Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Student Engagement and Mastery of IPAS through Cooperative Learning at MI Nurul Yaqin NW Landah: A Classroom Action Research Dewi Suardani 1. Dewi Rosdiana 2 1 MI. Nurul Yaqin NW Landah 2 MI. Maraqitta'limat Sembulan Batu Correspondence: dewisuardani42@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Cooperative learning. IPAS, student engagement. Classroom Action Research, academic achievement. MI Nurul Yaqin NW Landah. ABSTRACT This study investigates the effectiveness of cooperative learning in enhancing students' engagement and understanding of Integrated Science. Social Studies, and Civics (IPAS) at MI Nurul Yaqin NW Landah. The subject of IPAS plays a critical role in providing students with fundamental knowledge in science, social studies, and civic education. However, many students find it challenging to grasp these concepts when traditional teaching methods are used, often resulting in passive learning. Cooperative learning, which emphasizes collaboration, active participation, and shared responsibility, has been shown to improve student engagement, comprehension, and social skills. This research aims to explore how cooperative learning strategies can be implemented in the IPAS classroom to foster deeper understanding and improve academic performance. The study uses Classroom Action Research (CAR) methodology, implemented in two cycles. Each cycle includes planning, action, observation, and reflection, allowing for continuous refinement based on the results of the previous cycle. Data collection includes student assessments, classroom observations, and interviews with teachers to evaluate the impact of cooperative learning on student engagement and academic achievement in IPAS. The research specifically examines how working in groups enhances critical thinking, problem-solving abilities, and communication skills, which are essential for mastering IPAS content. The preliminary results suggest that cooperative learning significantly improves student engagement and comprehension of IPAS concepts. Students showed increased participation, better teamwork, and a greater ability to apply IPAS knowledge in practical contexts. These findings demonstrate the potential of cooperative learning as an effective instructional strategy for improving IPAS education at MI Nurul Yaqin NW Landah. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan merupakan aspek fundamental dalam menciptakan generasi yang berpengetahuan dan terampil. Di Indonesia, pendidikan dasar memainkan peran penting dalam membentuk dasar pengetahuan anak-anak yang akan mereka gunakan sepanjang hidup mereka. Salah satu mata pelajaran yang sangat berperan dalam pendidikan dasar adalah IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. , yang mengintegrasikan tiga bidang ilmu utama, yakni sains, sosial, dan Namun, meskipun IPAS sangat penting, banyak siswa di MI Nurul Yaqin NW Landah yang masih mengalami kesulitan dalam memahami dan mengaplikasikan konsepkonsep yang diajarkan dalam mata pelajaran ini (Budi, 2. Secara tradisional, pembelajaran IPAS di MI Nurul Yaqin sering kali dilakukan dengan pendekatan konvensional yang cenderung bersifat satu arah. Dalam model pembelajaran ini, siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru dan kemudian menghafal materi yang Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 disampaikan tanpa adanya kesempatan untuk terlibat aktif. Hal ini menyebabkan banyak siswa merasa kurang tertarik dengan pelajaran IPAS dan tidak mampu mengaitkan pengetahuan yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari (Sari, 2. Akibatnya, meskipun mereka mengetahui teori dasar, siswa sering kesulitan dalam menerapkan konsep-konsep tersebut secara praktis. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dibutuhkan pendekatan yang lebih interaktif dan dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah metode pengajaran di mana siswa bekerja bersama dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Pendekatan ini memfasilitasi interaksi antara siswa, memupuk rasa tanggung jawab bersama, dan memungkinkan siswa untuk belajar dari teman-teman mereka (Dewi, 2. Hal ini memberikan pengalaman yang lebih mendalam dalam memahami konsep-konsep IPAS. Metode pembelajaran kooperatif memiliki beberapa keuntungan yang dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa dalam pelajaran IPAS. Dengan bekerja dalam kelompok, siswa dapat saling berbagi ide, berdiskusi, dan memecahkan masalah bersama, yang dapat memperdalam pemahaman mereka terhadap topik-topik seperti ekosistem, perubahan sosial, atau kewarganegaraan. Selain itu, pendekatan ini juga mendorong siswa untuk lebih aktif dan bersemangat dalam belajar karena mereka merasa lebih terlibat dalam proses pembelajaran (Slamet, 2. Namun, meskipun pembelajaran kooperatif terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa, penerapannya tidak selalu mudah. Tantangan utama dalam menggunakan metode ini adalah bagaimana mengelola dinamika kelompok yang ada. Beberapa siswa cenderung lebih dominan dalam kelompok, sementara yang lain lebih pasif. Hal ini bisa memengaruhi keberhasilan kegiatan kelompok jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memantau dan memfasilitasi kelompok dengan cara yang adil dan efektif, sehingga setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi (Tariq, 2. Selain pengelolaan kelompok, pembelajaran kooperatif juga membutuhkan waktu yang lebih panjang dan sumber daya yang lebih banyak dibandingkan dengan metode konvensional. Beberapa sekolah, termasuk MI Nurul Yaqin NW Landah, mungkin menghadapi kendala dalam hal keterbatasan fasilitas atau waktu pelajaran yang terbatas. Meski demikian, dengan perencanaan yang matang dan pemanfaatan sumber daya yang ada, metode pembelajaran kooperatif dapat dilaksanakan dengan efektif tanpa harus mengorbankan kualitas pembelajaran (Kurniawan, 2. Penerapan pembelajaran kooperatif dalam IPAS di MI Nurul Yaqin NW Landah bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang lebih kompleks. Dengan pembelajaran berbasis kelompok, siswa diharapkan dapat lebih mudah memahami hubungan antara konsep-konsep yang diajarkan, seperti bagaimana lingkungan alam dapat mempengaruhi kehidupan sosial atau bagaimana nilai-nilai kewarganegaraan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik mereka tetapi juga memperkuat keterampilan sosial dan kemampuan bekerja dalam tim (Lestari, 2. Selain meningkatkan pemahaman terhadap materi IPAS, pembelajaran kooperatif juga dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Dalam proyek kelompok, siswa diminta untuk menganalisis masalah, mencari solusi, dan mempresentasikan hasilnya kepada temanteman mereka. Proses ini mengembangkan kemampuan analisis dan refleksi yang sangat penting dalam pembelajaran IPAS. Keterampilan berpikir kritis ini juga dapat diterapkan dalam kehidupan mereka di luar sekolah, di mana mereka akan dihadapkan pada berbagai tantangan yang membutuhkan pemikiran yang rasional dan solusi yang kreatif (Rina, 2. Selain itu, pembelajaran kooperatif mendorong siswa untuk lebih berkolaborasi dan bekerja Siswa yang sebelumnya mungkin merasa canggung atau ragu untuk berinteraksi dengan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 teman sekelas, mulai belajar untuk mendengarkan, memberikan masukan, dan menerima ide dari orang lain. Keterampilan sosial ini penting untuk perkembangan mereka sebagai individu yang dapat bekerja sama dalam berbagai situasi, baik di lingkungan akademik maupun di masyarakat (Fitria, 2. Melalui pembelajaran kooperatif, siswa juga belajar untuk menghargai perbedaan dan memanfaatkan kekuatan masing-masing anggota kelompok. Setiap siswa dapat membawa ide dan perspektif yang berbeda, dan ini dapat memperkaya pemahaman mereka terhadap materi IPAS. Dengan saling berbagi ide, siswa belajar bagaimana berkompromi dan mencapai kesepakatan bersama, yang merupakan keterampilan sosial yang sangat berharga (Sari, 2. Penerapan metode pembelajaran kooperatif juga sejalan dengan tujuan pendidikan abad ke-21, yang menekankan pada pengembangan keterampilan kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas. Dalam dunia yang semakin terhubung, kemampuan untuk bekerja dengan orang lain dan menyelesaikan masalah bersama sangat penting. Pembelajaran kooperatif memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan keterampilan ini sejak dini, yang akan sangat berguna bagi mereka di masa depan (Slamet, 2. Evaluasi terhadap penerapan pembelajaran kooperatif sangat penting untuk mengetahui efektivitas metode ini dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Evaluasi dilakukan melalui pengamatan terhadap interaksi siswa dalam kelompok, hasil tugas kelompok, dan tes hasil belajar individu. Hasil evaluasi ini akan memberikan gambaran yang jelas mengenai keberhasilan metode ini dalam mencapai tujuan pembelajaran IPAS dan mengidentifikasi area yang masih perlu perbaikan (Tariq, 2. Selain evaluasi hasil belajar, penting juga untuk melibatkan orang tua dalam mendukung proses pembelajaran siswa. Orang tua dapat memberikan dukungan moral dan bantuan dalam penyelesaian tugas kelompok di rumah. Dengan keterlibatan orang tua, siswa akan merasa lebih termotivasi untuk belajar dan lebih memahami pentingnya pembelajaran IPAS dalam kehidupan sehari-hari (Yuliana, 2. Dalam konteks MI Nurul Yaqin NW Landah, penerapan pembelajaran kooperatif diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam IPAS. Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan bagi siswa untuk bekerja sama, berbagi pengetahuan, dan belajar lebih banyak melalui pengalaman langsung. Ini merupakan cara yang lebih efektif dalam membantu siswa memahami konsep-konsep IPAS dan meningkatkan keterampilan sosial mereka, yang akan sangat bermanfaat di masa depan (Kurniawan, 2. Dengan adanya penerapan pembelajaran kooperatif, diharapkan MI Nurul Yaqin NW Landah dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan menyenangkan. Pembelajaran yang berbasis kolaborasi ini tidak hanya akan meningkatkan pemahaman akademik siswa, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang mampu bekerja sama, berpikir kritis, dan berkomunikasi dengan baik di dunia yang terus berubah ini (Dewi, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk mengeksplorasi penerapan pembelajaran kooperatif dalam mata pelajaran IPAS di MI Nurul Yaqin NW Landah. PTK dipilih karena memberikan ruang bagi peneliti dan guru untuk berkolaborasi langsung dalam perbaikan pembelajaran. Setiap siklus dalam PTK terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi, yang memungkinkan peneliti untuk mengevaluasi dan memperbaiki pembelajaran secara berkelanjutan. Dalam penelitian ini, siklus dilakukan dalam dua tahap untuk melihat perbaikan yang terjadi pada tiap siklus (Budi, 2. Penelitian ini dimulai dengan perencanaan yang melibatkan guru dan peneliti untuk merancang kegiatan pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan kurikulum IPAS. Pada siklus pertama, kelompok siswa dibagi untuk mengerjakan proyek yang berkaitan dengan topik-topik seperti Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 ekosistem, perubahan sosial, dan nilai kewarganegaraan. Siswa diminta untuk melakukan riset, berdiskusi, dan mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka. Proyek ini bertujuan untuk mendorong siswa berpikir kritis dan menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh dalam konteks nyata (Sari, 2. Data dikumpulkan melalui berbagai instrumen, termasuk observasi langsung terhadap interaksi siswa dalam kelompok, wawancara dengan guru mengenai tantangan dan keberhasilan selama penerapan pembelajaran kooperatif, serta penilaian hasil tugas kelompok dan individu. Observasi dilakukan untuk melihat sejauh mana siswa terlibat dalam diskusi dan kolaborasi. Sementara itu, wawancara dengan guru bertujuan untuk mendapatkan umpan balik mengenai efektivitas metode ini dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan pemahaman mereka terhadap materi IPAS (Dewi, 2. Analisis data dilakukan secara kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif untuk mengevaluasi perubahan yang terjadi dalam keterlibatan dan pemahaman siswa. Hasil observasi dan wawancara akan dianalisis untuk mengidentifikasi pola-pola keterlibatan siswa dan efektivitas pembelajaran kooperatif dalam mencapai tujuan pembelajaran IPAS. Hasil analisis ini juga digunakan untuk merancang perbaikan dalam siklus kedua, sehingga proses pembelajaran dapat lebih optimal (Slamet, 2. Penelitian ini juga melibatkan orang tua siswa untuk mendukung pembelajaran di rumah. Orang tua diberi informasi mengenai proyek yang sedang dilakukan siswa di kelas dan diminta untuk membantu mendiskusikan topik-topik tersebut di rumah. Kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua diharapkan dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap materi dan meningkatkan motivasi mereka dalam belajar. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan pembelajaran kooperatif di MI Nurul Yaqin NW Landah menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa dalam pembelajaran IPAS. Sebelum penerapan metode ini, sebagian besar siswa cenderung pasif dalam kegiatan pembelajaran, lebih sering mendengarkan penjelasan dari guru tanpa aktif berdiskusi atau Namun, dengan adanya pembelajaran berbasis proyek dalam kelompok, siswa mulai terlibat secara aktif dalam diskusi dan berkolaborasi dengan teman sekelasnya. Mereka tampak lebih antusias untuk bekerja sama, berbagi ide, dan mencari solusi dalam menyelesaikan tugas bersama, yang menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam proses belajar (Budi, 2. Pembelajaran kooperatif juga berpengaruh positif terhadap pemahaman siswa terhadap konsep-konsep IPAS. Dalam proyek kelompok mengenai ekosistem, siswa tidak hanya belajar tentang teori ekosistem tetapi juga melakukan penelitian lapangan dan mendokumentasikan temuan mereka. Kegiatan ini memungkinkan siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan kenyataan di dunia luar. Proses ini memperdalam pemahaman mereka terhadap materi, karena mereka dapat melihat langsung penerapan konsep-konsep IPAS dalam konteks kehidupan sehari-hari. Metode ini memberikan siswa kesempatan untuk belajar lebih mendalam dan aplikatif, yang sebelumnya sulit tercapai dengan metode ceramah konvensional (Sari, 2. Namun, tantangan utama yang muncul pada siklus pertama adalah pengelolaan dinamika Beberapa kelompok mengalami ketidakseimbangan dalam partisipasi, dengan beberapa siswa mendominasi diskusi, sementara yang lain lebih pasif. Hal ini mengindikasikan perlunya pengelolaan yang lebih baik dalam pembagian peran antar anggota kelompok. Tanpa pembagian peran yang jelas, beberapa siswa lebih cenderung bergantung pada teman yang lebih dominan. Oleh karena itu, peran yang lebih terstruktur dalam setiap kelompok harus diterapkan pada siklus kedua untuk memastikan bahwa setiap siswa berpartisipasi secara aktif dan mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi dalam proyek mereka (Tariq, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain pengelolaan dinamika kelompok, waktu yang terbatas juga menjadi kendala dalam siklus pertama. Siswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas cenderung merasa terburu-buru, sedangkan siswa yang lebih cepat menyelesaikan tugas mereka merasa kurang tertantang. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif membutuhkan waktu yang cukup untuk memastikan bahwa setiap siswa dapat menyelesaikan tugas dengan baik tanpa merasa tertekan. Untuk mengatasi hal ini, penyesuaian waktu dan pembagian tugas yang lebih spesifik diperlukan agar setiap kelompok dapat bekerja dengan efektif dan efisien tanpa ada yang merasa tertinggal (Slamet, 2. Pada siklus kedua, berdasarkan hasil refleksi dari siklus pertama, perbaikan dilakukan dengan memberikan instruksi yang lebih jelas mengenai pembagian peran dalam kelompok. Guru memberikan peran yang lebih spesifik kepada setiap anggota kelompok untuk memastikan partisipasi yang lebih merata. Dengan pembagian tugas yang lebih jelas, dinamika kelompok menjadi lebih teratur, dan setiap siswa mendapatkan kesempatan yang adil untuk berkontribusi dalam diskusi dan penyelesaian tugas. Hasilnya, kelompok menjadi lebih efisien, dan siswa yang sebelumnya pasif mulai menunjukkan lebih banyak inisiatif dan antusiasme dalam menyelesaikan proyek (Yuliana, 2. Siklus kedua juga menunjukkan peningkatan dalam kemampuan siswa untuk berkomunikasi dan bekerja sama. Dalam diskusi kelompok dan presentasi proyek, siswa mulai lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat mereka. Mereka tidak hanya fokus pada tugas individu, tetapi juga aktif berbagi ide dan saling memberi masukan untuk memperbaiki hasil pekerjaan Kemampuan komunikasi yang semakin baik ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik siswa tetapi juga keterampilan sosial mereka, yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari (Kurniawan, 2. Penerapan pembelajaran kooperatif juga memberikan dampak positif pada peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa. Dalam kegiatan proyek yang berfokus pada topik-topik seperti perubahan sosial dan kewarganegaraan, siswa diajak untuk berpikir lebih mendalam dan menganalisis isu-isu yang relevan dengan kehidupan mereka. Mereka diberi kesempatan untuk mencari informasi, berdiskusi, dan menyimpulkan hasil penelitian mereka sendiri. Proses ini memperkuat kemampuan siswa dalam berpikir kritis, karena mereka dilatih untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mempertanyakan dan mengevaluasi informasi tersebut secara lebih mendalam (Lestari, 2. Selain peningkatan keterampilan berpikir kritis, pembelajaran kooperatif juga mendorong siswa untuk lebih mandiri dalam belajar. Meskipun mereka bekerja dalam kelompok, setiap siswa diharapkan untuk bertanggung jawab atas bagian tugas mereka. Ini mengajarkan siswa untuk bekerja secara mandiri, mengelola waktu mereka, dan memastikan bahwa mereka berkontribusi secara maksimal pada hasil akhir proyek. Pembelajaran ini tidak hanya memperkuat pemahaman akademik, tetapi juga menanamkan rasa tanggung jawab dan disiplin dalam diri siswa (Rina, 2. Meskipun banyak manfaat yang diperoleh dari penerapan pembelajaran kooperatif, beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam bekerja dalam kelompok. Beberapa siswa yang cenderung lebih introvert merasa kurang nyaman dengan interaksi kelompok dan lebih suka bekerja sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun metode kooperatif sangat efektif, perlu ada pendekatan tambahan untuk siswa yang kesulitan dalam berkolaborasi. Guru perlu memberikan dukungan tambahan kepada siswa seperti ini, baik dengan cara memberikan mereka lebih banyak bimbingan atau memberikan kesempatan untuk berbicara lebih banyak dalam kelompok (Fitria, 2. Penerapan teknologi dalam pembelajaran kooperatif juga memberikan dampak positif pada siklus kedua. Beberapa kelompok menggunakan perangkat digital untuk mencari informasi lebih cepat dan membuat presentasi yang lebih menarik. Penggunaan teknologi mempermudah siswa dalam mengakses informasi dan mengolahnya untuk digunakan dalam proyek mereka. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain itu, teknologi juga memungkinkan siswa untuk berkolaborasi secara daring, jika diperlukan, yang memperkaya pengalaman belajar mereka. Teknologi dapat menjadi alat yang sangat berguna dalam mendukung pembelajaran kooperatif, asalkan digunakan dengan bijak (Sari, 2. Meskipun teknologi memberikan keuntungan, beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam mengoperasikan perangkat yang digunakan dalam pembelajaran. Beberapa siswa yang tidak terbiasa dengan teknologi merasa terhambat dan membutuhkan bimbingan lebih lanjut. Oleh karena itu, perlu ada pelatihan tambahan bagi siswa agar mereka lebih familiar dengan alat teknologi yang digunakan dalam pembelajaran. Pelatihan ini akan membantu siswa mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar mereka (Slamet, 2. Evaluasi terhadap hasil proyek siswa pada siklus kedua menunjukkan kemajuan yang Sebagian besar siswa mampu mengaplikasikan konsep-konsep IPAS dalam proyek mereka dengan baik. Mereka tidak hanya mampu menjelaskan teori tetapi juga dapat memberikan contoh konkret dari penelitian yang mereka lakukan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat memperdalam pemahaman mereka terhadap materi IPAS dan membantu mereka mengaitkan teori dengan praktik (Tariq, 2. Secara keseluruhan, penerapan pembelajaran kooperatif di MI Nurul Yaqin NW Landah menunjukkan hasil yang sangat positif. Pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS tetapi juga memperkuat keterampilan sosial dan akademik mereka. Siswa menjadi lebih percaya diri, lebih aktif, dan lebih mampu berkolaborasi dengan teman-teman mereka. Pembelajaran berbasis kolaborasi ini juga mengajarkan mereka keterampilan penting seperti komunikasi, kerjasama, dan berpikir kritis, yang sangat berguna dalam kehidupan mereka di masa depan. CONCLUSION Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan pembelajaran kooperatif dalam mata pelajaran IPAS di MI Nurul Yaqin NW Landah. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari siklus pertama dan kedua, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan pemahaman mereka terhadap materi IPAS. Pembelajaran berbasis kolaborasi ini memberikan pengalaman yang lebih mendalam bagi siswa, karena mereka dapat belajar dengan cara yang lebih interaktif, bekerja sama dalam kelompok, dan mengaitkan pengetahuan yang dipelajari dengan kehidupan nyata. Pada siklus pertama, meskipun ada beberapa tantangan, seperti pengelolaan waktu dan ketidakseimbangan partisipasi antar anggota kelompok, penerapan metode kooperatif berhasil menciptakan suasana yang lebih hidup dalam kelas. Siswa yang sebelumnya cenderung pasif, kini lebih aktif dalam berdiskusi, bertanya, dan berbagi ide. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Dengan bekerja dalam kelompok, siswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi mereka juga terlibat dalam pencarian solusi, melakukan riset, dan menyusun hasil diskusi, yang mengarah pada pemahaman yang lebih dalam terhadap materi yang diajarkan. Meskipun demikian, tantangan utama dalam siklus pertama adalah pengelolaan dinamika Beberapa siswa lebih dominan, sementara yang lain lebih pasif. Hal ini menunjukkan perlunya pengelolaan kelompok yang lebih baik agar setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi. Pada siklus kedua, perbaikan dilakukan dengan memberikan pembagian peran yang lebih jelas dalam kelompok dan memberikan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan tugas. Perbaikan ini terbukti efektif, dengan kelompok yang lebih terorganisir dan lebih seimbang dalam kontribusi setiap anggotanya. Salah satu keuntungan besar dari pembelajaran kooperatif adalah peningkatan keterampilan sosial siswa. Siswa belajar untuk bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, dan menyelesaikan tugas bersama. Keterampilan ini penting tidak hanya dalam konteks akademik. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan untuk berkolaborasi dan berkomunikasi secara efektif adalah keterampilan yang sangat berharga dalam dunia yang terus berubah dan penuh tantangan. Pembelajaran kooperatif membantu siswa mengembangkan keterampilan ini dengan cara yang menyenangkan dan aplikatif. Penerapan pembelajaran kooperatif juga mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa. Dalam proyek kelompok, siswa diajak untuk menganalisis masalah, menemukan solusi, dan merumuskan hasil yang berdasarkan pada bukti yang mereka kumpulkan. Hal ini membantu mereka untuk lebih kritis dalam memandang suatu masalah dan lebih kreatif dalam mencari solusi. Proses ini mengajarkan mereka untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mempertanyakan dan menilai informasi tersebut dengan cara yang lebih mendalam. Secara keseluruhan, penerapan pembelajaran kooperatif di MI Nurul Yaqin NW Landah telah menunjukkan hasil yang positif. Pembelajaran ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS, mendorong keterlibatan mereka dalam kegiatan belajar, serta memperkuat keterampilan sosial dan akademik mereka. Meskipun terdapat tantangan dalam pengelolaan waktu dan dinamika kelompok, perbaikan yang dilakukan pada siklus kedua membuktikan bahwa metode kooperatif dapat lebih efektif dengan pengelolaan yang tepat. Oleh karena itu, pembelajaran kooperatif dapat dijadikan sebagai salah satu metode utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan di MI Nurul Yaqin NW Landah. Ke depan, metode ini dapat terus dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sehingga dapat terus meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. REFERENCES