SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. No. 2 February 2024 id/index. php/sentri KOMUNIKASI TERAPEUTIK ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN GANGGUAN HALUSINASI PENDENGARAN DI RUMAH SAKIT JIWA PROF. Dr. ILDREM MEDAN Lika Ralini1. Erita Gustina2. Muchti Yuda3 Akademi Keperawatan Kesdam I/BB Medan Akademi Keperawatan Kesdam I/BB Medan Akademi Keperawatan Kesdam I/BB Medan Email : likaralini29@gmail. Article History: Received: 15-12-2023 Revised :05-01-2024 Accepted:18-01- 2024 Keywords: Skizofrenia. Halusinasi Pendengaran. Komunikasi Terapeutik Abstract: Latar Belakang Skizofrenia merupakan sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk berpikir, berkomunikasi, merasakan dan menunjukkan emosi serta ganguan otak yang ditandai dengan pikiran kacau, waham, halusinasi, dan perilaku aneh. Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara berbicara mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara bunyi tersebut. Tujuan Penelitian ini memberikan asuhan keperawatan jiwa pada pasien gangguan halusinasi Metode Penelitian ini adalah penelitian studi kasus dengan metode deskriptif. Hasil Penelitian Hasil dari evaluasi di hari ke tujuh menunjukkan bahwa masalah gangguan halusinasi pendengaran dapat tertasi. Kesimpulan dari intervensi yang dilakukan dengan melakukan strategi pelaksanaan 1 sampai 4 dapat dikatakan efektif untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan gangguan halusinasi pendengaran pada pasien jiwa. A 2024 SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah PENDAHULUAN Gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan yang serius karena jumlah penyakit yang terus menerus meningkat, termasuk penyakit kronis seperti skizofrenia yang mempengaruhi proses berpikir bagi penderitanya. Akibatnya penderita skizofrenia sulit berpikir jernih, kesulitan manejemen emosi dan kesulitan bersosialisasi dengan orang lain (Hairani. Kurniawan. Latif & Innudin, 2. Skizofrenia merupakan penyakit yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk : berpikir, berkomunikasi, menerima, menafsirkan realitas, merasakan, dan menunjukkan emosi (Pardede. Silitonga & Laia, 2. Skizofrenia merupakan sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk berpikir, berkomunikasi, merasakan dan menunjukkan emosi serta gangguan otak yang ditandai dengan pikiran kacau, waham, | 611 Lika Ralini et al halusinasi, dan perilaku aneh (Pardede & Ramadia, 2. Komunikasi terapeutik merupakan media utama yang digunakan untuk mengaplikasikan proses keperawatan dalam lingkungan kesehatan jiwa. Keterampilan perawat dalam komunikasi terapeutik mempengaruhi keefektifan banyak intervensi dalam keperawatan jiwa. Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara berbicara mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara atau klien bunyi tersebut (Harkomah, 2. LANDASAN TEORI Untuk menghindari asumsi bahwa terdapat kesamaan dengan penelitian yang dilakukan ini, maka penulis mencantumkan beberapa peneitian yang terdahulu serta relevan, dengan tujuan agar tidak ada asumsi-asumsi tersebut. seperti yang sudah dibatasi dalam pembatasan masalah, maka adapun beberapa hal yang akan dibahas secara umum diantaranya Asuhan Keperawtaan Jiwa Pada Paisen Skizofrenia seperti dibawah ini : 1. Pardede. Silitonga. , & Laia. The Effects of Cognitive Therapy on Changes in Symptoms of Hallucinations in Schizophrenic Patients. Indian Journal of Public Health. , 257. Diakses dari. https://doi. org/10. 37506/ijphrd. Hasil Penelitian yang sudah di analisis menunjukkan bahwa : Terdapat Pengaruh Komunikasi Terapeutik. Penelitian ini berjudul : 2. ) Apriliani. Widiani. Penerapan Komunikasi Terapeutik Pada Pasien Skizofrenia Dalam Mengontrol Halusinasi Di RS Jiwa Menur Surabaya. Jurnal Keperawatan. , 61-74. Diakses dari: http://eprints. id/id/eprint/5381. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Studi kasus pada penelitian ini menerapkan proses Asuhan Keperawatan Jiwa yang meliputi pengkajian . elakukan pengumpulan data yang bersumber dari responden atau keluarga responde. , diagnosa keperawatan . erdasarkan analisis terhadap data yang telah diperoleh dari hasil pengkajia. , intervensi . enyusun rencana tindakan keperawatan berdasarkan diagnosa keperawata. , implementasi . elakukan tindakan sesuai dengan rencana tindakan yang telah direncanaka. , serta melakukan evaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Subyek pada penelitian ini adalah pasien jiwa Skizofrenia dengan Halusinasi Pendengaran yang memenuhi kriteria inklusi : Pasien skizofrenia dengan gangguan halusinasi pendengran, pasien berusia 17-60 tahun, pasien berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, dan pasien yang bersedia menjadi responden. Sedangkan Kriteria eksklusi: Pasien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran yang tidak bersedia menjadi responden. Fokus penelitian studi kasus ini adalah memberikan asuhan keperawatan jiwa pada pasien skizofrenia dengan komunikasi terapeutik. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah | 612 Lika Ralini et al HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel 1 Keluhan Utama Klien 1 Klien mengatakan tidak bicara-bicara klien mendengar suara bisikan laki-laki dan menyuruh klien untuk tidak mandi. Pernah mengalami Klien gangguan jiwa di masa gangguan jiwa sejak umur 10 tahun. Faktor Predisposisi Keluhan Utama Pengobatan sebelumnya Pengalaman Adakah Pengalaman masa lalu SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Klien merupakan pasien sebelumnya berhasil Klien tidak mengalami aniaya fisik, aniaya seksual, penolakan dan kekerasan keluarga Masalah keperawatan : Regimen halusinasi pendengaran, koping keluarga inefektif Ada anggota keluarga gangguan jiwa yaitu Klien merasa kehilangan dan sedih saat ayah klien meninggalkan ibu dan adik-adiknya 8 bulan yang lalu, dikarenakan sakit dan sejak saat itu klien mengalami sedih Klien 2 Klien merasa gelisah, bicara sendiri, kadang-kadang diam dan menyendiri, klien mendengar suara bisikan menyuruh untuk Klien mengatakan tidak gangguan jiwa di masa Klien mengatakan ini yang pertama kalinya dirawat di RSJ. Klien baru pertama kali masuk dan dirawat di RSJ, didalam keluarga Masalah keperawatan : Gangguan Persepsi Sensorik: Halusinasi Pendengaran Tidak Klien merasa malu hampir melukai orangorang karena suara yang klien Masalah Keperawatan: Resiko Koping individu inefektif | 613 Lika Ralini et al Psikososial Tanda-tanda vital Ideal Tubuh Hubungan sosial Spiritual Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah Tabel 2 Hasil Observasi. Pemeriksaan Fisik Klien 1 Klien 2 Tekanan Darah : 130/80 Tekanan Darah : 130/80 Nadi : 80x/m Nadi : 80x/m Suhu : 36,8 Suhu : 36,8 Respirasi : 22x/m Respirasi : 20x/m Tinggi badan : 156 cm Tinggi badan : 159 cm Berat badan : 58 kg Berat badan : 57 kg Orang yang berarti: 1. Orang yang berarti: Ibu klien, karena klien Ibu klien, karena klien berbincang- lebih dekat dengan bincang dengan ibunya ibunya dan sangat menyayangi 2. Peran serta dalam Peran serta dalam kelompok/masyarakat: klien jarang ikut serta kelompok/masyarakat: dalam klien jarang ikut serta masyarakat kegiatan dirawat dan tidak selalu sebelum mengikuti kegiatan yang dirawat dan tidak selalu ada di dalam ruangan Hambatan sehri-hari yang ada di berhubungan orang lain: Klien suka bergabung dengan orang Nilai dan keyakinan: 1. Nilai dan keyakinan: Klien beragama Kristen klien menganut agama Kegiatan ibadah : kristen klien selalu menjalankan 2. Kegiatan klien selalu menjalankan Penampilan Pembicaraan SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Gigi klien kuning, baju kotor dan tidak rapi, kuku panjang, serta jarang mandi. Klien mampu menjawab jika diberi pertanyaan oleh perawat Pakaian klien tidak rapi panjang, dan gigi kuning Cara bicara lambat, kontak mata kurang, dan | 614 Lika Ralini et al lebih banyak bicara sendiri Aktivitas motorik Klien gelisah, mondarmandir, jarang mandi, tidak mau melakukan kegiatan apapun. Alam perasaan Klien merasa karena dirawat. Afek Klien dapat merespon Klien dapat merespon sesuai dengan stimulus sesuai dengan stimulus yang diberikan. yang diberikan. Interaksi selama Kooperatif dan mau Selama menjawab pertanyaan- kontak mata kurang, dan suka merunduk, bicara Persepsi Klien mengatakan suka mendengar suara-suara bisikan dari perempuan dan laki-laki menyuruh untuk tidak mandi pada pagi dan sore hari disaat klien menyendiri dan aktivitas, dengan durasi 1 menit. Mekanisme Koping Klien diam dan tidak Klien marah-marah saat mau diganggu saat mengalami masalah mengalami masalah Masalah keperawatan : Masalah Keperawatan: Resiko Perilaku Koping Individu Kekerasan Inefektif Skizofrenia Paranoid Skizofrenia paranoid Tabel 3 Analisa Data Masalah Keperawatan Aspek Medik No. Data SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Klien suka mondarmandir di ruangan, tidak aktivitas diruangan sedih Klien merasa malu dan bersalah dengn orang hampir dilukai oleh Klien suka mendengar suara-suara bisikan pada saat pagi hari dan jika | 615 Lika Ralini et al Klien 1 Data Subjektif: Klien mendengar suara-suara bisikan laki-laki dan perempuan yang menyuruh klien untuk tidak Klien mengaakan mendengar suara-suara bisikan pada pagi hari di saat tidak ada teman untuk di ajak bicara. Data Objektif: Klien berbicara dan senyumsenyum sendiri disaat tidak teman dan tidak ada aktivitas Klien tampak gelisah dan takut Klien 2 Data Subjektif: Klien gelisah dan bicara sendiri Klien mengatakan mendengar suara-suara bisikan pada pagi hari di saat sendiri yang menyuruh klien untuk berkelahi Data Objektif: Klien berbicara dan senyumsenyum sendiri disaat sendiri Klien tampak gelisah dan takut Gangguan Halusinasi Pendengaran Gangguan Halusinasi Pendengaran Tabel 4 Daftar Masalah Keperawatan Klien 1 Klien 2 Gangguan Persepsi Sensori: Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Halusinasi Pendengaran Regimen Terapeutik Inefektif Resiko Perilaku Kekerasan Defisit Perawatan Diri Isolasi Sosial Menarik Diri Intoleransi Aktivitas Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah Defisit Perawatan Diri Koping Individu In-efektif Tabel 5 Pohon Masalah Klien 1 Klien 2 Intoleransi Aktivitas Ie Defisit Resiko Perilaku KekerasanIe . Perawatan Diri Ic SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah | 616 Lika Ralini et al Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran . Ic Regimen Terapeutik Inefektif Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi PendengaranIe . Ic Isolasi Sosial Menarik DiriIe . Ic Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah Ic Koping Individu In-efektif Pembahasan Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa yang pasien mengalami perubahan sensori persepsi, serta merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecepan, perabaan, atau penciuman. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak Halusinasi pendengaran menurut Nanda Nic-Noc . yaitu seperti mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, mengancam, memerintahkan untuk melakukan sesuatu . adang-kadang hal yang berbahay. Perilaku yang muncul adalah mengarahkan telinga pada sumber suara, bicara atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, menutup telinga, mulut komat-kamit, dan ada gerakan tangan. Pada pembahasan ini, peneliti akan membahas studi kasus gangguan halusinasi pendengaran dengan terapi komunikasi terapeutik antara Ny. Z dan Ny. R selama 7 hari di Rumah Sakiy Jiwa Prof. Dr. Ildrem Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 13 Juli 2023 sampai 19 Juli 2023. Dalam hal ini pembahasan yang dimaksud adalah membandingkan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka yang disajikan untuk menjawab tujuan kasus dari penelitian. Dimana setiap temuan perbedaan diuraikan dengan konsep dan pembahasan disusun dengan tujuan khusus. Hasil dari kedua responden selama dilakukan asuhan keperawatan jiwa dengan menggunakan terapi komunikasi terapeutik selama 7 hari, kedua responden mampu melakukan Sp1 membina hubungan saling percaya . Sp2 melatih cara mengontrol halusinasi dengan komunikasi terapeutik . Sp3 mengendalikan halusinasi dengan kegiatan yang bisa dilakukan . Sp4 mengkonsumsi obat untuk mengendalikan halusinasi . Sp5 mendapat dukungan dari keluarga untuk mengendalikan halusinasinya . Peneliti melakukan terhadap dua partisipan yang sama-sama memiliki gangguan halusinasi pendengaran di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Ildrem Provinsi Sumatera Utara dengan lima tahap sesuai dengan tahap proses keperawatan yang dikembangkan oleh Jurnal Proses Keperawatan dan Asuhan keperawatan untuk pasien Jiwa terdiri dari 5 tahap yaitu: pengkajian,diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan. Tujuan khusus tersebut meliputi melakukan pengkajian menyusun perencanaan asuhan keperawatan, merumuskan diagnosa keperawatan, melakukan implementasi yang komprehensif serta melakukan evaluasi SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah | 617 Lika Ralini et al Berikut adalah pembahasan yang disesuaikan dengan tujuan khusus penelitian berikut. Pengkajian Pengkajian adalah proses pengumpulan data secara sistematis untuk menentukan status kesehatan dan fungsional kerja serta respon klien pada saat ini dan sebelumnya yang tujuannya menyusun database dasar mengenai kebutuhan, masalah kesehatan dan respon pasien terhadap masalah kesehatan dan respon pasien terhadap masalah. Pada tahap pengkajian, data yang dikumpulkan berupa data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Data subjektif yang mungkin muncul adalah mendengar suara yang mengejeknya, mendengar bisikan setiap saat, mendengar bisikan pada situasi yang tidak menentu, mendengar bisikan berkali-kali. Pada data objektif yang mungkin timbul adalah terlihat bicara sendiri, terlihat tertawa sendiri, terlihat gelisah, terlihat mondar-mandir (Dermawan, 2. Berdasarkan hasil pengkajian kedua responden memiliki beberapa kesamaan yaitu pada klien 1 dan klien 2 dapat menerima stimulus yang diberikan perawat, dapat berespon Pada pengkajian keluhan utama klien 1 mendengar suara bisikan laki-laki dan perempuan yang menyuruh klien untuk tidak mandi sedangkan pada klien 2 mendengar suara bisikan menyuruh klien untuk berkelahi. Pengalaman masa lalu tidak menyenangkan pada klien 1 merasa kehilangan dan sedih saat ayah klien meninggalkan ibu dan adikadiknya, pada klien 2 merasa malu karena klien pernah hampir melukai orang-orang disekitarnya karena suara yang klien dengar. Pada pengkajian alam perasaan klien 1 merasa sedih karena dirawat, klien 2 merasa malu dan bersalah dengan orang disekitarnya yang hampir dilukai oleh klien. Pada pengkajian interaksi klien 1 kooperatif dan mau menjawab pertanyaan, klien 2 selama wawancara kontak mata kurang dan suka Pada pengkajian mekanisme koping klien 1 diam dan tidak mau diganggu sat mengalami masalah, klien 2 marah-marah saat mengalami masalah. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon aktual dan potensial dari individu, keluarga atau masyarakat terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan. Rumusan diagnosis yaitu permasalahan (P) berhubungan dengan Etiologi (E) dan keduanya ada hubungan sebab akibat secara ilmiah (Carpenito dalam Yusuf, dkk, 2. Berdasarkan hasil diagnosa yang didapatkan dari kedua responden memiliki diagnosa halusinasi pendengaran. Data fokus serta keluhan utama klien yang terdapat didalam catatan rekam medik yang digunakan dalam menegakkan diagnosa klien halusinasi pendengaran, yaitu didapatkan pada klien 1 tidak bisa tidur, gelisah, bicara-bicara sendiri, mendengar suara bisikan laki-laki dan perempuan menyuruh tidak mandi. Dan klien 2 gelisah, bicara-bicara sendiri, kadang-kadang diam dan menyendiri, mendengar suara bisikan menyuruh untuk berkelahi. Rencana Keperawatan Rencana keperawatan menurut Dermawan . adalah suatu proses didalam pemecahan suatu masalah yang merupakan keputusan awal tentang sesuatu apa yang akan dilakukan, bagaimana dilakukan, kapan dilakukan dan siapa yang melakukan dari semua tindakan keperawatan. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah | 618 Lika Ralini et al Berdasarkan hasil yang didapatkan dari kedua partisipan mempunyai rencana tindakan yang sama dalam gangguan halusinasi pendengaran dengan komunikasi terapeutik yaitu omunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada kesembuhan pasien dengan menggunakan SP (Strategi Pelaksanaa. Sp1 membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi halusinasi, melatih cara mengontrol halusinasi dengan menghardik . Sp2 melatih cara mengontrol halusinasi dengan komunikasi terapeutik dan melatih cara mengontrol halusinasi dengan berbincang dengan orang lain . Sp3 mengendalikan halusinasi dengan kegiatan yang bisa dilakukan . Sp4 mengkonsumsi obat untuk mengendalikan halusinasi . Sp5 mendapat dukungan dari keluarga untuk mengendalikan halusinasinya . tahap perencanaan tindakan klien, peneliti tidak menemukan kesulitan karena pasien bisa diajak bekerja sama dengan baik dalam menemukan rencana keperawatan dan bersedia menerima rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan terhadap klien agar tercapainya proses keperawatan. Tindakan Keperawatan Tindakan Keperawatan adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan rencana asuhan keperawatan guna membantu pasien mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Carpenito dalam Yusuf, dkk, 2. Tindakan keperawatan yang dilakukan pada kedua responden sama sesuai dengan yang ada di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem di Provinsi Sumatera Utara serta menyesuaikan dengan kondisi pasien pada saat diberikan. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan, peneliti bekerja sama dengan perawat ruangan. Adapun rencana tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu komunikasi terapeutik dengan menggunakan strategi pelaksanaan yaitu SP 1 . embina hubungan saling percaya, mengidentifikasi halusinasi, melatih cara mengontrol halusinasi dengan menghardi. engevaluasi SP 1, melatih cara mengontrol halusinasi dengan komunikasi terapeutik dan melatih cara mengontrol halusinasi dengan berbincang dengan orang lai. SP 3 ( mengevaluasi SP 1 dan 2, melatih klien mengendalikan halusinasi dengan kegiatan yang bisa dilakukan memasukkan kedalam jadwa. SP 4 . engevaluasi SP 1,2, dan 3, mengajarkan tentang minum obat untuk mengendalikan halusinas. SP 5 . embina hubungan saling percaya dengan keluarg. Evaluasi Evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus untuk mengetahui respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan secara terus menerus untuk mengetahui apakah tindakan dapat dilanjutkan hasil penelitian. Setelah dilakukan tindakan terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien 1 dan klien 2, maka tahap evaluasi masalah teratasi di hari kelima pada kedua kasus. Selama 4 hari dilakukan perawatan pada klien 1 dan klien 2, maka dapat dievaluasi bahwa klien 1 dan klien 2 dengan masalah halusinasi pendengaran dengan komunikasi terapeutik. Hasil penelitian dengan komunikasi terapeutik responden mampu mengontrol halusinasi dengan menghardik, melakukan kegiatan yang bisa dilakukan, dapat berinteraksi dengan perawat, sudah mau meminum obat secara teratur. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah | 619 Lika Ralini et al KESIMPULAN DAN SARAN Pada hasil evaluasi antara kedua partisipan didapatkan hasil bahwa pada klien 1 halusinasi pendengaran sudah teratasi. Sedangkan pada klien 2 halusinasi pendengaran sudah teratasi. Bimbingan tindakan komunikasi terapeutik mampu menjadikan klien dapat mengontrol halusinasi pendengaran dengan berbincang dengan perawat ataupun orang Sehingga pada kedua partisipan memiliki kemampuan untuk mengontrol halusinasi pendengaran setelah diberikan asuhan keperawatan selama 5 hari. UCAPAN TERIMAKASIH