Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 ARTICLE HISTORY: Received: 2025-01-18. Revised: 2025-04-24. Accepted: 2025-11-20. https://doi. org/10. 37729/jpse. Pendidikan demokrasi dan Islam: membangun generasi inklusif dan toleran ditengah tantangan global Nasrudin1,*. Hermawan2 Universitas Muhammadiyah Purworejo1,2 Email avicenanasrudin@gmail. ABSTRAK Penelitian ini membahas potensi mensinergikan demokrasi dan Islam dapat bekerja sama untuk membangun generasi yang inklusif dan toleran di tengah tantangan global. Metode utama yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Metode ini melibatkan tinjauan literatur yang digunakan untuk menilai literatur yang membahas bagaimana nilai-nilai Islam, seperti keadilan dan musyawarah, dan nilai-nilai demokrasi, seperti kebebasan berpendapat dan kesetaraan, dapat bersatu dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan ini mendorong meningkatnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran serta memperkuat sikap toleransi budaya di kalangan peserta didik. Siswa cenderung lebih aktif menyampaikan pendapat, terlibat dalam diskusi, dan menunjukkan sikap terbuka terhadap perbedaan latar belakang sosial, budaya, dan pandangan keagamaan. Penelitian ini juga mengungkap adanya tantangan dalam implementasi, khususnya terkait dengan kesiapan guru dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran. Sebagian guru, terutama yang tidak berlatar belakang teknologi informasi, masih mengalami keterbatasan dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses Selain itu, keterlibatan guru dalam membangun kolaborasi dengan masyarakat belum sepenuhnya optimal, sehingga memerlukan penguatan peran dan dukungan Dengan menunjukkan bahwa pendekatan holistik yang didasarkan pada nilai Islam dan demokrasi dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan mengembangkan karakter siswa, penelitian ini memberikan kontribusi penting. Rekomendasi penting termasuk pengembangan kurikulum yang didasarkan pada nilai, pelatihan guru untuk menghadapi era digital, dan kolaborasi masyarakat dalam pengelolaan pendidikan. Hasil ini memberi kita kerangka strategis yang berguna untuk menghadapi tantangan global dan membangun generasi yang ramah, toleran, dan adaptif. Penelitian ini unik karena menggunakan pendekatan multidisipliner yang menggabungkan demokrasi sebagai nilai utama dengan Islam. Penelitian ini unik karena menggunakan pendekatan multidisipliner yang menggabungkan demokrasi sebagai nilai utama dengan Islam. Kata Kunci: Demokrasi. Islam, inklusif, toleransi, holistic PENDAHULUAN Setara Institute memaparkan laporan bahwa terjadi peningkatan kasus pelanggaran kebebasan beragama pada tahun 2022, terdapat gangguan terhadap 50 rumah ibadah dengan 175 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (Apipah. , & Sumitro, 2. Kasus intoleransi juga terjadi di Tolikara JPSE: Pendidikan demokrasi dan Islam . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor: 2, 2025 pada tahun 2015, dimana terjadi pembakaran tempat ibadah, fenomena tersebut terjadi karena munculnya kesalah pahaman yang disebabkan oleh perbedaan dalam bentuk budaya, politik, maupun egosentrisme atas nama agama dan golongan (Patawari. Mery, . Hamid. , & Khoyoga, 2. Egosentrisme agama telah menyebabkan sikap intoleransi dan radikalisme sehingga memicu konflik hubungan sosial masyarakat Indonesia (Kurniawan. Wilsen. Valencia. , & Azizah, 2. Tren radikalisme dan intoleransi telah terinfiltrasi ke segala golongan masyarakat Indonesia, tidak terkecuali pada generasi muda (Hidayatulloh. , & Armansyah, 2. Pinsip-prinsip demokrasi ini sejalan dengan prinsip-prinsip Islam seperti musyawarah, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia (Turham AG. Ayat 38 QS. Ash-Shura menyatakan bahwa Au. dan urusan mereka . dengan musyawarah di antara mereka. Ay, menunjukkan betapa pentingnya partisipasi kolektif dalam pengambilan keputusan. Dalam surah Al-Hujurat ayat 13. Allah mengatakan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, bukan untuk merendahkan satu sama lain, sehingga setiap orang memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Hadits Nabi SAW, "Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri" (HR. Bukhari-Musli. , menegaskan bahwa kita harus menghormati Pendidikan Islam dan demokrasi sangat penting untuk menciptakan generasi yang inklusif dan toleran di tengah tantangan yang dihadapi oleh dunia. Demokrasi pendidikan, yang mengutamakan kebebasan berbicara dan perlakuan adil, telah terbukti meningkatkan kualitas pendidikan di berbagai jenjang. Sebagai contoh Khuzaimah dan Pribadi (Khuzaimah, 2. pendidikan di sekolah dasar berhasil meningkatkan partisipasi siswa hingga 45%. Mereka mengubah diri mereka dari objek menjadi orang yang terlibat dalam proses belajar. Meskipun prinsip-prinsip demokrasi seperti kebebasan berpendapat, keadilan, dan musyawarah sangat sesuai dengan prinsip Islam . eperti pandangan Al Rasyidi. (Cintya et al. , 2. praktik pendidikan di Indonesia kurang ideal. Banyak sekolah, terutama sekolah umum, belum memasukkan prinsipprinsip demokrasi secara sistematis ke dalam kurikulum mereka. Akibatnya, siswa sering JPSE: Pendidikan demokrasi dan Islam . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 dianggap hanya sebagai objek dan tidak terlibat secara aktif dalam pendidikan. Hal ini diperkuat oleh hasil bahwa penerapan prinsip demokrasi dalam pendidikan di sekolah seringkali hanya bersifat teoretis dan tidak efektif dalam meningkatkan partisipasi siswa (Fadhilah Az Zahra, 2. Selain itu, pendidik menghadapi banyak tantangan saat mengintegrasikan prinsip-prinsip pendidikan Islam ke dalam konteks global dan multikultural. Beberapa contohnya termasuk pemahaman yang buruk tentang nilai-nilai Islam, dualisme sistem pendidikan . gama vs. , dan dan kurangnya dukungan struktural dari kebijakan (Kurahman & Rusmana, 2. : Karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, kegagalan untuk menyesuaikan demokrasi dan Islam dalam pendidikan menyebabkan perbedaan antara nilai-nilai yang mungkin memungkinkan inklusi dan toleransi dengan realitas sosial-pendidikan. Akibatnya, hal ini menghambat pertumbuhan generasi yang benar-benar demokratis dan religius. Penelitian sebelumnya telah menekankan betapa pentingnya pendidikan berbasis demokrasi dan Islam untuk menghasilkan generasi yang mampu beradaptasi dan toleran terhadap tantangan dunia. Rosyad (Rosyad. Ali Miftakhu, 2. menemukan bahwa 78% siswa yang belajar di sekolah Islam lebih toleran terhadap perbedaan agama dan budaya. Selain itu, (P. Dianti. S Waluyati, 2. menunjukkan bahwa buku ajar berbasis nilai berhasil meningkatkan sikap demokratis siswa melalui diskusi dan diskusi. Intervensi tersebut meningkatkan rata-rata nilai sikap demokratis siswa dari 5,3 menjadi 7,2. Banyak penelitian belum menggabungkan prinsip-prinsip Islam dan demokrasi secara menyeluruh untuk membangun generasi yang ramah, toleran, dan responsif terhadap tantangan dunia. Banyak penelitian yang membahas pendidikan demokrasi dan Islam secara terpisah, tetapi masih sedikit penelitian yang menggabungkan kedua pendekatan ini dalam kerangka yang lebih luas. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ilyasir pada tahun 2019 menunjukkan bahwa transformasi pendidikan demokratis untuk memenuhi tuntutan Revolusi Industri 4. 0 masih jauh dari mungkin, karena hanya 40% guru non-TIK yang merasa siap menghadapi perkembangan teknologi dalam pendidikan. Selain itu, kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pendidikan. Menurut (Teguh JPSE: Pendidikan demokrasi dan Islam . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor: 2, 2025 Sihono, 2. , hanya 62% orang tua yang terlibat dalam musyawarah sekolah, meskipun keterlibatan masyarakat sangat penting untuk membangun siswa yang kritis dan bertanggung jawab. Survei yang dilakukan PPIM UIN Jakarta menemukan bahwa 30,16% mahasiswa Indonesia memiliki sikap rendah atau sangat rendah terhadap toleransi beragama (Jakarta, 2. Selain itu. Apipah juga memaparkan hasil penelitiannya bahwa (Patawari. Mery. Hamid. , & Khoyoga, 2. 70% mahasiswa Indonesia memiliki tingkat persepsi mengenai toleransi yang rendah (Apipah. , & Sumitro, 2. Temuan dalam penelitian lain juga menjelaskan bahwa 57% aktivis mahasiswa paham terkait konsep moderasi beragama namun masih terdapat 43% yang belum memahami konsep terkait moderasi beragama (Rijal. Nasir. , & Rahman, 2. Pendidikan demokrasi dan Islam belum sepenuhnya terintegrasi dalam membangun generasi yang inklusif dan toleran, terutama di tengah tantangan global seperti radikalisme, kesenjangan sosial, dan kemajuan teknologi. Kurangnya kesiapan pendidik dalam mengadopsi teknologi informasi (Fiska Ilyasir, 2. ) serta minimnya penerapan pendekatan berbasis nilai secara luas (P. Dianti. S Waluyati, 2. ) memperparah kesenjangan ini. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam pendidikan, yang seharusnya sangat penting, hanya 62% (Teguh Sihono, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. Metode ini digunakan untuk menganalisis konsep pendidikan demokrasi dan nilai-nilai Islam, serta potensinya dalam membangun generasi yang inklusif dan toleran. Pendekatan ini sesuai dengan panduan penelitian kualitatif yang menekankan pada eksplorasi mendalam terhadap konsep melalui data yang diperoleh dari berbagai sumber (Moleong, 2. Data sekunder berasal dari laporan penelitian sebelumnya, artikel jurnal ilmiah, dan bahan akademik terkait lainnya. Data primer berasal dari dokumen kebijakan, buku, dan artikel ilmiah. Seperti yang disarankan oleh penelitian berbasis pustaka, sumbersumber ini dipilih berdasarkan relevansinya dengan topik penelitian (Patton, 2. JPSE: Pendidikan demokrasi dan Islam . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 Untuk mendapatkan data, kata kunci yang relevan dicari di basis data akademik, buku penelitian, dan dokumen resmi. Selanjutnya, data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan Tujuan analisis ini adalah untuk menemukan fenomena dan mengintegrasikan prinsip-prinsip Islam dan demokrasi. Menurut (Yin, 2. , prosedur ini sejalan dengan pendekatan analisis deskriptif-analitik yang digunakan dalam penelitian kualitatif. Untuk memastikan konsistensi dan akurasi hasil penelitian, validasi data dilakukan melalui triangulasi sumber. Seperti yang disarankan oleh (Yin, 2. , langkah ini diambil untuk meningkatkan kredibilitas dan keabsahan temuan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Integrasi Nilai Demokrasi dan Islam Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip Islam dan nilai-nilai demokrasi selaras secara signifikan. Dalam Islam, prinsip keadilan (Aoad. , yang menjadi landasan setiap aspek kehidupan sosial dan politik, dan prinsip demokrasi seperti kebebasan berpendapat, kesetaraan, dan partisipasi aktif, memiliki hubungan yang kuat dengan prinsip demokrasi seperti kebebasan berpendapat, kesetaraan, dan partisipasi. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai demokrasi dalam masyarakat Muslim tidak bertentangan dengan keyakinan agama mereka. itu dapat memperkuat praktik sosial yang berkeadilan dan berpartisipasi. Oleh karena itu, perspektif Islam melihat demokrasi sebagai nilai universal yang sejalan dengan prinsip Islam tentang keadilan, tanggung jawab sosial, dan penghormatan hak asasi manusia, bukan hanya ide Barat. Beberapa penelitian menunjukan, penerapan demokrasi dalam pendidikan Islam benar-benar menghasilkan peningkatan partisipasi siswa, penguatan prinsip keadilan, dan pembentukan lingkungan belajar yang inklusif. Misalnya, penelitian oleh (Nurhasanah et al. , n. ) menemukan bahwa menerapkan prinsip-prinsip demokrasi seperti keadilan, kesetaraan, dan pengakuan terhadap keragaman dalam sistem pendidikan Islam dapat menghasilkan sistem pendidikan yang lebih berpartisipasi dan Hasil serupa juga disampaikan oleh (Anistianingsih et al, 2. yang menyatakan JPSE: Pendidikan demokrasi dan Islam . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor: 2, 2025 bahwa prinsip musyawarah . , ijtihad, dan musawwah . adalah representasi nyata dari demokrasi dalam pendidikan Islam. Penelitian lain (D. Rahmadani, 2. menunjukan penerapan prinsip multikulturalisme dan demokrasi di pesantren dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan partisipasi siswa dalam proses belajar. Selain itu, penelitian (Toha, 2. menemukan bahwa 65% siswa di sekolah Islam merasa memiliki kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka melalui musyawarah. Namun, institusi yang lebih konservatif menghadapi masalah. Dalam konteks yang lebih luas, penelitian (A. Maulana et al, 2. menunjukkan bahwa menggabungkan pendidikan Islam dengan prinsip demokrasi dapat meningkatkan partisipasi sipil dan menumbuhkan masyarakat yang inklusif dan etis. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa menerapkan demokrasi dalam pendidikan Islam tidak hanya meningkatkan partisipasi siswa, tetapi juga memperkuat prinsip keadilan, kesetaraan, dan tanggung jawab sosial dalam Keterkaitan dengan Generasi Inklusif dan Toleran Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa integrasi pendidikan demokrasi dan Islam membantu membangun generasi yang inklusif dan toleran terhadap perbedaan agama dan budaya. (Rosyad. Ali Miftakhu, 2. menemukan bahwa 78% siswa sekolah Islam dan demokrasi lebih toleran terhadap keberagaman. Hasilnya menunjukkan bahwa metode yang menggabungkan prinsip-prinsip ini efektif dalam membangun orang yang menghargai keberagaman. Pendidikan demokrasi yang diintegrasikan dengan prinsip-prinsip Islam telah menjadi pendekatan yang berhasil untuk menghasilkan generasi yang inklusif dan Pendekatan ini tidak hanya memberikan ajaran agama kepada sekolah Islam modern tetapi juga menanamkan nilai-nilai seperti partisipasi, musyawarah, dan penghargaan terhadap perbedaan. Misalnya, penelitian yang dilakukan di Baitusalam Islamic School di Yogyakarta menemukan bahwa pembelajaran "ilmu sosial profetik" menggabungkan prinsip Islam dengan proses demokratis dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan. Metode ini mendorong pemikiran kritis dan JPSE: Pendidikan demokrasi dan Islam . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 partisipasi aktif siswa. Akibatnya, semangat sosial dan kebersamaan akan diperkuat (Wulandari et al. , 2. Selain itu, diusulkan agar pendidikan agama Islam dirancang dengan landasan multikultural dan demokratis sebagai solusi bagi tantangan identitas generasi muda di era kontemporer. Menurut Rahmatullah. Shobahiya, dan Aryani . , model pembelajaran demokratis PAI (Pendidikan Agama Isla. memungkinkan siswa berpartisipasi secara aktif dalam masalah aktual dan memungkinkan diskusi bebas (Rahmatullah Arif et al, 2. Selain itu, telah ditemukan bahwa pengajaran Islam yang menanamkan prinsip multikulturalisme dan toleransi sangat penting untuk mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. , terutama yang berkaitan dengan perdamaian dan kohesi sosial. Studi oleh Mahmud. Zamroni, dan Ilyas . menemukan bahwa pendidikan Islam dengan model pembelajaran inklusif, yang melibatkan siswa Muslim dan non-Muslim, dapat meningkatkan kohesi sosial dan budaya saling menghormati melalui program pembelajaran terstruktur seperti "Pendidikan Klasik Terintegrasi" dan "Baitul Arqam" (Mahmud & Ilyas, 2. Tantangan dan Peluang dalam Era Revolusi Industri 4. Meskipun ada bukti positif, pengadopsian teknologi oleh guru menghadapi banyak masalah. Hanya 40% guru non-TIK merasa siap menghadapi kemajuan teknologi, menurut (Fiska Ilyasir, 2. tantangan ini menunjukkan bahwa guru harus lebih mahir dalam teknologi agar nilai-nilai demokrasi dan Islam dapat diintegrasikan dengan sukses di era komputer dan internet. Banyak guru, terutama mereka yang tidak terbiasa dengan TIK, menghadapi kesulitan nyata dalam menggunakan teknologi meskipun memiliki potensi untuk meningkatkan pendidikan. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Sukmawati. Alviatin, dan Mubarok . bahwa banyak guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak memiliki kemampuan teknologi yang cukup, tidak memiliki keinginan untuk beradaptasi, dan tidak memiliki cukup fasilitas dan dukungan untuk pelatihan. Game ini menunjukkan bahwa banyak pendidik belum siap secara mental dan teknis JPSE: Pendidikan demokrasi dan Islam . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor: 2, 2025 untuk menghadapi transformasi digital, meskipun teknologi diperlukan untuk mendukung penerapan nilai-nilai demokrasi dan Islam di kelas (A, 2. Di sisi lain , bukan hanya keahlian pribadi guru yang menghadapi masalah, tetapi juga fasilitas dan bantuan institusi. Penelitian yang dilakukan di SMA Hasyim Asy'ari 1 Pucuk menemukan bahwa guru PAI menghadapi kesulitan mengintegrasikan aplikasi Hal ini disebabkan oleh kurangnya perangkat, jaringan internet yang tidak stabil, dan kurangnya pelatihan profesional tentang penggunaan aplikasi pembelajaran (Murdaningtias et al. , 2. Menunjukkan bahwa peralihan pendidikan ke era digital membutuhkan pengeluaran bukan hanya untuk perangkat keras, tetapi juga untuk kebijakan institusional yang memberikan dukungan berkelanjutan dan pengembangan keterampilan guru. Karena teknologi sering menjadi alat utama untuk pembelajaran partisipatif, kolaboratif, dan reflektif di era modern, ketidakmampuan sebagian guru untuk menggunakannya dapat menghambat penerapan prinsip demokrasi dan Islam dalam pembelajaran. Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian dari UIN Sunan Ampel (Al, 2. Sinergi Nilai Demokrasi dan Islam Bersamaan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan musyawarah . , keadilan (Aoad. , dan ukhuwah . , prinsip-prinsip demokrasi seperti kebebasan berpendapat, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak individu. Sinergi ini menunjukkan bahwa demokrasi bukanlah ide baru dalam Islam. sebaliknya, itu selaras dengan nilai-nilai Islam yang menghargai martabat manusia, kebebasan berpikir, dan kewajiban sosial. Dengan menerapkan prinsip-prinsip demokrasi Islam dalam pendidikan, kita dapat membuat lingkungan belajar yang berpartisipasi, adil, dan Melalui musyawarah, siswa dilatih untuk mendengarkan dengan empati, mengemukakan pendapat secara terbuka, dan membuat keputusan berdasarkan pertimbangan kolektif yang berkeadilan. Hal ini tidak hanya meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas, tetapi juga meningkatkan kemampuan mereka untuk berpikir kritis, berargumentasi, dan menjadi lebih toleran terhadap pendapat yang berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan demokratis dalam pendidikan Islam mendorong terciptanya suasana belajar yang dialogis dan egaliter, di mana guru JPSE: Pendidikan demokrasi dan Islam . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 berperan sebagai fasilitator, bukan otoritas Tunggal (Nurhasanah et al. , n. ) Selain itu, prinsip musyawarah terbukti efektif dalam menanamkan nilai tanggung jawab kolektif dan rasa kepemilikan terhadap keputusan bersama, yang berimplikasi pada peningkatan motivasi dan partisipasi siswa (Anistianingsih et al, 2. Penelitian lain juga menegaskan bahwa integrasi nilai-nilai demokrasi dalam pendidikan Islam mampu membentuk karakter peserta didik yang moderat, terbuka, dan menghargai keberagaman, sehingga berperan penting dalam memperkuat budaya damai dan masyarakat madani (A. Maulana et al, 2. Dengan demikian, kolaborasi antara prinsip demokrasi dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan bukan hanya relevan secara normatif, tetapi juga strategis dalam membentuk generasi yang kritis, inklusif, dan berkeadaban sosial tinggi. Implikasi dalam Konteks Pendidikan Integrasi nilai demokrasi dan Islam memberikan kontribusi signifikan pada pembentukan karakter siswa yang bertanggung jawab dan sadar akan hak serta kewajibannya sebagai warga negara. (P. Dianti. S Waluyati, 2. menemukan bahwa buku ajar berbasis nilai meningkatkan sikap demokrasi siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih ramah dan inklusif. Selain itu, metode ini meningkatkan kohesi sosial di lingkungan sekolah, di mana siswa dididik untuk menghargai perbedaan dan bekerja sama dalam keberagaman. Terbukti bahwa integrasi nilai-nilai demokrasi dengan ajaran Islam membantu membangun karakter siswa yang bertanggung jawab, toleran, dan menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Nurhasanah et al. , n. ) pendidikan Islam yang berpusat pada nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan musyawarah dapat membantu siswa menginternalisasikan nilai-nilai demokrasi dalam kelas. Ini akan menghasilkan siswa yang berpikiran kritis dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Hasil ini diperkuat oleh (Anistianingsih et al, 2. ), yang menemukan bahwa prinsip ukhuwah, ijtihad, dan musyawarah dalam pendidikan Islam sangat penting untuk menanamkan sikap demokratis dan rasa tanggung jawab bersama di kalangan siswa. JPSE: Pendidikan demokrasi dan Islam . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor: 2, 2025 Selain itu, penelitian (D. Rahmadani, 2. menemukan bahwa menerapkan prinsip demokrasi multikultural di pesantren dapat meningkatkan kohesi sosial dan mendorong siswa untuk bekerja sama dalam keberagaman. Selain itu, (Toha, 2. menemukan bahwa memberi siswa kesempatan untuk berbicara secara bebas dan menerapkan musyawarah di sekolah Islam meningkatkan rasa tanggung jawab moral dan meningkatkan partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan. Selain itu, menurut (A. Maulana et al, 2. , integrasi nilai-nilai Islam dan demokrasi membantu membangun karakter individu dan membangun masyarakat sipil yang menghargai perbedaan, menjaga keadilan, dan berpartisipasi secara aktif. Dengan demikian, literatur menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip demokrasi dalam pendidikan Islam tidak hanya membuat siswa cerdas dan bermoral, tetapi juga memberi mereka kemampuan berpikir kritis, kesadaran akan tanggung jawab sosial, dan sikap inklusif, yang merupakan dasar untuk membangun masyarakat yang demokratis dan harmonis. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan demokrasi dan Islam dapat diintegrasikan secara efektif untuk menghasilkan generasi yang inklusif dan toleran. Ketika prinsip-prinsip Islam seperti keadilan dan musyawarah dikombinasikan dengan nilai-nilai demokrasi seperti kebebasan berpendapat dan kesetaraan, fondasi yang kokoh diberikan untuk membangun karakter siswa yang mampu menghargai Namun, ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan, seperti pendidik yang tidak mahir dalam teknologi dan kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum berbasis nilai harus dibuat untuk menjamin keberhasilan integrasi ini. Kurikulum ini harus menggabungkan nilai-nilai Islam dan demokrasi, memberikan pelatihan khusus kepada guru untuk meningkatkan keterampilan teknologi mereka, dan menggunakan pendekatan kerja sama yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Dengan mengatasi tantangan tersebut, integrasi pendidikan demokrasi dan Islam dapat menjadi solusi strategis untuk JPSE: Pendidikan demokrasi dan Islam . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 menjawab tantangan dunia dan mempersiapkan generasi yang fleksibel, inklusif, dan toleran untuk masa depan. DAFTAR PUSTAKA