Efektor. Volume 9 Issue 1, 2022. Pages 66 - 75 Available online at: http://ojs. id/index. php/efektor-e DOI: https://doi. org/10. 29407/e. Studi Tentang Candi Ngetos Di Kabupaten Nganjuk Ditinjau Dari Kajian Ikonografi Yatmin1*. Zainal Afandi2 yatmin@unpkediri. id 1, zafandis69@unpkediri. 1,2 Pendidikan Sejarah Universitas Nusantara PGRI Kediri Abstract In Indonesia has many historical herritage which has a great value, temple as the result of national culture has high value. Most of people do not know the existence of a temple yet. It is because of a lack of written sources about the history of temple itself. We realize that temple is a potential asset of the nation in various development One of the temples which is not known by most of people is Ngetos Temple. The writers decide Ngetos Temple as a research object with the purpose is to study and describe the existence of Ngetos Temple in Ngetos Village. Ngetos subdistrict. Nganjuk Regency. Ngetos area is suitable for a monumental sacred building that is located in a mountainous place and allows for the development of tourist attractions of the Nganjuk regency. The results of Majapahit culture have also been studied by the Dutch East Indies government under the leadership of Governor-General Thomas Stanford Raffles since 1817. The function of Ngetos temple as a result of Majapahit culture is as a place of worship of ancestral spirits and worship of the gods. Keywords: ngetos, majapahit temple, nganjuk, east java Abstrak Di Indonesia banyak sekali Peninggalan-peninggalan bersejarah yang memiliki nilai yang adi luhung yang sangat luar biasa. Candi merupakan hasil budaya bangsa yang tinggi nilainya. Keberadaan sebuah Candi banyak yang belum dikenal masyarakat luas. Kondisi yang demikian disebabkan oleh kurangnya sumber-sumber tertulis tentang sejarah bangunan Candi tersebut. Kita semua tentunya menyadari, bahwa bangunan Candi merupakan aset bangsa yang sangat potensial di berbagai aspek pembangunan. Salah satu Candi yang belum dikenal masyarakat luas yaitu Candi Ngetos. Penulis sengaja mengangkat Candi Ngetos sebagai Objek penelitian yang tujuannya ingin mempelajari dan mengungkap keberadaan Candi Ngetos di Desa Ngetos, kecamatan Ngetos. Kabupaten Nganjuk. Wilayah Ngetos memang cocok sekali untuk sebuah bangunan suci yang monumental yaitu berada di daerah pegunungan, serta memungkinkan untuk pengembangan daerah obyek wisata kabupaten Nganjuk. Hasil kebudayaan jaman Majapahit ini ternyata juga pernah diteliti oleh pemerintah Hindia Belanda dibawah pimpinan Gubernur Jendral Thomas Stanford Raffles sejak tahun 1817. Adapun bangunan candi Ngetos sebagai hasil budaya masa Majapahit ini berfungsi sebagai tempat pemujaan roh leluhur dan pemujaan para dewa. Kata Kunci: ngetos, candi majapahit, nganjuk, jawa timur Corespondensi Author*) : Yatmin PENDAHULUAN Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau baik besar maupun kecil, lautan bukanlah penghalang tumbuh dan berkembangnya kebudayaan, bahkan akan memperkaya kebudayaan nasional dengan bermacam-macam coraknya menurut pulau penghasil kebudayaan tersebut. Perbedaan kebudayaan antar daerah sangat mendukung keistimewaan setiap pulau di Indonesia. Peer reviewed under responsibility of Universitas Nusantara PGRI Kediri. A 2019 Universitas Nusantara PGRI Kediri. All right reserved. This is an open access article under the CC BY-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Efektor. Volume 9 Issue 1, 2022. Pages 66 - 75 Yatmin. Zainal Afandi Salah satu dari sekian banyak peninggalan berasajarah yang ada di Indonesia adalah candi. Bangunan tersebut menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sudah pandai membuat seni bangunan yang hebat pada zamanya, karena mampu membangun yang begitu megah dan bisa bertahan lama. Dari peninggalan tersebut kita sebagai generasi penerus akan mengetahui kehidupan nenek moyang kita dijaman dulu bagaimana mereka hidup beragama. Dari bangunan tersebut menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah sangat religius. Hal itu bisa dibuktikan dengan banyaknya candi yang dibangun dan tersebar dibanyak tempat, diantara sekian banyak peninggalan candi yang ada di nusantara salah satu dari sekian banyak candi yang ada di indonesia adalah candi Ngetos yang berada di Provinsi Jawa Timur adalah Kabupaten Nganjuk. Tepatnya di dusun Ngetos, desa Ngetos, kecamatan Ngetos yang lokasinya berada di barat daya ibu kota kabupaten Nganjuk yang berjarak sekitar 20 km yang mana keberadaanya kurang dikenal masyarakat Kondisi tersebut karena kurang ditunjang adanya sumber-sumber tertulis tentang candi tersebut. Penamaan candi Ngetos diambil dari nama daerah atau desa tempat bangunan candi itu berdiri. Bangunan-bangunan suci jaman Hindu-Budha oleh masyarakat pada umumnya diberi nama Kata AuCandiAy oleh para ahli sejarah sering dikaitkan dengan adanya prosisi keagamaan, terutama tentang pemujaan terhadap roh para leluhur. Menurut Soekmono. Perkataan Candi, berasal dari salah satu nama untuk Durga sebagai Dewa maut, yaitu candika. Jadi bangunan yang berhubungan dengan Dewa maut. Memang candi sebenarnya adalah bangunan untuk memuliakan orang yang telah wafat, khususnya untuk para Raja, keluarga Raja dan orang-orang terkemuka. (Soekmono, 1981: . Hal ini sesuai dengan arti Candi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu. Candi adalah bangunan kuno pada masa Hindu-Budha untuk pemakaman jenazah para-Raja atau orang-orang terkenal (T. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989: . Arti candi yaitu yang berkaitan dengan AuCandikaAy dimana Candika adalah nama dari dewa maut, sedang bangunan khusus untuk pemujaan dewi candika tersebut diberi nama AuCandika Grha atau candika grha atau candikalayaAy. Lebih menyakinkan lagi bahwa candi juga rumah pemujaan atau kuil, karena dalam bilik-bilik dan relung candi terdapat arca-arca yang berbeda, baik nama maupun Sebagaimana susunan pola Pantheon Ciwaistis yang terdapat di candi-candi yang beraliran Ciwais, umumnya berwujud lingga sebagai lambang Ciwai Mahesa Curamsadhini. Ganeca. Agastya. Nandhi Cwara. Maha Kala. Walaupun yang menjadi sasaran pemujaan adalah Ciwa, tetapi dengan adanya sejumlah arca-arca lain tersebut juga tidak luput dari sasaran pemujaan. Dengan uraian tersebut diatas maka tidak dapat sangkal lagi bahwa bangunan candi, selain berfungsi sebagai makam juga berfungsi sebagai kuil atau rumah pemujaan bagi dewa. Fungsinya sebagai kuil tersebut tidak begitu banyak perbedaan antara dengan apa yang terdapat di India. Perbedaan yang agak Nampak antara pemujaan dan kuil India dengan pemujaan candi yang ada di Indonesia adalah, jika di India pemujaan tersebut semata-mata kepada Dewa belaka, kalau di Indonesia adalah pemujaan kepada roh nenek moyang yang sudah bersatu dengan dewa penitisnya Dalam kamus Ensiklopedia Indonesia . Candi di artikan sebagai berikut:AuCandi adalah bangunan kuno yang bersifat Hindu-Budha, adapun teori ini berasal dari Candika sebuah nama untuk Dewi durga istri Siwa yang dalam cerita Jawa dan Bali menjadi penguasa pesetran . empat jenaza. Ay. Seperti yang dikatakan Bernnet Kempers berikut ini: Bahwa tidak semua candi atau bangunan kuno merupakan candi pemakaman Aumenyamaratakan segala jenis bangunan itu sama dengan menaruh kebencian terhadap arkeologi IndonesiaAy. (AJ Bernnet Kempers, 1970:. Masyarakat Jawa Timur juga mengenal bangunal kecil yang didirikan diatas makam sering disebut sebagai AuCungkupAy. Cungkup adalah bangunan kecil yang di keramatkan oleh masyarakat, terutama masyarakat sekitar tempat bangunan itu didirikan. Memang yang dicungkupi atau dilindungi adalah makam-makam orang terkenal, seperti raja,pendeta,dan tokoh-tokoh pendiri desa yang sering disebut dhanyang. Kata AudhanyangAy perkembangan dari kata AusanghyangAy, yaitu sebutan dari dewa Ciwa atau sanghyang. Yang berubah bunyi menjadi dhanyang. Makam dhanyang dihormati . i pundipund. Sehingga makam tersebut diberi sebutan AupundhenAy. Hal ini sependapat dengan apa yang di http://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 9 No 1 Tahun 2022 Efektor. Volume 9 Issue 1, 2022. Pages 66 - 75 Yatmin. Zainal Afandi katakana Raffles, perkataan Cungkup ini menjadi petunjuk bahwa candi adalah makam. (Soekmono, 1974 : ) Kalaupun di dalam bilik candi ada arca perwujudan maka sebagai sasaran utama pemujaan adalah arca tersebut yang diyakini pula sebagai rajanya yang telah wafat dan hidup kembali bergabung dengan dewa penitisnya, jadi hakikatnya juga memuja dewa, yang didirikan pula dalam dharma atau candi, menjadi petunjuk bahwa bangunan candi itu bukan hanya bangunan pemakaman saja tetapi juga sebagai kuil. Fungsi Candi Sebagai Kuil Pengertian kuil disini adalah . tempat memuja berhala atau dewa-dewa ( kamus pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, 1989 : . Bangunan candi sebagai makam biasanya hanya terdapat dalam agama Hindu, sedangkan pada agama Budha tidaklah demikian, hal ini sependapat dengan soekmono yaitu :Candi sebagai semacam pemakaman hanya terdapat dalam agama Hindu. Candi-candi agama Budha dimaksudkan sebagai tempat pemujaan Didalamnya tidak terdapat peti,peripih dan arcanya tidak berwujudkan seorang Raja. jenazah juga dari para bhiksu yang terkemuka, ditanam disekitar candi dalam bangunan stupa. (Soekmono, 1981 : 82-. Dalam konsep Hindupun juga mengatakan bahwa suatu percandian umumnya dianggap sebagai replika Mahameru, dimana Mahameru tersebut tidak ubahnya sebagai symbol Cosmos atau alam semesta. Wujud alam semesta tersebut di ibaratkan sebagai kahyangan yang berarti tempatnya para Dewa. Dari puncaknya keluarlah air AuAmertaAy, yang membasahi alam dan memberikan kehidupan bagi setiap makhluk yang menyentuhnya. Sebenarnya masyarakat Indonesia tepatnya pada jaman Megalitikum juga sudah mengenal konsep atau mempercayai adanya kekuatan alam dan mahkluk halus . oh nenek moyan. , hal tersebut dapat terlihat dari beberapa peninggalan yang bersifat rohaniah dalam bentuk, menhir, dolmen sarkofagus,kuburan batu, punden berundak, serta arca. Pada jaman hindu-budha bangunan candi menghadap gunung, karena gunung tersebut tempat bersemayamnya para dewa. Dalam tradisinya dikenal pemujaan terhadap gunung yang dianggap sebagai tempat bermukim roh nenek moyang atau penguasa alam. Hal diatas adalah salah satu jawaban dari pertanyaan mengapa masyarakat Indonesia dengan mudah menerima kebudayaan asing terutama dari India yaitu budaya Hindu-Budha. Pengertian makam disini haruslah kita pandang dari kaca pandang agama Hindu-Budha yang melatar belakangi munculnya kebiasaan mendirikan bangunan candi. Kebiasaan merawat jenazah pada masa Hindu-Budha atau masa sebelum masuknya pengaruh kuat islam, diantaranya yaitu : 1. Membakar mayat, 2. Melarung mayat, 3. Mengasingkan mayat atau Nyetra. Jadi dalam memakamkan jenazah yaitu hanyalah sisa-sisa dari pembakaran jenazah yaitu berupa abu dan tulang-belulang yang tidak habis terbakar. Atau AuCinadiAy atau Dhinarma, disitu bukanlah mayat atau jenazah sang raja atau tokoh terkenal, melainkan bermacam-macam benda seperti batu mulia dan benda-benda jasmaniah dari sang Raja. Jadi secara ikonologi sejarah candi ini memiliki latar belakang sejarah dimulai zaman Hindu-Budha dimana ceritaa terkait pemahaman terhadap ajaran bermakna kemasyarakatan Edy, ( et , 2. Setelah seorang raja meninggal dunia, jenazah dibakar sebagian dari abunya dilarung ke laut sedangkan sebagian lagi disimpan di candi bersama-sama dengan benda-benda lainnya. Abu itu ditaruh didalam peti inilah yang di tanam di dalam candi, yaitu didalam perigi atau sumur yang letaknya sengaja didasar candi. Pada bangunan candi didirikan sebenarnya terdapat cungkup diatas tempat pemakamannya, didalam cungkup ini tepat diatas ada lubang perigi dan pada lantai bilik candi ditempatkan sebuah patung yang melukiskan Dewa Ciwa atau Lingga sebagai perwujudannya, dengan raut muka sang Raja yang telah wafat tadi. Arca ini sering disebut sebagai arca perwujudan,arca ini sebagai arca utama yang bertahta didalam bilik candi yang menjadi sasaran pemujaan. Pada waktu upacara pemujaan terhadap sang Raja, yang pada waktu hidupnya di percaya sebagai titisan Dewa dan setelah wafatnya akan mencapai moksa dan bersatu dengan Dewa penitisnya tadi, area persujudan ini dihidupkan dengan manta-mantra tertentu. Area ini menjadi hidup, oleh karena dijiwai oleh sang Dewa yang melalui tempatnya bersemayam sementara didalam atap candi turun http://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 9 No 1 Tahun 2022 Efektor. Volume 9 Issue 1, 2022. Pages 66 - 75 Yatmin. Zainal Afandi kedalamnya dan bersamaan dengan itu terangkat pula dzat-dzat jasmaniah yang tersimpan dalam peti abu jenazah dalam perigi. Maka selama berlangsungnya upacara pemujaan itu, orang bukannya menyembah sebuah patung dari batu melainkan menyembah sang raja sendiri dalam bentuk penjelmaannya yang nyata sebagai Dewa. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah dengan langkah pertama adalah Pemilihan Topik dan Rencana Penelitian dan selanjutnya berturut-turut melakukan apa yang disebut : Heuristik . enemukan obyek yang akanditelit. Heuristik secara umum diartikan sebagai seni atau sebuah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan sebuah penemuan baru atau sebuah solusi untuk memecahkan suatu masalah agar bisa segera tuntas atau selesai. heuristik danmerupakan serangkaian tahapan dalam pengumpulan sumber-sumber dari berbagai jenis data penelitian sejarah melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan lain sebagainya. Secara sederhana, heuristik adalah aturan sederhana dan efisien yang umum digunakan untuk membentuk penilaian terhadap suatu hal dan bisa juga digunakan untuk membuat keputusan. Melalui penerapan teknik ini maka seseorang bisa menemukan sesuatu, menyelesaikan suatu masalah, dan membuat keputusan. Kritik . enguji informas atau sumbe. Kritik merupakan tahapan untuk menguji kebenaran . dari sumber sejarah. Kritik dibagi menjadi dua, yaitu: Kritik ekstern merupakan kegiatan untuk menguji autentisitas . Kritik ekstern cenderung menguji keaslian sumber sejarah dari bentuk fisiknya. Kritik intern adalah tahap dalam penelitian sejarah yang bertujuan untuk menguji kredibilitas dan realibilitas dari sumber sejarah. Dalam tahap ini, peneliti melakukan kritik secara kritis terhadap konten dan substansi isi dari sumber sejarah. Interpretasi . enafsirkan danmenberikan pandangan tentang sumber sejara. Interpretasi adalah menafsirkan fakta sejarah dan merangkai fakta tersebut menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Penafsiran fakta harus bersifat logis terhadap keseluruhan konteks peristiwa sehingga berbagai fakta yang lepas satu sama lainnya dapat disusun dan dihubungkan menjadi satu kesatuan yang masuk akal. Proses interpretasi juga harus bersifat selektif sebab tidak mungkin semua fakta dimasukkan ke dalam cerita sejarah, sehingga harus dipilih yang relevan dengan topik yang ada dan mendukung kebenaran sejarah. dan Historiografi . enuliskan apa yang sudah didapa. , berdasarkan dari tiga langkah yang sebelumnyatadi. dapat diartikan sebagai hasil atau karya penulisan sejarah historiografi merupakan sarana mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian yang diungkap, diuji . , dan diinterpretasi. Oleh karena itu riset . dan penulisan adalah dua sisi mata uang yang tidak akan mungkin dapat dilepaskan satu sama lain. Selain itu, penulisan menjadi penentu kebrehasilan seorang sejarawan. Pendekatan Penelitian yang digunakan peneliti kali ini adalah Pendekatan Kualitatif, . ebagaimana dikutip dalam tulisan Basri, 2. mengemukakan perbedaan penelitian dengan pendekatan metode kualitatif dan pendekatan metode kuantitatif, antara lain sebagai berikut: Tabel 1 Perbedaan metode kuantitatif dan kualitatif Kuantitatif Kualitatif Sampel yang memadai, berdasarkan teori Sampel sedikit, tidak mewakili populasi dan Aucentral limit theoremAy . ata dianggap idiosinkratis, yaitu unik dan bersifat individual. terdirstibusi norma. Kajian pustaka pada awal studi. Kajian pustaka pada akhir studi. Data dikumpulkan melalui instrumen yang Menekankan telah pengkoordinasian, dan mensintesa jumlah data yang banyak. Kontrol yang objektif atas bias replikasi dan Bersifat subjektif atas data individual dan muatan nilai. Besifat deduktif. Bersifat induktif http://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 9 No 1 Tahun 2022 Efektor. Volume 9 Issue 1, 2022. Pages 66 - 75 Yatmin. Zainal Afandi Menguji teori Mengembangkan teori Mengembangkan nilai dan pengambilan Mengambil kesimpulan berdasarkan data, dengan orientasi output data berorientasi pada proses Penjelasan didapat dari interpretasi data- Komplek dan pengalaman yang kaya . , data numerik terlepas dari data-data numerik Reliabilitas dan validitas diketahui Reliabilitas dan validitas tidak diketahui Perangkat pengukuran yang standar Perangkat pengukuran tidak standar Intervensi, tidak ada keterlibatan partisipan Keterlibatan partisipan Mengikuti menggunakan HO HA untuk menerima. Tidak mengikuti langkah-langkah metode menolak, membuktikan, atau tidak ilmiah, mencari makna dan substansi. menerima hipotesis. Data naratif Ae kata-kata untuk menggambarkan Data numerik Menggunakan berbagai macam variasi Pada prinsipnya menggunakan observasi dan Dengan asumsi realitas yang stabil . Dengan asumsi realitas yang dinamis Berorientasi pada verifikasi Berorientasi pada penemuan Menganalisis realitas sosial melalui Melaksanakan observasi holistik dari total kontek dalam kejadian-kejadian sosial Menggunakan metode statistik untuk Menggunakan menganalisis data menganalisis data Mempelajari populasi atau sampel yang Studi kasus merepresentasikan populasi karena peneliti disini melakukan penelitian terhadap objek atau bangunan kuno zaman Hindu-Budha yang berupa candi dan peneliti sendiri bertidak sebagai instrumen dalam penelitian ini, karena terjun langsung kelokasi yang kemudian melihat atau mengamati obyek yang di teliti, mengumpulkan data, menganalisa dankemudian mendiskripsikan apa yang di di lihat tersebut. Metode kualitatif merupakan metode yang fokus pada pengamatan yang mendalam. Oleh karenanya, penggunaan metode kualitatif dalam penelitian dapat menghasilkan kajian atas suatu fenomena yang lebih komprehensif. Penelitian kualitatif yang memperhatikan humanisme atau individu manusia dan perilaku manusia merupakan jawaban atas kesadaran bahwa semua akibat dari perbuatan manusia terpengaruh pada aspek-aspek internal individu. Aspek internal tersebut seperti kepercayaan, pandangan politik, dan latar belakang sosial dari individu yang bersangkutan. Selanjutnya, masing-masing pendekatan metode penelitian . uantitatif dan kualitati. memiliki keunggulan masing-masing. Oleh karena itu, pemilihan metode penelitian juga tergantung pada fenomena yang ingin diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Lokasi Penelitian Candi Ngetos berada di daerah Nganjuk, tepatnya di desa Ngetos Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk Propinsi Jawa Timur. Kabupaten Nganjuk dikenal sejak jaman Mpu Sindok, hal ini telah diperkuat dengan diketemukannya sebuah prasasti yang berupa tugu peringatan kemenangan atau jaya Stamba. Dalam Prasasti itu menerangkan tentang kemengan Mpu Sindok atas Sriwijaya. Berturut-turut Nganjuk tampil dalam panggung sejarah Indonesia lama, maka tidak heran jika nganjuk juga ada beberapa bangunan purbakala, sebagai bukti bahwa Nganjuk pernah tampil dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia. http://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 9 No 1 Tahun 2022 Efektor. Volume 9 Issue 1, 2022. Pages 66 - 75 Yatmin. Zainal Afandi Candi Ngetos berada dipinggir jalan raya, sehingga mudah sekali menjangkaunya. Untuk mengunjungi Candi Ngetos dapat di tempuh dengan berbagai jenis kendaraan, jarak antara Candi Ngetos kepusat Kabupaten Nganjuk A 20 km. Sedang daerah yang dilaluinya adalah: Nganjuk Ae Loceret Ae Berbek Ae Ngetos. Untuk lebih jelasnya dapat melihat denah menuju lokasi candi Ngetos Candi Ngetos terletak dilereng gunung Wilis, kondisi yang demikian, membuat daerah Ngetos berudara Sejuk dengan aroma pegunungan. Maka tidak heran jika keadaan tanahnyapun subur yang ditunjang pula dengan mudahnya mencari air untuk mengairi tanaman khas pegunungan. Sedang lokasi Candi Ngetos tepatnya berada di tengah-tengah desa Ngetos. Disekitar Candi Ngetos juga ditemukan makam panjang, menurut masyarakat setempat adalah makam Syeh Malik Sujono. Sebagaimana penulis sebutkan diatas, bahwa keadaan tanah desa Ngetos sangat mempengaruhi aktivitas penduduk. Desa Ngetos berada di daerah pegunungan yang subur sehingga menyebabkan banyak sekali areal ladang yang ditanami tanaman khas pegunungan, misalnya Cengkih. Kopi, macam-macam sayur, palawija, rambutan, durian semuanya dipasarkan keseluruh daerah Nganjuk dan sekitarnya. Penduduk Ngetos mayoritas memeluk agama Islam, tetapi mereka juga menghargai bangunan Candi Ngetos sebagai warisan budaya bangsa. Jadi dapat dikatakan, di desa Ngetos kehidupan umat beragama berlangsung sangat harmonis, saling menghormati antar pemeluk agama. Walau tempat ibadah agama Islam berdekatan dengan bangunan Candi yang bercorak Hindu, penduduk yang beragama Islam tidak merasa terganggu ibadahnya. Bahkan mereka paham betul bahwa bangunan itu merupakan salah satu warisan budaya dan juga salah satu aset bangsa yang perlu di jaga dan dilestarikan keberadaannya. Dalam bidang pendidikan masyarakat Ngetos juga tidak ketinggalan dengan daerah lain di kabupaten Nganjuk, hal ini diperkuat dengan adanya lembaga-lembaga pendidikan formal dan informal, mereka juga tidak segan-segan untuk turun gunung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, misalnya SMP. SMA dan Perguruan Tinggi. Selain ada peninggalan purbakala di Ngetos mempunyai pemandangan alam yang mempesona dan hawa pegunungan yang sejuk. Jika potensi ditata dan dipromosikan secara besar-besaran tentunya juga harus disertai dengan bangunanbangunan yang menunjang maka Candi Ngetos akan menjadi daerah wisata yang terkenal dan layak Kalau dilihat pada buku tamu Candi Ngetos pengunjung yang datang kebanyakan adalah pelajar dari luar Nganjuk, ada juga wisatawan mancanegara. Tentang peradapan masyarakat Ngetos memang tidak dapat disangkal lagi kemajuannya, hal ini terbukti dengan adanya peninggalan purbakala yang berupa Candi. Sebuah Candi biasanya didirikan diatas sebidang tanah yang telah dibebaskan pemerintah saat itu. Kemudian tanah Perdikan biasanya dihuni oleh orang-orang yang tergolong dalam kasta tinggi yaitu kasta Brahmana. Ksatria, dan Waisa. Nilai-nilai Perdikan itu, sekarang telah diwarisi oleh masyarakat. Nilai-nilai kaum Brahmana masih bertahan dimasyarakat Ngetos, hanya saja sekarang pahamnya yang berubah. Kalau dulu berfaham Hindu-Budha sekarang menjadi faham Islam, budaya ksatria diwujudkan dengan semangat membangun desa Ngetos, sedangkan budaya Waisa berkembang hampir seluruh kebanyakan masyarakat Ngetos, terutama dalam bentuk Profesi sebagai petani dan pedagang yang Handal. Geografis Candi Ngetos di bangun di tempat yang tepat dan benar sesuai dengan pemahamanpemahaman ajaran agama Hindu serta merujuk pada kitab pedoman pembangunan Candi yaitu Manasara dan Cilpasastra. Berikut lokasi yang paling baik untuk membangun Candi menurut Silpin: 1. Dekat dengan sumber mata air, 2. Dekat tepian sungai, 3. Berada di sekitar lereng gunung yang bermata air, dan, 4. Lokasi terbaik dari yang terbaik adalah dekat dengan pertemuan 2 sungai. (Ngadiono, 2003: . Dari pendapat tersebut yakin bahwa Candi Ngetos di bangun dengan perencanaan yang sangat matang, dengan bukti yaitu hasil observasi bahwa Candi Ngetos dekat dengan sumber mata air, jarak Candi Ngetos dengan sumber air adalah A 100 m. Candi Ngetos juga berada di lereng kaki gunung Wilis, ini sesuai dengan pemahaman agama Hindu, beranggapan bahwa puncak tertinggi adalah mahameru karena tempat itu adalah tempat bersemayam para dewa. http://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 9 No 1 Tahun 2022 Efektor. Volume 9 Issue 1, 2022. Pages 66 - 75 Yatmin. Zainal Afandi Candi Ngetos dibuat atas usaha Raja Hayam Wuruk, adapun tujuannya mendirikan Candi tersebut adalah untuk menyimpan abu jenazah beliau setelah wafat. Hayam Wuruk merupakan seorang raja yang menghormati roh para leluhurnya. Dimana beliau sering mengadakan upacara-upacara keagamaan untuk mensucikan roh para leluhurnya dan membangun Candi makam, yaitu candi Ngetos, beliau ingin sekali disempurnakan . i dharmaka. disitu, karena Ngetos juga merupakan wilayah kekuasaan majapahit. Pembangunan Candi tersebut menjadi tanggung jawab paman Hayam wuruk yang menjadi raja ngatas Angin yaitu Raden Condromowo. Karena tugas suci itu sangat berat maka sebagai imbalannya raden Condromowo diangkat menjadi raja tetap di Ngatas Angin atau kerajaan Ngetos dengan gelar pangeran Seloputro atau Bhre Wengker, pangeran Seloputro mempunyai kemenakan yang menjadi raja di Majapahit yaitu Hayam Wuruk. Bahkan Hayam wuruk pada masa pemerintahannya sering mengadakan kunjungan ke pamannya di Ngetos sekalian meninjau bangunan candi yang sedang dikerjakan, dalam kunjungannya di Ngetos tersebut Hayam wuruk sering sekali bermalam disana. Setelah selesai mengunjungi Ngetos, hayam wuruk singgah pula di Candi Lor, adapun lokasi Candi Lor, berada didaerah atau desa candirejo kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk. Denah Candi. Melihat dasar bentuk bangunannya. Candi Ngetos berdiri sekitar abad ke XV. Para ahli banyak yang menyatakan bahwa dahulu ada dua bangunan Candi, satu agak kecil yang dasarnya berukuran 8 , tetapi bentuknya sama. Malah diperkirakan Candi tersebut diperkirakan dikelilingi oleh suatu tembok berbentuk cincin yang kecil dan tembok yang mengelilinginya telah rusak, yang disebabkan oleh faktor alam dan mungkin juga oleh faktor manusia. Relief dan Ragam Hias Candi Ngetos. Pada bangunan Candi Ngetos terdapat empat buah relief kala, tetapi sekarang tinggal satu, sedang yang tiga telah hancur. Pigora-pigora tempat Saubasemennya sudah tidak ada. Bagian atas dan bawah pigora tersebut dibatasi oleh loteng-loteng yang dibagi dalam jendela-jendela kecil berhiaskan belah ketupat dan di dihiasi dengan motif buih serta ornament daun-daunan. Disebelah kanan kiri pintu masuk Candi Ngetos terdapat dua relung kecil yang diatasnya sebuah ornament yang mengingatkan pada belelei makasa tetapi apabila di perhaikan lebih lama ternyata suatu bentuk spiral besar yang diperindah. Mengenai relung sebelah kiri pintu masuk menurut Pantheon Hindu, seharusnya terdapat arca Nandhiswara, sedangkan yang berada sebelah kanan pintu masuk seharusnya terdapat arca Maha kala. Pada umumnya di Indonesia motif kala ini diletakkan pada pintu-pintu masuk suatu Candi. Sedangkan pada Candi Ngetos motif kala terdapat pada setiap atas relung yang masing-masing berada di sebelah kanan dan kirinya pintu masuk. Aspek Ikonografi Candi Ngetos. Pada Candi Ngetos sekarang tidak ada satupun arca yang tertinggal disana. Adapun sebagai petunjuk bahwa patung tersebut adalah Wisnu dapatlah dilihat dari Laksana Wisnu adalah bertangan empat yang masing-masing memegang gada, songka, cakra dan kuncup teratai. Wahanaya adalah garuda, sedang istrinya adalah Laksmi (Dewi Arca-arca yang lain sampai sekarang belum diketahui atau belum diketemukan. Tetapi meskipun demikian dapat dipastikan bahwa Candi Ngetos bersifat Siwais. Kalaupun ternya ditemukan patung Wisnu, kemungkinan patung ini hanyalah sebagai pendamping. Ditempatkannya patung Wisnu dan arca Siwa dalam sebuah percandian pada masa Hayam Wuruk lebih mengutamakan agama Hindu aliran Ciwa. Sesuai penelitian yang dilakukan jika dilihat candi merupakan bangunan suci yang digunakan sebagai tempat pemujaan (Budiono et al. , 2. Pembangunan Candi Ngetos tidak sempat di tulis oleh prapanca, mungkin prapanca tidak di ikuti penjelasan Hayam wuruk ke Ngetos. Mungkin juga Hayam wuruk melarang agar peristiwa itu Tindakan Hayam Wuruk tersebut sangatlah tepat, karena pembangunan Makam dikala orang yang akan dimakamkan masih hidup namanya Aunggege MongsoAy yang artinya melawan kehendak Tuhan. Hal ini sangatlah ditabukan masyarakat saat itu. Lagi pula tindakan penguasa untuk membangun makamnya dikala masih hidup, sangat berdampak negatif bagi masyarakat yang dikuasainya, secara politis akan mengganggu stabilitas keamanan Negara, karena hal tersebut akan digunakan senjata untuk menghancurkan pemerintah oleh lawan politiknya. Dalam hal ini orang-orang http://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 9 No 1 Tahun 2022 Efektor. Volume 9 Issue 1, 2022. Pages 66 - 75 Yatmin. Zainal Afandi bawahan atau Negara fasal-fasal Majapahit. Dari uraian-uraian tersebut diatas jelaslah bahwa Hayam Wuruk merupakan seorang raja yang sangat patuh beragama dan hormat pada roh leluhurnya. Beliau juga pernah memerintahkan membangun komplek percandian di Ngetos sebagai tempat penanaman abu jenazahnya dan tempat penghormatan kepada para dewa. Sekitar tahun 930 M atau abad X, raja-raja mataram Hindu memindahkan pusat pemerintahanya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Sebab-sebab perpindahan pusat pemerintahan ini belum dapat diketahui secara pasti. Kemungkinan akibat politik, ekonomi dan bencana alam yang diduga sebagai penyebab perpindahan pusat pemerintahan tersebut. Adapun raja pertama yang memerintah secara luas di Jawa Timur adalah Mpu Sendok. Akibat perpindahan tersebut, berturut-turut Jawa Timur mulai muncul sebagai panggung sejarah Indonesia, hingga nantinya muncul pula kerajaan besar yaitu Majapahit. Kerajaan Majapahit ini puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan maha patihnya Gajah Mada pada tahun 1350 putra mahkota Hayam wuruk di nobatkan sebagai raja Majapahit, ia bergelar Sri Rajasanagara, dan dikenal pula dengan sebutan Bhra Wekasing Suka. Ketika ibunya Tribhuanatunggadewi masih memerintah Hayam Wuruk telah dinobatkan menjadi raja muda dan mendapat daerah jiwono sebagai daerah lunggunya, mengenai gajah mada sebagai patih hamangku bumi, sudah disandangnya sejak ia mengabdi pada raja Tribuana Tungga Dewi, yaitu setelah berhasil menumpas pemberontakan di Shadang. Di hadapan raja Tribuana Tungga Dewi. Gajah Mada mengucapkan sumpah Palapa. Program politik nusantara yang dilaksanakan ternyata hanya sampai kira-kira tahun 1357. Penetapan tahn tersebut sebagai batas penolakan politik nusantara di dasrkan atas kegagalan Gajah Mada dalam ambisinya menundukkan sunda. Akibat kegagalan iniberdampak pada pemberhentian sementara Gajah Mada dari jabatan Amangku Bumi. Peristiwa penundukan Sunda ini di kenal dengan AububatAy. Akibat dari bubat tersebut nantinya sedikit demi sedikit berpengaruh terhadap kejayaan Majapahit, yaitu mulai terjadi kemunduran kerajaan tersebut. Karena tidak ada pejabat yang secakap pasangan Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Pemerintahan Hayam Wuruk nampak adanya usaha sektor kehidupan rakyat terutama sektor ekonomi, dan kebudayaan betul-betul diperhatikan. Hasil pemungutan pajak dan upeti dipergunakan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Hayam Wuruk telah memerintah untuk membangun bendungan-bendungan dan saluran-saluran pengaian. Di beberapa sungai besar di bantu tempattempat penyeberangan guna memperlancar arus perdagangan. Walaupun kerajaan Majapahit berada didaerah pedalaman, kekuasaannya juga meliputi lautan. Hal ini semata-mata untuk memperlancar perdagangan juga untuk memberi perlindungan pada pedagang-pedagang Majapahit. Raja Hayam Wuruk sangat memperhatikan keadaan daerah-daerah kerajaanya. Beberapa kali beliau mengadakan perjalanan kenegaraan meninjau daerah-daerah wilayah majapahit, yang disertai oleh pembesar-pembesar kerajaan. Selain Mengadakan perjalanan keliling wilayah. Hayam Wuruk juga mengadakan upacara Saradha, yaitu upacara agung yang memperingati tepat duabelas tahun wafatnya Raja Patni, upacara tersebut berkat perintah Tribuana Tungga Dewi. Tinjauan sejarah Candi Ngetos ini tidak lepas dari kajian Negara Kertagama. Pararaton serta cerita rakyat yang berkembang di Masyarakat. Mitos adalah semacam tahyul, sebagai akibat ketidak tahuan manusia, tetapi bahwa sadarnya memberitahukan tentang adanya sesuatu kekuatan yang menguasai dirinya serta lingkungannya. Bahwa sadar inilah yang nantinya menghasilkan rekaan-rekaan yang lambat laun berubah menjadi kepercayaan, biasanya dibarengi dengan ketakjuban, atau ykekaguman dan ketakutan atau mungkin kedua-duanya, dalam reaksinya yang kemudian timbul rasa hormat yang berlebihan dan melahirkan sifat pemujaan, sikap pemujaan inilah yang nantinya menghasilkan kisah-kisah atau tutur-tutur yang di sampaikan dari mulut ke mulut secara lisan dan turun Hal inilah yang disebut dengan cerita rakyat. Biasanya untuk menyampaikan hal-hal yang istimewa, makanya tidak akan terlupakan, misal tentang asal-usul nama suatu daerah atau tempat sebuah bangunan yang di keramatkan, hal ini dikuatkan oleh penelitian bahwa Para ahli sejarah kuno http://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 9 No 1 Tahun 2022 Efektor. Volume 9 Issue 1, 2022. Pages 66 - 75 Yatmin. Zainal Afandi dan arkeologi Indonesia telah sepakat bahwa para pembangun candi tersebut adalah Syailendra wangsa dan kaum kerabatnya (Irawan & Idris, 2. Adapun keterangan lain mengenai bangunan Candi Ngetos adalah sebagai berikut: Bahan dasar bangunan kaki dan tubuh candi, batu merah. Bahan atap candi: kemungkinan terbuat dari kayu, sehingga mudah rusak dan tidak berbekas. Candi Ngetos menghadap kebarat. Lokasi andi Ngetos berada di tengah-tengah desa Ngetos kecamatan Ngetos kabupaten Nganjuk. Candi ini dapat dimanafaatkan sebagai sumber belajar oleh guru sejarah dimana nantinya akan bermanafaat dalam pengembangan pelajaran yang berkaitan dengan tema-tema candi (Kaningtyas, 2. Pada bangunan Candi Ngetos terdapat empat buah relief kala, tetapi sekarang tinggal satu sedang yang tiga telah hancur. Pigora-pigora tempat Saubasemennya sudah tidak ada. Bagian atas dan bawah pigora tersebut dibatasi oleh loteng-loteng yang dibagi dalam jendela-jendela kecil berhiaskan belah ketupat dan di dihiasi dengan motif buih serta ornament daun-daunan / untaian bunga. Selain itu terdapat relief salib portugis pada tubuh candi Ngetos. Disebelah kanan kiri pintu masuk Candi Ngetos terdapat dua relung kecil yang diatasnya sebuah ornament yang mengingatkan pada belalai makasa tetapi apabila di perhaikan lebih lama ternyata suatu bentuk spiral besar yang Mengenai relung sebelah kiri pintu masuk menurut Pantheon Hindu, seharusnya terdapat arca Nandhiswara, sedangkan yang berada sebelah kanan pintu masuk seharusnya terdapat arca Maha kala. Mengenai dinding-dinding yang kosong tidak menunjukkan relief maupun ormentasi yang Hanya diatasnya dinding yang kosong itu terdapat motif daun yang berukuran tinggi 2-meter dan lebar 1,8 meter. Kala tersebut yang masih agak utuh terletak disebelah selatan wajahnya Hal ini menggambarkan bahwa mempunyai kekuatan magis yang besar sebagai penolak bahaya, motif kala yang kita dapati hamper pada seluruh percandian di Jawa Tengah. Jawa Timur. Pada umumnya di Indonesia motif kala ini diletakkan pada pintu-pintu masuk suatu Candi. Sedangkan pada Candi Ngetos motif kala terdapat pada setiap atas relung yang masing-masing berada di sebelah kanan dan kirinya pintu masuk. Demikian sekilas tentang aspek seni bangun dan ragam hias yang terdapat pada candi Ngetos. Karena keadaannya sangat rusak dan sangat miskin akan adanya ragam hias, seta tidak adanya cerita Relief. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang penulis uraikan didepan maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut: Secara umum, masyarakat menganggap bahwa setiap bangunan kuno masa Hindu-budha disebut Candi. Kondisi geografis Candi Ngetos yang berda di desa Ngetos kecamatan Ngetos kabupaten Nganjuk, baik ditinjau dari latar belakang sejarah maupun dewasa ini sangatlah ideal untuk lokasi sebuah bangunan suci yang bersifat monumental. Serta memungkinkan untuk pengembangan daerah obyek Wisata di Kabupaten Nganjuk. Secara Historis. Candi Ngetos dibangun pada masa kerajaan Majapahit. Bangunan candi Ngetos jelas menunjukkan ciri-ciri masa bangunan Majapahit. Adapun pertama kali diteliti pada tahun 1817 oleh Gubernur Jendral Tomas Standford Raflles. Aspek seni bangunan candi Ngetos, dimana bahannya dari batu-bata merah, pondasinya bujur sangkar, tapi pada candi Ngetos ini tidak ada ragam hias. Ragam hias yang masih tampak, yaitu sebuah Kala di atas relung bagian selatan dan hiasan motif kelompok awan dan motif daun-daunan. Fungsi Candi Ngetos adalah sebagai bangunan tempat pemujaan roh leluhur dan pemujaan terhadap para dewa. Candi Ngetos memang benar-benar bangunan candi dalam arti yang sesungguhnya, serta fungsinya sebagai tempat pemujaan terhadap dewa. Hal ini akan membebaskan pengertian Candi yang sangat rancu di masyarakat. http://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 9 No 1 Tahun 2022 Efektor. Volume 9 Issue 1, 2022. Pages 66 - 75 Yatmin. Zainal Afandi DAFTAR RUJUKAN Budiono. Soepeno. , & Nirmala P. Nilai Edukasi Candi Jabung Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo dalam Pembelajaran Sejarah. SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Kajian Sejarah, 1. , 23Ae27. https://doi. org/10. 31540/sdg. Depdikbud. Tim Penyusun kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. AuKamus Besar bahasa IndonesiaAy. Jakarta : Balai Pustaka. Fauzi. , & Rahmawati. Ikonografi Sebagai Langkah Kerja Kreatif Cipta Sastra Anak Dari Relief Candi. Hasta Wiyata, 1. , 15Ae21. https://doi. org/10. 21776/ub. Hoeve Van Bare, . AuEnsiklopedi IndonesiaAy. Jakarta Hadi Sutisno, . AuMetodologi Research IIAy. Yogyakarta : Andi Offset. Harimintadji. Nganjuk dan Sejarahnya. Nganjuk :Daerah Tingkat II Nganjuk. Irawan. , & Idris. Seni Perhiasan Dalam Kebudayaan Mataram Kuno Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah (Studi Ikonografi Relief Candi Borobudu. Kalpataru: Jurnal Sejarah Dan Pembelajaran Sejarah, 3. , 11. https://doi. org/10. 31851/kalpataru. Kaningtyas. Kaitan Latar Belakang Pendidikan Guru ter-hadap Pemanfaatan Candi Kotes sebagai Sumber Belajar. Sejarah Dan Budaya : Jurnal Sejarah. Budaya. Dan Pengajarannya, 10. , 63Ae71. https://doi. org/10. 17977/um020v10i12016p063 Koentjaraningrat, . AuKebudayaan Mentalitas dan pembangunanAy. Jakarta : Gramedia. Muljana Slamet. AuNegara Kertagama dan Tafsir SejarahnyaAy. Jakarta : Bhatara Karya Aksara. Kroom. AuZaman hinduAy. Jakarta : PT. Pembanguanan. Notosusanto Nugroho, . AuSejarah dan hankamAy. Jakarta : Dephankam. ---------, 1983. AuSejarah nasional IIAy. Jakarta : Balai pustaka Ngadiono, . Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Candi Penataran. Dinas Pendidikan & Kebudayaan Propinsi Jawa Timur. Surabaya : Perintis Grapic Art. Pemda Dati II Nganjuk, . Au Sejarah Kabupaten MadiunAy. Madiun. Poesponegoro. Marwati Djoened. & Nugroho Noto Susanto. Sejarah Nasional Indonesia . Jakarta : Balai Pustaka. Soekmono,R . Aucandi. Fungsi dan PengertiannyaAy. Jakarta : UI. http://ojs. id/index. php/efektor-e Vol 9 No 1 Tahun 2022