Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Pengaruh Perilaku Keluarga Sadar Gizi. Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita di Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah Shola Shobrina Sukarya1* | Wa Ode Salma1 | Jafriati1 1 Jurusan Kesehatan Masyarakat. Universitas Halu Oleo. Kendari. Indonesia * Corresponding Author: Shola. shobrinas@gmail. ARTICLE INFORMATION Article history Received 17 August 2025 Revised 27 September 2025 Accepted 30 September 2025 Keywords Kadarzi behavior. PHBS, toddlers, family, stunting Kata Kunci Perilaku kadarzi. PHBS, balita, keluarga, stunting Indonesian Health Science Journal Website: http://ojsjournal. E-mail: ABSTRACT Introduction: Stunting is a significant nutritional problem in Indonesia, especially in remote areas such as Sangia Wambulu District. Central Buton Regency. Nutritionconscious family behavior is believed to have an influence on the incidence of stunting. Objectives: This study aims to analyze the behavior of nutrition-conscious families toward stunting in Sangia Wambulu Subdistrict. Central Buton Regency. Methods: This research is an observational study with a cross-sectional study The sample size was 87 respondents with purposive sampling technique, and data collection tools using questionnaires. Data were analyzed using chi-square test and logistic regression test, with SPSS 0 application. Results: The results of the study indicate that nutrition-conscious family behaviors, such as regular weight monitoring . = 0. , exclusive breastfeeding . = 0. , and consuming a variety of foods . = 0. , using iodized salt . = 1. , and consuming nutritional supplements . = 1. Conclusions: Consuming a varied diet has a significant effect on the incidence of stunting in toddlers, while regular weighing, exclusive breastfeeding, consumption of iodized salt, and consumption of nutritional supplements are not associated with the incidence of stunting in toddlers. Therefore, programs that increase mothers' knowledge about nutrition and healthy lifestyles should be strengthened to reduce stunting rates in the region. ABSTRAK Pendahuluan: Stunting merupakan masalah gizi yang signifikan di Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil seperti Kecamatan Sangia Wambulu. Kabupaten Buton Tengah. perilaku keluarga sadar gizi diyakini memiliki pengaruh terhadap kejadian stunting. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku keluarga sadar gizi, terhadap kejadian stunting di Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah. Metode: Penelitian ini merupakan sebuah studi observasional dengan desain penelitian cross sectional study. Dengan jumlah sampel sebanyak 87 responden dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling, alat pengumpulan data menggunakan kuesioner. Data di analisis menggunakan uji chi square, dan uji regeresi logistik, dengan baplikasi spss versi 25. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku keluarga sadar gizi, seperti menimbang berat badan rutin . = 0,. , pemberian ASI eksklusif . = 0,. , dan konsumsi makanan beragam . = 0,. , menggunakan garam beryodium ( p = 1,. , dan mengkonsumsi suplemen gizi . = 1,. Kesimpulan: mengkonsumsi makanan yang beragam memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian stunting pada balita, sedangkan menimbang berat badan secara rutin, memberikan asi eksklusif, konsumsi garam beryodium dan konsumsi sumplemen gizi tidak memiliki hubungan dengan kejadian stunting pada Oleh karena itu, program-program yang meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi dan PHBS harus diperkuat untuk menurunkan angka stunting di daerah tersebut Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Pendahuluan Masa balita akan menjadi penentu kesejahteraan suatu bangsa, dimana balita yang memiliki perkembangan dan pertumbuhan yang optimal, akan menjadi generasi penerus yang dapat membangun bangsa (Wigati et al. , 2. Pemenuhan asupan makanan yang mengandung gizi tinggi sangatlah penting terutama pada anak yang masih berumur kurang dari 5 tahun, sebab pada masa ini pertumbuhan dan perkembangan terjadi sangat cepat. Selain itu, perkembangan otak pada masa balita pula sangat cepat yang disebut brain growth sput (Agustin et al. , 2. Balita sangat rentan mengalami malnutrisi yang dapat memperbesar risiko kematian akibat infeksi, meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan infeksi tersebut, dan memperlambat pemulihan. Salah satu masalah gizi pada anak balita saat ini adalah stunting (Yulianti & Tepi, 2. Masalah stunting merupakan isu gizi yang kompleks, terutama di negara-negara dengan tingkat kemiskinan dan perkembangan yang rendah. Menurut World Health Organization (WHO), stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang disebabkan oleh kekurangan gizi, infeksi yang sering terjadi, serta kurangnya stimulasi psikososial yang Seorang anak dikategorikan stunting jika tinggi badannya terhadap usia berada di bawah -2 standar deviasi (SD) berdasarkan kurva pertumbuhan WHO (WHO, 2. Kekurangan gizi pada masa tumbuh kembang anak usia balita akan mengakibatkan terhambatnya perkembangan fisik, kesakitan meningkat, terhambatnya perkembangan mental anak, hingga dapat menyebabkan kematian. Dalam jangka panjang stunting dapat mengakibatkan timbulnya resiko penyakit (Masan, 2. United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) bersama WHO dan World Bank melaporkan prevalensi stunting secara global pada tahun 2020 adalah 22,7%, pada tahun 2021 terjadi penurunan menjadi 22,5% dan pada tahun 2022 kembali menurunan menjadi 22,3% atau sebanyak 148,1 juta anak dengan stunting (UNICEF, 2. WHO melaporkan pada tahun 2022, 43 persen kasus stunting dunia terdapat di Afrika dan 52 persen berada di kawasan Asia termasuk Indonesia (WHO, 2. Prevalensi stunting di Indonesia cenderung menurun setiap tahunnya, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan melaporkan pada tahun 2021 prevalensi stunting di Indonesia yaitu 24,4% dan mengalami penurunan pada tahun 2022 menjadi 21,6% (Kemenkes, 2. Pada tahun 2023 Survei Kesehatan Indonesia (SKI) melaporkan prevalensi stunting di Indonesia menjadi 21,5%. Angka ini belum sesuai dengan target prevalensi stunting tahun 2023 yaitu 17,8. Salah satu fakor penyebab ketidaksesuaian dengan target dikarenakan pemerintah dan masyarakat lebih fokus melakukan intervensi pada bayi dan balita yang mengalami stunting dari pada pencegahan stunting yang dilakukan sejak dalam kandungan (Kemenkes, 2. Prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi tenggara adalah 30,2%, tahun 2022 terjadi penurunan menjadi 27,7%. Pada tahun 2023, dan mengalami peningkatan menjadi 30% tahun 2024 (Dinkes Provinsi Sultra, 2. Prevalensi stunting di Kabupaten Buton Tengah menurut laporan SSGI pada tahun 2023 yaitu 42,7% dan menurun pada tahun 2022 menjadi 41,6 % dan tercatat sebagai Kabupaten dengan angka stunting tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara. Salah satu kabupaten yang adai di Sulawesi Tenggara dengan stunting tertinggi Adalah Kabupaten Buton Tengah sebesar 27,4%, tahun 2021, menurun pada 2022 menjadi 25,3% dan 15,6% pada tahun 2023 (Dinas Kesehatan Kab. Buton Tengah, 2023. TPPS Prov. Sultra, 2. Upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting telah dilakukan melalui berbagai program seperti Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (GNPG) dan Program Keluarga Sadar Gizi (KADARZI). KADARZI merupakan strategi promosi kesehatan yang menekankan peran aktif keluarga dalam mengenali, mencegah, dan mengatasi masalah gizi di rumah tangga (Mutingah & Rokhaidah, 2. Lima indikator utama KADARZI meliputi Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. menimbang berat badan secara teratur, memberikan ASI eksklusif, mengonsumsi makanan beraneka ragam, menggunakan garam beryodium, serta melakukan perilaku hidup bersih dan Namun, implementasi perilaku sadar gizi di tingkat keluarga masih belum merata, terutama di daerah pedesaan dan terpencil seperti Kecamatan Sangia Wambulu, yang memiliki keterbatasan akses informasi dan fasilitas Kesehatan (Inzaghi et al. , 2. Pemenuhan gizi makronutrien dan mikronutrien berdampak lansung pada pertumbuhan dan kesehatan anak. Pemberian vitamin A, vitamin D, suplemen zinc, suplemen zat besi serta yodium berpengaruh pada peningkatan pertumbuhan linier pada anak (Di India, anemia, defisiensi vitamin A dan stunting sangat tinggi pada balita, ini terjadi karena rendahnya asupan sayur-sayuran hijau serta susu dan olahannya (Meshram et al. , 2. Upaya untuk mencegah dan mengurangi stunting pada balita dapat dilakukan dengan mendukung perilaku kesehatan ibu (Campos et al. , 2. Oleh karena itu. Ibu memiliki pengaruh penting terhadap perilaku sadar gizi dalam sebuah keluarga karena kebutuhan makanan dalam rumah tanga diatur oleh ibu, selain itu ibu juga bertanggungjawab terhadap pola pengasuhan pada anak (Oktaviani et , 2020. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perilaku keluarga sadar gizi berhubungan erat dengan status gizi anak. Keluarga yang memiliki tingkat kesadaran gizi tinggi cenderung lebih mampu menyediakan makanan bergizi, memantau pertumbuhan anak, dan melakukan tindakan pencegahan terhadap penyakit infeksi. Sebaliknya, keluarga dengan perilaku gizi yang rendah seringkali lalai dalam memperhatikan kebutuhan gizi anak, sehingga meningkatkan risiko stunting. Hal ini memperlihatkan bahwa intervensi berbasis keluarga menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan stunting yang berkelanjutan. (Fitriah et al. Berdasarkan survei awal di Dinas Kesehatan Kabupaten Buton Tengah, pada tahun 2023 Kecamatan dengan kejadian stunting tertinggi yaitu di Kecamatan Sangia Wambulu. Pada tahun 2021 prevalensi stunting di kecamatan Sangia wambulu sebesar 26%, terjadi penurunan pada tahun 2022 menjadi 21. 4%, dan mengalami peningkatan 0,1% di tahun 2023 menjadi 21,5%. Dari tujuh kecamatan di Kabupaten Buton tengah, kecamatan sangia wambulu menjadi satu-satunya dengan prevalensi stunting masih di atas 20%. Dikutip dari laman Portal Buton Tengah, faktor determinan yang menjadi kendala penurunan stunting di Kabupaten Buton tengah yaitu faktor determinan air bersih, penggunaan jamban sehat, dan faktor deteminan merokok, serta riwayat ibu hamil (Diskominfo Kab. Buton Tengah, 2. Dengan demikian, penelitian ini sangat penting untuk mengeksplorasi sejauh mana perilaku keluarga sadar gizi dapat mempengaruhi kejadian stunting pada balita di Kecamatan Sangia Wambulu. Melalui pemahaman yang lebih dalam mengenai perilaku gizi keluarga, diharapkan dapat ditemukan solusi yang lebih efektif dalam mengurangi angka stunting di daerah ini dan meningkatkan kualitas gizi anak-anak di masa depan. Metode Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan desain yang cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua balita berusia 0-59 bulan di Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah yang berjumlah 285 dengan jumlah sampel sebanyak 87 orang yang dihitung menggunakan rumus slovin. Sampel diambil menggunakan Teknik purposive sampling. Pada penelitian ini, kriteria inklusi meliputi: Keluarga yang memiliki balita usia 24Ae59 bulan yang berdomisili di wilayah Kecamatan Sangia Wambulu. Keluarga yang bersedia menjadi responden dan menandatangani lembar persetujuan . nformed consen. Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Ibu atau pengasuh utama balita yang tinggal serumah dan mengetahui pola makan serta perilaku kesehatan anak sehari-hari. Balita dengan data antropometri lengkap . erat badan, tinggi badan, usia, dan jenis kelami. yang dapat digunakan untuk penentuan status gizi menurut standar WHO. Keluarga yang dapat berkomunikasi dengan baik dan mampu mengikuti proses wawancara atau pengisian kuesioner dengan lengkap. Kriteria eksklusi meliputi: Balita yang menderita penyakit kronis atau kelainan kongenital . isalnya kelainan metabolik, jantung bawaan, atau sindrom geneti. yang dapat memengaruhi Keluarga yang tidak hadir saat pengambilan data berlangsung atau tidak melengkapi kuesioner penelitian secara penuh. Balita yang baru pindah domisili ke wilayah penelitian kurang dari 6 bulan, sehingga belum mencerminkan perilaku gizi keluarga setempat. Keluarga yang menolak dilakukan pengukuran antropometri atau tidak bersedia diwawancarai ulang untuk klarifikasi data. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel independent yaitu pengetahuan, perilaku KADARZI. DAN PHBS sedangkan variabel dependen adalah kejadian stunting. Instrument yang digunakan berupa kuesioner yang telah tervalidasi. uji validitas dan reabilitas dilakukan kepada 30 responden (Ibu yang memiliki balit. yang ada di Kecamatan sangia Wambulu, dan didapatkan nilai p-value sebesar 0,002 dan uji reabilitas diperoleh nilai 0,973. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistic dengan menggunakan aplikasi spss versi 25. 0 dengan Tingkat signifikansi 95%. Penelitian ini telah mendapatkan surat layak etik dari Universitas Halu Oleo, dengan nomor suratL 178/KEPK-IAKMI/VII/2024. Hasil dan Pembahasan Karakterisitik Responden Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Responden Karakteristik Ibu Usia . < 20 20 Ae 35 >35 Pendidikan SMP SMA Pekerjaan PNS Wiraswasta IRT Karakteristik Balita Jenis kelamin Laki-laki Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Karakteristik Responden Usia 0 Ae 12 bulan 13 Ae 36 bulan 37 Ae 59 bulan Total Hubungan Perilaku KADARZI dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Sangia Wambulu Tabel 2. Hubungan Perilaku KADARZI dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Sangia Wambulu Tahun 2024 Status gizi Perilaku Kadarzi Normal Total Stunting p-value Belum Kadarzi 37,93 70,12 Kadarzi Jumlah 29,87 0,001 CI 95% 9,780 2,850 Ae 14,344 Tabel 3. Hubungan Perilaku KADARZI dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Sangia Wambulu Tahun 2024 Status gizi Normal KADARZI Menimbang Berat badan Baik Belum Baik Memberikan ASI Eksklusif Baik Belum Baik Mengkonsumsi Makanan Beragam Baik Belum Baik Menggunakan Garam Beryodium Baik Belum Baik Mengonsumsi Suplemen Baik Belum Baik Total Stunting p-value CI 95% 0,053 0,583 6,78 2,890 Ae 9,643 0,246 0,036 -3,460 0,33 0,023 Ae 2,376 0,76 0,067 Ae 2,778 0,432 0,126 -5,330 Berdasarkan hasil penelitian, perilaku keluarga sadar gizi terhadap kejadian stunting pada balita didapatkan nilai p-value 0,001 dan OR = 9,780. Hal ini menujukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel perilaku keluarga sadar gizi dengan kejadian stunting di Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah. Ibu yang belum berperilaku keluarga sadar gizi (Kadarz. 780 kali memiliki balita dengan stunting dibandingkan ibu yang sudah berperilaku keluarga sadar gizi. Dengan demikian disimpulkan Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. bahwa semakin banyak ibu berperilaku keluarga sadar gizi maka dapat mencegah kejadian stunting pada balita. Keluarga yang tidak menerapkan perilaku KADARZI secara optimal cenderung tidak memperhatikan asupan gizi anak, sehingga anak berisiko mengalami kekurangan zat gizi makro maupun mikro yang berperan penting dalam pertumbuhan. Misalnya, tidak melakukan penimbangan berat badan secara rutin menyebabkan keterlambatan deteksi dini gangguan Selain itu, pola konsumsi makanan yang tidak beragam dapat mengakibatkan defisiensi zat gizi seperti protein, zat besi, dan seng yang diketahui berhubungan erat dengan proses pertumbuhan linear anak Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh wijayanti, menunjukkan adanya hubungan antara perilaku kardarzi dengn satus gizi balita menurut BB/U dan TB/U (Wijayanti, 2. Pada telaah yang dilakukan utami . juga menemukan hasil yang sama, dimana perilaku keluarga sadar gizi berpengaruh terhadap status gizi balita (Utami, 2. Manifestasi perilaku ini dalam konteks keluarga tidak diragukan lagi dipengaruhi oleh variabel termasuk pencapaian pendidikan, status pekerjaan, pendapatan rumah tangga, kesadaran gizi ibu, dan keterlibatan para kader posyandu. Pada indikator menimbang berat badan rutin diakatakan berkriteria baik jika balita ditimbang berat badanya setiap bulan (Ou4 kali dalam enam bula. , sebanyak 72 . ,8%) responden sudah memenuhi kriteria baik tersebut dan 15 responden dengan kriteria belum baik. Pada uji statistik, didapatkan p value 0,053 (>0,. yang dapat diartikan tida terdapat hubungan antara indikator menimbang berat badan rutin dengan kejadian stunting di Kecamatan Sangia Wambulu. Menurut Kementerian Kesehatan, penimbangan balita secara rutin di posyandu merupakan kegiatan kunci dalam pengawasan tumbuh kembang anak. Praktik ini bertujuan untuk mengumpulkan data kesehatan anak, yang memungkinkan pemantauan berkelanjutan dengan tujuan utama identifikasi dini masalah kesehatan atau gizi. Upaya deteksi dini ini sangat penting dalam mencegah perkembangan penyakit atau kekurangan gizi yang berkaitan dengan peningkatan risiko kematian pada anak usia dini. (Nurfirda & Herdiani, 2. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muliah, tidak terdapat hubungan antara frekuensi penimbangan bayi dengan status gizi balita di Provinsi Jawa Timur (Muliah dkk. Namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Diagama dkk, dalam penelitiannya didapatkan hasil adanya hubungan kunjungan posyandu dengan status gizi ( Diagama dkk. , 2. Banyak faktor yang mendasari keaktifan ibu dalam menimbang balitanya setiap bulan. Pada telaah yang dilakukan oleh Nurfirda . , menjelaskan adanya keterkaitan anntara keaktifan ibu-ibu mengikuti pramram posyandu dengan Tingkat pengetahuan ibu balita. Selain itu, pada penelitian lain, didapatkan adanya hubungan pendidikan, pengetahuan ibu dan motivasi ibu dengan kunjungan penimbangan balita di posyandu (Bora dkk. , 2. Pemahaman tentang tujuan dan manfaat penimbangan balita, yang diperoleh melalui konseling, memudahkan ibu untuk berpartisipasi dalam penimbangan balita bulanan di posyandu. (Nurfirda & Herdiani, 2. Pada responden dengan kriteria belum baik pada indikator ini, tidak menimbang secara rutin dikarenakan responden sibuk bekerja dan tidak ada yang bisa mengantar ke posyandu serta tidak datang karena anak sakit. Beberapa ibu juga beralasan jika menimbang dapat dilakuakan dirumah saja dan pergi ke posyandu hanya saat jadwal pemberian vaksin dan vitamin atau saat kegiatan yang dilakukan diposyandu atau puskesmas. Indikator pemberian ASI eksklusif didapatkan hasil sebanyak 61 . ,1%) responden yang memperoleh ASI Eksklusif dari ibunya dan sebanyak 26 . ,9%) responden dikatakan kategori belum baik. Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara pemberian ASI eksklusif dan kejadian stunting. Meskipun pemberian ASI Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. eksklusif diakui memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, anak-anak yang tidak menerima ASI eksklusif berisiko lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif. (Wahid et al. , 2. ASI memainkan peran penting dalam meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi, karena bayi yang mendapat ASI eksklusif cenderung menunjukkan perlindungan kekebalan tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. Namun demikian, masih banyak ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayi. Beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif antara lain berkaitan dengan kualitas pelayanan yang diterima di fasilitas bersalin, dukungan dari anggota keluarga di rumah, serta kurangnya pengetahuan yang memadai pada ibu mengenai teknik menyusui yang benar dan manajemen laktasi. (Aidha et al. , 2. Dalam wawancara yang dilakukan, responden yang tidak memberikan ASI eksklusif diataranya karena ibu bekerja, produksi ASI yang tidak cukup sehingga harus dibantu dengan pemberian susuformula, dan ASI berhenti pada bulan awal setelah melahirkan. Indikator mengonsumsi makanan beranekaragam menurut kepmenkes termasuk kriteria baik bila setiap hari balita makan lauk yang bersumber dari hewan serta buah. Pada penelitian ini untuk lebih mengetahui konsumsi keanekaragaman makanan responden. Dilakukan juga wawancara food recall 2x24 jam dan dihitung menggunakan dietary diversity score (DDS) yang terdiri dari 7 kelompok makanan didasari penuntun Infant and Young Children Feeding Practice (IYCF) dari WHO. Hasil penelitan menujukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara mengkonsumsi makanan yang beragam dengan kejadian stunting . = 0,. dengan OR = 6,78. artinya bahwa ibu yang tidak mengkonsumsi makanan beragam saat hamil berisiko 6,78 anaknya akan mengalami stunting saat lahir dibandingkan dengan ibu yang mengkonsumsi makanan beragam Keragaman pola makan merupakan indikator kualitas gizi makanan yang dikonsumsi anak usia dini. Asupan zat besi yang berlebihan dari sumber makanan mengakibatkan penumpukan zat besi di jaringan otot dan sumsum tulang belakang. Sebaliknya, jika asupan zat besi tidak mencukupi, cadangan zat besi yang tersimpan di sumsum tulang belakang akan dimobilisasi untuk memfasilitasi sintesis hemoglobin. Jika kondisi ini berlanjut, dapat menyebabkan anemia defisiensi besi dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga meningkatkan kerentanan anak terhadap penyakit menular. Seiring waktu, masalah kesehatan ini dapat berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Hasil telaah yang dilakukan oleh Susilawati, keragaman pangan menjadi salah satu faktor terjadinya stunting, dimana pada balita yang tidak mengkonsumsi makanan beragam beresiko mengalami stunting (Susilawati et al. , 2. Pada wawancara dan observasi yang dilakukan saat penelitian, responden yang memiliki balita dengan masalah gizi mendapatkan makanan tambahan dalam program Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Pada program ini balita yang memiliki masalah gizi . izi kurang dan berat badan kuran. diberikan makanan sebagai pencegahan dan penurunan Selama 1 minggu, balita dengan masalah gizi diberikan 1 hari makanan utama dengan double protein hewani, dan 6 hari lainnya diberikan kudapan dengan kandungan gizi seimbang. Hasil penelitian menunjukkan semua responden balita makan kelopok makanan serealia . asi, mi. , protein hewani utamanya ikan menjadi terbanyak kedua dikonsumsi sebab wilayah kecamatan sangia wambulu sebagian besar termasuk wilayah pesisir. Sayur kelor, bayam, pepaya muda menjadi sayuran yang banyak dikonsumsi, wortel yang terdapat dalam sayur sop menjadi salah satu sayuran yang mengandung vitamin A yang anak konsumsi. Susu dan olahannya seperti eskrim, serta susu dalam kemasan sangat disukai anak-anak di daerah Anak dengan status gizi kurang telah diberikan juga makanan tambahan yang telah menadi program. Namun banyak anak yang memang hanya menyukai 1 jenis makanan hingga Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. kebutuhan gizinya tidak terpenuhi. Dari sini diperlukan kesabaran ibu untuk memperkenlkan ragam makanan dan tektur pada anak agar pelan-pelan anak dapat menyukai jenis makanan Selanjutnya, pada indikator menggunakan garam beryodium dilakukan uji sederhana dengan tes yodina. Kriteria baik jika garam berubah ungu . , dan belum baik jika tidak berubah warna atau berwarna ungu muda . idak beryodiu. Sebanyak 84 . ,3%) responden menggunakan garam beryodium dan 3 . ,4%) responden belum menggunakan garam beryodium. Kebutuhan tubuh akan iodium sangat kecil, sekitar 90 AAg. Penggunaan garam beryodium dalam rumah tangga berhubungan dengan kecukupan asupan iodium. Anakanak dengan masalah gizi kurang (BB/TB) lebih sering ditemukan di keluarga yang mengonsumsi garam beryodium dalam jumlah terbatas. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kekurangan konsumsi garam beryodium berhubungan dengan kejadian stunting. (Oktaviani dkk. , 2. Pada hasil penelitian dan observasi hanya 3 responden yang menggunakan garam dengan kadar yodium yang rendah . aram berwarna ungu mud. Ada beberapa faktor yang dapat mengurangi kadar yodium dalam garam konsumsi antara lain wadah, lokasi dan cara penyimpanan garam. Untuk menjaga kadar yodium dalam garam, perlu disimpan dalam wadah kedap udara, tidak terpapar panas dan disimpan secara tertutup (Wijawati & Asiarini, 2. Garam yang digunakan dan dijual di Kecamatan Sangia Wambulu sudah memiliki keterangan sebagai garam beryodium, namun cara penyimpanan yang salah dapat menyebabkan berkurangnya kadar yodium dalam garam tersebut. Salah satu responden membiarkan garam yang digunakan sehari-hari dalam keadaan terbuka, hingga mnyebabkan garam tersebut berair. Pada indikator pemberian suplemen gizi sesuai anjuran, didapatkan hasil responden dengan kriteria baik sebanyak 85 . ,7%) dan 2 responden dengan kriteria belum baik. Vitamin A merupakan salah satu zat gizi mikro yang termasuk kedalam vitami nyang dapat larut dalam Manfaat suplementasi vitamin A untuk balita dan anak-anak meliputi peningkatan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan berbagai penyakit, termasuk campak dan diare, serta pencegahan penyakit menular. Selain itu, vitamin A berperan penting dalam fungsi penglihatan, memfasilitasi adaptasi mata terhadap perubahan kondisi cahaya, seperti transisi dari lingkungan terang ke gelap. Vitamin A juga berkontribusi pada pemeliharaan kesehatan jaringan epitel, sehingga mencegah gangguan membran mukosa, xeroftalmia, kerusakan mata, dan potensi kebutaan. Anak-anak yang menderita Malnutrisi Energi Protein (KEP) atau bentuk malnutrisi lainnya sering mengalami defisiensi vitamin A, yang seringkali disebabkan oleh asupan nutrisi yang tidak memadai, termasuk konsumsi makanan kaya vitamin A yang tidak mencukupi (Choirunnisa dkk. , 2. Rumah tangga yang tidak memberikan suplementasi gizi yang memadai, khususnya vitamin A, cenderung memiliki prevalensi anak prasekolah dengan berat badan kurang yang lebih tinggi. Studi Muliah menunjukkan adanya hubungan antara suplementasi vitamin A dan kejadian status berat badan kurang, yang menunjukkan bahwa balita yang menerima suplementasi vitamin A biru sejak usia enam bulan memiliki kemungkinan 37% lebih rendah untuk mengalami berat badan kurang dibandingkan dengan balita yang tidak menerima suplementasi tersebut pada usia yang sama. (Muliah dan Mahmudiono, 2. Menurut hasil wawancara dan observasi responden, tingginya ibu yang memberikan suplemen vitamin A pada anak merupankan peran aktif posyandu memberikan informasi manfaat dari pemberian suplemen vitamin A pada masa balita. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa makanan beraneka ragam berpengaruh terhadap kejadian stunting di kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah. Pada pelaksanaan perilaku keluarga sadar gizi sangatlah membutuhkan dukungan dari semua pihak terutama oleh keluarga dekat yang tinggal serumah dengan ibu, agar Keluarga sadar gizi dapat Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. teraplikasikan dengan baik. Faktor lain yang memengaruhi perilaku keluarga dalam menjaga kesadaran gizi adalah tingkat pendapatan dan pengetahuan ibu. Namun, dalam penelitian ini, meskipun pengetahuan ibu baik, hal itu tidak selalu berhubungan langsung dengan perilaku keluarga dalam menerapkan pola makan sehat. Keberhasilan program Kadarzi juga sangat dipengaruhi oleh peran tenaga kesehatan dan kualitas layanan kesehatan. Program keluarga sadar gizi dalam penelitian ini masih belum optimal karena indikator pemberian makanan beragam belum tercapai secara maksimal. Kesimpulan Perilaku keluarga sadar gizi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian stunting pada balita di Kecamatan Sangia Wambulu. Kabupaten Buton Tengah, terutama pada indikator mengkonsumsi makanan yang beragam. sedangkan menimbnag berat badan, memberikan ASI eksklusif, konsumsi garam beryodium dan konsumsi zat besi tidak berpengaruh terhadap kejadian stunting. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan instansi terkait untuk meningkatkan penyuluhan mengenai perilaku sadar gizi kepada Masyarakat terutama pola konsumsi makanan yang beragam dan bergizi saat hamil, serta memperkuat dukungan terhadap keluarga untuk menerapkan perilaku gizi yang sehat. Hal ini diharapkan dapat mengurangi angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan balita di Kecamatan Sangia Wambulu secara signifikan. Acknowledgments Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian penelitian ini, terutama kepada Puskesmas Sangia Wambulu yang telah memberikan izin untuk emlakukan penelitian. Saran dan masukkan diharapkan dapat mendukung perbaikan penelitian Daftar Pustaka