Penggunaan Coaching dengan Personal Mastery dan Team Learning untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Mandarin di SD SCS Surabaya Yulia Razak1. Melitina Tecoalu2. Takim Andriono3 SD SCS Surabaya1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Krida Wacana2,3 wng@gmail. com1, melitina@ukrida. id 2, andriono2509@gmail. ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah yang menggunakan metodecoaching dengan personal mastery dan team learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru Mandarin di SD SCS Surabaya. Untuk teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan Lembar Observasi Kompetensi Guru untuk menilai guru dalam pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan pengimplementasiannya di dalam Selain itu. Kuesioner Personal Mastery dan Kuesioner Team Learning digunakan untuk mengukur tindakan peneliti itu sendiri dalam coaching yang dilakukan baik secara pribadi maupun tim. Teknik analisis data menggunakan data kuantitatif dan data kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode Kemmis dan McTaggart dengan melalui 2 siklus. Hasil akhir Siklus II menyatakan bahwa skor kompetensi keempat subyek penelitian mencapai indikator keberhasilan yaitu sebesar Ou 75 dari skor maksimum 100 dengan kategori Baik. Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan metode coaching dengan personal mastery dan team learning dapat meningkatkan keempat kompetensi guru Mandarin. Kata Kunci: coaching, personal mastery, team learning, kompetensi guru Pendahuluan SD SCS merupakan sekolah yang menggunakan tiga bahasa di dalam kegiatan Ketiga Bahasa tersebut adalah bahasa Indonesia. Inggris, dan Mandarin. Penggunaan tiga bahasa ini merupakan salah satu faktor yang penting bagi orang tua dalam pendidikan anak mereka di SCS. Hal ini pula yang menyebabkan SCS berkembang di wilayah Surabaya Barat. Berkembangnya SCS ini tidak terlepas dari kepercayaan orang tua terhadap guru yang mengajar terutama guru Mandarin. Di dalam pembelajaran Mandarin, guru diwajibkan menggunakan bahasa Mandarin. Siswa diajak berlatih untuk lebih mengenal dan meng- KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 33 gunakan bahasa Mandarin dengan baik. Pelajaran Mandarin dilakukan selama 60 menit, dari hari Senin sampai dengan hari Jumat. Dengan bobot jam yang ada, diharapkan siswa mampu aktif berbicara dan juga terlibat aktif dalam pelajaran Mandarin. Namun, kenyataan di lapangan berbeda dari yang Hasil observasi kepala sekolah menunjukkan bahwa kompetensi keempat guru Mandarin belum mencapai indikator Ou 75 dari skor maksimum 100 dengan kategori Baik. Saat pelajaran Mandarin berlangsung, beberapa siswa kurang aktif dalam menjawab gurunya. Mereka kurang memerhatikan penjelasan yang diberikan. Hal ini dikarenakan guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan metode tanya jawab dalam pembelajaran. Pada kenyataannya, tiap siswa mempunyai gaya belajar mereka Ada siswa yang mempunyai gaya belajar visual, auditorial, ataupun gaya belajar kinestetik. Menurut Suci et al. , setiap siswa mempunyai cara menyerap pembelajaran yang berbeda-beda dimana hal ini berhubungan dengan gaya belajar siswa. Penyerapan belajar ini tergantung kepada gaya belajar siswa. Jika penggunaan gaya belajar dibatasi pada auditorial saja, maka dapat menyebabkan perbedaan penerimaan informasi pada masing-masing siswa. Untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal, guru harus membantu siswa dalam mengenali gaya belajar mereka. Siswa akan berhasil dalam belajar jika mereka belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. Oleh karena itu, guru harus mampu merancang pembelajaran yang menggunakan strategi dan metode yang lebih variatif. Beberapa hal sudah dilakukan untuk meningkatkan mutu kualitas guru Mandarin yaitu training, evaluasi, dan pembinaan dari kepala sekolah. Namun, guru Mandarin belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini terlihat juga pada saat pembelajaran online . Penggunaan strategi dan metode pembelajaran serta alat peraga atau media belajar dalam pembelajaran masih belum optimal. Guru Mandarin masih menggunakan strategi dan metode yang sama dengan pembelajaran tatap muka Berdasarkan hasil observasi yang ada, kepala sekolah merasa perlu untuk mengambil suatu tindakan sehingga kompetensi guru Mandarin dapat meningkat secara Para guru Mandarin memerlukan coaching baik itu secara personal maupun secara tim untuk meningkatkan kompetensi mereka sehingga pembelajaran di kelas lebih hidup dan siswa mengikuti pembelajaran dengan aktif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi mengajar guru Mandarin terutama dalam pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan pengimplementasian di dalam kelas. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti melakukan coaching dengan disiplin organisasi belajar Peter Senge yang berfokus pada dua disiplin yaitu Personal Masterydan Team Learning. Brent dan Dent . menjelaskan bahwa coaching merupakan suatu kegiatan pembinaan atau pelatihan. Coaching bertujuan untuk meningkatkan kinerja lebih baik lagi. Coaching ini dapat diterapkan di dalam semua jenis organisasi termasuk organisasi pembelajar . dalam disiplin organisasi belajar 34 | PENGGUNAAN COACHING DENGAN. (Yulia Razak. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. Senge . setiap individu/ guru yang ada di dalam organisasi pembelajar selalu fokus dan berusaha meningkatkan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya. Selain mampu mengembangkan dirinya, setiap guru harus mampu belajar dan bekerja secara tim. Ini yang disebut team learning. Dengan bekerja secara berkelompok, mereka bisa membagikan ilmu mereka masingmasing di dalam kelompok tersebut. Dalam kelompok, setiap guru juga berdiskusi dan membagikan apayang menjadi pemikiran Jika hal ini dilakukan, maka kompetensi masing-masing guru pun akan Mereka bertumbuh bersama di dalam kelompok dan memberikan hasil yang baik bagi sekolah. Peraturan Direktur Jendral (Perdirje. Guru dan Tenaga Kependidikan No. 6565 Tahun 2020 menjelaskan bahwa pendidikan dan pelatihan diberikan kepada guru untuk meningkatkan kompetensi dalam melaksanakan tugasnya. Karena itu untuk meningkatkan kompetensi guru Mandarin SCS, diperlukan pelatihan mengenai strategi dan metode pembelajaran serta alat peraga atau media pembelajaran yang dapat digunakan di dalam kegiatan Guru diharapkan mampu 1 Kompetensi Guru Prawiro . menjelaskan bahwa kompetensi adalah kecakapan yang dipunyai seseorang dalam mengerjakan tugas sesuai dengan bidangnya. mendesain pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswanya. Selain itu, guru diharapkan mampu memilih dan menyusun materi pembelajaran dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan siswanya. Pada akhirnya, guru diharapkan mampu melaksanakan pembelajaran yang menarik dan kreatif. Selanjutnya. Perdirjen Guru dan Tenaga Kependidikan No. 6565 Tahun 2020 menjelaskan tentang model kompetensi pengembangan profesi guru, yaitu: Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 mendefinisikan bahwa kompetensi adalah pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dan dikuasai oleh seorang guru atau dosen dalam menjalankan tugas dan tanggung Undang-Undang tersebutjuga menyebutkan bahwa guru memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi. Ada empat kompetensi yang harus dikuasai oleh Keempat kompetensi tersebut adalah kepribadian, kompetensi sosial, dan Kompetensi pedagogik berhubungan dengan kemampuan guru melaksanakan pembelajaran di sekolah. Kemampuan ini dikembangkan dengan terus menerus dan tidak diperoleh secara tiba-tiba (Sudrajat, 2. Berdasarkan kedua definisi tersebut, kompetensi mempunyai arti kemampuandan keahlian yang ada di dalam diri seseorang dalam mengerjakan tugas yang sesuai dengan bidang yang dikuasainya. Model kompetensi guru meliputi kategori: Pengetahuan Professional, yaitu A Tinjauan Literatur struktur dan alur pembelajaran. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 35 menjabarkan tahap penguasaan kompetensi siswa. menetapkan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa, kurikulum, dan profil pembelajar Pancasila. Praktik Pembelajaran Professional terdiri dari kompetensi: terlibat aktif dalam jejaring dan mengembangkan karier. Model sekolah meliputi empat kategori, yaitu: pengembangan diri dan orang lain. kepemimpinan pembelajaran. kelas yang aman dan nyaman. kepemimpinan manajemen sekolah. menyusun desain, melaksanakan, dan merefleksikan pembelajaran yang efektif. melakukan asesmen, memberi umpan balik, dan menyampaikan laporan belajar. melibatkan orang tua/walimurid Pengembangan Profesi berperilaku sesuai dengan kode etik guru dengan menunjukkan kematangan spiritual, moral, dan A berpraktik dan bekerja yang berorientasi kepada anak. potensi secara gotong royong untuk menumbuhkan perilaku Mengacu kepada Perdirjen GTK dan dengan mempertimbangkan masalah yang ada di SD SCS, peneliti akan melakukan penelitian hanya pada kategori Praktik Pembelajaran Professional dalam kompetensi menyusun desain, melaksanakan, dan merefleksikan pembelajaran yang efektif dengan indikator sebagai berikut: A Menyusun pembelajaran sesuai dengan tujuan dan makna pembelajaran serta melibatkan siswa. A Melaksanakan dinamis dan menumbuhkan minat belajar siswa serta mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa. A Merefleksikan Guru diharapkan mampu mendesain karakteristik siswanya. Selain itu, guru diharapkan mampu memilih dan menyusun 36 | PENGGUNAAN COACHING DENGAN. (Yulia Razak. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. materi pembelajaran dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan siswanya. Pada akhirnya, guru diharapkan mampu melaksanakan pembelajaran yang menarik dan kreatif. 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Menurut Kemendikbud Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana pembelajaran kelas yang dibuat guru untuk satu kali pertemuan atau RPP wajib dibuat oleh guru agar pembelajaran dapat berlangsung secara menyenangkan dan interaktif. Siswa dapat terlibat secara aktif di dalam pembelajaran. Sesuai Surat Edaran Mendikbud Nomor 14 tahun 2019. RPP meliputi tiga bagian inti, yaitu tujuan pembelajaran yang mau dicapai, kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran, dan penilaian pembelajaran atau assessment. dalam kegiatan pembelajaran berisi bagian pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup. Pendahuluan meliputi hal yang dilakukan guru dalam menyiapkan siswanya secara diberikan sebelumnya dengan apa yang akan diajarkan, menjelaskan tujuan pembelajaran dan materi yang akan diberikan. Kegiatan inti meliputi kegiatan siswa dalam pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar dengan menggunakan metode belajar, media pembelajaran, dan sumber belajar yang sesuai dengan karakteristik siswa dan tujuan yang hendak dicapai. RPP bagian penutup meliputi kegiatan siswa danguru dalam merefleksi dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran di hari tersebut, memberikan umpan balik terhadap kegiatan pembelajaran, melakukan tindak lanjut, serta menginformasikan kegiatan pembelajaran di pertemuan berikutnya. 2 Coaching Menurut MTD Training . Aucoaching is the art of inspiring, energizing, and facilitating the performance, learning and performance of your employeesAy . oaching adalah seni menginspirasi, menyemangati, dan memfasilitasi kinerja dan pembelajaran karyawa. Hubungan antara coach dan coachee bersifat formal dengan tujuan untuk performa kerja. Seorang coach bertanggung jawab untuk memastikan coachee yang dibimbingnya mengalami peningkatan Tujuan coaching bersifat formal, jelas, dan terdokumentasikan. Performa kerja coachee akan dievaluasi sesuai dengan tujuan yang telah disepakati sebelumnya. Connor & Pokora . mengatakan bahwa coaching dan mentoring adalah suatu hubungan atau interaksi untuk membantu seseorang mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya untuk mencapai hasil yang diinginkan. Seorang coach atau mentor akan memfasilitasi coachee atau mentee dalam meningkatkan potensi. Coach atau mentor akan mendukung mereka dalam Pengukuran kinerja dalam mentoring bersifat informal sedangkan dalam coaching bersifat formal dan terdokumentasikan. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 37 orang yang memiliki personal mastery secara konsisten mampu menyadari hasil yang berdampak dalam diri mereka. Personal mastery selalu mempertajam visi pribadi, membangun kesabaran, dan melihat kenyataan secara obyektif. Setiap orang memiliki kebebasan untuk berkembang dalam mewujudkan visi yang telah Tujuan yang dicapai dalam mentoring bersifat umum/pengembangan pribadi dan coaching berhubungan dengan kinerja dalam organisasi (MTD Training, 2. Arsendatama . menjelaskan mengembangkan potensi yang ada dalamdiri coachee dalam mencapai tujuannya. Seorang coach membimbing coachee untuk dapat mengembangkan ide-ide atau pemikirannya secara kreatif. Selain itu, seorang coach memotivasi coachee dalam Agar organisasi berkembang dengan baik, para anggota dalam organisasi tersebut harus memiliki kemampuan untuk terus belajar dan mengembangkan potensi yang ada di dalam diri masing-masing anggota. Setiap anggota memfokuskan diri mereka dan terus memperdalam visi Jadi, coaching mempunyai tujuan dan manfaat yang baik yaitu meningkatkan potensi diri dan performa kerja coachee semaksimal mungkin. Dengan demikian, coachee mampu mencapai tujuan yang diinginkan dalam pekerjaannya. 3 Lima Disiplin Organisasi Belajar Peter Senge Sebuah menjawab permasalahan yang ada di dalam Senge . menjelaskan lima disiplin yang dapat membangun kapasitas kita untuk menghasilkan sesuatu yang Kelima disiplin tersebut adalah sebagai berikut. pribadi mereka demi tercapainya visi organisasi yang telah disepakati. Mental Models Konsep berpikir individu memengaruhi individu tersebut dalam mengambil suatu keputusan atau tindakan. Melalui disiplinini, seseorang terus menerus dilatih untuk dapat Senge . menjelaskan bahwa personal mastery adalah serangkaian latihan untuk membentuk visi pribadi seseorang. Latihan ini akan memperbesar kapasitas menyatakan atau mengkomunikasikan apa yang ada di pikirannya secara efektif dan mampu berpikiran terbuka. Mental models berpusatkan pada bagaimana membangun kesadaran dan pandangan orang-orang di dalam organisasi tersebut. Disiplin ini mengkomunikasikan pemikirannya secara seseorang sehingga ia dapat mewujudkan visi yang disepakati. Orang- efektif sehingga terjalin komunikasi yang baik antar anggota. Personal Mastery 38 | PENGGUNAAN COACHING DENGAN. (Yulia Razak. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. Shared Vision Disiplin ini membangun sebuah hubungan yang berpusatkan pada satu tujuan yang sama. Sekelompok orang dengan tujuan yang sama akan belajar bagaimana mempunyai komitmen di dalam kelompoknya dengan cara membagikan visi yang akan dicapai dalam organisasi tersebut. Ketika semua anggota memiliki visi yang sama, maka perwujudan visi organisasi akan semakin nyata. Pengaruh seorang pemimpin sangat besar peranannya dalam menentukan ke arah mana organisasi tersebut bergerak. Pemimpin harus mampu membagikan apa yang menjadi visi organisasi yang dipimpin. Ia juga harus mampu mengkomunikasikannya kepada para anggotanya dengan baik. Hal ini akan membuat para anggotanya untuk terus belajar dan berkembang sejalan dengan visi yang telah dibagikan kepada mereka. Jika sudah sejalan dengan visi organisasi, maka tujuan organisasipun akan tercapai. Team Learning Proses pembelajaran tidak hanya dilakukan secara individu tetapi dapat dilakukan secara berkelompok. Masingmasing anggota bertukar informasi dan saling membangun melalui percakapan atau Disiplin ini selalu dimulai dengan Masing-masing mengungkapkan asumsi mereka dan kemudian menghasilkan pemikiran yang Team Learning merupakan unit yang sangat penting dalam sebuah organisasi. Disiplin ini membangun potensi dan keterampilan yang ada di dalam diri tiap Tiap anggota belajar dan berpikir bersama untuk mencapai visi organisasi yang telah disepakati. Melalui team learning ini, setiap anggota diperkaya dan diperlengkapi lebih lagi dengan informasi yang mereka bagikan. Mereka juga belajar saling menghargai dan saling menolong sehingga mereka dapat mewujudkan visi yang telah ditetapkan. Systems Thinking Systems Thinking memberikan cara pandang yang berbeda akan masalahdan tujuan yang akan dicapai. Systems Thinking sesuatunya secara menyeluruh dan saling Kita dapat bertindak secara efektif ketika kita dapat melihat akar masalah yang Systems thinking tidak dapat berdiri sendiri. Disiplin ini memerlukan keempat disiplin yang telah disebutkanuntuk dapat berfungsi secara efektif di dalam Systems thinking merupakan landasan yang terpenting dari organisasi Melalui systems thinking, setiap anggota diajak untuk berpikir dan melihat segala sesuatu secara menyeluruh, tidak terpisah-pisah. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua dari lima disiplin,yaitu disiplin personal mastery dan teamlearning. Dalam personal mastery, tiap KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 39 anggota mengembangkan kemampuan diri Setiap orang harus memiliki personal mastery yang baik dikarenakan personal mastery merupakan proses belajar seumur hidup. Diperlukan komitmen yang tinggi agar setiap anggota terus menerus belajar mengembangkan kapasitas dirinya. Organisasi harus terus menerus mempertajam kemampuan anggotanya sehingga mampu menjadi organisasi yang baik (Setiawan. Personal Mastery merupakan disiplin pengembangan dan pembelajaran diri untuk menciptakan masa depan yang diharapkan. bukan hanya pengembangan keterampilan dan kemampuan atau pertumbuhan kerohanian saja. Jacobs . menyatakan bahwa seseorang yang memiliki personal mastery yang baik memiliki ciri-ciri sebagai OAoBrien . alam Senge, 2. menyatakan bahwa seseorang dengan personal mastery yang tinggi lebih berkomitmen dan mempunyai inisiatif yang Ia memiliki rasa tanggung jawab di dalam pekerjaannya. Selain memiliki personal mastery yang baik, setiap anggota dalam organisasi pembelajar harus mampu bertindak dan bekerja dengan baik di dalam timnya. Ketika semua anggota belajar dan bekerja secara kompak, setiap anggota akan bertumbuh dengan pesat dan organisasi pun berkembang menjadi lebih baik. Team learning merupakan bagian dari membangun visi bersama. Team learning merupakan sebuah proses untuk menyamakan dan mengembangkankapasitas Merasa Mampu melihat realitas yang ada dan tim untuk menghasilkan apa yang sesuai dengan keinginan tim. Team learning dibangun atas pengembangan visi bersama dan juga personal mastery. Penguasaan team learning sangat diperlukan dalam sebuah Kreatif dalam menginspirasi diri sendiri untuk maju. Menurut Senge . , team learning memiliki tiga dimensi yang penting, yaitu: Melihat suatu Mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Mengutamakan personal tanpa Kebutuhan untuk berpikir secara luas dengan masalah-masalah yang rumit. Sebuah tim belajar untuk bagaimana menggunakan potensi-potensi yang ada dalam setiap anggota tim untuk dapat memecahkan apa yang sedang dihadapi tim tersebut. Melihat diri sebagai suatu bagian dalam Kebutuhan akan tindakan yang inovatif dan terkoordinir. Sebuah tim yang hebat menunjukkan rasa 40 | PENGGUNAAN COACHING DENGAN. (Yulia Razak. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. terbentuk apabila setiap anggota sadar dan menaruh rasa saling percaya di dalam tim. Peranan sebuah tim untuk menjadi teladan bagi tim-tim lainnya. Tim senior ini menjadi tim penggerak bagi tim lainnya. Tim ini membina tim lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan timnya. Untuk mencapai visi bersama, tiap anggota mampu bekerja dan belajar secara Mereka memecahkan masalah secara bersama-sama. Disiplin team learning memerlukan keahlian untuk berdialog dan Dalam dialog, setiap anggota bebas untuk mengungkapkan pendapat dalam menyelesaikan isu-isu yang ada. Selain kebebasan berbicara, tiap anggota belajar untuk mendengarkan apa yang diungkapkan dengan seksama. Dalam team learning, tiap anggota berlatih bagaimana menangani masalah melalui dialog dan diskusi yang Senge . mengatakan bahwa dialog di dalam tim membuat setiap anggota mengeksplorasi isu-isu yang ada dari sudut pandang tiap anggota dan mereka bebas mengungkapkan pendapat mereka. Mereka tidak mempertahankan pendapat mereka Chinnam . mengatakan bahwa bekerja secara tim dimulai dari suatu dialog. Tiap anggota berbagi pemikiran dan pandangannya melalui dialog untuk dapat menyelesaikan masalah dengan lebih baik. Tiap anggota bekerja sama untuk mencapai visi organisasi. Setiap anggota memiliki tanggung jawab dalam menjalankan tugasnya sehingga pekerjaan yang diberikan terselesaikan dengan baik. 4 Strategi dan Metode Pembelajaran Menurut Orlich et al. Auwhen we use the term method, it implies some orderly way of doing something. The term strategy implies thoughtful planning to do somethingAy . Kutipan tersebut menunjukkan bahwa metode artinya cara yang teratur dalam mengerjakan sesuatu, sedangkan strategi artinya perencanaan yang teratur dalam Jadi, pembelajaran adalah suatu kegiatan yang direncanakan dalam pembelajaran secara efektif yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan metode pembelajaran adalah cara yang digunakan dalam menerapkan rencana yang telah disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran. Mukrimah . menjelaskan bahwa dalam satu atau lebih strategi pembelajaran, guru dapat menggunakan beberapa metode Penggunaan metode dalam strategi tergantung pada tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Berikut adalah klasifikasi metode pembelajaran. Dalam strategi pembelajaran langsung, metode yang dapat digunakan adalah metode tanya jawab, ceramah, demonstrasi, dan latihan. Guru mengarahkan siswa dalam pembelajaran. Dalam strategi pembelajaran tidak lang- KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 41 sung, pembelajaran berpusatkan pada Metode yang digunakan dalah strategi jenis ini adalah metode inkuiri, problem-solving, studi kasus, dan peta Dalam strategi pembelajaran interaktif, guru dapat menggunakan metode diskusi kelas, kerja kelompok/proyek, dan kerja Siswa dapat berinterkasi dan berdiskusi dengan temannya. Metode yang dapat digunakan dalam strategi pembelajaran mandiri adalah pekerjaan rumah, karya tulis, proyek penelitian, pembelajaran berbasis komputer, dan e-learning. Melalui strategi dan metode pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat belajar secara mandiri dan bertanggung jawab. Belajar melalui pengalaman. Kegiatan yang dilakukan berpusat pada siswa. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah simulasi, bermain peran, dan observasi. Semua metode pembelajaran memiliki ciri-ciri tersendiri yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru harus mampu memilih strategi dan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan harus berorientasi pada tujuan pembelajaran, aktivitas yang akan dilakukan, pengembangan siswa, dan juga berorientasi pada seluruh aspek kepribadian siswa . anah kognitif, afektif, dan psikomotori. (Mukrimah, 2. Selain itu, sistem pembelajaran blended learning digunakan dalam pembelajaran Mandarin dikarenakan pandemi Covid19 yang tidak memungkinkan diadakannya pembelajaran di dalam kelas. Driscol . alam Suci et al. , 2. menjelaskanbahwa blended learning merupakan pembelajaran yang menggunakan berbagai teknologi web sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. Thorne . mendefinisikan blended pembelajaran e-learning dan multimedia dengan pembelajaran menggunakan bentuk tradisional seperti pelatihan di kelas. Sementara Graham . menjelaskan bahwa blended learning secara lebih sederhana sebagai kombinasi dari online dengan pembelajaran tatap muka. Jadi, blended learning merupakan gabungan pembelajaran online dengan menggunakan berbagai macam teknologi dengan tujuan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pradnyana . alam Suci et al. , 2. menjelaskan lima tujuan blended learning Membantu peserta didik belajar lebih baik sesuai dengan gaya belajar mereka. Memberi kesempatan bagi guru dan siswa untuk berkembang dan belajar secara mandiri. Fleksibilitas jadwal peserta didik meningkat karena penggabungan aspek tatap muka dan instruksi guru secara 42 | PENGGUNAAN COACHING DENGAN. (Yulia Razak. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. Siswa berinteraksi dalam pembelajaran pembelajaran online, siswa bertambah melalui pengaksesan internet yang mereka lakukan. Dapat mengatasi masalah dikarenakan penggunaan metode pembelajaran yang Driscoll . alan Suci et al. , 2. menjelaskan empat konsep blended learning Blended learning menggabungkan berbagai jenis teknologi berbasis web. Blended learning menggabungkan berbagai macam pendekatan di dalam Blended learning menggunakan banyak format multimedia dengan pembelajaran tatap muka. Blended learning menggabungkan pembelajaran online dan konvensional dengan menggunakan berbagai macam media dan teknologi agar siswa dapat belajar secara mandiri dan mendapatkan pengalaman belajar. Metode Penelitian Menurut Kemmis & McTaggart . , setiap siklus penelitian terdiri dari empat tahap kegiatan, yaitu plan . ,act . , dan reflect . Hasil dari refleksi Siklus I menentukan langkah berikutnya di siklus selanjutnya. Proses ini akan dihentikan apabila indikator yang diinginkan tercapai. Penelitian dilakukan dari Juli 2021 hingga November 2021 setelah jam mengajar atau saat guru tidak sedang mengajar. Subjek penelitian adalah empat guru Mandarin. Indikator adalah sebagai berikut: Kompetensi guru Mandarin di SCS meningkat dan guruyang memperoleh hasil rata-rata akhir skor kompetensi guru Ou 75 dari skor maksimum 100 dengan kategori Baik adalah berjumlah 3 guru dari 4 guru yang ada. Peneliti instrumen penelitian yang dipakai dalam melakukan penelitian ini meliputi: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Lembar Observasi Kompetensi Guru. Kuesioner Personal Mastery. Kuesioner Team Learning, dan Jurnal Coaching. Pengumpulan data dilakukan sebelum dan sesudah pelaksanaan Teknik analisis data pada instrumen RPP adalah dengan menghitung jumlah metode pembelajaran dan alat peraga atau media belajar yang digunakan dalam rancangan pembelajaran tersebut. Lembar Observasi Kompetensi Guru dianalisis untuk menilai pembuatan RPP dan implementasinya di dalam kelas. Nilai akhir dari skor kompetensi dihitung dari total nilai yang diperoleh dibagi dengan nilai maksimal dikali 100 dengan 4 range skor yaitu kurang baik, cukup baik, baik, dan sangat baik. Kuesioner Personal Mastery dan Kuesioner Team Learning digunakan untuk mengukur tindakan peneliti. Kuesioner KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 43 ini diisi oleh subyek itu sendiri. Penilaian ini menggunakan skala Likert. Kuesioner Personal Mastery ini terdiri dari 10 indikator dan Kuesioner Team Learning terdiri dari 7 indikator dengan range nilai 1-5. Jurnal Coaching digunakan pada saat sesi coaching dan diisi oleh peneliti dan dianalisis secara Tabel 1 Ae Teknik Analisis Data No. Nama Instrumen Teknik Analisis Data R e n c a n a Menilai komponen-komponen RPP yang P e l a k s a n a a n dibuat oleh subyek dimana RPP ini akan P e m b e l a j a r a n digunakan dalam pembelajaran (RPP) Lembar Observasi Cara perhitungan skor dalam lembar Kompetensi Guru observasi subyek yaitu: Nilai Akhir = (Oc Nilai yang diperole. /(OcNilai Maksima. x 100 Keterangan: Sangat Baik : 90 Ae 100 Baik A Cukup Baik : 60 Ae < 75 : 75 Ae < 90 A Kurang: di bawah 60 Kuesioner Personal Menggunakan Skala Likert dengan rentang Mastery interval skor yaitu 8. Skala intervalnya kriteria nilai akhir adalah sebagai berikut: A Sangat Setuju : 43 Ae 50 Kuesioner Learning A Setuju : 35 Ae 42 A Tidak Tahu : 27 Ae 34 A Tidak Setuju : 19 Ae 26 A Sangat Tidak Setuju : 10 Ae 18 Team Menggunakan Skala Likert dengan rentang interval skor yaitu 5,6. Skala intervalnya kriteria nilai akhir adalah sebagai berikut: A Sangat Setuju : 29,5 Ae 35 Jurnal Coaching A Setuju : 23,9 Ae 29,4 A Tidak Tahu : 18,3 Ae 23,8 A Tidak Setuju : 12,7 Ae 18,2 A Sangat Tidak Setuju : 7 Ae 12,6 Dianalisis secara deskriptif. 44 | PENGGUNAAN COACHING DENGAN. (Yulia Razak. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. Analisis dan Pembahasan Data awal menunjukkan bahwa kompetensi Subyek V. Subyek S, dam Subyek A berada pada kategori Cukup Baik. Subyek V memperoleh nilai akhir yaitu 63,75. Subyek S memperoleh nilai 66,25 sedangkan Subyek A memperoleh nilai 68,75. Subyek C berada pada kategori Kurang Baik dengan nilai 56,25. Hasil obeservasi menunjukkan bahwa keempat subyek memerlukan coaching sehingga mereka dapat membuat RPP dan mengimplementasikan RPP tersebut dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi awal, peneliti menerapkan penggunaan coaching dengan disiplin personal mastery untuk meningkatkan kompetensi masing-masing guru Mandarin dan disiplin team learning untuk mengembangkan kerja sama guru Mandarin dalam tim. Peneliti memberikan materi mengenai coaching, personal mastery, team learning, dan kompetensi guru dalam Siklus Imelalui Zoom. Selain itu, peneliti juga Subyek V dan Subyek A berada pada kategori Baik. Subyek A memperoleh skor 77,5 dan Subyek V memperoleh skor 75 dari skor maksimum 100. Subyek S dan Subyek C memperoleh berada pada katergori akan memberikan materi mengenai strategi dan metode pembelajaran, pembuatan RPP, dan blended learning. Coaching secara personal dilakukan dengan membahas RPP yang akan diimplementasikan di dalamkelas. Peneliti dan subyek juga membahas kendala serta solusi yang dapat dilakukan yang terdapat dalam Jurnal Coaching. Peneliti juga mengadakan Coaching secara berkelompok . eam learnin. yangbertujuan agar para subyek dapat berdiskusi dan mengungkapkan ide dan pendapatnya saat bekerja di dalam satu tim. Coaching secara tim membahas mengenai formatRPP, peer observation, dan penggunaan aplikasi media online yang dapat digunakan dalam Masing-masing subyek mampu mengimplementasikan metode pembelajaran dan juga penggunaan alat peraga berupa flashcards, video, serta aplikasi online. Peningkatan kompetensi keempat subyek penelitian tampak pada Gambar 1. Cukup Baik dengan skor yang sama, yaitu 73,75. Meskipun Subyek S dan SubyekC mengalami peningkatan namun kedua subyek ini masih belum mencapai indikator yang ada yaitu Ou 75 dari skor maksimum KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 45 Kuesioner Personal Mastery dan Team Learning dibagikan melalui Google Formdi akhir Siklus I dengan tujuan untuk menilai kemampuan peneliti dalam memberikan Coaching secara pribadi maupun secara tim. Berdasarkan hasil kuesioner yang didapat, peneliti menghitung nilai akhir yang didapat. Tabel 1 menunjukkan nilai akhir 10 indikator dari Kuesioner Coaching Personal Mastery Siklus I. Adapun nilai akhir kuesioner coaching personal mastery Siklus I tampak pada Tabel 2. Tabel 2 Ae Nilai Akhir Kuesioner Coaching Personal Mastery Siklus I Subyek Penelitian Indikator Coaching yang dilakukan menolong saya dalam menyusun pembelajaran sesuai dengan tujuan dan makna pembelajaran. Coaching yang dilakukan memampukan saya merancang pembelajaran yang menarik minat siswa. Coaching yang dilakukan membantu saya menerapkan strategi dan metode yang bervariasi di dalam pembelajaran. Coaching yang dilakukan bermanfaat bagi saya dalam menggunakan alat peraga atau media belajar sehingga pembelajaran di dalam kelas lebih menarik. Coaching yang dilakukan menolong saya untuk memberikan yang lebih baik lagi dari diri saya baik demi tercapainya visi Coaching yang dilakukan membantu saya lebih termotivasi dalam membuat pembelajaran semenarik mungkin. Coaching yang dilakukan memampukan saya untuk melaksanakan pembelajaran dan menumbuhkan minat belajar Melalui Coaching yang dilakukan, saya dapat melihat perkembangan kemampuan berpikir kritis siswa di dalam Coaching yang dilakukan bermanfaat bagi saya karena saya dapat melihat siswa lebih terlibat aktif di dalam pembelajaran. Coaching yang dilakukan membuat saya melakukan refleksi pembelajaran dan menindaklanjutinya. Nilai Akhir Tabel 2 menunjukkan bahwa penilaian Subyek C terhadap coaching yang dilakukan secara personal berada pada kategori Sangat Setuju sedangkan Subyek V dan Subyek A menilai Setuju terhadap coaching yang dilakukan oleh peneliti. Subyek S menyatakan Tidak Tahu terhadap coaching yang dilakukan peneliti. Selain Kuesioner Personal Mastery, peneliti juga memberikan Kuesioner Team Learning untuk melihat keberhasilan peneliti dalam Coaching secara tim. Pernyataan keempat subyek pada kuesioner ini terlihat pada Tabel 3. 46 | PENGGUNAAN COACHING DENGAN. (Yulia Razak. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. Tabel 3 Ae Nilai Akhir Kuesioner Coaching Team Learning Siklus I Subyek Penelitian Indikator Coaching yang dilakukan menolong saya dan teman-teman untuk mengungkapkan pendapat atau ide saya dengan baik ketika membahas suatu hal di dalam kelompok. Coaching yang dilakukan bermanfaat bagi saya dan temanteman untuk melihat pentingnya diskusi di dalam tim untuk kemajuan pembelajaran Mandarin. Melalui Coaching dalam diskusi tim, saya dan teman-teman mampu mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam diri saya lebih lagi dan bisa membagikan ide tersebut di dalam tim saya. Coaching yang dilakukan menolong saya dan teman-teman untuk dapat menerima saran dan kritik dengan lebih baik dari rekan kerja lainnya. Coaching yang dilakukan membantu saya dan teman-teman untuk dapat melihat potensi yang ada di dalam diri rekan kerja saya dengan lebih baik lagi. Coaching yang dilakukan bermanfaat bagi saya dan temanteman untuk lebih termotivasi lagi di dalam bekerja. Coaching yang dilakukan membantu saya dan teman-teman untuk lebih bersikap terbuka dan berkomunikasi dengan baik dengan tim saya. Nilai Akhir Tabel 3 menunjukkan bahwa Subyek C dan Subyek A menilai AuSetujuAy terhadap coaching secara tim yang dilakukan oleh peneliti pada Siklus I. Subyek V dan Subyek S menilai AuTidak TahuAy terhadap coaching team learning yang dilakukan oleh peneliti. Dari pengamatan saat coaching di dalam tim, peneliti melihat antusias masing-masing subyek untuk mengungkapkan pendapat mereka ketika membahas mengenai format RPP dan rubrik penilaian yang akan digunakan mereka nantinya. Namun, dari hasil observasi satu subyek terhadap kelas yang diamati . eer observatio. , peneliti melihat diskusi belum bisa berjalan seperti yang diharapkan. Hal ini mungkin saja dikarenakan peer observation belum pernah Di akhir Siklus I, peneliti melihat bahwa coaching yang dilakukan mampu meningkatkan kompetensi masing-masing Keempat subyek mampu merancang RPP berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Subyek memulai pembelajaran dengan baik. Keempat subyek dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariatif sehingga kegiatan pembelajaran lebih hidup dan menyenangkan dari sebelumnya. Siswa mengikuti kegiatan dengan aktif. Dengan alat peraga/media belajar yang digunakan guru, siswa terlihat lebih semangat terutama pada sesi permainan. Mereka sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran. Subyek juga mengakhiri pembelajaran dengan Hanya saja, subyek perlu melakukan mereka lakukan sebelumnya. refleksi pembelajaran sehingga subyek dapat KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 47 menentukan tindak lanjut yang akan dilakukan subyek untuk pembelajaran berikutnya. Penelitian dilanjutkan pada Siklus II yaitu dengan memantapkan pengaplikasian Personal Mastery dan Team Learning. akhir Siklus II, peneliti melihat bahwa coaching yang dilakukan mampu meningkatkan kompetensi masing-masing subyek. Keempat Subyek menunjukkan kemampuan mereka dalam merancang RPP sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas berlangsung dengan baik dan menyenangkan. Keempat subyek dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariatif sehingga siswa terlibat aktif ketika mengikuti kegiatan di dalam kelas Zoom. Alat peraga atau media pembelajaran yang bervariasi membuat siswa mengikuti pembelajaran dengan baik. Keempat subyek melakukan penilaian formatif dan juga melakukan refleksi pembelajaran dan dapat menindaklanjuti pembelajaran berikutnya dengan baik. Grafik perbandingan Kompetensi Guru Mandarin pada Pra Siklus. Siklus I, dan Siklus II tampak pada Gambar 2. Kompetensi masing-masing subyek meningkat di setiap siklusnya. Keempat subyek telah mencapai indikator keberhasilan kelas dan berada pada kategori Baik. Subyek A memperoleh skor 83,75 dan Subyek V memperoleh skor 81,25. Subyek S dan C memperoleh skor yang sama, yaitu 78,75. Subyek S dan C mengalami peningkatan dan telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu Ou 75 dari skor maksimum Ou 75 dari skor maksimum 100. Hal ini membuktikan bahwa coaching yang dilakukan secara pribadi maupun di dalam tim dapat meningkatkan kompetensi masing-masing Keempat subyek mengalami peningkatan di dalam kompetensi mereka di dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran 48 | PENGGUNAAN COACHING DENGAN. (Yulia Razak. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. Tabel 4 Ae Nilai Akhir Kuesioner Coaching Personal Mastery Siklus II Subyek Penelitian Indikator Coaching yang dilakukan menolong saya dalam menyusun pembelajaran sesuai dengan tujuan dan makna pembelajaran. Coaching yang dilakukan memampukan saya merancang pembelajaran yang menarik minat siswa. Coaching yang dilakukan membantu saya menerapkan strategi dan metode yang bervariasi di dalam pembelajaran. Coaching yang dilakukan bermanfaat bagi saya dalam menggunakan alat peraga atau media belajar sehingga pembelajaran di dalam kelas lebih menarik. Coaching yang dilakukan menolong saya untuk memberikan yang lebih baik lagi dari diri saya baik demi tercapainya visi Coaching yang dilakukan membantu saya lebih termotivasi dalam membuat pembelajaran semenarik mungkin. Coaching yang dilakukan memampukan saya untuk melaksanakan pembelajaran dan menumbuhkan minat belajar Melalui Coaching yang dilakukan, saya dapat melihat perkembangan kemampuan berpikir kritis siswa di dalam Coaching yang dilakukan bermanfaat bagi saya karena saya dapat melihat siswa lebih terlibat aktif di dalam pembelajaran. Coaching yang dilakukan membuat saya melakukan refleksi pembelajaran dan menindaklanjutinya. Nilai Akhir Tabel 4 menunjukkan bahwa penilaian Subyek V dan Subyek C terhadap coaching yang dilakukan secara perorangan oleh peneliti berada pada kategori Sangat Setuju sedangkan Subyek A menyatakan Setuju terhadap coaching yang dilakukan oleh Subyek S menyatakan Tidak Tahu terhadap coaching yang dilakukan peneliti. Selain Kuesioner Personal Mastery, peneliti juga memberikan Kuesioner Team Learning untuk melihat keberhasilan peneliti dalam Coaching secara tim. Pernyataan keempat subyek pada kuesioner ini dapat dilihat pada Tabel 5. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 49 Tabel 5 Ae Nilai Akhir Kuesioner Coaching Team Learning Siklus II Subyek Penelitian Indikator Coaching yang dilakukan menolong saya dan teman-teman untuk mengungkapkan pendapat atau ide saya dengan baik ketika membahas suatu hal di dalam kelompok. Coaching yang dilakukan bermanfaat bagi saya dan temanteman untuk melihat pentingnya diskusi di dalam tim untuk kemajuan pembelajaran Mandarin. Melalui Coaching dalam diskusi tim, saya dan teman-teman mampu mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam diri saya lebih lagi dan bisa membagikan ide tersebut di dalam tim saya. Coaching yang dilakukan menolong saya dan teman-teman untuk dapat menerima saran dan kritik dengan lebih baik dari rekan kerja lainnya. Coaching yang dilakukan membantu saya dan teman-teman untuk dapat melihat potensi yang ada di dalam diri rekan kerja saya dengan lebih baik lagi. Coaching yang dilakukan bermanfaat bagi saya dan temanteman untuk lebih termotivasi lagi di dalam bekerja. Coaching yang dilakukan membantu saya dan teman-teman untuk lebih bersikap terbuka dan berkomunikasi dengan baik dengan tim saya. Nilai Akhir Peningkatan penilaian para subyek terhadap coaching tim yang dilakukan pada Siklus II terlihat pada Table 5. Subyek V dan Subyek C menyatakan AuSangat SetujuAy terhadap coaching secara tim yang dilakukan oleh peneliti pada Siklus II. Subyek S dan Subyek A menilai AuSetujuAy terhadap coaching team learning yang dilakukan oleh Dari pengamatan yang dilakukan dalam coaching tim, peneliti melihatantusias masing-masing mengungkapkan pendapat mereka ketika melakukan peer observation. Keempat subyek berdiskusi dan saling memberikan pernyataan atau pendapat mereka terhadap video pembelajaran yang dilakukan oleh rekan mereka. Masing-masing subyek mendapatkan ide yang bisa mereka lakukan pada pembelajaran mereka berikutnya. Peneliti melihat bahwa peer observation yang dilakukan pada Siklus II ini berjalan dengan baik dan efektif sesuai dengan harapan peneliti. Keempat subyek juga memberikan ide-ide dan pendapat mereka terhadap pembuatan permainan online Pacman. Mereka mengumpulkan gambar dan merekam suara mereka untuk digabungkan menjadi permainan yang dapat dimainkan bersama siswanya di dalam kelas. Diskusi berjalan dengan lebih baik dan lancar pada Siklus II ini. Berdasarkan pernyataan yang diberikan oleh masing-masing subyek dalam mengisi Kuesioner Personal Mastery dan Team Learning, dapat ditarik kesimpulan bahwa 50 | PENGGUNAAN COACHING DENGAN. (Yulia Razak. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. coaching yang dilakukan dapat meningkatkan kemampuan keempat subyek dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran Mandarin di dalam kelas Zoom. Peneliti juga melakukan survey kepada siswa mengenai kegiatan pembelajaran Mandarin. Beberapa pertanyaan dibagikan kepada siswa melalui Google Form diisi oleh 62 siswa/responden. Gambar 3 menunjukkan bahwa 86% siswa mengikuti pembelajaran dengan aktif sedangkan 14% siswa hanya bersikap diam di dalam pembelajaran. Kemudian, siswa yang menyukai kelas Mandarin sebesar 95% sedangkan 5% tidak menyukai kelas tersebut dapat dilihat pada Gambar 4. Tingkat kesulitan mata pelajaran Mandarin bagi siswa tampak pada Gambar 5. Sebesar 74% siswa menjawab bahwa materi pelajaran Mandarin yang diberikan di dalam kelas adalah materi yang mudah untuk dipelajari sedangkan sebesar 26% menyatakan bahwa Mandarin itu sulit. Beberapa alasan mengapa siswa menyukai pembelajaran Mandarin tampak pada Gambar 6. Permainan di dalam kelas menja- di alasan tertinggi siswa menyukai Mandarin. Survei membuktikan bahwa 33% siswa menyukai permainan yang dilakukan di dalam Zoom kelas. Penggunaan video di dalam pembelajaran merupakan alasan kedua siswa menyukai Mandarin. Prosentase siswa yang menyukai Mandarin karena video yang digunakan di dalam kelas sebesar 27%. Metode pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas seperti diskusi kelas, diskusi kelompok, dan lainnya menjadi alasan ketiga dalam kesukaan siswa terhadap Mandarin. Siswa yang menyukai metode belajar yang ada di dalam kelas adalah sebesar 15%. Alasan berikutnya yaitu musik dan lagu serta tugas. Melalui survei ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode dan media pembelajaran merupakan faktor yang penting dalam merencanakan dan mengimplemenstasikan pembelajaran Mandarin. Siswa mengikuti pembelajaran dengan aktif dan menyenangkan ketika subyek penelitian mengaplikasikan metode dan media pembelajaran yang bervariatif. Setelah dilakukan penelitian dan tindakan, maka diperoleh bahwa: Keempat subyek telah mencapai indikator keberhasilan Ou 75 dari skor maksimum 100. Keempat subyek mengalami peningkatan di dalam kompetensi mereka di dalam merancang dan melaksana- KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 51 kan pembelajaran kelas dan berada pada kategori Baik. Subyek A memperoleh skor 83,75 dan Subyek V memperoleh skor 81,25. Subyek S dan C memperoleh skor yang sama, yaitu 78,75. Subyek S dan C mengalami peningkatan dan telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu Ou 75 dari skor maksimum 100. Penilaian Subyek V dan Subyek C menyatakan Sangat Setuju dan Subyek A menyatakan Setuju terhadap coaching dengan disiplin personal mastery yang dilakukan oleh peneliti sedangkan Subyek S menyatakan Tidak Tahu terhadap coaching yang dilakukan peneliti. Coaching team learning menunjuk-kan bahwa Subyek V dan Subyek C menyatakan AuSangat SetujuAy terhadap coaching secara tim yang dilakukan oleh peneliti sedangkan Subyek S dan Subyek A menilai AuSetujuAy terhadap coaching team learning yang dilakukan oleh peneliti. KESIMPULAN DAN SARAN Peneliti berhasil menggunakan coaching dengan personal mastery dan team learning dalam meningkatkan kompetensi guru Mandarin SCS. Penggunaan coaching dengan personal mastery dan team learning terbukti mampu meningkatkan kompetensi guru Mandarin dan mencapai indikator keberhasilan yaitu sebesar 75 dari skor maksimum 100. Di akhir Siklus II. Skor kompetensi Subyek V menjadi 81,25 sedangkan Subyek A berada pada angka 83,75. Skor kompetensi Subyek S dan Subyek C berada pada skor yang sama yaitu sebesar 78,75. Keempat subyek penelitian berada pada kategori Baik di dalam kompetensi mereka. Dengan pembekalan coaching yang dilakukan secara personal mastery, kompetensi masing-masing subyek penelitian meningkat terutama dalam merancang pembelajaran dan mengimplementasikannya di dalam Strategi dan metode yang bervariatif mampu membuat pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlangsung dengan aktif dan menyenangkan. Penggunaan alat peraga atau media pembelajaran online membuat siswa mengikuti pembelajaran daring secara aktif dan menyenangkan. Hasil survei membuktikan bahwa 95% siswa menyukai pembelajaran Mandarin. Alat peraga atau media belajar seperti permainan, video, dan metode pembelajaran mempunyai peran yang penting yang menyebabkan siswa menyukai Mandarin. Pembekalan coaching peneliti di dalam team learning meningkatkan kemampuan subyek penelitian dalam memberikan ide dan tanggapan di dalam diskusi Dengan adanya coaching dengan personal mastery dan team learning yang telah dilakukan, peneliti berharap guru Mandarin yang menjadi subyek penelitian dapat terus meningkatkan kompetensi mereka dan terus berinovasi dalam merencanakan dan menerapkannya di dalam kelas Mandarin. Melalui penelitian ini, peneliti menyarankan pihak sekolah untuk dapat memberikan bimbingan yang intensif dan juga pelatihan pembelajaran yang inovatif sehingga kualitas pembelajaran di sekolah Selain itu, pihak sekolah juga dapat membentuk tim coaching sehingga 52 | PENGGUNAAN COACHING DENGAN. (Yulia Razak. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. personil yang ada di dalam tim ini dapat menjadi coach yang mampu mengarahkan dan membimbing guru-guru dalam mengembangkan potensi dalam diri mereka. Pembentukan Kelompok Kerja Guru (KKG) di sekolah juga dapat dilakukan sesuai dengan mata pelajaran yang masing- masing guru ajarkan. Untuk guru Mandarin,mereka kompetensinya sebagai guru sehingga siswa semakin terlibat aktif di dalam mengikuti pembelajaran Mandarin. Guru Mandarin hendaknya membekali dirinya dengan meningkatkan kemampuan teknologinya sehingga dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Melalui penelitian ini, peneliti mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam meningkatkan kemampuan guru. Peneliti juga lebih dipacu untuk melakukan penelitian lainnya yang berhubungan dengan coaching, personal mastery, dan team learning. Peneliti akan menerapkan coaching dengan personal mastery dan team learning dengan guru mata pelajaran lainnya yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia. PPKn, dan IPS pada semester berikutnya. Daftar Pustaka