesmas Gerunggang. Permasalahan pada kunjungan pasien hipertensi di Puskesmas Gerunggang adalah ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan karena pasien hipertensi tersebut tidak merasakan keluhan atau gejala, keterbatasan biaya untuk membeli obat, penggunaan obat antihipertensi yang lama, terlalu sibuk dengan pekerjaan, tidak merasakan gejala atau keluhan, dan efek samping obat. Berdasarkan permasalahan tersebut penting dilakukan usaha peningkatan kepatuhan pengobatan pada pasien hipertensi oleh Puskesmas sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang menjadi pilihan pertama masyarakat dalam mendapatkan pengobatan hipertensi yang berguna untuk meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi dalam menjalani pengobatan. Berdasarkan jumlah kunjungan hipertensi di Puskesmas Gerunggang yang terus meningkat dan pentingnya kepatuhan pengobatan pada pasien hipertensi, maka tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktorfaktor yang berhubungan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada penderita hipertensi di Puskesmas Gerunggang. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional untuk meneliti hubungan antara variabel dependen yaitu kepatuhan pengobatan pada penderita hipertensi dengan variabel independen yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pengobatan hipertensi seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, lama menderita, tingkat pengetahuan, keikusertaan asuransi Kesehatan, keterjangkauan akses ke pelayanan Kesehatan, dukungan Vol. No. Mei 2024 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan kepatuhanA keluarga, peran tenaga Kesehatan, dan motivasi berobat. Pengambilan data penelitian dilakukan pada bulan Januari-April tahun 2022 di Puskesmas Gerunggang Kota Pangkalpinang. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah penderita hipertensi yang berobat ke Puskesmas Gerunggang. Teknik yang digunakan pada pengambilan sampel yaitu teknik accidental sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square. HASIL Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian dan mengetahui distribusi frekuensi serta persentase dari setiap Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan . %), tingkat pendidikan SD . ,4%), dan tidak bekerja . %). Sebagian besar responden menderita hipertensi lebih dari lima tahun . ,5%), dan yang mempunyai asuransi kesehatan . ,3%). Tingkat pengetahuan responden rendah . ,9%), keterjangkauan akses pelayanan kesehatan mudah . %), memiliki dukungan keluarga tinggi . ,1%), peran tenaga kesehatan . ,6%), dan motivasi penderita untuk berobat . ,5%). Lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel Tabel 1. Distribusi berdasarkan Karakteristik Responden Variabel Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tingkat Pendidikan Tidak sekolah SMP/MTS SMA/SMK Perguruan tinggi Status Pekerjaan Tidak bekerja . ermasuk didalamnya IRT) PNS Pegawai swasta Pedagang Petani Buruh Lama Menderita Hipertensi <1 tahun 1-5 tahun >5 tahun Keikutsertaan Asuransi Kesehatan Tidak Frekuensi . Persentase (%) Dwiana Hermaniati Tingkat Pengetahuan Rendah Sedang Tinggi Keterjangkauan Akses Pelayanan Kesehatan Tidak mudah Mudah Dukungan Keluarga Rendah Tinggi Peran Tenaga Kesehatan Rendah Tinggi Motivasi Berobat Rendah Tinggi Kepatuhan Menjalani Pengobatan Rendah Sedang Tinggi Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji Chi Square. Tabel 2. Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kepatuhan Berobat Total Jenis Rendah Sedang Tinggi Pvalue Kelamin Laki-laki 30,4 23 Perempuan 15,1 15 20,5 73 0,540 Total 15,6 22 22,9 96 Berdasarkan Tabel 2, diperoleh hasil bahwa dari 23 responden berjenis kelamin lakilaki yang memiliki kepatuhan rendah dalam pengobatan hipertensi adalah 12 responden . ,2%), 4 responden . ,4%) memiliki kepatuhan sedang, dan 7 responden . ,4%) memiliki kepatuhan tinggi. Sedangkan dari 73 responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 47 responden . ,4%) memiliki kepatuhan rendah, 11 responden . ,1%) memiliki kepatuhan sedang, dan 15 responden . ,5%) memiliki kepatuhan tinggi dalam menjalani pengobatan Hasil analisis uji statistik diperoleh nilai p value=0,540 . >0,. yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi di Puskesmas Gerunggang. Vol. No. Mei 2024 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan kepatuhanA Tabel 3. Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kepatuhan Berobat Total Tingkat Pendidikan Rendah Sedang Tinggi Pvalue Tidak sekolah 6 18,2 33 100 SMP/MTS 5 27,8 18 100 0,650 SMA/SMK 5 22,7 22 100 Perguruan tinggi Total 61,5 15 15,6 22 22,9 96 100 Tabel 3 menunjukkan sebagian besar responden berpendidikan SD memiliki tingkat kepatuhan rendah yaitu sebanyak 22 responden . ,7%), 5 responden . ,2%) memiliki kepatuhan sedang, dan 6 responden . ,2%) memiliki kepatuhan tinggi. Berdasarkan analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi dengan nilai p value=0,650 . >0,. Tabel 4. Hubungan antara Status Pekerjaan dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kepatuhan Berobat Total Status Pekerjaan Rendah Sedang Tinggi Pvalue Tidak bekerja (IRT) 58,9 13 17,8 17 23,3 73 100 PNS Pegawai swasta Pedagang 0,966 Petani 1 33,3 3 Buruh Total 61,5 15 15,6 22 22,9 96 100 Berdasarkan Tabel 4, responden tidak bekerja memiliki tingkat kepatuhan rendah yaitu 43 responden . ,9%), 13 responden . ,8%) memiliki tingkat kepatuhan sedang, dan 17 responden . ,3%) memiliki tingkat kepatuhan tinggi dalam menjalani pengobatan Hasil analisis statistik nilai p value=0,966 . >0,. , yang berarti tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan kepatuhan menjalani pengobatan pada penderita hipertensi. Tabel 5. Hubungan antara Lama Menderita Hipertensi dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kepatuhan Berobat Total Lama Menderita Rendah Sedang Tinggi Pvalue Hipertensi <1 tahun 1-5 tahun 0,000 >5 tahun 21,6 18 48,6 37 Total 15,6 22 22,9 96 Responden yang menderita hipertensi <1 tahun ada 23 responden . ,2%) memiliki kepatuhan rendah, 3 responden . ,1%) memiliki kepatuhan sedang, dan 1 responden . ,7%) memiliki kepatuhan tinggi. Sedangkan 32 responden yang menderita hipertensi 1-5 tahun, ada Dwiana Hermaniati Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) 25 responden . ,1%) memilik kepatuhan rendah, 4 responden . ,5%) memiliki kepatuhan sedang, dan 3 responden . ,4%) memiliki kepatuhan tinggi. Dari 37 responden yang menderita hipertensi >5 tahun, ada 11 responden . ,7%) yang memiliki kepatuhan rendah, 8 responden . ,6%) memiliki kepatuhan sedang, dan 18 responden . ,6%) yang memiliki kepatuhan Hasil analisis p value=0,000 . <0,. menunjukkan bahwa faktor lama menderita hipertensi memberikan pengaruh signifikan terhadap kepatuhan menjalani pengobatan hipertensi (Tabel . Tabel 6. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kepatuhan Berobat Total Tingkat Rendah Sedang Tinggi Pvalue Pengetahuan Rendah Sedang 16,1 31 0,000 Tinggi 15,8 15 78,9 19 Total 15,6 22 22,9 96 Berdasarkan Tabel 6, tingkat pengetahuan responden rendah sebanyak 39 . ,8%), 5 responden . ,9%) memiliki kepatuhan sedang, dan hanya 2 responden . ,3%) yang memiliki kepatuhan tinggi. Sedangkan responden yang memiliki pengetahuan sedang ada 31 responden yaitu 19 responden . ,3%) memiliki kepatuhan rendah, 7 responden . ,6%) memiliki kepatuhan sedang, dan 5 responden . ,1%) memiliki kepatuhan tinggi. Responden yang tingkat pengetahuannya tinggi ada 1 responden . ,3%) memiliki kepatuhan rendah, 3 responden . ,8%) memiliki kepatuhan sedang, dan 15 responden . ,9%) memiliki kepatuhan tinggi dalam menjalani pengobatan hipertensi. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada penderita hipertensi dengan nilai p value=0,000 . <0,. Tabel 7. Hubungan antara Keterjangkauan Akses ke Pelayanan Kesehatan dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kepatuhan Berobat Total Keterjangkauan Akses Rendah Sedang Tinggi P Value Pelayanan Kesehatan Tidak mudah Mudah 18,4 18 36,7 49 100 0,001 Total 61,5 15 15,6 22 22,9 96 100 Pada Tabel 7 diperoleh hasil bahwa dari 47 responden yang menyatakan tidak mudah untuk menjangkau pelayanan kesehatan sebanyak 37 responden . ,7%) memiliki kepatuhan rendah, 6 responden . ,8%) memiliki kepatuhan sedang, dan 4 responden . ,5%) memiliki kepatuhan tinggi. Sedangkan dari 49 responden dengan keterjangkauan akses pelayanan kesehatan mudah sebanyak 22 responden . ,9%) memiliki kepatuhan rendah, 9 responden . ,4%) memiliki kepatuhan sedang, dan 18 responden . ,7%) memiliki kepatuhan tinggi dalam menjalani pengobatan hipertensi. Hasil analisis uji statistik diperoleh nilai p value=0,001 . <0,. yang berarti bahwa ada hubungan antara keterjangkauan akses pelayanan kesehatan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi di Puskesmas Gerunggang. Vol. No. Mei 2024 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan kepatuhanA Tabel 8. Hubungan antara Keikutsertaan Asuransi Kesehatan dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kepatuhan Berobat Total Asuransi Rendah Sedang Tinggi P Value Kesehatan Tidak 16,7 18 17,9 19 24,4 78 0,295 Total 15,6 22 22,9 96 Berdasarkan Tabel 8, diketahui bahwa dari 18 responden yang tidak ikut serta atau tidak memiliki asuransi kesehatan sebanyak 14 responden . ,8%) memiliki kepatuhan rendah, 1 responden . ,6%) memiliki kepatuhan sedang, dan 3 responden . ,7%) memiliki kepatuhan tinggi. Sedangkan dari 78 responden yang memiliki asuransi kesehatan sebanyak 45 responden . ,7%) memiliki kepatuhan rendah, 14 responden . ,9%) memiliki kepatuhan sedang, dan 19 responden . ,4%) memiliki kepatuhan tinggi. Hasil analisis diperoleh nilai p value=0,295 . >0,. berarti tidak ada hubungan antara keikutsertaan asuransi kesehatan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi di Puskesmas Gerunggang. Tabel 9. Hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kepatuhan Berobat Total Dukungan Keluarga Rendah Sedang Tinggi P Value Rendah 10,9 46 100 Tinggi 0,001 Total 61,5 15 15,6 22 22,9 96 100 Responden dengan dukungan keluarga rendah sebanyak 37 responden . ,4%) memiliki kepatuhan rendah, 4 responden . ,7%) memiliki kepatuhan sedang, dan 5 responden . ,9%) memiliki kepatuhan tinggi dalam menjalani pengobatan hipertensi. Sedangkan dari 50 responden dengan dukungan keluarga tinggi sebanyak 22 responden . %) memiliki kepatuhan rendah, 11 responden . %) memiliki kepatuhan sedang, dan 17 responden . %) memiliki kepatuhan tinggi. Hasil analisis uji statistik diperoleh nilai p value=0,001 . <0,. Hasil ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi di Puskesmas Gerunggang (Tabel . Tabel 10. Hubungan antara Peran Tenaga Kesehatan dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kepatuhan Berobat Total Peran Tenaga Rendah Sedang Tinggi P Value Kesehatan Rendah Tinggi 12,9 20 32,3 62 100 0,013 Total 61,5 15 15,6 22 22,9 96 100 Berdasarkan Tabel 10, diketahui bahwa dari 34 responden yang menyatakan peran tenaga kesehatan rendah sebanyak 25 responden . ,5%) memiliki kepatuhan rendah, 7 responden . ,6%) memiliki kepatuhan sedang, dan 2 responden . ,9%) memiliki kepatuhan tinggi dalam menjalani pengobatan hipertensi. Sedangkan dari 62 responden dengan peran tenaga kesehatan tinggi dalam pelayanan kesehatan terhadap pasien sebanyak 34 responden Dwiana Hermaniati Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) . ,8%) memiliki kepatuhan rendah, 8 responden . ,9%) memiliki kepatuhan sedang, dan 20 responden . ,3%) memiliki kepatuhan tinggi. Hasil analisis uji statistik diperoleh nilai p value=0,013 . < 0,. yang berarti bahwa ada hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan kepatuhan menjalani pengobatan pada penderita hipertensi. Tabel 11. Hubungan antara Motivasi Berobat dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kepatuhan Berobat Total Motivasi Berobat Rendah Sedang Tinggi P Value Rendah Tinggi 45,8 12 20,3 20 33,9 59 100 0,000 Total 61,5 15 15,6 22 22,9 96 100 Pada Tabel 11 diketahui bahwa dari 37 responden yang memiliki motivasi berobat rendah sebanyak 32 responden . ,5%) memiliki kepatuhan rendah, 3 responden . ,1%) memiliki kepatuhan sedang, dan 2 responden . ,5%) memiliki kepatuhan tinggi. Sedangkan dari 59 responden yang memiliki motivasi berobat tinggi sebanyak 27 responden . ,8%) memiliki kepatuhan rendah, 12 responden . ,3%) memiliki kepatuahan sedang, dan 20 responden . ,9%) memiliki kepatuhan tinggi dalam menjalani pengobatan hipertensi. Hasil analisis uji statistik menunjukan bahwa ada hubungan antara motivasi berobat dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi dengan nilai p value=0,000 . < 0,. PEMBAHASAN Perbedaan pola perilaku sakit dipengaruhi oleh jenis kelamin. Perempuan lebih sering mengobatkan dirinya dibandingkan laki-laki, sehingga akan lebih banyak perempuan yang datang menjalani pengobatan dibandingkan laki-laki. Jenis kelamin berkaitan dengan peran kehidupan dan perilaku berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diketahui bahwa jenis kelamin perempuan lebih banyak yaitu 73 responden . %). Hal ini dikarenakan perempuan biasanya memiliki tekanan darah lebih tinggi setelah menopause. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kepatuhan pengobatan hipertensi. Oleh karena itu, jenis kelamin seseorang tidak dapat dijadikan sebagai tolak ukur perbandingan baik atau tidaknya pengetahuan maupun perilaku yang dimiliki seseorang. Selain itu, melakukan pengobatan ke Puskesmas berkaitan dengan ketersediaan waktu dan kesempatan yang dimiliki, namun saat ini perempuan tidak selalu memiliki ketersediaan waktu untuk datang ke Puskesmas karena banyak perempuan yang juga ikut bekerja atau mempunyai kesibukan. Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi. Hasil yang diperoleh oleh Rohma berbanding terbalik dengan penelitian ini yaitu ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi di Puskesmas Sungaiselan Bangka Tengah. Responden yang berpendidikan tinggi maupun yang berpendidikan rendah, sama-sama ingin sembuh dari penyakitnya sehingga tingkat pendidikan tidak mempengaruhi kepatuhan melakukan pengobatan. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo dimana pengetahuan bisa didapat selain melalui pendidikan formal dalam sekolah namun juga bisa diperoleh dari pendidikan non formal di luar sekolah dan melalui pengalaman. Pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari. Hasil penelitian diperoleh bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan Vol. No. Mei 2024 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan kepatuhanA kepatuhan menjalani pengobatan pada penderita hipertensi. Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan di Puskesmas Makkasau Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan dan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi. Tidak adanya perbedaan ini karena sebagian besar responden yang bekerja adalah disektor non formal yang tidak ditentukan batasan waktu kerja, sehingga responden yang bekerja pun tetap memiliki kesempatan dan ketersediaan waktu yang sama dengan responden yang tidak bekerja untuk menjalani pengobatan Semakin lama seseorang menderita suatu penyakit maka akan semakin paham terhadap penyakit yang dideritanya. Pasien yang sudah lama menderita hipertensi memiliki pengetahuan dan pemahaman lebih banyak dibandingkan dengan penderita yang baru menderita hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lama menderita hipertensi memberikan pengaruh signifikan terhadap kepatuhan menjalani pengobatan Hasil penelitian di Puskesmas Penimbung Lombok Barat juga menunjukkan lama menderita hipertensi berhubungan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan Sebagian besar penderita hipertensi lebih rajin menjalani pengobatan saat penderita sudah lama menderita hipertensi . Hal ini karena tingkat kesadaran akan penyakitnya semakin tinggi sehingga penderita lebih memperhatikan tingkat kesehatannya dengan melakukan kontrol ke Puskesmas. Tingkat pengetahuan adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan seseorang terhadap pengobatannya. Pengetahuan penderita hipertensi dapat menjadi guru yang baik bagi dirinya, dengan pengetahuan yang dimiliki akan mempengaruhi kepatuhan penderita hipertensi tersebut dalam menjalani pengobatan. Penderita yang mempunyai pengetahuan tinggi cenderung lebih patuh daripada penderita yang pengetahuannya rendah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada penderita hipertensi. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sungailiat. Puskesmas Belinyu, dan Puskesmas Petaling dimana hasil yang diperoleh ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan pengobatan penderita hipertensi. Hal tersebut karena responden yang berpengetahuan tinggi tentang hipertensi lebih memahami penyakit yang diderita serta tahu bagaimana pengobatan hipertensi yang benar dan bahayanya apabila tidak rutin kontrol tekanan darah. Oleh karena itu, responden dengan pengetahuan tinggi lebih patuh dalam menjalani pengobatan dan mematuhi anjuran dokter untuk meminum obat secara rutin. Pengetahuan tentang penyakit yang dialami dalam hipertensi, dapat diperoleh dari berbagi sumber tidak hanya berasal dari pendidikan formal tetapi juga bersumber dari pendidikan non formal seperti penyuluhanpenyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Keterjangkauan akses ke pelayanan kesehatan adalah mudah atau tidak mudah seseorang untuk mencapai tempat pelayanan kesehatan. Hasil analisis uji statistik diperoleh bahwa ada hubungan antara keterjangkauan akses pelayanan kesehatan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi di Puskesmas Gerunggang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Puskesmas Tatelu Kabupaten Minahasa Utara Makatindu yang menunjukan ada hubungan antara keterjangkauan akses ke pelayanan kesehatan dengan kepatuhan menjalani pengobatan pada penderita hipertensi. Keterjangkauan akses yang dimaksud dalam penelitian ini dilihat dari segi jarak, waktu tempuh, dan kemudahan transportasi untuk mencapai pelayanan kesehatan. Semakin jauh jarak rumah pasien dari tempat pelayanan kesehatan dan sulitnya transportasi maka akan berhubungan dengan kepatuhan menjalani pengobatan pada penderita hipertensi. Asuransi kesehatan merupakan asuransi yang objeknya adalah jiwa. Tujuan asuransi kesehatan adalah memperalihkan risiko biaya sakit dari tertanggung . kepada Dwiana Hermaniati Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) Sehingga kewajiban penanggung adalah memberikan pelayanan . perawatan kesehatan kepada tertanggung apabila sakit. Berdasarkan pemberian obat yang dilakukan oleh Puskesmas Gerunggang, ada 2 sistem pemberian obat yaitu pasien dengan jangka waktu pengambilan obat 10 hari sekali bagi pasien umum . idak memiliki asuransi kesehata. dan pasien dengan jangka waktu pengambilan 1 bulan sekali dalam program Prolanis (Program Penanggulangan Penyakit Kroni. bagi pasien pemilik BPJS. Hasil penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara keikutsertaan asuransi kesehatan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi karena baik pasien pemegang asuransi kesehatan ataupun tidak memiliki asuransi kesehatan, sama-sama tidak dikenakan biaya pengobatan karena bagi pasien yang tidak memiliki asuransi kesehatan . asien umu. dapat menjalani pengobatan secara gratis dengan menunjukan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Adanya keringanan dari segi pembiayaan inilah yang memungkinkan pasien untuk tetap patuh menjalani pengobatanya secara rutin meskipun tanpa adanya keikutsertaan asuransi Dukungan keluarga merupakan sikap, tindakan, dan penerimaan terhadap penderita yang sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anggota keluarga yang memberikan dukungan keluarga tinggi serta menunjukkan sikap caring kepada anggota keluarga yang menderita hipertensi memiliki peran penting dalam kepatuhan pengobatan. Namun sering kali terjadi tidak semua pasien hipertensi memahami adanya dukungan yang diberikan oleh Hal ini terjadi karena dukungan yang diberikan tidak cukup, dukungan yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhannya, dan merasa tidak perlu dibantu . Perhatian anggota keluarga mulai dari mengantarkan ke pelayanan kesehatan, membantu biaya pengobatan, mengingatkan minum obat terbukti lebih patuh menjalani pengobatan dibandingkan dengan penderita hipertensi yang kurang mendapatkan perhatian dari anggota keluarganya. Peran serta dukungan petugas kesehatan sangatlah besar bagi penderita karena mereka paling sering berinteraksi. Pemahaman terhadap kondisi fisik maupun psikis menjadi lebih baik, sangat mempengaruhi rasa percaya, dan kehadiran petugas kesehatan termasuk anjuran-anjuran yang diberikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan kepatuhan menjalani pengobatan pada penderita hipertensi. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Kelurahan Talang Babat wilayah kerja Puskesmas Muara Sabak Barat. Peran petugas kesehatan tinggi maka tingkat kepatuhan berobat juga tinggi. Dukungan dari petugas kesehatan yang baik inilah yang menjadi acuan atau referensi untuk mempengaruhi perilaku kepatuhan responden. Perilaku petugas yang ramah dan segera mengobati pasien tanpa menunggu lama-lama, serta penderita diberi penjelasan tentang obat yang diberikan, dan pentingnya minum obat secara Peran petugas kesehatan juga dapat berfungsi sebagai konseling kesehatan, dapat dijadikan sebagai tempat bertanya oleh individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat untuk memecahkan berbagai masalah dalam bidang kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat. Motivasi adalah kebutuhan atau keinginan dalam diri seseorang dapat ditimbulkan, dikembangkan, dan diperkuat. Semakin kuat motivasi seseorang maka semakin kuat pula usahanya untuk mencapai tujuan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara motivasi berobat dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Puskesmas Perkotaan Rasimah Ahmad Bukittinggi yang menunjukan bahwa ada hubungan antara tingkat motivasi dengan tingkat kepatuhan menjalani pengobatan pada penderita hipertensi. Hal ini dikarenakan responden yang dinyatakan mempunyai kepatuhan tinggi lebih banyak adalah mereka yang memiliki motivasi tinggi menjalani pengobatan. Motivasi yang tinggi terbentuk karena adanya hubungan antara dorongan, tujuan, dan kebutuhan untuk sembuh. Oleh Vol. No. Mei 2024 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan kepatuhanA karena itu, dengan adanya kebutuhan untuk sembuh maka penderita hipertensi akan terdorong untuk patuh dalam menjalani pengobatan secara rutin. KESIMPULAN Ada hubungan lama menderita hipertensi, tingkat pengetahuan, keterjangkauan akses ke pelayanan kesehatan, dukungan keluarga, peran tenaga kesehatan, dan motivasi berobat dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada penderita hipertensi di Puskesmas Gerunggang Kota Pangkalpinang. SARAN Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi Puskesmas untuk mengaktifkan kader Penyakit Tidak Menular dan melakukan penyuluhan tentang pentingnya kepatuhan menjalani pengobatan hipertensi dan menambahkan metode promosi kesehatan tentang hipertensi dan bahaya pasien hipertensi jika tidak melakukan pengobatan secara teratur dengan penempelan poster atau pemutaran video di ruang tunggu Puskesmas Gerunggang. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang. Puskesmas Gerunggang Pangkalpinang, masyarakat di Wilayah Puskesmas Gerunggang Pangkalpinang yang telah membantu jalannya penelitian. DAFTAR PUSTAKA