Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Hubungan Pengetahuan. Sikap dan Dukungan Keluarga Terhadap Minat Remaja Mengikuti Posyandu Remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Atari Jaya Kabupaten Konawe Selatan I Gede Sunata yasaA*. AinurafiqA. Indah HandrianiA 1,2,3,Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat. Institut Teknologi adan KesehatanaAvicenna. Kendaria Email korespondensi: devizansukma@gmail. Info Artikel: Diterima: 18 Juli 2024 Disetujui: 02 Agustus 2024 Dipublikasi: September 2024 Kata Kunci: Pengetahuan. Sikap. Dukungan Keluraga. Minat. Posyandu Remaja Keywords: Knowledge. Attitude. Family Support. Interest. Youth Posyandu Abstrak Latar Belakang: Posyandu remaja merupakan salah satu upaya pelayanan kesehatan yang penting dalam mendukung kesehatan fisik dan mental remaja. Namun, partisipasi remaja dalam kegiatan ini sering kali rendah. Pengetahuan, sikap, serta dukungan keluarga diduga berperan penting dalam meningkatkan minat remaja untuk mengikuti posyandu remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga dengan minat remaja dalam mengikuti posyandu remaja di wilayah kerja Puskesmas Atari Jaya Kabupaten Konawe Selatan. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 18 Juli-2 Agustus 2024 di Puskesmas Atari Jaya Kabupaten Konawe Selatan. Populasi dalam penelitian sebanyak 641 orang, sampel dalam penelitian ini adalah 86 responden yang diambil dengan Teknik simple random sampling. Pengukuran variabel penelitian menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reabilitasnya. Hasil pengukuran data kemudian diolah dan dianalisis menggunakan aplikasi spss versi 25. 0 dan diuji menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan remaja tentang posyandu remaja dan minat untuk mengikutinya . -value = 0,. Sikap positif terhadap kegiatan posyandu remaja juga berhubungan signifikan dengan minat remaja . -value = 0,. Selain itu, dukungan keluarga yang baik secara signifikan meningkatkan minat remaja untuk mengikuti posyandu remaja . -value = 0,. Kesimpulan: Pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan minat remaja untuk mengikuti kegiatan posyandu remaja. Upaya peningkatan pengetahuan remaja dan penguatan dukungan keluarga sangat diperlukan untuk meningkatkan partisipasi remaja dalam posyandu. Abstract Background: The morbidity rate in children suffering from fever in Southeast Sulawesi Province in 2018 Background: Youth Posyandu is one of the critical health service efforts in supporting adolescents' physical and mental health. However, adolescent participation in this activity is often low. Knowledge, attitude, and family support are essential in increasing adolescents' interest in adolescent posyandu. Objective: This study aims to analyze the relationship between knowledge, attitudes, and family support with adolescents' interest in participating in adolescent posyandu in the Atari Jaya Puskesmas working area. South Konawe Regency. Methods: This type of research is quantitative research with a cross-sectional study design. This research was conducted from July 18 to August 2, 2024, at Puskesmas Atari Jaya. South Konawe Regency. The population in the study was 641 people. the sample was 86 respondents, who were taken with the simple random sampling technique. Research variables are measured using a questionnaire tested for validity and reliability. The results of data measurement were then processed and analyzed using the spss version 25. 0 application and tested using the chi-square test. Results: The results showed a significant relationship between adolescents' knowledge about adolescent posyandu and interest in following it . -value = 0. Positive attitude towards adolescent posyandu activities was also significantly associated with adolescent interest . -value = 0. In addition, good family support significantly increased adolescents' interest in adolescent posyandu . -value = 0. Conclusion: Knowledge, attitude, and family support are essential in improving adolescents' interest in posyandu activities. Efforts to increase adolescent knowledge and strengthen family support are needed to increase adolescent participation in posyandu. PENDAHULUAN Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Masa remaja merupakan fase transisi yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan psikologis yang signifikan. Mencakup usia 10 hingga 19 tahun, masa ini meliputi pematangan organ reproduksi manusia dan biasa disebut dengan masa Ini menandakan perkembangan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. (Lestari. Hartati, & Galuh, 2. Rentang usia remaja menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) yaitu 1024 tahun dan belum menikah (Kemenkes RI. Remaja tantangan, termasuk merokok, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan narkoba. Permasalahan ini berasal dari perjuangan mereka dalam mengatur diri sendiri dan kerentanan mereka terhadap pengaruh Data menunjukkan bahwa di kalangan pelajar berusia 12 hingga 18 tahun, 41,8% laki-laki dan 4,1% perempuan Selain itu, 14,4% laki-laki dan 5,6% perempuan pernah mengonsumsi alkohol, 2,6% laki-laki menggunakan narkoba. Terkait perilaku seksual, 8,26% siswa laki-laki dan 4,17% siswa perempuan pada kelompok usia ini pernah melakukan hubungan seksual. (Kemenkes 1 RI, 2. Tingginya angka pernikahan dini dapat dilihat dari persentase perempuan berumur 10 tahun ke atas yang pernah kawin menurut Data BPS untuk Kabupaten Konawe Selatan saat perkawinan pertama untuk umur dibawah 1A tahun sebesar 23,15%, untuk umur 17-18 sebesar 21,18 % dan untuk umur 19-20 tahun sebesar 24,04 % (BPS Kabupaten Konawe Selatan. Mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi remaja memerlukan pendekatan holistik dan terpadu yang melibatkan semua program dan sektor terkait. Salah satu inisiatif tersebut adalah program Posyandu Remaja, yang memainkan peran penting dalam upaya kolaboratif ini. Posyandu Remaja merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan remaja melalui pendekatan preventif dan promotif. Program ini berfungsi sebagai wadah bagi remaja untuk mendapatkan informasi serta layanan kesehatan yang esensial dalam masa transisi mereka menuju dewasa. Namun, partisipasi remaja dalam Posyandu Remaja masih tergolong rendah di berbagai daerah, yang mengindikasikan adanya permasalahan dalam minat remaja untuk mengikuti kegiatan ini (Kemenkes RI, 2. Puskesmas Atari Jaya memprakarsai pendirian Posyandu Remaja di seluruh desa di wilayah kerjanya, dengan tujuan untuk mengatasi permasalahan remaja. Namun demikian, sejak awal berdirinya, rata-rata kehadiran remaja di Posyandu Remaja masih jauh dari target yang diharapkan. Tahun 2021 jumlah sasaran mencapai 630 dengan capaian kunjungan hanya 102 sasaran . ,17%) dari target yang ditentukan yaitu 70% dari persentase kehadiran. Tahun 2022 jumlah sasaran mencapai 641 dengan capaian kunjungan hanya 137 sasaran . ,67%). Tahun 2023 jumlah sasaran mencapai 641 dengan capaian kunjungan hanya 122 sasaran . ,25%). Dari data yang ada menunjukkan rendahnya tingkat kehadiran remaja di Posyandu Remaja yang ada di Puskesmas Atari Jaya (PKM Atari Jaya, 2. Jika disesuaikan dengan teori Lawrence W Green . bahwa perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh predisposing factor yaitu faktor pengetahuan, sikap, nilai, dan Enabling factor yaitu faktor ketersediaan sarana, jarak, dan kemudahan mengakses sarana. Dan reinforcing factor yaitu faktor dukungan keluarga, dukungan teman sebaya, dan peran petugas kesehatan (Endang. L, 2. Berdasarkan wawancara awal, kegiatan skrining yang dilakukan pada beberapa Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 posyandu remaja tidak melibatkan sekolah sebagai sasaran screning. 3 Karena kegiatan posyandu remaja masih dibarengkan dengan kegiatan posyandu bayi dan lansia pada hari kerja sehingga keterlibatan remaja untuk mengikuti posyandu remaja tidak ada sama Apabila pelaksanaan posyandu remaja dilakukan di sekolah tentunya akan memudahkan Puskesmas untuk melakukan sosialisasi atau promosi awal kegiatan deteksi dini masyarakat yang termasuk dalam kelompok usia remaja. Berdasarkan hasil studi pendahuluan peneliti yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Atari Jaya pada beberapa posyandu remaja, dimana pada saat ditanya 3 orang remaja tidak mengetahui tentang posyandu remaja yang mereka ketahui hanya kegiatan untuk posyandu bagi anak balita dan untuk usia lanjut, sedangkan 7 orang remaja lainnya mengatakan tidak mengetahui tentang posyandu remaja tidak dapat menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan posyandu remaja seperti pengertian, tujuan, sasaran, waktu, tempat, pelaku, bentuk kegiatan, dan pelaksanaan posyandu remaja Rendahnya kunjungan remaja untuk datang ke posyandu remaja untuk melakukan pemeriksaan dini faktor risiko karena kurangnya penyuluhan yang diadakan oleh petugas kesehatan terutama bagi remaja, sehingga pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya berkunjung ke posyandu remaja untuk memantau kesehatannya sangat Berdasarkan penjelasan di atas sehingga Penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuHubungan Pengetahuan. Sikap dan 4 Dukungan Keluarga Terhadap Minat Remaja Mengikuti Posyandu Remaja Di Wilayah Kerja Puskesmas Atari Jaya Kabupaten Konawe SelatanAy METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian analisis data kuantitatif dengan desain cross sectional study. Pendekatan cross sectional adalah jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat. Variabel yang digunakan yaitu variabel independen adalah pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga variabel dependen adalah minat remaja mengikuti posyandu remaja. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18 Juli - 2 Agustus 2024. Tempat penelitian adalah adalah di Puskesmas Atari Jaya Kabupaten Konawe Selatan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja yang menjadi sasaran program di wilayah kerja Puskesmas Atari Jaya sebanyak 641 orang. Sampel penelitian adalah remaja yang ada di wilayah kerja Puskesmas Atari Jaya yang berkunjung ke Posyandu remaja berusia produktif 14-18 tahun berjumlah 86 remaja yang dihitung menggunakan rumus slovin. Sampel diambil dengan Teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup dan terbuka. Kuesioner ini disusun berdasarkan skala Likert 1Ae4 untuk mengukur pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dan minat remaja terhadap posyandu. Kuesioner divalidasi terlebih dahulu melalui uji validitas dan reliabilitas menggunakan teknik CronbachAos Alpha dengan nilai minimum 0. Prosedur pengolahan data penelitian ini meliputi penyuntingan, pengkodean, pembersihan, dan tabulasi. Selain itu, analisis utama, yaitu analisis univariat dan bivariat, dengan menggunakan chi-square, dengan interpretasi hasil pengujian dilakukan pada tingkat kepercayaan 95%. HASIL DAN PEMBAHASAN Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Karakteristik Responden Tabel 1. Karakterisitik Responden di Puskesmas Atari jaya Tahun 2024 Karakterisitik Responden Jenis kelamin Perempuan Laki-laki Umur . Tempat tinggal Ayah/Ibu Kakek/nenek Paman/bibi/ Hasil penelitian distribusi frekuensi diperoleh bahwa jenis kelamin responden paling banyak adalah perempuan sebanyak 44 responden (AA1. 2%), umur paling banyak adalah 16 tahun, yaitu sebanyak 27 responden . 4%), tempat tinggal responden paling banyak adalah dengan Ayah/Ibu, yaitu sebanyak 79 responden . 9%), pendidikan responden paling banyak adalah SMP/MTs, yaitu sebanyak 43 responden (AA0. 0%), minat responden paling banyak adalah minat negatif, yaitu sebanyak 66 responden, pengetahuan responden paling banyak adalah pengetahuan tinggi, yaitu sebanyak 4AA responden (AA2. 3%), dan dukungan keluarga responden paling banyak adalah Mendukung, yaitu sebanyak AA2 responden . AA%). Hasil penelitian berdasarkan umur responden menunjukkan bahwa remaja yang berusia 16 tahun memiliki kecenderungan untuk ikut serta dalam kegiatan posyandu Umur merupakan salah satu faktor predisposisi tepatnya faktor sosiodemografi. Faktor sosiodemografi seperti status sosial . erdasarkan pekerjaan, area tinggal, dan lainny. , usia, jenis kelamin, kelompok etnis, keluarga, dan sejarah mempengaruhi perilaku terkait Variabel umur dapat digunakan dalam mengelompokkan sasaran atau individu untuk tujuan perencanaan. Lebih meningkatkan angka cakupan kunjungan posyandu remaja. Pada saat yang sama, perbedaan gender menunjukkan bahwa remaja perempuan mempunyai kecenderungan lebih tinggi untuk berpartisipasi dalam posyandu remaja dibandingkan remaja laki-laki. Kesenjangan ini disebabkan oleh perbedaan peran dan perilaku masyarakat antara laki-laki dan perempuan. Perempuan umumnya menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap masalah kesehatan dibandingkan laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan minat remaja untuk mengikuti posyandu remaja walaupun masih kurang. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh individu. Untuk pendidikan responden terbanyak SMP/MTs. Semakin tinggi Tingkat pendidikan seseorang akan meningkatkan pula ilmu pengetahuan, informasi yang didapat. Hal ini menunjukkan semakin tinggi pendidikan maka kebutuhan dan tuntutan terhadap pelayanan kesehatan semakin meningkat pula. Sebaliknya semakin mengakibatkan mereka sulit menerima penyuluhan yang diberikan oleh tenaga kesehatan dan cenderung tidak tahu terhadap adanya pelayanan kesehatan khusus terhadap posyandu remaja. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Hubungan Pengetahuan. Sikap dan Dukungan Keluarga Terhadap Minat Remaja Mengikuti Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Atari Jaya Kabupaten Konawe Selatan Tabel 2. Hubungan Pengetahuan,sikap. Dukungan Keluarga Terhadap Minat Remaja Mengikuti Posyandu Remaja Di Wilayah Kerja Puskesmas Atari Jaya Kabupaten Konawe Selatan Minat Mengikuti Posyandu Remaja Jumlah p-value Variabel Negatives Positif Pengetahuan Kurang Cukup Tinggi Sikap 0,000 Negatif Dukungan keluarga Tidak mendukung 0,002 Mendukung Total Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan terhadap minat remaja mengikuti posyandu remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Atari Jaya yakni nilai p-value 0,014. Selain itu, para remaja melaporkan bahwa menghadiri posyandu memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Namun, ditemukan pula beberapa remaja yang tidak menyadari manfaat posyandu Kendala kehadiran terkadang menghalangi mereka untuk menerima informasi kesehatan yang disebarluaskan di Kurangnya kesadaran ini berdampak besar pada minat remaja untuk mengunjungi posyandu, karena pemahaman mereka tentang tujuan dan manfaat layanan tersebut masih terbatas. Berdasarkan temuan wawancara yang dilakukan antara peneliti dan responden diketahui bahwa sebagian peserta penelitian ini mengetahui adanya layanan posyandu remaja yang tersedia di Wilayah Kerja Puskesmas Atari Jaya. Beberapa responden menyatakan dukungan kuat terhadap inisiatif posyandu remaja. Secara tradisional, layanan posyandu hanya terbatas pada bayi, balita, ibu hamil, dan lansia, dan tidak ada layanan khusus untuk remaja. Pengenalan posyandu remaja memberikan berkonsultasi langsung dengan penyedia layanan kesehatan mengenai masalah kesehatan mereka tanpa perlu berulang kali mengunjungi Puskesmas. Selain itu, beberapa responden menyatakan bahwa posyandu remaja secara signifikan meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan bagi remaja, karena lokasinya yang strategis dan tidak memerlukan waktu perjalanan yang lama. Salah satu faktor yang mempengaruhi minat terhadap posyandu adalah faktor predisposisi, khususnya aspek pengetahuan atau kognitif, yang berperan penting dalam membentuk tindakan seseorang. Perilaku yang didasarkan pada pengetahuan dan kesadaran cenderung bertahan lama, sedangkan perilaku yang tidak didasarkan pada pengetahuan cenderung bersifat Pengetahuan berfungsi sebagai Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 indikator kunci kecenderungan individu untuk mengambil tindakan. Ketika individu memiliki pemahaman yang kuat tentang kesehatan, mereka akan lebih memahami nuansa kesehatan dan termotivasi untuk mengintegrasikan pemahaman ini ke dalam praktik sehari-hari mereka. Selain itu, pengetahuan dibentuk oleh berbagai faktor seperti pendidikan, lingkungan sosial, budaya, dan pengalaman pribadi. Konsekuensinya, pengetahuan tidak hanya mencakup tindakan mengetahui tetapi juga proses memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan pada akhirnya mengevaluasi informasi. (Muliati & Yusuf, 2. Hubungan antara pengetahuan dan aktivitas terdokumentasi dengan baik. Dengan bertambahnya pengetahuan, minat atau motivasi untuk mengikuti kegiatan posyandu remaja juga meningkat. Temuan ini menguatkan penelitian yang dilakukan Dwi . yang mengetahui adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan minat berkunjung posyandu dibuktikan dengan koefisien korelasi sebesar 0,302 dan p-value sebesar 0,049. Tabel 2 menujukan bahwa hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap minat remaja mengikuti posyandu remaja di wilayah Kerja Puskesmas Atari Jaya yang dibuktikan dengan uji statistik dengan p value sebesar Perilaku remaja mengenai tingkat untuk mengunjungi kesehatan remaja . dibentuk oleh kombinasi faktor predisposisi, pemungkin, dan penguat. Faktor predisposisi meliputi unsur-unsur seperti pengetahuan, sikap, persepsi, motivasi, dan nilai. Faktor pemungkin berkaitan dengan ketersediaan fasilitas dan sumber daya kesehatan. Faktor penguat antara lain dukungan dari anggota keluarga, kader kesehatan masyarakat . , tenaga kesehatan, dan teman sebaya. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Sikap merupakan sebuah aksi maupun respon yang dimiliki oleh remaja terhadap keikutsertaan kegiatan posyandu Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tanjung et al. , yang berpendapat bahwa sikap berdampak signifikan terhadap pemanfaatan pusat kesehatan remaja oleh individu. Secara khusus, sikap individu terhadap pusat kesehatan remaja dapat diwujudkan dalam keputusan mereka untuk mengunjungi pusat kesehatan remaja tersebut. Salah satu sikap yang dapat mendorong remaja untuk mengunjungi pusat kesehatan remaja adalah keyakinan bahwa, meskipun kehadiran di pusat kesehatan remaja tidak secara langsung mencegah masalah kesehatan, hal ini dapat memfasilitasi identifikasi dini potensi masalah Kecenderungan seseorang yang memiliki sikap positif lebih mungkin untuk mengunjungi posyandu remaja 5 kali dibandingkan dengan orang yang memiliki sikap negatif (Sugiarsi, dkk, 2. Table 2 menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga terhadap minat remaja mengikuti posyandu remaja di wilayah Kerja Puskesmas Atari Jaya yang dibuktikan dengan uji statistik dengan p value sebesar 0. Berdasarkan data hasil wawancara yang dilakukan antara peneliti dan responden, diketahui bahwa beberapa partisipan penelitian ini mendapatkan dukungan keluarga untuk mengikuti kegiatan yang diadakan oleh posyandu remaja di wilayah operasional Puskesmas Atari Jaya. Salah satu bentuk dukungan ini adalah anggota keluarga secara konsisten mengingatkan responden mengenai jadwal posyandu, baik sehari sebelum maupun pada hari pelaksanaan. Selain itu, responden melaporkan bahwa keluarga mereka secara teratur memberikan Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 motivasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan posyandu, karena mereka percaya bahwa posyandu remaja berdampak positif terhadap perilaku remaja yang berhubungan dengan Anggota diwawancarai mengungkapkan keinginan kuat agar Posyandu Remaja dapat dibentuk sebagai wadah untuk membantu remaja memahami permasalahan kesehatan yang spesifik pada kelompok usia mereka, mengidentifikasi solusi alternatif terhadap permasalahan tersebut, dan membentuk jaringan dukungan sebaya. Lebih jauh lagi, mereka menyoroti potensi Posyandu Remaja untuk memperluas jangkauan Puskesmas, khususnya kepada remaja daerah yang menghadapi keterbatasan akses. Salah Posyandu adalah adanya faktor penguat, di antaranya dukungan keluarga adalah yang Menurut Rahmalia et al. dukungan keluarga secara signifikan berdampak pada minat pada Posyandu. Keluarga berfungsi sebagai konteks dasar di interpersonal dengan lingkungan mereka. Walaupun dukungan keluarga ada tetapi minat remaja berkunjung ke posyandu masih kurang dengan alasan masih enggan untuk datang ke posyandu remaja. Data terkini menunjukkan bahwa laki-laki, mengunjungi posyandu remaja, terutama karena adanya asumsi bahwa akan dilakukan berbagai pemeriksaan kesehatan pada kunjungan mereka. Kekhawatiran ini berasal dari kurangnya kesadaran remaja mengenai manfaat posyandu bagi remaja. Namun, penting untuk dicatat bahwa identifikasi dini masalah kesehatan pada remaja dapat menghasilkan intervensi yang tepat waktu, sehingga mengurangi potensi dampak Mengatasi mengurangi faktor intimidasi dan mendorong partisipasi yang lebih besar dalam layanan posyandu remaja. Oleh karena itu pihak Puskesmas diharapakan memberikan sosisaliasi tentang tujuan diselenggarakannya posyandu remaja agar supaya menambah wawasan kepada remaja terkait dengan manfaat dari posyandu remaja itu sendiri khususnya di agar kedepannya semakin banyak remaja berminat untuk berkunjung ke posyandu remaja. Faktor penting lainnya yang berkontribusi terhadap rendahnya kehadiran remaja di posyandu, meskipun ada dukungan keluarga, adalah jarak fasilitas dari rumah Beberapa responden melaporkan bahwa letak posyandu masih relatif jauh dari tempat tinggal mereka. Ardelia dkk. menegaskan bahwa jarak dapat menghambat kemampuan dan kemauan untuk mencari layanan kesehatan, terutama ketika fasilitas dan pilihan transportasi terbatas, tantangan komunikasi, dan kelangkaan lokasi layanan. Kedekatan posyandu dengan rumah remaja akan memudahkan akses tanpa menimbulkan kelelahan fisik. Peningkatan kemudahan akses ini juga meningkatkan rasa aman dan nyaman sehingga menumbuhkan minat yang lebih besar dalam memanfaatkan layanan yang ditawarkan. (Muliati & Yusuf, 2. Hasil ini sesuai dengan penelitian Handayani . , didapat nilai p = 0,0001 menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna dukungan keluarga dengan pemanfaatan posyandu. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan ada pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga terhadap minat remaja mengikuti posyandu remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Atari Jaya yang dibuktikan dengan uji statistik dengan nilai p-value 0,014, 0,000 dan 0,002. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Instansi Pelayanan Kesehatan dapat meningkatkan keterlibatan remaja dalam kegiatan posyandu remaja melalui fasilitasi yang diberikan oleh Puskesmas. Pusat-pusat ini memainkan peran penting dalam mendidik remaja tentang pentingnya mencegah masalah-masalah yang umum terjadi di kelompok usia mereka, seperti melakukan aktivitas seksual tanpa kondom, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dan Program posyandu remaja berfungsi sebagai platform awal untuk intervensi pendidikan ini. Penelitian di masa faktor-faktor tambahan yang mempengaruhi partisipasi remaja dalam inisiatif posyandu remaja. DAFTAR PUSTAKA