Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 179 Ae 188 PENGEMBANGAN PROGRAM EDUKASI DAN PENDAMPINGAN PEMANFAATAN HERBAL LOKAL (KAYU MANIS DAN PARE) DALAM POLA MAKAN SEHARI-HARI BAGI PENDERITA DIABETES MELITUS Febriyanti1. Yola Yolanda2 . Dedi Adha3. Zulham Efendi4. Lola Despitasari5. Fitria. Alisa6. Nurleny7, 1,2,3,4,5,6,7 Prodi S1 Keperawatan/Fakultas Kesehatan dan Sains/Universitas Mercubaktijaya E-mail korespondensi: febrianti160911@gmail. Abstrak: Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan mandiri melalui edukasi, pola makan sehat, dan dukungan berkelanjutan. Tujuan: Pengabdian masyarakat ini meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pasien DM dalam memanfaatkan herbal lokal, yaitu pare (Momordica charanti. dan kayu manis (Cinnamomum veru. , sebagai bagian dari pola makan sehari-hari. Kegiatan melibatkan 33 pasien dan 2 kader kesehatan melalui edukasi, demonstrasi pengolahan herbal, serta pendampingan selama 14 hari. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan signifikan, dengan kategori baik meningkat dari 58,2% menjadi 93,3%. Peserta mampu mengolah pare tanpa rasa pahit dan memanfaatkan kayu manis sebagai minuman sehat. Kepatuhan konsumsi tinggi, disertai penurunan kadar gula darah Kesimpulan program ini efektif meningkatkan pemahaman, keterampilan, serta perilaku makan sehat, sehingga dapat menjadi model intervensi komunitas berbasis kearifan lokal untuk pengelolaan DM. Kata kunci: Diabetes Melitus. Edukasi Kesehatan. Herbal Lokal. Pare. Kayu Manis Abstract Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease that requires self-management through education, healthy dietary patterns, and continuous support. This community service program aimed to improve the knowledge and skills of DM patients in utilizing local herbal ingredients-bitter melon (Momordica charanti. and cinnamon (Cinnamomum veru. as part of their daily dietary The activity involved 33 patients and 2 health cadres through health education, herbal preparation demonstrations, and 14-day mentoring. The results showed a significant improvement in participantsAo knowledge, with the AugoodAy category increasing from 58,2% to 93,3%. Participants were able to prepare bitter melon without bitterness and use cinnamon as a healthy beverage High adherence to consumption was observed, accompanied by a decrease in random blood glucose. This program effectively enhanced understanding, practical skills, and healthy eating behaviors, making it a potential community-based intervention model rooted in local wisdom for DM management. Keywords : Diabetes Mellitus. Health Education. Local Herbal Medicine. Bitter Melon (Momordica charanti. Cinnamon (Cinnamomum veru. Pendahuluan Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia maupun dunia. WHO . melaporkan bahwa DM ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/zqk30410 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 179 Ae 188 merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi jangka panjang, seperti penyakit kardiovaskular, nefropati, retinopati, dan neuropati. Indonesia, prevalensi DM menunjukkan tren peningkatan setiap tahun, terutama di kelompok usia dewasa dan lansia. Kondisi ini menuntut upaya pencegahan dan pengendalian DM secara lebih komprehensif, berkesinambungan, dan berbasis Pengelolaan DM tidak hanya bergantung pada pengobatan medis, tetapi sangat dipengaruhi oleh perilaku hidup sehat, pola makan yang tepat, serta kemampuan pasien dalam mengelola penyakitnya secara mandiri. Edukasi kesehatan menjadi komponen kunci dalam meningkatkan pemahaman pasien mengenai risiko, komplikasi, dan strategi pengendalian DM. Data World Health Organization menunjukkan bahwa DM berkontribusi terhadap sekitar 6,7 juta kematian global per-tahun, dengan lebih dari 50% kematian terkait DM disebabkan oleh komplikasi kardiovaskular, sementara International Diabetes Federation melaporkan bahwa sekitar 30Ae50% penderita DM mengalami komplikasi kronis akibat pengelolaan yang tidak optimal. Selain dampak fisik. DM yang tidak terkelola juga menurunkan kualitas hidup, meningkatkan gangguan psikososial, serta memperberat beban ekonomi individu dan sistem kesehatan, sehingga pengendalian DM secara komprehensif menjadi kebutuhan mendesak dalam pelayanan kesehatan. Diabetes Melitus yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan komplikasi akut dan kronis yang meningkatkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian (WHO, 2023. ADA 2. Menurut American Diabetes Association . , edukasi yang efektif dapat meningkatkan kepatuhan, memperbaiki kualitas hidup, dan menurunkan angka komplikasi pada pasien DM. Selain edukasi, dukungan sosial melalui pendampingan kader kesehatan terbukti mampu memperkuat perubahan perilaku dan meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalankan manajemen penyakit kronis. Salah satu pendekatan inovatif dalam pengelolaan DM adalah pemanfaatan herbal lokal yang secara ilmiah telah terbukti membantu menurunkan kadar glukosa Pare (Momordica charanti. mengandung charantin, polypeptide-P, dan vicine yang berperan dalam meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan glukosa darah. Sementara itu, kayu manis (Cinnamomum veru. diketahui mengandung cinnamaldehyde dan polyphenols yang membantu memperbaiki kerja reseptor insulin dan menstabilkan gula darah. Kedua herbal ini mudah ditemukan, terjangkau, dan telah lama dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pangan maupun obat tradisional. Namun, pemanfaatan herbal tersebut sering kali belum dilakukan dengan benar karena kurangnya pengetahuan mengenai cara pengolahan, dosis aman, serta prinsip penggunaannya sebagai terapi pendamping, bukan pengganti obat medis Lekshmi (R. et al. Banyak pasien DM yang belum memahami manfaat pare dan kayu manis dalam pengaturan gula darah, bahkan cenderung menghindarinya karena rasa pahit atau ketidaktahuan cara mengolahnya. Selain itu, masih terbatas edukasi yang mengintegrasikan pengetahuan, praktik memasak, dan pendampingan secara langsung ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/zqk30410 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 179 Ae 188 kepada pasien dan keluarga. Berdasarkan latar belakang tersebut, dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa Program Edukasi dan Pendampingan Pemanfaatan Herbal Lokal (Kayu Manis dan Par. dalam Pola Makan Sehari-hari bagi Penderita Diabetes Melitus. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku sehat pasien DM melalui edukasi berbasis teori perilaku, demonstrasi pengolahan herbal, serta pendampingan intensif oleh kader kesehatan. Melalui pendekatan berbasis komunitas dan kearifan lokal ini, diharapkan pasien DM mampu mengelola kondisi kesehatannya secara mandiri, berkelanjutan, dan lebih terarah. Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan edukasi dan pendampingan berbasis komunitas yang melibatkan 33 pasien Diabetes Melitus dan 2 kader kesehatan. Metode pelaksanaan terdiri dari beberapa tahapan yang terintegrasi, mulai dari identifikasi kebutuhan, edukasi kesehatan, demonstrasi pengolahan herbal, pendampingan konsumsi pare dan kayu manis, hingga evaluasi hasil. Kegiatan diawali dengan pengkajian awal untuk mengetahui karakteristik peserta, pengetahuan dasar mengenai DM, pola makan, serta kebiasaan mereka dalam mengonsumsi herbal lokal. Pengkajian awal ini dilakukan melalui wawancara singkat, observasi, dan pre-test sebagai dasar untuk menentukan pendekatan edukasi yang sesuai. Tahap berikutnya adalah edukasi kesehatan mengenai Diabetes Melitus, risiko komplikasi, prinsip pengaturan pola makan, serta manfaat pare (Momordica charanti. dan kayu manis (Cinnamomum veru. sebagai terapi pendamping. Edukasi disampaikan melalui ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, dan pemutaran media edukatif agar peserta memahami peran herbal dalam membantu menurunkan kadar glukosa darah. Setelah edukasi, dilakukan demonstrasi pengolahan pare dan kayu manis, termasuk teknik mengurangi rasa pahit pare, cara membuat teh kayu manis, serta penyusunan menu harian yang mudah diterapkan. Demonstrasi dilakukan secara langsung sehingga peserta dapat melihat, mencoba, dan mempraktikkan teknik pengolahan herbal dengan benar. Selanjutnya, peserta menjalani pendampingan selama 14 hari oleh kader Pendampingan mencakup monitoring konsumsi pare minimal tiga kali seminggu, konsumsi kayu manis setiap hari, pemantauan gula darah sewaktu atau puasa sesuai kemampuan peserta, serta pencatatan perubahan pola makan. Kader berperan sebagai pemberi motivasi, pengingat, dan pendukung dalam proses pembentukan perilaku sehat. Pendampingan ini dilakukan melalui kunjungan langsung, komunikasi harian, dan pencatatan pada lembar monitoring. Evaluasi dilakukan pada akhir kegiatan melalui post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan, observasi kemampuan peserta dalam mengolah herbal, serta pengukuran perubahan kadar glukosa darah. Selain itu, peserta mengisi form penilaian kepuasan untuk mengetahui persepsi mereka terhadap kegiatan. Data hasil evaluasi kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan perubahan pengetahuan. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/zqk30410 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 179 Ae 188 keterampilan, perilaku konsumsi herbal, serta dampak terhadap kendali glikemik. Hasil Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat mengenai AuPengembangan Program Edukasi dan Pendampingan Pemanfaatan Herbal Lokal (Kayu Manis dan Par. dalam Pola Makan Sehari-hari bagi Penderita Diabetes MelitusAy berhasil memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku kesehatan peserta, baik kader maupun pasien diabetes. Kegiatan pengabdian ini yang melibatkan dua kader kesehatan dan tiga puluh tiga pasien ini menunjukkan bahwa intervensi edukasi berbasis herbal lokal yang dikombinasikan dengan pendampingan terstruktur mampu mendukung pengendalian glukosa darah secara lebih optimal. Hal ini selaras dengan prinsip bahwa pengelolaan penyakit kronis, khususnya Diabetes Melitus (DM), membutuhkan pendekatan edukatif dan partisipatif yang konsisten. Peserta kegiatan sebagian besar berada pada rentang usia dewasa akhir hingga lanjut usia . Ae68 tahu. Rentang usia ini merupakan kelompok yang secara fisiologis mengalami peningkatan risiko resistensi insulin karena proses penuaan yang menyebabkan berkurangnya sensitivitas sel terhadap hormon insulin. WHO . menegaskan bahwa peningkatan usia memengaruhi penurunan fungsi sel pankreas sehingga risiko DM meningkat seiring waktu. Mayoritas peserta adalah perempuan, sebuah temuan yang sesuai dengan penelitian Khan et al. yang menemukan bahwa perempuan usia di atas 45 tahun cenderang memiliki pola aktivitas fisik lebih rendah dan lebih sensitif terhadap fluktuasi glukosa, sehingga memerlukan intervensi edukasi gizi yang lebih intensif. Berikut rata-rata hasil peningkatan Pengetahuan peserta pengabdi yang dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Edukasi No Jumlah Rata-rata Pengetahuan Rata-rat Pengetahuan Selisih Resopnden sebelum 33 orang 58,2 % 95,3% 37,1% Berdasarkan Tabel 1 diatas, diketahui bahwa jumlah responden yang mengikuti kegiatan pengabdian sebanyak 33 orang. Rata-rata tingkat pengetahuan peserta sebelum diberikan intervensi edukasi adalah sebesar 58,2%, yang menunjukkan bahwa pengetahuan awal peserta masih berada pada kategori sedang. Setelah dilakukan intervensi edukasi, rata-rata tingkat pengetahuan peserta meningkat secara signifikan menjadi 95,3%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebesar 37,1%, yang mencerminkan efektivitas intervensi edukasi yang diberikan. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa metode dan materi edukasi yang digunakan mampu meningkatkan pemahaman peserta secara optimal, sehingga diharapkan dapat berkontribusi terhadap perubahan perilaku dalam pengendalian glukosa darah yang lebih baik di kemudian hari. Dan berikut beberapa Berikut dokumentasi pada kegiatan ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/zqk30410 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 179 Ae 188 pengabdian ini: Gambar 1: Pembukaan oleh PJ penyakit DM Gambar 2: Edukasi tahap terkait pare Gambar 3: Pememberian edukasi tahap awal ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/zqk30410 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 179 Ae 188 Gambar 4: Fhoto Bersama setelah kegiatan Diskusi Peningkatan pengetahuan peserta setelah diberikan edukasi merupakan salah satu indikator keberhasilan kegiatan ini. Pengetahuan peserta sebelum edukasi sebagian besar berada pada kategori kurang, namun meningkat secara signifikan setelah intervensi. Peningkatan ini dapat dijelaskan melalui teori Health Belief Model (HBM) yang menyatakan bahwa perubahan perilaku kesehatan dipengaruhi oleh persepsi individu mengenai risiko penyakit, manfaat dari intervensi, hambatan yang mungkin muncul, dan stimulus untuk bertindak. Dengan edukasi, peserta menjadi memahami risiko komplikasi diabetes, keamanan konsumsi herbal, serta manfaat pare dan kayu manis dalam menurunkan kadar glukosa darah. Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya (ADA. WHO . menegaskan bahwa DM tipe 2 sangat erat kaitannya dengan resistensi insulin dan gangguan fungsi sel beta pankreas. Teori patofisiologi DM menjelaskan bahwa resistensi insulin menyebabkan sel tubuh tidak mampu menggunakan glukosa secara optimal, sehingga glukosa menumpuk dalam darah. Selain itu, proses penuaan dan obesitas memperburuk kondisi ini, meningkatkan risiko komplikasi seperti neuropati, nefropati, dan retinopati. Dalam konteks edukasi masyarakat, pemahaman teori DM penting agar pasien menyadari risiko komplikasi dan pentingnya perubahan perilaku. Kegiatan demonstrasi pengolahan pare dan kayu manis memberikan kontribusi yang sangat besar dalam penguatan keterampilan peserta. Demonstrasi merupakan metode penting dalam pendidikan kesehatan karena mampu meningkatkan pemahaman melalui pengalaman langsung. Kolb . menekankan bahwa pembelajaran yang melibatkan praktik langsung memberikan dampak lebih kuat terhadap perubahan perilaku dibandingkan pembelajaran pasif. Peserta dalam kegiatan ini mampu mengolah pare sehingga tidak pahit melalui teknik blansir dan perendaman Pendampingan selama empat belas hari merupakan komponen penting yang memperkuat keberhasilan program. Tingginya tingkat kepatuhan konsumsi herbal pada peserta menunjukkan bahwa interaksi dengan kader memberikan dukungan psikososial ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/zqk30410 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 179 Ae 188 yang dibutuhkan. Teori Social Support Model (House, 1. menjelaskan bahwa dukungan emosional, informasi, dan pendampingan langsung dari kader dapat meningkatkan motivasi dan keyakinan diri pasien dalam menerapkan perilaku sehat. Pasien yang mendapatkan pendampingan cenderung lebih konsisten dalam mengonsumsi pare dan kayu manis serta lebih teratur dalam menerapkan pola makan sehat (Hagger. , & Hamilton. Efek edukasi dan pendampingan terlihat jelas dari perubahan kadar glukosa darah peserta. Terjadi penurunan rata-rata gula darah sewaktu sebesar 32 mg/dL dan penurunan gula darah puasa sebesar 21 mg/dL. Secara fisiologis, penurunan ini dapat dijelaskan melalui mekanisme kerja pare yang mengandung charantin dan polypeptideP yang berfungsi meningkatkan pemanfaatan glukosa oleh jaringan perifer. Kayu manis, menurut Anderson et al. , meningkatkan fosforilasi reseptor insulin sehingga memperbaiki sensitivitas insulin. Pare dikenal sebagai tanaman herbal antidiabetes yang mengandung tiga komponen aktif utama: charantin, polypeptide-P, dan vicine. Charantin memiliki efek menurunkan glukosa darah dengan meningkatkan sensitivitas insulin. Polypeptide-P bekerja menyerupai insulin sehingga membantu menurunkan gula darah pada pasien Vicine membantu memecah glukosa di dalam tubuh. Studi oleh Raman & Lau . menyimpulkan bahwa konsumsi pare secara rutin dapat menurunkan kadar glukosa darah serta memperbaiki profil metabolik. Pare juga diketahui meningkatkan penggunaan glukosa oleh sel-sel otot melalui peningkatan aktivitas GLUT4. Kayu manis merupakan herbal yang mengandung cinnamaldehyde, polyphenols, dan chromium, yang semuanya berperan meningkatkan sensitivitas insulin. Anderson et . membuktikan bahwa kayu manis dapat menurunkan glukosa darah puasa 18Ae29% pada penderita DM. Kayu manis bekerja dengan meningkatkan fosforilasi reseptor insulin sehingga membantu glukosa masuk ke dalam sel. Selain itu, kayu manis memperlambat pengosongan lambung, sehingga mencegah lonjakan gula darah setelah Bukti ilmiah menunjukkan bahwa konsumsi kayu manis 1Ae2 gram per hari aman bagi pasien DM dan mendukung kontrol glukosa. Peran kader kesehatan dalam program ini sangat strategis meskipun jumlahnya hanya dua orang. Kader yang telah dibekali edukasi dan keterampilan praktis menjadi fasilitator utama yang menghubungkan tim pengabdian dengan masyarakat. WHO menegaskan bahwa kader kesehatan adalah aktor penting dalam sistem kesehatan berbasis komunitas karena memiliki kedekatan emosional dan kepercayaan dari warga. Evaluasi kepuasan peserta menunjukkan bahwa mereka merasa sangat terbantu dan puas terhadap materi, metode, dan hasil intervensi. Berdasarkan Kirkpatrick Model, program ini berhasil mencapai empat level evaluasi, yaitu tingkat kepuasan, peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, dan dampak hasil kesehatan. Kegiatan ini memiliki beberapa keterbatasan, seperti durasi pendampingan yang singkat dan tidak adanya pemeriksaan HbA1c. Namun demikian, hasil kegiatan memberikan gambaran kuat bahwa edukasi berbasis herbal lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai intervensi kesehatan masyarakat. Program pengabdian ini memiliki implikasi penting bagi pengembangan praktik kesehatan masyarakat. Pemanfaatan herbal lokal yang aman, murah, dan mudah diperoleh sangat relevan untuk intervensi berbasis komunitas. Kombinasi edukasi, demonstrasi, dan pendampingan terbukti efektif dalam mendorong perubahan perilaku pasien dan dapat dikembangkan menjadi program reguler di puskesmas. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/zqk30410 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 179 Ae 188 Kesimpulan dan Saran Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku kesehatan peserta, baik kader maupun pasien diabetes. Program edukasi yang melibatkan dua kader kesehatan dan tiga puluh tiga pasien diabetes ini terbukti mampu meningkatkan pemahaman peserta tentang pengelolaan DM, manfaat pare dan kayu manis, serta pentingnya pola makan sehat sebagai bagian dari manajemen penyakit kronis. Edukasi yang diberikan melalui metode ceramah, diskusi, demonstrasi, dan praktik terbukti efektif meningkatkan pengetahuan peserta. Hal ini terlihat dari peningkatan signifikan nilai post-test, yang menunjukkan bahwa peserta mampu memahami mekanisme kerja herbal, batas aman konsumsi, serta cara mengolah pare dan kayu manis dengan benar. Demonstrasi langsung memberikan pengalaman praktis yang meningkatkan self-efficacy peserta. Pendampingan oleh kader kesehatan berperan penting dalam meningkatkan konsistensi perilaku dan memfasilitasi perubahan pola makan harian peserta. Secara umum, kegiatan pengabdian ini berhasil mencapai tujuan edukatif dan Program ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun keterampilan praktis, memperkuat perilaku sehat, dan memberikan hasil terukur terhadap kondisi kesehatan peserta. Kegiatan ini juga memperlihatkan peran penting kader kesehatan sebagai agen perubahan dalam komunitas. Ucapan Terimakasih