Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE di MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prajuritkulon Kota Mojokerto Muhammad Ihwana* aDosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah IbtidaAoiyah Institut Agama Islam Uluwiyah Mojosari Mojokerto *Koresponden penulis: ihawanmuhammad@gmail. Abstract This research is motivated by . the number of teachers who consider books as the only source of learning so that they cannot apply multi-source based learning . there are still teachers who have not mastered the IODE learning model, . the number of teachers who are only competent in Special Learning Models but difficult to implement new learning models such as IODE, . not all teachers have the opportunity to attend KTSP training or training, and . the scarcity of MGMP Activities specifically addresses the IODE Learning Model, so that the IODE learning model still feels unfamiliar in MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prariorkulon Mojokerto City. Intake. Organizing. Demonstration, and Disclosure (Expres. students in receiving learning information is still lacking, this is indicated by the reluctance of students to learn Indonesian, work carelessly and less enthusiastic in learning, to overcome this, the writer needs to do a School of Action Research ( CAR). Realizing the symptoms or facts mentioned above, in this study the writer took the title "Improving Teacher's Pedagogical Competence in Multi-Source Based Learning through the IODE Learning Model in MI Nurul Huda 2 Surodinawan Praututkulon Mojokerto City. Each round consists of four stages, namely: design, activity and reflection and revised observation. The purpose of this study was the teacher at MI Nurul Huda 2 Surodinawan Praututkulon Mojokerto City The data were obtained in the form of observation sheets of learning activities results. MultiBased Resources through the IODE Learning Model has a positive impact on Efforts to Enhance Student Learning Achievement, this can be seen from students' better understanding of the material delivered by the teacher . astery learning increases from cycles I. II, and . namely cycle I 36 , 59%, second cycle 75. 61%, da n cycle i 100%. The research is: Learning Based on Various Sources through the IODE Learning Model has a positive influence that can improve student learning achievement as indicated by the average student response which states that students are interested and interested in the Many Source Based Learning through the IODE Learning Model so that they become motivated to learn . Keywords: Multi-source based learning. IODE Learning Model Latar Belakang Tujuan pendidikan dirancang rancang untuk menghasilkan perubahan perilaku. Tujuan dan kegiatan edukatif diarahkan pada sisi kognitif dan afektif orang pada saat yang sama untuk mendorong pembelajaran, pertumbuhan, dan perkembangan maksimal. yaitu, ini adalah sesi terbaik yang diberikan . dan afektif . Seringkali tujuan dan aktivitas yang sama dapat melayani fungsi kognitif dan afektif. Ini memasukkan persiapan makanan (Contento, 2007:. Pendidikan adalah upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu orang atau kelompok dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup baik yang bersifat manual individual maupun PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Vol. 3 No. 2 Agustus 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. sosial (Sagala, 2006: . Pendidikan adalah Ilmu tentang aktivitas manusia yang berguna untuk kebutuhan manusia dan penyertaan subjek apa pun harus memenuhi nilai-nilai intelektual, utilitarian, kejuruan, budaya, moral dan estetika. Selain itu, didukung metode pembelajaran dan sikap positif terhadap mata pelajaran, bakat ilmiah, yang sangat berharga dan pada saat yang sama dapat ditransfer ke bahasa lain dalam kehidupan pelajar. Kualitas pelajar melalui pembelajaran adalah nilai-nilai bagi warga yang tinggal di masyarakat (Lakshmi, 2004:. Apapun secara umum pendidikan bertujuan untuk membantu anak-anak atau peserta didik mencapai kedewasaannya masing-masing, sehingga mereka mampu berdiri di lingkungan masyarakatnya. Sesuai UndangUndang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3. Pendidikan nasional berfungsi membentuk watak serta peradaban bangsa mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Agar pendidikan bisa berfungsi dan mencapai tujuan seperti dirumuskan dalam undang-undang tersebut, maka pendidikan harus AydiadministrasikanAy, atau dikelola dengan mengikuti ilmu administrasi. Yang paling sederhana, administrasi menurut Henry Fayol diartikan sebagai fungsi dalam organisasi yang unsur-unsurnya planning, organizing, commanding, coordinating, dan controlling (Sagala, 2006: . Pada abad kedua puluh, ahli teori dan pembahasan manajemen Perancis Henri Fayol . mengatur lima fungsi umum yang harus dilakukan manajer: koordinasi, dan pengendalian. Beberapa tahun kemudian. Luther Gulick menyusun daftar Gulick, mengatur reorganisasi pemerintah federal, fungsi manajemen publik POSDCORB ihwal informasi: perencanaan, pengorganisasian, kepegawaian, pengarahan, koordinasi, pelaporan, dan penganggaran (Gulick, 1937. Bagi Fayol dan Gulick, kegiatan ini adalah inti dari manajemen dan fungsi-fungsi yang mengatur organisasi yang dikelola secara efektif (Denhardt. Denhardt & Blanc, 2013:. Pada level ujung tombak pendidikan, yaitu pada proses pembelajaran oleh guru di kelas, betapapun administrasinya tidak serumit oraganisasi yang melibatkan banyak personal, fungsi-fungsi administrasi yang disebutkan Henry Fayol tersebut sebaiknya tetap ada, sebab tanpa itu pencapaian tujuan pembelajaran akan susah dicapai. dengan fungsi-fungsi administrasi ini, lebih spesifik dalam hal proses belajar mengajar. Gage dan Berliner dalam Makmun . 5: . mengemukakan tiga fungsi atau peran guru dalam proses tersebut, yaitu sebagai: Perencana . mempersiapkan apa yang harus dilakukan di dalam proses belajar-mengajar . re-teaching problem. Pelaksana . menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, mengajar sesuai dengan rencana, bertindak sebagai nara sumber . ource perso. , konsultan kepemimpinan . , yang bijaksana dalam arti demokratis dan humanistik . selama proses berlangsung . uring teaching problem. Penilai . menganalisis, menafsirkan dan akhirnya . atas tingkat keberhasilan belajar mengajar tersebut berdasarkan kriteria yang ditetapkan baik mengenai aspek keefektifan prosesnya, maupun kualifikasi produk . -nya. Menyoroti salah satu peran guru dalam proses pembelajaran, yaitu sebagai Pelaksana Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE . , setiap guru pada satuan pendidikan, termasuk guru di MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prajuritkulon Kota Mojokerto wajiban menciptakan situasi, menggerakkan, serta mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, bertindak sebagai nara sumber . ource perso. , konsultan kepemimpinan . , yang bijaksana dalam arti demokratis dan humanistik . selama proses berlangsung . uring teaching problem. Pembelajaran yang berlangsung secara efektif dan bermutu akan berimplikasi pada peningkatan mutu proses dan hasil belajar peserta didik. Pendekatan active learning diterapkan dalam pembelajaran menggunakan banyak sekali model, model-model pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa tidak merasa Pada sisi lain, siswa justru merasa tertantang untuk menguasai kompetensi demi kompetensi dasar yang disajikan. Hal ini terjadi karena sebelum memasuki materi, siswa diberi apersepsi yang berkaitan dengan pengalaman mereka yang dikaitkan dengan materi dan manfaat kompetensi dasar yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, terutama profesi yang berkaitan dengan kompetensi dasar yang dipelajari. Penerimaan siswa . Pengaturan (Organiz. Peragaan (Demonstrat. , dan Pengungkapan (Expres. menerima informasi pembelajaran masih kurang. Terkait dengan kondisi di lapangan . menganggap buku merupakan satu-satunya menerapkan pembelajaran berbasis multi sumber . masih terdapatnya guru belum menguasai model pembelajaran IODE, . banyaknya guru yang hanya kompeten dalam Model Pembelajaran Tertentu tetapi Sulit Mengaplikasikan Model Pembelajaran baru seperti IODE, . tidak semua guru berkesempatan mengikuti penataran atau diklat KTSP, dan . jarangnya kegiatan MGMP yang khusus membahas Model Pembelajaran IODE, sehingga pembelajaran Model IODE masih terkesan Asing di MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prajuritkulon Kota Mojokerto. Kondisi yang demikian menjadikan persepsi guru menjadi beragam dan kurang Kekurangan ini tentu saja akan menghambat upaya peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. Padahal, keberhasilan sebuah kegiatan, lebih dari 50% ditentukan oleh perencanaan yang baik, sehingga keberhasilan pembelajaran pun amat ditentukan oleh kemampuan guru dalam menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan juga mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, bertindak sebagai nara sumber . ource perso. , konsultan kepemimpinan . , yang bijaksana dalam arti demokratis dan humanistik . selama proses berlangsung . uring teaching Memahami kondisi yang demikian, perlu adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan atau kompetensi pedagogik Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE di MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prajuritkulon Kota Mojokerto. Perumusan Masalah Berdasarkan dikemukakan permasalahan sebagai berikut: Apakah pembelajaran berbasis multi sumber melalui model pembelajaran IODE di MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prajuritkulon Kota Mojokerto dapat Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru ? Bagaimanakah aktivitas guru dalam pembelajaran berbasis multi sumber melalui model pembelajaran IODE di MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prajuritkulon Kota Mojokerto ? Kendala apa yang ditemukan guru dalam PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Vol. 3 No. 2 Agustus 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. dalam pembelajaran berbasis multi sumber melalui model pembelajaran IODE di MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prajuritkulon Kota Mojokerto ? Cara Pemecahan Masalah Teknik dan landasan metode Pemecahan masalah . roblem solvin. atau pencarian solusi yang dipilih penulis disertai dengan menguraikan landasan teoritis yang terkait dengan permasalahan yang dibahas, serta tajam dalam membahas dan menganalisis hasil yang diperoleh mengenai penerapan Model IODE Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru Pembelajaran Berbasis Multi Sumber yang dilakukan penulis dengan melakukan penelitian tindakan. Sebelum menetukan tindakan apa yang dianggap dapat meningkatkan kompetensi Guru Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE terlebih dahulu penulis melakukan pengkajian berbagai teori belajar dan pendidikan, kondisi keorganisasian guru (MGMP), baik melalui studi pustaka, diskusi dengan pakar dan teman sejawat dan guruguru. Hasilnya diperoleh beberapa alternatif meningkatkan kompetensi pedagogik guru Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE. Alternatifalternatif tindakan tersebut antara lain: Melalui supervisi akademik, dengan melakukan kunjungan kelas . lass visi. ke setiap guru dalam Kegiatan Pembelajaran. Melalui penyediaan sumber ajar selain buku dengan memperkaya material / miniatur barang-barang yang ada dalam struktur dan materi pembelajaran. Memberikan pengarahan dalam kegiatan model pembelajaran IODE. Meningkatkan kompetensi pedagogik guru bisa memungkinkan terjadinya sharing pengetahuan yang menjangkau seluruh guru dengan lebih komprehensif, sehingga mereka akan memiliki persepsi yang relatif sama mengenai Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE yang lengkap dan sistematis untuk mata pelajaran yang mereka ampu. Kajian Pustaka Kompetensi Pedagogik Guru Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi. Aesebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah-, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir . mengemukakan bahwa Au kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru. Ay Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2. , terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai: . pencipta iklim kerja. Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru. Secara seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 1 butir . Berkaitan dengan kompetensi profesi guru. Sagala mengemukakan sepuluh kompetensi dasar yang harus dimiliki guru, yaitu: . menguasai landasan-landasan pendidikan. menguasai bahan pelajaran. kemampuan mengelola program belajar mengajar. kemampuan mengelola kelas. kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar. menilai hasil belajar siswa. kemampuan mengenal dan menterjemahkan kurikulum. mengenal fungsi dan program bimbingan dan . memahami prinsip dan hasil menyelenggarakan administrasi pendidikan (Sagala, 2006: . Kemudian Adapun Permendiknas RI No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik Kompetensi Guru menyebutkan bahwa AyStandar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. Ay (BSNP, 2007: . Pedagogi adalah art of teaching, seni atau strategi mengajar. Jadi kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, dan mengaktualisasikan berbagai potensi yang Pembelajaran Berbasis Multi Sumber Merujuk pada esensi dari KTSP serta anjuran para pakar pendidikan, dalam pendidik menggunakan lebih dari satu media secara lengkap . , sesuai dengan keperluan dan yang menyentuh semua aspek. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran pada satuan pendidikan yang harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (PP No. Tahun 2. Oleh karena itu penggunaan Bahan Ajar Berbasis TIK sebagai bahan ajar multimedia menjadi salah satu pilihan yang baik untuk pelaksanaan pembelajaran. Flemming dan Levie (Wilkinson 1. memberikan petunjuk tentang penggunaan multimedia dalam pembelajaran seperti berikut: AyApabila pembelajaran dilaksanakan dengan hanya menggunakan satu media maka rangsangan yang diperlukan untuk belajar sangat terbatas. Suatu pembelajaran seharusnya menggunakan multimedia agar rangsangan yang diperlukan untuk belajar menjadi lengkap karena telah meliputi penggabungan audio dan visual. Ay Terdapat dua istilah yang sering digunakan untuk maksud yang sama namun sebenarnya memiliki pengertian yang sedikit berbeda, yakni sumber belajar dan bahan ajar. Untuk itu, maka berikut ini akan dijelaskan terlebih dahulu tentang pengertian sumber belajar dan bahan ajar. Sering kita dengar istilah sumber belajar . earning resourc. , umumnya yang diketahui hanya perpustakaan dan buku sebagai sumber belajar. Sumber belajar dalam website based didefinisikan sebagai berikut: AuLearning resources are defined as information, represented and stored in a variety of media and formats, that assists student learning as defined by provincial or local curricula. This includes but is not limited to, materials in print, video,and software formats, as PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Vol. 3 No. 2 Agustus 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. well as combinations of these formats intended for . ttp://w. ca/irp/appskill/a htm January 28, 1. Ay Sumber informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu peserta didik dalam belajar Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh peserta didik ataupun pendidik. Sumber belajar juga diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku. Metode Pembelajaran IODE Istilah IODE merupakan akronim bahasa Inggris (Penerimaa. Organization (Pengatura. Demonstration (Peragaa. , dan Expression (Pengungkapa. Keempat huruf tersebut menunjukkan bahwa ada empat jenis kegiatan siswa pada urutan kegiatan pembelajaran. Model tersebut merupakan cara belajar alami memperoleh pengetahuan baru dalam pembelajaran dan cukup menyenangkan siswa. Sebagai contoh, dalam pembelajaran ilmu alamiah dasar adalah topik efek gangguan Musim kemarau yang telah menimbulkan kekeringan yang luas, kegagalan panen dan kebakaran hutan di Indonesia. Penerapan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: Penerimaan . mendengar informasi pembelajaran, melihat foto, peta dan gambar yang menunjukkan efek-efek Musim kemarau, membaca koran, majalah dan buku, mendengarkan laporan radio dan menonton laporan TV tentang Musim kemarau, mewawancarai petani yang panennya telah dirusakkan oleh Musim Pengaturan (Organiz. Memetakan daerah- daerah yang terkena Musim kemarau, tulis laporan tentang petani yang terkena kekeringan, siapkan grafik dan tabel yang menunjukkan kerugian karena hilangnya produksi pertanian dan kerugian karena kebakaran hutan, gabungkan laporanlaporan koran tentang turunnya jumlah orang hutan karena kebakaran hutan dan Peragaan (Demonstrat. bagaimana Musim kemarau terbentuk, menggambarkan daerah-daerah dunia yang terkena efek Musim kemarau, serta merangkum pengaruh Musim kemarau terhadap produksi beras, kerugian hutan, hilangnya dan matinya binatang hutan dan Pengungkapan (Expres. Membuat diagram yang menggambarkan efek Musim kemarau, serta menyajikan dalam pembicaraan di kelas tentang Musim Atau juga menulis puisi yang menggambarkan perasaan seorang petani yang terkena kekeringan serta menulis cerita tentang kebakaran hutan dan Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). PTS merupakan suatu prosedur penelitian yang diadaptasi dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Panitia Pelaksana Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Rayon 10 Jawa Barat, 2009: . Penelitian tindakan sekolah merupakan Au. penelitian partisipatoris yang menekankan pada tindakan dan refleksi berdasarkan pertimbangan rasional dan logis untuk melakukan perbaikan terhadap suatu kondisi terhadap tindakan yang dilakukan. memperbaiki situasi dan kondisi sekolah / pembelajaran secara praktisAy (Depdiknas, 2008: 11-. Secara singkat. PTS bertujuan untuk mencari pemecahan permasalahan nyata yang terjadi di sekolah-sekolah. Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE sekaligus mencari jawaban ilmiah bagaimana masalah-masalah tersebut bisa dipecahkan melalui suatu tindakan perbaikan. Masalah nyata yang ditemukan di sekolah, khususnya pada guru adalah belum optimalnya guru dalam melaksanakan pembelajaran berbasis multi sumber melalui Model Pembelajaran IODE di MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prajuritkulon Kota Mojokerto. Prosedur penelitian ini dilakukan secara Satu siklus dimulai dari . perencanaan awal, . pelaksanaan, . observasi dan . refleksi atas kegiatan guru dalam kegiatan pembelajaran. Tahap Perencanaan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, menggunakan analisis statistik. Data hasil penelitian berupa kata-kata dan akan dipaparkan sesuai kejadian yang ada di lapangan dan di analisis secara induktif. Disamping menekankan proses pembelajaran daripada hasil pembelajaran. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan. Jenis penelitian ini diambil karena adanya masalah yang terjadi pada situasi nyata, yaitu Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE di MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prajuritkulon Kota Mojokerto Dalam penelitian ini, peneliti berpartisipasi aktif dan terlibat langsung dalam proses penelitian semenjak awal serta memberikan kerangka kerja secara teratur dan sistematis tentang Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE di MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prajuritkulon Kota Mojokerto Bimbingan Belajar Guru untuk memecahkan masalah tersebut. Penelitian tindakan ini dilaksanakan sendiri oleh penulis sebagai peneliti maka instrumen pengamatan harus disiapkan disertai lembar catatan lapangan. Dalam pelaksanaan pembelajaran rencana tindakan dalam rangka penelitian dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pada tahap perencanaan ini penulis melaksanakan kegiatan sebagai berikut: Refleksi awal: Pada tahap ini dilakukan kegiatan meliputi: . Analisis Pokok Bahasan dan Media . Mendisain Model Pembelajaran Menentukan dan merumuskan rancangan tindakan: Kegiatan yang dilakukan adalah: melakukan supervisi, . mengarahkan kegiatan pembelajaran berbasis multi sumber melalui model pembelajaran IODE. Tahap Pelaksanaan Tindakan dilaksanakan sesuai dengan model yang dikemukakan oleh Tripp yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu: . : perencanaan tindakan (Plan Actio. dan perencanaan penelitian (Plan Researc. , . : pelaksan tindakan . mplement actio. dan pengamatan tindakan . onitor actio. , . mendapatkan data . roduce dat. dan analisis data . nalyse dat. , dan . (Tripp. D, 1996: . Dari keempat tahap tersebut membentuk suatu siklus. Tahap Perencanaan . , meliputi: menyusun rencana supervisi. Membuat analisis pokok bahasan dan . Mendisain Model Pembelajaran . menyiapkan lembar observasi yang akan pelaksanaan tindakan. Tahap Pelaksaan Tindakan . Pelaksanaan tindakan yang dimaksud adalah melaksanakan pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Vol. 3 No. 2 Agustus 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. IODE di MI Nurul Huda 2 Surodinawan Prajuritkulon Kota Mojokerto Bimbingan Belajar Guru dan mengamati berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Tahap penyelidikan (Researc. Pada tahap ini meliputi menghasilkan data . roduce dat. dan analisis data . nalyse Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan dalam suatu proses. Proses dalam hal ini berarti bahwa pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan dikerjakan secara intensif. Setiap kali pemberian tindakan berakhir, maka data yang terkumpul dianalisis berdasarkan hasil observasi, hasil kerja siswa, hasil terakhir dan hasil wawancara. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman . , yaitu dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi data. Tahap Refleksi . Pelaksanaan kegiatan refleksi, peneliti melakukan diskusi dengan pengamat untuk menjaring hal-hal yang terjadi sebelum dan selama tindakan berlangsung berdasarkan hasil tes, hasil pengamatan, hasil wawancara, dan catatan lapangan dengan subyek penelitian agar dapat diambil kesimpulan dalam merencanakan tindakan selanjutnya. Siklus dalam tiap tindakan dapat Sedangkan siklus dalam setiap materi ini diakhiri atau dihentikan dengan kriteria sebagai berikut. Hasil pengamatan telah menunjukan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah ditentukan dan memberikan nilai yang . Memudahkan peserta didik dalam belajar dan meningkatkan prestasi belajarnya. Meningkatkan kompetensi pedagogik guru Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE. Meningkatkan kebersamaan guru dalam melaksanakan Model Pembelajaran IODE Tahap Observasi Kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh penulis dan sejawat sebagai pengamat, kegiatan pengamatan ini tidak terpisah pengamatan dilakukan pada waktu tindakan Jadi berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap 2 dan 3 dimaksudkan untuk memberikan peluang kepada peneliti dalam melaksanakan supervisi. Tahap Refleksi Tahap ke-4 ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah Istilah "refleksi" dari kata bahasa Inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pemantulan. Dalam hal seperti ini maka peneliti meelakukan Untuk menjaga obyektifitas tersebut seringkali hasil refleksi ini diperiksa ulang atau divalidasi oleh teman sejawat yang secara khusus penulis minta diminta Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi berupa rubrik, yang terdiri dari: Rubrik Penilaian supervisi guru. Rubrik Penilaian Aktivitas Guru dalam Persiapan Penyusunan RPP . Rubrik Penilaian Aktivitas Guru dalam Proses Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) . Pedoman Wawancara (Diskus. Untuk Mengetahui Kendala yang Ditemukan Guru Rubrik ini diisi oleh peneliti melalui Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE pangamatan sebelum, pada saat, dan sesudah proses penyusunan RPP. Hasilnya digunakan untuk menentukan tindakan selanjutnya Untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai oleh siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktifitas siswa selama proses pembelajaran. Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tertulis pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung statistik sederhana yaitu: Untuk menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: X = EuX EuN kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85 % yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut: Eu Siswa. belajar x100% Eu Siswa . Untuk lembar observasi . Lembar observasi pengolahan metode Untuk menghitung lembar observasi hasil pengolahan Metode diskusi digunakan rumus sebagai berikut: P1 P2 Dimana: P1 = pengamat 1 dan P2 = . Lembar observasi aktifitas guru dan siswa Untuk menghitung lembar observasi hasil aktifitas guru dan siswa digunakan rumus sebagai berikut: x100% dengan EuX Jumlah. pengama tan P1 P2 Dimana: % = prosentase pengamatan Dengan: X = Rata-rata = Nilai rata-rata Eu X = Jumlah rata-rata = Jumlah semua nilai siswa = Jumlah siswa . Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1. , yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65 % atau nilai 65, dan P1 = pengamat 1 P2 = pengamat 2 Pembahasan Ketuntasan Hasil belajar Siswa Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Berbasis Multi Sumber Dengan Model Pembelajaran IODE dalam kegiatan belajar mengajar memiliki dampak positif dalam meningkatkan Meningkatkan Pemahaman. PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Vol. 3 No. 2 Agustus 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang perbandingan hasil nilai yang diperoleh siswa dibawah ini: Tabel 1. Perbandingan analisis hasil evaluasi belajar siklus I. II dan i NAMA SISWA Ade Hasbullah Ade Pratama Adryan Fernando Agustun Rahmawati Alib Budiman Alang Bijak Annisa Nur Arjuna Cakra Aulia Leli Briyan Nanda Dwina Hayu Dwina Heppy Farrel Jakfal Fatimah W Gilang Adi Ines Diva Ira Herlina Khuzaimah Linda Apriliya Lingga A Fachry Nabilah Nova Nanda Adillya Octavia K. Putri Rahmadani Radya Ardhana Raju Raga Rena Kurnia Reni Kurnia Rhoelly Nony Rizki Dwi Rizqi Moka Safitri Desy Trenda Indri Vickry Inaka Vindya Cintantya Wisnu Pratama Maydina Andria Nabila Zalsa Aditya Wirabuana SIKLUS I SIKLUS II SIKLUS i Dari tabel diatas ketuntasan belajar meningkat dari siklus I. II, dan i yaitu masing-masing 36,59 %, 75,61 %, dan 100,00 Pada siklus i ketuntasan belajar siswa secara klasikal Sudah Tuntas Peningkatan prosentase ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Kemampuan Pengajaran Guru Mengelola Berdasarkan analisis data, diperoleh aktifitas siswa dalam proses metode Pengajaran Berbasis Multi Sumber Dengan Model Pembelajaran IODE dalam kegiatan belajar mengajar dalam kelompok di setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap Meningkatkan Pemahaman yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami Aktifitas Guru Pengajaran Siswa Dalam Berdasarkan analisis data, diperoleh aktifitas siswa dalam proses pengajaran Bahasa dengan metode Pengajaran Berbasis Multi Sumber Dengan Model Pembelajaran IODE dalam kegiatan belajar mengajar dalam kelompok yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru, dan Diskusi antar siswa antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktifitas siwa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktifitas guru selama pengajaran telah melaksanakan langkahlangkah dengan Pengajaran Berbasis Multi Sumber Dengan Model Pembelajaran IODE dalam kegiatan belajar mengajar dengan baik. Hal ini terlihat dari aktifitas guru yang muncul di antaranya aktifitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan LKS/menemukan mcnjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan balik/evaluasi/ Tanya jawab dimana prosentase untuk aktifitas di atas cukup besar. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan analisis yang telali dilakukan serta dari hasil kegiatan pengajaran yang dilakukan selama tiga siklus dapat disimpulkan sebagai berikut: Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran Berbasis Multi Sumber melalui Model Pembelajaran IODE Pengajaran Berbasis Multi Sumber Dengan Model Pembelajaran IODE dalam kegiatan belajar mengajar memiliki dampak positif. Hal ini dapat di identifikasi dari kenaikan Persentase prestasi ketuntasan belajar mendapatkan perlakuan dari tiap siklus yaitu siklus I 36,59 %, siklus II 75,61 %, dan siklus i 100 %. Depdiknas. Pedoman Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Researc. Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMA / SMK. Jakarta: Dirjen PMPTK. Salah satu Pengaruh dari Penerapan Pengajaran Berbasis Multi Sumber Dengan Model Pembelajaran IODE dalam kegiatan belajar mengajar adalah meningkatnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Depdiknas. Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. http://w. / inlink. ccessed 9 Feb 2. Daftar Pustaka