SILABUS: Jurnal Ilmu dan Inovasi Pendidikan Vol. 1 No. Maret 2024, pages: 01-10 DOI: https://doi. org/10. 62667/silabus. e-ISSN: 3047-1044 https://berugakbaca. org/index. php/silabus PENGGUNAAN METODE PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SDN 2 SAJANG KECAMATAN SEMBALUN LOMBOK TIMUR TAHUN PELAJARAN 2022/2023 Hasbiana hasbiana@gmail. Article History Manuscript submitted: 1 Maret 2024 Manuscript revised: 3 Maret 2024 Accepted for publication: 7 Maret 2024 Keywords: Metode Problem Solving Hasil Belajar Abstract Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tempat penelitian ini dilakukan di SDN 2 Sajang Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur pada siswa kelas V . Data dikumpulkan menggunakan tes, dan lembar observasi. Rancangan penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari satu kali pertemuan ditambah dengan satu kali pertemuan untuk memberikan evaluasi. Untuk melihat apakah terdapat peningkatan atau tidak digunakan statstik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . Penggunaan Metode Problem Solving pada siklus I dengan presentase ketuntasan sebesar 40%, hal ini masih belum memenuhi kriteria keberhasilan. Dari data tersebut maka perlu dilakukan perlakuan lebih lanjut yakni dilanjutkan pada siklus II, . Penggunaan Metode Problem Solving pada siklus II dengan presentase ketuntasan sebesar100 % . Dari data tersebut terlihat bahwa presentase ketuntasan secara klasikal telah berada diatas keriteria keberhasilan sebesar 80% dengan demikian maka penelitian ini dapat dikatakan selesai. Dan . Penggunaan Metode Problem Solving dapa tmeningkatkan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran matematika materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) di SDN 2 Sajang Kecamatan sembalun Kabupaten Lombok TimurTahun Pelajaran 2022/2023. SILABUS@ 2024 Pendahuluan Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suatu suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya guna memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan ilmu pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, agama, bangsa dan negara. Hal di atas dapat tercapai melalui jalur pendidikan dengan melewati berbagai bentuk proses pembelajaran. Setiap lembaga pendidikan dalam menjalankan fungsinya selalu mempunyai harapan tentang bentuk lulusan yang dihasilkan. Menurut Lukmanul Hakim . 9 :. , lulusan yang dihasilkan setidak-tidaknya memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap, sebagai bentuk perubahan perilaku hasil belajar. Menurut Sumiati . 9 :. , pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu proses yang kompleks, namun dengan tujuan yang sama yaitu memberi pengalaman belajar kepada siswa sesuai dengan tujuan. Dalam proses pembelajaran guru bertanggung jawab langsung dalam upaya mawujudkan apa yang tertuang dalam perencanaan pembelajaran dari suatu mata pelajaran tertentu yang akan di laksanakan pembelajarannya kemudian mencari dan melaksanakan upaya pemecahan segala permasalahan yang di hadapi. Dalam pembelajaran, terjadi proses belajar mengajar antara guru, sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya piker manusia. Matematika perlu di berikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerjasama. Pada praktiknya seringkali terungkapkan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit untuk diajarkan maupun dipelajari. Salah satu alasannya karena matematika merupakan pelajaran yang sangat hierarkis. Dalam kegiatan proses pembelajaran matematika masih banyak siswa menganggap belajar matematika adalah aktivitas yang kurang menyenangkan. Salah satu penyebab hal di atas adalah kurangnya motivasi belajar yang dimiliki siswa. Menurut Muhammad Asrori . 9 :. , motivasi diartikan sebagai: . dorongan yang timbul pada diri seseorang, secara disadari atau tidak disadari, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan . Usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang ingin dicapai. Peristiwa yang menonjol didalam proses pembelajaran adalah siswa kurang termotivasi, kurang terlibat, dan tidak punya inisisatif dan kontributif baik secara intelektual maupun emosional. Pertanyaan, ide ataupun pendapat dari siswa jarang muncul. Kalaupun ada pertanyaan, ide atau pendapat yang muncul jarang diikuti oleh siswa lain sebagai respon. Menurut Sumiati . 9 :. , kemampuan menyelenggarakan proses pembelajaran merupakan salah satu persyaratan utama seorang guru dalam mengupayakan hasil yang lebih baik dari pembelajaran yang dilaksanakan. Kemampuan ini memerlukan suatu landasan konseptual dan pengalaman praktik. Abdul Majid . 9 :. , menyatakan proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang Berdasarkan pengamatan awal, dari hasil ulangan umum semester ganjil mata pelajaran matematika kelas V Tahun Pelajaran 2023/2023, nilai rata-rata kelasnya yaitu 60 atau dibawah standar nilai ketuntasan minimal Berangkat dari hal tersebut penulis akan mengadakan penelitian tentang Aupenggunaan metode problem solving untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V mata pelajaran Matematika materi kelipatan persekutuan terkecil di SDN 2 Sajang Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Tahun Pelajaran 2022/2023Ay. Metode Penelitian Secara umum, penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas dalam istilah aslinya disebut dengan Classroom Action Research. Istilah penelitian tindakan berasal dari frase action research. Disamping istilah tersebut, dikenal istilah lain yang sama-sama diterjemahkan dari frase action research, yaitu riset aksi, kaji tindak, dan riset Penelitian kualitatif menggunakan peneliti sebagai instrumen dengan melaksanakan peran sosial interaktif, pengamatan, interviu, mencatat hasil pengamatan dan interaksi bersama partisipan. Penelitian kuantitatif menggunakan instrumen-instrumen formal, standar dan bersifat mengukur. Penelitian ini akan dilaksanakan pada siswa kelas V SDN 2 Sajang Tahun Pelajaran 2013/2014 dengan jumlah siswa 40 orang yang terdiri dari siswa laki-laki sebanyak 18 orang dan siswa perempuan 22 orang. Berdasarkan kajian konseptual-teoretis tentang prosedur atau langkah-langkah Penelitian Tidakan Kelas (PTK), maka dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan model siklus dengan empat langkah tindakan yang biasa dilakukan, yaitu . perencanaan, . tindakan, . observasi atau pengamatan, dan . Tindakan Perencanaan Observasi Siklus I Refleksi Tindakan Perencanaan Observasi Siklus II Refleksi Gambar 1. Langkah-langkah penelitian Hasil dan Pembahasan Setelah dilaksanakan proses pembelajaran pada setiap siklusnya, setiap siswa diberikan tes dengan tujuan untuk mengukur penguasan terhadap materi dan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa pada setiap Lengkapnya hasil kriteria hasil tes siswa dapat dilihat pada table berikut: Data hasil penelitian KOMPONEN NILAI RATA-RATA TES PENGEMBANGAN NILAI TES AWAL/ PREE TES SIKLUS I SIKLUS II Nilai Rata-rata 25,25 52,38 85,13 Ketuntasan % Presentase Kategori E . C . urang A (Sangat bai. Peningkatan Kegiatan penjelasan inti Pendukung metode problem Tabel 4. 1 Rekapitulasi perkembangan hasil belajar siswa dari pree test hingga siklus akhir Deskripsi Data Data tesebut diatas mengikuti alur pelaksanaan atau tahapan-tahapan sebagai berikut: Perencanaan, meliputi penetapan materi pembelajaran matematika dengan kompetensi menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan operasi hitung kelipatan persekutuan terkecil dan penetapan alokasi waktu pelaksanaan . Nopember 2013 s/d 13 Nopember 2. Tindakan, meliputi seluruh proses kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan problem Observasi, dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran, meliputi keterampilan dalam memahami materi, dan hasil belajar siswa. Refleksi, meliputi kegiatan analisis hasil pembelajaran dan sekaligus menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan penelitian dilakukan secara kolaborasi dengan teman sejawat yang membantu dalam kegiatan observasi dan refleksi. Dengan demikian kegiatan penelitian ini secara tidak langsung dapat terkontrol, sehingga kevalidan hasil penelitian dapat terjaga Penjelasan Persiklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan alur atau tahapan: Perencanaan. Tindakan. Observasi, dan Refleksi disajikan dalam dua siklus sebagai berikut: Setelah diadakan pree tes, yakni meminta siswa memecahkan permasalahan-permasalahan sesuai materi pelajaran dan dianalisis hasilnya, peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut: Adanya peningkatan dalam setiap komponen penilaian meskipun belum signifikan. Hasil yang dimaksud tampak seperti berikut ini. 10% Siswa mampu menyelesaikan soal. 90% Siswa tidak dapat menyelesaikan soal. Adapun faktor-faktor penyebabnya adalah: . pada siklus ini siswa hanya dituntut untuk menyelesaikan soal-soal . tidak adanya penjelasan materi oleh guru. Masih ada sebagian siswa yang belum mampu menyelesaikan soal yang diberikan. Hal ini karena faktor faktor berikut: Kemampuan prasyarat siswa terutama pada pemahaman soal masih rendah. Kemampuan dalam menguraikan jawaban masih tidak teratur. Banyak siswa yang cenderung berpikir instan. Para siswa biasanya hanya mengambil metode begitu saja tanpa menganalisanya terlebih dahulu. Perlu diingatkan pada siswa, bahwa sebelum menjawab soal siswa terlebih dahulu memahami soal tersebut dengan sebaik-baiknya. Siklus I Tahap Perencanaan. Identifikasi masalah. Menyusun perangkat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Menentukan metode pembelajaran. Mengembangkan model pembelajaran. Mengembangkan model penilaian. Menyusun instrumen penyaring data. Menyiapkan soal-soal tes hasil belajar siklus I Tahap Pelaksanaan Tindakan. Pelaksanaan siklus I ada 2 pertemuan yaitu tanggal 06 Nopember 2013 dan tanggal 08 Nopember 2013. Dalam pelaksanaan pembelajaran pertemuan pertama tanggal 21 Oktober 2013 kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan skenario pembelajaran siklus I, pertemuan pertama dengan materi menentukan hasil kelipatan persekutuan terkecil melalui soal cerita. Sedangkan untuk pelaksanaan pertemuan kedua pada tanggal 24 Oktober 2013, merupakan lanjutan dari pelaksanaan pertemuan pertama, pelaksanaan pembelajaran kedua ini disesuaikan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah Dalam pelaksanaan pembelajaran, pertemuan kedua ini merupakan tahapan mempersentasekan dari masing-masing kelompok setelah masing-masing kelompok membahas tentang materi kelipatan persekutuan terkecil yang telah didiskusikan pada pertemuan pertama. Pada pelaksanaan siklus kedua ini dilakukan evaluasi pada akhir pembelajaran pertemuan kedua, hal ini dilakukan untuk dapat mengetahui seberapa besar kemampuan berpikir siswa dalam memahami materi yang telah dipelajari. Tahap Observasi dan Evaluasi . Observasi . Hasil observasi siswa siklus I Observasi siswa dilakukan ketika pelaksanaan pembelajaran berlangsung baik pada pertemuan pertama maupun pada pertemuan kedua, observasi siswa ini dilakukan oleh peneliti sendiri. Berikut data hasil observasi aktivitas siswa siklus I. Tabel 4. 2 Data observasi aktivitas siswa siklus I Pertemuan siklus I Rata-rata Kategori Skor aktivitas Skor aktivitas pertemuan pertama pertemua kedua Cukup aktif Berdasarkan data pada tabel tebl 4. 2 dapat dilihat bahwa jumlah skor aktivitas siswa pada pertemuan pertama adalah 17 dan jumlah skor aktivitas siswa pada pertemuan kedua adalah 19 dengan demikian rata-rata aktifitas siswa pada siklus I adalah 18 berdasarkan kriteria penggolongan skor aktivitas belajar siswa, aktivitas belajar siswa pada siklus I termasuk dalam kategori cukup aktif. Berdasarkan hasil observasi pada siklus I pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua peneliti mendapatkan beberapa kekurangan antara lain sebagai berikut: Siswa masih takut menyampaikan pertanyaan tentang materi yang belum pahami. Siswa kurang memahami soal. Siswa kurang percaya diri dalam mendemonstarasikan hasil kerjanya dipapan tulis. Cara menguraikan jawaban penyelesaian masih tidak teartur. Untuk melihat meningkat atau tidaknya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran maka dilanjutkan ke siklus II. Hasil observasi kegiatan guru siklus I Observasi guru yang dilakukan bertujuan untuk mengamati prilaku guru pada proses belajar mengajar, dari hasil observasi tersebut di dapat data sebagai berikut: Tabel 4. Data aktivitas guru siklus I Pertemuan siklus I Rata-rata Skor aktivitas Skor aktivitas pertemuan pertama pertemua kedua Kategori Cukup baik Berdasarkan tabel 4. 3 di atas skor aktivitas guru siklus I pertemuan pertama adalah 19 dan skor aktivitas guru pertemuan kedua adalah 21 dengan rata-rata skor aktivitas pertemuan pertama dan pertemuan kedua adalah 20. Berdasarkan kriteria penggolongan skor aktivitas maka aktivitas mengajar pada siklus I termasuk dalam kategori cukup baik. Namun dari hasil observasi masih terdapat kekurangan pada saat proses pembelajaran berlangsung diantaranya : Kurang menarik perhatian siswa. Kurang terampil dalam memotivasi peserta didik. Kurang terampil dalam mengelola kelas. Kurang mampu menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan masalah dalam soal. Evaluasi Evaluasi kemampuan siswa dilakukan diakhir siklus I dengan pemberian soal uraian dengan 5 butir soal. Adapun hasil evaluasi pada pelaksanaan siklus I adalah sebagai berikut: Tabel. 4 Data hasil tes evaluasi belajar siswa siklus I Diskriptor Skor maksimal Skor minimal Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Rata-rata nilai siswa Persentase ketuntasan Predikat 52,38 Berdasarkan tabel di atas, hasil tes evaluasi belajar siswa siklus I adalah jumlah siswa yang mengikuti tes sebanyak 40 orang dengan jumlah butir soal 5 soal. Adapun siswa yang sudah tuntas adalah 16 orang dan yang belum tuntas adalah 24 orang dengan rata-rata nilai hasil tes siklus I adalah 52,38 dan persentase ketuntasan 40 % Berdasarkan rumus ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal masih belum mencapai ketuntasan sehingga akan di tingkatkan pada pembelajaran siklus II. Tahap Refleksi Refleksi merupakan hasil yang diperoleh dari observasi dan evaluasi belajar siswa yang dikumpulkan dan dianalisis. Hal ini dapat dilihat dari observasi siswa yang dilakukan pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua terdapat beberapa indikator yang tidak nampak sehingga dilakukan perbaikan oleh peneliti pada siklus ke II. Adapun perbaikan-perbaikan yang akan dilaksanakan pada siklus II. Meningkatkan motivasi siswa agar lebih aktif dalam proses pembelajaran. Memberikan motivasi agar siswa lebih aktif dalam bertanya. Siswa dibiasakan belajar dengan memecahkan masalah melalui diskusi kelompok. Menekankan kepada siswa sebelum menjawab terlebih dahulu memahami soal dengan baik. Ditekankan kepada siswa dalam menjawab, uraian jawaban harus rapi dan teratur supaya mudah dipahami. Siklus II Tahap Perencanaan . Menyusun rencana perbaikan. Memadukan hasil refleksi siklus I agar siklus II lebih efektif. Tahap Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan siklus II ada 2 pertemuan yaitu tanggal 13 Nopember 2013 dan tanggal 16 Nopember Dalam pelaksanaan pembelajaran pertemuan I tanggal 13 Nopember 2013 kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan skenario pembelajaran siklus II pertemuan I dengan materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK). Sedangkan untuk pelaksanaan pertemuan ke II pada tanggal 16 Nopember 2013, merupakan lanjutan dari pelaksanaan pertemuan ke I, pelaksanaan pembelajaran ke II ini disesuaikan dengan RPP yang telah Dalam pelaksanaan pembelajaran pertemuan ke II ini merupakan tahap pemaparan dari masing-masing kelompok setelah masing-masing kelompok mendiskusikan tentang soal yang melibatkan penyelesaian yang menggunakan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) yang telah didiskusikan pada pertemuan ke I, dan dalam pertemuan ke II diadakan evaluasi pada akhir pembelajaran pertemuan ke II, hal ini dilakukan untuk dapat mengetahui seberapa besar siswa memahami materi yang telah dipelajari. Tahap Observasi dan Evaluasi . Observasi . Hasil observasi kegiatan siswa siklus II Observasi siswa dilakukan ketika pelaksanaan pembelajaran berlangsung baik pada pertemuan I maupun pada pertemuan II, observasi siswa ini dilakukan oleh peneliti sendiri. Berikut data hasil observasi aktivitas siswa siklus II. Tabel. 5 Data observasi aktivitas siswa siklus II Pertemuan siklus II Rata-rata Kategori Skor aktivitas Skor aktivitas pertemua II Aktif Berdasarkan data pada AuTabel 4. 5 dapat dilihat bahwa jumlah skor aktivitas siswa pada siklus II pertemuan I adalah 30 dan jumlah skor aktivitas siswa pada pertemuan II adalah 35 dengan demikian rata-rata aktifitas siswa pada siklus I adalah 32,5. Berdasarkan analisa dan kriteria penggolongan skor aktivitas belajar siswa, aktivitas belajar siswa pada siklus II termasuk dalam kategori aktif. Hasil observasi kegiatan guru siklus II Observasi guru yang dilakukan bertujuan untuk mengamati prilaku guru pada proses belajar mengajar, dari hasil observasi tersebut di dapat data sebagai berikut : Tabel. 6 Data aktivitas guru siklus II Pertemuan siklus II Skor aktivitas Skor aktivitas pertemua II Rata-rata Kategori Aktif Berdasarkan tabel 4. 6 di atas, skor aktivitas guru siklus II pertemuan I adalah 28 dan skor aktivitas guru pertemuan II adalah 35 dengan rata-rata skor aktivitas pertemuan I dan pertemuan II adalah 32,5. Berdasarkan kriteria penggolongan skor aktivitas maka aktivitas mengajar pada siklus II termasuk dalam kategori aktif. Evaluasi Evaluasi kemampuan siswa dilakukan diakhir siklus II dengan pemberian soal Essay 5 butir. Adapun hasil evaluasi pada pelaksanaan siklus II adalah sebagai berikut: Tabel. 7 Data hasil tes evaluasi belajar siswa siklus II Diskriptor Skor maksimal Skor minimal Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Rata-rata nilai siswa Persentase ketuntasan Predikat 85,13 Berdasarkan tabel di atas, hasil tes evaluasi belajar siswa siklus II siswa yang mengikuti tes sebanyak 40 orang siswa dengan jumlah butir soal 5 soal. Adapun siswa yang sudah tuntas adalah 40 orang dengan rata-rata nilai hasil tes siklus II adalah 85,13 dan persentase 100 %. Berdasarkan rumus ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal sudah mencapai ketuntasan sehingga dapat dikatakan adanya peningkatan belajar siswa dari tes belajar siklus II. Refleksi Refleksi merupakan hasil yang diperoleh dari observasi dan evaluasi belajar siswa dikumpulkan serta Dilihat dari hasil yang diperoleh pada pelaksaan evaluasi belajar dan observasi aktivitas siswa dikatakan telah tuntas karena telah mencapai ketuntasan klasikal mencapai 100 %. Dengan demikian tidak adanya lagi perbaikan-perbaikan disebabkan ketuntasan secara klasikal telah terpenuhi sehingga penggunaan metode problem solving dikatakan berhasil dan efektif pada proses belajar mengajar pada pelajaran Matematika materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) Pembahasan Hasil Penelitian Pembahasan ini diarahkan untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis tindakan yang diajukan Berdasarkan analisis data kuantitatif dan kualitatif, pedoman observasi, pedoman wawancara untuk guru, dan pedoman wawancara untuk siswa. Hasil penelitian menunjukkan keadaan sebagai berikut. Pedoman Observasi Lembar observasi yang digunakan pada pertemuan I dan pertemuan II meliputi: . identifikasi perencanaan pembelajaran, . pengamatan pelaksanaan pembelajaran, . identifikasi pelaksanaan pembelajaran, dan . Analisis data. Semua tahapan dalam pelaksanaan pembelajaran telah dilaksanakan dengan baik, pada pertemuan I maupun pertemuan II. Kegiatan guru terjawab positif, demikian juga kegiatan siswa. Antusias siswa terhadap kegiatan pembelajaran terlihat jelas dari perasaan mereka yang terpancar kegembiraan. Mereka lebih mudah memahami materi pelajaran dengan metode problem solving. Kuesioner Untuk Siswa Hasil kuesioner untuk siswa menyebutkan bahwa metode problem solving merupakan metode yang mengembangkan pemikiran dan keterampilan dalam menyelesaikan masalah dalam matematika. Dengan demikian, siswa merasa lebih terampil dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Jadi, hipotesis telah terbukti bahwa: Hipotesis Pertama Keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal-soal dari siklus ke siklus mengalami peningkatan yang cukup berarti bahkan akhirnya tuntas. Hal ini berarti hipotesis pertama, terbukti benar. Hipotesis Kedua Rata-rata hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan penggunaan metode problem solving pada setiap siklusnya mengalami peningkatan cukup baik, yaitu dari 25,25 . efleksi awa. menjadi 52,38 . iklus I), dan akhirnya mencapai 85,13 . iklus II). Berarti sudah dapat melampaui batas minimal ketuntasan. Kesimpulannya, hipotesis kedua terbukti benar. Hipotesis Ketiga Keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika secara perbaikan-perbaikan utuh, setelah mengalami pembelajaran pada setiap siklus, pada akhir PTK ini tingkat keberhasilannya dapat mencapai ketuntasan. Artinya dengan menggunakan metode problem solving untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SD 2 Sajang Kecamatan sembalun Kabupaten Lombok Timur. Siswa telah memiliki daya pikir yang kuat, pengalaman dan keterampilan dalam menganalisis dan menyelesaikan soal-soal. Jadi, hipotesis ketiga juga terbukti benar. Secara keseluruhan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode problem solving untuk peningkatan hasil belajar siswa SD dapat berjalan dengan optimal. Tujuan pembelajaran pada pertemuan I dan II dapat dicapai dengan baik. Hal ini terlihat pada saat siswa menyelesaikan soal-soal. Berdasarkan uraian di atas, maka ketiga hipotesis tindakan yang diajukan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terbukti benar dan dapat diterima. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dipaparkan diatas, maka dapat ditemukan kesimpulan sebagai berikut. Penggunaan metode problem solving dalam pembelajaran matematika materi kelipatan persekutuan terkecil dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 2 Sajang Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur. Hal ini dapat dilihat pada siklus I dengan skor rata-rata aktivitas siswa 18 dan aktivitas guru 20 yang tergolong cukup aktif, sedangkan pada siklus II skor rata-rata aktivitas siswa 32,5 dan aktivitas guru 32,5 yang tergolong aktif. Ini menunjukkan adanya peningkatan setiap siklus. Penggunaan metode problem solving pada pembelajaran matematika materi kelipatan persekutuan terkecil dapat menuntaskan pembelajaran matematika siswa kelas V SDN 2 Sajang Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur dengan rumus ketuntasan secara klasikal. Hal ini dapat dilihat dari perolehan ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 40 % dan pada siklus II sebesar 100 %. Menurut kurikulum yang dikatan tuntas secara klasikal apabila memperoleh nilai 80 %. Jadi ketuntasan terjadi pada siklus II. Dengan penggunaan metode problem solving aktivitas siswa dan guru meningkat dilihat dari hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I yaitu sebesar 34,92 % dan pada siklus II sebesar 80,55 % sedangkan peningkatan aktivitas guru sebesar 38,46 %. Daftar Pustaka