Journal of Applied Multimedia and Networking (JAMN) Vol. No. Juli 2025, pp. e-ISSN: 2548-6853AU Penerapan Metode Pose to Pose dalam Film Animasi 3D Edukasi Nura Sang Cahaya Harapan Muhamad Husni Mubarok*. Fresy Nugroho*. Novrindah Alvi Hasanah* Teknik Informatika. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Article Info Article history: Received Jun 19th, 2025 Revised Jul 10th, 2025 Accepted Jul 21st, 2025 Keyword: 3 D animation Pose to pose ChildrenAos education Software Blender Islamic story ABSTRACT This research aims to develop an educational 3D animation film titled AuNura the Light of HopeAy by applying the Pose to Pose method as the main technique in character animation. The story focuses on the main character. Nura, a humble old lamp, which teaches moral values such as gratitude, humility, and the importance of appreciating differences. The animation production process is divided into three main stages, namely pre-production . cript writing, character design, and storyboar. , production . odeling, texturing, rigging, animating, renderin. , and post-production . inal rendering, dubbing, and editin. The results obtained show that the use of the Pose to Pose method is able to create expressive character movements and in accordance with the emotions of the story, thus supporting the delivery of educational messages effectively to children aged 7-12 years. This movie is expected to be an alternative learning media that is interesting and meaningful in the context of children's education in the digital era. Corresponding Author: Muhamad Husni Mubarok. Jurusan Teknik Informatika. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Jl. Gajayana No. Dinoyo. Kec. Lowokwaru. Kota Malang. Jawa Timur 65144. Email: 230605110013@student. uin-malang. id, fresy@ti. uin-malang. id, novrindah@ti. uin-malang. INTRODUCTION Animasi 3D telah berkembang menjadi salah satu medium komunikasi visual yang paling efektif dalam era digital saat ini. Teknologi animasi 3D tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga sebagai alat edukasi yang powerful untuk menyampaikan berbagai pesan pembelajaran. Dalam konteks pendidikan, animasi 3D memiliki kemampuan unik untuk menggabungkan elemen visual, audio, dan naratif yang dapat meningkatkan daya serap dan pemahaman audiens, khususnya anak-anak. Perkembangan industri animasi 3D di Indonesia menunjukkan tren yang positif, namun masih terdapat tantangan dalam menghasilkan konten animasi edukasi berkualitas tinggi yang dapat bersaing di pasar global(Nopriyanti, 2. Salah satu aspek krusial dalam produksi animasi 3D adalah pemilihan metode animasi yang tepat untuk menghasilkan gerakan karakter yang natural dan ekspresif(Ainiyah et , 2. Metode Pose to Pose merupakan salah satu teknik fundamental dalam animasi yang pertama kali diperkenalkan oleh Disney Studios. Metode ini bekerja dengan cara menentukan pose-pose kunci . terlebih dahulu, kemudian menciptakan gerakan transisi di antara pose-pose tersebut. Keunggulan metode ini terletak pada kontrol yang lebih baik terhadap timing, spacing, dan ekspresi karakter dibandingkan dengan metode straight-ahead animation(Putra & Panindias, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan film animasi 3D edukasi berjudul "Nura Sang Cahaya Harapan" dengan menerapkan metode Pose to Pose(Islam et al. , 2. Film ini dirancang untuk menyampaikan pesan edukasi tentang pentingnya pendidikan, persahabatan, dan nilai-nilai moral kepada anak-anak usia 7-12 tahun(Printi Ardi & Aristalia Hartini, 2. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan industri animasi edukasi di Indonesia serta memberikan alternatif media pembelajaran yang menarik dan efektif(Mulyani, 2. http://jurnal. id/index. php/JAMN JAMNAU e-ISSN: 2548-6853AU RESEARCH METHOD Dalam pembuatan animasi, terdapat beberapa tahapan yang mempengaruhi kualitas dan jalannya animasi. Tahapan-tahapan ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi(Panjaitan & Rachman, 2. Pada tahap pra-produksi, animator mempersiapkan pengembangan ide cerita berdasarkan film animasi yang akan dibuat(Imroatus Tsaany Maghfira et al. , 2. Tahap ini meliputi penulisan skenario dan pengembangan konsep animasi yang membantu dalam menciptakan unsur-unsur film animasi seperti karakter, lingkungan, dan properti(Hanifah et al. , 2. Animator juga perlu menyiapkan desain cerita dan storyboard untuk digunakan dalam software animasi seperti Blender. Setelah tahap pra-produksi selesai, tahap berikutnya adalah produksi. Tahap produksi merupakan proses yang paling memakan waktu dalam pembuatan animasi(Prayuda & Khairani, 2. Proses ini mencakup beberapa langkah, yaitu modeling . embentukan objek animas. , pemberian material atau warna, rigging . emberian tulang pada objek. , animating rendering . enggerakan obje. Tahap terakhir adalah pasca-produksi Pada tahap ini, semua scene animasi yang telah dibuat digabungkan menjadi satu dan dipoles untuk menghasilkan animasi yang menarik dan berkualitas tinggi(Rahayu & Syafrizal, 2. Gambar 1. Tahap-tahap pembuatan animasi 1AU Pra Produksi 1AU Penulisan Script Pada tahap ini, skenario dari cerita disusun, biasanya dalam bentuk dokumen tertulis. Meskipun ini adalah tahap awal dari kebanyakan pembuatan animasi. Langkah ini mungkin saja dilewati oleh pembuat animasi karena pembuat animasi dapat memvisualisasikan cerita dengan lebih mudah jika langsung masuk ke tahap pembuatan storyboard. 2AU Character Design Pada tahap ini, di-ilustrasikan konsep karakter dengan segala sifatnya. Maksud dari hal tersebut adalah seperti sifat apakah karakter tersebut pemarah ataupun pemurung, besar ataupun kecil, dan jahat ataupun baik. 3AU Storyboard Setelah naskah jadi dan karakter tokoh ditentukan, maka selanjutnya adalah membuat storyboard. Naskah merupakan cerita atau narasi yang masih abstrak, sedangkan storyboard merupakan rancangan visualnya. Storyboard memberi gambaran bagaimana sebuah cerita akan berjalan dan mudah dipahami(Sauri, 2. Penerapan Metode Pose to Pose dalam Film Animasi 3D Edukasi Nura Sang Cahaya Harapan (Mubaro. e-ISSN: 2548-6853 2AU Produksi Modelling AU Modelling adalah membentuk suatu benda atau objek, dimana objek yang diciptakan akan dituangkan dalam bentuk visual nyata, baik secara bentuk, tekstur, dan ukuran objeknya. Modelling juga merupakan sebuah teknik untuk memproduksi representasi digital dari suatu objek(Lingga et al. , 2. Texturing Dalam proses texturing, properti warna dan detil permukaan dipasangkan pada model yang telah dibuat. Texturing dilakukan untuk membuat model yang telah dirancang dan dibuat sebelumnya untuk tampak lebih nyata(Ula, 2. 3AU Rigging Rigging adalah pemberian satu set control pada karakter yang akan membuat karakter tersebut mudah untuk bernyawa. Kontrol tersebut dapat berupa sambungan, pegangan datau bahkan jendela pemilihan karakter yang terpisah(Rahayu & Syafrizal, 2. 4AU Animating Dalam tahap ini, pergerakan dari objek akan dibuat. Pergerakan-pergerakan objek tersebut juga disesuaikan dengan script dan storyboard yang telah dibuat sebelumnya. Pengambilan gambar juga diambil pada tahap ini beberapa kali untuk mengatur pergerakan kamera pada saat objek bergerak(Waeo et al. , 2. 5AU Rendering Rendering adalah proses untuk membuat gambar menjadi nyata atau bisa bergerak dengan baik. Adegan-adegan yang terdiri dari tekstur, geometri, sudut pandang, pencahayaan, akan melewati program rendering untuk diproses dan akan menghasilkan sebuah gambar digital. 3AU Pasca Produksi Pada tahap ini, finishing dilakukan terhadap animasi 3D yang telah dibuat. Finishing tersebut mencakup berbagai hal(Pokhrel, 2. Contohnya seperti final rendering, dubbing dan editing(Lestari et al. , 2. Final rendering dilakukan untuk menghasilkan video animasi 3 dimensi secara keseluruhan dengan format Dubbing dilakukan dengan cara merekam suara dengan membaca script yang ada dan mencocokkannya dengan video animasi(Rachman & Nadiyati, 2. Editing dilakukan untuk memperbagus atau membuat video animasi menjadi lebih nyata lagi, editing yang dilakukan seperti menambah efek, melakukan compositing / menyatukan video animasi dengan suara dari dubbing, masking dan juga grading(Afif, 2. RESULTS AND ANALYSIS ( AU Pembuatan animasi AuNura Sang Cahaya HarapanAy merupakan bentuk implementasi dari animasi 3D bertema islami dengan menggunakan metode Pose to Pose, yang juga digunakan pada jurnal referensi(Najwa Mazaya et al. , 2. Proyek ini menekankan nilai syukur, kesederhanaan, dan kerendahan hati, yang dikemas dalam alur cerita sederhana namun sarat makna. Proses pengembangan dilakukan melalui tiga tahap utama, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi, sebagaimana tahapan dalam jurnal(Runtukahu et , 2. 1AU Tahap Pra Produksi Pada Tahap pra produksi, penulis atau tim produksi melakukan persiapan untuk menghasilkan karya dengan mengumpulkan data awal yang akan menjadi pedoman dalam tahap produksi. Tahap ini dilakukan sebelum tahap produksi pada aplikasi blender(Hadi, 2. 1AU Ide Cerita JAMN Vol. No. Juli 2025: 32 Ae 38 JAMNAU e-ISSN: 2548-6853AU Naskah cerita disusun dengan struktur naratif yang kuat. Cerita diawali dari latar suasana perpustakaan, memperkenalkan tokoh utama Nura, lampu tua yang sederhana dan sering Konflik muncul saat terjadi pemadaman listrik, dan Nura menjadi satu-satunya cahaya yang mampu menerangi mushaf Al-QurAoan(Ismail, 2. Cerita ditutup dengan transformasi sikap dari lampu-lampu modern dan pengakuan mereka terhadap nilai dan peran Nura. Pesan moral tentang bersyukur, kerendahan hati, dan saling menghargai menjadi fokus utama(Hamsyah, 2. Gambar 2. Naskah Ide cerita 2AU Storyboard Storyboard dibuat untuk menggambarkan alur cerita per scene, dimulai dari suasana perpustakaan yang damai, ejekan terhadap Nura, listrik padam. Nura menyala dan menerangi mushaf, hingga lampu-lampu modern menyadari kesalahan dan saling menghargai(Saraswati et al. , 2. Visualisasi storyboard membantu merancang gerakan dan emosi karakter sesuai skenario(Afridzal et al. , 2. Gambar 3. Story Board animasi 2AU Tahap Produksi Pada tahap ini proses seluruhnya mulai dikerjakan. Selama tahap produksi akan lebih berfokus pada Penerapan Metode Pose to Pose dalam Film Animasi 3D Edukasi Nura Sang Cahaya Harapan (Mubaro. e-ISSN: 2548-6853 aplikasi 3D blender dan website mixamo untuk animating dan rigging. 1AU Modelling Pada bagian ini, beberapa modelling untuk asset-aset dan karakter yang diperlukan dilakukan. Modelling ini dilakukan untuk membentuk objek menjadi apa yang diinginkan. Beberapa model yang dibuat adalah sebagai berikut. Gambar 4. Modeling lampu modernAU Gambar 5. Modeling pemilik perpustakaan 2AU Texturing Setelah model objek dibuat, pewarnaan secara detil dilakukan agar model objek yang telah dibuat tersebut dapat terlihat lebih nyata. Gambar 6. Texturing lampu modernAU Gambar 7. Texturing NuraAU Rigging Rigging dilakukan agar model karakter yang telah dibuat memiliki set control yang dapat membuat karakter tersebut menjadi lebih bernyawa . apat menggerakkan tangan / kaki dll. )(Rahayu & Syafrizal. Gambar 9. Rigging pemilik perpustakaan 4AU Animating Dalam tahap ini, pergerakan-pergerakan dari objek yang dibuat dijalankan sesuai apa yang telah direncanakan dalam script dan storyboard. Karena metode yang digunakan untuk membuat film animasi adalah metode pose to pose, tidak lupa untuk meletakkan keypose dari setiap gerakan karakter. JAMN Vol. No. Juli 2025: 32 Ae 38 JAMNAU e-ISSN: 2548-6853AU Gambar 10. Animating Nura Rendering Setelah animating dilakukan, rendering-pun dapat dimulai untuk menciptakan adeganadegan yang Gambar 11. Rendering isi perpustakaan 4AU CONCLUSION Penerapan metode Pose to Pose dalam pembuatan film animasi 3D edukasi "Nura Sang Cahaya Harapan" terbukti efektif dalam menghasilkan gerakan karakter yang natural dan ekspresif. Metode ini memberikan kontrol yang baik terhadap timing dan ekspresi, sehingga mendukung penyampaian pesan moral secara lebih kuat kepada audiens anak-anak. Proses produksi yang terdiri dari tahap pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi berjalan secara sistematis dan saling mendukung dalam menghasilkan karya animasi yang komunikatif dan bernilai Dengan visualisasi cerita yang kuat dan pendekatan artistik yang tepat, animasi ini tidak hanya berhasil menyampaikan nilai-nilai seperti syukur, kerendahan hati, dan kebersamaan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dijadikan media pembelajaran alternatif yang menarik di bidang pendidikan anak. Ke depannya, pengembangan animasi edukatif serupa dengan tema dan teknik yang berbeda dapat menjadi peluang inovatif dalam dunia pendidikan digital di Indonesia. REFERENCES