Volume 1 No. 1 April 2021 PARAVISUAL : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Multimedia e-ISSN: x-x-xx p-ISSN: x-x-xx DOI: x-x-xx. Politeknik Harapan Bersama available at: http://ejournal. id/index. php/paravisual VIRTUAL STORYTELLING DAN ANALISIS KEPERCAYAAN DIRI SISWA DALAM BERBAHASA INGGRIS Iin Indrayanti1. Ahmad Ramdhani2. Syaefani Arif Romadhon3 123Polieknik Harapan Bersama Tegal. Indonesia *email: iinindrayanti. 1975@gmail. Abstrak. Bercerita atau storytelling merupakan salah satu strategi dalam menyampaikan ide, cerita, atau hal apapun yang akan dituangkan dalam bentuk lisan diikuti beberapa gerakan tubuh. Namun, membutuhkan upaya yang sangat besar untuk dapat menyampaikan kisah ataupun bertukar cerita . di kalangan siswa SMA di Indonesia karena masih merasa tidak percaya diri dan malu ditertawakan oleh teman-teman di kelasnya. Dalam kajian kali, ini siswa akan menggunakan media virtual/daring dalam becerita, dan peneliti akan menganalisis tingkat kepercayaan diri siswa selama bercerita melalui media daring atau virtual storytelling. Dengan melibatkan 22 orang siswa yang tergabung sebagai anggota eskul English Club, studi kali ini merupakan penelitian kuantitatif dengan analisis data menggunakan anova satu arah (One Way Anov. dan uji regresi untuk mengetahui pengaruh kedua variable yaitu virtual storytelling dan kepercayaan diri siswa. Berdasarkan hasil olah data, diketahui bahwa terdapat pengaruh tehadap kepercayaan diri siswa setelah bercerita secara virtual dengan nilai P-value adalah1. 12 lebih besar dari nilai 05 atau 1. 12>0. Hasil uji regresi diperoleh dengan nilai FSig 0. 11 lebih besar dari nilai signifikansi 0. 05 atau 0. 11>0. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pengaruh bercerita secara virtual terhadap tingkat kepercayaan diri siswa masih belum signifikan. Faktor psikologis adalah hal yang sangat dominan mempengaruhi. Kata kunci: Kemampuan Berbicara. Storytelling. Virtual. Kepercayaan Diri PENDAHULUAN Dunia pendidikan saat ini lebih diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki skill tambahan lainnya. Salah satu nya adalah skill atau kemampuan dalam berkomunikasi. Sebagai Bahasa global. Bahasa Inggris menjadi Bahasa yang digunakan oleh orang-orang hampir di seluruh dunia dalam menyampaikan Seseorang yang memiliki kemampuan akademik yang baik dan memiliki kemampuan berbahasa global akan sangat dibutuhkan dalam dunia kerja. Namun untuk dapat memiliki kemampuan dalam berbahasa baik lisan dan tulisan masih dirasa sulit dikalangan pembelajar EFL (English as Foreign Languag. Membutuhkan upaya yang sangat besar untuk dapat memiliki keterampilan Bahasa lisan sekaligus berkomunikasi. Dalam hubungannya dengan kemampuan berkomunikasi, maka speaking skill . eterampilan berbicar. sangatlah dibutuhkan. Sesuai dengan kajian yang AVisual and Communication-Politeknik Harapan Bersama I. Indrayanti et. Vol. 1 No. dilakukan oleh . yang menyatakan bahwa AuSpeech is the best introduction to other language skills. Thus, learning through speaking is a natural way of learning a foreign language as a means of communicationAy. Bahwa pengenalan bahasa melalui berbicara adalah cara terbaik dalam mempelajari bahasa asing sebagai alat Namun tidak mudah untuk dapat berbicara dan memiliki keterampilan dalam berbahasa Inggris di kalangan siswa di Indonesia sebagai English as Foreign Language (EFL). Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah rasa percaya diri untuk memulai berkomunikasi atau berbicara dalam Bahasa Inggris. Hal ini sesuai dengan pendapat . bahwa kepercayaan diri siswa adalah hal yang sangat penting sebagai indikator kemampuan berbahasa. Bahwa pentingnya menumbuhkan kepercayaan diri sangat relevan dengan konteks pembelajaran bahasa sehingga siswa dapat aktif terlibat dalam berkomunikasi selama di kelas maupun di luar kelas. Walaupun untuk sekedar bertegur sapa, mengucap salam, ataupun bertukar cerita . , siswa SMA di Indonesia masih merasa tidak percaya diri, malu ditertawakan oleh teman-teman di kelasnya, kekhawatiran akan kesalahan grammar ataupun keterbatasan kosa kata . Speaking skill . eterampilan berbicar. masih termasuk dalam kemampuan berbahasa Inggris yang paling menakutkan dikalangan siswa di Indonesia. Hal ini dinyatakan oleh . , . , . , . , . Bahwa mempelajari bahasa asing terutama oral communication adalah pengalaman yang menakutkan bagi banyak siswa. Perasaan takut tersebut dipengaruhi baik oleh faktor internal maupun eksternal. Mengangkat permasalahan yang dihadapi dimasa pandemi ini, banyak dikalangan guru yang secara umum fokus hanya memberikan materi dan penggunaan teknologi dengan tujuan akhir berupa prestasi akademik sebagai tujuan utamanya, baik pembelajaran luring maupun daring. Hal ini terjadi di hampir semua mata pelajaran, termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Sedikit sekali yang menitikberatkan pada upaya dalam menumbuhkan rasa percaya diri khususnya dalam meningkatkan kemampuan berbicara . Terkait hal tersebut, peran seorang guru dalam meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Inggris . siswa bisa dilakukan dengan berbagai cara. Sehingga siswa dapat lebih percaya diri dalam berekspresi secara lisan, saling menceritakan apa yang mereka alami secara bergantian, mendeskripsikan segala sesuatu yang ada disekitar, mengungkapkan ide, menyampaikan pendapatnya secara lisan, mengembangkan sikap kritis terhadap suatu gagasan, membudayakan sikap sopan dan santun dan menerima kritik secara terbuka serta menciptakan iklim kondusif yang mendukung budaya berbicara bahasa inggris di lingkungan Karena sejatinya setiap individu memiliki kisah untuk diceritakan. Oleh karena itu, diperlukan strategi ataupun cara untuk dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam keterampilan berbahasa yaitu speaking skill. Karena kepercayaan diri sangat berperan besar untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dan berusaha keras untuk mengeksplorasi semua bakat yang dimilikinya . Bercerita atau storytelling merupakan salah satu strategi dalam menyampaikan ide, cerita, atau hal apapun yang akan dituangkan dalam bentuk lisan diikuti beberapa gerakan tubuh. Seperti dalam . bahwa pentas dan storytelling menyajikan aktifitas komunikasi yang sebenarnya. merupakan bentuk latihan berbahasa dan kemampuan berkomunikasi, tingkah laku dan tindak tutur, bagaimana kebiasaan dan disiplin diterapkan dalam sebuah I. Indrayanti et. Vol. 1 No. Namun tetap saja siswa merasa malu jika dilihat teman-teman di kelasnya, takut dan tetap memilih bungkam. Di masa pandemi seperti saat ini, kegiatan untuk siswa bercerita atau storytelling dapat dilakukan melalui beragam media, salah satunya adalah bercerita secara virtual atau daring. Menurut . pembelajaran saat ini tidak menuntut waktu dan tempat. Pembelajaran ini sering diistilahkan e-learning. Dan, virtual class sudah mulai dijadikan alternatif pembelajaran di masa pandemi seperti sekarang ini. Namun, dalam hal ini virtual class diharapkan menjadi pilihan penunjang proses pembelajaran di kelas secara konvensional. Salah satu makna kata virtual menurut KBBI adalah tampil atau hadir dengan menggunakan perangkat lunak komputer, misalnya di internet. Di sini, siswa dapat menyampaikan ide, berbagi kisah ataupun cerita secara digital menggunakan jaringan internet melalui kamera yang tehubung dengan teman lainnya dalam satu layar yang dipandu oleh guru sebagai host. Media yang digunakan diantaranya adalah komputer ataupun telepon genggam berkamera. Strategi ini telah banyak dilakukan di kalangan Pendidikan dasar dan menengah di beberapa negara. Berdasarkan hal tersebut, dalam kajian kali ini siswa akan menggunakan media virtual/daring dalam becerita, dan peneliti akan menganalisis tingkat kepercayaan diri siswa selama bercerita melalui media daring atau virtual METODE Penelitian ini meggunakan pendekatan kuantitatif dengan storytelling sebagai variabel bebas dan kepercayaan diri siswa sebagai variable terikat. Kajian kali ini bersifat penjajagan atau preliminary yang melibatkan 22 orang siswa kelas 10 dan 11 yang tergabung dalam ekstrakurikuler English Club di SMA Putra Nirmala Kota Cirebon. Dipilihnya lokasi tersebut, karena pihak sekolah sangat concern dengan penggunaan Bahasa Inggris di kalangan siswanya. Terkait hal tersebut, pihak sekolah selama ini telah menyusun rancangan kurikulum yang memiliki mata pelajaran muatan lokal berupa Speaking Class. Untuk mengetahui tingkat kepercayaan diri, angket diberikan setelah sesi virtual storytelling selesai. Berisikan 12 pertanyaan sederhana yang diadaptasi dari . , siswa mengisi lembar angket untuk memperoleh respon dalam bentuk 4 skala likert yaitu Setuju. Sangat Setuju. Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju. Studi kali ini fokus hanya kepada analisis tingkat kepercayaan diri dalam bercerita secara virtual tanpa mengukur tingkat kemampuan siswa dalam berbicara Bahasa Inggris (English Speakin. yang dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan. Karena bersifat preliminary, peneliti menentukan hipotesis awal dengan menggunakan hipotesis kausal untuk mengetahui pengaruh di antar kedua variable sebagai berikut: H0: tidak ada pengaruh terhadap tingkat kepercayaan diri siswa dalam becerita atau storytelling secara virtual. H1: ada pengaruh terhadap tingkat kepercayaan diri antara tingkat kepercayaan diri siswa dalam becerita atau storytelling secara virtual. Uji statistik dilakukan menggunakan analisi varian 1 faktor . nalysis of variance, one-way ANOVA) untuk mengetahui adanya pengaruh tingkat kepercayaan I. Indrayanti et. Vol. 1 No. Level signifikansi yang digunakan adalah 95% atau dengan alpha 5%. Uji regresi dilakukan untuk menjawab hipotesa, yaitu Ho ditolak jika F hitung > F tabel atau dengan membandingkan nilai sig < 5% . Langkah awal, siswa diberikan pengetahuan tentang storytelling, baik sejarah, jenis, tujuan dan struktur Bahasa yang digunakan. Langkah selanjutnya, siswa diperkenalkan beragam cerita berbentuk fabel, legenda dan kisah naratif lainnya untuk dipilih oleh masing-masing siswa sesuai kisah yang diminati. Kemudian, siswa menyiapkan gambar berupa tokoh dalam cerita, dan gambar lain yang terkait dengan kisah yang akan dibawakan untuk kemudian dibawakan secara virtual di pertemuan berikutnya di depan peserta lainnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Untuk mengetahui pengaruh kepercayaan diri siswa, maka table berikut adalah hasil data output menggunakan perhitungan statistik Anova Satu Arah (One Way Anova statistical calculatio. Table. Analisis Pengaruh Tingkat Kepercayaan Diri Siswa ANOVA Source of PVariation F crit Kepercayaan 12EDiri Virtual Storytelling Total Tabel berikutnya adalah analisis signifikansi pengaruh kedua variable, yaitu virtual storytelling dan tingkat kepercayaan diri siswa. Regression Residual Total Table 2 Analisis Signifikansi Kepercayaan Diri Siswa Significance 1 Pembahasan Berdasarkan hasil uji analisis pada table 1, diketahui nilai P-value adalah1. 12 lebih besar dari nilai sig 0. 05 atau 1. 12>0. Maka dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh kepercayaan diri siswa dalam menggunakan Bahasa inggris selama bercerita secara virtual . irtual storytellin. Pada hasil analisis signifikansi kepercayaan diri siswa, table 2 menunjukkan nilai FSig adalah 0. 11 lebih besar dari nilai signifikansi 0. 05 atau 0. 11>0. Hal ini dapat I. Indrayanti et. Vol. 1 No. dikatakan bahwa pengaruh bercerita secara virtual terhadap tingkat kepercayaan diri siswa tidak signifikan. Faktor psikologis adalah hal yang sangat dominan mempengaruhi, sesuai temuan . SIMPULAN Berdasarkan kedua tabel di atas yaitu table 1 dan 2, bahwa strategi bercerita secara virtual . irtual storytellin. memberikan pengaruh terhadap kepercayaan diri siswa dalam menyampaikan kisah, ide, topik, gagasan dan pikiran menggunakan Bahasa Inggris. Namun pengaruh yang diberikan masih belum signifikan. Hal tersebut secara umum disebabkan karena faktor psikologis siswa yang masih merasa takut dan malu dalam menggunakan Bahasa Inggris secara lisan. Seperti disebutkan diatas, bahwa kajian kali ini bersifat penjajagan atau preliminary dalam mengetahui pengaruh kedua variabel. Masih perlu dilakukan kajian mendalam terkait strategi bercerita secara virtual dalam konteks yang lain. DAFTAR PUSTAKA