PROGRES PENDIDIKAN Vol. No. Januari 2026, pp. p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348. DOI: 10. 29303/prospek. STRATEGI GURU MENGOPTIMALKAN PEMBELAJARAN DENGAN KETERBATASAN SARANA DAN PRASARANA DI SDN TATAH MESJID 2 Rika Nupita. Arta Mulya Budi Harsono. Ahmad Suriansyah Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Lambung Mangkurat. Indonesia Informasi Artikel ABSTRAK Riwayat Artikel: Salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar berupa ketersediaan sarana dan prasarana. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis strategi guru dalam mengoptimalkan pembelajaran di tengah keterbatasan fasilitas fisik di SDN Tatah Mesjid 2. Menggunakan desain studi kasus kualitatif, penelitian ini melakukan eksplorasi mendalam melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen, dengan unit analisis guru kelas 1 di lokasi yang belum pernah terjamah literatur. Temuan utama menunjukkan bahwa guru secara efektif mengadaptasi pembelajaran dengan mengandalkan faktor manusia, yaitu kreativitas, daya adaptasi, dan improvisasi sebagai kompensasi utama. Strategi yang signifikan meliputi perencanaan yang realistis, pemanfaatan barang bekas seperti piring kertas dan kaset sebagai media alternatif, serta penyisipan aktivitas motorik untuk menjaga antusiasme siswa usia dini. Penelitian ini berkontribusi mengisi kekosongan literatur kualitatif yang membuktikan bahwa daya adaptasi guru adalah kompensasi utama keterbatasan sarana, sekaligus menghasilkan panduan praktis bagi Implikasi penelitian ini menekankan bahwa penguatan kompetensi pedagogis guru dalam aspek kreativitas dan pemanfaatan sumber daya lokal harus menjadi prioritas kebijakan pendidikan untuk menjamin kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah dengan sumber daya terbatas. Diterima: 11-11-2025 Direvisi: 28-12-2025 Dipublikasikan: 31-01-2026 Kata-kata kunci: Optimalisasi. Sarana dan Prasarana. Strategi Guru. This is an open access article under the CC BY-SA license. Penulis Korespondensi: Rika Nupita. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat. Jl. Brigjen H. Hasan Basri. Pangeran. Kec. Banjarmasin Utara. Kota Banjarmasin. Indonesia. Email: rikanupitaa@gmail. PENDAHULUAN Pendidikan dasar di Indonesia tentang kondisi ideal sarana dan prasarana yang memadai sudah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi (Permendikbudriste. Nomor 22 Tahun 2023 tentang Standar Sarana dan Prasarana pada Pendidikan Anak Usia Dini. Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Peraturan ini menetapkan kriteria yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan, termasuk ruang kelas yang baik, laboratorium, perpustakaan, media pembelajaran serta fasilitas pendukung lainnya. Sarana dan prasarana pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat membantu proses pembelajaran baik berupa benda yang disebut sarana dan fasilitas belajar yang bisa disebut prasarana (Ikhsan. Tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai, dalam proses pembelajaran guru akan kesulitan Journal homepage: http://prospek. id/index. php/PROSPEK A p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 dalam mengimplementasikan inovasi pembelajaran yang menyebabkan kembalinya pola pembelajaran ceramah yang monoton (SaAodiah et al. , 2. Dengan demikian maka dapat diartikan bahwa salah satu faktor penting keberhasilannya suatu pembelajaran dipengaruhi oleh sarana dan prasarana pendidikan. Temuan di lapangan sering kali bertolak belakang dengan kondisi ideal tersebut, terutama pada daerah pedesaan atau jauh dari akses kota seperti SDN 01 Tanjung Rancing Kayu Agung (Primadona et al. , 2. Banyak juga pada wilayah pedesaan lainnya, sekolah-sekolah masih menghadapi fisik bangunan yang memprihatinkan, keterbatasan media ajar, serta akses penggunaan teknologi yang minim sehingga menimbulkan kesenjangan mutu pendidikan (Fadillah et al. , 2. Fakta di lapangan pada SDN Tatah Mesjid 2 menunjukkan kurangnya kelayakan fasilitas fisik seperti ruang kelas yang kurang memadai yang mempengaruhi kenyamanan belajar, jumlah media pembelajaran yang jumlahnya sedikit sehingga siswa harus bergantian dalam penggunaannya, kemudian perpustakaan dengan keadaan rusak sehingga tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Penelitian-penelitian sebelumnya memang sudah banyak membahas masalah sarana prasarana, namun mayoritas pembahasannya cenderung hanya melihat dari sisi manajemen sekolah secara umum, misalnya bagaimana kepala sekolah mengatur pengadaan barang (Fauzi & Mustika, 2022. Sudarjat & Widodo, 2. Sayangnya, masih jarang penelitian yang melihat masalah ini dari sudut pandang guru di dalam kelas, yaitu bagaimana cara mereka tetap mengajar saat alat-alat tersebut tidak ada. Kekosongan pembahasan ini penting untuk dilengkapi, terutama untuk jenjang kelas 1 SD. Siswa kelas 1 memiliki karakteristik belajar yang unik karena pola pikir mereka masih membutuhkan benda nyata dan belum bisa dipaksa berpikir abstrak tanpa alat Oleh karena itu, penelitian ini ingin mengisi celah tersebut dengan tidak lagi membahas manajemen fasilitasnya, melainkan fokus pada strategi bertahan dan kreativitas guru dalam menciptakan media pengganti agar materi tetap sampai ke siswa. Konteks inilah yang menjadi fokus utama di SDN Tatah Mesjid 2, sebuah lokasi dengan kendala fasilitas serupa yang dinamika adaptasi gurunya belum pernah didokumentasikan Penelitian ini memiliki kebaruan signifikan yang ditujukan untuk mengisi kekosongan literatur tentang strategi adaptasi spesifik guru di lingkungan dengan sumber daya terbatas. Berbeda dengan studi terdahulu yang umumnya fokus pada analisis umum pengelolaan pembelajaran atau fasilitas (Fauzi & Mustika, 2022. Sudarjat & Widodo, 2. , penelitian ini menyajikan bukti empiris yang mendalam dari kasus kritis SDN Tatah Mesjid 2 sebuah lokasi yang belum pernah didokumentasikan sebelumnya. Kebaruan utamanya terletak pada perumusan strategi adaptasi guru Kelas 1. Strategi ini secara detail menjelaskan bagaimana kreativitas, daya adaptasi, dan strategi improvisasi guru pada level kelas rendah berfungsi sebagai kompensasi utama yang Temuan ini memberikan kontribusi praktis berupa panduan nyata tentang bagaimana menjaga antusiasme dan kualitas pembelajaran siswa usia dini, meskipun fasilitas fisik belum terpenuhi. Penelitian ini sangat penting dan mendesak untuk dilakukan karena punya kontribusi nyata, baik di ranah teori maupun praktik. Secara teoretis, penelitian ini akan mengisi kekosongan literatur yang memperlihatkan bukti empiris kualitatif bahwa faktor manusia yaitu daya adaptasi dan kreativitas guru dapat berfungsi sebagai kompensasi utama untuk menutupi keterbatasan Sarana dan Prasarana (Nurfasha, 2. Secara praktis, temuan di SDN Tatah Mesjid 2 akan menghasilkan semacam panduan praktis tentang strategi adaptif yang sudah dilaksanakan oleh guru. Strategi ini meliputi cara guru belajar merencanakan dan berimprovisasi sekaligus mengajarkan untuk fleksibel (Guy, 2. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis strategi guru dalam mengoptimalkan pembelajaran di tengah keterbatasan sarana dan prasarana di SDN Tatah Mesjid 2. Rumusan masalah difokuskan pada pertanyaan bagaimana guru di SDN Tatah Mesjid 2 mengadaptasi metode pembelajaran, memanfaatkan media alternatif, dan melakukan improvisasi untuk mengatasi keterbatasan sarana prasarana guna menjaga efektivitas dan antusiasme siswa. METODE PENELITIAN Guna mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana guru menyiasati minimnya sarana prasarana, penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan kualitatif yang sistematis. Bagian ini akan menguraikan kerangka kerja penelitian yang mencakup empat komponen utama, yaitu desain penelitian, partisipan dan lokasi, teknik pengumpulan data, serta prosedur analisis data sebagai berikut: Desain Penelitian Penelitian ini mengadopsi desain studi kasus yang dipilih karena fenomena yang diteliti berupa strategi adaptasi guru kelas rendah di tengah keterbatasan sarana dan prasarana memerlukan pemahaman kontekstual yang mendalam, sesuai dengan kriteria yang diterapkan berupa fokus pada pertanyaan AyBagaimanaAy dan AyMengapaAy menjustifikasi penggunaan studi kasus sebagai metode terbaik untuk mempertahankan sifat holistik dan bermakna dari peristiwa kontemporer di lingkungan yang diteliti (Yin, 2. Partisipan dan lokasi PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 87 - 94 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Penelitian ini berlokasi di SDN Tatah Mesjid 2, sebuah sekolah dasar yang dipilih melalui teknik purposive sampling karena secara eksplisit memenuhi kriteria keterbatasan sarana dan prasarana di wilayah Penelitian ini dilaksanakan selama tiga minggu pada Semester Ganjil Tahun Ajaran 2025. Unit analisis primer hanya dibatasi pada strategi adaptif guru dalam optimalisasi pembelajaran di kelas 1, mencakup proses perencanaan, dan pelaksanaan pengajaran di kelas. Partisipan kunci dipilih berdasarkan kriteria, yaitu guru kelas 1 dengan pengalaman mengajar lima tahun yang menjamin kekayaan pengetahuan dan improvisasi praktis yang dianalisis. Teknik Pengumpulan data Untuk mencapai kredibilitas dan kedalaman temuan, penelitian ini menggunakan triangulasi data dari tiga sumber utama : . wawancara dilakukan dengan tipe semi-terstruktur. Jenis ini dipilih karena memungkinkan fleksibilitas untuk lebih mendalami respon dari partisipan sambil memastikan semua indikator penelitian terjawab, sebagaimana yang tertera dalam pedoman wawancara (Fadila et al. , 2. Wawancara dilaksanakan dari dimulainya observasi awal sampai selesainya waktu penyusunan artikel. observasi dilakukan dengan peran peneliti sebagai pengamat non-partisipan. Objek observasi berupa proses kegiatan belajar mengajar di . studi dokumen digunakan untuk memvalidasi dan melengkapi informasi yang diperoleh dari wawancara dan observasi. Dokumen yang dikumpulkan berupa modul ajar saat observasi yang disusun oleh wali kelas 1. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan studi kasus kualitatif ini adalah analisis tematik (Thematic Analysi. Proses analisis tematik dalam penelitian ini dilakukan melalui berbagai tahap, yaitu membaca dan memahami data secara keseluruhan, mengidentifikasi kode awal, mengelompokkan tema, memvalidasi tema yang muncul, dan menyusun narasi (Yulinda, 2. Pendekatan ini dipilih karena menekankan pada identifikasi, analisis dan pelaporan pola makna yang terkandung dalam data, sejalan dengan karakteristik penelitian kualitatif yang bersifat induktif dan berfokus pada pemaknaan mendalam alih-alih angka statistik. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengungkapkan bahwa guru kelas 1 di SDN Tatah Mesjid 2 mengoptimalkan pembelajaran di tengah keterbatasan sarana dan prasarana melalui kreativitas dan adaptasi holistik. Analisis tematik dari triangulasi data wawancara semi terstruktur, observasi non partisipan, dan dokumentasi menghasilkan empat tema utama yang saling terkait berupa kreativitas guru, dampak terhadap proses pembelajaran, tantangan dan hambatan, serta solusi yang diterapkan. Strategi kreatif guru mengoptimalkan pembelajaran di kelas rendah dengan sarana dan prasarana Strategi adaptif guru pada pernyataan hasil wawancara wali kelas 1 yaitu mencakup perencanaan modul ajar yang realistis yang menyesuaikan keadaan lingkungan belajar siswa agar pembelajaran tetap berlangsung, walaupun sarana dan prasarana yang tersedia sangatlah terbatas khususnya kesulitannya akses perpustakaan dikarenakan bangunan perpustakaan yang sudah tidak memungkinkan untuk digunakan yang dikhawatirkan membahayakan pengunjungnya. Di mana seharusnya kebutuhan akan perpustakaan dan buku teks yang memadai juga penting untuk mendorong lingkungan belajar yang berkualitas (Dadirai & Chauke, 2. Modul ajar harus tetap disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa untuk memastikan pembelajaran yang diberikan tetap relevan dan tentunya bermakna bagi siswa (Ananda & Albina, 2. Di SDN Tatah Mesjid 2 pembuatan bahan ajar dimulai pada awal semester dengan memuat semua materi pembelajaran yang disesuaikan per pertemuan untuk acuan awal dan tetap bisa dimodifikasi pada saat akan pelaksanaan pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di SDN Tatah Mesjid 2, pada modul ajar yang dibuat oleh guru mencantumkan media dan juga alat pendukung pembelajaran yang sederhana seperti gunting, lem, barang bekas ataupun menggunakan lingkungan sekitar sebagai sarana utama pembelajaran, dimana hal ini dilakukan guru agar pembelajaran dapat berlangsung walaupun dengan fasilitas yang minimalis sekaligus inovasi yang dilakukan guru dalam menyiasati kekurangan ketersediaan sarana dan prasarana. Ini sejalan dengan penelitian di SDN Bubulak 2 dan SDN Situgede mengenai media ajar yang berfungsi untuk mengkonkretkan materi ajar dengan penggunaan media ajar minimalis yang dapat dibawa dan digunakan dimanapun dan juga kapanpun (Syifa & Julia, 2. Pada saat pembelajaran guru tentunya melakukan improvisasi apabila pembelajaran tidak berjalan sebagaimana mestinya (Rahmah et al. , 2. Pada saat pembelajaran yang terjadi di SDN Tatah Mesjid 2 pada saat penggunaan media berbasis teknologi seperti penggunaan lcd, guru harus bergantian di setiap kelasnya karena lcd yang tersedia jumlahnya terbatas. Dengan keadaan seperti ini guru menyiasati penggunaan media digital seperti ini khususnya di kelas 1 hanya pada saat pembelajaran pada akhir bab, dimana dengan menggunakan lcd dan pemutaran video atau ppt dapat merangkum semua pembelajaran yang pernah dipelajari Nupita, et al. Strategi Guru Mengoptimalkan . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 oleh siswa dan diulang kembali menjadi ingatan yang menyenangkan. Penggunaan media sederhana seperti media interaktif audio-visual dan presentasi powerpoint terbukti efektif dalam peningkatan konsisten dalam aktivitas belajar siswa (Arsyad et al. , 2024. Hidayat & Agusta, 2. Media pembelajaran tersedia di sekolah SDN Tatah Mesjid 2 juga sangat terbatas, dengan keadaan seperti ini guru harus bisa menciptakan pembelajaran yang menyenangkan namun tetap bermakna. Hal yang dilakukan oleh guru di SDN Tatah Mesjid 2 dalam penggunaan media ajar adalah dengan menggunakan bahan sekitar dan membuat sendiri dengan pendanaan pribadi untuk penunjang pembelajaran. Media ajar yang dibuat juga tetap harus menerapkan prinsip multi guna untuk mengembangkan 3 ranah kemampuan siswa baik berupa kognitif, afektif maupun psikomotoriknya (Syifa & Julia, 2. Pembelajaran dengan media sederhana yang pernah dilakukan wali kelas 1 di SDN Tatah Mesjid 2 yaitu pada saat siswa belajar mengenal dan menuliskan huruf disini guru menggunakan media plastisin. Plastisin ini diberikan kepada masing-masing siswa untuk dibentuk berdasarkan arahan dari guru untuk membentuk huruf apa saja. Kegiatan penggunaan plastisin ini selain mengasah kognitif siswa dalam hal mengingat huruf juga membantu mengasah motorik halus siswa (Rahida et al. , 2. Hal ini sejalan dengan pandangan teoritis bahwa pada lingkungan terbatas, engagement guru dan interaksi kinetik lebih efektif dalam menjaga perhatian siswa dibandingkan media visual semata (Albina et al. , 2. Strategi lain yang diterapkan adalah revitalisasi permainan tradisional congklak sebagai media pembelajaran numerasi. Hal ini sejalan dengan studi yang menemukan bahwa pendekatan etnomatematika menggunakan congklak sangat efektif membantu siswa memahami operasi hitung bilangan secara konkret dan menyenangkan (Ansya et al. , 2. Meskipun jumlah alat terbatas sehingga siswa harus bergantian, kondisi ini justru dimanfaatkan guru untuk menanamkan nilai kesabaran dan interaksi sosial antarsiswa. Media pembelajaran dengan barang bekas juga pernah digunakan wali kelas 1 di SDN Tatah Mesjid 2 yaitu berupa penggunaan kaset bekas dan juga piring kertas kecil sisa acara di sekolah yang masih layak Awal mulanya penggunaan barang bekas ini muncul dibenak wali kelas 1 berdasarkan hasil wawancara yaitu karena melihat banyaknya kaset yang dibawa siswa ke sekolah akhirnya tercipta ide untuk dikumpulkan kemudian di bagian depan kaset diberikan kertas yang ditempel gambar kemudian siswa diajak untuk mewarnai dengan rapi setiap pola yang sudah diberikan. Inovasi penggunaan kaset bekas ini merupakan media alternatif yang efektif untuk melatih koordinasi mata dan tangan . otorik halu. siswa melalui kegiatan yang menyenangkan (Wahyudi et al. , 2. Begitu juga dengan penggunaan piring kertas bekas ini, piring kecil tersebut diberikan potongan huruf yang dimana siswa diberikan arahan untuk menyusun huruf kemudian ditempelkan di permukaan piring kertas tersebut, kemudian hasil karya siswa ditempel di dinding kelas. Strategi ini yang menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga sederhana seperti piring kertas sangat efektif untuk mengonkretkan konsep abstrak bagi siswa usia dini, sekaligus menjadi solusi kreatif di tengah keterbatasan media konvensional (Utamiati & Virdaus, 2. Strategi yang dilakukan oleh guru ini untuk mengurangi sampah yang ada di sekitar juga sebagai apresiasi kepada siswa terhadap kreatifitasnya. Langkah inisiatif guru ini menegaskan bahwa keterbatasan dana bukanlah jalan buntu. Justru, pemanfaatan limbah menjadi media ajar menunjukkan bentuk kecerdasan ekologis guru yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang belajar yang kontekstual. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar mengenal huruf, tetapi secara tidak langsung juga belajar menghargai lingkungan sejak dini. Hal ini sejalan dengan pendapat Pigai dan Suharto . yang menyatakan bahwa media pembelajaran berbasis lingkungan sekitar sangat efektif menumbuhkan karakter siswa, khususnya kepedulian lingkungan, di wilayah dengan sumber daya terbatas. Temuan ini sesuai dengan keadaan sarana dan prasarana di daerah pedesaan, dimana guru mengoptimalkan media alternatif dari bahan lokal untuk menjaga keberlangsungan pembelajaran, meskipun dengan tantangan kuantitas media terbatas (Fadillah et al. , 2. Gambar 1. Proses pembelajaran PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 87 - 94 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Dampak keterbatasan sarana dan prasaran terhadap proses pembelajaran Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas 1 di SDN Tatah Mesjid 2 keterbatasan sarana dan prasarana menyebabkan dominasi metode ceramah pada awal sesi pembelajaran apabila guru tidak bisa menyesuaikan pembelajaran. Metode ceramah cenderung meningkatkan kebosanan siswa, maka diperlukan pengemasan pembelajaran yang menarik (Arsyad et al. , 2. Pembelajaran yang disampaikan guru secara verbal kemungkinan tidak akan sama dengan persepsi yang akan ditangkap dan dibayangkan oleh siswa sehingga akan terjadi ketidaksesuaian dengan realitanya pada mata pelajaran tertentu (Syifa & Julia, 2. Menurut hasil wawancara dengan wali kelas 1 bahwasanya pada saat pembelajaran siswa khususnya kelas rendah tidak menunjukkan respon secara langsung antara suka dan tidak suka secara verbal kepada guru, tetapi guru dapat merasakan secara langsung dari sikap siswa apakah siswa tersebut masih antusias mengikuti pembelajaran atau sudah bosan yang ditandai dengan siswa yang mulai asik sendiri. Hal ini sejalan dengan temuan yang mengungkapkan bahwa pada siswa sekolah dasar, antusiasme belajar lebih dominan ditunjukkan melalui ekspresi tubuh, tatapan mata, dan partisipasi fisik, di mana siswa yang bosan cenderung menunjukkan sikap pasif dan mudah terdistraksi oleh hal lain (Agustin et al. , 2. Temuan bahwa antusiasme siswa bergantung pada gesture mereka pada saat pembelajaran dan pengemasan materi oleh guru secara kuat menyanggah asumsi umum bahwa sarana prasarana adalah prediktor utama efektivitas pembelajaran. Sebaliknya, hal ini menegaskan argumen utama penelitian bahwa kreativitas guru berfungsi sebagai variabel yang membalikkan dampak negatif dari keterbatasan sarana. Hal ini menunjukkan bahwa hampir separuh motivasi, partisipasi, dan investasi emosional siswa dalam kegiatan pembelajaran dibentuk oleh seberapa besar mereka memandang guru mereka sebagai sosok yang suportif dalam mengemas pembelajaran (Odei Addo & Dodor, 2. Tantangan dan Hambatan Hambatan ini bersumber dari kondisi sarana prasarana yang tidak memenuhi standar kelayakan, secara langsung memengaruhi efektivitas dan kenyamanan kegiatan belajar mengajar (Salwa, 2. Terdapat masalah kelayakan fisik ruang kelas di SDN Tatah Mesjid 2 , pada hasil wawancara dengan wali kelas 1 yaitu mengenai plafon yang menjatuhkan serbuk-serbuk halus ke bawah, kondisi fisik kelas yang kurang kondusif seperti ini, seperti kebersihan yang terganggu akibat debu plafon, berpotensi menurunkan efektivitas belajar. Hal ini diperkuat oleh temuan Mardiah dan Puspita . yang menyatakan bahwa kebersihan dan kenyamanan lingkungan fisik sekolah memiliki korelasi signifikan terhadap tingkat konsentrasi dan partisipasi aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kendala operasional juga muncul di ruangan kelas 1 SDN Tatah Mesjid 2 dari masalah pencahayaan, yaitu silau cahaya yang memantul di papan tulis. Menurut hasil wawancara dengan wali kelas 1 pada saat pembuatan ruangan kelas 1 ini ada sedikit kesalahan peletakkan arah papan tulis sehingga cahaya yang masuk dari jendela langsung memantul menuju papan tulis dan membuat tulisan di papan tulis tidak terlihat dengan Pada saat kejadian itu terjadi siswa akhirnya banyak yang lesehan di depan papan tulis agar tulisan bisa terlihat dengan jelas. Gangguan visual akibat pencahayaan yang buruk ini tentu menghambat proses transfer informasi dari guru ke siswa. Hal ini relevan dengan studi Mardiah dan Puspita . yang menegaskan bahwa kualitas pencahayaan ruang kelas merupakan faktor fisik krusial yang berpengaruh langsung terhadap kenyamanan visual dan daya konsentrasi siswa saat menerima materi pelajaran. Permasalahan keterbatasan distribusi media peraga yang menyebabkan alat harus digunakan secara bergantian oleh seluruh siswa. Lebih lanjut, akses teknologi menghadapi hambatan serius karena jangkauan jaringan WiFi hanya bisa di wilayah kantor dan jumlah perangkat keras yang sangat terbatas. Kondisi minimnya infrastruktur teknologi ini menjadi tantangan utama dalam transformasi pendidikan di sekolah dasar, sebagaimana diungkapkan oleh Hidayatullah . bahwa keterbatasan fasilitas TIK sering kali menghambat integrasi sistem digital yang efektif di lingkungan sekolah, terutama di daerah yang sedang berkembang. Tantangan ini berkaitan dengan kesulitan yang timbul dalam perencanaan dan pelaksanaan pengajaran akibat minimnya dukungan fasilitas dan manajemen kelas yang perlu ditindaklanjuti (Nurzaima et al. , 2. Menurut hasil wawancara dengan wali kelas satu bahwasanya kekurangan media visual dan peraga menyebabkan pembelajaran pada siswa cenderung didominasi oleh metode ceramah. Guru mengakui bahwa pembelajaran dapat terasa sangat monoton apabila hanya berfokus pada mencatat. Sebagaimana dalam pembelajaran seharusnya memvariasikan gaya belajar dan menghindari kejenuhan dalam belajar (Aslamiah et , 2. Solusi yang diterapkan Solusi yang diterapkan oleh Guru Kelas 1 didominasi oleh inisiatif individu dan strategi improvisasi yang minim biaya untuk memastikan keberlanjutan proses pembelajaran di tengah keterbatasan sarana. Untuk mengatasi kekurangan media visual dan alat, guru menerapkan strategi penggantian media digital dengan visual non-digital, di mana kekurangan perangkat keras (LCD) diselesaikan dengan inisiatif mem-print gambar Nupita, et al. Strategi Guru Mengoptimalkan . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 sebagai media visual alternatif. Namun, penayangan video animasi masih digunakan pada pertemuan penutup untuk merangkum materi. Selain itu, kelangkaan alat peraga diatasi melalui praktik minim biaya dengan memanfaatkan bahan sederhana dan sisa, seperti penggunaan piring kecil kertas bekas untuk aktivitas belajar Apabila ada kebutuhan alat penunjang yang mendesak, guru mengambil inisiatif membeli sendiri alat tersebut, dan untuk kebutuhan alat yang hanya kurang jumlahnya, solusi dicari melalui meminjam ke kelas lain melalui networking dengan rekan guru. Inisiatif untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada, baik melalui pembelian mandiri maupun peminjaman silang, mencerminkan kemampuan adaptasi guru yang kuat. Sebagaimana ditekankan oleh Pigai dan Suharto . , kunci keberhasilan pembelajaran di wilayah terbatas bukan terletak pada kemewahan fasilitas, melainkan pada kemampuan guru untuk mengintegrasikan potensi lokal dan jejaring sosial sebagai sumber belajar yang efektif. Untuk mengatasi kejenuhan metode ceramah yang konvensional, guru menerapkan pendekatan integratif yang melibatkan aspek kognitif dan motorik. Strategi ini diwujudkan melalui penyisipan aktivitas taktil, seperti meminta siswa membentuk huruf menggunakan plastisin. Langkah ini merupakan respons cerdas terhadap karakteristik siswa kelas 1 yang berada pada tahap operasional konkret. Pendekatan ini didukung oleh temuan Wahyudi. Cinantya, dan Maimunah . tentang urgensi kreativitas media, serta sejalan dengan pernyataan bahwa interaksi kinetik jauh lebih efektif menjaga atensi siswa dalam lingkungan terbatas dibandingkan sekadar metode visual (Albina et al. , 2. Paralel dengan strategi pengajaran, guru juga melakukan intervensi terhadap kendala fisik ruang kelas untuk menjamin kenyamanan belajar. Masalah gangguan visual akibat pantulan cahaya silau di papan tulis diselesaikan melalui adaptasi sederhana berupa pemasangan gorden, sementara masalah kebersihan dikelola dengan menanamkan tanggung jawab siswa terhadap sampah. Upaya perbaikan mikro ini selaras dengan penegasan Mardiah dan Puspita . bahwa intervensi pada kualitas lingkungan fisik kelas merupakan prasyarat mutlak untuk dapat mempertahankan kenyamanan dan durasi konsentrasi siswa. Di luar aspek teknis, keberlanjutan strategi ini ditopang oleh inisiatif profesional guru yang aktif menggali inspirasi metode ajar dari media sosial. Selain itu, guru juga memastikan efektivitas pembelajaran berbasis lingkungan dengan memberikan penguatan konsep teoretis di dalam kelas terlebih dahulu, sehingga siswa memiliki fondasi pemahaman yang kuat sebelum melakukan pengamatan langsung di luar ruangan. Pendekatan terstruktur ini selaras dengan langkah pembelajaran yang diuraikan oleh Hasbiyalloh. Ulum, dan Hakim . , di mana penyampaian materi awal oleh guru sangat krusial sebelum siswa diarahkan untuk mengeksplorasi objek nyata di lingkungan sekitar agar pembelajaran menjadi lebih terarah dan bermakna. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa keterbatasan sarana dan prasarana di SDN Tatah Mesjid 2 tidak serta-merta menghambat efektivitas pembelajaran. Guru Kelas 1 berhasil menerapkan strategi adaptasi melalui kreativitas dan improvisasi pedagogis sebagai kompensasi utama atas minimnya fasilitas fisik. Strategi tersebut diwujudkan melalui perencanaan modul ajar yang realistis, pemanfaatan limbah seperti kaset bekas dan piring kertas sebagai media visual alternatif, serta integrasi aktivitas motorik menggunakan plastisin untuk mengatasi kejenuhan siswa terhadap metode ceramah. Inisiatif ini terbukti mampu menjaga antusiasme dan keterlibatan siswa meskipun belajar dalam lingkungan dengan sumber daya terbatas. Secara teoritis, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dengan mengisi kekosongan literatur mengenai manajemen kelas di daerah tertinggal. Studi ini memberikan bukti empiris bahwa faktor manusia khususnya agensi dan resiliensi guru merupakan variabel kunci yang dapat memitigasi dampak negatif dari ketimpangan infrastruktur. Temuan ini menegaskan bahwa dalam kondisi darurat fasilitas, kompetensi guru dalam melakukan "bricolage" . emanfaatkan apa saja yang tersedi. lebih menentukan keberhasilan belajar dibandingkan ketersediaan alat canggih semata. Kendati demikian, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu digarisbawahi sebagai catatan akademis. Pertama, fokus studi kasus tunggal dengan satu partisipan kunci membuat temuan ini bersifat spesifik konteks . ontext-dependen. dan tidak dapat digeneralisasi secara langsung ke seluruh sekolah dasar dengan karakteristik berbeda. Kedua, durasi observasi yang relatif singkat membatasi kemampuan peneliti untuk melihat konsistensi strategi guru dalam jangka panjang. Ketiga, keberhasilan strategi yang ditemukan sangat bergantung pada motivasi individual guru yang bersangkutan, sehingga penerapannya di lokasi lain memerlukan penyesuaian dengan kompetensi dan inisiatif guru setempat. Berdasarkan kesimpulan dan keterbatasan tersebut, disarankan bagi penelitian selanjutnya untuk memperluas cakupan subjek penelitian ke lebih banyak sekolah atau jenjang kelas guna menguji konsistensi strategi adaptif ini. Selain itu, penggunaan metode campuran . ixed-metho. dengan dukungan data kuantitatif direkomendasikan untuk mengukur dampak strategi adaptasi guru terhadap hasil belajar siswa secara lebih terukur dan objektif. PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 87 - 94 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 DAFTAR PUSTAKA