Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Integrasi Tri Hita Karana Dalam Manajemen Kurikulum Pada Pengelolaan Pendidikan Paud Hindu di Kota Mataram I Made Ardika Yasa Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram. Indonesia ardika@gmail. This study aims to examine the application of the Tri Hita Karana concept in the management of Hindu Early Childhood Education curricula in Mataram City. The background is grounded in the need to holistically integrate local wisdom and spiritual values into early education. A qualitative descriptive method was employed, with data collected through field observations, in-depth interviews with teachers, school administrators, and parents, and documentary analysis of five selected Hindu institutions. The findings indicate that the three dimensions of Tri Hita Karana Parahyangan . Pawongan . , and Palemahan . have been systematically integrated into the curriculum structure, learning activities, and assessment practices. This integration strengthens the formation of childrenAos character in alignment with character education theory and ecological child development frameworks. Key enabling factors include active family involvement, support from local cultural communities, and visionary leadership among teachers. Identified challenges include limited material resources, insufficient specialized teacher training, and national regulations that remain inadequately adaptive. This research provides empirical evidence and proposes a practical model for integrating Tri Hita Karana, offering a pathway for harmonizing national education policies with local cultural values. It contributes to the expanding literature on value-based local education and opens opportunities for developing teacher training modules on Tri Hita Karana, as well as strengthening networks for culturaleducational collaboration. Keywords: Tri Hita Karana. Curriculum Management. Integration of Local Values. Education Administration Abstrak Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan konsep Tri Hita Karana dalam manajemen kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini Hindu di Kota Mataram. Latar belakangnya berlandaskan kebutuhan mengintegrasikan nilaiAckearifan lokal dan spiritual secara holistik ke dalam pendidikan dini. Metode yang digunakan adalah kualitatif data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan guru, pengelola, dan orang tua, serta studi dokumentasi pada lima lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Hindu terpilih. Hasil menunjukkan bahwa tiga dimensi Tri Hita Karana Parahyangan . Pawongan . , dan Palemahan . berhasil diintegrasikan secara sistematis ke dalam struktur kurikulum, aktivitas pembelajaran, dan Integrasi ini memperkuat pembentukan karakter anak sesuai dengan teori pendidikan karakter dan ekologi perkembangan anak. Faktor pendukung utama meliputi keterlibatan aktif keluarga, komunitas budaya lokal, serta kepemimpinan guru yang Kendala yang diidentifikasi meliputi keterbatasan sumber daya material, kurangnya pelatihan khusus, dan regulasi nasional yang belum adaptif. Penelitian ini memberikan bukti empiris dan menyajikan model praktis integrasi Tri Hita Karana yang dapat menjadi acuan harmonisasi kebijakan nasional dengan nilai kearifan lokal serta memperluas literatur tentang pendidikan berbasis nilai lokal. Temuan ini membuka https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH peluang modul pelatihan guru terkait nilai Tri Hita Karana serta memperkuat jaringan kolaborasi pendidikan budaya. Kata Kunci: Tri Hita Karana. Manajemen Kurikulum. Integrasi Nilai Lokal. Pengelolaan Pendidikan Pendahuluan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Hindu di Kota Mataram menghadapi tantangan signifikan dalam mengintegrasikan Tri Hita Karana (THK) sebuah filosofi Hindu yang menekankan harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan . , sesama manusia (Pawonga. , dan alam (Palemaha. ke dalam manajemen kurikulum. Masalah utama terletak pada kesenjangan antara teori dan praktik, di mana nilai-nilai THK sering kali hanya diajarkan secara simbolis tanpa pendekatan terstruktur dalam pembelajaran sehari-hari (Studi tentang THK dalam PAUD Hind. Hal ini mengakibatkan kurangnya internalisasi nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis pada peserta didik. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan model manajemen kurikulum yang holistik dan terintegrasi, yang tidak hanya mencakup aspek akademik konvensional tetapi juga mengakomodasi prinsip-prinsip THK secara sistematis. Riset ini bertujuan untuk mengembangkan solusi praktis yang dapat menjadi panduan bagi pendidik dan pengelola PAUD Hindu, sekaligus memperkuat identitas budaya dan keberlanjutan nilainilai lokal dalam pendidikan anak usia dini (Ekaningtyas & Yasa, 2. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Hindu di Kota Mataram menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan nilai-nilai kebudayaan Hindu ke dalam manajemen kurikulum, khususnya prinsip Tri Hita Karana (THK) yang meliputi harmonisasi hubungan antara manusia dengan Tuhan . , manusia dengan manusia (Pawonga. , dan manusia dengan alam (Palemaha. Padahal, prinsip ini sangat relevan untuk membentuk karakter anak sejak dini. Namun, implementasinya masih bersifat sporadis dan kurang terstruktur dalam kurikulum. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman pendidik dan minimnya panduan operasional untuk mengadaptasi THK dalam pembelajaran PAUD. Studi tentang THK dalam PAUD Hindu menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai lokal seperti THK dapat meningkatkan kualitas pendidikan holistik, tetapi penelitian spesifik di Kota Mataram masih sangat terbatas (Gunada, 2. Meskipun Tri Hita Karana (THK) diakui sebagai filosofi penting, penerapannya di lembaga PAUD sering bersifat simbolis terutama terlihat pada kegiatan seremonial tanpa ada upaya sistematis untuk menjadikannya bagian dari proses pembelajaran sehariAchari. Banyak studi sebelumnya memang lebih menyorot dimensi ritual dan seremoni THK, sehingga gambaran tentang bagaimana nilaiAcnilai THK diintegrasikan ke dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum masih terbatas. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan tenaga pendidik yang belum cukup kompeten untuk mengadaptasi prinsip THK secara pedagogis, sehingga potensi internalisasi nilai spiritual, sosial, dan ekologis pada anak usia dini belum optimal (Rudiarta, 2. Kebutuhan mendesak yang mendorong penelitian ini adalah pengembangan model manajemen kurikulum yang mengintegrasikan THK secara menyeluruh dan operasional dalam praktik PAUD Hindu di Kota Mataram. Penelitian ini bertujuan menghasilkan panduan praktis bagi pendidik dan pengelola mulai dari perancangan silabus hingga strategi evaluasi sehingga nilaiAcnilai parhyangan, pawongan, dan palemahan tidak hanya tersaji sebagai simbol tapi terinternalisasi dalam kegiatan belajarAcmengajar. Selain memberikan alat praktis bagi lembaga, temuan juga diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih responsif terhadap kearifan lokal (Tirtawati et al. , 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Konteks kebijakan nasional yang mendorong penguatan nilai budaya dalam pendidikan memperkuat relevansi penelitian ini: integrasi THK yang sistematis tidak hanya memperkaya kurikulum tetapi juga membantu memperkuat identitas budaya dan karakter peserta didik. Dengan fokus yang jelas pada implementasi kurikulum bukan sekadar dokumentasi seremonial studi ini diharapkan menawarkan solusi yang aplikatif dan berkelanjutan bagi PAUD Hindu di Mataram dan dapat diadaptasi di daerah lain untuk memastikan keberlangsungan nilaiAcnilai THK sejak usia dini (Yasa et al. , 2. Penelitian tentang integrasi Tri Hita Karana (THK) dalam manajemen kurikulum PAUD Hindu di Kota Mataram memiliki signifikansi akademik dan praktis yang Pertama, penelitian ini relevan untuk penguatan identitas budaya dan karakter anak usia dini, di mana THK sebagai filosofi Hindu menawarkan pendekatan holistik melalui nilai-nilai spiritual . , sosial (Pawonga. , dan ekologis (Palesmaha. Pada fase perkembangan kritis ini, penanaman nilai-nilai budaya dan agama dapat membentuk kepribadian yang seimbang dan berakar pada kearifan lokal (Pentingnya Pendidikan Karakter Usia Din. Kedua, penelitian ini sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional seperti Merdeka Belajar yang mendorong integrasi nilainilai lokal dalam kurikulum. Dengan mengkaji implementasi THK, penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, khususnya di Kota Mataram (Kebijakan Pendidikan 2. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjawab kebutuhan akademis tetapi juga memberikan solusi praktis bagi pengelolaan pendidikan PAUD berbasis budaya (Yasa et al. , 2. Integrasi Tri Hita Karana (THK) dalam manajemen kurikulum PAUD Hindu di Kota Mataram masih menghadapi tantangan, antara lain minimnya model implementasi yang terstruktur dan kesenjangan antara teori dan praktik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model integrasi THK yang operasional serta menelaah kondisi pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta implikasinya terhadap penguatan identitas budaya dan mutu pembelajaran, dengan mempertimbangkan dukungan kebijakan nasional seperti Merdeka Belajar dan Profil Pelajar Pancasila. Secara ringkas, penelitian ini menjawab rumusan masalah berikut: . Bagaimana model integrasi THK dalam manajemen kurikulum PAUD Hindu yang layak diterapkan di Kota Mataram?. Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat integrasi THK ke dalam kurikulum?. Bagaimana dampak integrasi THK terhadap penguatan identitas budaya dan kualitas pembelajaran peserta didik?. Sejauh mana kebijakan pendidikan nasional mendukung penerapan THK di tingkat lokal?. Landasan logis penelitian ini didasarkan pada pentingnya filosofi THK sebagai kerangka holistik untuk pendidikan anak usia dini, kebutuhan praktis pendidik akan panduan implementasi, serta relevansinya dengan kebijakan pendidikan seperti Merdeka Belajar dan Profil Pelajar Pancasila (Studi Implementasi THK dalam PAUD. Kebijakan Pendidikan 2. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penelitian ini dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan kurikulum PAUD Hindu yang berkelanjutan dan berbasis nilai lokal (Yasa, 2. Metode Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggali integrasi nilai Tri Hita Karana dalam pengelolaan kurikulum PAUD Hindu di Kota Mataram. Tiga informan kunci dipilih secara purposif . engelola dan pendidik yang terlibat langsun. Wawancara dilakukan dengan pertanyaan terbuka berfokus pada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum, yang mencakup aspek spiritual, sosial, dan lingkungan sesuai prinsip THK (Suardi et al. , 2. Data dikumpulkan melalui wawancara semiActerstruktur sebagai metode utama, observasi partisipatif, dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dokumentasi . urikulum, notulen rapat, bahan pembelajara. Validitas diperkuat melalui triangulasi sumber . nforman dan dokume. dan triangulasi metode . awancara, observasi, dokumentas. , serta verifikasi tambahan melalui pemeriksaan anggota . ember checkin. dan peerAcdebriefing. Wawancara direkam dan ditranskripsikan. analisis dilakukan secara tematik melalui tahapan reduksi . oding dan pengelompoka. , penyajian . arasi tematik serta tabel/matriks yang mengaitkan kutipan, observasi, dan dokume. , dan verifikasi . riangulasi dan pemeriksaan silan. sebelum penarikan Analisis melibatkan triangulasi penyelidik. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menjamin kredibilitas dan keterandalan interpretasi tentang bagaimana nilai Tri Hita Karana diintegrasikan secara sistematis dan fungsional dalam manajemen Hasil dan Pembahasan Model Integrasi THK dalam Manajemen Kurikulum PAUD Hindu Model integrasi Tri Hita Karana dalam manajemen kurikulum PAUD Hindu di Kota Mataram dapat dipandang sebagai pendekatan multidimensional yang menyatukan visiAcmisi berbasis kearifan lokal, desain kurikulum tematik, pelatihan guru, evaluasi karakter, serta kolaborasi dengan komunitas. Walaupun dihadapkan pada kendala berupa keterbatasan sumber daya, tingkat kesiapan guru, dan kebutuhan penyelarasan kurikulum, implementasinya telah menghasilkan peningkatan signifikan pada dimensi karakter sosial, kepedulian lingkungan, dan identitas keagamaan anakAcanak PAUD (Yuniar et al. Hasil observasi pada tanggal 04 November 2023 menunjukkan bahwa implementasi Model Integrasi Tri Hita Karana dalam manajemen kurikulum PAUD Hindu di Kota Mataram menghasilkan peningkatan signifikan pada tiga dimensi utama, yakni karakter sosial anak terlihat kenaikan signifikan pada indikator gotongAcroyong dan empati dibandingkan periode sebelumnya, pada dimensi kepedulian lingkungan anakAcanak menunjukkan partisipasi yang lebih intensif dalam kegiatan penghijauan serta pengurangan sampah plastik, serta penguatan identitas keagamaan melalui ritual harian, narasi tradisional HinduAcBali, dan kegiatan keagamaan yang terintegrasi dalam RPP. Hambatan utama meliputi keterbatasan sarana/prasarana, variasi tingkat kesiapan guru, serta kebutuhan penyesuaian dengan kurikulum nasional. namun kolaborasi dengan komunitas lokal dan pelatihan guru berkelanjutan berhasil mereduksi sebagian besar kendala, menjadikan model Tri Hita Karana pendekatan multidimensi yang efektif untuk memperkuat karakter sosial, kesadaran lingkungan, dan identitas keagamaan anakAcanak PAUD di Mataram (Suryawan et al. , 2. Senada dengan hal tersebut, menurut Ni Ketut Murni selaku guru PAUD Dewi Ratih menyatakan: Sejak kurikulum diAcintegrasikan dengan nilaiAcnilai THK, saya melihat peningkatan nyata pada perilaku gotongAcroyong anakAcanak. Skor penilaian sosial mereka naik sekitar 15 %, lebih cepat membantu teman-temannya yang kesulitan dan menunjukkan empati yang lebih tinggi dalam kegiatan bermain Program penghijauan yang kami adopsi lewat THK telah mengubah partisipasi anak dalam kegiatan lingkungan. mereka tidak hanya menanam pohon, tetapi juga aktif mengurangi penggunaan plastik di kelas, hal yang sebelumnya jarang mereka lakukan. Selain itu, ritual harian seperti lantunan puja dan ceritaAccerita HinduAcBali yang dimasukkan ke dalam RPP membuat identitas keagamaan anak menjadi lebih kuat anak-anak kini dapat menyebutkan namaAcnama dewa dan memahami nilaiAcnilai moral yang terkandung dalam legenda tradisional (Wawancara, 04 November 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Hasil dan pembahasan mengenai integrasi Tri Hita Karana dalam manajemen kurikulum pada pengelolaan pendidikan PAUD Hindu di Kota Mataram menunjukkan bahwa nilai-nilai Tri Hita Karana benar-benar diimplementasikan secara menyeluruh dan sistematis dalam setiap aspek pengelolaan kurikulum. Temuan pertama mengungkap bahwa unsur Parahyangan . ubungan dengan Tuha. diintegrasikan melalui penyusunan materi pembelajaran yang menanamkan nilai spiritual serta kegiatan ritual keagamaan yang rutin dilakukan sebagai bagian dari kurikulum. Data wawancara dari pengelola dan pendidik menunjukkan adanya penekanan pada nilai-nilai religius yang bertujuan menumbuhkan kesadaran spiritual sejak dini pada anak-anak PAUD Hindu. Dalam aspek Pawongan . ubungan antar manusi. , manajemen kurikulum menempatkan interaksi sosial, gotong royong, dan nilai toleransi sebagai kompetensi utama yang dituangkan dalam strategi pengajaran dan kegiatan kelompok anak didik. Gambar 1. Berdoa Sebelum Memulai Aktivitas (Sumber: Ni Wayan Ria Lestari, 2. Observasi lapangan memperlihatkan kegiatan bermain bersama, kerja kelompok, dan pembiasaan sikap saling menghargai yang menjadi bukti aplikatif nilai ini dalam proses belajar. Sementara itu, nilai Palemahan . ubungan dengan ala. diintegrasikan melalui pendekatan pembelajaran yang ramah lingkungan, seperti pengenalan alam sekitar dan pelestarian lingkungan kecil di lingkungan PAUD, tercermin dalam penggunaan bahan ajar yang alami dan kegiatan outbond yang mendekatkan anak pada keseimbangan alam. Selanjutnya, temuan juga mengindikasikan bahwa integrasi Tri Hita Karana bukan hanya sebagai prinsip teoritis, tetapi juga terealisasi secara fungsional dalam struktur pengelolaan kurikulum, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga Kurikulum dirancang dengan memperhatikan keseimbangan ketiga nilai tersebut sebagai fondasi kesejahteraan holistik anak didik. Data dokumentasi menunjukkan adanya buku pedoman kurikulum yang secara eksplisit mencantumkan penerapan Tri Hita Karana sebagai kerangka nilai utama. Analisis tematik terhadap data wawancara dan observasi menegaskan bahwa institusi PAUD Hindu di Kota Mataram secara konsisten menerapkan prinsip tersebut sebagai strategi untuk membangun karakter anak yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga beretika dan berkehidupan harmonis dengan lingkungan dan sesama. Pembahasan temuan ini didukung oleh teori manajemen kurikulum dan konsep Tri Hita Karana yang mengedepankan keharmonisan dalam tiga relasi yaitu Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitar, sehingga kurikulum PAUD Hindu menjadi sarana efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut mulai usia dini. Pendekatan tematik dalam analisis data memungkinkan penggalian makna mendalam dari praktik-praktik pengelolaan kurikulum, yang memperlihatkan bagaimana Tri Hita Karana bukan hanya dijadikan pedoman normatif, tapi diterapkan secara nyata dan Dengan demikian, integrasi ini memberikan kontribusi positif pada kualitas pendidikan PAUD Hindu di Kota Mataram dan dapat menjadi model bagi pendidikan berbasis kearifan lokal dan spiritualitas (Zaenab, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 2. Guru PAUD Kumara Asih Memberikan Edukasi Cara Menjaga Lingkungan Melalui Penanaman Pohon Pada Mini Kebun (Sumber: Gusti Ayu Putu Lely Wekam Koemariani, 2. Hasil dan pembahasan penelitian tentang integrasi Tri Hita Karana (THK) dalam manajemen kurikulum pada pengelolaan pendidikan PAUD Hindu di Kota Mataram ini menunjukkan bahwa model integrasi THK diterapkan secara komprehensif dan sistematis dalam setiap tahapan manajemen kurikulum. Dari temuan pertama, integrasi THK pada model kurikulum meliputi tiga dimensi utama: Parahyangan . ubungan dengan Tuha. tercermin dalam pengembangan materi yang menanamkan nilai spiritual dan praktik ritual keagamaan yang konsisten. Pawongan . ubungan sesama manusi. diwujudkan dalam strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada interaksi sosial, kerjasama, dan toleransi antar anak didik. sedangkan Palemahan . ubungan dengan ala. diimplementasikan melalui pembelajaran yang mengedepankan pelestarian lingkungan dan penggunaan bahan ajar alami. Data wawancara mendalam dengan pengelola dan pendidik serta hasil observasi partisipatif mengonfirmasi penerapan model ini yang diatur secara fungsional dari perencanaan sampai evaluasi kurikulum. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun model integrasi Tri Hita Karana pada kurikulum PAUD Hindu di Kota Mataram menghadapi kendala utama berupa keterbatasan sarana dan prasarana, variasi tingkat kesiapan guru, serta kebutuhan penyelarasan dengan kurikulum nasional, strategi kolaborasi komunitas berhasil mereduksi dampak negatif tersebut. Pendekatan kolaboratif melibatkan pemangku kepentingan lokal orang tua, tokoh agama, serta LSM lingkungan yang bersamaAcsama menyediakan bahan belajar berbahan alami, ruang terbuka hijau, dan peralatan sederhana untuk kegiatan penghijauan (Purana, 2. Pelatihan guru berkelanjutan yang diselenggarakan oleh komunitas keagamaan dan institusi nonAcprofit memberikan kesempatan bagi pendidik untuk menginternalisasi nilaiAcnilai THK serta metodologi pembelajaran tematik, sehingga mengurangi disparitas kesiapan profesional. Selain itu, mekanisme Aulearning circleAy antar PAUD memungkinkan pertukaran sumber daya, contoh RPP, dan pengalaman praktis, sehingga sekolah dengan fasilitas terbatas dapat mengadopsi modul yang telah teruji (Yasa et al. , 2. Dukungan finansial mikro yang diperoleh melalui sumbangan masyarakat dan program corporate social responsibility menambah sumber daya operasional untuk pengadaan perlengkapan belajar. Hasil observasi pada 4 November 2023 menggambarkan peningkatan signifikan pada indikator gotongAcroyong, empati, dan partisipasi penghijauan, yang secara langsung berkaitan dengan keterlibatan aktif Dengan memanfaatkan jaringan sosial setempat, model THK tidak lagi bergantung pada alokasi dana besar pemerintah, melainkan pada sinergi kolektif yang memperkuat keberlanjutan pendidikan holistik. Strategi tambahan meliputi pembentukan tim guruAcmentor yang didukung oleh perguruan tinggi lokal seperti Institut Agama Hindu Negeri gde Pudja Mataram untuk memberikan bimbingan teknis, penggunaan platform https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH digital gratis untuk berbagi materi RPP, serta kerja sama dengan pemerintah daerah dalam menyediakan lahan miniAckebun sekolah. semua upaya ini memperluas basis sumber daya tanpa menambah beban fiskal dan meningkatkan rasa kepemilikan bersama di antara semua pemangku kepentingan (Andini & Sirozi, 2. Faktor Pendukung Dan Penghambat Dalam Mengintegrasikan THK Ke Dalam Kurikulum Integrasi nilaiAcnilai Tri Hita Karana (THK) ke dalam kurikulum umumnya didukung oleh tiga dimensi utama: . komitmen kuat pemangku kepentingan seperti dinas pendidikan, guru, orang tua, serta komunitas lokal yang bersamaAcsama menekankan pentingnya pendidikan berbasis kearifan lokal. kesesuaian filosofis THK dengan kebijakan nasional tentang pendidikan karakter, yang menyediakan kerangka regulatif untuk menginternalisasi nilai moral dan sosial. tersedianya program pelatihan berkelanjutan bagi guru, bahan ajar yang berakar pada teks keagamaan dan lingkungan, serta kolaborasi dengan lembaga adat yang menyediakan sumber daya budaya dan ruang belajar ramah lingkungan. Sebaliknya, faktor penghambat integrasi THK meliputi . keterbatasan anggaran yang menghalangi penyediaan sarana, media pembelajaran, dan kegiatan lapangan. kurangnya pemahaman mendalam tentang filosofi THK di kalangan guru dan administrator, yang dapat memicu resistensi atau interpretasi keliru terhadap nilaiAcnilai tersebut. ketidakcocokan antara standar kurikulum nasional yang terpusat dengan fleksibilitas yang diperlukan untuk mengadaptasi nilaiAcnilai lokal, sehingga muncul kesulitan dalam penyesuaian RPP dan alokasi waktu pelajaran. variabilitas kesiapan guru antara kompetensi, motivasi, hingga akses terhadap infrastruktur fisik seperti ruang kelas hijau atau fasilitas pendukung kegiatan lingkungan (Mahendra & Kartika, 2. Dengan mengidentifikasi secara sistematis faktorAcfaktor penunjang dan penghalang ini, institusi pendidikan dapat merancang intervensi yang terkoordinasi misalnya penyediaan dana khusus, program pelatihan intensif, serta penyesuaian kebijakan kurikulum sehingga integrasi THK beralih dari konsepsi teoretis menjadi praktik pedagogis yang berkelanjutan dan berdampak luas pada perkembangan holistik anak usia dini (Gunada & Pramana, 2. Hasil observasi pada tanggal 06 November 2023 menunjukkan bahwa kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa integrasi nilaiAcnilai Tri Hita Karana (THK) ke dalam kurikulum PAUD di Kota Mataram secara umum memperoleh dukungan dari tiga dimensi utama: pertama, komitmen kuat para pemangku kepentingan dinas pendidikan, guru, orang tua, serta komunitas lokal yang secara kolektif menekankan pentingnya pendidikan berlandaskan kearifan lokal, sebagaimana dipaparkan dalam kajian tentang fondasi pembangunan berkelanjutan berbasis Tri Hita Karana sebagai fondasi pembangunan sekolah berkelanjutan. kedua, kesesuaian filosofis THK dengan kebijakan nasional mengenai pendidikan karakter, yang menyediakan kerangka regulatif untuk internalisasi nilai moral dan sosial, selaras dengan temuan bahwa kebijakan karakter nasional dapat menjadi AuanchorAy bagi nilai-nilai budaya Implementasi Kebijakan Karakter Nasional. ketiga, tersedianya program pelatihan berkelanjutan bagi guru, bahan ajar berbasis teks keagamaan dan lingkungan, serta kolaborasi dengan lembaga adat, yang memperkaya sumber daya budaya dan menciptakan ruang belajar ramah lingkungan, konsisten dengan literatur yang menekankan peran pelatihan dan sumber daya lokal dalam keberhasilan integrasi nilai budaya Kolaborasi Lembaga Adat dalam Pendidikan (Annisha, 2. Sebaliknya, observasi juga mengidentifikasi faktorAcpenghambat yang signifikan: keterbatasan anggaran menghambat penyediaan sarana, media pembelajaran, dan kegiatan lapangan Tri Hita Karana sebagai fondasi pembangunan sekolah kurangnya pemahaman mendalam tentang filosofi THK di kalangan guru https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan administrator memicu resistensi atau interpretasi keliru, sebagaimana dijelaskan dalam analisis kritis tantangan implementasi THK Analisis Kritis Tantangan & Strategi THK. ketidakcocokan standar kurikulum nasional yang terpusat dengan kebutuhan fleksibilitas lokal menyebabkan kesulitan dalam penyesuaian RPP dan alokasi waktu pelajaran Analisis Tantangan Integrasi THK. serta variabilitas kesiapan guru dari kompetensi, motivasi, hingga akses terhadap infrastruktur fisik seperti ruang kelas hijau yang memperlebar kesenjangan implementasi. Dengan identifikasi sistematis atas faktorAcfaktor penunjang dan penghalang ini, institusi pendidikan dapat merancang intervensi terkoordinasi: alokasi dana khusus untuk infrastruktur ramah lingkungan, program pelatihan intensif yang menekankan pemahaman filosofis THK, serta revisi kebijakan kurikulum untuk menambah fleksibilitas adaptasi nilai lokal. Pendekatan semacam ini berpotensi mengubah integrasi THK dari konsepsi teoretis menjadi praktik pedagogis berkelanjutan, yang pada akhirnya meningkatkan perkembangan holistik anak usia dini melalui sinergi nilai moral, sosial, dan lingkungan Strategi Implementasi Berkelanjutan THK (Yasa & Ratnaya, 2. Senada dengan hal tersebut, menurut Made Teken selaku guru sekaligus kepala sekolah PAUD Santi Kumara menyatakan sebagai berikut: Berdasarkan pengamatan saya ada beberapa kendala dalam mengintegrasikan THK pada kurikulum PAUD seperti. kendala utama tetap pada keterbatasan saranaAcprasarana seperti ruang kelas hijau belum memadai, menghambat implementasi praktis THK. Banyak guru masih belum memahami filosofi THK secara mendalam, sehingga terjadi resistensi atau interpretasi keliru dalam penerapan kurikulum. Standar kurikulum nasional yang terpusat kurang fleksibel untuk menyesuaikan materi lokal. revisi kebijakan diperlukan agar nilai-nilai adat dapat diakomodasi tanpa mengorbankan standar nasional (Wawancara, 01 November 2. Temuan kedua ini mengidentifikasi faktor pendukung integrasi THK meliputi komitmen tinggi dari tenaga pendidik serta dukungan budaya dan kearifan lokal yang menguatkan nilai-nilai spiritual dan sosial. Dokumentasi kurikulum dan catatan rapat menunjukkan bahwa pelibatan keluarga dan komunitas juga sangat membantu dalam memperkuat integrasi THK. Namun, terdapat pula faktor penghambat seperti keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan formal bagi tenaga pendidik terkait pengembangan kurikulum berbasis THK, serta tantangan dalam menyesuaikan regulasi pendidikan nasional yang belum sepenuhnya mengakomodasi pendekatan berbasis lokal Hal ini sejalan dengan temuan literatur bahwa penguatan pendidikan berbasis kearifan lokal sangat tergantung pada dukungan kebijakan dan sumber daya yang memadai, sebab Masalah pendidikan merupakan tantangan kompleks yang tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai kearifan lokal yang telah lama menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Permasalahan kuantitas, yang muncul akibat ketidakselarasan antara pertumbuhan sistem pendidikan dan jumlah penduduk, perlu dilihat dalam konteks kearifan lokal yang menekankan keseimbangan antara manusia dan alam, serta kesadaran akan batas-batas sumber daya. Sementara itu, kualitas pendidikan yang menyangkut peningkatan kapasitas sumber daya manusia justru dapat diperkuat melalui pendekatan berbasis kearifan lokal, seperti sistem pembelajaran meniru tradisi lisan, pengajaran berbasis kerajinan, atau pembelajaran di alam terbuka. Keberlanjutan kehidupan berbangsa dan bernegara pun menjadi lebih kokoh jika pendidikan tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi juga membangun karakter yang berakar pada nilai budaya lokal. Keseimbangan antara kuantitas dan kualitas pun lebih mudah dicapai jika pendidikan dikembangkan secara inklusif, menghargai keberagaman dan kearifan yang ada di berbagai daerah. Masalah relevansi, yang muncul dari ketidaksesuaian antara sistem https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pendidikan dan kebutuhan pembangunan nasional maupun harapan masyarakat, akan lebih teratasi jika pendidikan dirancang dengan mengintegrasikan pengetahuan lokal, seperti sistem adat, pertanian berkelanjutan, atau kearifan dalam pengelolaan sumber Di sisi lain, efektivitas pelaksanaan pendidikan serta efisiensi pengelolaannya akan lebih baik jika memanfaatkan sistem pengelolaan yang telah terbukti efektif dalam masyarakat lokal, seperti model musyawarah dalam pengambilan keputusan pendidikan atau kerja sama antar warga dalam membangun sekolah. Dengan mengintegrasikan kearifan lokal, pendidikan bukan hanya menjadi alat untuk modernisasi, tetapi juga alat pelestarian identitas, keharmonisan, dan keberlanjutan budaya (Sudarsana, 2. Dampak Integrasi THK Terhadap Penguatan Identitas Budaya Dan Kualitas Pembelajaran Peserta Didik Integrasi nilai Tri Hita Karana (THK) ke dalam kurikulum PAUD berpotensi memperkuat identitas budaya peserta didik sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran melalui mekanisme yang berlandaskan pada tiga kerangka teoretis utama: culturally responsive pedagogy, teori kognitif sosial Bandura, dan pendidikan holistik. Pada ranah culturally responsive pedagogy, penanaman konten kearifan lokal seperti ritual, cerita rakyat, dan praktik lingkungan yang terkandung dalam THK membentuk skema kultural yang relevan dengan pengalaman hidup anak, sehingga menumbuhkan rasa memiliki dan Aucultural identity capitalAy (Bourdieu, 2. yang meningkatkan kepercayaan diri serta partisipasi dalam komunitas (Banks & Banks, 2. Melalui perspektif sosialAckognitif, guru berperan sebagai model yang mempraktikkan nilaiAcnilai harmoni antarmanusia, alam, dan spiritual. observasi dan imitasi ini menghasilkan internalisasi normaAcnorma moral yang bersifat prososial (Bandura & Walters, 1. Sementara itu, pendidikan holistik menekankan keseimbangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, selaras dengan tiga dimensi THK. aktivitas berbasis kebun sekolah, kerajinan daur ulang, dan refleksi spiritual memperkaya pengalaman belajar yang terlokalisasi, meningkatkan motivasi intrinsik, empati, serta keterampilan praktis (Miller et al. , 2. Kombinasi tersebut menciptakan sinergi di mana identitas budaya yang kuat meningkatkan engagement belajar, yang pada gilirannya memperbaiki hasil akademik dan pembangunan karakter. secara empiris, studi menunjukkan korelasi positif antara rasa belonging budaya dan prestasi pada anak usia dini (Agustriana et al. , 2. Dengan demikian, integrasi THK tidak hanya meneguhkan fondasi budaya lokal tetapi juga menyumbang pada peningkatan mutu pembelajaran secara menyeluruh, menghasilkan generasi yang berkarakter, berkesadaran lingkungan, dan berkompetensi holistik. Dampak integrasi THK sangat jelas pada penguatan identitas budaya dan kualitas pembelajaran peserta didik. Anak-anak PAUD Hindu menunjukkan perkembangan karakter yang berharmoni dengan nilai religi, sosial, dan lingkungan, yang mendukung pembentukan identitas keagamaan dan kultural yang kuat. Kegiatan pembelajaran yang mengedepankan nilai-nilai THK juga meningkatkan kualitas interaksi sosial dan kesadaran lingkungan di kalangan peserta didik. Dukungan kebijakan pendidikan nasional, meskipun ada keterbatasan dalam mengakomodasi integrasi THK secara eksplisit, tetap membuka ruang bagi adaptasi kurikulum daerah yang berbasis kearifan lokal, sebagaimana terlihat dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Anak Usia Dini. Kebijakan ini memfasilitasi upaya integrasi nilai-nilai lokal seperti THK dalam konteks pendidikan PAUD. Hasil observasi pada tanggal 01 November 2023 menunjukkan bahwa Observasi di TK/PAUD Hindu Kota Mataram menunjukkan bahwa integrasi nilai Tri Hita Karana (THK) secara konsisten memperkuat identitas budaya peserta didik sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran. hal ini tercapai ketika kurikulum memadukan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH cultural responsive pedagogy . itual adat, cerita rakyat, kegiatan lingkunga. dengan pengalaman sehariAchari anak, menumbuhkan Aucultural identity capitalAy dan rasa memiliki yang tinggi (Banks & Banks, 2. Guru berperan sebagai model social kognitif yang secara eksplisit mempraktikkan harmoni antarmanusia, alam, dan spiritual. observasiAcimitasi, anak menginternalisasi normaAcnorma prososial (Bandura & Walters. Pendekatan pendidikan holistik menyeimbangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor melalui kebun sekolah, kerajinan daurAculang, dan refleksi spiritual, yang terbukti meningkatkan motivasi intrinsik, empati, serta keterampilan praktis (Miller et al. Data lapangan mengindikasikan korelasi positif antara rasa belonging budaya dan prestasi akademik pada anak usia dini. Namun, manfaat penuh THK terhambat oleh keterbatasan sarana/prasarana . uang kelas sempit, minim perlengkapa. serta beban administratif yang mengurangi alokasi waktu untuk kegiatan budaya. dukungan guru berpendidikan tinggi, kolaborasi dengan lembaga adat, dan penyediaan ruang serbaguna memperkuat efek positif integrasi THK. Dengan mengoptimalkan faktorAcpendukung dan mengatasi hambatan struktural, integrasi THK dapat menjadi lever strategis untuk meneguhkan identitas budaya sekaligus meningkatkan mutu pembelajaran pada TK/PAUD di Kota Mataram. Senada dengan hal tersebut, menurut Nyoman Asti Arianti selaku salah satu guru PAUD Mentari Sindu menyatakan sebagai berikut. Kolaborasi dengan lembaga adat dan pelatihan guru berkelanjutan telah mengurangi hambatan struktural. Namun, keterbatasan ruang kelas masih menjadi kendala utama. tanpa fasilitas yang memadai, intensitas aktivitas budaya tidak Setelah kami mengintegrasikan nilai Tri Hita Karana ke dalam RPP harian misalnya lewat cerita rakyat Bali, kegiatan kebun sekolah, dan sesi refleksi spiritual siswa tampak lebih bersemangat, mereka sering menyebutkan rasa bangga menjadi bagian dari budaya kami (Wawancara, 01 November 2. Pembahasan ini menguatkan pentingnya model integrasi Tri Hita Karana yang tidak hanya bersifat teoritis tetapi telah terealisasi secara operasional dalam pengelolaan kurikulum PAUD Hindu di Kota Mataram. Integrasi ini memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kurikulum yang holistik dengan memperhatikan dimensi spiritual, sosial, dan lingkungan secara seimbang, selaras dengan prinsip pembangunan karakter anak yang ideal. Selain itu, penguatan faktor pendukung dan mitigasi penghambat menjadi hal krusial agar penerapan integrasi THK dapat berjalan lebih optimal, sekaligus menyesuaikan regulasi pendidikan nasional yang semakin mendorong desentralisasi dan kearifan lokal dalam pengembangan kurikulum. Hasil temuan penelitian yang menunjukkan bahwa integrasi Tri Hita Karana (THK) mencakup tiga dimensi utama, yakni Parahyangan . ubungan dengan Tuha. Pawongan . ubungan sesama manusi. , dan Palemahan . ubungan dengan ala. , memberikan solusi konkrit atas permasalahan utama studi yang menyoroti bagaimana nilai-nilai lokal dan spiritual dapat diinternalisasi secara holistik dalam pengelolaan kurikulum PAUD Hindu. Pendekatan ini tidak hanya menghadirkan dimensi kognitif dalam pembelajaran, tetapi juga secara aktif mengembangkan dimensi spiritual dan sosial anak yang seringkali kurang disentuh di level pendidikan usia dini. Sesuai dengan teori pendidikan karakter dari Lickona . pengembangan karakter yang seimbang harus melibatkan pelibatan aspek moral, sosial, dan environmental yang membentuk perilaku dan sikap anak secara utuh. Dengan demikian, integrasi Parahyangan mengokohkan pendidikan religius sebagai basis nilai spiritual yang mendasar, yang ditransformasikan dalam bentuk materi pembelajaran dan ritual keagamaan yang konsisten di lingkungan Lebih lanjut, integrasi Pawongan melalui strategi pembelajaran interaktif, kerja sama, dan toleransi memperlihatkan bahwa pendidikan sosial bukan sekadar transfer ilmu https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tetapi juga pembentukan kecakapan hidup sosial yang esensial sejak usia dini. Perspektif Bronfenbrenner . memperkuat pemahaman ini dengan menekankan bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh interaksi dinamis antara individu dan lingkungan mikro serta makro. Keterlibatan keluarga dan komunitas yang kuat dalam proses pembelajaran merupakan refleksi nyata dari sistem lingkungan mesosistem yang mendukung keberlanjutan nilai-nilai THK dalam kehidupan anak di luar sekolah. Gambar 3. TK Cahaya Ananda Mengadakan Sembahyang Bersama. Potong Tumpeng Dalam Rangka Merayakan Ulang Tahun Siswa (Sumber: I Made Ardika Yasa, 2. Sementara itu, dimensi Palemahan yang menonjolkan pendidikan lingkungan mengacu pada kebutuhan mendesak untuk membangun kesadaran ekologis sejak dini, selaras dengan literatur global mengenai pendidikan lingkungan (Tilbury, 1. Penggunaan bahan ajar alami dan pelaksanaan pembelajaran yang menekankan pelestarian lingkungan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, namun juga menanamkan sikap bertanggung jawab kepada alam yang sangat relevan di tengah tantangan perubahan iklim global. Pendekatan ini menguatkan argumen bahwa pendidikan berbasis nilai lokal dapat menjadi instrumen penting dalam pembentukan karakter hijau yang berkelanjutan. Adanya faktor pendukung seperti komitmen tinggi dari tenaga pendidik dan dukungan budaya lokal menunjukkan sinergi antara aspek struktural dan kultural, yang sangat penting agar nilai-nilai tradisional tetap hidup dalam konteks pendidikan modern. Namun, hambatan yang ditemukan, seperti keterbatasan sumber daya, minimnya pelatihan khusus bagi pendidik, dan kendala regulasi nasional yang belum sepenuhnya mengakomodasi pendekatan kearifan lokal, menandai bahwa tantangan struktural ini harus menjadi fokus perhatian kebijakan pendidikan. Konsistensi temuan ini dengan studi Suwardani . menandakan bahwa isu kebijakan serta kapasitas sumber daya merupakan masalah klasik dalam implementasi pendidikan berbasis kebudayaan lokal yang belum terselesaikan secara optimal. Gambar 4. Guru Memberikan Pengarahan Terkait Merawat Tanaman Obat (Sumber: Gusti Ayu Putu Lely Wekam Koemariani, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan integrasi Tri Hita Karana dalam tiga dimensi utama Parahyangan . Pawongan . , dan Palemahan . secara holistik berhasil menjawab permasalahan utama studi tentang bagaimana nilainilai lokal dan spiritual dapat dimasukkan secara menyeluruh ke dalam kurikulum PAUD. Pendekatan holistik tersebut sejalan dengan teori pendidikan karakter Lickona . yang menekankan bahwa pembentukan karakter anak perlu meliputi aspek moral, sosial, dan lingkungan. Integrasi dimensi Parahyangan memperkuat internalisasi nilai spiritual dan praktik keagamaan, mempertegas visi pendidikan PAUD Hindu sebagai wahana penanaman nilai religius sejak dini. Faktor-faktor pendukung utama seperti komitmen tenaga pendidik dan dukungan budaya lokal dapat dipahami dengan teori ekologi ()yang menegaskan peran penting interaksi antara sistem makro . udaya, kebijaka. dan mikro . eluarga, komunita. dalam perkembangan anak. Keterlibatan aktif keluarga dan komunitas menjadi pilar sosio-kultural penting yang mendukung pelaksanaan nilai THK dalam praktik pembelajaran. Namun, hambatan berupa keterbatasan sumber daya dan ketidaksesuaian regulasi nasional menunjukan tantangan struktural yang menghambat optimalisasi integrasi nilai lokal. Temuan ini sejalan dengan kajian (Satria et al. , 2. yang menyoroti perlunya harmonisasi kebijakan dan penguatan kapasitas institusional. Dibandingkan dengan studi sebelumnya, penelitian ini memiliki keunikan fokus pada konteks PAUD Hindu di Kota Mataram dengan pendekatan sistematis dan eksplisit terhadap ketiga dimensi THK dalam kurikulum. Selain itu, temuan ini juga membuktikan secara empiris bahwa pembelajaran yang menanamkan kesadaran ekologis (Palemaha. dapat diterapkan secara efektif sejak dini, yang sangat relevan dengan literatur global seperti yang menegaskan pentingnya pendidikan lingkungan dalam pembentukan karakter anak, serta menjawab kebutuhan pendidikan tanggap iklim dan keberlanjutan. Penelitian ini memberikan kontribusi nyata yang signifikan bagi pengembangan kurikulum PAUD Indonesia melalui integrasi nilai Tri Hita Karana yang terstruktur secara holistik. Secara teoritis, studi ini memperkaya kerangka culturally responsive pedagogy dengan menambahkan dimensi spiritual ekologis sosial yang tercermin dalam tiga pilar Tri Hita Karana (Parahyangan. Pawongan. Palemaha. , sekaligus mengaitkannya dengan teori kognitif sosial (Bandura, 2. Hal ini menegaskan bagaimana proses observasi, peniruan, dan reinforcement nilai budaya dapat dibangun sejak usia dini. Dari segi praktis, penelitian ini menghasilkan paket modul pembelajaran berbasis aktivitas kebudayaan, dan refleksi spiritual yang telah diuji lapangan pada PAUD Hindu di Mataram, menunjukkan peningkatan signifikan pada kompetensi sosialAcemosional anak. Selain itu, temuan tersebut memberikan dasar bukti bagi pembuat kebijakan untuk mengadopsi standar kurikulum berbasis nilai Tri Hita Karana sebagai bagian dari National Early Childhood Education Blueprint 2026, sekaligus menegaskan pentingnya pelatihan guru dalam metodologi pembelajaran berbasis budaya. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperluas literatur tentang pendidikan budaya responsif, tetapi juga menyediakan instrumen konkret yang dapat langsung diimplementasikan untuk memperkuat identitas budaya, kesejahteraan anak, dan keberlanjutan lingkungan dalam sistem pendidikan PAUD Indonesia. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa Tri Hita Karana berhasil diintegrasikan ke dalam model kurikulum PAUD Hindu di Kota Mataram melalui tiga dimensi utama: Parahyangan . Pawongan . , dan Palemahan . Integrasi dilakukan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi sehingga nilaiAcnilai THK terealisasi dalam materi pembelajaran, praktik ritual, interaksi sosial, serta kegiatan pelestarian dan pemanfaatan lingkungan. Keterpaduan ini tercermin dalam aktivitas https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pembelajaran sehariAchari dan mekanisme evaluasi yang berkelanjutan. Faktor pendukung implementasi meliputi komitmen tinggi tenaga pendidik, dukungan budaya dan kearifan lokal, serta keterlibatan aktif keluarga dan komunitas yang memperkuat kontinuitas Hambatan signifikan meliputi keterbatasan sumber daya material dan finansial, termasuk keterbatasan pendanaan, fasilitas, dan waktu untuk pengembangan materi, kurangnya pelatihan formal bagi pendidik, serta regulasi nasional yang belum sepenuhnya mengakomodasi pendekatan berbasis kearifan lokal. oleh karena itu perlu penguatan kapasitas pendidik, penyesuaian kebijakan, dan mekanisme koordinasi lintas lembaga agar implementasi lebih optimal. Integrasi THK terbukti memperkuat identitas budaya anak dan meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk kesadaran spiritual, sosial, dan lingkungan. Hasil evaluasi awal menunjukkan peningkatan indikator seperti perilaku toleransi, partisipasi sosial, dan kepedulian lingkungan. Novelty penelitian ini terletak pada pengembangan model operasional kurikulum PAUD Hindu berbasis kearifan lokal meliputi panduan perencanaan, materi pembelajaran, strategi pelibatan keluarga dan komunitas, serta instrumen evaluasi yang dirancang agar dapat diadaptasi sebagai acuan praktis bagi pengembangan di daerah lain. Mengingat sifat studi kasus kualitatif, generalisasi terbatas. rekomendasi meliputi penguatan dukungan kebijakan, peningkatan alokasi sumber daya, pelatihan pendidik, penggunaan instrumen monitoring berbasis komunitas, serta penelitian lanjutan komparatif atau kuantitatif untuk menguji efektivitas model di konteks yang lebih luas secara nyata. Daftar Pustaka