Wisnu Bayu Pamungkas. Sarjono. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X VISUALISASI `SI PITUNG` BERDASARKAN CERITA MARGREET VAN TILL UNTUK MEMOTIVASI PERJUANGAN BELA NEGARA BAGI GENERASI MUDA Wisnu Bayu Pamungkas1. Sarjono2. Fariza Wahyu Arizal3 1,2 Program Studi Desain Komunikasi Visual. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. Malang, 65145, 0341 551312 e-mail : wisnu. 1802635@students. id1, sarjono. fs@um. id2, fariza. fs@um. Abstraksi Cerita rakyat selalu ada di setiap wilayah Indonesia. Cerita rakyat berupa dongeng hasil sastra budaya dan/atau sejarah suatu tempat hingga saat ini. Maka dari itu, cerita rakyat yang telah eksis perlu dipertahankan dengan membuat literasi terbaru yang menyesuiakan perkembangan zaman dan teknologi. Salah satunya dengan membuat adaptasi cerita rakyat melalui komik digital berbasis situs internet alias web comic. Tujuannya agar cerita rakyat bisa relevan dan bisa diakses dengan mudah dan menjadi lebih dikenal oleh masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian design thinking dengan merujuk buku yang membahasan kondisi zaman ketika cerita rakyat terjadi dan kajian pustaka yang relevan. Media pendukung yang menjadi material promosi dalam penelitian ini diantaranya tautan media sosial, poster, banner, tote bag, gantungan kunci, pin, mug, kipas. Kata Kunci : Cerita rakyat. Visualisasi. Komik Abstract Folklore always exists in every region, including Indonesia. Folklore is a form of culture and/or history of a place to date. Therefore, existing folklore needs to be maintained by creating the latest literacy that adapts to current era and technology. One of them is by making adaptations of folk tales through digital comics based on internet sites, aka web comic. The aim is to make folklore relevant and easily accessible and become better known to the public. This research uses a qualitative method by referring to book that explaining the setting of the era when folklore occurred and relevant literature studies. Supporting media used as promotional material in this research include social media posting, posters, banners, tote bags, key chains, pins, mugs, hand-held fan. Keywords: Folklore. Visualization. Comic __________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Cerita rakyat pasti dimiliki oleh setiap sudut wilayah, tidak terkecuali di Indonesia. Cerita rakyat adalah cerita turun temurun dari generasi ke generasi tentang objek atau subjek tertentu disuatu tempat. Di Indonesia terdapat beragam cerita rakyat, yang menjadikan bukti bahwa Indonesia memiliki banyak suku bangsa. Salah satu cerita rakyat itu berasal dari wilayah Kota Jakarta yang sangat melekat dengan suku Betawi adalah cerita rakyat si Pitung, tokoh cerita yang berusaha melawan pemerintahan kolonial Belanda yang sangat menindas. Cerita rakyat si Pitung ini bahkah dikenal hingga ke Jawa Tengah yang jauh dari daerah terjadinya cerita (Amanat, 2019 : . Kendati demikian, cerita yang beredar di masyarakat adalah cerita rakyat si Pitung dalam bentuk teks dan cerita bergambar untuk anak-anak yang mana motivasi dari tokoh Pitung untuk melawan penindasan pemerintahan kolonial belanda sangat dangkal dan cerita yang terdapat beberapa versi pun hanya langsung berkutat pada aksi selama menjadi tokoh Pitung. Hal ini bisa menyebabkan cerita rakyat tergerus oleh zaman 1 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Sarjono. Wisnu Bayu Pamungkas. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X karena tidak adanya pembaharuan terhadap cerita rakyat untuk lebih relevan dengan perubahan zaman. Salah satu pembaharuan yaitu pada sisi cerita dengan konsep sebagai pahlawan super yang populer, ceritanya tidak disertai dengan origin atau asal mula dalam bertekad untuk melawan penindasan. Hal ini cukup disayangkan karena apabila cerita rakyat ini dikemas seperti kisah pahlawan yang menyertakan asal mula atau origin memiliki potensi yang luar biasa dan tidak kalah menarik seperti judul-judul komik terkenal dari penerbit rakasasa Marvel atau DC. Maka dari itu, cerita rakyat Pitung ini diperbaharui dengan menggunakan media visualisasi yaitu komik. Komik dapat dipaparkan sebagai kumpulan gambar dalam panel yang memiliki keterkaitan atau hubungan sehingga menciptakan suatu makna cerita. Visualisasi komik biasanya menggambarkan kondisi situasi yang kemudian ditambahkan kalimat pencakapan sebagai penjelas. Cerita dari komik yang dibuat menggunakan referensi utama dari buku karangan Margreet Van Till yang berjudul Batavia Kala Malam dan beberapa cerita Pitung yang telah banyak beredar. Diawali dengan menceritakan awal mula proses menjadi si Pitung. Sehingga, cerita berdasarkan buku Magreet ini menyajikan versi yang lebih logis tidak hanya pada memunculkan intrik drama antara orang lokal dan asing, juga alasan dan motivasi sosok Pitung lebih masuk akal dan bisa lebih diterima oleh pembaca berusia remaja yang membantu untuk bisa lebih membela negara dengan mengenal sejarah sosok yang melawan kolonialisme Belanda secara tidak langsung. Mengikuti dewasa ini, perkembangan teknologi terkhusus internet telah berkembang dengan pesat. Begitu juga media komik juga berkembang untuk mudah diakses. Webtoon salah satu media komik berbasis situs di internet atau istilahnya web comic. Webtoon merupakan webcomic yang lebih sering dibaca oleh remaja sebab kebiasaan membaca digital kini secara global didominasi oleh remaja yang 69% dari mereka merupakan pengguna aktif smartphone (Dhanti et al. , 2. Terkait dengan pembaharuan, adaptasi cerita rakyat si Pitung belum menjangkau adaptasi web comic, tidak hanya sekadar adaptasi, namun juga mengikuti standar kualitas baik secara visual dan alur cerita yang senada dengan tema cerita yang diwarnai dengan aksi. Berdasarkan latar belakang diatas, maka pembaharuan cerita rakyat si Pitung dengan referensi buku Batavia Kala Malam karangan Margreet Van Till berupa web comic. METODE Design Thinking Design thinking terdiri dari alur tahapan dan langkah-langkah dalam pengerjaan Prosedur yang digunakan dalam AuVisualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Margreet Van Till Bertujuan untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi MudaAy ini menggunakan metode yang dikemukakan oleh Brown . alam Lewick 2. yang kemudian tahapan dijabarkan sebagai berikut. Bagan 1. Kerangka Design Thinking oleh Tim Brown dalam Michael Lewick Dkk. (Sumber : The Design Thinking Playbook. 2 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Sarjono. Wisnu Bayu Pamungkas. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Empathize (Simpat. Empati merupakan proses awal berupa memahami permasalahan atau mengeritik objek yang dibahas. Dalam cerita si Pitung yang berbentuk literatur, cerita lebih banyak disampaikan dengan teks dan versi lain berupa cerita bergambar walau pun terdapat komik terbaru yang dibuat, ceritanya masih sama persis. Ini mengindikasikan bahwa hingga beberapa tahun kebelakang adaptasi yang lebih baru dari cerita rakyat si Pitung mengacu pada cerita klasiknya. Define (Penentua. Tahap define ini merupakan tahap sintesis terhadap data yang didapatkan sebelumnya. Dari pemaparan ditahap sebelumnya, cerita rakyat si Pitung perlu diadaptasi sebagai pelengkap yang tersegmentasi pada remaja dengan cerita melatarbelakangi kisah kepahlawanan si Pitung. Adaptasi yang dibuat berfokus berupa web comic yang akan diunggah ke-platform Webtoon. Ideation (Gagasa. Proses dalam tahap ideation ini menjadi tahap memunculkan berbagai ide gagasan yang menjadi alternatif. Ide yang dimunculkan berupa mind map yang bertujuan untuk mendapatkan kata kunci yang relevan terhadap cerita. Prototype (Prototip. Tahapan prototipe dilakukan untuk memvisualisasikan konsep dan ide yang telah didapatkan sebelumnya. Terdapat tiga proses dalam tahapan prototipe yaitu sebagai . Pra Produksi Pra produksi merupakan tahap perencanaan yang membahas tentang skrip atau alur cerita, rancangan desain karakter, elemen visual komik, dan media pendukung komik. Produksi Tahap Produksi memaparkan proses visual dari sketsa, komprehensif dan mock up. Visualisasi komik yang diantaranya, media utama yaitu komik, dan media pendukung sebagai material promosi. Pasca Produksi Pada tahap pasca produksi ini hasil karya komik memasuki proses penataan dari model komik tradisional menjadi model komik web dan proses refine atau merapihkan karya dengan cara meneliti ulang untuk menghilangkan kesalahan teknis. Test Tahapan test yang dilakukan dengan mempublikasikan karya yang telah dibuat melalui unggah di-platform Webtoon dan pameran. Indikasi yang diterapkan yaitu terhadap pengguna Webtoon, jumlah viewer yang tercatat di-Platform Webtoon menjadi HASIL DAN PEMBAHASAN Empahtize . Pitung dalam kisah klasiknya digambarkan sebagai pemuda yang baik hati, taat beribadah, dan memiliki kemampuan bela diri. Karakteristik ini selalu ada pada karakter yang dengan cerita yang segmen pada remaja. Posisi Pitung sebagai protagonis membutuhkan tokoh antagonis agar cerita bisa berjalan. Namun, pihak pemerintah kolonial Belanda dan tuan 3 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Sarjono. Wisnu Bayu Pamungkas. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X tanah secara serta merta muncul sebagai antagonis untuk Pitung. Hal ini menyebabkan tidak adanya latar yang membuat Pitung untuk melawan. Berdasarkan teori HeroAos Journey yang dikemukakan oleh Joseph Campbell . alam Sonnenburg & Runco, 2. Terdapat tiga babak utama dalam cerita kepahlawanan, yaitu. Departure. Initiation, dan Return. Cerita ketika Pitung beraksi hingga berkonflik dengan pihak pemerintah kolonial Belanda dalam cerita rakyatnya masuk pada bagian initiation dan return. Tidak adanya cerita pada bagian departure ini menjadi sangat krusial, karena menceritakan motivasi karakter, pengembangan karakter, dan membangun empati terhadap karakter kepada audience. Interpretasi cerita si Pitung berdasarkan buku Batavia Kalam Malam Sebagai salah satu kota berperadaban di kolonial. Batavia memiliki daerah sekitar . yang memiliki dinamika penduduk dan perekonomian. Layaknya kota pada umumnya, daerah Batavia hingga pertengahan sekitarnya menjadi daerah bermukim dan bisnis perdagangan yang kemudian lebih kepinggiran lagi sebagai kawasan perkebunan, pertanian dan peternakan baik milik pemerintah dan swasta. Ommelanden tetap menjadi pemukiman dan aktivitas ekonomi pribumi serta kebanyakan buruh tani yang disewa oleh pemilik tanah. Penduduk yang tinggal di Batavia kebanyakan berasal dari Eropa, juga pendatang orang asal Amerika, daerah timur tengah dan timur dengan kepentingan bisnis Meski pemukiman yang telah tersegmentasi antar orang barat dan pribumi, kriminalitas tetap ada mewarnai pada akhir abad ke-19. Aksi yang terjadi seperti perampokan atau disebut bandit kerap terjadi tidak mengenal lokasi. Tindak kriminal yang terjadi tidak lepas antara pengusaha, mafia, dan rampok. Persaingan yang tidak sehat dan kurangnya kepercayaan yang menjadi sistem dalam berbisnis seringkali menjadi pemicu aksi rampok yang menyasar pemilik usaha tidak mengenal pribumi, orang Eropa maupun etnis lain. Hal ini, tidak lepas terkait dengan hierarki yang menjadi penanda suatu gerombolan rampok, mereka terdiri atas amatir yang memiliki motif ekonomi, bandit yang menerima tawaran pekerjaan, hingga rampok yang memiliki kerja sama dengan anggota pemerintah tingkat rendah yang biasanya pribumi yang memiliki jabatan sejak awal. Permasalahan sosial yang terjadi tersebut juga menghadirkan julukan jago, seorang atau kelompok yang AomenguasaiAo suatu daerah. Tetap ada dua sisi dari jago, memudarkan rasa takut penduduk sekitar Batavia dan ommelanden namun juga para jago ini ada kemungkinan merupakan bandit yang harus dibayar. Jago secara sisi positif ini yang kemudian memunculkan tokoh pemuda asli setempat yang sungguh menjaga kampungnya. Istilah Jago merujuk pada sifat yang dianggap jantan, bandit tentu seorang jago, namun jago tidak selalu bandit. Seperti yang disinggung diatas, perilaku seorang jago tidak dikendalikan oleh moral. Mereka punya latarbelakang dan alasan tersendiri dalam motivasinya untuk bisa menjadi kuat. Karena berhubungan dengan sifat kejantanan, perilaku jago tetap tidak kenal takut meski telah tertangkap dan diancamnya. Ini memengaruhi hierarki seberapa berani seseorang menjadi jago. Ada yang berani hanya karena bergerombol atau memiliki senjata yang lebih kuat, hingga tidak kenal takut meski dijatuhi hukuman mati sekali pun. Hal ini kemudian berproses menjadi istilah pahlawan karena sifatnya tidak terkalahkan sama sekali dan memiliki moralitas yang dihendaki oleh masyarakat ditempatnya. Orang Eropa di Batavia memiliki kesempatan kecil untuk takut dirampok. Namun yang paling nyata yaitu rampok yang menggunakan senjata api yang membuat ancaman ini mengharuskan mereka memiliki senjata api. Hanya orang Eropa dan keturunan yang tidak memerlukan izin, sedangkan pribumi dan orang Asia Timur harus memiliki izin yang bersifat Tetap, jika kejahatan dengan senjata api terjadi, para bandit mendapatkan senjata api secara ilegal, sehingga penduduk secara luas harus berinisiatif melindungi diri sendiri. Penduduk pribumi membuat sistem patrol bergilir tiap malam alias ronda. Penggunaan senjata api menjadi momok ketakutan jika disalahgunakan. Namun, karena tidak ada penegakan 4 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Sarjono. Wisnu Bayu Pamungkas. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X regulasi, fungsional berburu oleh petani tidak menjadi sebuah masalah. Keefektifan dari senjata api oleh polisi sangat rendah karena hanya ditembakkan ke atas atau bahkan meleset ketika adu tembak. Sehingga, senjata api lebih menjadi alat yang membuat bandit gentar. Cerita tentang bandit yang menjadi pahlawan rakyat salah satunya si Pitung. Latarbelakang tokoh Pitung ini tidak begitu jelas, informasi pertama bersumber dari surat kabar Koran Hindia Olanda memberitakan penggerebekan rumah yang disinyalir menjadi tempat penyimpanan harta rampokan di daerah tanah abang. Kebanyakan informasi sebagai si Pitung berasal dari koran yang tentu hanya memberitakan kejadian perampokan, penangkapan, dan buronnya Pitung. Alur sepak terjang Pitung tercatat ketika menjadi buron, karena kebanyakan bandit yang berhasil tertangkap dan dijebloskan kepenjara antara mendapat hukuman mati atau mengajukan grasi. Namun, ketika berhasil lolos, tidak ada pilihan selain kabur dan menghilang karena tentu telah ditandai identitasnya. Momen tertangkapnya si Pitung tercatat pada bulan Agustus 1892 dimana pertimbangan hukuman mati bisa ditangguhkan melalui grasi. Dokumentasi oleh pihak kepolisian mengungkapkan nama asli Salihoen. Namun permintaan grasi ini berkebalikan dengan tindakan kabur dari penjara dan menjadi buron. Kerja sama yang dilakukan sebagai gerombolan menjadi alasan kenapa bisa kabur. Dji-ih, rekan yang tercatat juga ikut menjadi buron namun kurang beruntung meski telah bersembunyi di perkampungan, kondisinya tertangkap karena sedang Aksi yang berlanjut oleh Pitung selama buron yaitu pada serangan balasan kepada para penyidik yang ikut mengejarnya. Meski begitu, momen terpojoknya Pitung karena seorang pengadu sehingga Pitung terkepung. Akhir hidupnya berada di tangan Hinne sebagai schout yang menyelidik dan mengejarnya. Cerita berjudul si Pitung Banteng Betawi Cerita yang diambil dari buku cerita karangan Pratama S. Pitung diceritakan lahir di Rawa Belong, kedua orang tua bernama Pak Piun dan Ibu Pinah. Pitung putra keempat yang dari empat bersaudara yang masing-masing bernama Miin. Kecil, dan Anise. Kampung Rawa belong dikuasai oleh tuan tanah yang bernama Liem Tjeng Soen yang memiliki tanah AopartikelirAo atau tanah yang dibeli dari pemerintah kolonial Belanda. Untuk itu terdapat pajak yang yang perlu dibayarkan. Pitung tidak begitu paham namun menyaksikan centang sewaan tuan tanah yang sewenang-wenang terhadap rakyat yang tinggal di rawa belong. Saat beranjak dewasa. Pitung memiliki perawakan yang tidak pendek dan tidak juga tinggi, memiliki warna kulit cokelat dan badannya cukup berotot. Pitung diajarkan tata krama dan bekerja membantu orang tuanya, juga mendalami ilmu agama dengan Haji Naipin yang mengenalkannya dengan ilmu pancasona yang berupa ilmu kekebalan dari senjata tajam. Selama itu juga Pitung memahami penindasan yang dilakukan untuk tuan tanah bersama dengan para centengnya sehingga membuat dirinya geram. Suatu ketika Pitung diminta menjual kambing ke pasar. Singkat cerita setelah dirinya beranjak pulang. Pitung menyadari dirnya sedang diikuti oleh seseorang. Karena sudah masuk waktu ibadah. Pitung bergegas untuk melaksanakan ibadah. Ternyata, orang yang mengikutinya merupakan bandit yang mengincar uang hasil menjual kambing. Menyadari hal tersebut, pitung harus mendapatkan uangnya kembali. Meski telah menghajar bandit untuk mendapatkan informasi yang telah mengambil uangnya, hasil nihil. Pitung kehabisan cara, karena putus asa. Pitung mendapatkan ide untuk mendapatkan uangnya kembali dengan mengambil balik dari tuan tanah yang dianggapnya merampas dari rakyat. Untuk itu Pitung dan temannya Dji'in dan Rais menjalankan aksi mengambil harta yang ada ditangan para tuan tanah, penguasa pribumi, dan orang-orang kaya yang berpihak dengan Belanda. Dalam suasana seperti ini bandit lain, ikut melaksanakan perampokan mengatasnamakan si Pitung. Sehingga si Pitung terkenal di pelosok Betawi sebagai Para tuan tanah, orang kaya pro-Belanda menjadi tidak tenteram, mengadukan kepada penguasa penjajah. 5 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Sarjono. Wisnu Bayu Pamungkas. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Pemerintah kolonial di Batavia memerintahkan aparat-aparatnya untuk menangkap Pitung. Schout Heyne bertugas di Kemayoran memerintahkan anggota polisi untuk mencari tahu dimana Pitung berada. Schout Heyne menjanjikan uang yang banyak bagi siapa saja yang dapat menangkap Si Pitung hidup atau mati, atau memberikan keterangan dimana Si Pitung berada akan diberi hadiah. Ada saat tidak beruntung, suatu ketika Pitung melakukan aksi perampasan bersama beberapa kawannya, kedatangan mereka telah diketahui sehingga tidak bisa kabur karena telah terkepung dan ditodong banyak senapan. Teman-temannya meloloskan diri, sementara Pitung sengaja membiarkan diri untuk ditangkap agar teman-temannya dapat lolos. Schout Heyne terheran-heran ketika mengetahui siapa sebenarnya Pitung yang selama ini menjadi momok. Pitung memutar otak bagaimana caranya ia bisa lolos dari penjara. Pada malam hari, penjaga terkantuk-kantuk dan sempat lelap sejenak, segera Pitung memanjat dinding ruang tahanan, menjebol plafon, membuka genting, keluar melalui bubungan atap penjara, melompat keluar. Pitung lolos dari penjara Grogol. Karena kaburnya Pitung. Belanda juga menangkap Haji Naipin, menyiksanya. Karena siksaan Belanda. Haji Naipin bersedia mencari Si Pitung. Beberapa orang penduduk memberitahukan kepada Pitung tentang keadaan Haji Naipin yang disiksa oleh Belanda. Pitung sangat geram mendengar cerita penduduk. Pitung biasanya bersembunyi pada siang hari, akhirnya keluar untuk mencari gurunya yang berada ditangan penjajah. Di Kota Bambu Pitung menampakkan diri ketika gurunya lewat. Scout Heyne tertawa kemudian memerintahkan serdadu untuk mengepung Si Pitung. Sementara beberapa serdadu menodongkan senjata kepunggung Haji Naipin. Melihat ancaman tersebut. Pitung menjadi gusar dan luluh. Tak tega ia melihat gurunya harus mati tertembak karena perbuatannya. Pitung pasrah untuk ditangkap tetapi tidak akan menyerah begitu saja. Pitung berdiri terpaku, sementara para serdadu Belanda dalam posisi siaga tembak. Haji Naipin pun dibebaskan dan merogoh sakunya yang berisi telur busuk, menimang-nimang telur busuk tersebut. Haji Naipin berharap, bila telur tersebut dilemparkan ke badan Pitung, bila Pitung melawan dan tertembak, maka ia dapat menyembuhkan Si Pitung. Scout Heyne yang perasaannya takut bila Pitung melawan maka dengan segera mengambil keputusan untuk memerintahkan serdadunya menembak. Saat yang hampir bersamaan Haji Naipin terlebih dahulu melemparkan telur busuk ke badan Si Pitung Scout Heyne berteriak memerintahkan untuk menembak bersamaan dengan itu terdengar letusan bedil serdadu Belanda. Beberapa peluru menghujam kebadan Pitung. Pitung berdiri terpaku menatap Scout Heyne. Pitung tak menyangka Scout Heyne berlaku curang padahal beberapa saat sebelum Haji Naipin melemparkan telur busuk. Pitung telah memberi tanda mengangkat kedua belah tangannya sebagai pertanda bersedia menyerah. Scout Heyne kembali memberi komando beberapa peluru kembali menerjang tubuh Pitung. Pitung roboh bersimbah darah, jatuh ke Jenazah Pitung dibawa oleh Belanda kantor pos penjagaan. Scout Heyne dengan bangga melaporkan hasil kegiatannya dalam melumpuhkan aksi perlawanan Pitung. Kemudian Pitung dikuburkan di Pejagalan. Kuburan Si Pitung selama enam bulan dijaga karena beberapa laporan menyebut bila tidak dijaga, mayatnya akan di bongkar, dibawa ke perkampungan dan dapat dihidupkan kembali oleh gurunya Haji Naipin. Beberapa hari kemudian Scout Heyne dipanggil Asisten Residen, pangkatnya dicopot atau diberhentikan karena bertindak yang tidak pantas sebagai polisi dan sangat memalukan karena menembak orang yang tidak melawan. 6 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Sarjono. Wisnu Bayu Pamungkas. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Define (Penentua. Konsep Verbal (Sintesi. Batavia pada sekitar tahun 1890 merupakan kota dari pemerintah koloni Hindia Belanda menjadi kota fungsional pada zamannya yang banyak didatangi oleh berbagai macam orang dengan kebangsaan dan etnis. Baik orang asli maupun keturunan asal Eropa. Timur Tengah, dan Asia dengan tujuan tersendiri. Pada akhir abad ke-19 itu pula cerita tentang perbanditan dibeberapa belahan bumi meningkat sehingga banyak terekspos. Mereka melakukan tindak kejahatan perampokan secara terorganisir dan berkelompok, salah satunya seperti terjadi di daerah Batavia. Meski melakukan tindak kejahatan, bandit masih dikelompokkan pada tingkatan keterpaksaan, hidup melalui hal tersebut, hingga melakukan jika dibayar. Istilah Jago pun melekat dalam perbanditan. Para jago atau jawara sejatinya merupakan seorang yang kuat secara fisik sehingga mendapatkan gelar namun pada zamannya moral meraka menjadi abu-abu karena tendensi kepada yang membayar mereka. Tidak lain ini berhubungan dengan pengusaha dan mafia yang memiliki persaingan tidak Terlebih, berbagai macam etnis pelaku bisnis ada di Batavia. Sehingga, aksi kriminal ini menjadi kompleks karena tidak hanya menyangkut masalah struktural sosial namun juga suatu profesi dimana ada yang membutuhkan. Melalui penggambaran latar pada tahun 1890 di atas. Pitung yang nama asli Salihoen ini memiliki motivasi sehingga bisa menjadi Jago hingga bandit. Kerumitan Pitung sebagai pahlawan masyarakat muncul karena moral sebagai pemuda asli yang mengetahui penindasan tuan tanah dimana pemilik partikelir ini bekerjasama dengan pemerintah kolonial. Sebagai orang biasa, melawan penindasan harus memiliki perasaan terikat yang cukup kuat, suatu kejadian baik menimpa diri sendiri atau orang terdekat bisa menjadi alasan untuk melawan penindasan tersebut. Proses moral ini menyebabkan menjadi titik balik Salihoen untuk mulai menjadi seorang Jago untuk membela yang tertindas. Namun memahami persaingan antara pengusaha dam mafia, pengaruh ini digambarkan terdapat kelompok dari luar Hindia Belanda yang secara tidak langsung ikut andil. Salihoen berada di posisi seorang pribumi yang terlibat dengan perseteruan antar orang asing yang punya pengaruh petugas polisi tingkah bawah. Namun, eksistensinya terlihat hanya bandit buronan yang di kejar oleh polisi dan berlanjut seperti apa yang diceritakan oleh masyarakat. Ideation (Gagasa. Mind map atau peta konsep merupakan proses memecah suatu kata yang memiliki makna untuk mendapatkan elemen-elemen tertentu yang berhubungan dengan kata tersebut. Peta konsep dibuat untuk menentukan desain visual pada karakter utama Pitung. Gambar 1. Mind map untuk konsep visual karakter Pitung Prototype (Prototip. Pra Produksi . Struktur cerita Struktur cerita dijabarkan kedalam tiga bagian yang dikenal dengan struktur tiga babak oleh Syd Field . alam Kristanto, 2021 : . 7 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Sarjono. Wisnu Bayu Pamungkas. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Tabel 1. Sesi cerita komik (Sumber : Dokumentasi Pribad. Struktur Orientasi Konfrontasi Ae Permulaan Konfrontasi Ae Aksi Konfrontasi Ae Krisis Konfrontasi - Klimaks Topik Cerita dibuka dengan adegan Pria Fedora berbincangan dengan Huang secara kebetulan di dermaga pelabuhan Tanjung Priok. Berlatar di pinggiran Batavia (Ommelande. Selatan. Solihun membantu Bapak tua yang gerobaknya tersangkut. Muncul kawannya DjiAoih yang mengagetkan Solihun dari belakang. Perbicangan antara keduanya hingga DjiAo ih pamit setelah mereka menyantap makanan. Solihun berjalan pulang sambil bergumam karena DjiAo ih hanya meminta Seorang bertubuh besar tiba-tiba menjegal Solihun. Solihun tumbang karena dikecoh seorang lagi betubuh cangkring menyerang dari belakang. Dua orang tersebut pergi setelah merampas isi dari tas Solihun dan meninggalkannya yang perlahan pingsan. Solihun terbangun di gubug sawah dan mendari penyelamatkan ialah Bapak tua yang sebelumnya Dia selamatkan. Solihun segera pamit setelah diingatkan oleh bapak tua tersebut. Solihun mencari hingga ke pasar dan mendapati kedua orang tersebut ternyata bandit. Konfrontasi Solihun dan dua bandit tersebut berakhir dengan bandit bertubuh cangkring tumbam dan bandit bertubuh besar hampir babak Setelah tiba muncul Opsir yang melerai dan menggiring mereka ke kantor polisi. Solihun tidak puas melihat kedua bandit bebas hanya karena harta bendanya sudah bisa kembali. Solihun masih kesal karena kakeknya tidak mendukung aksinya yang menghajar badit. Hari berikutnya ketika kakeknya tidak di rumah. Solihun mencari tahu siapa bandit yang sebelumnya menyerang dirinya. Mendapati kedua bandit di pasar dan menguping rencana mereka untuk berkumpul pada malam hari. Opsir yang sebelumnya menahan Solihun mendatangi daerah pasar. Solihun tidak menyiakan kesempatan dam mengikuti masuk ke satu Seorang Pria dengan pakaian serba hitam dan topi lebar berbica di tengah kerumunan. Solihun kebingungan terhadap pembicaraan yang Dia dengar. Kelengahan menyebabkan Dia disergap oleh Pria Fedora. Solihun dilempar ke tengah dan diinterograsi oleh Pria serbai hitam alias Padre. Solihun tidak gentar meski Padre telah meminta Opsir mengerahkan orangnya untuk menyambangi kediaman Solihun. Ledakan yang menghasilkan tabir asap putih diikuti dengan Solihun yang diselamatkan seorang bertudung. Seorang bertudung itu membawa Solihun ke tengah kota Batavia dan sambut oleh Pria bertopi tinggi. 8 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Sarjono. Wisnu Bayu Pamungkas. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Perdebatan Solihun ingin kembali kekediamannya menyebabkan dirinya ditahan secara paksa. Konfrontasi 1. Pria fedora dan Padre berbincang dengan santai tentang insiden yang Ae Aksi sebelumnya terjadi. Padre memutuskan untuk bersikap pasif sembari menyerahkan korek api gas kepada Pria Fedora. Pagi harinya Solihun bergegas kembali ke kediamannya dan mendapati bahwa sekitar rumahnya di penuhi warga setempat. Kakek menjelaskan bagaimana Dia didatangi dua orang misterius untuk tidak kembali ke rumah pada malam sebelumnya. Solihun hanya bisa terdiam agar tidak memperkeruh suasana. Resolusi 1. Satu minggu pasca kejadian sebelumnya. Solihun sedang sibuk memotong rumput untuk ternak kambingnya. Seorang perempuan mendatangi Solihun dan memintanya untuk ikut Solihun menanyai beberapa hal terkait apa yang terjadi selama Solihun dan perempuan bernama Marjory tersebut di sambut oleh Pria dengan pakaian serba putih dan Pria bertopi tinggi di tempat tujuan. Pria yang dikenal dengan Baba tersebut meyakinkan Solihun untuk bisa ikut masuk kedalam kelompok yang Baba buat. Perdebatan alot membuat Pria bertopi tinggi yang dipanggil baron mengantar Solihun pulang. Baron meminta maaf atas kejadian sebelumnya dan mengajak Solihun ketempat lain. Sedangkan di kediaman Solihun. Pria Fedora berbincang dengan kakek Solihun untuk mendapatkan satu kesepakatan. Sedangkan. Solihun masih bimbang dengan barang-barang yang diberikan Huang meski akhirnya dibawa semua. Baron dan Huang berdiskusi apa yang akan terjadi namun bersepakat untuk pasif melihat apa yg akan terjadi. Tipografi Tipografi yang akan digunakan merupakan jenis topografi sans serif, tipografi jenis tersebut dipilih karena lebih dinamis dan secara konvensional digunakan dalam industri pembuatan komik. Tipografi sans serif yang digunakan adalah font Anime Ace sebagai dialog dan font Bangers sebagai efek suara. Gambar 2. Tipografi Anime Ace untuk dialog dan Bangers untuk efek suara (Designer Comic Sans : Nate Piekos. Bangers : Vernon Adam. 9 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Sarjono. Wisnu Bayu Pamungkas. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Desain Karakter Desain Karakter yang dibuat mengacu pada gagasan yang sebelumnya telah dibuat. Desain dari karakter Solihun alias Pitung ini mengacu pada perawakan pemuda yang menjadi protagonis dan mencerminkan karakter ideal menyesuaikan dengan segmentasi yang menyasar pada remaja. Relevansi antara karakter dalam cerita dan pembaca menjadi salah satu nilai penting terhadap suatu cerita yang ingin disampaikan (Nurgiyantoro, 2. Kemudian disesuaikan dengan atribut pakaian yang menjadi ciri Gambar 3. Proses desain karakter Solihun alias Pitung Gambar 4. Proses desain karakter Marjory Gambar 5. Proses desain karakter The Kid alias Si Bocah 10 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Sarjono. Wisnu Bayu Pamungkas. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Produksi . Sampul Sampul dari komik menggunakan konsep ilustrasi montase dimana terdapat beberapa karakter yang berasal dari komik yang disatukan. Namun, tiap karakter tidak berkorelasi satu sama lain dalam satu adegan, melainkan terkesan sebagai gabungan dari adegan karakter yang beda. Sampul disematkan judul di bagian atas ilustrasi dan elemen identitas lainnya. Gambar 6. Sketsa dan komprehensif sampul dari komik Rebel Folk . Visualisasi Komik Konten daripada komik yang menjadi inti karya dibuat dengan layout komik tradisional yaitu perlembar halaman. Proses dari pengerjaan yaitu membuat layout sketsa yang dilanjutkan dengan lineart dan di selesaikan dengan diberikan warna melalui computer Gambar 7. Bagian orientasi/prolog dari komik 11 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Sarjono. Wisnu Bayu Pamungkas. Fariza Wahyu Arizal Visualisasi `Si Pitung` Berdasarkan Cerita Rakyat Margreet Van Till Untuk Memotivasi Perjuangan Bela Negara Bagi Generasi Muda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Test Parameter yang diterapkan dalam tahap test ini mengacu pada rekam jumlah pembaca yang terdapat di-platform Webtoon. Tanpa adanya usaha promosi secara aktif, hingga tujuh episode dirilis tercatat sebagai 400 pembaca. Ini mengindikasikan engangement murni dari pengguna-platform Webtoon terbilang lesu. Memahami hal ini, suatu perencanaan kampanye promosi untuk komik menjadi strategi yang bisa digunakan untuk meningkatakan engangement pembaca. Gambar 8. Tangkapan layar halaman komik Rebel Folk KESIMPULAN Hasil karya komik digital yang dibuat merupakan capaian penelitin perancangan dalam memvisualisasikan cerita rakyat si Pitung berdasarkan buku karya Margreet Van Till hingga diunggah ke platform komik digital webtoon. Menggunakan material promosi yang menjadi bagian dari media pendukung, bisa sebagai alat agar membantu karya komik ini agar lebih diketahui masyarakat. Karya komik digital ini tidak lepas dari kekurangan baik secara objektif maupun Khususnya pada aspek cerita yang mana kerangka cerita yang lebih singkat, jelas, namun menarik karena mengingat cerita yang dihadirkan bukan adaptasi dari karya cerita melainkan dokumentasi. Karya ini perlu dipromosi dengan bentuk yang lebih tepat dan beragam sehingga bisa menjangkau audience lebih lanjut. DAFTAR PUSTAKA