TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER ATAS PERUBAHAN SOSIAL PERSEPEKTIF CULTURAL STUDIES Rizqi Amaliani Universitas Islam Negeri sayyid Ali Rahmatullah Rizqiamaliani78@gmail. ABSTRACT This article explores the dynamics of Wong Tengger to maintain the culture of the supremacy of the Indonesian government and the expansion of Islam. This study took the locus in several villages in the Mount Bromo area such as Ngadas. Ngadisari, and Wonokerto. Probolinggo Regency. By using cultural studies theory and representation theory perspective, this journal collaborates with Wong tenggerAos strategy to represent identity in the midst of social change. The dialectical dynamics that occurred between Tengger and the supremacy resulted in two hypotheses. First, due to the strong tradition and culture of Wong Tengger both with Hindu and Islamic ideologies, it is interpreted as a cultural system that is only attached symbolically. Second, although it is considered syncretic. Islam or Hinduism actually creates Wong TenggerAos word view substantially and culturally. This second view, if considered, is similar to the religious system of the people in Java in general who adhere to the AuJavanese IslamAy religion. The next type of research used in this research is empirical research . through a qualitativeanalytical approach. Furthermore, the researcher wants to reveal in detail and the natural background of the tradition that is still being preserved by Wong Tengger to this day. Keywords: Tengger, culture, representation, strategy and dialectics. Rizqi Amaliani ABSTRAK Artikel ini mengeksplorasi terhadap dinamika Wong Tengger untuk mempertahankan budaya dari supremasi pemerintah Indonesia serta ekspansi Islam. penelitian ini mengambil lokus di beberapa desa yang ada di kawasan Gunung Bromo seperti. Ngadas. Ngadisari, dan Wonokerto. Kabupaten Probolinggo. Dengan menggunakan teori Cultural studies dan perspektif teori representasi, jurnal ini mengkolaborasi strategi Wong tengger mepresentasikan identitas ditengah-tenggah perubahan sosial. Dinamika dialektika yang terjadi diantara Tengger dengan supremasi menghasilkan dua hipotesis. Pertama, akibat kokohnya tradisi dan kebudayaan Wong Tengger baik dengan ideologi Hindu maupun Islam, diartikan sebagai sistem kebudayaan yang hanya melekat secara simbolik. Kedua, meskipun dianggap sinkretis, sebenarnya Islam ataupun Hindu menciptakan word view Wong Tengger secara subtansial dan kultural. Pandangan kedua ini jika diperhatikan maka mirip dengan sistem keagamaan masyarakat di Jawa pada umumnya yang menganut agama Islam AuIslam JawaAy. selanjutnya jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian empiris . melalui pendekatan kualitatif-analitis. Lebih lanjut, peneliti ingin mengungkap secara detail dan berlatar alamiah tradisi yang masih dilestarikan oleh Wong Tengger tersebut hingga saat ini. Kata kunci: Tengger, kebudayaan, representasi, strategi dan dialektika. PENDAHULUAN Wong Tengger merupakan etnis Jawa yang tinggal secara komunal di wilayah Pengunungan Tengger Jawa Timur. 1 Menurut Hefner. Tengger memiliki kekhasan tersendiri diantara masyarakat pegunungan Indonesia hingga di wilayah Asia Tengara. Selain memiliki histori panjang. Tengger dikenal mempunyai konsistensi dalam menjaga nilai-nilai tradisi dan kebudayaan di tengah perubahan zaman. 2 Menurut beberapa Versi. Wong Tengger berasal dari komunitas yang melarikan diri dari Majapahit di akhir kekuasaanya yang takluk akibat supremasi Demak,3 tetapi berdasarkan Nancy J. Smith-Hefner. AuThe Litany of AoThe WorldAos BeginningAo: A Hindu-Javanese Purification Text,Ay Journal of Southeast Asian Studies 21, no. : 287Ae328, https://doi. org/10. S0022463400003258. Hlm. Robert W. Hefner,Ay Geger Tengger Perubahan Sosial Dan Perkelahian PolitikAy, (Yogyakarta: LKIS Yogyakarta, 1. Ali Maksum. AuPolitik Identitas Masyarakat Tengger Dalam Mempertahankan Sistem Kebudayaan Dari Hegemoni Islam Dan Kekuasaan,Ay El-HARAKAH (TERAKREDITASI) 17. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . pendapat lainya entitas Wong Tengger telah menghuni daerah pegunungan Bromo jauh sebelum era Majapahit. Wong Tengger juga mengalami pergulatan panjang atas tradisi dan kebudayaan mereka yang terancam akibat pengaruh dari supremasi Islam. Seperti Demak, dan dinamika Islam di era modern. Di era supremasi Islam Klasik, perluasan Demak ke arah kawasan Pasuruan terus merambah. Bahkan sampai menyentuh kerajaan terakhir Hindu, yakni Blambangan di Banyuwangi. Berdasarkan catatan Hefner, selain Bali, kawasan Tengger merupakan tempat untuk berindung bagi komunitas Hindu dari serangan Demak. 4 Pendapat Hefner tersebut juga dikuatkan oleh Piegeaud dalam upayanya untuk mempertahankan tradisi dan kebudayaan yang ada. Wong Tengger banyak menemui obstruksi dari supremasi islam. Pada masa Indonesia Modern, dengan supremasi otoriternya pemerintah meminta Wong Tegger agar memilih satu diantara lima agama formal yang Agama-agama formal yang di akui sebagaimana halnya Hindu dan Islam menjelma identitas yang paling menonjol di awal masa orde baru. Kepentingan akan agama formal yang dimotori oleh dukun tidak hanya menandakan pentingnya survive saat beradapan dengan negara melalui struktur administrasi. Administrasi mendadak menjadi sangat penting di Tengger, lantaran berkorelasi dengan identitas mereka sendiri sebagai subyek kebudayaan lokal yang menengelami involusi. Ketidakjelasan ketetapan administrasi pemerintah atas identitas Wong Tengger sama saja dengan membunuh semangat untuk hidup pada saat Jika wong Tengger menentang segala prosedur yang telah ditetapkan, maka mereka akan distigma sebagai kelompok yang sesat. Apabila hal itu terjadi, maka sama saja pihak pemerintah ingin memusnahkan kebudayaan yang bergerak secara deterministik dari para leluhur. Menghadapi problem dominasi dan hegemoni tersebut. Wong Tengger sadar dan mengetahui atas praktek hegemoni, oleh sebab itu segala kebudayaan dari luar yang hadir termasuk agama, mereka sambut dengan jalur negosiasi. Dalam rangka mempertahankan dan mempresentasikan identitas tradisi dan kebudayaan yang ada. Wong Tengger terpaksa mengikuti Hindu sebagai 1 . : 18, https://doi. org/10. 18860/el. opcit, hlm,49-55. Theodore G. Th. Pigeaud. Java in The 14th Century a Study in Cultural History, ed. Th. Galestin. The Netherlands Institute, 1962. Hlm, 244. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha Rizqi Amaliani agama mereka dalam rangka mempertahankan dan merepresentasikan identitas tradisi dan kebudayaan yang ada. Kontroversi mengenai Wong Tengger yang apakah sesunguhnya beragama Hindu atau agama lokal Tengger, terus menjadi perdebatan dalam sejarah penelitian. Di samping itu, serangan Islam juga telah mulai memasuki wilayah Tengger, utamanya di daerah rendah sekitar pegunungan Bromo. Terlepas dari hal tersebut, realitas Wong Tengger dengan identitas lokalnya beserta relasi diantara supremasi Islam menjadi fenomena yang mengiurkan untuk dikaji. Wong Tengger juga terbukti piawai dalam membentengi tradisi dan budaya yang ada. Meskipun banyak yang sudah menganut agama Islam. Wong Tengger tetap menjaga kesakralan budaya lokal. Bagaimana sesungguhnya yang berlangsung pada proses dialektika antara Tengger, kekuasaan, dan Islam ini? Bagaimana Strategi yang digunakan Wong Tengger untuk merepresentasikan eksistensi dalam dinamika perubahan dan pengaruh hegemoni Islam dan kekuasaan negara? Berangkat dari pertanyaan diatas peneliti merasa kajian ini menarik untuk dibahas. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian empiris . dengan pendekatan kualitatif-analitis. Sumber data yang dimanfaatkan oleh peneliti adalah actor and place dengan Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi, dan studi Actor yang dianggap kredibel sebagai informan ialah: . ketua dukun paruman, . Dukun pandita, . Tokoh Agama, . kepala desa, . Masyarakat. Sedangkan place dalam penelitian ini dikaji menggunakan observasi, yaitu tentang representasi wong Tengger atas perubahan social dengan berbagai dokumen yang relevan. Teknik analisis data yang digunakan ialah reduction, yaitu keseluruhan data yang didapat akan dipilah sesuai kebutuhan peneliti. KAJIAN TEORI Dalam artikel ini penulis memakai beberapa kajian teori yang dijadikan Namun di pembahasan kali ini penulis hanya menampilkan dua pertama yaitu penelitian Robert Hefner, dengan bukunya yang berjudul Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Buku dengan ketebalan 291 halaman, tahun 1989 menjelaskan bagaimana agama hindu An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . datang di Tengger dan beradaptasi dengan segala tradisi yang ada di Tengger. Dimulai dengan pembahasan sejarah dan identitas, agama dan ritual, ritual desa dan konsep desa, ritual desa dan Islam, tantangan budaya dan pahlawan budaya, jalan hidup dan ritual, dan imam dan iman imam, hingga pada pembahasan Islam dan reformasi Hindu. Kemudian dilanjutkan dengan Penelitian karya Mahmud muslimin yang berjudul mitos dan adat istiadat masyarakat Tengger dalam Agama Trasisional: Potret Kearifan Hidup Mayarakat Samin dan Tengger Yang diterbitkan tahun 2003. Artikel tersebut menjelaskan berbagai mitos-mitos yang ada ditengger mulai dari kepercayaan, ibadah dan upacara-upacara yang dijalankan oleh masyarakat Samin dan Tengger. HASIL PENELITIAN Historisitas Wong Tengger Kawasan Tengger merupakan pegunungan luas yang terletak berdampingan dengan gunung Semeru. secara administra kawasan Tengger berada di 4 kabupaten, yakni Probolinggo. Malang. Pasuruan, dan Lumajang. 6 Kemudian masyarakat yang mendiami Kawasan pengunungan tengger disebut Wong Tengger. Wong Tengger merupakan kelompok sosial yang Tangguh dalam menjaga identitas beserta keutuhan kebudayaanya. Sedangkan masyarakat non Tengger cenderung memahami Wong Tengger sebagai penganut agama Hindu. Padahal kenyataanya mereka baru mengenal Hindu sekitar tahun 1970-an. Sebelumnya, mereka memiki keyakinan independen yang sifatnya khas agama Hindu Budha. Wong Tengger menyebutnya dengan Budo Tengger. Sejak Hindu masuk Indonesia, kawasan Tengger dijuluki sebagai bumi hila-hila . anah suc. penduduk Tengger juga dijuluki sebagai Hulun Spiritual sang hyang widi wasa (Hamba spiritual yang taat pada Tuhan yang maha Es. 7 Hal tersebut dapat diketahui melaui keterangan yang ada pada prasasti-prasasti Tengger. satu diantara prasasti tersebut menunjukan angka 851 saka, selaras dengan tahun 929 M. Isi Prasasti tersebut menjelaskan bahwa di desa Walandit kawasan lereng pergunungan Tengger, merupakan Simanhadi Widyaprakosa. Masyarakat Tengger: Latar Belakang Daerah Taman Nasional Bromo, pertama, vol. 976 (Yogyakarta: Kanisius, 1. Hlm 24. Hefner Smith-Hefner. Nancy J. Robert. Japa Mantra Hindu Kuna Dalam Tradisi Tengger, ed. Boston University (Boston, 1. Hlm. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha Rizqi Amaliani kawasan suci. Berdasarkan keterangan dukun-dukun yang ada di Tengger ditemukan juga Prasasti kedua yang berisi titah Sri Kertanegara terhadap 3 menteri dan patih Angraeni Geni. Bagi penghuni tanah Tengger dibebaskan dari pajak dan punggutan lainnya9. Serta titah untuk merawat bangunan yang bernama pramai suara pura. 10 Dari beberapa prasasti yang ditemukan tersebut sedikitnya telah membuktikan bahwa Tengger sudah ada sebelum Hindu masuk ke Indonesia. Melihat pada keterangan diatas, tersirat ada dua ketentuan yang ada. Pertama penetapan Tengger sebagai kawasan otonom. Kedua pembatasan kawasan Tengger. seandainya Tengger dianggap kawasan otonom, maka praktik agama dan adat yang berjalan saat itu diluar kontrol kerajaan Singosari yang berpedoman pada ajaran agama Hindu. Berdasarkan study lapangan diperoleh, data bahwa tempat peribadatan asli Wong Tengger adalah poten . angunan sederhana mirip pondasi ruma. , sanggar pendayangan, serta sanggar pemujaan yang ada pada setiap desa di Tengger. 11 Ini berarti. Wong Tengger pada saat itu belum mengenal dan melaksanakan ritual ditempat ibadah layaknya Wihara. Pura, maupun Masjid. Pada abad 15 Dinasti Majapahit mengalami keruntuhan, hampir seluruh tradisi yang ada musnah, kecuali tradisi masyarakat Hindu yang mendiami Tengger, mereka teguh dalam menjaga tradisi. Hingga pada abad ke-16. Jawa Timur mengalami turbulensi, seperti perang saudara, pengarongan dan panceklik . usim waba. yang terjadi dimana-mana. Kemudian pada abad 17 kondisi di Jawa mengalami iluminasi. Sistem Pemerintahan mulai dipimpin Sultan Agung . yang beridentitas Islam. Hampir Hefner Smith-Hefner. Nancy J. Robert. Masyrakat Tengger Dalam Sejarah Nasional Indonesia (Boston: Boston University, 1. Hlm. Prasasti yang kedua ditemukan oleh warga wonokitri digunung pananjakan Pasuruan. Prasasti tersebut berbentuk lempengan kuningan yang menunjukan tahun 1327 saka . 7 M). Kemudian prasasti yang ketiga berupa 8 lempeng dengan tulisan khas Jawa kuno. Prasasti tersebut dinamai pramai suara pura. Ditemukan petani di kaki gunung Ringgit pada tanggal 19 februari 2002. Kemudian prasasti tersebut diserahkan kepada Dinas Purbakala Jatim melaui PHDI Probolinggo pada 2 Desember 2002. Wawancara dengan narasumber sutomo. 15 Maret Letak pura ini hingga kini belum diketahui dimana. Akan tetapi masyarakat Tengger mempercayai keberadaanya. wawancara dengan Jumali, 13 Maret 2022. Wawancara dengan Sutomo. Jumali, dkkn, 14 Maret 2022. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . seluruh kawasan Jawa Timur sudah ditaklukkan, kecuali kawasan Tengger yang bertahan untuk menjaga tradisi dan ideologi Jawa yang mereka anut. Kemudian awal abad 19 kondisi politik mengalami metamorfosis, yang membawa perubahan terhadap Wong Tengger. Metamorfosis ditandai ketika pemerintah mulai melakukan pembaharuan terhadap sistem agama di Indonesia. Sedangkan saat itu Agama yang dianut wong Tengger masih belum jelas, tetapi Wong Tengger mengaku bahwa mereka menganut agama Budo. Pada kenyataanya hal yang dilakukan orang Tengger tidak mencerminkan sebagai penganut budha. Justru yang lebih mendominasi adalah ajaran agama Hindu. Wong Tengger juga saat itu tidak mengenal sosok Sidarta Gautama melainkan lebih mengenal Sang Hyang Semar. Selepas itu, diabad 19 penggunaan istilah Budo Tengger dipakai untuk menandakan wong Tengger tidak menganut ajaran Islam. Melalui istilah tersebut dapat dipahami pada Dinasti Majapahit, agama yang tenggah berkembang saat itu adalah Hindu. Keadaan Wong Tengger Wong Tengger merupakan masyarakat yang terkenal akan tradisi dan kental akan upacara adatnya. momen upacara adat Tengger biasanya dipandu oleh dukun. Dukun di Tengger berbeda dengan dukun yang ada di Jawa pada umumnya yang memiliki tujuan negatif. Dukun Tengger memiliki tujuan untuk menjaga dan memimpin dalam upacara-upacara tradisional. seiring dengan itu mulai banyak masyarakat yang beralih agama menjadi Hindu. Islam, dan kristen,14 Mahmud Muslimin. Mitos Dan Adat Istiadat Masyarakat Tengger Dalam Agama Tradisional: Potret Kearifan Hidup Masyarakat Samin Dan Tengger, ed. Nurudin and Dkk (Yogyakarta: Yogyakarta UMM Press, 2. Hlm. Sang Hyang Semar diyakini wong Tengger sebagai sang penguasa tanah Jawa. Sang Hyang Semar tidak dapat musnah, dia hanya ganti wadah seje jeneng . idup dalam tubuh yang berbedabed. , syang Hyang Semar tidak bisa mati akan tetapi berubah wujud mencolo putro mencolo putri dan terus reinkarnasi. Wawancara dengan masyarakat desa Ngadas Pada mulanya Ngadas menganut Budo jowo Sanyoto. pada tahun 70-an, mereka berangsurangsur mulai takut dengan identitasnya sebagai wong Tengger yang menganut Budo joyo Mereka kesulitan dalam mencantumkan agamanya dalam KTP. Hal ini dikarenakan Budo Jowo Sanyoto tidak diakui dalam pemerintah. Ketakutan atas identitas KTP tersebut membuat masyarakat terpecah dalam bebrapa Agama. Merekapun bernegosiasi dan memilih untuk masuk agama Hindu. Islam atau bahkan Kristen. Edi Purwanto. AuRepresentasi Wong Tengger Atas Perubahan Sosial Dalam Perspektif Social Identity Theory,Ay Central Library Of Maulana Malik Ibrahim State Islamic Universitas Of Malang . Hlm. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha Rizqi Amaliani Meskipun banyak yang beralih agama. Wong Tengger tetap menjaga kepatuhan pada adat dan tradisi. Mereka tetap menjalani aturan dan nilai-nilai adat istiadat. Wong Tengger berangapan dalam rangka menmpertahankan keberlangsungan hidup, mereka harus taat pada adat, dan tradisi. Melalui tradisi dan adat. Wong Tengger berpegang teguh pada keyakinan yang resistan atas identitasnya. Dengan cara itu mereka tidak akan tenggelam dalam gelombang modernisasi yang tenggah menimpa Tengger. Wong Tengger juga percaya tradisi merupakan bagian dari identitas Tengger yang wajib dipertahankan secara turun-temurun. Purifikasi Agama Jejak Penghinduan Tengger Sejak tahun 1968 kawasan Tengger ramai dikunjungi peneliti yang dibentuk Dirjen Bimas Hindu-Budha dan Ikatan Hindu Darma Bali. Dari penelitian tersebut diperoleh data bahwa dahulu wong Tengger merupakan penyembah Atma para Atma . oh-roh leluhu. , serta belum mengenal agama seperti saat ini. Akibatnya pada tahun 1973 terjadi normalisasi agama dimana seluruh kawasan Tengger ditetapkan pemerintah orde baru sebagai penganut agama Hindu. Bebarengan dengan itu Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) dikawasan Jawa Timur merancang surat putusan NO. 00/sk/phdi-Jatim/1973 tentang penyusunan kepengurusan PHDI Cabang Probolinggo yang dipimpin Alm. Soejai selaku kordinator dukun Tengger saat itu. Peresmian Tengger sebagai pemeluk agama Hindu yang dilakukan oleh Departemen Agama dilandaskan pada banyak pertimbangan. Pertama, dilihat dari instrument . lat-ala. yang digunakan Wong Tengger dinilai sama persis dengan ritual yang ada dalam Agama Hindu. Kedua konsep dalam ritual Kasada maupun Karo secara subtansial dipahami sebagai bagian Pancayadna dalam Hindu. Depag menilai Kasada sebagai manifestasi dari Dewayadna, yakni pedoman didalam ajaran Pancayadna. Sebagai langkah lanjutaan dari peresmian tersebut. Maka dibentuklah kepengurusan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Tengger. Dengan adanya keputusan tersebut PHDI Jawa Timur melangsungkan pembinaan terhadap Wong Tengger. pembinaan tersebut dimulai dengan Purwanto. Hlm. Wawancara dengan Sutomo, 14 Maret 2022. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . pengadaan buku-buku ajaran Agama Hindu, mendatangkan guru agama dari luar Tengger dan didirikannya lembaga-lembaga seperti sekolah yang beragama Hindu. Baru di tahun 1980 kemudian masyarakat Tengger resmi ditentukan sebagai penganut Hindu. Tahun 1989 kemudian pemerintah mendirikan pura untuk yang pertama kali di Tengger. Pura tersebut didirikan di Ngadas. Pendirian pura sekaligus menutupi Sanggar Pendayangan yang ada di Ngadas. 17 Tahun selanjutnya mulai banyak didirikan pura pada wilayah Tengger. Puncaknya yaitu tahun 1996 yang dahulunya berupa poten dirombak menjadi bangunan pura yang digunakan sebagai puncak upacara kasada. Sejak diresmikan sebagai penganut Hindu oleh pemerintah pusat, desa-desa dikawasan Tengger mulai Menyusun siasat, dan saling bersinkretik menempuh dialektika kebudayaan. Beberapa dukun juga ikut mengaitkan ritual yang ada diTengger dengan teks suci agama Hindu. Jejak Islamisasi Tengger Pergelutan Wong Tengger sejatinya bukan hanya dengan Hindu. Bahkan jauh sebelum Hindu ditetapkan pemerintah orde baru, sebagian desa Tengger utamanya Probolinggo telah menganut agama Islam lebih dulu. Gelombang Islamisasi pun menerpa dataran rendah seperti Wonokerto. Sukapura, dan Sapikerep. Pegunungan Tengger saat itu menjadi kawasan yang tidak bisa lepas dari kontruksi atas islamisasi. Gelombang islamisasi Tengger di jalankan dengan dua tahapan. Islamisasi dipelopori kyai Dadap putih beserta muridnya yang juga bagian dari pasukan Demak. Pada saat itu Demak berhasil meluluhlantahkan dinasti Majapahit yang menganut agama Hindu. Akibatnyaa banyak pasukan majapahit yang menyelamatkan diri ke lereng Bromo untuk membuat pertahanan Bersama Wong Tengger. Namun Demak saat itu juga berobsesi untuk mengislamkan seluruh kawasan Tengger, dan menyerang abdi Majapahit. Maka ditugaskanlah kyai Dadap putih untuk mengislamkan abdi Majapahit dan Wong Tengger. Sanggar Pendayangan merupakan sanggar tempat pemujaan. Sanggar tersebut digunakan sebagai tempat peribadatan orang-orang Tengger sebelum adanya purifikasi Agama. Lihat dalam Wahyu Utomo. AuSitus Tengger: Sanggar Pemujaan Dan Pendayangan Di Tenggah Purifikasi Agama,Ay Majalah Kebudayaan Desantara (Jakarta, 15 Juli 2. Wawancara dengan ketua dukun paruman, 15 Maret 2021. Wawncara dengan Erwin, 15 Maret 2022. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha Rizqi Amaliani Gelombang Islamisasi kedua dilakukan Mbah Raden yang berasal dari Kediri. Mbah Raden merupakan kepala desa pertama di Wonokerto. beliau masuk di Wonokerto melalui adu ilmu kesaktian dengan dukun di Sebagai taruannya. siapapun yang menang dalam pertarungan, maka ia boleh mengajak warga untuk mempelajari ilmu pada pihak yang Pertarungan pun dimulai dan Mbah Raden berhasil memenangkan atas kemenangan itu mbah Raden meminta agar warga memeluk Agama Islam. Upaya Mbah Raden untuk mengislamkan masyarakat teryata bukan hanya di Wonokerto, melainkan ia mempunyai obsesi mengislamkan seluruh penduduk yang ada di Tengger. Namun rencana Mbah Raden kandas. Upaya untuk mengislamkan Tengger mendapat kecaman dari dukun-dukun Tengger yang berada di Wonotoro. Ngadas. Jetak dan Ngadisari. Para dukun pun mendatangi Mbah Raden dan mengajak untuk beradu kesaktian serta meminta restu pada danyang di Tengger. Barang siapa yang mendapatkan restu danyang, dan mampu mengalahkan dukun-dukun Tengger maka ia berwenang atas segala aktivitas kehidupan Wong Tengger. Saat pergelutan dimulai, teryata Mbah Raden tidak mampu bangun dari tempat peristirahatanya, bahkan ia tidak mampu menggerakkan seluruh Akibatnya. Mbah Raden menyerah dan mengakui kesaktian para dukun Tengger. Serta, mengurungkan niatnya untuk mengislamkan seluruh kawasan Tengger. Hal ini, kemudian menjadi cerita lisan yang berkembang dikalangan desa wonokerto. Pada era modern, gelombang Islamisasi di Wonokerto terus berkembang dengan intensif. Banyak upayapun dilakukan guna mengajarkan Islam secara Kaffah di Wonokerto dengan mendatangkan ustadz pengajar agama Islam dari luar desa ini. Hal itu ditunjukan untuk meminimalisir tradisi yang dipegang erat Wong Tengger meskipun mereka telah memeluk Islam. Akhirnya pada tahun 1980 dibangun Langgar atau Mushola tempat ibadah sebagai penganti dari sanggar pendayangan . empat pemujaan terhadap para Atm. yang ada di Wonokerto. Pada tahun 1980 dukun-dukun yang ada di Wonokerto ditiadakan dan diganti mudin sebagai pemimpin ritualitas warga. Kemudian pohon Purwanto. AuRepresentasi Wong Tengger Atas Perubahan Sosial Dalam Perspektif Social Identity Theory. Hlm. Wawancara dengan Erwin, 15 Maret 2022. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . yang ada di tempat pendayangan ditebang dan kuburan tua yang biasanya dijadikan tempat menaruh sesaji dibongkar. Sementara itu kesenian yang mentradisi seperti tayuban22 digantikan dengan terbang jidor. Purifikasi Tengger dilakukan dengan cara melakukan potong regenerasi. Seperti yang diungkapkan Erwin, selaku penjabat daerah yang ada di Wonokerto. Dahulu kepala desa yang ada di Wonokerto juga berupaya untuk menghilangkan jejak keberadaan Danyangan di Wonokerto. Bersama dengan para santri, diam-diam mereka membuat agenda besar ditahun 2006 untuk pembangunan tempat ibadah. Pada bulan Februari 2006 juga dibentuk MUI di desa Wonokerto. Dengan dibentuknya MUI sedikitnya telah membawa perubahan yakni dalam tradisi selamatan yang ada di Wonokerto. 24 Selamatan yang dahulunya dilaksanakan di Danyangan dengan menggunakan sesaji, pada awal januari 2006 diubah di balai desa dengan menggunakan doa-doa Islam. Peryataan tentang kemajuan Islam di Wonokerto juga di ungkapkan oleh Sutomo. 25 Meskipun di tahun 2006 banyak warga yang sudah masuk Islam di Wonokerto, tetapi konsep keislaman mereka masih terbelakang. Salah satu buktinya adalah kegemaran warga yang pergi ke Pendayangan setiap JumAoat legi dengan membawa sesaji. Akhirnya agar tidak terjadi pertikaian tokoh pemuka Islam mensiasati dengan mengikuti keinganan warga untuk ke pendayangan, akan tetapi di pendanyangan itu ia pimpin untuk tahlilan Bersama, dan memanjatkan doa-doa Islam. Di Wonokerto Islam diajarkan dengan hati-hati. Konsep keislaman diajarkan dengan konsep yang sederhana agar tidak menyinggung warga yang masih mengannggap sakral Atma. Seiring berkembangnya Islam di Wonokerto Para tokoh Islam dan perangkat desa berinisiatif untuk membangun pondok pesantren, sekaligus media untuk mendakwahkan ajaran Islam di seluruh kawasan Tengger. Tetapi tetap harus digarisbawahi Di Jawa tayub merupakan tarian rakyat yang dipentaskan pada pesta-pesta tertentu seperti Tayub yang ditampilkan biasanya berisikan adegan erotic penari dan sebagai imbalanya para lelaki yang ikut menari akan . etiban sampu. menyelipkan uang ke dada Tetapi tayub yang ada di Tengger berbeda dengan tayub lainya, karena tarian ini hanya dilakukan untuk upacara adat. Robert W. Hefner. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam, pertama (Oxford: Princeton University Press, 1. , hlm. Wawancara dengan Erwin, 15 Maret 2022. Wawancara dengan Erwin, 15 Maret 2022. Wawancara dengan Sutomo. 15 Maret 2022. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha Rizqi Amaliani dakwah yang disampaikan diTengger bersifat damai dan tidak memaksa. Ritual dan Identitas Sosial Ritual Yadnya Kasada Ritual kasada atau yang disebut sebagai perayaan yadnya Kasada merupakan ritual yang diadakan tiap tahun di bulan kasada pada malam bulan purnama. AuyadnyaAy bersumber dari Bahasa sanskerta yang bermakna pengorbanan suci. 26 Kasada bagi Wong Tengger merupakan ritual suci yang mengorbankan hasil bumi kedalam kawah gunung Bromo. Ritual suci ini memiliki tujuan agar roh dewa-dewa dan Atma diberikan kesejahteraan, keselamatan, serta keberuntungan yang melimpah. Dalam perayaan Kasada biasanya digelar kesenian ujung-ujungan, yaitu seni lokal dimana terdapat dua orang saling berhadapan untuk menyebetkan rotan ke badan lawannya dengan saling bergantian. Kemudian Puncak Kasada dilaksanakan sekitar pukul satu dini hari. Masyarakat berkumpul di area gunung Bromo, menanti dibuka atau dikumandangkannya matra ritual Para dukun dan masyarakat Tengger pun berkumpul di poten . empat peribadatan asli Wong Tengge. dengan membawa ongkek27 sebagai bentuk persembahan. Ongkek selanjutnya akan diletakkan sejajar di barisan paling depan dan barisan selanjutnya akan diisi para dukun yang duduk bersila untuk memimpin ritual. Ritual Kasada diawali dengan pelafalan historitas Kasada. Historisitas tersebut berisi kisah Roro Anteng dengan Joko Seger. Digambarkan dalam cerita bahwa Roro Anteng dan Joko Seger yang merupakan keturunan Brahma. Mereka membuat pengorbanan suci kepada Wong Tengger dengan mengorbankan anak kedua puluh lima yang bernama dewa Kusuma28. Setelah seejarah dibacakan dilanjutkan dengan muja astuti dimana dukun-dukun akan membacakan mantra purwobumi29 secara serentak. Purwanto. AuRepresentasi Wong Tengger Atas Perubahan Sosial Dalam Perspektif Social Identity Theory. Ay Ongkek merupakan sesaji yang digunakan dalam pelaksanaan upacara Kasada oleh masyarakat Tengger. Ongkek biasanya dibawakan oleh Ogen . eorang pembantu dukun saat pelaksan upacara kasad. Purwanto. AuRepresentasi Wong Tengger Atas Perubahan Sosial Dalam Perspektif Social Identity Theory. Ay Mantra purwabumi adalah mantra khas yang dibacakan saat upacara kasada. Mantra ini tidak dipublikasikan karna bersifat sakral dan hanya para dukun-dukun yang mengetahuinya. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . Sesekali para dukun menaruh kemenyan dalam ponten (Tempat peribadatan Wong Tengger yang benrbentuk Tungku perungg. Menurut Wong Tengger mantra yang dilafalkan berisikan doa-doa yang disampaikan kepada syang Hyang widi (Tuhan yang maha Tungga. Urutan ritual selanjutnya yaitu malumen yang berupa ritual untuk menyeleksi calon dukun yang akan dijadikan pemimpin dalam semua ritual adat yang ada di Tengger. Syarat untuk menjadi dukun diantaranya yaitu mampu menghafalkan mantra-mantra. 30 Dalam upacara malumen seorang dukun akan membacakan mantra sebanyak tiga kali jika calon dukun mampu menirukan mantra-mantra tersebut maka mereka akan dikatakan Satu diantara mantra yang wajib dihafalkan yaitu: AuNiti luri wulan Kosodo nyekar dhateng kawah Bromo, sarti ngalih ngelabuh palawijo-palawijo sak keropalo kang dipun gameni katura dhateng sunan dumeling kang wonten poteb, sunan perniti kang wonten bejangan, lan sunan Kusumo kang wonten kawah gunung Bromo. Sampune katur Dewo Pandito Ratu. Ay31 Mantra diatas menggambarkan bahwa upacara Kasada merupakan bentuk persembahan kepada nenek moyang dan menjadi cikal bakal Wong Tengger dalam upaya untuk membangun dan menjaga adat istiadat. Kemudian Bagi mereka yang mampu dan melafadkan mantra tersebut saat ritual Malumen maka mereka juga harus bersumpah untuk sunguhsungguh menjaga setiap tradisi yang ada di Tengger dan senantiasa melayani masyarakat dengan baik. sebagai tanda kelulusannya maka diberikannya selendang kuning sebagai simbol bahwa pihak yang bersangkutan sudah sah bersetatus dukun. Sementara bagi sutomo, ketua dukun paruman di Ngadisari menjelaskan bahwa ritual Kasada mempunyai makna tentang cerita Joko seger dan Roro Anteng yang mengorbankan anak bungsu mereka yakni Dewa Kusuma. juga bercerita bahwa dengan wujud suara ghaib ia mendatangi cucu-cucunya melalui mimpi untuk mengorbankan dan melarungkan hasil bumi ke dalam Wawancara dengan sutomo, 15 Maret 2022. Aditya Fiirhand Rinaldi Adam and Corry Liana. AuUpacara Adat Yadnya Kasada Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan Tahun 2000-2019 : Studi Tentang Dinamika Kebudayaan Rohani Di Era Modern,Ay Avatara, e-Jurnal Pendidikan Sejarah 10, no. : 1Ae11. Adam and Liana. Hlm 5. Adam and Liana. Hlm. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha Rizqi Amaliani kawah gunung Bromo. Melalui mimpi tersebut ritual Kasada digelar sebagai wujud pemujaan kepada sang Hyang Betara . uru sejat. Sutomo menekankan bahwa Kasada merupakan ritual adat bukan Oleh sebab itu Tengger berbeda dengan ajaran Hindu lain. Menurutnya apapun agamanya Hindu. Budha. Islam. Kristen semua Wong Tengger dapat mengikuti ritual kasada. Upacara Karo Karo merupakan hari raya Wong Tengger yang bertepatan pada tanggal 15 bulan Karo pada penanggalan Tengger. Upacara Karo bagi Wong Tengger merupakan ritual sakral sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi atma . oh/arwa. beserta danyang yang mendiami Sanggar Pendayangan yang ada di Tengger. 34 Hal itu dilakukan dengan tujuan agar Wong Tengger mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan dikehidupan yang akan datang. Upacara Karo dilaksanakan pada akhir bulan Kasa sesuai kalender Tengger, saat itu pula seluruh Wong Tengger membersihkan daerah masingmasing atau disebut bersih desa. Ketika memasuki bulan Karo rumah wong Tengger dihias dengan Penjor. 35 selama bulan itu setiap rumah akan menyediakan sesaji yang diletakkan pada ruangan khusus. Penyediaan sesaji oleh Wong Tengger dimaknai sebagai panggilan terhadap roh leluhur Tengger. Disamping sesaji juga disediakan tamping. Tamping terdiri dari makanan, kemenyan, bunga. Biasanya tamping diletakkan di penjuru rumah seperti pintu masuk, pojok dapur, kamar mandi, tempat perapian serta patmasari . ugu kecil menyerupai pura di depan ruma. Selama bulan Karo setiap pagi sesaji dan tamping akan terus Wong Tengger percaya bahwa selama ritual Karo berlangsung. Atma . oh leluhu. akan pulang kerumah masing-masing. Kemudian ada juga ritual mulihe ping pitu yang dijadikan penutup dari upacara karo. Ritual mulihe ping pitu adalah momen dimana para dukun Tengger berkewajiban untuk menghantarkan Kembali arwah para leluhur. Ritual mulihe ping pitu ini sama dengan ritual lain yang berhubungan dengan Wawancara dengan Sutomo 15 Maret 2022. Wawancara dengan Jumali, 14 Maret 2022. Penjor merupakan hiasan khas yang wajib dipasang di pinggir jalan atau rumah-rumah pada bulan Karo yang berbentuk seperti umbul-umbul yang terbuat dari janur kuning. Wawancara dengan Sutomo, 14 Maret 2022. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . penghormatan kepada roh leluhur seperti Entas-Entas . itual yang bertujuan untuk mendoakan leluhur yang sudah meningga. dan Unan-unan . itual penyucian desa dari gangguan makhluk halus Aubutha kalaAy atau dijadikan sebagai ritual tolak bal. Dalam ritual ini, dukun akan membacakan mantra dihadapan sesaji yang ada disetiap rumah warga. Peryataan pak Sutomo selaku ketua dukun paruman di Tengger ia menjelasakan selain kesakralannya. Karo juga memiliki kesamaan dengan Islam, seperti hal nya Islam yang mempunyai hari Raya Idul Fitri Wong Tengger juga mempunyai Hari raya Karo. Islam dengan ke-khasanya disaat hari Raya Idul Fitri akan datang kerumah saudara, kerabat, dan tetangganya guna saling meminta maaf dan sebagai sarana mempererat tali silaturahmi. Sedangakan di Tengger semua dukun akan datang kerumah-rumah untuk mendoakan keselamatan, kedamaian, ketentraman dan juga sebagai ajang menciptakan tali silaturahmi antar Wong Tengger. Perayaan Karo ini berlangsung 1-15 bulan karo. Dimana pada bulan tersebut banyak diselengarakan hiburan seperti tayub, ludruk, kuda joget serta tari-tarian lainnya. Perayaan Karo juga dimaknai sebagai momen mengingat keluarga yang telah meninggal serta untuk meningkatkan ikatan dengan keluarga, tetangga, dan handa taulah. Pada saat itu pula mereka akan beramai-ramai datang ke makam untuk nyekar disana. Wong Tengger kawasan Probolinggo menganganggap Karo sebagai hari raya yang bermakna penciptaan. Karo yang berasal dari Bahasa Jawa bermakna dua, dua sebagai simbol awal penciptaan manusia yaitu laki-laki dan perempuan. Hubungan Laki-laki dengan Perempuan menjadi sebab hadirnya anak sebagai generasi selanjutnya. Asumsi masyarakat Probolinggo berbeda dengan Wong Tengger Malang. Yang memaknai Karo sebagai hasil perjumpaan Islam dengan Budho Jowo atau direpresentasikan menjadi AuArab JawaAy. Arab diwakili Nabi Muhammad dan Jawa diwakili Ajisaka. Lalu diceritakan utusan Ajisaka dan Nabi Muhammad bertarung dan sama-sama Dari kejadian ini maka diperingatilah hari Raya karo sebagai hari untuk mengingat dua utusan dalam perjumpaan Arab dan Jawa. Wawancara dengan Sutomo, 14 Maret 2022. Hefner melihat bahwa ritual Karo mempunyai kemiripan dengan tradisi nyadran . iarah ke makam leluhu. yang dilakukan muslim Jawa pada saat menjelang hari raya Idul Fitri. Muslim Jawa akan beramai ramai pergi ke makam orang tua atau kakek, nenek menabur bunga diatas makam dan memohon berkah kepada arwah leluhur yang telah meninggal. Robert W. Hefner. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Hlm. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha Rizqi Amaliani Hal ini sama halnya dengan keterangan Hefner mengenai cerita Ajisaka, ia menjelaskan hal menarik dari cerita Ajisaka di Tengger adalah kaitanya dengan festival Karo dan tarian tiang sodoran,39 bahkan dalam kisah-kisah dimana Tengger yang mengidetifikasikan ritual-ritual dengan para utusan Nabi Muhammad dan Ajisaka, digambarkan juga pada saat itu penduduk Tengger mengidentifikasi ritual-ritual dengan tema-tema seksual dan kesuburan yang tidak disebutkan dalam mitos Ajisaka. Karo memang mempunyai makna beragam. Namun perbedaan makna tersebut tidak diartikan sebagai perpecahan. Melainkan bermakna sebagai keberagaman Karo dan upaya Wong Tengger untuk mempertahankan segala kepercayaanya sebagai simbol keberagaman atas identitasnya. PEMBAHASAN Wong Tengger Merepresentasikan Identitas Sosialnya Fenomena keadaan Wong Tengger yang dihadapkan dengan polemik agama dan politik supremasi yang mengilas tradisi yang menjadi identitas Wong Tengger. diumpamakan peneliti tidak seperti abdi kerajaan yang hanya sendika dawuh pada situasi yang melanda Tengger. Mereka justru menunggangi perubahan yang ada untuk mempertahankan identitasnya. sejumlah upaya ditempuh guna merepresentasikan identitas Wong Tengger. Salah satu representasi yang ditempuh adalah dengan tetap hadir di pendayangan secara sembunyi-sembunyi meskipun sudah ada larangan. Representasi yang ditempuh tergantung pada gelombang internal yang telah mengkontruksi Wong Tengger. Seperti kontruksi internal yang mengharuskan Wong Tengger merepresentasikan setiap identitas dengan model yang berbeda. Berdasarkan analisis dari fenomena-fenomena tersebut, peneliti melihat ada dialek yang ditempuh Wong Tengger untuk menjaga Selanjutnya peneliti akan menunjukkan beberapa representasi yang dilakukan Wong Tengger untuk menjaga identitasnya. Representasi yang dilakukan sekaligus menjadi simbol baru bagi identitas Wong Tengger. Melawan formalisasi Agama Pada tahun 1970 terjadi Formalisasi agama terhadap wong Tengger. Tari Tiang sodoran merupakan tarian sakral khas Tengger yang melambangkan asal-usul Robert W. Hefner. Hlm. Robert W. Hefner. Hlm. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . Formalisasi tersebut berupa Fenomena diseminasi Hindu. Wong Tengger tidak menerima secara saklek . ikap tidak bisa ditawar lag. ajaran hindu yang Wong Tengger cenderung mengkreasi ajaran Hindu yang hadir untuk disesuaikan dengan tradisi Tengger. Wong Tengger juga tidak mau disebut sebagai penganut ajaran Hindu Bali. Hal ini sesuai dengan keterangan Sutomo pada peneliti: AuMemang benar di Tenger mayoritas penganut Hindu, dan banyak didatangkan pemuka Bali yang kerap membantu warga untuk membangun sanggar dan Pura, serta membantu pembiayaan upacara dengan maksud mempengaruhi dukun-dukun yang ada di Tengger agar mengikutsertakan tradisi Bali dalam setiap upacara Tengger. Jelas dukun-dukun akan menolak, lha Wong tradisi Bali berbeda dengan tradisi Tengger. Tengger punya keunikan sendiri di setiap upacaranya. Ay41 Dari statement tersebut, peneliti mengetahui bahwa waktu itu dukundukun di Tengger menolak Balinisasi Tengger. Walaupun saat itu banyak warga yang sudah menganut Hindu. Namun. Hindu yang diimpikan Wong Tengger merupakan Hindu versi Tengger. Strategi yang dilakukan Wong Tengger untuk mempertahankan tradisinya ditenggah masukanya tokoh agama Hindu di Tengger adalah dengan memberikan kurikulum agama Hindu ala Tengger di sekolahsekolah kemudian siasat dukun Tengger soejai i (Al. yang berhasil masuk menjadi ketua PHDI dan disusul oleh dukun lain sebagai anggotanya. Mereka akhirnya berhasil mengawinkan tradisi dengan agama. Melaui kekuasaanya menjadi ketua PHDI. SoejaAoi berhasil menegosiasikan tradisi dan budaya Tengger dengan Hindu yang ada di Bali. Bukan hanya itu Sutomo juga menceritakan, kisah Suprapto selaku guru agama Hindu saat itu yang berkilah terhadap hinduisasi. Suprapto yang dahulunya disekolahkan gratis di IHDI Bali melawan konsep pendidikan Bali untuk diajarkan di Tengger. Karena menurutnya Hindu ala Bali tidak cocok diterapkan di Tengger. Ia kemudian berdiskusi Bersama dengan guru agama Hindu Tengger untuk Menyusun kurikulum baru yang berisi ajaran agama Hindu berbasis lokal. SoejaAoi Bambang Suprapto beserta dukun yang lain barangkali masih mempunyai tempat negosiasi guna merepresentasikan identitas sosialnya. Wawancara dengan Sutomo, 14 Maret 2022 Wawancara dengan Sutomo, 15 Maret 2022. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha Rizqi Amaliani Mereka mempunyai tempat yang lebih guna mempertahankan keyakinanya. tetapi disisi lain bagaimana kondisi wong Tengger dikawasan Wonokerto yang memegang erat keyakinan pada tradisi Tengger ditenggah pengaruh Islamisasi? Mereka terus terjepit dalam gelombang Islamisasi yang menyerbu wonokerto, sanggupkah mereka dalam merepresentasikan identitas sosial layaknya Wong Tengger di wilayah Pegunungan atas? Pertumbuhan Islam di desa Wonokerto sesunguhnya juga menjalani pergulatan yang cukup hebat, utamanya dari kalangan tua. Sejak bulan januari 2006 atas keputusann pemerintahan desa. kegiatan ritual selametan yang dilakukan bertahun-tahun di Danyangan Wonokerto dipindah di balai desa. Dan sebelumnya selamatan juga di danyangan, akan tetapi tidak mengunakan mantra-mantra melainkan dengan tahlil. Walaupun saat itu pemerintah desa melarang untuk pergi ke danyangan, tetapi mereka masih saja pergi dengan cara sembunyi-sembunyi. Sebagian golongan tua berangapan bahwa Aumeskipun mereka telah menganut agama Islam, namun peninggalann nenek moyang mereka tidak boleh Ay Seperti halya yang dilakukan Marsudi, selaku mantan dukun di Wonokerto. Dia tidak menentang hadirnya Islam secara konfrontatif. Marsudi justru memeluk agama Islam dengan tujuan agar memperoleh posisi ketua DPD. Menurutnya dengan posisi itu, dia dapat lebih leluasa untuk menentukan kebijakan desa. Dan meskipun sudah ada larangan untuk tidak datang ke Danyangan tidak merubah keyakinan untuk menjabat ketua DPD. Sesekali Marsudi secara diam-diam menyempatkan diri datang ke pendanyangan untuk berdoa dan meminta akan berkah kehidupanya. Bahkan ia juga bersikeras melarang anggota pemerintah desa merusak dan membabat habis pohon-pohon yang ada di sekitar danyangan. Ia dengan keras menyatakan. Augelombang Islamisasi boleh memasuki Wonokerto, namun tradisi lokal Tengger di Wonokerto tidak boleh dimusnahkanAy. Mungkin selain Marsudi banyak warga di Wonokerto yang menyembunyikan identitasnya dan diam-diam masih datang ke Tahlilaln di Danyangan di mulai sejak januari 2005, menurut erwin selaku tokoh agama Islam, masyarakat Wonokerto pertama kali melakukan di Danyangan merupakan program awal pemerintah untuk melakukan purifikasi agama Islam. Wawancara dengan Erwin, 14 Maret Wawancara dengan Erwin, 15 Maret 2022. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . Seperti dikatakan Jumali kepada peneliti, dahulu pada tahun 1975 masyarakat tidak berani melaksanakan ritual Tengger yang hampir musnah diterjang gelombang Islamisasi. Mereka hanya bisa datang kesanak saudara dan ikut serta ke pendayangan dan berharap kegiatan mereka tidak ketahui pihak desa. Menerima Agama Formal Secara Simbolik Saat agama formal hadir di Tengger, seperti Hindu, dan Islam. Layaknya AuTamuAy yang tak bisa dicegah kedatanganya. Wong Tengger menyikapi kedatanganya secara formalitas. Sebagian lainya menyikapi ketetapan negara yang terkesan memaksa untuk menganut agama formal. Maka diakuilah satu diantara agama formal lainya sebagai jalan untuk mempermudah berbagai hal terkait pendataan sipil sebagai WNI . arga negara Indonesi. Misalnya dalam mengurus dokumen-dokumen kependudukan seperti. KTP. KK, SIM dan dokumen lainya. Menerima agama formal secara simbolik bagi Wong Tengger adalah salah satu bentuk upaya untuk mempertahankan eksistensi keyakinan mereka sendiri yang oleh Wong Tengger diyakini tidak dapat digantikan dengan hal apapun, namun mereka tidak mampu melawan supremasi negara. Meskipun secara formal mereka menganut Islam atau Hindu, kehidupan spiritual mereka masih dipenuhi dengan keyakinan terhadap roh leluhur. Membangun mitos-mitos Dibalik watak Wong Tengger yang apa adanya dan terkesan diam, mereka justru mempunyai banyak strategi untuk merepresentasikan identitasnya. Berbagai kisah mitologipun diciptakan Wong Tengger guna mengambarkan pergulatan yang terjadi dimasa lalu dan berkembang menjelma dokumen histori bagi Wong Tengger. Melalui mitologi. Wong Tengger membuat pola kewaspadaan dari beragam kemungkinan yang mengancam eksistensi Tengger Akibatnya berbagai mitologi sering ditemui nyaris pada setiap ritual dan tradisi Tengger. Mitologi Karo misalnya. Sebagaimana yang dicatat Hefner dalam bukunya yang berjudul Hindu Javanese ia menggambarkan fenomena didalam upacara Karo. Dalam cerita dijelaskan perkelahian yang terjadi antara murid Nabi Muhammad dengan murid Ajisaka yang saling bersikeras untuk mempertahankan titah keduanya. cerita ini menyimbolkan fenomena Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha Rizqi Amaliani yang berjejak saat mitologi ini muncul. Hefner berangapan bahwa mitologi karo terbentuk di masa pertempuran antara Majapahit dan Demak. Kisah perkelahian antara murid Nabi Muhammad dengan murid Ajisaka berjejak pada kisah pertempuran antara Islam dengan non-Islam. (Tidak menutup kemungkinan Tengger juga ikut dalam pertempura. Namun kisah mengenai Majapahit dengan Demak ini relative tidak diketahui dalam konteks Karo oleh Wong Tengger, hal ini disebabkan karena penafsiran atas Karo sendiri telah bergeser. Perbedaan penafsiran Karo menjadi gambaran alangkah dinamisnya Tengger dalam melihat konteks. Representasi Wong Tengger: Potret Negoisasi Pada pembahasan sebelumnya peneliti menampilkan ulasan tentang pertemuan antara Tengger dengan agama formal. beserta tradisi yang menjadi simbol identitas mereka. Maka pada bagian ini peneliti memberikan ulasan pokok strategi Tengger dalam menjaga kebudayaanya. Hadirnya agama formal menjadi momen yang tidak dapat ditolak, disamping sebab faktor hubungan sosial, pada konteks keagamaan seperti Hindu terdapat intervensi kekuasaan negara pula, secara langsung maupun tidak. Melihat fenomena tersebut peneliti ingat pada teori Social Identity dalam Culture Studies dengan tokohnya Guillermina Jasso. Ia menjelaskan tentang proses pembentukan identitas sosial. 46 Dalam proses pembentukan tersebut ia tidak menghapus faktor internal dan tidak melepaskan faktor eksternal yang berpengaruh pada proses penciptaan identitas sosial. Hal itu mirip dengan apa yang terjadi di Tengger. Identitas Tengger tercipta atas Robert W. Hefner. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Hlm. Guillermina Jasso. AuIdentity. Sosial Identity. Comparison, and Status: Four Theories With a Common Core,Ay Menteri Kesehatan Republik Indonesia 1116/MENKE, no. June 2002 . : 1Ae22. Ethiopia, comprises a number of inliers each containing 2-3 km thickness of interbedded carbonate and clastic sediments, capped in one inlier by a glaciogenic diamictite. A range of geochemical indices suggest near-pristine C- and Sr-isotope values are preserved and these, together with lithological variations, allow local correlation between these inliers and correlation with the global Neoproterozoic isotope stratigraphy. A composite section of the Tambien Group shows 13C in carbonate of O 6A at its base, decreasing upwards to twin lows of O-4A separated by a brief excursion back to positive values, then rises again to a plateau of O 6A before finally decreasing sharply to -2A beneath the Negash diamictite at its top. No glaciogenic sediments are observed associated with the lower twinned negative anomalies. The 87Sr/86Sr values in carbonates change from O0. 7063 in the lower units to O0. 7067 in the upper units. The 13C of organic matter changes little through the sequence (-24. 2 A 1. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . penggaruh internal dan eksternal. Faktor agama dalam hal ini digambarkan peneliti sebagai penggaruh internal yang berisikan kepercayaan Wong Tengger dalam menjaga adat Sedangkan intervensi negara sebagai faktor eksternal yang menyangkut kontruksi negara dan kepentingannya. Dua faktor ini yang menciptakan identitas sosial baru di Tengger. Untuk menghadapi faktor tersebut Wong Tengger memiliki cara untuk mempertahankan identitas sosialnya Yaitu dengan cara representasi, representasi adalah pertahanan kelompok sosial untuk menghadapi kekuatan luar. Sigmund Freud berangapan bahwa representasi merupakan defense mekanisme. Sebuah pertahanan dalam rangka mempertahankan ke-akuan beserta keseimbangan id dan superego. 47 Dalam kaidahnyaa ego akan melayani id, namun superego menghalangi. kemudian cara terbaik yang ditempuh yakni ego mendiskusikan dengan id dan superego. Nampaknya Tengger juga melakukan hal yang sama denga apa yang di katakan Freud. Wong Tengger tidak sanggup kembali dari masa lalu. Mereka juga enggan mengabaikan yang baru, untuk itu jalan yang digunakan yaitu representasi, representasi yang mengakulturasikan dua identitas yang ada. Relasi Islam dengan Agama Lokal Berbicara tentang Tengger beserta praktik keagamaan, kebudayaan, tradisi, dan sosialnya, memang bukan persoalan yang mudah. Selain karena faktor luasnya wilayah Tengger yang meliputi 4 kabupaten yakni Probolinggo. Malang. Pasuruan dan Lumajang. Ditemukan aspek lain yang Bahkan penelitiam Hefner yang menjalankan riset dalam jangka waktu 2 tahun . tetap dirasa kurang meskipun ssudah mewawancarai 342 kepala keluarga. Pada risetnya. Hefner memakai multi teori atau multi perspektif. Dalam beberapa bukunya yaitu Geger Tengger49 dan Hindu Javanese ia tampak menguasai perkembangan teori teori sosiologi modern. Dalam risetnya. Hefner sadar akan kerumitan yang dialami masyarakat modern. Dinamika pertumbuhan masyarakat menunjukan kerumitan yang sama-sama Purwanto. AuRepresentasi Wong Tengger Atas Perubahan Sosial Dalam Perspektif Social Identity Theory. AyHlm. Robert W. Hefner. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Hlm XXII Robert W. Hefner. Geger Tengger Perubahan Sosial Dan Perkelahian Politik. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha Rizqi Amaliani mempengaruhi satu sama lain. Karena itu teori modernisasi dianggap belum cukup dipakai untuk menganalisis berbagai dinamika yang ada. Akhirnya berbagai teori selain modernasi juga dilibatkan seperti etnografi, interpretatif, dan sebagainya. Begitupun dengan riset Islam dan Tengger yang sudah dilakukan banyak peneliti Barat maupun Indonesia. Study Islam dan Tengger akhirnya dibahas pada situasi yang lebih umum, yaitu mengenai Islam dengan budaya lokal. Banyak peneliti diantanya seperti Geertz. Wordward. Hefner, peacock serta Mulder meneliti relasi antara Islam dan budaya lokal. Pandapat pertama yaitu Geertz yang menyatakan masyarakat Jawa dianggap tidak benar-benar dalam memeluk agama Islam. 50 kecuali hanya beberapa komunitas muslim yang secara sungguh-sungguh memeluk Islam sebagai keyakinanya. Menurut Geertz beberapa komunitas tersebut adalah kelompok kecil dari pedangang yang sudah menenggelami proses Sebagian besar lainnya merupakan masyarakat Jawa yang dinilai kurang sungguh-sungguh dalam meyakini Islam. Islam sebagai sistem agama, dimaknai Geertz sebagai sesuatu yang dicampur aduk dengan sistem kepercayaan, tradisi dan budaya masyarakat Jawa dari tradisi Hindu-Budha, bahkan sistem kepercayaan lama disebutnya sebagai Islam sinkretis. Pendapat Geertz ini kemudian menuai banyak kritik dari banyak sarjana Barat diantaranya Hodgson. Menurutnya Geertz kurang mampu memahami ajaran Islam sesungguhnya. Geerz dianggapnya terpaku pada pola berfikir Islam modernis oleh sebab itu dia tidak bisa mengambarkan dimensi Islam yang luas. Geertz menganggap bahwa Islam berlatarbelakang Hindu-Budha sehingga secara serampangan ia mengklaim bahwa kehidupan keagamaan Islam di Jawa adalah Hindu. Hodgson menegaskan bahwa sistem kepercayaan Islam yang kompleks akan menghantarkan pada kejayaan masa Pendapat Geertz mengenai Islam Jawa juga diikuti serjana Barat. Mulder salah satunya, ia meneliti Islam di Banyuwanagi dan pandangannya tak jauh berbeda dengan Geertz. Menurutnya. Islam yang ada di Jawa khususnya di Banyuwangi banyak dipengaruhi oleh tradisi Hindu. Berbeda halnya dengan Clifford Geertz. AGAMA JAWA: Abangan. Santri,Priyayi Dalam Kebudataan Jawa, ed. Mahasin. Bur Rauanto, and moh. zaki, kedua . Hodgson. The Vature of Islam: Conscience and History in a World Civilization (Chicago: Universitas of Chicago Press. , 11. , hlm 551. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . Woodward ia memiliki pandangan yang berbeda dengan Geertz. Dengan risetnya yang berpusat di Yogyakarta ia membalikkan pandangan Geertz dan beranggapan Islam pada masyarakat Jawa menyimbolkan keautentikan dan subtansial seperti Islam zaman Rasulullah. Penerimaan pada tradisi diartikan sebagai fleksibilitas ajaran Islam. Beberapa praktek yang dianggap menyimpang sesungguhnya berkaitan dalam tradisi Islam. Pada fenomena ini wordward merujuk tradisi Tasawuf. Sufi, atau praktek tertentu yang terlembagakan dalam Thariqah. Woodward membagi masyarakat Islam menjadi dua. Dia mengidentifikasi dengan istilah sebagai kelompok Islam normative dan Islam normatif ditujukan terhadap masyarakat Islam di Jawa yang mengikuti madzab Timur Tenggah seperti Rasyid Ridho, dan Jamaluddin al Afghani sedangkan Islam kebatinan ditujukan kepada masyarakat Jawa yang mengakulturasi Islam dengan tradisi yang ada seperti selametan dan pemberian sesaji. Persepektif inilah yang dapat dipakai untuk menganalisis dinamika yang terjadi antara Islam dan budaya lokal Tengger. Woodward memiliki pandangan bahwa tradisi Islam di Jawa . hususnya di kawasan Yogyakart. menunjukan kepandaianya untuk mempengaruhi masyarakat Jawa. Diantara Islam dengan tradisi Jawa tidak lain merupakan akulturasi kebudayaan sebagai bentuk strategi penyiaran tanpa harus menghilangkan unsur ajaran Islam itu sendiri. Untuk memahami Islam Jawa Woodward meletakkan Tasawuf untuk memahami Islam. Watak dasar Tasawuf yang disimbolkan dengan penghormatan pada budaya lokal. fakta yang sama dipergunakan untuk memahami relasi Islam dengan Tengger. Praktik penghormatan dalam hal ini dapat ditemukan dari faktor mendasar yakni: eksistensi dukun sebagai pemimpin adat yang dilibatkan dalam perayaan agama Islam. dilibatkannya umat muslim dalam upacara-upacara adat seperti Kasada dan karo. Ketiga, masih dilestarikan penghormatan makrokosmos yang disimbolisasikan melalui gunung Bromo oleh Wong Tengger. PENUTUP Wong Tengger terkenal akan entitas masyarakatnya yang kompeten dalam membentengi tradisi, adat istiadat dan kebudayan. Di tenggah Mark R. Woodward. ISLAM JAWA: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, ed. Hairus Salim HS. Amirudin, and Nurudin. Pertama (Yogyakarta: LKIS Yogyakarta, 1. Hlm. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha Rizqi Amaliani proses metamorfosis Panjang yang mempengaruhi, mereka terbukti bergeming dalam mempertahankan tradisi yang diturunkan oleh para leluhur secara turun temurun. Berlandaskan analitis diatas peneliti menyimpulkan, hubungan antara Islam, kekuasaan, serta Tengger untuk menjaga dan merepresentasikan tradisi kebudayaan dikategorikan menjadi dua: pertama, relasi antara Islam, kekuasaan, dan Tengger, mempunyai karakteristik yang adaptif, fleksibel, dan lentur dalam menerima perubahan yang datang. Kekuasan pemerintah yang dinilai memaksa dan kedatangan Islam yang awalnya dianggap intimidasi bagi Wong tengger. Namun, dengan strategi mereka. Wong Tengger akhirnya sanggup untuk beradaptasi dengan fleksibel. Fenomena ini menunjukan relasi Islam dan Tengger yang dianggap sebagai hubungan artifisial. Hal tersebut dikarenakan penerimaan Wong Tengger yang terkesan hanya bersifat simbolik atau dianggap sebagai Islam singkretis seperti dalam analisis Geertz. Kedua, dibalik watak Wong Tengger yang fleksibel bukan berarti tidak sungguh-sunggah dalam proses Kehadiran Islam oleh Wong Tengger sesungguhnya tercerna secara subtansial menggunakan akulturasi budaya lokal antara Islam dengan budaya asli Tengger. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 TRADISI SEBAGAI REPRESENTASI WONG TENGGER . DAFTAR PUSTAKA