Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 KONTROVERSI ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN TINJAUAN PEMIKIRAN ISMAIL RAJI ALFARUQI DAN IMPLEMENTASI ILMU PENGETAHUAN TERHADAP PESERTA DIDIK Nanang Mulyadi1. Yayu Mulyani2. Mumu Zainal Mutaqin3. Muhammad Arifin4 1-4 Universitas MathlaAoul Anwar. Pandeglang Banten. Indonesia *alamat email koresponden: nmulyadi107@gmail. com1,mulyaniyayu6@gmail. Mumu. Zainal. Mutaqin@gmail. com3,novarifin@gmail. Doi: https://doi. org/10. 56406/jurnalkajianislammodern. ABSTRACT This research aims to examine the controversy of Islamization of science through the thought of Ismail Raji Al-Faruqi and its implementation in Islamic education. The main focus of this research is how the Islamization of science can overcome the dualism between Islamic values and the influence of Western secularism, especially in curriculum development and learner character. AlFaruqi emphasizes the importance of integrating rational science and revelation to build an Islamic education system, which can produce intelligent, faithful, and noble generations. By freeing science from secularism and directing it to the orientation of tawhid, students are expected to become human beings who are able to contribute to Islamic civilization. This research uses a qualitative approach with a literature study to analyze Al-Faruqi's thoughts and the concept of Islamic epistemology in the reconstruction of science based on revelation and ratio. The discussion in this study also highlights the challenges and opportunities in the application of Islamisation of science in the modern era, as well as its relevance in shaping the paradigm of Islamic education that is responsive to the dynamics of the times without ignoring its Islamic identity. The implementation of this paradigm towards students is manifested through the integration of tawhid values in each discipline, the development of analytical thinking skills rooted in Islamic ethical principles, and the internalisation of educational goals that place knowledge as a means of selfactualisation and devotion to Allah SWT. Keywords Islamization of science. Alfaruqi's thought. Implementation ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengkaji kontroversi Islamisasi Ilmu pengetahuan melalui pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi dan implementasinya dalam pendidikan Islam. Fokus utama penelitian ini adalah bagaimana Islamisasi Ilmu dapat mengatasi dualisme antara nilai-nilai Islam dan pengaruh sekularisme Barat, terutama dalam pengembangan kurikulum dan karakter peserta didik. Al-Faruqi menekankan pentingnya mengintegrasikan Ilmu rasional dan wahyu untuk membangun sistem pendidikan Islami, yang dapat menghasilkan generasi yang cerdas, beriman, dan berakhlak mulia. Dengan membebaskan Ilmu dari sekularisme dan mengarahkan pada orientasi tauhid, peserta didik diharapkan menjadi insan kamil yang mampu berkontribusi dalam peradaban Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka untuk menganalisis pemikiran Al-Faruqi dan konsep epistemologi Islam dalam rekonstruksi Ilmu berbasis wahyu dan rasio. Pembahasan dalam penelitian ini juga menyoroti tantangan dan peluang dalam penerapan Islamisasi Ilmu di era modern, serta relevansinya dalam membentuk paradigma pendidikan Islam yang responsif terhadap dinamika zaman tanpa mengabaikan identitas keislamannya. Implementasi paradigma tersebut terhadap peserta didik diwujudkan melalui integrasi nilai-nilai tauhid dalam setiap disiplin Ilmu, pengembangan kemampuan berpikir analitis yang berakar pada prinsip-prinsip etika Islam, serta internalisasi tujuan pendidikan yang menempatkan Ilmu sebagai sarana aktualisasi diri dan pengabdian kepada Allah SWT. Kata kunci Islamisasi Ilmu. Pemikiran Alfaruqi. Implementasi Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 PENDAHULUAN Salah satu pembahasan utama yang diangkat oleh para intelektual muslim sejak akhir abad ke-19 hingga saat ini adalah bagaimana seharusnya memandang Ilmu pengetahuan kontemporer barat. Dunia Islam sebelumnya merupakan pusat Ilmu pengetahuan namun kisaran abad ke-14 Islam mulai mengalami masa kemunduran (Daulay, 2. Sehingga hal ini menjadi penanda Islam mulai tertinggal secara budaya dan Ilmu pengetahuan. Di sisi yang lain, dalam kemunduran Islam di dunia timur, ternyata di bagian barat mengalami perkembangan yang pesat dalam berbagai aspek, khususnya Ilmu pengetahuan, dalam hal ini dikenal dengan istilah masa renaisans barat. Seiring perkembangan Ilmu pengetahuan di barat, ternyata perlahan mulai terkikis peran Islam dalam memainkan perkembangan peradaban dan pengetahuan dan Ilmu keislaman. Seakan tampak bahwa Ilmu pengetahuan dan Islam merupakan dualisme yang terpisah. Berawal dari keberagaman konsep pemikiran kemudian banyak bermunculan aliran-aliran pemikiran, baik di dalam Ilmu agama Islam maupun di dalam Ilmu umum, kita menjumpai adanya aliran atau mazhab yang amat beraneka ragam yang pada gilirannya amat mempengaruhi pola pikir, sikap, dan cara pandang manusia. Pengaruh ini satu sisi dapat dilihat sebagai suatu kewajaran bahkan menguntungkan, karena dapat memperkaya khazanah pemikiran manusia, tapi pada sisi yang lain dalam proses penggunaannya tidak boleh bertentangan dengan wahyu. Setelah kemunduran peradaban Islam. Barat mengalami perkembangan dalam bidang keilmuan sesudah terjadinya pencerahan di Eropa. Hampir keseluruhannya dipelopori oleh ahli sains dan cendekiawan Barat. Akibatnya. Ilmu yang berkembang dibentuk dari pemikiran falsafah Barat yang dipengaruhi oleh sekularisme, utilitarianisme, dan materialism yang menjadikan pengetahuan modern menjadi kering dan kehilangan kesakralannya . erpisah dari nilai-nilai tauhid dan teologi. Ilmu Pengetahuan modern melihat alam dan manusia hanya sebagai material dan insidental yang eksis tanpa intervensi Tuhan. (Hafid, 2. Upaya untuk mengintegrasikan Ilmu agama dan Ilmu umum tersebut mulai diperkenalkan para ahli yang visioner sejak abad kedua puluh, konsep ini banyak dikenal oleh berbagai kalangan pemikir muslim sebagai Islamisasi Ilmu Pengetahuan, yang kemudian menimbulkan pro dan kontra, di satu pihak ada yang setuju dengan Islamisasi Ilmu tersebut dan pihak lain ada yang tidak setuju. Beberapa isu yang mulai mendasari hal ini ditemukannya realitas bahwa pada dunia Islam. muncul berbagai isu mulai sosial, politik, ekonomi. Lebih dari itu, tokohtokoh pembaharu pendidikan mensinyalir bahwa didapati krisis yang terburuk dalam hal pendidikan di kalangan dunia Islam, inilah hal yang menuntut agar selalu dilakukan . dalam hal pendidikan dan segala hal yang terkait dalam kehidupan umat Islam. Peradaban Islam pernah mencapai masa keemasan yang gemilang, terutama pada masa Dinasti Abbasiyah, di mana revolusi ilmiah berkembang pesat dan melahirkan banyak cendekiawan muslim besar. Para Ilmuwan seperti al-Kindi, al-Farabi. Ibnu Sina, dan alKhawarizmi tidak hanya menguasai Ilmu keislaman, tetapi juga unggul dalam bidang filsafat, matematika, kedokteran, astronomi, dan teknologi. Keunikan dari masa itu adalah adanya keselarasan antara Ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keimanan, menjadikan tradisi ilmiah dalam masyarakat muslim sangat berlandaskan pada Al-Qur'an dan prinsip-prinsip keagamaan. Namun, kegemilangan tersebut tidak bertahan lama. Konflik internal antar kerajaan Islam, perebutan kekuasaan, serta tragedi besar seperti jatuhnya Baghdad ke tangan pasukan Mongol di bawah Hulagu Khan, menyebabkan kehancuran pusat-pusat Ilmu dan melemahkan kekuatan umat Islam. Kekalahan dalam Perang Salib dan penjajahan berikutnya semakin memperparah Akibatnya, umat Islam mengalami kemunduran dalam berbagai aspek kehidupan: politik, sosial, pendidikan, dan budaya. Kini, tantangan terbesar adalah bagaimana Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 membangkitkan kembali kejayaan tersebut melalui integrasi antara Ilmu pengetahuan modern dan semangat keislaman yang pernah menjadi ruh utama peradaban Islam. Sayangnya, kemunduran umat Islam terjadi ketika muncul dikotomi IlmuAiantara Ilmu yang dianggap Islami dan Ilmu yang diberi label Barat, bahkan dianggap kafir. Sementara umat Islam mulai membatasi ruang eksplorasi Ilmu, peradaban Barat justru mempelajari secara serius karya-karya Ilmuwan Muslim, termasuk kebudayaan dan kehidupan masyarakat Islam. Hal ini menjadi salah satu fondasi bagi kemajuan mereka yang dikenal dengan Renaisans. Oleh karena itu, gerakan Islamisasi Ilmu menjadi penting untuk membebaskan umat dari dikotomi tersebut dan mengembalikan semangat keilmuan seperti masa kejayaan Islam dahulu (Hidayat. Untuk memperjelas maksud istilah Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Al-Faruqi di akhir bukunya yang berjudul Islamiyah al-maAorifah memaparkan dengan panjang lebar istilah Harus ada gerakan yang menyeluruh di segala aspek kehidupan untuk membangun individu, masyarakat, dan system budaya Islam yang benar sebagaimana harus ada keberanian untuk meninggalkan hal-hal yang selama ini menjadi penyebab krisis umat Islam. Jika selama ini jargon-jargon seperti westernisasi dan modernisasi telah lama popular di kalangan masyarakat dunia, maka kini saatnya jargon Islamisasi perlu dipopulerkan (Haris. , 2. Dari latar belakang tersebut, maka muncullah sebuah ide untuk mempertemukan alam fisik dan metafisik, sehingga lahir keilmuan baru yang modern tetapi tetap bersifat religius dan berlandaskan tauhid, yang dikenal dengan istilah Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Ide ini menjadi popular sejak awal dicanangkannya, yaitu pada awal tahun 80-an. Ide ini dipopulerkan oleh Ismail Raji al-Faruqi yang hingga sekarang masih menjadi pembicaraan di kalangan umat Islam. Hal ini menjadi alasan penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai Islam dan Ilmu pengetahuan, sejarah dan tujuan Islamisasi serta implementasi dan Ilmu pengetahuan. Berdasarkan pandangan tersebut, pada dasarnya Islamisasi Ilmu Pengetahuan merupakan program besar untuk melakukan rekonstruksi bangunan Ilmu pengetahuan dengan cara melepaskan dominasi nilai-nilai Barat yang selama ini mendasari dan mewarnai perkembangan Ilmu pengetahuan modern. Upaya ini bertujuan untuk menyelaraskan Ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Islam yang bersumber pada wahyu ilahi, yang memiliki kebenaran absolut, sehingga Ilmu pengetahuan tidak tercerabut dari akar spiritual dan etisnya. Dengan demikian. Ilmu tidak hanya dipandang sebagai produk rasional semata, tetapi juga sebagai bagian dari jalan untuk memahami dan mendekatkan diri kepada Allah SWT (Haris, 2. Implementasi Islamisasi Ilmu pengetahuan terhadap peserta didik menjadi solusi penting dalam konteks pendidikan saat ini. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam seluruh mata pelajaran, termasuk sains dan sosial, sehingga peserta didik tidak mengalami dualisme antara Ilmu dan agama. Misalnya, dalam pembelajaran biologi, peserta didik tidak hanya diajarkan teori evolusi dan struktur kehidupan semata, tetapi juga ditanamkan nilai tauhid bahwa seluruh makhluk hidup adalah ciptaan Allah yang sempurna. Melalui pendekatan ini, peserta didik akan tumbuh sebagai pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual, etika, dan tanggung jawab sosial yang Dengan demikian. Islamisasi Ilmu pengetahuan menjadi jalan menuju lahirnya generasi Muslim yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi bagi kemajuan umat dan kemanusiaan. Dengan demikian Islamisasi Ilmu pengetahuan memiliki relevansi besar di zaman Mengingat perubahan cepat dalam dunia pendidikan dan modernisasi yang terus berkembang, penting untuk menegaskan kembali dasar-dasar keagamaan sebagai pedoman Seperti yang dikemukakan oleh Ismail Raji al-Faruqi. Islamisasi Ilmu pengetahuan bukan hanya sekadar upaya untuk mengubah konten pendidikan, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap pengetahuan yang dipelajari tidak terlepas dari nilai-nilai moral dan spiritual Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Islam. Hal ini bertujuan agar Ilmu pengetahuan yang kita kembangkan tetap membawa manfaat bagi umat manusia dan tidak kehilangan arah dalam memenuhi tujuan ilahiyah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. , karena fokus utama terletak pada analisis konseptual terhadap pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi tentang Islamisasi Ilmu pengetahuan. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer berupa karya-karya asli Al-Faruqi seperti Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan serta Al-Tawhid: Its Implications for Thought and Life. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari buku-buku, artikel jurnal, dan tesis ilmiah yang membahas epistemologi Islam, pemikiran tokoh-tokoh pendukung maupun pengkritik Islamisasi Ilmu, serta perkembangan pendidikan Islam kontemporer. Teknik analisis data dilakukan secara kritis reflektif, dengan membaca, mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan setiap data berdasarkan tema-tema utama yang berkaitan dengan integrasi antara wahyu dan rasio. Analisis ini dilengkapi pendekatan hermeneutika untuk memahami konteks pemikiran Al-Faruqi, serta metode komparatif untuk mengkaji pemahaman serta implementasinya terhadap peserta didik. Tujuan akhir dari metode ini adalah menggali relevansi Islamisasi Ilmu dalam konteks pendidikan, khususnya dampaknya terhadap peserta didik sebagai generasi pembelajar di era modern. HASIL DAN PEMBAHASAN Islamisasi Ilmu Pengetahuan Proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan sudah terjadi sejak awal Islam dan terus berlanjut hingga saat ini. Ia menegaskan bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa Allah adalah sumber utama Ilmu manusia. Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi SAW, yaitu IqraAo bismi rabbika (Bacalah dengan nama Tuhanm. , secara jelas menegaskan bahwa Ilmu tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai ketuhanan (Daud, 1. Pandangan ini berbeda dengan kepercayaan bangsa Arab pra-Islam yang mengandalkan tradisi kesukuan dan pengalaman empiris sebagai sumber pengetahuan. Pada abad ke-8, di bawah pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Islamisasi Ilmu mengalami perkembangan pesat melalui penerjemahan dan reinterpretasi karya-karya Persia serta Yunani agar sesuai dengan konsep Islam. Salah satu contoh utama dari proses ini adalah karya Imam al-Ghazali Tahafut alFalasifah, yang mengidentifikasi 20 konsep filsafat Yunani yang bertentangan dengan Islam. Al-Ghazali menegaskan bahwa beberapa pemikiran filsuf Yunani, khususnya dalam metafisika, telah menyimpang dari akidah Islam dan karenanya harus dikoreksi atau ditolak (Al-Ghazali, 2. Islamisasi Ilmu Pengetahuan adalah suatu usaha untuk mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam berbagai disiplin Ilmu pengetahuan, dengan tujuan untuk memastikan bahwa Ilmu yang dipelajari tidak terlepas dari nilai-nilai moral dan spiritual yang terkandung dalam ajaran Islam mengajarkan bahwa Ilmu pengetahuan dan agama tidak dapat dipisahkan, karena keduanya saling melengkapi. Pengetahuan yang didapatkan tidak hanya untuk memahami dunia secara teknis, tetapi juga untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan meningkatkan kualitas hidup sesuai dengan petunjuk agama. Dalam konteks ini. Islamisasi Ilmu pengetahuan berusaha untuk mengembalikan Ilmu kepada sumber utamanya, yaitu wahyu Tuhan, agar Ilmu tersebut dapat digunakan untuk kebaikan umat manusia, sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Penerapan Islamisasi Ilmu pengetahuan juga mengajak umat Islam untuk melihat Ilmu sebagai sarana ibadah dan tidak semata-mata sebagai alat duniawi. Dalam pandangan ini, setiap disiplin Ilmu baik itu Ilmu alam, sosial, maupun humaniora harus dilihat dari perspektif yang mengedepankan nilai etika dan moral Islam. Dengan demikian. Ilmu tidak hanya berfokus pada Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Aopencapaian teknologi atau kemajuan duniawi, tetapi juga pada pengembangan karakter dan kesejahteraan umat manusia secara spiritual. Gagasan ini, seperti yang diajukan oleh Ismail Raji al-Faruqi, menegaskan bahwa Ilmu pengetahuan yang benar harus berpijak pada prinsipprinsip Islam, sehingga dapat berfungsi untuk memajukan umat sekaligus menjaga keharmonisan antara Ilmu dan agama. Islamisasi Ilmu Pengetahuan adalah sebuah konsep yang diusulkan oleh sejumlah cendekiawan Muslim, termasuk Ismail Raji al-Faruqi, untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam semua disiplin Ilmu. Tujuan utama dari Islamisasi Ilmu pengetahuan adalah untuk mengembalikan pengetahuan kepada kedudukannya yang benar, yaitu sebagai sarana untuk memahami ciptaan Tuhan, dan pada akhirnya, untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam mengenai Tuhan itu sendiri. Islamisasi Ilmu pengetahuan berusaha untuk menghapuskan sekularisasi Ilmu yang memisahkan Ilmu pengetahuan dari nilai-nilai moral dan spiritual. Pendekatan ini mendukung pemikiran bahwa Ilmu pengetahuan seharusnya tidak hanya bersifat duniawi atau teknis, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai-nilai ketuhanan dan etika Islam. Dalam bukunya Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan . , al-Faruqi mengusulkan agar semua disiplin Ilmu, baik humaniora. Ilmu sosial, maupun Ilmu alam, dikembangkan berdasarkan nilai-nilai Islam dan konsisten dengan tujuan Islam. menekankan pentingnya mengembalikan Ilmu pengetahuan kepada fitrahnya yang berakar pada wahyu dan akal . Hal ini bertujuan untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan mampu berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang unggul (Lestari S. , 2. Ismail Raji al-Faruqi mengembangkan gagasan Islamisasi Ilmu sebagai respons terhadap sekularisasi Ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia Barat. Ia berpendapat bahwa Ilmu pengetahuan modern sering kali terlepas dari nilai-nilai spiritual dan moral Islam, sehingga perlu diintegrasikan dengan prinsip-prinsip Islam untuk membentuk epistemologi yang holistik dan sesuai dengan tujuan hidup umat Islam. Menurutnya, bahwa Ilmu pengetahuan modern sering kali terlepas dari akar spiritual dan moral Islam, mengarah pada proses de-Islamisasi yang menghilangkan dimensi ilahiah dalam Ilmu. Ia menekankan bahwa untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan Islamisasi Ilmu pengetahuan yang mengintegrasikan wahyu dan akal, serta membebaskan Ilmu dari pengaruh sekuler (Muslih, 2. Dalam perspektif agama, persoalan kehidupan dan pemecahannya dipahami melalui bimbingan Ilahi sebagaimana disampaikan dalam wahyu, sedangkan sains mengandalkan pendekatan rasional dan eksperimental. Kebenaran dalam agama bersifat absolut karena bersumber dari Tuhan, sedangkan dalam sains, kebenaran bersifat relatif dan selalu terbuka untuk direvisi. Agama juga mencakup aspek-aspek transenden dan hal-hal yang tidak terjangkau oleh pancaindra, sementara sains terbatas pada objek-objek yang dapat diamati dan diuji secara empiris. Memang, dalam Islam. Ilmu pengetahuan dan agama tidak bisa dipisahkan, karena keduanya saling melengkapi. Agama memberikan dasar dan arah yang jelas, sementara Ilmu pengetahuan membantu umat Islam untuk lebih memahami dunia dan ciptaan-Nya, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup sesuai dengan petunjuk Tuhan. Pemikiran al-Faruqi tentang integrasi nilai-nilai Islam dalam Ilmu pengetahuan sangat penting untuk memastikan bahwa perkembangan Ilmu pengetahuan tetap sejalan dengan prinsip-prinsip spiritual yang Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Pemikiran Ismail Raji Alfaruqi Ismail Raji al-Faruqi . 1Ae1. adalah seorang filsuf dan cendekiawan Muslim kelahiran Palestina yang dikenal karena kontribusinya dalam studi Islam dan dialog antar Ia memperoleh gelar Master dari Indiana University dan Harvard University, serta meraih gelar Ph. dari Indiana University pada tahun 1952. Al-Faruqi mengajar di berbagai universitas, termasuk McGill University di Montreal dan Temple University di Philadelphia, di mana ia mendirikan Program Studi Islam. Ia juga merupakan salah satu pendiri International Institute of Islamic Thought . T) pada tahun 1980. Al-Faruqi dikenal karena gagasannya mengenai Islamisasi Pengetahuan, yang bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam berbagai disiplin Ilmu. Salah satu kutipannya adalah "Islamisasi pengetahuan adalah usaha untuk mengembalikan pengetahuan kepada kedudukannya yang benar, yaitu sebagai sarana untuk memahami dan mengembangkan ciptaan Tuhan, yang pada gilirannya akan membawa kepada pemahaman yang lebih dalam mengenai Tuhan itu sendiri. " (Al-Faruqi. Sains sejatinya tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai yang melandasinya, sebuah argumen penting yang menentang pandangan bahwa sains saat ini telah mengalami proses Islamisasi. ilmu-ilmu sosial kini bukan hanya dianggap berguna, tetapi juga menjadi kebutuhan. Pengaruh kebudayaan dan peradaban Barat telah meresap ke dalam perkembangan Ilmu pengetahuan, termasuk di dunia Islam, sehingga muncul kesan bahwa sains berakar dari cara berpikir Barat. (Daulay, 2. Ismail Raji Al-Faruqi memandang bahwa Islamisasi Ilmu pengetahuan merupakan proses yang mendasar untuk mengembalikan Ilmu kepada tauhid sebagai asas utamanya. Ia menolak konsep netralitas Ilmu sebagaimana yang dianut oleh sains Barat dan menekankan bahwa Ilmu harus senantiasa berakar pada nilai-nilai ilahiah. Dalam pandangan Al-Faruqi, keterpisahan antara akal dan wahyu telah menciptakan krisis pemikiran dan budaya dalam masyarakat Muslim, sehingga rekonstruksi Ilmu dengan pendekatan Islam menjadi sangat penting (Lestari , 2. Menurut Al-Faruqi, salah satu penyebab kemunduran umat Islam terletak pada sistem pendidikan yang dualistik, yang memisahkan antara Ilmu agama dan Ilmu sekuler. menyayangkan bahwa banyak lembaga pendidikan Islam hanya meniru sistem Barat tanpa memasukkan nilai dan visi Islam ke dalamnya. Hal ini menciptakan generasi Muslim yang tercerabut dari akar intelektual Islam dan lemah dalam memahami peran Ilmu sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Tuhan (Rachman, 2. Sebagai solusi. Al-Faruqi mengajukan lima rencana kerja untuk Islamisasi Ilmu, yaitu menguasai Ilmu kontemporer, menggali khazanah keilmuan Islam, menganalisis hubungan antara Islam dan Ilmu modern, melakukan sintesis kreatif, dan mengarahkan pengembangan Ilmu agar selaras dengan kehendak Allah. Dengan integrasi nilai-nilai tauhid dalam seluruh aspek keilmuan. Al-Faruqi meyakini umat Islam dapat membangun kembali peradaban unggul yang berakar pada wahyu dan akal secara harmonis (MuAominin, 2. Proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan diharapkan dapat menghasilkan suatu bentuk keilmuan yang berpijak pada nilai-nilai wahyu, yaitu Al-QurAoan dan Hadis. Ilmu pengetahuan yang lahir dari proses ini, sering disebut sebagai sains Islam, memiliki orientasi dan landasan yang berbeda dengan sains Barat yang selama ini mendominasi wacana keilmuan global. (Alwi, 2. Untuk menegaskan perbedaannya, berikut ini adalah tabel perbandingan antara sains Barat dan sains Islam: Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Tabel 1. Perbandingan Antara Sains Barat Dan Sains Islam Aspek Perbandingan Sains Barat Sains Islam 1 Dasar epistemologi Rasionalitas dan Wahyu dan akal sebagai dua sumber pengetahuan 2 Tujuan Ilmu Pengetahuan demi Ilmu sebagai jalan meraih keridhaan Allah 3 Cara mengetahui realitas Pendekatan tunggal: Pendekatan jamak: akal, observasi dan intuisi, dan wahyu 4 Posisi emosi dan nilai Emosi harus Komitmen emosional dinetralisasi untuk dibutuhkan untuk menjamin objektivitas mendorong etika dan tanggung jawab 5 Kepedulian Ilmuan Netral terhadap akibat Bertanggung jawab sosial dan moral terhadap dampak moral dan sosial sebagai bentuk 6 Objektivitas pengetahuan Validitas bergantung Validitas juga dipengaruhi pada data empiris oleh tujuan, niat, dan nilainilai Islam 7 Dasar penerimaan Ilmu Berdasarkan bukti Berdasarkan bukti dan yang meyakinkan makna sesuai pandangan secara rasional Islam 8 Posisi nilai dalam Ilmu Ilmu bersifat netral dan Ilmu mengandung nilai: bebas nilai baik-buruk, halal-haram 9 Orientasi kesetiaan Ilmuan Loyal pada komunitas Loyal pada Tuhan, umat ilmiah dan kemajuan dan penciptaan Ilmu 10 Kebebasan ilmiah Tidak ada batasan Dibatasi oleh nilai etika, selama ilmiah Syariat, dan tanggung jawab moral Melalui proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan, umat Islam diharapkan dapat terbebas dari pengaruh nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam. Kebebasan ini akan membawa dampak pada terciptanya keharmonisan batin serta kedamaian spiritual. Tujuan utama dari Islamisasi adalah untuk melindungi umat Islam dari pengetahuan yang telah terdistorsi dan menyesatkan, serta untuk membentuk kepribadian Muslim yang otentik yang semakin memperkuat iman kepada Allah. Pada akhirnya. Islamisasi akan melahirkan nilai-nilai keamanan, kebaikan, keadilan, dan memperteguh keyakinan umat Islam dalam kehidupannya (Alwi, 2. Islamisasi Ilmu Pengetahuan memiliki peran penting dalam merespons tantangan masyarakat modern. Pada masa awal peradaban Islam, pendidikan mengalami puncak kemajuan yang luar biasa, bahkan melampaui peradaban Barat. Masa keemasan tersebut tidak lepas dari tiga hal utama: keterbukaan umat Islam terhadap pengembangan Ilmu pengetahuan, adanya landasan moral dalam studi keislaman, serta tiadanya pemisahan antara Ilmu agama dan Ilmu rasional. Dalam hal ini. Mulyadhi Kartanegara menyatakan bahwa peradaban Islam Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 tumbuh berkembang pesat karena Ilmuwan Muslim tidak pernah memisahkan antara Ilmu dan agama (Daulai, 2. Implikasi Islamisasi Ilmu Pengetahuan Terhadap Peserta Didik Proses Islamisasi Ilmu pengetahuan memiliki dampak signifikan terhadap peserta didik, terutama dalam membentuk karakter dan pola pikir yang integratif antara Ilmu dan nilai-nilai Dengan mengintegrasikan konsep keilmuan Islam ke dalam kurikulum pendidikan, siswa diajarkan untuk melihat fenomena alam dan dunia sebagai tanda-tanda kebesaran Allah, sehingga dapat menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan prinsip-prinsip keimanan. Hal ini tidak hanya menciptakan pemahaman yang holistik, tetapi juga meningkatkan kemampuan siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis yang esensial dalam kehidupan (Faqihuddin, 2. Lebih lanjut. Islamisasi Ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan menambahkan unsur religius dalam pengajaran, tetapi juga membentuk peserta didik agar memiliki cara pandang dunia . yang Islami. Ismail Raji al-Faruqi, tokoh utama dalam gagasan Islamisasi Ilmu, menekankan pentingnya menyatukan seluruh cabang Ilmu ke dalam kerangka tauhid. Menurutnya. Islamisasi harus dimulai dengan rekonstruksi epistemologi Ilmu modern agar sesuai dengan nilai-nilai Islam (Al-Faruqi, 1. Ini memberikan peserta didik fondasi kuat untuk memahami Ilmu secara objektif namun tetap berdasarkan nilai transendental yang bersumber dari wahyu. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi Ilmuwan yang kompeten, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual dalam penggunaan Ilmunya. Implikasi Islamisasi Ilmu Pengetahuan terhadap peserta didik adalah terbentuknya generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran etis dan tanggung jawab moral dalam kehidupan sosial. Islamisasi Ilmu juga mendorong lembaga pendidikan untuk menjadi pusat penyebaran Ilmu yang Islami dan membangun budaya akademik yang berlandaskan nilai-nilai tauhid. Melalui proses ini, peserta didik dapat dibimbing untuk menjadi insan kamil yang mampu mengintegrasikan antara Ilmu, iman, dan amal dalam kehidupan sehari-hari (Abdullah, 2. Ada beberapa langkah implikasi Islamisasi Ilmu Pengetahuan terhadap peserta didik sebagai berikut: Menguasai dan mahir dalam disiplin Ilmu pengetahuan Islamisasi Ilmu pengetahuan hanya bisa dilakukan oleh orang yang menguasai Ilmu tersebut, karena proses ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang konsep dan metode dalam Ilmu itu sendiri. Tanpa pemahaman yang baik, sulit untuk menghubungkan Ilmu dengan nilai-nilai Islam secara tepat. Oleh karena itu, untuk melakukan Islamisasi Ilmu dengan benar, seseorang harus memiliki keahlian dalam Ilmu tersebut serta pengetahuan agama yang memadai. Islamisasi tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak menguasai Ilmu itu sendiri (Sani, 2. Tinjauan disiplin Ilmu pengetahuan Tugas pertama dalam Islamisasi Ilmu pengetahuan adalah mengkaji struktur epistemologi Ilmu modern, yaitu cara Ilmu dipahami dan diperoleh. Ilmu modern sering terpisah dari nilai-nilai spiritual, sehingga perlu dievaluasi dan diintegrasikan dengan prinsip-prinsip Islam agar Ilmu tetap selaras dengan nilai-nilai ketuhanan dan etika Islam. Tugas pertama dalam Islamisasi adalah mengkaji struktur epistemologi Ilmu modern (Wahyudi, 2. Menguasai warisan Islam Penguasaan terhadap khazanah intelektual Islam sangat penting agar Islamisasi Ilmu pengetahuan tetap berpegang pada akar tradisinya. Tanpa pemahaman yang mendalam tentang karya-karya Ilmuwan Muslim klasik. Islamisasi Ilmu bisa terlepas dari landasan Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 filosofis dan teologis Islam yang telah ada. Untuk itu, penting bagi cendekiawan Muslim untuk menggali kembali warisan intelektual ini, agar proses Islamisasi dapat dilakukan dengan tepat dan sesuai dengan nilai-nilai Islam yang autentik. Penguasaan terhadap khazanah intelektual Islam sangat penting agar Islamisasi tidak lepas dari akar tradisinya (Moten, 2. Penentuan penyesuaian Islam terhadap disiplin Ilmu pengetahuan Dalam Islamisasi ilmu, kita perlu memilih bagian-bagian dari ilmu modern yang sesuai dengan ajaran Islam. Bagian yang sejalan dengan nilai tauhid dan kebaikan bisa digunakan, sedangkan yang bertentangan, seperti paham sekularisme, perlu ditolak atau Dengan cara ini, ilmu yang dipelajari tetap membawa manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah. Penilaian kritis terhadap warisan Islam Tidak semua warisan peradaban Islam klasik bisa diterima begitu saja dalam konteks zaman sekarang. Sebagian pemikiran dan pendekatan mereka lahir dari situasi sosial, budaya, dan kebutuhan zamannya, yang tentu berbeda dengan tantangan dunia modern. Karena itu, kita perlu melakukan telaah kritis untuk memilah mana yang tetap relevan dan mana yang perlu diperbarui, agar ajaran Islam tetap hidup, dinamis, dan mampu menjawab kebutuhan masa kini tanpa kehilangan nilai aslinya. Penilaian kritis terhadap disiplin Ilmu pengetahuan modern Ilmu modern banyak mengandung nilai-nilai sekuler dan Barat yang tidak selalu sejalan dengan pandangan hidup Islam. Karena itu, kita tidak bisa langsung menerima semuanya begitu saja. Diperlukan kajian kritis untuk menilai mana yang sesuai dengan prinsip Islam dan mana yang harus dikoreksi atau ditinggalkan, supaya integrasi ilmu tetap menjaga keaslian nilai-nilai keislaman. Kajian masalah utama umat Islam Islamisasi ilmu harus dimulai dari kesadaran akan berbagai masalah besar yang sedang dihadapi umat Islam, seperti krisis identitas, ketertinggalan dalam sains, dan dominasi nilai-nilai Barat. Tanpa memahami realitas ini, upaya Islamisasi akan kehilangan arah. Kesadaran ini mendorong kita untuk membangun ilmu yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keislaman. Melakukan analisis kreatif dan sintesis Kita perlu menciptakan sintesis baru antara warisan Islam dan pengetahuan modern dengan cara yang kreatif dan bertanggung jawab. Ini berarti kita harus mampu menggabungkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, tanpa mengabaikan keduanya. Pendekatan ini tidak hanya akan memperkaya pengetahuan, tetapi juga memastikan bahwa ilmu yang kita kembangkan tetap relevan dan bermanfaat bagi umat Islam dan dunia secara keseluruhan. Tahap akhir dari Islamisasi ilmu adalah menulis kembali buku teks yang ada dengan memperkenalkan pandangan dunia Islam yang lebih jelas. Ini berarti kita perlu membentuk kembali disiplin ilmu modern dalam kerangka kerja Islam, dengan mengadaptasi konsepkonsep yang sesuai dan menulis materi pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga mengaitkan setiap pengetahuan dengan nilai-nilai Islam. Hal ini penting agar pembelajaran yang diterima oleh generasi mendatang memiliki landasan yang kokoh dan relevan dengan kehidupan beragama. Pendistribusian Ilmu yang telah diislamkan Ilmu yang telah diislamkan perlu diajarkan, disebarkan, dan diamalkan melalui lembaga pendidikan dan media agar dapat memberikan dampak yang luas. Dengan memanfaatkan lembaga pendidikan, pengetahuan yang sesuai dengan pandangan dunia Islam dapat diteruskan kepada generasi berikutnya, sementara media menjadi sarana Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 efektif untuk menyebarkan informasi dan membangun kesadaran masyarakat. Hal ini penting agar ilmu yang berbasis pada nilai-nilai Islam dapat diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu yang telah diislamkan perlu diajarkan, disebarkan, dan diamalkan melalui lembaga pendidikan dan media (Lubis, 2. SIMPULAN Islamisasi Ilmu pengetahuan berakar dari kejayaan peradaban Islam masa lalu, di mana para ilmuwan Muslim berhasil menggabungkan iman dan Ilmu. Pada masa keemasan. Ilmu berkembang pesat dalam berbagai bidang seperti kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat, yang semua didorong oleh nilai-nilai Al-QurAoan. Namun, kemunduran terjadi seiring waktu akibat konflik internal dan dominasi pemikiran Barat, menyebabkan terjadinya pemisahan antara Ilmu agama dan Ilmu umum. Gagasan untuk mengislamkan kembali Ilmu pengetahuan muncul sebagai upaya rekonstruksi peradaban umat Islam. Ismail Raji al-Faruqi memainkan peran penting dalam menghidupkan semangat Islamisasi Ilmu. Ia menekankan pentingnya menyatukan wahyu dan akal, serta mengembalikan Ilmu pada kerangka tauhid. Menurut al-Faruqi. Islamisasi bukan penolakan terhadap Ilmu modern, melainkan usaha untuk merestrukturisasi epistemologi Ilmu agar tetap sejalan dengan nilainilai Islam. Ilmu pengetahuan harus dikembangkan secara kritis berdasarkan Al-QurAoan dan Sunnah, sehingga dapat memberikan solusi bagi masalah kontemporer umat manusia tanpa kehilangan dimensi spiritual. Implikasi Islamisasi Ilmu bagi peserta didik sangat penting, karena mereka tidak hanya dituntut menguasai ilmu akademik, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Hal ini mendukung terbentuknya pribadi yang berilmu, beriman, dan berakhlak. Dalam pendidikan. Islamisasi Ilmu mendorong pengembangan kurikulum yang integratif dan budaya belajar yang beretika, menjadikan Ilmu sebagai amanah untuk kemaslahatan umat. Oleh karena itu. Islamisasi Ilmu merupakan strategi penting untuk membina generasi Muslim yang unggul secara intelektual dan spiritual. DAFTAR PUSTAKA