Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 133-144 EKSPLORASI PSIKOLOGIS: STUDI KASUS TERHADAP MUNCIKARI GIGOLO PSYCHOLOGICAL EXPLORATION: CASE STUDY OF GIGOLO PROCURER Tri Ambarwati. Nur Fitriany Fakhri. Muhammad Nur Hidayat Nurdin. Fakultas Psikologi. Universitas Negeri Makassar. Indonesia. Email: triambar01@gmail. , nurfitriany. fakhri@unm. , mnur. hidayat@unm. Abstrak: Muncikari dalam suatu bisnis prostitusi adalah perantara antara klien dan seorang pelacur, baik laki-laki maupun perempuan. Muncikari bertugas menangani konflik dan insentif dalam Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dinamika psikologis responden mengenai motivasi responden untuk menjadi muncikari dan dampak profesi tersebut pada dirinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi kasus. Responden utama pada penelitian berjumlah satu orang perempuan disertai satu orang lainnya sebagai significant other. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan wawancara semi terstruktur. Hasil analisis data menunjukkan bahwa keputusan responden untuk menjadi muncikari dipengaruhi oleh lingkungan toxic relationship, kejadian traumatis, kesulitan finansial, dan perpisahan keluarga. Beberapa dampak negatif dialami oleh responden terhadap kondisi psikologisnya, meskipun responden merasa aman dengan kondisi finansialnya. Dampak negatif tersebut adalah kehilangan kepedulian terhadap orang lain, menyakiti diri sendiri, merasa bersalah tentang apa yang mereka lakukan, dan menyerah pada Wawasan psikologis yang diperoleh dari studi ini memiliki implikasi signifikan bagi praktisi kesehatan mental yang bekerja dengan individu yang terlibat dengan pekerjaan prostitusi, sekaligus berkontribusi pada wacana akademis yang lebih luas tentang adaptasi psikologis dalam lingkungan sosial yang kompleks tersebut. Kata Kunci: Gigolo. Muncikari. Dinamika psikologis. Wanita Abstract: A pimp in the prostitution business acts as an intermediary between clients and sex workers, whether male or female. The pimp's role includes handling conflicts and incentives related to the The objective of this study is to understand the psychological dynamics of the respondent's motivation for becoming a pimp and the impact of this profession on their life. This research is qualitative in nature, using a case study approach. The primary respondent in this study is a woman, with another individual included as a significant other. Data were collected through semi-structured The analysis reveals that the respondent's decision to become a pimp was influenced by a toxic relationship environment, traumatic events, financial difficulties, and family separation. Several negative psychological effects were experienced by the respondent, despite feeling secure financially. These negative impacts include a loss of empathy for others, self-harm, feelings of guilt about their actions, and succumbing to pressure. The psychological insights gained from this study have significant implications for mental health practitioners working with individuals involved in Additionally, it contributes to the broader academic discourse on psychological adaptation in such complex social environments. Keywords: Gigolo. Matchmaker. Psychological dynamics. Woman Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 133-144 PENDAHULUAN Prostitusi adalah masalah yang sudah diketahui secara luas, namun tetap menjadi perdebatan hingga saat ini. Menurut Shannon . pekerja seks dianggap sebagai populasi yang sangat penting dalam memahami salah satu bentuk permasalahan kesehatan masyarakat. Prostitusi merupakan menimbulkan ketidakpuasan sosial dan memengaruhi fungsi sosial. Hal ini tidak hanya terkait dengan kemerosotan moral, tetapi juga berperan penting dalam penularan penyakit terutama penyakit kelamin dan HIV/AIDS (Selvey, dkk, 2017. Big-Alobo, 2. Prostitusi tidak bisa hanya dianggap sebagai masalah moral budaya, karena prostitusi terkait erat dengan realitas sosial dan keadaan ekonomi dan politik yang melingkupinya. Salah satu yang menjadi permasalahan dalam beberapa penelitian mengenai pekerja seks komersial (PSK) adalah deskripsi populasi termasuk jumlah individu yang terlibat dalam pemberian layanan seksual, serta kurangnya perkiraan populasi yang tepat (Benoit, dkk, 2. Permasalahan ini memiliki kaitan yang erat dengan pengambilan sampel dan metodologi yang tepat untuk meneliti PSK. Misalnya di Indonesia. Komnasham memperkirakan bahwa pada tahun 2018, terdapat 230 ribu perempuan di Indonesia yang melakukan pekerjaan sebagai pekerja seks Jumlah tersebut tidak pasti, karena prostitusi umumnya bekerja di bawah radar pemerintah maupun masyarakat. Di Indonesia, prostitusi merupakan perbuatan yang dipandang menyimpang, karena ketidaksesuaian dengan nilai-nilai dan standar masyarakat yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Prostitusi adalah suatu bentuk eksploitasi seksual yang melibatkan pertukaran layanan seksual secara konsensual demi uang. Komodifikasi tubuh manusia untuk merendahkan harkat dan martabat manusia, serta dianggap melanggar hak asasi manusia karena merendahkan kesucian institusi perkawinan (Martha dkk, 2. Meskipun prostitusi merupakan perilaku yang dianggap melanggar etika dan norma masyarakat, namun PSK tidak dapat dijatuhi hukuman. Indonesia hanya muncikari yang mendapatkan hukuman dari pemerintah, sesuai dengan aturan hukum pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) (Arief, 2. Muncikari adalah profesi yang berkaitan erat dengan prostitusi, yang bekerja sebagai penghubung antara klien dengan para PSK (Farmer & Horowitz, 2. Muncikari bahkan dapat bertugas untuk menyediakan tempat dimana PSK dapat melayani pelanggannya (Permatasari, 2. Muncikari merupakan tokoh penting dalam industri prostitusi (Fermin, 2. Muncikari adalah orang yang dengan sengaja mendorong orang lain untuk keuntungan finansial dari tindakan tersebut (Weitzer 2. Hubungan antara muncikari dan PSK dapat digambarkan dalam bentuk patron-klien (Hurri & Mulyadi, 2. Patron menganggap memiliki kekuatan untuk melindungi kliennya, dalam hal ini PSK. Karena itu, muncikari juga memiliki hak untuk menarik keuntungan sebagai imbalan atas perlindungan dan usahanya dalam memberikan kemudahan kepada PSK. Muncikari mengawasi pelacur atau PSK dan mengawasi aspek komersial prostitusi, demi keuntungan finansial mereka sendiri. Sebagai imbalan atas berbagai layanan, termasuk perlindungan dan manajemen bisnis, muncikari menerima pembayaran atas layanan seks yang dilakukan oleh pelacur mereka (Weitzer, 2009. Williamson & Close-Tolar, 2. Namun, untuk memastikan bahwa karyawan mereka memberikan layanan seksual kepada klien dengan imbalan pembayaran, muncikari dapat menggunakan paksaan, ketakutan, atau ancaman (Weitzer, 2. Tentu saja, muncikari akan mendapat manfaat lebih besar dari pelacur yang menawarkan lebih banyak layanan seks. Secara umum, mendominasi pekerjanya, untuk sepenuhnya memaksa mereka bekerja terus menerus demi mendapatkan bayaran. Muncikari hanya memikirkan keuntungan pribadinya, berapa pun biayanya, dan tidak selalu peduli dengan kesejahteraan umum karyawannya, atau sisi komersial dari keuntungan tersebut. Terdapat beberapa kasus tertentu dimana muncikari juga bekerja untuk mencari klien bagi para PSK pria yang disebut sebagai Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 133-144 Oleh karena itu orang-orang yang menjalankan bisnis tersebut menyebut diri mereka sebagai muncikari gigolo. Wicaksono merupakan sebutan bagi pelacur pria, dimana pihaknya dibayar untuk melakukan senggama, foto mesum serta meluapkan birahi pasangan. Muncikari memiliki peran yang sangat penting, dimana ia akan mencari target yang sesuai dengan para gigolo, kemudian melakukan pendekatan dengan klien lewat obrolan secara online maupun aplikasi chatting Fadri . dalam penelitiannya mengemukakan bahwa pelaku prostitusi online biasanya memiliki pekerjaan lain sebagai model, mahasiswa, karyawan dan lain Prostitusi online menjajakan atau menawarkan jasa seks melalui akun-akun media sosial, baik itu akun pribadi maupun dengan akun samaran. Penelitian-penelitian sebelumnya telah menyelidiki beragam bahaya yang terkait dengan prostitusi, serta dinamika interaksi antara pekerja seks dan penyedia jasa mereka, khususnya mucikari. Namun, penelitian mengenai muncikari tersebut masih terbatas (Raphael dkk. terutama di Indonesia. Bahkan penelitian di dunia mengenai muncikari lebih sering berkutat pada konsep kekerasan yang dilakukan oleh muncikari terhadap PSK-nya (Williamson & Close-Tolar. Raphael. Reichert & Powers, 2010. Stalans, 2. Fenomena tersebut menjadi landasan untuk melakukan penelitian ini. Penelitian ini berfokus pada eksplorasi dinamika psikologis seorang muncikari gigolo di kota Makassar, yang merupakan fenomena unik dalam industri Keunikan penelitian ini terletak pada subjek penelitian, yaitu seorang wanita yang menjadi satu-satunya muncikari gigolo di Makassar. Peneliti berupaya memahami proses dinamika psikologis dan motivasi yang mendasari keputusannya untuk menjalani profesi tersebut. Studi ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana seorang perempuan yang bekerja dalam industri prostitusi sebagai perantara yang dengan sadar mengambil risiko yang melekat dalam pekerjaan tersebut. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Creswell . mengemukakan bahwa studi kasus merupakan studi eksplorasi mendalam terhadap bounded system . isalnya, kegiatan, peristiwa, proses, atau individ. berdasarkan pada pengumpulan data ekstensif. Denzin & Lincoln . mengemukakan bahwa metode studi kasus merupakan metode penelitian pribadi serta kajian terkait pengalaman personal yang Batasan istilah pada penelitian ini yaitu muncikari gigolo, motif, dan konflik Muncikari gigolo merupakan seseorang yang memegang peranan dalam bisnis prostitusi antara PSK pria, atau yang sering disebut sebagai gigolo dengan Motif merupakan suatu penggerak pada diri seseorang yang kemudian mendorong seseorang dalam memunculkan perilaku serta tindakan-tindakan, untuk mencapai suatu keinginan maupun tujuan. Adapun konflik interpersonal merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami perselisihan dengan orang lain, disebabkan karena adanya ketidakcocokan ataupun perbedaan pandangan, tujuan, kebutuhan, serta keinginan. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara semi Teknik analisis data menggunakan enam langkah berdasarkan pada teori Creswell . , mengorganisasikan data untuk dianalisis, mengeksplorasi dan mengkode data, mengelompokkan kode guna pengembangan gambaran dalam membentuk deskripsi dan tema, merepresentasikan data, membuat interpretasi terkait makna hasil dengan memvalidasi keakuratan temuan. Penelitian ini juga menggunakan analisis tematik Selain itu penelitian ini menggunakan data driven yang didasarkan pada teori Boyatzis. Boyatzis . merupakan kode yang dibangun secara induktif dari informasi mentah. Data yang muncul dengan kata-kata dan sintaks dari informasi mentah. Peneliti bertugas untuk menafsirkan makna setelah memperoleh Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 133-144 temuan dan untuk membangun teori setelah penemuan hasil. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Peneliti akan membandingkan dan mengecek ulang tingkat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Seperti membandingkan hasil wawancara dengan hasil pengamatan, membandingkan antara apa yang dikatakan secara umum dan secara pribadi, serta membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada. HASIL Deskripsi Subjek Responden berinisial NV merupakan seorang wanita yang berusia 25 tahun. responden merupakan anak pertama di keluarganya, responden memiliki empat orang adik yang tinggal bersama ibunya. Responden hidup dalam keluarga yang kurang harmonis dimana ayah dan ibu responden sudah tidak bersama lagi sejak responden berusia 17 tahun, responden mengaku memiliki hubungan kelekatan yang baik pada ibunya dibanding dengan ayahnya. Responden saat ini telah menjadi orang tua tunggal yang memiliki satu anak. Responden menjalani aktivitas harian di salah satu tempat gym yang berada di kota Makassar. Selain dari pekerjaan tersebut, responden juga terlibat dalam dunia prostitusi. Dalam dunia prostitusi responden bertindak sebagai penyalur pekerja seks pria, atau yang biasa disebut seorang Untuk pekerjaan ini responden menyebut dirinya sebagai seorang muncikari Pekerjaan prostitusi tersebut digeluti responden di usia yang terbilang masih sangat muda, yaitu sejak usia 18 tahun hingga saat ini responden menginjak usia 25 tahun. Tabel 1. Inisial Subjek Penelitian Inisial Usia Jenis Kelamin Pendidikan Catatan Perempuan SMA Subjek Perempuan SMA Significant Latar Belakang Responden Kondisi Keluarga Responden Di dalam keluarga terdapat konflik antara kedua orang tua responden yang menyebabkan hubungan keduanya tidak harmonis, sampai pada akhirnya berpisah dikarenakan ayah dari responden diketahui tidak menjalankan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Responden NV dalam lingkup keluarga memahami bahwa ayahnya tidak menjalankan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Salah satu bentuk pengabaian tanggung jawab dari ayah responden, yaitu tidak memenuhi kebutuhan Hal tersebut membuat responden sempat memiliki masalah perekonomian sejak responden NV masih duduk di bangku Kasus perselingkuhan yang kemudian dilakukan oleh ayah responden NV mengakibatkan masalah dari kedua orang tua responden, hingga akhirnya menempuh jalan perceraian. Diketahui bahwa ayah responden berselingkuh dan meninggalkan responden beserta ibu dan keempat adiknya. Responden tidak lagi berkomunikasi dengan ayahnya sejak saat itu. Diuraikan dalam kutipan berikut : AuPas mamaku bilang sudah bisaka mengerti semua toh dia ajak cerita kalau ada masalah, baru dia cerita. Bapakku pernah selingkuh, sempat ada komunikasi tapi sempat bikin masalah toh aa. dia kasih rusak namaku toh jadi langsung saya blokir total jadi kemarin itu waktunya dia pun pergi, pergi tinggalkanka. Ay Responden merasakan bahwa ayahnya hanya memberikan masalah. Tidak ada tanggung jawab dalam menafkahi keluarga dan selingkuh dengan orang lain menyebabkan kekecewaan responden dan Oleh karena itu, responden memilih untuk tidak lagi berkomunikasi dengan ayahnya. Akibatnya, hubungan kelekatan antara responden dan ayahnya tidak terjalin dengan baik sejak saat itu. Diuraikan dalam kutipan berikut : Aukalau sama bapak ndak bagus, sangat ndak bagus. Karena dari tanggung jawab sebagai bapak menjaga ndak ada, mendidik ndak ada, bertanggung Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 133-144 jawab ndak ada, semuanya ndak ada. Dari menjaga, dari menjaga, kalau ada apa-apa ku cuek ya kan? Kalau misalnya bertanggung jawab, kalau bertanggung jawab itu nafkah otomatis kan? Tanggung jawabnya orang tua, ndak ada jadi memang dari sekolah saya sudah cari uang sendiriAy Pernyataan significant other sebagaimana tergambar dalam kutipan berikut: Au. kan ini mamanya sama bapaknya pisahmi, terus ini juga bapaknya kayak lost contact mi sama dia, maksudnya kayak adaji, cuma kayak berkabarberkabar begitu mami, kayak nda bagus juga itu hubungannya karena ini bapaknya waktu pisah toh anu kayak langsung pergi begitu tanpa alasan ndak ada apa-apa, kayak ditinggalkan begituki jadi kayak ndak bagus hubungannya sama bapaknya. Ay Pengalaman Traumatis Responden NV mulai menjalani hubungan dengan seorang pria. Hubungan yang dijalani responden merupakan hubungan yang tidak Berbagai bentuk kekerasan dialami responden dalam hubungannya, baik kekerasan fisik berupa pemukulan, dan juga kekerasan verbal kerap kali dialami responden seperti cacian dan makian oleh pasangannya. Diuraikan dalam kutipan berikut : Ausaya jalani hubungan itu dalam, jadi jujur saya pacar pertamaku itu hubunganku toxic karena suka memukul. tapi saya bertahan karena. jadi biar diapai, biar disakiti bagaimanapun susah saya lepas, jadi insidenku itu pacar pertamaku, hubunganku itu suka ya kan? Posesifnya itu tinggi sekali jadi kalau dia cemburu dia suka memukul, terus dia hinakaAu Perilaku yang tidak baik dilakukan oleh pasangannya kepada responden NV, hingga berakhir dimana responden menjadi korban pemerkosaan oleh pasangannya sendiri. Kejadian tersebut membuat responden NV mengalami luka parah secara fisik. Insiden tersebut menimbulkan trauma dan rasa takut bagi responden NV dalam menjalani hubungan kembali dengan orang lain. Responden NV juga merasa adanya perilaku yang kadang tidak ia sadari seperti refleks mengangkat tangannya sebagai bentuk pertahanan diri. Perilaku tersebut muncul jika ada seseorang yang mengangkat tangan dihadapannya. Responden NV mengakui bahwa ia merasa seperti akan mengangkat tangan di hadapannya. Insiden pemerkosaan yang dialami responden NV membuatnya takut untuk menjalani hubungan dengan orang baru. Oleh sebab itu, ibu dari responden NV memperkenalkan seorang pria responden NV. Responden NV kembali menjalani hubungan dengan pria yang dikenalkan oleh ibu responden. Diuraikan dalam kutipan berikut : Auada insiden dia mau mencoba hubungan yang diluar dari yang wajar mau melakukan hubungan suami istri, niatnya ini sudah nda bagusmi toh dan saya bertahan disitu, tapi bagaimanapun tetap saya perempuan toh jadi saya kalah, jadi terjadi itu, saya luka parah, masuk rumah sakit Jadi sampai saat itu trauma sama cowok, trauma saya sama cowok apalagi yang namanya main fisik. Refleks ku. kejadian itu jadi siapapun dalam kondisi mau bercanda, intinya kalau saya liat tangan diangkat di depan mataku itu langsung respon. Ada responku langsung jadi kayak merasa mau disakiti. Ay Hubungan kedua yang dijalani responden NV kembali mengalami insiden dimana responden hamil di luar nikah oleh pria yang dikenalkan ibunya. Responden menikah di usia muda, saat itu responden berusia 17 tahun dan masih bersekolah di bangku SMA. Kejadian tersebut cukup sulit dijalani responden NV. Pada akhirnya responden NV dan pasangannya memutuskan untuk menikah saat itu sebagai jalan keluar. Namun, secara perempuan yang hamil di luar nikah merupakan suatu hal yang negatif. Berdasarkan pada penilaian negatif tersebut. Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 133-144 juga berlaku pada lingkungan keluarga pasangan responden NV. Diuraikan dalam kutipan berikut : Ndamau, berusaha ndamau. tapi mama ku mau obati toh traumaku jadi dikasih kenalka lagi sama cowok. ternyata ada insiden dan lebih parah lagi heh jadi dia bawa kita pergi keluar terus dia ajak kita minum-minum Aa. pada saat itu saya dikasih minum, saya anumi saya nda sadarmi. ternyata saya sudah melakukan sesuatu yang nda bagus sampai saya hamil dan disitu saya menikah muda. Akibat dari pandangan negatif yang diterima oleh responden NV dari keluarga pasangannya membuat responden NV sakit hati dan kecewa. Responden NV memilih untuk bercerai beberapa saat setelah sah dinyatakan sebagai pasangan suami istri. Responden NV merasa rasa sakit hati dan dendam akan perlakuan yang diterimanya dari keluarga pasangannya pada saat itu. Diuraikan dalam kutipan berikut : Ausekali harga diriku kalau sampai dikasih ka tuduhan seperti itu, jadi saya sakit hati. apalagi saya tahu hubungan didasari seperti itu pasti tidak panjang, pasti akan bercerai. Niat ku memang untuk balas dendam, balas dendam dan saya langsung karena dia rendahkanka toh? Jadi saya juga rendahkan dia di depan umum di hari pernikahanku saya ceraikanAy Pernyataan tersebut di dukung dengan uraian dalam kutipan significant other sebagai Aucuman itu hari kayak begitumi kayak kebablasanki kayak kan mabokki itu hari toh kayak masih pacaranki ini mabok terus kebablasan. akhirnya ternyata ini temanku kayak berapa bulan sudah putus baru natau kalau hamilki Nah pasnya mi ini mamanya mantan. mauji tanggung jawab, dibikinkan acara, apa tapi sakitmi hatinya ini temanku karena dia bilang ini mamanya mantan suaminya toh kayak maksudnya kayak formalitasji ini pernikahan, jadi sakit hatinya kayak sudahmi akhirnya menikahki satu hari ji sudah itu cerai mi, kayak lucu juga iya. ya ndataumi mungkin itumi menurutnya bisa kasih keluarganya pasangannya, kayak pasnyaji sudah sah sudahmi kayak ceraimiAy Pengaruh Lingkungan Pertemanan Insiden yang dialami responden NV juga Responden NV mengalami kekecewaan terhadap teman sebayanya pada saat itu. Responden NV merasa tidak tidak nyaman dengan sikap teman-temannya. Kekecewaan yang dirasakan responden NV dikarenakan teman-temannya melakukan intimidasi terhadap responden dengan menyebarkan rahasia responden NV pada saat itu. Lingkungan pertemanannya saat itu membuat responden NV menjadi sulit untuk mempercayai orang lain. Hal tersebut memberikan dampak terhadap kehidupan responden NV. Responden NV merasa tidak memiliki kepercayaan dalam lingkungan pertemanan, hingga akhirnya menjadi selektif dalam memilih teman. Diuraikan dalam kutipan berikut : Au. Kalau hubunganku sama temantemanku, punyaka teman tapi selaluka kayak kecewa begitue. Sering. yaa di kecewakan paling sering itu sama temanku kayak kenakalankenakalan dibikin, terus itukan itu privasi rahasia, di bongkar sama teman terus kayak diinjak-injak sama teman sendiri, yang harusnya selaluki sama-sama saling menjaga tapi malah dia yang hancurkanki, jadi sudah ndak adami. Ay Kutipan dari significant other sebagai Audia itu kayak nda terlalu sukaki berinteraksi dengan banyak orang, jadi kayak temannya itu toh kayak ituituji. karena susahki aa. terbuka sama karena susahki aa. sama orang toh, maksudnya kayak anuji, teman-teman yang khusus Ay Bisnis Prostitusi Responden NV memiliki peran penting dalam bisnis prostitusi. Responden NV bertugas sebagai perantara dan mengontrol para gigolo dalam menjalankan pekerjaan Responden NV menjalani Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 133-144 pekerjaan dengan cara menjembatani klien kepada para gigolo. Responden NV merasa kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang menguntungkan semua pihak baik klien, para gigolo, maupun responden NV. Dalam hal ini, responden NV sebagai penyalur dan yang mengatur aktivitas prostitusi tersebut. Diuraikan dalam kutipan berikut : AuKarena uang toh kayak menurutnya gampang. Itu uang karena kan dia itumi kembali ke keluarganya karena dia anak pertama baru lima ki bersaudara, mamanya juga kayak apaji kerja-kerja sedikitji gajinya baru ndada bapaknya baru itu yang bikinki juga mau kerja begini karena itu bapaknya pergi tinggalkan utang nah terus itu kayak ada rentenir besar bunganya baru di tagih ki begitue jadi kayak disitumi pusingki, jadi itumi yang buatki geluti pekerjaan Au Kutipan significant other sebagai berikut : Au. Karena uang toh kayak menurutnya gampang. Itu uang karena kan dia itumi kembali ke keluarganya karena dia anak pertama baru lima ki bersaudara, mamanya juga kayak apaji kerja-kerja sedikitji gajinya baru ndak ada bapaknya, baru itu yang bikinki juga mau kerja begini karena itu bapaknya pergi tinggalkan utang. nah terus itu kayak ada rentenir besar bunganya baru ditagih ki begitue, jadi kayak disitumi pusingki, jadi itumi yang buatki geluti pekerjaan karena paling gampang dapat uang dan paling banyak dapat uangAy Responden NV menjalani kegiatan prostitusi sejak berusia 18 tahun. Responden NV menjalani pekerjaan prostitusi secara tertutup untuk menjaga privasi klien maupun para gigolo yang terlibat dalam bisnis tersebut. Responden NV memilih target yaitu Wanita-wanita paruh baya yang aktif bermedia sosial, seperti Facebook maupun BBM untuk kemudian memulai Tujuannya agar klien tertarik pada para gigolo, karena dengan begitu responden NV dapat memeroleh keuntungan dalam pekerjaan tersebut. Dapat diperhatikan dalam kutipan AuSaya jalankan itu profesi. awalnya itu hanya seru-seruan sama seru-seru 18 itu sudah pintar, 17 itu masih training lah bahasanya, 18 saya sudah pintar mainkan. Tapi aturannya privasi, itu paling di jaga dia punya privasi. jadi mulai saya mencari, mencari-mencari tante-tante itu di usia 18 tahun, sistemku ada berupa sosmed, ada facebook atau seolah-olah. Aykalau misalnya ada yang tertarik sama kayak temanku atau sudah kayak dianggap kayak kakakku pasti sayalah yang jadi jembatannya untuk si perempuan ini ke HeAoem. lagi pula juga itu menurutku sudah kayak jual beli jasa karena kan si perempuan itu si tantetante itu kan mau senang, senang dari Gambar 1. Alur dinamika psikologis yang dialami responden Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 133-144 jembatannya pake Semua saya yang handleAy Alasan Melakukan Pekerjaan Sebagai Muncikari Gigolo Responden NV melakukan pekerjaan sebagai muncikari gigolo dengan beberapa Tujuan responden NV dalam menjalani bisnis prostitusi ialah sebagai sumber materi berupa uang. Responden NV juga merasakan kesenangan pribadi dalam menjalani pekerjaan Jenis pekerjaan yang terbilang mudah merupakan motif responden NV dalam menjalankan pekerjaan sebagai muncikari Responden NV awalnya membantu teman pria untuk berkenalan dengan wanita yang lebih tua. Tujuan dari perkenalan tersebut Responden NV melihat adanya peluang untuk memeroleh keuntungan yang lebih besar. Dalam hal ini responden NV berperan sebagai penyalur dalam berjalannya kegiatan prostitusi tersebut. Melalui kegiatan ini, responden mulai mengamati pekerjaan yang dijalankannya dan merasa bahwa pekerjaan tersebut dapat memberi keuntungan materi bagi dirinya. Diuraikan dalam kutipan berikut : Auawalnya itu dapat untung-untungnya itu kayak dibelikan baju kayak dikasih oleole. nah lama-lama saya belajar kenapa nda dikasih jadikan uang. Kalau kita sudah tahu keuntungannya bagaimana kalau untuk stop apa segala macam, agak susah stop karena jujur, kalau saya masih ada di circle itu saya susah berhenti, apalagi kalau teman-temanku karena begituka, begitu pemikirankuAy Lingkungan pertemanan responden NV dengan para gigolo juga berpengaruh terhadap Responden menyadari bahwa teman-teman yang bertahan di sekitarnya memiliki profesi gigolo. Dapat diperhatikan dalam kutipan berikut: AuKalau di pertemanan memang ada, pernah kan satu kali itu wajarlah pernah ada mereka saling iri. berebut target. jadi saya berusaha lagi perbaiki, caranya saya perbaiki kasih hancur targetnya. Kukasih ketahuan sama suaminya. Ay Responden NV juga merasakan adanya kesenangan pribadi yang ia dapatkan ketika menjalani pekerjaan tersebut. Kepuasan pribadi tersebut diperoleh apabila kliennya mulai bergantung pada para gigolo, terutama apabila klien memiliki status sudah Responden NV senang ketika melihat para klien yang berkeluarga rela mengorbankan keluarganya demi menjalani hubungan dengan para gigolo. Responden tersendiri ketika mampu mengelabui para klien yang mayoritas memiliki pendidikan tinggi, dibandingkan responden NV dan para gigolo yang berstatus putus sekolah. Responden NV merasa bahwa hal tersebut merupakan sebuah konsekuensi yang harus diterima oleh klien agar tidak melakukan hal Responden NV menggambarkan dirinya seperti sebuah penyakit yang diterima oleh klien dari perbuatan prostitusi yang dilakukan dengan tujuan klien mendapatkan trauma dari konflik tersebut. Diuraikan dalam kutipan berikut : Aupaling utama aa. okelah uang tapi kayaknya di lima puluh lima puluh persen lah sama kesenangan. Responden menganggap tidak memiliki larangan dan kesalahan dalam menjalani pekerjaan tersebut, karena ibu dari responden sudah tidak lagi peduli dengan pekerjaan yang dilakukan oleh responden. Kurangnya kontrol orang tua dalam menyikapi masalah dan pekerjaan yang dijalani oleh responden NV. Akibatnya responden NV menyikapi kejadian yang dialami bukanlah suatu kesalahan. Diuraikan dalam kutipan berikut : AuAda, senang. seru apalagi kalau kita bisa mainkan perasaannya orang toh. Kita senang liat orang sakiti dirinya terus dia memohon untuk disembuhkan sama orang yang sakiti dirinya sendiri, ada kesenangan adalah kayak ada lucunya begitue liat orang, kan kita suka kan kita suka dulu di remehkan apa segala macam, tapi di saat posisi begitu kanAy Dampak Terhadap Responden NV Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 133-144 Pengalaman yang dialami oleh responden terutama setelah menjalani profesi muncikari membuat NV menjadi semakin keras secara emosional dan fisik pada diri sendiri. selalu berusaha agar tidak lagi terbawa perasaan ketika menghadapi segala hal. Namun perasaan trauma yang kuat masih membuat NV melukai dirinya secara fisik. Diuraikan dalam kutipan berikut : Ausaya ndak mau. Yang berubah itu, saya kayak lebih ndapunya perasaan sama orang kayak nda peduli begitu walaupun saya tahu ini kayak orangorang yang bermasalah sama saya, rata-rata kan mereka orang punya keluarga, jadi saya kayak betul-betul ndapunya perasaan kayak nda peduli mau rumah tangganya hancurkah mau apakah terserah saya bikin lubang kau masuk berarti kau siap hancur, saya nda begitu jadi saya itu lebih ke nda peduli sama orang. terus, rasa takutku sebelum-sebelumnya mungkin karena terbiasama sama yang menguji adrenalin jadi kayak sekarang sudah kayak hilang, kayak nda punyaka rasa takut apapun ituAy Responden NV sering kali merasa panik, gelisah, dan jadi takut secara tiba-tiba. masih merasa jijik pada tubuhnya sendiri ketika traumanya muncul kembali. Hal tersebut membuat responden NV membanting dan merusak barang-barang serta menyakiti diri sendiri, sampai mencakar bagian tubuhnya Responden NV mengakui bahwa ia kerap kali membayangkan hal-hal buruk yang membuatnya membenci dirinya sendiri hingga ia melukai dirinya. Diuraikan dalam kutipan berikut : kumatki kemarin malam, hampir rusak kulitku,kukira sembuhmi begituku. 1 tahun lebihma kenapa muncul lagi. Panikka jadi takutka, kukasih keluar kucingku, takut nnti kubanting kalau nadekati teruska. Kubenci badanku ituji, makanya kurusak badanku. Terlalu banyak kubayangkan, yang bikin jijik sklika sama badanku, paham mko toh. PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian dapat diketahui bahwa responden NV memiliki latar belakang dengan kondisi keluarga yang kurang harmonis dimana ayah dan ibu responden NV berpisah. Responden NV hidup dengan ibu serta keempat adiknya dan mengalami kesulitan Responden NV juga mengalami kekerasan dalam hubungan berpacaran dimana ia kerap kali mengalami kekerasan secara fisik hingga pada Hubungan selanjutnya yang dijalani responden kembali mengalami situasi sulit, dimana responden NV hamil di luar nikah dengan usia yang masih sangat Kejadian ini mengakibatkan responden NV menikah di usia muda dan memilih bercerai saat itu juga sehingga responden NV menjadi orang tua tunggal dan membesarkan anaknya. Akibat dari tragedi yang dialami responden NV, responden NV sempat memperoleh perlakuan yang kurang baik di lingkungan pertemanannya sehingga responden NV menjadi kecewa. Responden NV merasa trauma akibat kekerasan yang dialami semasa berpacaran. Responden kepercayaan dan tidak mempercayai adanya komitmen NV terhadap orang lain. Akibatnya, responden NV membangun hubugan sosial berdasarkan imbalan atau feedback yang dirasa dapat menguntungkan secara pribadi. Peristiwa tersebut yang mendorong responden NV untuk menjalani pergaulan yang bebas sampai pada aktivitas prostitusi yang secara tidak disengaja dijalankan oleh responden NV. Responden NV melihat dan menilai kegiatan tersebut memiliki keuntungan yang besar. NV menjadikan kegiatan tersebut sebagai suatu pekerjaan yang mampu menghasilkan keuntungan bagi responden NV. Responden NV menjalani kegiatan prostitusi tidak terdaftar atau secara privasi dengan memakai kedok menjalin hubungan melalui sosial media atau secara online untuk mencari hingga memikat para klien. Dalam proses kerjanya, responden NV memiliki tugas untuk mengontrol klien di sosial media dimana kegiatan ini dijalankan oleh responden NV seorang diri. Adapun motif yang mendasari responden NV menjalani pekerjaan sebagai muncikari gigolo ialah untuk memperoleh uang dan kesenangan secara pribadi. Responden NV Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 133-144 juga melihat adanya peluang dalam bisnis prostitusi tersebut sehingga responden mengembangkannya sebagai suatu kerjaan yang dapat menjanjikan keuntungan yang Dampak negatif yang mucul ialah responden NV merasa lebih tua dari usia yang Responden juga mengaku tidak memiliki rasa peduli pada orang, dan mengakui bahwa ia pasrah pada keadaannya. Responden NV juga menyatakan sering kali melukai dirinya sendiri. Widiasari Nuryoto mengemukakan bahwa dinamika psikologis merupakan aspek motivasi dan dorongan yang bersumber dari dalam maupun luar individu. Berdasarkan hal tersebut, dapat mempengaruhi dan membantu mental individu dalam menyesuaikan diri dengan keadaan dan Responden NV seringkali melukai dirinya sendiri. Segala kejadian yang responden NV alami juga membawa responden ke dalam situasi dimana responden merasa pasrah terhadap hidupnya dan pekerjaan yang ia jalani. Meranti . mengemukakan bahwa menjalani pekerjaan sebagai seorang pekerja seks komersial (PSK) ataupun seorang muncikari bukan hanya sekedar mencari Terdapat berbagai faktor hingga mereka menjerumuskan diri pada pekerjaan seseorang terjun ke dunia prostitusi disebabkan beberapa hal, di antaranya ialah ketidakharmonisan dalam kehidupan rumah tangga orang tua dimana ketika tidak lagi merasakan kenyamanan tinggal di rumah bersama orang tua. Persoalan ekonomi juga menjadi salah satu tujuan mereka dalam melakukan kegiatan prostitusi. Fajarwati. Rahayuningsih, dan Murni . mengemukakan bahwa dari hasil penelitiannya diketahui ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dunia prostitusi dan menjadi PSK maupun Faktor permasalahan keluarga, kurangnya perhatian yang diperoleh, salah pergaulan, serta lingkungan yang negatif. Perilaku yang ditunjukkan oleh responden Terdapat beberapa aspek dalam motivasi beberapa diantaranya ialah tujuan tingkah laku, dimana hal ini disebabkan karena setiap pemilihan kegiatan pasti terdapat tujuan yang ingin dicapai, serta afeksi, dimana yang dimaksud ialah perasaan tidak mewakili bagian terpisah dari tingkah laku tetapi satu asumsi dimana perbuatan, persepsi, dan pemikiran berlangsung (Santoso, 2. Fajarwati. Rahayuningsih. Murni penelitiannya mengemukakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dunia prostitusi dan muncikari, dikarenakan salah pergaulan, serta lingkungan yang negatif. Salah satu alasan yang mendasari pemilihan profesi NV juga berasal dari konflik sosial dengan teman-temannya. Devito . mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan konflik intepersonal pada seseorang salah satunya ialah masalah sosial seperti politik dan kebijakan sosial, orang tua, dan nilai-nilai pribadi. Keterbatasan dalam penelitian ini, yaitu dimana topik yang dibahas merupakan suatu hal yang sensitif. Peneliti tidak dapat Termasuk dari significant other lainnya, seperti pihak keluarga yaitu ibu responden, klien responden, dan para gigolo yang menjalankan bisnis prostitusi bersama Saran kepada peneliti selanjutnya untuk lebih mendalami pengambilan data pada responden dengan gambaran kasus serupa. Peneliti selanjutnya juga lebih responsif tentang dinamika yang dialami responden sehingga responden mengetahui cara mengatasi dan lebih terbuka lagi dalam mengungkapkan pengalaman yang dialami KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa motif yang melatarbelakangi responden melakukan bisnis prostitusi sebagai muncikari gigolo, hingga konflik yang dialami responden muncikari gigolo serta dampak terhadap pekerjaan responden sebagai muncikari Responden hidup dalam lingkungan keluarga dimana kedua orang tua responden tidak harmonis dan menyebabkan kesulitan ekonomi serta kurangnya perhatian terhadap Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 133-144 Hubungan berpacaran yang tidak sehat serta lingkungan pertemanan yang negatif menjadi awal responden masuk ke dalam pergaulan yang bebas hingga pada aktivitas prostitusi. Responden menjalani bisnis prostitusi karena pergaulan di lingkungan gym yang membawanya menggeluti pekerjaan tersebut, dimana responden juga melihat keuntungan secara materi berupa uang serta merasakan kesenangan pribadi dalam menjalani bisnis prostitusi tersebut. Responden merasa tidak adanya rasa takut serta rasa peduli pada orang lain terutama ketika menghadapi masalah dengan pihakpihak terkait dengan responden. Responden sering kali melukai dirinya diluar kendalinya. Responden juga merasa pasrah dengan keadaannya serta apa yang ia jalani sebagai suatu pekerjaannya hingga saat ini. Melalui penelitian ini, peneliti berharap agar penelitian ini mampu menjadi sumber informasi dalam menentukan intervensi terkhususnya dalam bidang ketahanan keluarga, dan permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan mental pihak-pihak yang terlibat dengan kegiatan prostitusi, secara Peneliti mengajukan saran bagi peneliti selanjutnya, untuk lebih mendalami pengambilan data pada responden dengan gambaran kasus serupa. Penelitian juga dapat dilakukan dengan mencoba menangkap dinamika orang-orang yang hidup bersama muncikari, mengingat penelitian mengenai muncikari sehubungan dengan konsep psikologis masih sangat terbatas ditemukan di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA