Imtiyaz: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam e-ISSN: 3089-6762 Vol. 2 No. 1 Maret 2025 Strategi Akomodasi Komunikasi Mahasiswa Jawa di Lingkungan Budaya Madura: Tinjauan atas Communication Accommodation Theory Maulidiyah ShalihahA. Jisniatul HasanahA. Anisa Fitri SalsabilaA. AndiA Universitas Annuqayah, email: maulidiyahshalihah@gmail. Universitas Annuqayah, email: jisniatulhasanah@gmail. Universitas Annuqayah, email: Anisafitrisalsabila@gmail. Universitas Annuqayah, email: andihartik@gmail. Abstract This article explores intercultural communication dynamics in a multicultural academic setting, particularly the application of Communication Accommodation Theory (CAT) among Javanese students in Madura. Using a descriptive-qualitative approach, the research examines convergence and divergence strategies used by Javanese students to adapt to Madurese communication norms. Results show that effective accommodation fosters social harmony and cultural understanding. The study contributes to understanding intercultural interactions and highlights CATAos relevance in reducing social distance through communicative adjustment. Keywords: Communication. Accommodation. Intercultural. Students. Madura Abstrak Artikel ini membahas dinamika komunikasi antarbudaya di lingkungan akademik multikultural, dengan menyoroti penerapan Communication Accommodation Theory (CAT) di kalangan mahasiswa asal Jawa di Madura. Dengan pendekatan deskriptif-kualitatif, penelitian ini mengkaji strategi konvergensi dan divergensi yang digunakan mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan norma komunikasi khas Madura. Hasil menunjukkan bahwa akomodasi komunikasi yang tepat dapat menciptakan harmoni sosial dan pemahaman lintas budaya. Studi ini memperkaya pemahaman tentang interaksi antarbudaya dan menunjukkan relevansi CAT dalam mengurangi jarak sosial melalui penyesuaian komunikatif. Kata Kunci: Komunikasi. Akomodasi. Antarbudaya. Mahasiswa. Madura Imtiyaz: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam e-ISSN: 3089-6762 Vol. 2 No. 1 Maret 2025 PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ribuan suku dan budaya memiliki keragaman komunikasi yang khas di setiap daerah. Di lingkungan perguruan tinggi, mobilitas mahasiswa antar daerah menciptakan ruang interaksi lintas budaya yang menuntut kemampuan adaptasi komunikasi yang baik agar interaksi berjalan efektif dan harmonis. Pulau Madura, dengan identitas budaya yang kuat, menjadi tujuan pendidikan bagi mahasiswa dari berbagai daerah seperti Jember dan Banyuwangi. Meskipun masih dalam satu provinsi, perbedaan budaya dan pola komunikasi tetap menimbulkan tantangan dalam interaksi sosial dan akademik. Globalisasi dan perkembangan teknologi mempertemukan individu dari berbagai latar belakang budaya dalam satu ruang interaksi. Salah satunya adalah lingkungan kampus yang menjadi tempat bertemunya mahasiswa dari berbagai daerah dan budaya. Komunikasi antarbudaya menjadi keahlian penting agar interaksi berjalan efektif dan harmonis. Dalam konteks ini, teori Communication Accommodation Theory (CAT) menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk mengkaji bagaimana individu melakukan penyesuaian dalam Teori ini memandang bahwa individu cenderung menyesuaikan gaya komunikasinya demi efektivitas dan keharmonisan dalam interaksi lintas budaya. Penelitian ini fokus pada strategi akomodasi komunikasi mahasiswa asal Jawa di Universitas Annuqayah. Madura, sebagai wujud adaptasi dan negosiasi identitas budaya dalam lingkungan multikultural. Pemahaman strategi ini penting untuk menciptakan suasana akademik yang inklusif dan harmonis. Komunikasi antarbudaya, sebagai proses pertukaran pesan antar individu dari latar belakang budaya berbeda, memerlukan pengelolaan yang baik agar terhindar dari Dengan memahami teori komunikasi antarbudaya, individu dapat meningkatkan kompetensi komunikasi dan membangun kerja sama yang lebih efektif di berbagai bidang Artikel ini mengkaji strategi akomodasi komunikasi mahasiswa Jawa di lingkungan budaya Madura menggunakan tinjauan CAT sebagai landasan teoritis utama, untuk memahami bagaimana mereka mengelola perbedaan budaya dalam interaksi sehari-hari di kampus METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik studi pustaka dan observasi fenomenologis terhadap interaksi sosial mahasiswa di Universitas Annuqayah. Data primer diperoleh dari observasi partisipatif, sedangkan data sekunder berasal dari literatur akademik yang membahas teori CAT dan komunikasi antarbudaya. Analisis dilakukan dengan mengkaji pola-pola penyesuaian komunikasi, baik verbal maupun non-verbal, serta konteks sosial-budaya yang melingkupinya. Imtiyaz: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam e-ISSN: 3089-6762 Vol. 2 No. 1 Maret 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam lingkungan perguruan tinggi yang multikultural seperti Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Annuqayah, dinamika komunikasi antarbudaya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mahasiswa. Mayoritas mahasiswa di kampus ini berasal dari suku Madura, namun terdapat pula mahasiswa dari daerah lain di Jawa Timur seperti Jember dan Banyuwangi. Keberagaman ini melahirkan perbedaan dalam gaya komunikasi, kebiasaan, dan ekspresi budaya, meskipun mahasiswa dari luar Madura umumnya sudah fasih berbahasa Madura. Perbedaan latar belakang tetap menciptakan tantangan tersendiri dalam proses interaksi, sehingga mendorong terjadinya penyesuaian komunikasi. Komunikasi antarbudaya di lingkungan perguruan tinggi multikultural, seperti di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Annuqayah, menghadirkan dinamika yang kompleks dan menarik untuk dikaji melalui perspektif Communication Accommodation Theory (CAT). Teori ini, yang pertama kali diperkenalkan oleh Howard Giles atau yang kerap kali dipanggil AuHowieAy pada tahun 1973, menyoroti bagaimana individu secara sadar maupun tidak sadar menyesuaikan perilaku komunikasinya dalam interaksi lintas budaya, baik melalui bahasa verbal maupun Penyesuaian komunikasi yang dilakukan oleh mahasiswa perantau tidak hanya bertujuan untuk memudahkan proses interaksi, tetapi juga untuk membangun rasa saling pengertian, mengurangi potensi kesalahpahaman, serta menciptakan suasana akademik yang inklusif dan harmonis. Fenomena ini memperlihatkan bahwa keberhasilan komunikasi antarbudaya sangat dipengaruhi oleh kemampuan individu untuk beradaptasi secara komunikatif sesuai dengan konteks sosial dan budaya yang ada. Pengertian dan Landasan Teori Akomodasi Komunikasi Teori Akomodasi Komunikasi berakar pada gagasan bahwa setiap individu memiliki kapasitas untuk menyesuaikan, memodifikasi, atau mengatur perilaku komunikasinya sebagai respons terhadap orang lain. Giles dan rekan-rekannya menegaskan bahwa proses akomodasi ini kerap terjadi tanpa disadari, dan dapat dimaknai sebagai upaya untuk mendekatkan atau menjauhkan diri secara sosial dari lawan bicara. Dengan kata lain, komunikasi tidak hanya sekadar pertukaran pesan, melainkan juga proses negosiasi identitas dan jarak sosial. CAT dibangun di atas empat asumsi dasar: . setiap percakapan mengandung unsur persamaan dan perbedaan. persepsi dan evaluasi terhadap perilaku komunikasi lawan bicara memengaruhi kualitas interaksi. bahasa dan perilaku adalah indikator status sosial dan keanggotaan kelompok. tingkat akomodasi dipengaruhi oleh norma sosial yang Teori ini juga sangat dipengaruhi oleh Social Identity Theory yang menekankan pentingnya identitas kelompok dalam interaksi sosial. Prinsip penyesuaian dalam komunikasi ini juga sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya saling mengenal, menghormati, dan membangun hubungan yang harmonis di tengah keberagaman Prinsip-prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai Islam, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hujurat: 13: Imtiyaz: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam e-ISSN: 3089-6762 Vol. 2 No. 1 Maret 2025 eAacI a aca a A AcEE aEa s C aE a e A Aa E aI EE Ee aE aE A Ace EA A ac a aE EOC aaE s Iac E o Eac aa ac ac EOacE a s aE Oe a EI EE Ea a sa EE e aac s aE a eac EIECE aac E a EE EA AyA Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal . ita'araf. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. " (QS. Al-Hujurat: . Ayat tersebut menegaskan bahwa keberagaman suku, bangsa, dan latar belakang adalah ketetapan Allah yang memiliki tujuan mulia, yaitu agar manusia saling mengenal dan membangun relasi yang baik. Dalam konteks teori akomodasi komunikasi, ayat ini menjadi landasan filosofis bahwa penyesuaian dalam komunikasi antarbudaya merupakan salah satu cara nyata untuk mewujudkan tujuan saling mengenal . cIA A) a E E EA. Dengan menyesuaikan cara berkomunikasi sesuai dengan latar belakang budaya lawan bicara, individu dapat menciptakan pemahaman, mengurangi jarak sosial, dan memperkuat harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Strategi Akomodasi Komunikasi Mahasiswa Jawa di Lingkungan Budaya Madura Korelasi antara teori dan fenomena nyata di kampus ini tampak jelas dalam strategistrategi komunikasi yang diterapkan oleh mahasiswa dari luar Madura. Menurut CAT, individu menerapkan tiga strategi utama dalam mengakomodasi komunikasi: Strategi Konvergensi Konvergensi adalah strategi di mana individu menyesuaikan perilaku komunikasinya agar lebih mirip dengan lawan bicara. Strategi ini umumnya dimotivasi oleh keinginan untuk mengurangi jarak sosial, membangun kedekatan, dan menciptakan kesan positif. Konvergensi dapat terjadi pada level linguistik . enggunaan dialek atau akse. , paralinguistik . ntonasi dan kecepatan bicar. , maupun nonverbal . estur dan postur tubu. Strategi konvergensi menjadi pilihan utama mahasiswa perantau dalam beradaptasi dengan lingkungan budaya Madura. Mahasiswa asal Jember dan Banyuwangi menunjukkan upaya konvergensi dengan menyesuaikan gaya bahasa, sapaan, dan idiom lokal khas Madura. Penyesuaian ini tidak hanya sebatas penggunaan bahasa, tetapi juga mencakup tata krama, cara bercanda, serta cara menyampaikan pendapat yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat Madura. Dalam praktiknya, mahasiswa perantau mulai mengadopsi intonasi, pola komunikasi informal, bahkan ekspresi nonverbal yang lazim digunakan oleh mahasiswa Madura. Mereka belajar mengadopsi pola intonasi Madura yang cenderung lebih tegas dan ekspresif dibandingkan pola komunikasi Jawa yang relatif lebih halus dan tidak langsung. Penyesuaian juga terjadi pada aspek nonverbal seperti gestur, ekspresi wajah, dan penggunaan ruang personal, di mana budaya Madura yang relatif lebih ekspresif memerlukan adaptasi dari mahasiswa Jawa. Penyesuaian ini memperkuat relasi sosial dan menciptakan suasana inklusif di lingkungan kampus. Dengan demikian, konvergensi menjadi strategi utama agar mahasiswa perantau dapat diterima dengan baik dan membangun hubungan yang harmonis dengan Imtiyaz: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam e-ISSN: 3089-6762 Vol. 2 No. 1 Maret 2025 mahasiswa lokal. Konvergensi juga berfungsi sebagai jembatan untuk mengurangi potensi kesalahpahaman, mempercepat proses integrasi sosial, serta menumbuhkan rasa saling percaya di antara kelompok yang berbeda budaya. Strategi Divergensi Divergensi merupakan kebalikan dari konvergensi, di mana individu sengaja menekankan perbedaan komunikasinya dengan lawan bicara. Strategi ini sering digunakan untuk mempertahankan identitas kelompok, menunjukkan kebanggaan terhadap latar belakang budaya, atau sebagai bentuk resistensi terhadap dominasi kelompok mayoritas. Meskipun konvergensi menjadi strategi dominan, mahasiswa perantau juga menerapkan strategi divergensi dalam konteks tertentu. Sebagian mahasiswa memilih untuk tetap menggunakan bahasa Jawa dalam interaksi internal atau sesama perantau. Hal ini mencerminkan divergensi sebagai bentuk pelestarian identitas budaya sendiri. Divergensi ini menjadi penting dalam menjaga eksistensi identitas kelompok minoritas di tengah dominasi budaya mayoritas. Dengan tetap menggunakan bahasa Jawa di lingkungan tertentu, mahasiswa perantau dapat mempertahankan rasa kebersamaan, solidaritas, dan warisan budaya yang mereka miliki, tanpa kehilangan jati diri. Dalam interaksi dengan sesama mahasiswa perantau, penggunaan bahasa Jawa sering dipertahankan sebagai penanda identitas kelompok. Fenomena code-switching antara bahasa Madura dan Jawa dalam satu percakapan menunjukkan fleksibilitas komunikatif yang tinggi Divergensi juga dapat dilihat sebagai bentuk resistensi kultural yang sehat, di mana mahasiswa tetap merawat akar budaya mereka sekaligus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Dalam beberapa situasi, mahasiswa perantau sengaja menggunakan bahasa atau gaya komunikasi Jawa untuk menunjukkan kebanggaan terhadap identitas budaya Strategi ini menunjukkan bahwa penyesuaian komunikasi tidak selalu berarti meleburkan diri secara total, melainkan juga menjaga keseimbangan antara adaptasi dan pelestarian identitas. Tantangan Overakomodasi Konsep ini merupakan konsekuensi negatif yang muncul ketika strategi akomodasi komunikasiAibaik konvergensi maupun divergensiAiditerapkan secara berlebihan hingga melampaui batas kewajaran dalam interaksi. Dalam beberapa kasus, penyesuaian komunikasi yang berlebihan . justru menimbulkan kesan artifisial atau bahkan merendahkan lawan bicara. Misalnya, penggunaan idiom atau gaya bicara Madura yang terlalu dibuat-buat oleh mahasiswa perantau dapat dianggap tidak tulus atau bahkan menyinggung perasaan mahasiswa lokal. Overakomodasi dapat muncul dalam bentuk penyesuaian yang terlalu ekstrem hingga terkesan tidak otentik, sehingga perlu dilakukan secara proporsional dan kontekstual. Overakomodasi dapat termanifestasi dalam penggunaan dialek atau idiom Madura yang terlalu dibuat-buat, sehingga menimbulkan kesan bahwa mahasiswa perantau sedang "meniru-niru" atau tidak tulus dalam komunikasinya. Penggunaan ungkapan yang tidak sesuai konteks juga dapat menciptakan kesalahpahaman atau bahkan menyinggung perasaan lawan bicara. Dalam beberapa kasus, overakomodasi juga terjadi dalam bentuk penyesuaian Imtiyaz: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam e-ISSN: 3089-6762 Vol. 2 No. 1 Maret 2025 nonverbal yang berlebihan, seperti penggunaan gestur yang tidak natural atau ekspresi wajah yang terlalu dramatis. Tantangan ini menjadi catatan penting bahwa akomodasi komunikasi harus dilakukan dengan sensitivitas dan empati, agar tidak menimbulkan persepsi negatif atau memperlebar jarak sosial yang sebenarnya ingin dikurangi. Untuk menghindari overakomodasi, mahasiswa perantau perlu mengembangkan strategi akomodasi secara bertahap dan natural, fokus pada aspek komunikasi yang paling relevan, serta mempertahankan keseimbangan antara adaptasi dan otentisitas. Refleksi dan Implikasi Teori CAT Fenomena komunikasi antarbudaya mahasiswa Jawa di lingkungan budaya Madura memperlihatkan bahwa keberhasilan komunikasi antarbudaya sangat dipengaruhi oleh kemampuan individu untuk beradaptasi secara komunikatif sesuai dengan konteks sosial dan budaya yang ada. Penyesuaian komunikasi yang dilakukan oleh mahasiswa perantau tidak hanya bertujuan untuk memudahkan proses interaksi, tetapi juga untuk membangun rasa saling pengertian, mengurangi potensi kesalahpahaman, serta menciptakan suasana akademik yang inklusif dan harmonis. Penelitian ini menegaskan bahwa Communication Accommodation Theory tidak hanya menjadi kerangka teoritis, tetapi juga pedoman praktis dalam membangun komunikasi yang efektif dan harmonis di tengah keberagaman. Temuan utama menunjukkan bahwa proses adaptasi komunikasi bukan sekadar tuntutan pragmatis, melainkan juga bagian dari upaya membangun masyarakat kampus yang inklusif, saling menghargai, dan berorientasi pada harmoni sosial. Integrasi perspektif Islam dalam memahami komunikasi antarbudaya menunjukkan bahwa proses akomodasi komunikasi sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal yang mengutamakan saling mengenal dan membangun hubungan yang harmonis dalam keberagaman. Sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hujurat: 13, keberagaman adalah sunnatullah yang harus dihormati dan dijadikan sarana untuk saling mengenal dan membangun peradaban yang lebih Dalam jangka panjang, strategi-strategi akomodasi komunikasi ini dapat memperkuat kohesi sosial, meningkatkan toleransi, dan memperkaya pengalaman hidup mahasiswa dalam lingkungan yang beragam. Fenomena ini juga memberikan pembelajaran berharga bagi pengembangan pendidikan multikultural yang lebih efektif, di mana kemampuan komunikasi antarbudaya menjadi kompetensi penting yang harus dikuasai mahasiswa dalam menghadapi tantangan globalisasi dan masyarakat yang semakin plural. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkap dinamika komunikasi antarbudaya yang kompleks di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Annuqayah, di mana mahasiswa dari latar belakang budaya Jawa beradaptasi dengan lingkungan budaya Madura yang dominan. Melalui Communication Accommodation Theory, teridentifikasi tiga strategi utama yang diterapkan mahasiswa perantau dalam proses adaptasi komunikasi. Imtiyaz: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam e-ISSN: 3089-6762 Vol. 2 No. 1 Maret 2025 Strategi konvergensi menjadi pilihan dominan, di mana mahasiswa menyesuaikan gaya bahasa, intonasi, tata krama, dan perilaku nonverbal sesuai dengan budaya Madura. Penyesuaian ini mencakup adopsi pola komunikasi yang lebih tegas dan ekspresif, berbeda dengan komunikasi Jawa yang cenderung halus dan tidak langsung. Strategi ini terbukti efektif dalam mengurangi jarak sosial dan membangun hubungan yang harmonis. Di sisi lain, strategi divergensi juga diterapkan dalam konteks tertentu, terutama dalam interaksi sesama perantau, sebagai upaya mempertahankan identitas budaya dan solidaritas kelompok. Fenomena code-switching antara bahasa Madura dan Jawa menunjukkan fleksibilitas komunikatif tinggi dalam menjaga keseimbangan antara adaptasi dan pelestarian identitas. Penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan overakomodasi, di mana penyesuaian komunikasi yang berlebihan dapat menimbulkan kesan artifisial dan kontraproduktif. Integrasi perspektif Islam melalui QS. Al-Hujurat: 13 memperkuat landasan filosofis bahwa penyesuaian komunikasi antarbudaya merupakan manifestasi dari prinsip saling mengenal . cIA A ) a EE EAdalam keberagaman. Communication Accommodation Theory terbukti relevan tidak hanya sebagai kerangka analitis, tetapi juga sebagai pedoman praktis untuk membangun komunikasi yang efektif dalam lingkungan multikultural. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan pendidikan multikultural di perguruan tinggi, menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya yang berhasil memerlukan keseimbangan antara adaptasi dengan lingkungan baru dan mempertahankan otentisitas budaya. Strategi-strategi akomodasi komunikasi yang diterapkan dapat menjadi model untuk menciptakan lingkungan akademik yang inklusif, di mana keberagaman menjadi aset yang memperkaya dinamika sosial dan akademik. DAFTAR PUSTAKA