Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 STRATEGI PENGEMBANGAN JASA LINGKUNGAN EKOWISATA DIWILAYAH SEMI ARID NUSA TENGGARA TIMUR Aah Ahmad Almulqu1*. Kristina Sinaldi2. Haryadi Darmawan3 Jurusan Kehutanan. Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Indonesia. Jl. Prof. Herman Johanes. Kupang 85011 Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Indonesia. Jl. Dr. Setiabudi No. Hegarmanah. Kec. Cidadap. Kota Bandung. Jawa Barat 40141 E-Mail: ahmadalmulqu@yahoo. com (*Corresponding autho. Submit: 13-02-2024 Revisi: 24-02-2024 Diterima: 06-03-2024 ABSTRAK Strategi Pengembangan Jasa Lingkungan Ekowisata Diwilayah Semi Arid Nusa Tenggara Timur. Taman Wisata Alam (TWA) Baumata merupakan salah satu destinasi tujuan kegiatan ekowisata di Kupang. Tujuan kegiatan penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi terkini terkait dengan kompetisi, analisis faktorfaktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pengelolaan TWA Baumata. Kemudian dilakukan penyusunan strategi alternatif untuk pengelolaan TWA Baumata. Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa TWA Baumata saat ini membutuhkan beberapa aspek yang perlu dioptimalkan. Hasil analisis SWOT dalam penelitian ini diperoleh beberapa alternatif strategi terkait dengan pengelolaan sumberdaya diwilayah TWA Baumata terutama yang berkaitan dengan zonasi, batas kawasan, perbaikan infrastruktur, optimalisasi potensi sumberdaya alam dan peningkatan kapasitas masyarakat local agar lebih aktif terlibat dalam pengelolaan TWA Baumata. Kata kunci : Ekowisata. Nusa Tenggara Timur. SWOT. TWA Baumata. ABSTRACT Development Strategy for Ecotourism Environment Service in Semi Arid Region of East Nusa Tenggara. Taman Wisata Alam (TWA) Baumata is one of the destinations for ecotourism activities in Kupang. The purpose of this study is to analyze the TWA Baumata current performance towards competitors, analyzing the strengths and weaknesses factors, as well as opportunities and threats of the TWA Baumata. Lastly, formulates a proper alternative strategy for the management of TWA Baumata. Based on the results of qualitative analysis, the TWA Baumata current performance, there are remain several aspects that need to be improved. The SWOT matrix analysis generates several alternative strategies, including: resource management related to zoning, area function boundaries, improving infrastructure, optimizing natural potential, and capacity development of local communities to actively participate in TWA Baumata management. Keywords : Ekowisata. Nusa Tenggara Timur. SWOT. TWA Baumata. PENDAHULUAN Sumberdaya hutan yang dapat memberikan manfaat tangible berupa hasil hutan kayu dan hasil hutan non kayu serta manfaat intangible seperti sebagai penghasil oksigen, pengatur siklus air, penyimpan karbon dan pengatur iklim mikro (Almulqu dan Renoat, 2. serta potensi maupun keanekaragaman budaya dan adat istiadat. Potensi-potensi tersebut dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata karena memiliki keunikan dan daya tarik untuk dikunjungi oleh wisatawan domestik ataupun mancanegara. Sebagai salah satu destinasi tujuan kegiatan ekowisata di Nusa Tenggara Timur. Taman Wisata Alam (TWA) Baumata This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Strategi Pengembangan Jasa Lingkungan A kekayaan sumberdaya alam seperti kekayaan flora dan fauna. Berdasarkan data dari Balai Besar Konsevasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provisi NTT, kekayaan flora digambarkan dengan adanya beberapa jenis yang mudah dijumpai seperti jenis Johar, (Cassia siame. Asam (Tamarindus indicu. Kesambi (Schleichera oleos. Jati (Tectona Bambu (Bambusoidea. , dan Beringin (Ficus Sedangkan kekayaan fauna terdiri dari Monyet Ekor Panjang (Macaca fasciculari. Biawak Timor (Varanus timorensi. Ular Sanca Timor (Phyton Srigunting (Dicrurus Pirkici Timor (Trichoglossus eutele. Pirkici Dada Kuning (Trichoglossus haematodu. , dan Punglor/Anis Timor (Zoothera peroni. TWA Baumata memiliki tipe vegetasi hutan yang masih utuh serta udara yang sejuk maka kawasan ini cukup memadai bagi pengunjung yang senang melakukan lintas alam atau penjelajahan hutan, berkemah, studi wisata dan Taman Wisata Alam Baumata juga memiliki beberapa sumber mata air dengan debit yang sangat besar dan mengalir sepanjang tahun. Selain berwisata air dan wisata gua, para pengunjung juga dapat melakukan wisata agroforestri tradisional/mamar yang dikembangkan penduduk setempat. Almulqu et al. Terkait pengelolaan TWA Baumata sebagai suatu taman wisata, diperlukan adanya kajian untuk mengetahui berbagai potensi dan prospek pengembangannya dimasa depan. Sehingga dapat disusun suatu strategi pengembangan wisata alam di kawasan METODE Penelitian ini dilaksanakan di kawasan TWA Baumata. Kabupaten Kupang. Kecamatan Taebenu. Provinsi NTT. Sampel . yang diambil dalam penelitiaan ini terdiri atas sampel pakar dan masyarakat di sekitar TWA Baumat. Untuk sampel pakar meliputi Dinas Pariwisata Kabupaten Kupang. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Circle of Imagine Society (CIS) Timor. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Kupang. Pengambilan sampel responden masyarakat di sekitar TWA Baumata dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, dengan pertimbangan masyarakat yang dijadikan sampel di atas 19 tahun, dan sudah tinggal lama di sekitar TWA Baumata. Jumlah sampel yang diambil mengacu pada Slovin (Arikunto, 2. , yaitu: n=ycA. (A) Catatan: n Nilai n merupakan jumlah sampel n N merupakan jumlah populasi n e merupakan batas eror . %) Populasi masyarakat yang ada di Dusun Satu berjumlah 161 kepala kelurga (KK), dari keseluruhan populasi itu yang dijadikan responden diambil dari RT 01 dengan jumlah 40. Alasan peneliti menentukan sampel respondennya di Dusun Satu dan RT 01, dengan pertimbangan Dusun Satu dan RT 01 berada di dekat kawasan TWA Baumata dan sudah mengabdi lama di sekitar kawasan TWA Baumata, dan memiliki ketergantungan tinggi terhaadap Kawasan work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Analisis menggunakan tabulasi silang dan deskripsi keseluruhan populasi, dan data hasil wawancara masyarakat menggunakan skala likert. Skala likert adalah skala yang dirancang untuk menentukan seberapa kuat responden setuju mengenai suatu pernyataan (Sekaran & Bougie, 2. Pernyataan dalam kuesioner disusun dalam bentuk check list pernyataan dari setiap variabel yang ada. Setiap pernyataan diukur ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 memiliki bobot nilai yang berbeda. Setiap pernyataan memiliki lima skala Likert. Analisis SWOT merupakan alat formulasi strategi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi dari sebuah penelitian. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strength. dan peluang (Opportunitie. , namun secara bersamaan (Weaknesse. , dan ancaman (Threat. (Rangkuti, 2. Tabel 1. Matriks Analisis SWOT. IFAS Kekuatan/strengths (S) Kelemahan/weaknesses (W) EFAS Faktor-faktor kekuatan Faktor-faktor kelemahan internal Opportunities (O) Strategi SO Strategi WO Ciptakan strategi yang meminimalkan Faktor-faktor ancaman Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfatkan peluang kelemahan untuk memanfatkan Threats (T) Strategi ST StrategiWT Faktor-faktora ncaman Ciptakans trategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Proses pengambilan keputusan strategi selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, serta kebijakan pengembangan objek wisata alam. Dengan demikian, rencana strategis yang berupa pengembangan TWA Baumata sebagai daya tarik wisata alam harus menganalisis faktor-faktor strategis yang berkaitan dengan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman berdasarkan kondisi saat ini. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah responden antara laki-laki dan perempuan berjumlah sama banyak yaitu masingmasing berjumlah 20 orang. Masyarakat yang berada di sekitar TWA Baumata tidak dibatasi oleh jenis kelamin. Peran dari laki-laki dan perempuan dalam startegi pengembangan wisata alam Baumata sama yaitu dalam hal promosi tempat wisata dan pelayanan bagi wisatawan yang berkunjung ke TWA Baumata. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Strategi Pengembangan Jasa Lingkungan A Almulqu et al. Tabel 2. Responden berdasarkan Jenis Kelamin. Jenis Kelamin Jumlah Persentase Laki-laki Perampuan Total Usia dikategorikan berdasarkan kondisi fisik menurut Departemen Kesehatan RI . sebagai berikut: . masa balita: 0-5 tahun. masa kanakkanak: 5Ae11 tahun. masa remaja awal: 12Ae16 tahun. masa remaja akhir: 17Ae25 . masa dewasa awal: 26Ae35 tahun. masa dewasa akhir: 36Ae45 tahun. masa lansia awal: 46Ae55 tahun. masa lansia akhir: 56Ae65 tahun. masa manula: > 65 tahun. Responden memiliki rentang usia yang sangat bervariasi mulai dari kelompok usia dewasa awal . tahun sampai dengan kelompok usia lansia atau lebih dari 60 tahun (Tabel . Tabel 3. Data Responden berdasarkan Kelompok Usia. Usia Jumlah 26 Ae 35 . ewasa awa. 36 Ae 45 . ewasa akhi. 46-55 . ansia awa. 56-65 . ansia akhi. Total Persentase tertinggi dari kelompok usia yaitu terdapat 24 orang atau 60% responden yang berusia 56-65 tahun . ansia akhi. Kelompok usia terbanyak berikutnya adalah 46-55 tahun . ansia awa. dengan jumlah 6 orang atau 15%. Selanjutnya kelompok usia terendah 2635 tahun . ewasa awa. dengan jumlah 4 orang atau 10% (Tabel . Tabel 4. Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan. Pendidikan Terakhir Jumlah SMP SMA Total Pendidikan terakhir responden yang paling dominan adalah responden dengan pendidikan terakhir SMP dengan jumlah responden sebanyak 17 orang atau 42,5%. Responden dengan pendidikan terakhir SD dan SMA berjumlah paling sedikit work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. yaitu, berjumlah 8 orang atau 20%, sedangkan untuk pendidikan terakhir SMA berjumlah 15 orang atau sebesar 37,5% (Tabel . Responden berdasarkan pekerjaan sebagian besar berprofesi sebagai petani. Data mengenai pekerjaan . ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 responden menjadi informasi tersendiri sebagai jumlah responden berdasarkan status pekerjaan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa responden sebagian besar berstatus sebagai petani. Tabel 5. Partisipasi Pemerintah dan Masyarakat terhadap Pengembangan TWA Baumata. Pernyataan Jumlah Masyarakat diberikan bimbingan dan/atau penyuluhan terkait wisata alam Baumata oleh Setuju Pemerintah melakukan kegiatan rehabilitasi kawasan TWA Baumata Setuju Pemerintah membuat larangan menebang pohon di TWA Baumata Setuju Masyarakat ikut berperan serta dalam pengelolaan hutan Sangat setuju Masyarakat ikut menjaga hutan yang telah ditanam agar tumbuh dengan baik Sangat setuju Masyarakat memanfaatkan hasil hutan yang ada sekitar untuk memenuhi kebutuhan Cukup setuju Masyarakat mencegah apabila ada pihak yang merambah hutan Setuju Masyarakat tetap akan memanfaatkan hutan untuk memenuhi kebutuhan walaupun pemerintah melarang penebangan Sangat tidak Total Presentase tertinggi yaitu terkait pernyataan AuMasyarakat ikut menjaga hutan yang telah ditanam agar tumbuh dengan baikAy terdapat 30 orang atau sebanyak 75% responden yang merasa sangat setuju terhadap pernyataan Selanjutnya presentase terendah Keterangan dari pernyataan di atas yaitu terkait AuPemerintah menebang pohon di kawasan TWA BaumataAy terdapat 16 orang atau sebanyak 40% responden yang merasa setuju terhadap pernyataan tersebut. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Strategi Pengembangan Jasa Lingkungan A Almulqu et al. Tabel 6. Rekapitulasi Nilai Sosial-Ekonomi di TWA Baumata. Pernyataan Jumlah Perlu ada pendidikan /penelitian terkait pengelolaan TWA Baumata Sangat setuju Hutan menjadi lahan mencari nafkah Sangat tidak setuju Keberadaan hutan berpengaruh terhadap kondisi mata pencaharian masyarakat Sangat tidak setuju Total Keterangan Total nilai tanggapan responden mengenai sosial ekonomi di TWA Baumata adalah 50% yang menyatakan sangat setuju dengan pernyataan AuPerlu pendidikan/penelitian pengelolaan TWA BaumataAy. Sedangkan untuk pernyataan AuHutan menjadi lahan mencari nafkah dan keberadaan hutan berpengaruh terhadap kondisi mata pencaharian masyarakatAy, hasil analisis menunjukkan persepsi yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan tersebut . %). Tabel 7. Rekapitulasi Nilai Hukum. Pernyataan Jumlah Keterangan Terdapat kelembagaan masyarakat untuk mengelolah kawasan TWA Baumata Sangat setuju Pemerintah memberlakukan peraturan tentang pemanfaatan dan pengelolaan TWA Baumata Sangat setuju Seluruh aktivitas budidaya masyarakat dilakukan di luar TWA (>100 mete. Sangat setuju Masyarakat akan melaporkan kepada pihak berwenang . inas kehutanan/polisi ) apabila melihat pihak-pihak merusak hutan Setuju Adanya pemberian sanksi yang tegas bagi perambah hutan Setuju Total Tabel AuTerdapat masyarakat unutuk mengelola kawasan TWA BaumataAy sebesar 57,5 % atau sangat setuju. Kelembagaan masyarakat yang dimaksud adalah kelompok Mitra Polhut yang terdiri dari satu kelompok dengan anggotanya 20 orang, yang berfungsi untuk menjaga kawasan Untuk total nilai responden mengenai hukum yang berlaku di kawasan TWA Baumata adalah nilai yang tertinggi 100% yang menyatakan sangat setuju terkait pernyataan AuSeluruh aktivitas budidaya masyarakat dilakukan di luar TWA . Ay. Sedangkan pernyataan yang paling rendah dilihat dari Tabel 7, yaitu 45% yang menyatakan sangat setuju terkait pernyataan AuPemerintah tentang pemanfaatan dan pengelolaan TWA BaumataAy. Sebagian besar masyarakat di sekitar kawasan TWA Baumata ikut serta dalam menjaga kawasan TWA Baumata. Bentuk keterlibatan tersebut dengan mencegah work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. apabila ada orang yang melakukan penebangan liar atau orang yang masuk sembarangan di dalam kawasan tanpa seijin pihak yang berwenang. Partisipasi warga dapat menumbuhkan lingkungan yang kondusif bagi peningkatan potensi lingkungan dan pertumbuhan masyarakat (Trisnawati et , 2. Ekowisata dapat menciptakan kesempatan kerja bagi setempat, dan kemiskinan, di ekowisata adalah dari jasa-jasa wisata menjual kerajinan dan lain-lain. Ekowisata membawa dampak positif terhadap dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan ekowisata (Trisnawati et al. , 2. Berdasarkan responden, bahwa aktivitas yang dilakukan masyarakat di TWA Baumata yaitu sebagai tempat rekreasi atau kegiatan pariwisata. Masyarakat/responden terkait menyatakan bahwa daya tarik wisata alam Baumata sebaiknya dimanfaatkan sebagai tempat pariwisata, pemotretan, dan tempat penelitian. Hasil wawancara menyatakan bahwa harapan dan keinginan dari masyarakat terhadap pengelolaan kawasan TWA Baumata yaitu perlu ditambah sarana dan prasarana, perlu dilakukan penyuluhan yang intensif terhadap masyarakat desa disekitar TWA, serta perlu adanya penanaman kembali untuk mengganti tanaman . yang mati. Harapan ini dapat mendukung pengembangan TWA Baumata agar dapat berkelanjutan dan menambah informasi kepada masyarakat terkait keberadaan TWA Baumata sebagai tempat wisata. Adapun responden yang menjadi sampel pakar dalam penelitian ini yaitu: Dinas Pariwisata Kabupaten Kupang. Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPTDKPH) Kabupaten Kupang dan LSM CIS Timor. Menurut pendapat dan masukan dari Dinas Parwisata Kabupaten Kupang mengenai pengelolaan TWA Baumata yaitu, mengatakan bahwa ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 perkembangan TWA Baumata sejauh ini sudah cukup baik, namun disarankan agar ke depannya pengelola TWA Baumata lebih memperhatikan jenis vegetasi ataupun fauna yang endemik ataupun non endemik di Selain itu masyarakat juga perlu diberikan sosialisasi secara berkala untuk tetap sama-sama menjaga keaslian TWA Baumata. Hal ini dilakukan untuk menjaga keaslian TWA Baumata. Karena semakin baik masyarakat dan pengelola TWA Baumata menjaganya, maka semakin banyak pula minat pengunjungnya. Selanjutnya menurut lembaga LSM CIS Timor terkait strategi keterlibatan masyarakat yang harus dilakukan ada empat hal yaitu: Perencanaan pengembangan kawasan Pelaksanaan pengembangan kawasan Monitoring pengembangan kawasan Evaluasi pengembangan kawasan Keempat tahapan ini harus benar-benar melibatkan masyarakat yaitu pemilik lahan/tanah di kawasan hutan, suku-suku apa saja yang memiliki hak atas tanah. Selain itu pengelola TWA Baumata juga harus tetap melakukan edukasi secara terus menerus kepada masyarakat di sekitar kawasan. Edukasi ini dimaksudkan agar setiap orang yang ada di sekitar kawasan hutan memahami pendekatan/diskusi dengan baik terhadap masyarakat di sekitar kawasan. Sedangkan menurut Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPTD KPH) Kabupaten Kupang mengatakan bahwa perkembangan TWA Baumata sudah cukup baik. Namun, sebaiknya untuk kedepannya tetap memperhatikan dengan baik sumber mata air karena merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat dibutuhkan masyarakat sekitar TWA Baumata untuk perkebunan, peternakan dan lain sebagainya. Secara umum pariwisata berbasis masyarakat sering juga disebut dengan istilah Community Based Tourism (CBT), pariwisata This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Strategi Pengembangan Jasa Lingkungan A berbasis masyarakat ini merupakan sebuah konsep pengembangan suatu destinasi wisata melalui pemberdayaan masyarakat lokal. Dimana masyarakat turut andil dalam perencanaan, pengelolaan dan penyampaian pendapat (Goodwin dan Santili, 2. CBT adalah pariwisata yang memperhitungkan aspek keberlanjutan lingkungan, sosial dan CBT merupakan alat bagi pembangunan komunitas dan konservasi lingkungan atau dengan kata lain CBT merupakan alat bagi pembangunan pariwisata berkelanjutan (Suansri, 2. Dukungan masyarakat melalui peran dan fungsinya dalam kegiatan pariwisata merupakan salah kepariwisataan yang dikemukakan oleh UNWTO yaitu terdiri dari: Pro Job Pro Growth Pro Poor Pro Environment Dalam Peraturan Menteri Pariwisata No 14 tahun 2016 terkait dengan pembangunan pariwisata berkelanjutan yang lebih menekankan pengembangan pariwisata yang tanggap terhadap kebutuhan wisatawan dan masyarakat setempat dengan tetap menekankan upaya perlindungan dan pengelolaannya yang berorientasi jangka panjang, dimana terdapat 4 prinsip utama Layak secara ekonomi . conomically feasibl. : dilaksanakan secara efisien untuk dapat memberikan nilai manfaat ekonoi yang berarti, baik bagi pembangunan wilayah maupun bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Berwawasan . nvironmentally tanggap dan memperhatikan upayaupaya untuk menjaga kelestarian lingkungan . lam maupun buday. , dan seminimal mungkin menghindarkan menurunkan kualitas lingkungan dan mengganggu keseimbangan ekologi Diterima secara sosial . ocially acceptabl. : dapat diterima secara nilai-nilai budaya dan nilai-nilai yang ada di Almulqu et al. masyarakat dan dampak pembangunan tidak boleh merusak tatanan dan nilainilai budaya yang mendasar di Dapat diterapkan secara teknologis . echnologically appropriat. : proses pembangunan secara teknis dapat diterapkan, efisien dan memanfaatkan sumberdaya lokal dan dapat diadopsi masyarakat setempat secara mudah serta berorientasi jangka panjang. Penggalian informasi dan analisis data yang digunakan pada kegiatan ini adalah dengan analisis SWOT untuk mengungkap empat faktor utama yang penting untuk diperhatikan dalam pengembangan potensi Baumata. Berdasarkan penggalian informasi dilapangan berikut adalah empat faktor penting tersebut yaitu: Kekuatan . Memiliki keindahan alam yang eksotik Memiliki ekosistem alam yang masih alami Memiliki tipe vegetasi yang masih alami Memiliki gua alam, gua kelelawar dan sumber mata air yang bersih Udara yang sejuk dan kondisi yang aman Kelemahan . Kurangnya Rusaknya sebagian tanaman . akibat badai siklon tropis beberapa waktu yang lalu Kurangnya masyarakat dan pemerintah dalam pengembangan wisata alam Baumata di bidang Keterbatasan biaya anggaran pengembangan wisata alam Baumata Kurangnya wisatawan untuk membuang work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. berserakan disekitar tempat Peluang . Kemajuan teknologi informasi masyarakat bisa mengakses TWA Baumata. Akses menuju lokasi wisata yang mendukung. Dekat dengan kota provinsi. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Memiliki rambu-rambu penunjuk jalan yang memadai sampai objek wisata Peningkatan pengelolah dan masyarakat di sekitar kawasan Ancaman . Berkembangnya tempat wisata Pembakaran hutan Tabel 8. Tabel IFAS. Kekuatan Memiki panorama dan keindahan alam yang bagus Memiliki ekosistem yang masih Tingkat signifkan Bobot 0,11 Rating Skor 0,44 0,11 0,39 Memiliki tipe vegetasi yang masih 0,09 0,32 Memiliki gua alam, gua kelelawar dan sumber mata air yang bersih 0,07 0,21 Udara yang sejuk dan kondisi yang 0,11 0,44 Total 0,49 Kelemahan Kurangnya sarana dan prasarana 0,11 0,22 Rusaknya sebagaian tanaman . akibata badai siklon tropis beberapa waktu yang lalu Kurangnya peran serta masyarakata dan pemerintah dalam pengembanagan wisata alam Baumata dibidang promosi Kerterbatasan biayaanggaran pengembangan wisata alam Baumata 0,09 0,18 0,09 0,23 0,11 0,22 Kurangnya kesadaran wisatawan untuk membuang sampah pada tempatnya sehingga sampah masih berserakan disekitar tempat wisata. 0,11 0,28 Total Total Hasil analisis faktor strategis internal menunjukkan bahwa skor total hasil analisis internal adalah 2,93 yang 0,51 2,93 menandakan TWA Baumata berada pada posisi AusedangAy dalam memanfaatkan kekuatan untuk menghadapi kelemahan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Strategi Pengembangan Jasa Lingkungan A Almulqu et al. yang dihadapi dalam pengembangan TWA Baumata (Tabel . Sedangkan hasil analisis faktor strategis eksternal melalui peluang dan ancaman dengan skor total analisis eksternalnya adalah 2,72 (Tabel Tabel 9. Tabel EFAS. Peluang Tingkat Sigifikan Bobot Rating Skor Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sehingga masyarakat bisa mengakses informasi tentang TWA Baumata 0,18 0,73 Akses menuju lokasi wisata yang mendukung 0,18 0,55 Dekat dengan kota provinsi 0,15 0,45 Memiliki rambu-rambu penunjuk jalan yang memadai sampai objek wisata 0,12 0,36 Total 0,63 Acaman Berkembangnya tempat wisata lain yang meningkatkan 0,18 0,36 Pembakaran hutan 0,18 0,27 Total Total 0,36 0,99 work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. 2,72 Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Gambar 1. Diagram Analisis SWOT. Berdasarkan hasil analisis pada Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa strategi pengembangan TWA Baumata terletak pada posisi Kuadran I atau terletak antara peluang eksternal dan kekuatan internal . trategi pertumbuha. yaitu strategi yang didesain untuk mencapai pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan . rekuensi kunjungan dan asal daerah wisatawa. , aset . aya tarik wisata, prasarana dan sarana pendukun. , pendapatan . etribusi masuk dan jumlah yang dibelanjaka. Posisi kuadran I menunjukkan bahwa posisi yang sangat menguntungkan karena TWA Baumata memiliki peluang memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah strategi mendukung kebijakan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Strategi Pengembangan Jasa Lingkungan A Almulqu et al. Tabel 10. Matriks SWOT Wisata Alam Baumata. Strengths (S) Faktor Internal Memiliki panorama dan keindahan alam yang Memilik ekosistem yang masih alami Memiliki tipe vegetasi yang masih alami Memiliki sumber mata air yang bersih Udara yang sejuk Kondisi yang aman Weaknesses (W) Kurangnya Rusaknya sebagian tanaman . akibat badai siklon tropis beberapa waktu yang Kurangnya masyarakat dan pemerintah dalam pengembangan wisata alam Baumata di bidang Keterbatasan biaya anggaran pengembangan wisata alam Baumata Keterbatasan biaya anggaran pengembangan wisata alam Baumata Kurangnya wisatawan untuk membuang sampah pada tempatnya sehingga sampah masih berserakan disekitar tempat Faktor Eksternal Opportunities (O) Strategi SO Strategi WO Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sehingga masyarakat bisa mengakses informasi tentang wisata alam Baumata Akses menuju lokasi wisata yang Dekat dengan kota provinsi Memiliki rambu-rambu penunjuk jalan yang memadai sampai objek Pemeliharaan dan pengawasan terhadap kelestarian sumber daya alam dan tetap mempertahankan kondisi Peningkatan kenyamanan terhadap wisatawan dengan cara menjaga sarana dan prasarana yang sudah ada. Menghimbau para pengunjung agar membuang sampah pada menuliskan di papan informasi di setiap sudut dalam lokasi Meningkatkan promosi tempat wisata agar banyak dikunjungi Memperbaiki prasarana yang rusak menjadi lebih bagus untuk menarik Meningkatkan promosi tempat wisata agar banyak dikunjungi Threats (T) Strategi ST Strategi WT Berkebangnya tempat wisata lain yang meningkatkan persaingan Pembakaran hutan Perlu adanya pengawasan yang ketat dan peringatan keras untuk para pengujung agar dapat mentaati himbauan yang ada di tempat wisata. Melakukan pengawasan dan pemeliharaan fasilitas-fasilitas yang ada di objek wisata. Penyuluhan dan pembinaan bagi masyarakat sekitar untuk terlibat langsung dalam pengembangan di wisata alam. work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Berdasarkan strategi-strategi yang digunakan untuk pengembangan TWA Baumata yang terdapat pada Tabel 10, maka dapat dijelaskan . Pemeliharaan terhadap sumber daya alam dengan tetap mempertahankan lingkungannya yaitu perlu adanya pengawasan dan mempertahankan kondisi lingkungan karena keadaan ekosistem di wisata alam Baumata wisata masih sangat . Menetapkan zonaAezona pengembangan secara tematik dengan tujuan untuk memperoleh Autotal experienceAy bagi wisatawan/pengunjung . Menetapkan batas pada fungsi-fungsi peruntukkannya, sehingga aktivitas masyarakat maupun pengunjung dapat diawasi dan dikontrol . Peningkatan kenyamanan terhadap wisatawan dengan cara menjaga sarana dan prasarana yang ada. Wisatawan tetap menjaga sarana dan prasarana yang sudah ada dan perlu pengelolaan yang lebih baik lagi karena untuk saat ini sarana dan prasarana belum Sarana dan prasarana merupakan faktor penunjang yang dapat menciptakan rasa nyaman bagi wisatawan oleh karena itu perlu pengelolaan lebih baik lagi agar dapat meningkatkan ketertarikan pengunjung ke lokasi wisata. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Mengoptimalkan potensi alam dan TWA mempertahankan dan memelihara objek wisata. Potensi wisata dan keunikan yang ada di daya tarik wisata yang sudah ada tetap diperhatikan dan dilakukan pemeliharaan terhadap sarana prasarana yang ada agar tetap mempertahankan keindahan objek wisata yang ada. Pembinaan bagi masyarakat lokal untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan daya tarik wisata serta konservasi sumber daya alam dan Faktor penghambat adalah hal atau kondisi yang dapat menghambat atau menggagalkan suatu kegiatan, usaha atau produksi (Wibowo, 2. Menurut Heri . , pengembangan daya tarik wisata pasti tidak terlepas dari faktor-faktor berikut ini: Belum ditetapkannya tata ruang terhadap perencanaan kawasan TWA Lemahnya Sumber daya manusia, terutama pada pengelolaan daya tarik wisata dan konservasi lingkungan Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan pengembangan TWA Keterbatasan pengembangan aktivitas dan fasilitas pariwisata Rendahnya komunikasi pemasaran terhadap keberadaan TWA Pemerintah menjadikannya TWA sebagai prioritas pengembangan kepariwisataan. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Strategi Pengembangan Jasa Lingkungan A Dalam pengembangan wisata alam menurut (Sunaryo, 2. , faktor-faktor pengembangannya adalah kurangnya daya tarik wisata adalah belum dikelolanya dengan baik oleh pihak pemerintah yang berwenang dan belum tertatanya dengan baik aspek prasarana dan sarana yang sebenarnya dapat dijadikan daya dukung untuk pengembangan objek wisata di daerah ini. Keterbatasan prasarana dan sarana serta pengelolaan terhadap potensi wisata masih belum optimal. Sebagai sebuah destinasi pariwisata yang berpotensi untuk dikembangkan. TWA Bautama pengembangan destinasi pariwisata yang berbasis masyarakat perlu menerapkan prinsip-prinsip kesuksesan destinasi pariwisata (Goodwin, 2. yang Bersaing, berdasarkan kekayaan produk dan kualitas, bukan hanya pada Memilih untuk menargetkan segmen pasar yang tertarik dengan keragaman alam dan warisan budaya dan kekuatan dan keberagaman Mendorong Membangun kapasitas lokal untuk memperkaya produk yang ditawarkan Pemasaran yang memainkan peran penting dalam mendidik wisatawan tentang budaya lokal/desa dan mendapatkan hasil yang maksimal Memastikan kesehatan, keselamatan dan keamanan pengunjung Menggunakan konsep tanggung jawab dalam kaitan produk dan layanan di destinasi, ke pasar-pasar dengan trend ke arah yang lebih experimental dan produk yang bertanggung jawab Memastikan bahwa produk pariwisata kita dapat diakses oleh semua Almulqu et al. Bekerja dengan industri nasional dan internasional dan memastikan bahwa gambar-gambar yang kita gunakan untuk mempromosikan destinasi secara sosial dapat diterima dengan Mengindentifikasikan mempromosikan praktik terbaik dalam pembangunan keberhasilan Sebagai kawasan yang berbeda dengan isu-isu dilapangan terkait dengan indikatorindikator kekuatan, kelemahan, potensi dan ancaman yang hampir serupa, strategi pengembangan yang direkomendasikan pada Kawasan Wisata Mangrove Kampung Sejahtera di Kota Bengkulu yaitu pengembangan dan diversifikasi kegiatan ekowisata hutan mangrove, meningkatkan promosi dan komunikasi memanfaatkan teknologi informasi (IT) modern, pengelolaan ekowisata berasis masyarakat, pengembangan ekowisata (Herlitasari et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kajian ini, maka diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu: Strategi-strategi yang dilakukan dalam pengembangan wisata alam Baumata yang dilakukan oleh pengelola di TWA Baumata Melakukan pemeliharaan dan pengawasan terhadap sumber daya alam. Peningkatan kenyamanan terhadap wisatawan dengan cara menjaga sara dan prasarana yang ada. Mengoptimalkan potensi alam dan TWA Baumata. Melaksanakan pengontrolan terhadap wisatawan yang dapat mengancam kerusakan objek Melakukan penyuluhan dan pembinaan bagi masyarakat lokal untuk terlibat secara langsung dalam pelayanan pariwisata dan memelihara sumber daya alam dan lingkungan. work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Faktor-faktor penghambat dalam pengembangan TWA Baumata yaitu: masih kurangnya peran masyarakat dan pemerintah dalam pengembangan wisata alam Baumata di bidang promosi, kurang sarana prasaranan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar TWA Baumata. Hal lain yang perlu dilakukan pada aspek penguatan adalah pada peningkatan penyuluhan dan sosialisasi kepada pengembangan wisata alam Baumata terutama pada pengelolaan dan konservasi Peran aktif masyarakat dalam pengelolaan dan konservasi alam perlu dilakukan mengingat Bautama adalah destinasi wisata yang berbasis alam yang sangat rentan dan membutuhkan waktu yang lama untuk pemulihan apabila terjadinya kerusakan ekosistem. Dalam selanjutnya, maka perlu dilakukan kajian mengenai pengembangan aktivitas dan fasilitas wisata serta pengelolaan Departemen Kesehatan RI. Klasifikasi Umur Menurut Kategori. Ditjen Yankes. DAFTAR PUSTAKA