PETROGAS: Journal of Energy and Technology Vol. No. Oktober 2025, pp. e-ISSN - 2656-508 KARAKTERISASI KITOSAN DARI KULIT UDANG SEBAGAI BIOPOLIMER RAMAH LINGKUNGAN UNTUK APLIKASI ENHANCED OIL RECOVERY Muhammad Syaiful Nur MaAoarif 1*. Muhammad Rizqie Fathan Rahman 1. Baiq Maulinda Ulfah1. Abdi Suprayitno1 1Teknik Perminyakan. STT MIGAS BALIKPAPAN *E-mail: Syaifularif593@gmail. ABSTRACT The present study investigates the potential of shrimp shell waste as a biopolymer for Enhanced Oil Recovery (EOR) in cases where the salt content of the oil is high. A series of experimental studies was conducted, utilising a range of concentrations of chitosan 5,000Ae15,000 mg/L in conjunction with 10,000 and 20,000 mg/L NaCl solutions. The assessment of the stability and interaction of the polymer with porous media was conducted through the utilisation of compatibility tests. UV-Vis spectrophotometry-based concentration analysis, and batch system adsorption tests on 40 mesh silica sand media. The outcomes of the study demonstrated that all solutions maintained clarity without the formation of precipitates up to a salinity of 20,000 mg/L, indicating high stability in a strong ionic environment. The adsorption capacity exhibited an upward trend with increasing both concentration and salinity, reaching a maximum value of 14. mg/g at a concentration of 20,000 mg/L NaCl. This increase is due to electrostatic interactions between the amine groups of the chitosan and the silica surface, enhanced by Na /Cl- ions. conclusion, chitosan possesses considerable potential as an environmentally friendly, stable biopolymer for sustainable EOR applications. Keywords: Chitosan. Enhanced Oil Recovery. Biopolymer. Adsorption. Salinity ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi perilaku kitosan hasil ekstraksi limbah kulit udang sebagai biopolimer alternatif untuk aplikasi green Enhanced Oil Recovery (EOR) pada kondisi salinitas Studi eksperimental dilakukan menggunakan variasi konsentrasi kitosan 5. 000Ae15. mg/L yang dicampurkan dengan larutan NaCl 10. 000 dan 20. 000 mg/L. Uji kompatibilitas, analisis konsentrasi berbasis spektrofotometri UV-Vis, serta uji adsorpsi batch system pada media pasir silika 40 mesh digunakan untuk menilai stabilitas dan interaksi polimer terhadap media berpori. Hasil menunjukkan bahwa seluruh larutan tetap jernih tanpa pembentukan endapan hingga 000 mg/L, menandakan stabilitas tinggi terhadap lingkungan ionik kuat. Kapasitas adsorpsi meningkat seiring kenaikan konsentrasi dan salinitas, dengan nilai maksimum 14,13 mg/g pada kondisi 20. 000 mg/L NaCl. Peningkatan ini dikaitkan dengan mekanisme interaksi elektrostatik antara gugus amina kitosan dan permukaan silika, diperkuat oleh efek charge screening ion NaA/ClA. Secara keseluruhan, kitosan menunjukkan potensi tinggi sebagai biopolimer ramah lingkungan yang stabil untuk aplikasi EOR berkelanjutan. Kata kunci: Kitosan. Enhanced Oil Recovery. Biopolimer. Adsorpsi. Salinita Artikel diterima 06 Oktober 2025. Online 30 Oktober 2025. PETROGAS: Journal of Energy and Technology Vol. No. Oktober 2025, pp. PENDAHULUAN Industri minyak dan gas bumi . global tengah menghadapi tantangan signifikan berupa penurunan laju produksi alamiah . eclining production rat. serta meningkatnya tekanan regulasi lingkungan. Dalam konteks tersebut, teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) menjadi strategi penting untuk memperpanjang umur reservoir sekaligus meningkatkan faktor perolehan minyak yang diinginkan. Selama beberapa dekade, praktik EOR masih banyak bergantung pada polimer sintesis seperti partially hydrolyzed polyacrylamide (HPAM) dan surfaktan kimia. Meskipun efektif, material tersebut dikritik karena tidak mudah terurai di lingkungan . , berpotensi menimbulkan efek toksik, serta memerlukan biaya tinggi relatif tinggi (Muhammed et al. , 2020. Tackie-Otoo et al. , 2. Seiring meningkatnya kesadaran terhadap aspek keberlanjutan, arah penelitian kini bergeser pada konsep Green EOR (GEOR), yaitu pemanfaatan material alami yang ramah lingkungan namun tetap mampu efektif dalam kondisi reservoir (Haq et al. , 2022. Kothawade et al. , 2. Salah satu biopolimer yang mendapat perhatian luas adalah kitosan, hasil deasetilasi dari kitin yang banyak terkandung dalam limbah kulit udang (Boominathan & Sivaramakrishna, 2. Sebagai negara maritim. Indonesia menghasilkan limbah perikanan dalam jumlah besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Konversi limbah tersebut menjadi kitosan tidak hanya mendukung konsep circular economy, tetapi juga menghasilkan polimer alami yang biodegradable, tidak beracun, serta memiliki kompatibilitas tinggi dengan kondisi reservoir (Gopal et al. , 2019. Setiati et al. , 2. Awalnya kitosan lebih banyak digunakan dalam bidang pangan, kesehatan, dan pengolahan lingkungan, namun kajian terkini menunjukan potensinya dalam sektor energi. Sifat khas kitosan memiliki kemampuan meningkatkan viskositas larutan, menekan mobilitas air, dan berinteraksi dengan media berpori melalui mekanisme adsorpsi (Liu & Lai, 2019. Sakthivel et al. , 2. Sejumlah penelitian mutakhir juga mendukung potensi kitosan untuk digunakan dalam sistem EOR. Sakthivel et al. melaporkan bahwa kitosan larut air menunjukkan performa baik di reservoir karbonat yang kompleks, sementara Ulfah et al. menegaskan prospek kitosan sebagai biopolimer alternatif dengan efektivitas yang sebanding dengan polimer sintetis. Hasil eksperimen di Indonesia pun memperlihatkan bahwa kitosan dari limbah udang dan kepiting menunjukkan stabilitas tinggi pada berbagai kondisi salinitas, dengan perilaku adsorpsi yang mengikuti model isoterm Langmuir maupun Freundlich, bergantung pada lingkungan ionik reservoir (Ulfah et al. , 2. Artikel diterima 06 Oktober 2025. Online 30 Oktober 2025. PETROGAS: Journal of Energy and Technology Vol. No. Oktober 2025, pp. Meski demikian, terdapat dua tantangan utama yang masih membatasi implementasi kitosan pada skala lapangan. Pertama, stabilitas larutan pada kondisi salinitas tinggi, sebab air formasi yang kaya garam dapat menurunkan viskositas polimer. Kedua, karakteristik adsorpsi kitosan pada batuan reservoir, karena tingkat adsorpsi yang terlalu tinggi berpotensi mengurangi efektivitas polimer akibat jumlah yang tersisa di dalam fluida injeksi berkurang (Sakthivel et al. , 2. Hal ini menunjukkan perlunya kajian lebih sistematis mengenai perilaku kitosan pada kondisi reservoir yang berbeda untuk memastikan kelayakan dan konsistensinya sebagai agen injeksi EOR (Hamid et al. , 2025. Ulfah et al. , 2. Sejalan dengan ketergantungan industri migas pada polimer sintetis seperti polyacrylamide (HPAM) yang berbasis minyak bumi, tidak berkelanjutan, sensitif terhadap salinitas tinggi, dan memiliki masalah lingkungan akibat biodegradabilitas rendah, penelitian ini mengangkat potensi kitosan hasil ekstraksi limbah kulit udang. Minimnya studi komprehensif mengenai karakterisasi kitosan khususnya untuk aplikasi EOR, baik dari segi performa dalam kondisi salinitas tinggi, stabilitas dalam sistem brine, maupun kompatibilitas dengan media batuan, menjadi celah penelitian yang hendak diisi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi sifat fisikokimia kitosan, mengevaluasi kompatibilitas larutan kitosan pada berbagai tingkat salinitas . 000 pp. , menganalisis stabilitas rheological sebagai fluida injeksi, serta menilai potensi aplikasinya dalam meningkatkan efisiensi penyapuan minyak dan mengurangi rasio mobilitas airminyak di reservoir. Dengan fokus ini, penelitian diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan teknologi EOR berbasis biopolimer yang efisien secara teknis, berkelanjutan secara lingkungan, dan ekonomis bagi industri migas nasional. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Sekolah Tinggi Teknologi Migas Balikpapan dan Laboratorium Institut Teknologi Kalimantan. Material utama yang digunakan adalah kitosan hasil ekstraksi dari limbah kulit udang dengan variasi konsentrasi 000, 10. 000, dan 15. 000 mg/L. Untuk mensimulasikan kondisi reservoir, larutan kitosan dicampurkan dengan NaCl pada salinitas 10. 000 dan 20. 000 mg/L. Sementara itu, pasir silika 40 mesh digunakan sebagai media berpori untuk mewakili karakteristik batuan reservoir. Uji kompatibilitas dilakukan dengan mengamati kestabilan larutan terhadap pembentukan endapan dan perubahan warna selama periode 24 jam, guna menilai stabilitas fisik kitosan di Artikel diterima 06 Oktober 2025. Online 30 Oktober 2025. PETROGAS: Journal of Energy and Technology Vol. No. Oktober 2025, pp. lingkungan salin. Uji adsorpsi dilakukan dengan metode batch system, dimana sebanyak 60 gram pasir silika 40 mesh dicampur dengan 100 mL larutan kitosan . asio solid/liquid = 1:1,67 g/mL) dalam gelas beaker. Campuran dikontakkan selama 24 jam pada suhu ruang dengan pengadukan konstan menggunakan magnetic stirrer hingga tercapai kesetimbangan adsorpsi. pH larutan tidak dikontrol selama eksperimen dan diukur pada kondisi alami. Setelah periode kontak, larutan dipisahkan dari pasir dan konsentrasi akhir dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis berdasarkan kurva standar hubungan antara konsentrasi dan absorbansi. Data hasil eksperimen kemudian dianalisis untuk menentukan kapasitas adsorpsi. Dengan pendekatan ini, penelitian memberikan dasar ilmiah bagi pemanfaatan kitosan sebagai biopolimer ramah lingkungan dalam aplikasi Enhanced Oil Recovery (EOR), sehingga mendukung pengembangan teknologi EOR yang lebih berkelanjutan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bagian ini menyajikan hasil kajian eksperimental yang dikembangkan dari penelitian sebelumnya terkait karakterisasi kitosan berbasis limbah kulit udang. Serangkaian pengujian dilakukan untuk menilai stabilitas larutan pada kondisi salinitas tinggi, mengukur konsentrasi dengan metode spektrofotometri UV-Vis, serta mengamati perilaku adsorpsi kitosan melalui sistem batch pada media pasir silika. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman awal mengenai kelayakan kitosan sebagai biopolimer ramah lingkungan pada kondisi reservoir yang Uraian hasil penelitian disusun secara bertahap, dimulai dari uji kompatibilitas, dilanjutkan dengan validasi analisis konsentrasi, dan ditutup dengan pembahasan mengenai adsorpsi pada media berpori. Kompatibilitas Kitosan pada Air Bersalinitas Tinggi Uji kompatibilitas menunjukkan bahwa larutan kitosan dengan konsentrasi 5. 000, 10. 000 mg/L tetap jernih dan tidak membentuk endapan ketika dicampurkan dengan larutan NaCl bersalinitas 10. 000 mg/L maupun 20. 000 mg/L. Hasil ini konsisten pada seluruh variasi konsentrasi sebagaimana diamati secara visual yang mengindikasikan tidak terjadinya koagulasi maupun presipitasi akibat interaksi ionik antara gugus amina kitosan dan ion NaA/ClA. Stabilitas visual tersebut memperlihatkan bahwa kitosan mampu mempertahankan integritas strukturnya dalam lingkungan ionik tinggi, suatu karakteristik yang tidak selalu dimiliki oleh polimer sintetis seperti HPAM yang cenderung mengalami penurunan viskositas pada kondisi serupa (Muhammed Artikel diterima 06 Oktober 2025. Online 30 Oktober 2025. PETROGAS: Journal of Energy and Technology Vol. No. Oktober 2025, pp. et al. , 2020. Tackie-Otoo et al. , 2. Gambar 1. Sampel larutan kitosan udang dengan NaCl 10. 000 ppm Gambar 2. Sampel larutan kitosan udang dengan NaCl 20. 000 ppm Meskipun pengamatan dilakukan secara kualitatif, tidak ditemukan indikasi perubahan warna maupun peningkatan viskositas yang berarti selama proses pencampuran. Pengamatan dilakukan segera setelah pencampuran larutan untuk mengevaluasi kompatibilitas awal. Namun, pengujian lanjutan dengan parameter kuantitatif seperti pH, turbidity, dan viskositas sebelumAe sesudah pencampuran, serta uji stabilitas jangka panjang . ging tes. selama 24Ae168 jam, direkomendasikan agar dapat memvalidasi kestabilan larutan secara lebih komprehensif. Data tersebut akan memperkuat interpretasi bahwa kitosan memiliki stabilitas fisik dan kimia yang baik pada media bersalinitas tinggi, sehingga menjadikannya kandidat potensial dalam aplikasi green polymer EOR pada reservoir dengan kadar garam tinggi. Validasi Analisis Konsentrasi dengan spektrofotometri UV-Vis Analisis konsentrasi kitosan dilakukan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Dua seri larutan standar terpisah disiapkan untuk masing-masing salinitas . 000 dan 20. mg/L NaC. guna memastikan akurasi kalibrasi pada kondisi ionik yang berbeda. Data absorbansi larutan standar (Tabel . menunjukkan tren peningkatan absorbansi yang konsisten seiring Artikel diterima 06 Oktober 2025. Online 30 Oktober 2025. PETROGAS: Journal of Energy and Technology Vol. No. Oktober 2025, pp. bertambahnya konsentrasi kitosan, membuktikan adanya hubungan linear yang kuat. Pada 000 mg/L, absorbansi meningkat dari 0,081 . 000 mg/L) menjadi 0,114 . mg/L), sedangkan pada salinitas 20. 000 mg/L, absorbansi naik dari 0,088 menjadi 0,104 untuk rentang konsentrasi yang sama. Tabel 1. Absorbansi kitosan udang dengan NaCl No Kode Larutan Salinitas . g/L) Konsentrasi . g/L) Absorbansi NCAUCA NCAUCC NCAUCE NCCUCA NCCUCC NCCUCE 0,831 0,093 0,114 0,088 0,094 0,104 Hubungan linear ini kemudian dikonfirmasi melalui kurva kalibrasi pada Gambar 3 . 000 mg/L) dan Gambar 4 . 000 mg/L). Persamaan regresi untuk salinitas 000 mg/L adalah y = 3y10AAx 0,063 (RA = 0,9. , sementara untuk salinitas 20. 000 mg/L adalah y = 2y10AAx 0,0793 (RA = 0,9. Perbedaan slope pada kedua persamaan ini mengonfirmasi pengaruh salinitas terhadap respons absorbansi, dimana lingkungan ionik yang lebih tinggi menyebabkan sensitivitas deteksi yang sedikit berbeda (Jywiak et al. , 2. Gambar 3. Kurva standar kitosan udang dengan NaCl 10000 ppm. Artikel diterima 06 Oktober 2025. Online 30 Oktober 2025. PETROGAS: Journal of Energy and Technology Vol. No. Oktober 2025, pp. Gambar 4. Kurva standar kitosan udang dengan NaCl 20000 ppm. Nilai RA > 0,97 pada kedua kondisi salinitas menunjukkan tingkat linearitas yang tinggi, membuktikan keandalan metode spektrofotometri UV-Vis untuk mengkuantifikasi kitosan dalam rentang salinitas yang diteliti. Koefisien korelasi setinggi ini diakui sebagai indikator kunci dari kalibrasi yang kuat dan terpercaya dalam validasi metode analitik untuk biopolimer (Xue et al. Validasi ini menjadi fondasi kritis bagi keakuratan perhitungan kapasitas adsorpsi pada tahap selanjutnya, sebuah prinsip yang juga ditegaskan dalam studi-studi adsorpsi yang menggunakan kitosan (Benazouz et al. , 2. Adsorpsi Kitosan pada Media Silika Hasil uji adsorpsi batch system yang ditampilkan pada Tabel 2 menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi kitosan pada pasir silika 40 mesh dipengaruhi oleh konsentrasi larutan polimer dan salinitas air formasi. Secara umum, peningkatan konsentrasi kitosan dari 5. 000 menjadi 15. mg/L menghasilkan peningkatan kapasitas adsorpsi dari 1,67 hingga 10,83 mg/g pada salinitas 000 mg/L NaCl. Pada salinitas lebih tinggi . 000 mg/L NaC. , nilai adsorpsi meningkat signifikan hingga 14,13 mg/g. Tren ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi awal larutan, semakin banyak molekul kitosan . yang tersedia untuk menempel pada permukaan padatan (Francis et al. , 2. Sementara itu, peningkatan salinitas menyebabkan penurunan viskositas larutan, sehingga mobilitas molekul meningkat dan difusi menuju permukaan adsorben menjadi lebih efisien (Yang et al. , 2. Selain itu, ukuran butiran pasir yang relatif kecil . juga memperluas luas permukaan kontak, memperkuat proses penyerapan molekul kitosan (Fathaddin et al. , 2. Artikel diterima 06 Oktober 2025. Online 30 Oktober 2025. PETROGAS: Journal of Energy and Technology Vol. No. Oktober 2025, pp. Tabel 2. Hasil adsorpsi kitosan udang dengan NaCl. Kode Larutan Salinitas . g/L) Konsentrasi g/L) NCAUCA NCAUCC NCAUCE NCCUCA NCCUCC NCCUCE Konsentrasi akhir . g/L) Setelah 40 Mesh 4333,33 10666,67 Adsorpsi Setelah 40 Mesh 1,67 7,50 10,83 9,13 12,88 14,13 Isoterm Adsorpsi Tabel 3. Nilai konstanta untuk model Langmuir dan Freundlich. Model Langmuir Freundlich Konstanta 10000 ppm -3,01659 -0,00008512 4,41469E-08 2,1023 20000 ppm 15,45595 0,001065757 1,738201018 0,2317 Berdasarkan data yang diperoleh dari pengujian isoterm adsorpsi kitosan udang pada media pasir 40 mesh dengan variasi salinitas, dapat dianalisis mekanisme adsorpsi yang terjadi. Nilai konstanta Freundlich K diperoleh yaitu sebesar 4,41469E-08 pada 10000 ppm dan 1,738201018 pada 20000 ppm, di mana hasil konstanta ini meningkat seiring dengan meningkatnya salinitas yang digunakan. Peningkatan nilai K ini mengindikasikan bahwa lingkungan ionik yang lebih tinggi secara efektif meningkatkan afinitas adsorpsi kitosan pada permukaan silika melalui mekanisme enhanced electrostatic interactions and charge screening effects (Mehri et al. , 2. Sementara nilai 1/n yang diperoleh, yaitu 2,1023 pada salinitas 10. 000 ppm dan 0,2317 pada 20. ppm, mengungkapkan perubahan mendasar dalam mekanisme adsorpsi. Nilai 1/n < 1 pada salinitas tinggi . ,2. mengonfirmasi adsorpsi yang menguntungkan . pada permukaan yang heterogen, yang konsisten dengan pembentukan lapisan multilayer (Na, 2. Sebaliknya, nilai 1/n > 1 pada salinitas rendah . ,1. mengindikasikan kondisi adsorpsi yang kurang menguntungkan . akibat perubahan afinitas permukaan dalam lingkungan ionik yang lebih rendah (Tran et al. , 2. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Kekes et al. , 2. yang Artikel diterima 06 Oktober 2025. Online 30 Oktober 2025. PETROGAS: Journal of Energy and Technology Vol. No. Oktober 2025, pp. menyatakan bahwa nilai n > 1 pada model Freundlich menunjukkan proses adsorpsi fisika yang didominasi oleh gaya van der Waals, yang implikasinya terhadap efektivitas adsorpsi adalah terbentuknya lapisan multilayer yang meningkatkan kapasitas adsorpsi secara signifikan, serta menciptakan kondisi adsorpsi yang spontan dan eksotermik. Hal ini diperkuat oleh penelitian (Nurfarhana et al. , 2. yang melaporkan bahwa nilai n > 1 pada sistem adsorpsi karbon berpori menghasilkan peningkatan kapasitas adsorpsi COCC melalui mekanisme fisika yang efektif. Pada nilai konstanta Langmuir M = 15,46595 pada 20000 ppm di mana mengindikasikan kapasitas adsorpsi maksimum yang cukup tinggi. Transisi mekanisme adsorpsi dari multilayer ke monolayer seiring peningkatan salinitas dapat dijelaskan melalui teori screening effect menurut penelitian (Luo et al. , 2. , dimana ion Na dari garam NaCl berperan dalam mereduksi tolakan elektrostatik antar molekul kitosan, sehingga memfasilitasi pembentukan lapisan monolayer yang lebih stabil. Tabel 4. AARE dan RA untuk model Langmuir dan Freundlich. Salinitas Parameter Statistik Langmuir Freundlich 10000 ppm AARE (%) -466,023 -2,749 RA 0,346 0,854 20000 ppm AARE (%) 0,014 -0,006 RA 0,999 0,976 Berdasarkan parameter statistik, model Freundlich pada salinitas 10. 000 mg/L memiliki AARE -2,749%, sementara model Langmuir pada salinitas 20. 000 mg/L menunjukkan AARE 0,014%. Nilai AARE yang mendekati nol pada model Langmuir mengkonfirmasi akurasi model yang sangat baik dalam memprediksi perilaku adsorpsi pada kondisi salinitas tinggi. Dari perspektif energi adsorpsi, nilai R2 0,999 pada model langmuir di salinitas 20000 ppm menunjukkan kesesuaian sempurna dengan karakteristik adsorpsi monolayer (Compton et al. , 2025. Yue et al. , 2. Fenomena ini disebabkan efek screening ion NaA yang menetralkan muatan permukaan pasir dan mengubah konformasi molekul kitosan menjadi lebih teratur, sehingga memfasilitasi pembentukan lapisan tunggal yang homogen. Sebaliknya, pada salinitas 10. 000 ppm dengan model Freundlich (RA 0,. , konsentrasi ion yang belum optimal memungkinkan terbentuknya adsorpsi multilayer melalui interaksi elektrostatik yang tidak homogen(Hekiem et al. Artikel diterima 06 Oktober 2025. Online 30 Oktober 2025. PETROGAS: Journal of Energy and Technology Vol. No. Oktober 2025, pp. Perbedaan mekanisme adsorpsi ini memiliki implikasi langsung terhadap aplikasi EOR. Pada reservoir bersalinitas tinggi, model Langmuir memungkinkan perhitungan kapasitas adsorpsi maksimum yang akurat untuk optimasi volume injeksi kitosan. Sementara untuk reservoir bersalinitas rendah, model Freundlich memberikan panduan dalam mendesain formulasi yang mampu membentuk lapisan multilayer untuk coverage yang lebih luas pada permukaan batuan Implikasi terhadap Aplikasi EOR Kombinasi hasil dari uji kompatibilitas, validasi analisis konsentrasi, dan uji adsorpsi memperlihatkan bahwa kitosan memiliki dua keunggulan utama: pertama larutan tetap stabil hingga 000 mg/L NaCl, tanpa menunjukan pembentukan endapan maupun perubahan warna. Kedua perilaku adsorpsi kitosan bersifat dapat diprediksi dan terkendali, sebagaimana dibuktikan oleh konsistensi hubungan antara konsentrasi awal dan kapasitas adsorpsi. Hasil ini memberikan kontribusi unik yang membedakan penelitian ini dengan literatur sebelumnya, di mana banyak biopolimer dilaporkan kehilangan stabilitas pada kondisi ionik tinggi (Sakthivel et al. , 2024. Liu & Lai, 2. Dengan demikian, penelitian ini menutup research gap mengenai keterbatasan biopolimer alami pada kondisi reservoir kompleks. Selain itu, sifat kitosan yang biodegradable, non-toksik, dan berbasis limbah perikanan mendukung prinsip circular economy, menjadikannya solusi ramah lingkungan dibandingkan polimer sintetis seperti HPAM (GarcyaCastrillo et al. , 2024. Periyannan et al. , 2. Oleh karena itu, data eksperimental yang ditunjukkan dapat menjadi landasan ilmiah penting untuk penelitian Pada akhirnya akan menentukan kelayakan kitosan sebagai agen injeksi polimer dalam sistem EOR berkelanjutan. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kitosan hasil ekstraksi limbah kulit udang memiliki stabilitas tinggi pada media bersalinitas hingga 20. 000 mg/L NaCl tanpa pembentukan endapan atau degradasi visual, menandakan kompatibilitas yang baik terhadap lingkungan ionik tinggi. Analisis spektrofotometri UV-Vis (RA > 0,. memvalidasi keakuratan pengukuran konsentrasi, sedangkan uji adsorpsi menunjukkan peningkatan kapasitas hingga 14,13 mg/g pada salinitas Analisis isoterm menunjukkan kesesuaian dengan model Freundlich pada 10. 000 mg/L dan Langmuir pada 20. 000 mg/L, menandakan transisi dari adsorpsi multilayer ke monolayer akibat Artikel diterima 06 Oktober 2025. Online 30 Oktober 2025. PETROGAS: Journal of Energy and Technology Vol. No. Oktober 2025, pp. efek charge screening ion NaA/ClA. Hasil ini menegaskan potensi kitosan sebagai biopolimer ramah lingkungan yang stabil dan efektif untuk aplikasi Enhanced Oil Recovery (EOR) DAFTAR PUSTAKA