INFOKES, VOL 8 NO 2, September 2018 ISSN : 2086 - 2628 FAKTOR PERSONAL DAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH REMAJA Winarni Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah Surakarta bunda.aya06@gmail.com Abstrak Latar belakang Masa remaja merupakan masa peralihan dimana terjadi perubahan fisik, mental, dan psikososial secara cepat, yang akan berpengaruh terhadap perilaku seseorang, antara lain perilaku seks pranikah pada remaja. Salah satu faktor yg mempengaruhi terhadap perilaku seksual pranikah remaja adalah faktor personal, yang didalamnya termasuk harga diri dan pengendalian diri. Tujuan untuk mengetahui pengaruh factor personal terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja SMA di Kota Surakarta. Metode Jenis penelitian menggunakan observasional analitik. Populasi adalah remaja SMA di Kota Surakarta. Teknik sampling yang digunakan proporsional random sampling. Sampel diambil 103 responden. Analisis data menggunakan uji t untuk bivariate dan regresi linier ganda untul multivareat Hasil ada pengaruh harga diri dengan perilaku seks pranikah dimana p 0,002 < 0,05, semakin tinggi harga diri siswa maka semakin mengurangi perilaku seksual pranikah. Ada pengaruh pengendalian diri dengan perilaku seksual pranikah dimana p 0,300 > 0,05, yang berarti tidak ada pengaruh pengendalian diri terhadap perilaku seksual pranikah. Hasil uji F 6,596; p <0,001 < 0,05 yg bearti secara bersamasama harga diri, pengendalian diri mempunyai pengaruh terhadap perilaku seksual pranikah. Simpulan faktor personal (harga diri dan pengendalian diri) berpengaruh terhadap perilaku seksual pranikah sebesar 14,1%, sedangkan sebesar 86,9% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian. Kata kunci : Faktor personal, Perilaku seksual, Remaja PERSONAL FACTORS AND ADOLESCENT PREMARITAL SEXUAL BEHAVIOR Winarni High School Health Sciences ' Aisyiyah Surakarta bunda.aya06@gmail.com Adolescence is a transitional period in which the change occurred physical, mental, and psychosocial quickly, which will have an effect on a person's behavior, such as premarital sex behaviors in teenagers. One of the factors influencing adolescent premarital sexual behavior is the personal factor, which it includes self-esteem and self-control. The objective of this study aims to know the influence of personal factors against teens’ premarital sexual behavior in High School of the Surakarta city. This study was an observational analytic. The population of this study was teenagers in High School in Surakarta city. The sampling technique used proportional random sampling. Samples were taken as many as 103 respondents. Data analysis used the t-test for bivariate and linear regression for multivariate. Based on the result of this study showed there are influences of self-esteem with premarital sex behaviors where p 0.002 < 0.05, the higher the students' self-esteem the lower the premarital sexual behavior. There is selfcontrol influence with premarital sexual behavior where p 0.300 > 0.05, which means there is no influence of self-control against premarital sex behaviors. Test result of F test 6.596; p <0.001<0.05, it means the self-esteem and self-control had premarital sexual behavior influence. Personal factors (the self-esteem and self-control) effect on the premarital sexual behavior of 14.1%, meanwhile of 86.9% are affected by other variables outside of a research model. Keywords: personal factors, sexual behavior, adolescence PENDAHULUAN Masa pergantian dari anak menuju dewasa dikenal dengan masa remaja, pada periode ini banyak terjadi perubahan dari berbagai kondisi seperti fisik mental dan psikososial. Perkembangan emosi ditandai dengan emosional yang meledak–ledak dan sulit dikendalikan, sehubungan dengan konflik peran sedang terjadi pada masa tersebut Apabila remaja tersebut tidak berhasil mengatasi situasi ini, maka remaja akan terperangkap masuk dalam perilaku negatif, diantaranya penyalahgunaan narkoba dan perilaku seks bebas (Zulhaini dan Nasution, 2011). Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan Perilaku seks dikalangan remaja bisa berakibat meningkatnya kejadian kehamilan tidak dikehendaki, yang akan berakibat angka kejadian aborsi meningkat, dan juga peningkatan angka kejadian HIV dan AIDS. Terbukanya akses informasi tentang seks bebas di masyarakat merupakan faktor penyebab, karena remaja selalu punya keinginan lebih untuk mencari informasi mengenai seks. Sumber informasi yang mereka akses diperoleh melalui media televisi, koran, radio dan internet, yang berpengaruh terhadap pergaulan remaja dengan lawan jenis (Suwarni, 2009; Sari, 2012). 80 INFOKES, VOL 8 NO 2, September 2018 Malhotra (2008) melaporkan bahwa sekitar 40% remaja usia 15-19 tahun dan sebesar 75% remaja usia 20-24 tahun telah melakukan seksual pranikah. Setiap tahun terjadi sekitar 9 juta kasus penyakit menular seksual (IMS) terjadi pada usia 15-24 tahun. Remaja usia 15-19 yang terkena kasus HIV sebanyak 2,036 kasus, sedangkan sebanyak 6,327 kasus HIV terjadi pada 20-24 tahun (Richards, 2013). Di Kota Surakarta remaja SMU pernah melakukan ciuman bibir 10,53%, melakukan ciuman dalam 5,6%, melakukanonani atau masturbasi 4,23%, dan melakukan hubungan seksual 3,09% (Darmasih et al, 2011). Remaja terjerumus dalam seks bebas salah satu penyebabnya adalah kepribadian yang lemah. Harga diri rendah, ekspresi diri kurang, daya tahan terhadap tekanan rendah, kurang menghargai hak dan kewajiban orang lain, pengendalian emosi kurang apabila terjadi konflik tidak bias mengatasi dengan baik inilah ciri dari kepribadian serang individu yang lemah (Hidayat, 2013; Alwisol, 2014). Evaluasi dilakukan oleh diri sendiri dan bertujuan untuk menilai kemampuan yang di miliki merupakan cerminan harga diri seseorang. Seorang individu melakukan penilaian dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain lingkungan dimana individu dibesarkan, lingkungan masa kecil akan berpengaruh terhadap pengalaman seseorang dalam menghadapi kehidupan agar bias mengontrol dirinya. Harga diri dikatakan berhasil apabila diakui dan bisa diterima oleh orang lain, serta seseorang bisa mengontrol dirinya dalam kehidupan sehari hari. Penegendalian diri merupakan aspek penting dalam kepribadaian. Presepsi individu tentang penyebab kejadian yang muncul dalam kehidupannya. Pengendalian dari dalam yang tinggi akan mengontrol individu dengan baik dalam berperilaku dan akan terus mencari informasi yang berhubungan tentang dirinya, sedangkan pengendalian diri dari luar berpengaruh terhadap kehidupan seseorang menjadi lebih fleksibel, santai dan bahagia (Susanti, 2012; Neill, 2009). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor personal harga diri dan pengendalian diri terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja SMA di Kota Surakarta. ISSN : 2086 - 2628 TINJAUAN PUSTAKA Seks sebelum nikah adalah salah satu masalah kesehatan reproduksi yang dilakukan di antara pemuda (Adeoye et al, 2012 ). Perilaku seks pranikah adalah tingkah laku yang berhubungan dengan dorongan seksual dengan lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan sebelum adanya pernikahan (Kustanti, 2013). Perilaku seksual pranikah adalah kegiatan seksual yang melibatkan dua orang yang saling menyukai atau saling mencintai, yang dilakukan sebelum perkawinan (Banun dan Setyorogo, 2013). Faktor yang menyebabkan perilaku seks pranikah pada remaja menurut Sarwono (2011) antara lain adalah : pengetahuan, meningkatnya libido seksual, media informasi, norma agama, orang tua, pergaulan semakin bebas. Suryoputro, et al (2006) menyatakan bahwa perilaku seksual manusia dapat dibedakan oleh dua hal yang saling berhubungan antara faktor personal/individu dan faktor lingkungan. Pengetahuan HIV/AIDS, Penyakit Menular Seksual (PMS), aspek-aspek kesehatan reproduksi, sikap terhadap layanan kesehatan seksual & reproduksi, kerentanan yang dirasakan terhadap resiko kesehatan reproduksi, gaya hidup, pengendalian diri, aktifitas sosial, rasa percaya diri dan variabel-variabel demografi seperti: usia, agama dan status perkawinan, merupakan factor personal dari seorang indivudu. Sumber-sumber informasi, sosial-budaya, nilai dan norma sebagai pendukung sosial untuk perilaku tertentu, merupakan factor dari luar atau disebut juga factor linkungan. Suatu penilaian dan pemikiran mengenai pantas diri disebut harga diri (self-esteem). Penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dari dengan menganalisis seberapa benyak kesamaan tingkah laku dengan edial diri disebut juga harga diri seseorang (Prameswari, et al, 2013). Harga diri merupakan suatu evaluasi atau hasil penilaian yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap kemampuan yang dimilikinya. Penilaian yang dilakukan oleh individu dipengaruhi pengalaman yang diperoleh dari lingkungan sejak masih kecil (Susanti, 2012). Harga diri merupakan rasa nilai diri seseorang yang berasal dari seluruh pemikiran, perasaan, sensasi dan pengalaman yang telah terkumpul selama kehidupan dan sebagai dasar dari pertumbuhan positif dalam hubungan kemanusiaan, belajar kreatifitas dan tanggung jawab pribadi (Cipto dan Kuncoro, 2010). Menurut Coopersmith (dalam Ghufron & Risnawati, 2009), ada dua kelompok factor yang mempengaruhi harga diri, yaitu factor internal seperti jenis kelamin, kepandaian, kondisi fisik seseorang, ideal diri, identitas, peran, sedangkan factor sksternal seperti lingkungan social, keluarga dan kondisi kesehatan. Penegendalian diri merupakan aspek penting dalam kepribadaian. Pusat pengendalian diri adalah presepsi individu tentang penyebab kejadian yang muncul dalam kehidupan. Penyebab tersebut dapat dianggab muncul dari dalam individu tersebut (pusat pengendalian diri dari dalam) dan kekuasaan diluar dirinya atau nasib (pusat pengendali diri dari luar). Pusat pengendalian diri dari dalam dapat juga disebut sebagai pengaruh diri, kontro pribadi, penentu diri Seorang individu akan memiliki control yang lebih baik terhadap perilaku mereka apabila memiliki pusat pengendalian diri dari dalam tinggi. Kopetensi, keyakinan, serta punya kesempatan yang baik dalam mengendalikaan Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan 81 INFOKES, VOL 8 NO 2, September 2018 ISSN : 2086 - 2628 perilaku mereka, merupakan ciri individu yang mempunnyai pengendalian diri dari dalam tinggi, sehingga seorang individu bisa sukses dalam mengendalikan perilakunya. Orang yang tidak memiliki kompetensi, keyakinan, dan kesempatan yang baik dapat menjadi neurotic, cemas, dan depresi. Orang yang mempunyai pusat pengendali diri dari dalam sebaiknya realistis untuk mencapai kesuksesan, sedangkan orang yang memiliki pusat pengendalian diridari luar dapat memiliki kehidupan yang fleksibel, santai , dan bahagia (Neill, 2009). METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel, dengan pendekatan waktu cross sectional. Pengambilan sampel dalam penelitian ini mengunakan proporsional random sampling , didapatkan 103 responden, dilakukan secara acak sederhana yaitu dengan mengundi anggota populasi dari siswa dan siswi dari tiga SMA yang berada di Kota Surakarta, berjumlah 810 siswa. Variabel yang diteliti yaitu: faktor personal yang berupa harga diri dan pengendalian diri (Variabel bebas) dan Perilaku seks pranikah remaja SMA (Variabel terikat) Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dengan pertanyaan tertutup (closed ended) dan bentuk pertanyaan Dichotommous choice. Data yang digunakan dalam penelitian merupakan primer yaitu data yang digali oleh peneliti langsung dari responden dengan menggunakan kuesioner. Dalam pengisian kuesioner, sebelumnya responden di beri penjelasan tentang cara mengisi dan informconcent. Tehnik pengolahan data meliputi editing, coding dan tabulating. Analisis Data menggunakan Analisis univariat mendeskripsikan variabel bebas faktor personal (harga diri dan pengendalian diri) dan Variabel terikat perilaku seksual pranikah. Analisis bivariat Untuk membuktikan signifikansi pengaruh dua varibel menggunakan uji t , Kriteriat pengujian yaitu : Ho diterima apabila p value  0,05; Ho ditolak apabila p value< 0,05 (Sugiyono, 2016). HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Data Variabel Harga Diri Data statistik deskriptif variabel harga diri dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut : Tabel 1. Statistik Deskriptif Harga Diri Mean 33.05 Median 33.00 Modus 32.00 Stdev 3.07 Min 19,00 Max 42,00 Data statistik deskriptif pengendalian diri dapat dilihat pada tabel 2. sebagai berikut : Mean 32,34 Median 33,00 Tabel 2. Statistik Deskriptif Pengendalian Diri Modus Stdev Min Max 34,00 3,36 56,00 75,00 Data statistik deskriptif perilaku seksual pra nikah remaja dapat dilihat pada tabel 3. sebagai berikut : Tabel 3. Statistik Deskriptif Perilaku Seksual JK P L Berpelukan Ya Tidak 23 42 16 21 Berciuman Ya Tidak 32 23 29 9 Meraba Ya Tidak 18 47 22 16 Perilaku seks pranikah merupakan tingkah laku yang dilakukan sebelum adanya pernikahan yang berhubungan dengan dorongan seksual individu dengan sesame jenis maupun lawan jenis.(Kustanti, 2013). Perilaku seks di kalangan remaja saat ini sangat mengkhawatirkan, terbukti dari hasil penelitian pada Tabel 2. menunjukkan remaja SMA telah melakuakan petting 5 respoden (4,85%), oral sek 2 responden (1,94%), intercourse 2 reponden (1,29%) dari 103. Menurut Sarwono (2011) remaja memperoleh motivasi dari peningkatan limbido, hal ini berkaitan erat dengan kedewasaan fisik Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan Petting Ya Tidak 1 64 4 34 Oral Seks Ya Tdk 0 65 2 36 Intercourse Ya Tidak 0 65 2 36 dalam upaya mengisi peran sosial remaja. Pengetahuan kesehatan reproduksi yang kurang pada remaja yang sedang mengalami kematangan seksual secara lengkap, bimbingan dan arahan orang tua yang kurang mengenai kesehatan reproduksi terutama tentang dampak perilakuseks pranikah, menjadikan mereka kesulitan mengendalikan rangsangan rangsangan yang berakibat melakukan perilaku seksual secara bebas tanpa memikirkan resiko yang terjadi. Keadaan tersebut terjadi kebayakan dikota kota besar, karena di lingkungan perkotaan cenderung terjadikebebasan bergaul antar lawan jenis. Media masa merupakan salah satu media penyebaran informasi yang mudah diakses oleh para remaja, dengan adanya tehnologi canggih saat 82 INFOKES, VOL 8 NO 2, September 2018 ISSN : 2086 - 2628 ini informasi bisa diakses dari internet secara terkesan menabukan tentang masalah seks dan terbuka dan mudah. Selain media internet televisi, seksualitas sering menjadi kendala yang membuat majalah, dan video sangat mudah mereka anak cenderung membuat jarak dengan orang dapatkan. Pengetahuan tentang seksualitas yang tuanya, sehingga anak lebih senang mencari tahu kurang, membuat remaja cenderung melakukan hal dari teman sebaya atau media internet. Pemantauan coba coba dan meniru dari apa yang mereka lihat orang tua pada masa ini sangat dibutuhkan, dan dengar, sering mengabaikan dampak dari sehingga penyimpangan perilaku seksual semakin perilaku tersebut. Pada fase ini pengetahuan dan berkurang. bimbingan dari orang tua sangat dibutuhkan oleh remaja, pengetahuan orang tua yang kurang dan Pengaruh Harga Diri Terhadap Perilaku Seks Pranikah. Tabel 4 Hubungan Harga Diri dengan Perilaku Seksual Pranikah CI 95% Variabel p b t Batas Batas bawah atas Harga Diri -0,33 -3,51 -0,52 -0,14 N observasi 113 0,001 R Square 10,9% Adjusted R Square 10,0% Tabel 4 menunjukkan ada hubungan negatif Hasil penelitian ini juga sesuai dengan dan secara statistik signifikan antara harga diri Richards (2013) menyatakan bahwa individu yang dengan perilaku seks pra nikah (thitung -3,51; CI memiliki harga diri yang positif adalah individu 95% -0,52 hingga -0,14; p = 0,001), maka Ho yang bias menghargai dirinya sendiri. Apabila ditolak. seseorang memiliki keterbatasan dan berkeinginan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada untuk mengembangkan diri ini merupakn ciri pengaruh harga diri dengan perilaku seks pranikah individu yang memiliki harga diri yang tinggi. p value 0,001< 0,05. Berarti bahwa semakin tinggi Individu yang mempunyai harga diri yang rendah harga diri siswa maka semakin mengurangi cenderung merasa kurang puas, kurang mampu, perilaku seksual pranikah. Pernyataan ini kurang berharga, tak berdaya dan rendah diri. didukung oleh penelitian terdahulu dari Morris, Pada individu yang mempunyai harga diri rendah Young dan Jones (2010), bahwa harga diri lebih sering mengikatkan diri dengan kelompok sebaya, tinggi bila tidak melakukan hubungan seksual karena individu tersebut akan merasa dianggab sebelum menikah. Hasil penelitian ini mendukung dan diakui keberadaannya pada lingkungan penelitian Hidayat (2013), yang mengatakan harga kelompok tersebut. diri berpengaruh terhadap perilaku seksual remaja berpacaran. Pengaruh Pengendalian Diri Terhadap Perilaku Seks Pranikah. Tabel 5. Hubungan Penegendalian Diri Dengan Perilaku Seksual Pranikah CI 95% Variabel p b t Batas Batas bawah atas Pengendalian diri -0,02 0,20 -0,16 0,20 N observasi 103 0,844 R Square 10,0% Adjusted R Square 00,0% Tabel 5. menunjukkan ada hubungan negatif dan secara statistik tidak signifikan antara pengendalian diri dengan perilaku seks pra nikah (thitung 0,20; CI 95% -0,16 hingga 0,20; p = 0,844), berarti tidak ada pengaruh pengendalian diri terhadap perilaku seks pranikah. Pusat pengendali diri adalah persepsi individu tentang penyebab kejadian yang muncul dalam kehidupannya. Penyebab tersebut dapat muncul dari dalam diri individu (pusat pengendali diri dari dalam) dan dari kekuasaan di luar dirinya atau nasib (pusat pengendalian diri dari luar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pengendalian diri dengan perilaku seksual pranikah diperoleh pvalue 0,844 > 0,05. Yangberarti tidak ada pengaruh pengendalian diri terhadap perilaku seks pranikah. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Mc. Kinney pada sejumlah remaja usia 18-23 tahun di Madinson, Amerika Serikat, bahwa pusat pengendali diri tidak berngaruh dengan perilaku seksual (Sarwono,2011) Menurut beberapa ahli pengendalian diri dari dalam cenderung mempunyai peran control lebih kuat dari pada pusat pengendalian diri dari luar, sehingga mereka lebih mampu mengendaliakan diri agar tidak melakukan tindakan seksual pranikah. Mereka cenderung mempunyai Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan 83 INFOKES, VOL 8 NO 2, September 2018 ISSN : 2086 - 2628 keyakian yang kuat, bahwa usahanya tersebut kesuksesan apabila orang tersebut memiliki akan sukses, didertai keaktifan dalam mencari pengendalian diri dari dalam, sedangkan individu informasi tentang diri mereka. Beberapa akan memiliki kehidupan yang santai, fleksibel, penelitian juga menemukan fakta individu yang dan bahagia apabila memiliki pusat pengendalian mempunyai pusat pengendalian diri dalam dapat dari luar (Neil, 2009). juga mengalami keadaan yang labil. Seseorang Uji hipotesis dalam penelitian ini yang memiliki pengendalian diri dari dalam menggunakan regresi linier ganda digunakan harus yakin dapat sukses dalam mengendalikan untuk mengetahui hubungan harga diri, efikasi perilakunya karena mempunnyai kopetensi, diri, dan pengendalian diri dengan perilaku seks kesempatan, sera keyakinan bahwa dia akan pra nikah. Perhitungan menggunakan program berhasil. Tetapi orang yang tidak memiliki SPSS. Hasil uji regresi linier ganda adalah sebagai kopetensi, keyakinan, dan kesempatan yang baik, berikut : dapat menjadi neorotik cemas dan depresi. Seorang individu akan realistis untuk mencapai Tabel 6. Regresi Linear Ganda Persamaan B t p Confidence Interval 95% Constanta 15,416 2,341 0,021 24,16 28,48 Harga diri -0,306 -3,105 0,002 -0,502 -0,111 Pengendalian diri 0,091 1,042 0,300 -0,083 0,265 R2 = 0,167 F hitung = 6,596 Adjuted R = 0,141 Sig =< 0,001 Nilai koefisien regresi harga diri sebesar -0,306 dan bertanda negatif, berarti Harga diri semakin tinggi maka perilaku seksual pranikah semakin berkurang. Nilai koefisien pengendalian diri sebesar 0,091 dan bertanda positif, tetapi tidak berpengaruh pada perilaku seks pranikah (p = 0,300). Untuk mengetahui pengaruh harga diri, pengendalian diri terhadap perilaku seksual pranikah secara bersama-sama dengan menggunakan uji F. Hasil uji F dapat dilihat pada tabel 6. dimana diperoleh nilai F hitung F 6,596 dengan p value <0,001 < 0,05; sehingga harga diri, pengendalian diri mempunyai pengaruh terhadap perilaku seksual pranikah secara bersama-sama. Hasil koefisien determinasi pada table 6 hasil sebesar 0,141, yang artinya bahwa variabel harga diri, dan pengendalian diri berpengaruh terhadap perilaku seksual pranikah sebesar 14,1%, sedangkan sebesar 86,9% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian. Perilaku seksual pra nikah remaja dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain pengetahuan yang kurang tentang kesehatan reproduksi yang sudah mulai berkembang kematangan seksual secara lengkap, penyebaran media informasi dan rangsangan seksual melalui media massa. Remaja cenderung ingin tahu,ingin mencoba, ingin meniru apa yang dilihat dan didengar. Kurangnya pengetahuan orang tua, juga sikap menabukan pembicaraan seks, membuat anak cenderung membuat jarak, yang berakibat pengetahuan remaja tentang seksualitas sangat kurang, hal ini menjadi pendorong remaja melakukan perilaku seksual secara bebas tanpa mengetahui resiko-resiko yang terjadi. Perilaku sek pada remaja tersebut bisa berdampak pada kejadian KTD, aborsi dan HIV/AIDS semakin Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan tahun semakin meningkat. Keadaan ini dipengaruhi juga adanya pergeseran sikap yang lebih permisif pada hubungan seksual yang terjadi di masa remaja (Sarwono, 2011; Suwarni, 2009; Sari, 2012). KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa: Ada pengaruh harga diri dengan perilaku seksual pranikah (b1 = -0,306; CI 95%; -0,502 hingga 0,111; p = 0,002). Hasil koefisien regresi harga diri bernilai negatif yang berarti bahwa semakin tinggi harga diri siswa maka semakin mengurangi perilaku seksual pranikah. Tidak ada pengaruh pengendalian diri dengan perilaku seksual pranikah (b3 = 0,091; CI 95%; -0,083 hingga 0,265; p = 0,300). Hasil koefisien regresi pengendalian diri bernilai positif yang berarti bahwa meskipun tinggi pengendalian diri siswa tidak akan berpengaruh terhadap perilaku seksual pranikah. Ada pengaruh faktor personal (harga diri, efikasi diri, pengendalian diri) dengan perilaku seksual pranikah (F = 6,596; CI 95%; 24,16 hingga 28,48; p < 0,000; R2 = 16,7%). Berdasarkan hasil penelitian diatas penulis menyarankan: Institusi Pendidikan, agar lebih aktif berperan dalam bimbingan dan konseling, penanganan pada siswa dengan bekerjasama dengan instansi terkait seperti Dinas Kesehatan dan Kepolisian untuk pemberian pendidikan kesehatan bahaya seks bebas kepada siswa. Orang tua memberikan waktu luang lebih banyak untuk mendampingi anak remaja. DAFTAR PUSTAKA Adeoye, Ayodele, O, Omolayo, O and Bose, A. 2012. Prevalence of premarital sex and factors influencing it among students in a 84 INFOKES, VOL 8 NO 2, September 2018 ISSN : 2086 - 2628 private tertiary institution in Nigeria. International Journal of Psychology and Counselling Vol. 4(1), pp. 6-9. Alwisol. 2014. Psikologi Kepribadian. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang. Banun, FOS dan Setyorogo, S. 2013. FaktorFaktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada Mahasiswa Semester V STIKes X Jakarta Timur 2012. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 (1), pp : 12-19. Cipto dan Kuncoro, J. 2010. Harga Diri Dan Konformitas Terhadap Kelompok Dengan Perilaku Minum Minuman Beralkohol Pada Remaja, Proyeksi, Vol. 5 (1), 75-85 Darmasih, R., Setiyadi, NA., Gama, T.A. 2011. Kajian Perilaku Sex Pranikah Remaja SMAdi Surakarta. Jurnal Kesehatan. Vol. 4, No. 2 : pp 111-119. Ghufron dan Risnawati. 2009. Teori-Teori Psikologi. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media. Hidayat, K. 2013. Pengaruh Harga Diri dan Penalaran Moral Terhadap Perilaku Seksual Remaja Berpacaran di SMK Negeri 5 Samarinda. eJournal Psikologi, Vol 1 No. 1, pp : 80 – 87. Kustanti, ER. 2013. Intensi Melakukan Seks Pranikah Pada Mahasiswa Ditinjau Dari Efektivitas Komunikasi Interpersonal Orangtua-Anak.Prosiding Seminar Nasional Parenting. Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro. Malhotra S. 2008. Impact of the Sexual Revolution: Consequences of Risky Sexual Behaviors. Journal of American Physicians and Surgeons.;13(3):88-102. Morris, J., Young, M., dan Jones, C. 2010. SelfEsteem and Adolescent Sexual Behavior Among Students at an Elite Bolivian School. The International Electronic Journal of Health Education. Vol.3, No.1, pp: 36-43 Neill J. 2009. Behavior Change Theories and Models. (serial online). http://www.csupomona.edu/jvgrizzel/bestpractices/bctheory.html. Neil J. 2009.What is Locus of Control? (Serial Online) http://wilderdom.com/psychology/loc/Locu sOfControlWhatIs.html. Prameswari, SPI., Aisah, S., Mifbakhuddin. 2013. Hubungan Obesitas Dengan Citra Diri Dan Harga Diri Pada Remaja Putri Di Kelurahan Jomblang Kecamatan Candisari Semarang. Jurnal Keperawatan Komunitas.. Volume 1, No. 1, pp ; 52-61 Richards, NM. 2013. Parental Care, Control, and Communication About Sex: Te Relation to Risky Sexual Behaviors and Relationship Style in Emerging Adults. Senior Honors Teses. Paper 345.Honors Colege Sari, CP. 2012. Harga Diri Pada Remaja Putri Yang Telah Melakukan Hubungan Seks Pranikah. Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma, pp : 1-14 Sarwono, SW. 2011. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Saryono. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Afabeta Suryoputro, A., Ford, NJ., Shaluhiyah, Z. 2006. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja di Jawa Tengah: Implikasinya Terhadap Kebijakan Dan Layanan Kesehatan Seksual Dan Reproduksi . Makara Kesehatan Vol 10 No. 1, pp : 29-40 Susanti. 2012. Hubungan Harga Diri dan Psychological Well Being Pada Wanita Lajang Ditinjau dari Bidang PEkerjaan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. Vol 1 No. 1 : pp 1-8. Suwarni, L. 2009. Monitoring Parental dan Perilaku Teman Sebaya Terhadap Perilaku Seksual Remaja SMA Di Kota Pontianak. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia. Vol. 4 No. 2 : pp 127-133 Zulhaini dan Nasution, M. 2011. Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perilaku Seks Pranikah Pada Siswa Kelas XI Di SMA Negeri 6 Binjai. Intelektual Vol.6 No.1, pp : 43-51 Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan 85