PARTICIPATORY JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Participatory E-ISSN : 3024-8795 | Volume 05. Nomor 02. Tahun 2026 Pariticipatory by IAI TABAH is licensed under a Creative CommonsAttribution- NonCommercial 4. 0 International License Naskah masuk Direvisi Dipublish 12-Januari-2026 19-April-2026 30-April-2026 DOI https://doi. org/10. 58518/participatory. PENDAMPINGAN DAN PENGUATAN LITERASI BUDAYA MELALUI PENGENALAN TRADISI BISSU PADA MAHASISWA PENCINTA ALAM Muhammad Nur Universitas Negeri Makassar. Indonesia E-mail: Muhammad. nurs@unm. Ibrahim Arifin Universitas Negeri Makassar. Indonesia E-mail: ibrahim@unm. Indriani Universitas Negeri Makassar. Indonesia E-mail: indriani@unm. Andi Samsul Alam Universitas Negeri Makassar. Indonesia E-mail: andisamsul. alam@unm. ABSTRAK: Globalisasi dan perkembangan teknologi informasi telah membawa dampak terhadap menurunnya minat generasi muda dalam memahami dan melestarikan budaya Salah satu budaya lokal yang memiliki nilai historis, filosofis, dan spiritual tinggi adalah tradisi Bissu dalam masyarakat Bugis, yang saat ini menghadapi tantangan berupa stigma sosial dan minimnya pemahaman generasi muda. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi budaya mahasiswa melalui pendampingan berbasis Participatory Action Research (PAR) pada komunitas Mahasiswa Pencinta Alam (Mapal. Tomanurung. Metode PAR dilaksanakan melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan aksi, pelaksanaan, observasi, refleksi, dan tindak lanjut. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam literasi budaya mahasiswa, baik dari aspek pengetahuan, sikap, maupun kesadaran. Mahasiswa mampu memahami tradisi Bissu secara lebih komprehensif serta menunjukkan perubahan perspektif menjadi lebih terbuka, toleran, dan apresiatif terhadap keberagaman budaya. Selain itu, muncul kesadaran kolektif yang mendorong mahasiswa untuk melakukan aksi nyata dalam pelestarian budaya, seperti diskusi lanjutan, pembuatan konten edukatif, dan PARTICIPATORY JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Participatory E-ISSN : 3024-8795 | Volume 05. Nomor 02. Tahun 2026 keterlibatan dalam kegiatan budaya. Dengan demikian, pendekatan PAR terbukti efektif dalam meningkatkan literasi budaya sekaligus membentuk sikap dan komitmen mahasiswa sebagai agen pelestarian budaya lokal. Kata Kunci: literasi budaya, tradisi Bissu. Participatory Action Research (PAR), mahasiswa, pelestarian budaya ABSTRACT: Globalization and the rapid development of information technology have contributed to a declining interest among young people in understanding and preserving local cultures. One local cultural tradition with significant historical, philosophical, and spiritual value is the Bissu tradition in Bugis society, which currently faces challenges such as social stigma and limited understanding among the younger generation. This community service activity aims to enhance studentsAo cultural literacy through mentoring based on the Participatory Action Research (PAR) approach within the Mapala Tomanurung (Nature Lover Student Associatio. The PAR method was implemented through several stages, including problem identification, action planning, implementation, observation, reflection, and follow-up. The results indicate a significant improvement in studentsAo cultural literacy in terms of knowledge, attitudes, and Students were able to understand the Bissu tradition more comprehensively and demonstrated a shift in perspective, becoming more open, tolerant, and appreciative of cultural diversity. Furthermore, a collective awareness emerged, encouraging students to take concrete actions in cultural preservation, such as organizing follow-up discussions, creating educational content, and actively participating in cultural activities. Therefore, the PAR approach has proven effective not only in improving cultural literacy but also in shaping studentsAo attitudes and commitment as agents of local cultural Keywords: cultural literacy. Bissu tradition. Participatory Action Research (PAR), students, cultural preservation PENDAHULUAN Perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi informasi membawa dampak signifikan terhadap perubahan pola pikir dan perilaku generasi muda (Karadona et al. Karadona. Rahmawati, & Mudatsir, 2026. Karadona. Rahmawati. Arsyad, et al. Karadona & Sari, 2025. Rahma et al. , 2. Di satu sisi, kemajuan tersebut membuka akses informasi yang luas tanpa batas ruang dan waktu, sehingga memudahkan individu untuk memperoleh berbagai pengetahuan dari seluruh penjuru dunia (Kurniawan & Rojabi, 2. Namun di sisi lain, arus informasi yang begitu cepat dan masif juga berpotensi menggeser nilai-nilai lokal yang selama ini menjadi identitas budaya masyarakat (Aslan & Ningtyas, 2. Generasi muda cenderung lebih akrab dengan budaya populer global dibandingkan dengan tradisi lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Fenomena ini terlihat dari menurunnya minat generasi muda PARTICIPATORY JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Participatory E-ISSN : 3024-8795 | Volume 05. Nomor 02. Tahun 2026 dalam mengenal, memahami, dan melestarikan budaya daerahnya sendiri (Fajar, 2025. Sari et al. , 2. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan kurangnya ruang edukasi yang secara khusus membahas dan menginternalisasikan nilai-nilai budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari. Budaya lokal sering kali hanya dipandang sebagai simbol seremonial tanpa pemaknaan yang mendalam, sehingga kehilangan relevansinya di kalangan generasi muda. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin akan terjadi krisis identitas budaya yang berdampak pada melemahnya karakter bangsa (Ardelina, 2025a, 2025b. Dora et al. , 2025. Widiyanto et al. , 2. Dalam konteks ini, literasi budaya menjadi salah satu aspek penting dalam membangun identitas dan karakter generasi muda. Literasi budaya tidak hanya mencakup kemampuan mengenali dan memahami tradisi, tetapi juga kemampuan untuk menginterpretasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan social (Nawir. Dani, et al. , 2025. Nawir. Zakina, et al. , 2. Literasi budaya juga berfungsi sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, serta kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa (Rahmawati et al. , 2. Salah satu budaya lokal yang memiliki nilai historis, filosofis, dan spiritual yang tinggi adalah tradisi Bissu dalam masyarakat Bugis. Bissu merupakan kelompok adat yang memiliki peran penting sebagai penjaga keseimbangan antara nilai spiritual dan sosial dalam kehidupan masyarakat. Dalam struktur budaya Bugis. Bissu tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana ritual adat, tetapi juga sebagai simbol harmoni, kesucian, dan kebijaksanaan. Keberadaan Bissu mencerminkan konsep keseimbangan dalam kehidupan, baik antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, maupun manusia dengan alam (Adiratna & AAola, 2025. Giswandhani, 2. Namun demikian, eksistensi Bissu saat ini menghadapi berbagai tantangan yang cukup kompleks. Modernisasi, perubahan nilai sosial, serta berkembangnya stigma negatif terhadap kelompok tertentu menyebabkan peran Bissu semakin terpinggirkan. Selain itu, minimnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan makna filosofis Bissu turut mempercepat terjadinya degradasi nilai budaya tersebut. Banyak generasi muda yang hanya mengenal Bissu secara dangkal, bahkan tidak jarang muncul kesalahpahaman yang mengaburkan nilai-nilai luhur yang sebenarnya terkandung di Di sisi lain, lingkungan pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani kesenjangan tersebut. Mahasiswa sebagai agen perubahan . gent of chang. diharapkan mampu menjadi pelopor dalam pelestarian budaya lokal. Namun kenyataannya, tidak semua mahasiswa memiliki tingkat literasi budaya yang memadai. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan edukatif yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga partisipatif dan reflektif, sehingga mahasiswa dapat memahami sekaligus merasakan makna budaya secara lebih mendalam. Mahasiswa Pencinta Alam (Mapal. Tomanurung sebagai komunitas yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan budaya lokal menjadi sasaran yang tepat dalam kegiatan ini. Karakter Mapala yang dekat dengan nilai-nilai kearifan lokal, kebersamaan, dan kepedulian sosial menjadi modal penting dalam proses internalisasi PARTICIPATORY JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Participatory E-ISSN : 3024-8795 | Volume 05. Nomor 02. Tahun 2026 nilai budaya. Melalui kegiatan pendampingan ini, mahasiswa tidak hanya diberikan pengetahuan tentang tradisi Bissu, tetapi juga diajak untuk berdialog, merefleksikan, dan mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan kehidupan mereka sebagai generasi muda. Pendampingan dan penguatan literasi budaya melalui pengenalan tradisi Bissu diharapkan mampu menjadi salah satu solusi dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal di tengah arus globalisasi. Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap apresiatif, kritis, dan bertanggung jawab terhadap pelestarian budaya. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi penikmat budaya, tetapi juga menjadi pelaku aktif dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya bangsa. Lebih jauh lagi, kegiatan ini diharapkan dapat membangun kesadaran kolektif bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas adat semata, melainkan juga merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda terdidik. Dengan adanya penguatan literasi budaya yang berkelanjutan, diharapkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Bissu dapat terus hidup dan relevan dalam kehidupan modern, serta menjadi sumber inspirasi dalam membangun karakter bangsa yang berbudaya, toleran, dan berkeadaban. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), yaitu metode yang menekankan keterlibatan aktif peserta dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi (Astuti, 2025. Siswadi & Syaifuddin, 2024. Umayyah & Ubaidillah, 2. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan kegiatan, yaitu tidak hanya meningkatkan pengetahuan mahasiswa, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan kesadaran dalam melestarikan budaya lokal, khususnya tradisi Bissu. Pelaksanaan Participatory Action Research (PAR) dalam kegiatan ini dilakukan melalui beberapa tahapan siklus yang saling berkaitan, dimulai dari tahap identifikasi masalah . Pada tahap awal, tim pengabdi bersama anggota Mapala Tomanurung melakukan diskusi untuk mengidentifikasi permasalahan terkait literasi Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa belum memiliki pemahaman yang komprehensif tentang tradisi Bissu, baik dari segi sejarah, nilai filosofis, maupun peran sosialnya dalam masyarakat Bugis. Selain itu, ditemukan pula adanya kecenderungan miskonsepsi yang dipengaruhi oleh stereotip dan keterbatasan informasi. Berdasarkan temuan tersebut, dilanjutkan pada tahap perencanaan aksi . ction pla. dengan menyusun program pendampingan literasi budaya yang meliputi penyampaian materi tentang tradisi Bissu, pemutaran video edukatif, diskusi partisipatif, serta refleksi nilai budaya dalam kehidupan mahasiswa. Perencanaan ini dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan peserta agar program yang dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi mereka (Siswadi & Syaifuddin. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan aksi . , di mana seluruh rencana kegiatan diimplementasikan secara interaktif dengan menekankan partisipasi aktif Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi. PARTICIPATORY JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Participatory E-ISSN : 3024-8795 | Volume 05. Nomor 02. Tahun 2026 berbagi pandangan, serta menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Bissu. Selama proses berlangsung, tim pengabdi melakukan tahap observasi . dengan mengamati tingkat keterlibatan peserta, respons yang diberikan, serta perubahan pemahaman yang terjadi. Observasi dilakukan melalui interaksi langsung, pencatatan lapangan, dan dokumentasi kegiatan. Setelah itu, dilakukan tahap refleksi . bersama peserta untuk mengevaluasi hasil kegiatan, di mana mahasiswa diajak mengungkapkan pemahaman baru, perubahan perspektif, serta komitmen dalam melestarikan budaya lokal. Hasil refleksi menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan sikap apresiatif terhadap tradisi Bissu. Sebagai tahap akhir dalam siklus PAR, dilakukan tindak lanjut . berupa perencanaan kegiatan lanjutan yang berkelanjutan, seperti diskusi rutin, pembuatan konten edukasi budaya, serta keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan pelestarian budaya di masyarakat. PEMBAHASAN Peningkatan Literasi Budaya Mahasiswa Kegiatan pendampingan berbasis Participatory Action Research (PAR) menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam literasi budaya mahasiswa, khususnya dalam memahami tradisi Bissu secara komprehensif. Pemahaman yang diperoleh tidak hanya terbatas pada aspek permukaan, tetapi mencakup dimensi historis, sosial, dan filosofis yang melekat dalam tradisi tersebut. Melalui pendekatan partisipatif, mahasiswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga mampu membangun pemahaman yang lebih mendalam dan kontekstual terhadap budaya lokal. Sebelum pelaksanaan kegiatan, pemahaman mahasiswa terhadap tradisi Bissu cenderung bersifat parsial dan tidak utuh. Hal ini dipengaruhi oleh adanya stereotip sosial serta keterbatasan informasi yang diperoleh dari lingkungan maupun media. Namun setelah mengikuti proses pendampingan, terjadi perubahan yang cukup signifikan, di mana mahasiswa mulai mampu menjelaskan secara lebih jelas dan sistematis peran Bissu sebagai penjaga nilai spiritual serta simbol keseimbangan sosial dalam masyarakat Bugis. Proses diskusi, refleksi, dan interaksi selama kegiatan turut memperkuat pemahaman tersebut. Lebih lanjut, perubahan juga terlihat pada cara pandang mahasiswa terhadap tradisi Bissu. Jika sebelumnya Bissu dipersepsikan hanya sebagai fenomena budaya yang bersifat simbolik, maka setelah kegiatan berlangsung, mahasiswa mulai memahami bahwa Bissu merupakan representasi nilai-nilai luhur yang mengandung unsur spiritualitas, harmoni, dan penghargaan terhadap keberagaman. Dengan demikian, kegiatan pendampingan ini tidak hanya meningkatkan aspek kognitif mahasiswa, tetapi juga membentuk sikap apresiatif terhadap budaya lokal sebagai bagian penting dari identitas dan kehidupan sosial masyarakat. Peningkatan literasi budaya yang terjadi dalam kegiatan ini sejalan dengan konsep literasi budaya yang dikemukakan oleh UNESCO . , yang menyatakan bahwa literasi budaya mencakup kemampuan individu dalam memahami. PARTICIPATORY JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Participatory E-ISSN : 3024-8795 | Volume 05. Nomor 02. Tahun 2026 menginterpretasikan, dan mengaplikasikan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sosial. Dalam konteks ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu mengaitkan nilai-nilai tradisi Bissu dengan realitas kehidupan modern (Aryani & Purnomo, 2023. Aswita et al. , 2022. Hendratno et al. , 2. Selain itu, hasil ini juga didukung oleh penelitian (Kamal et al. , 2025a. Pertiwi et , 2025. Putri et al. , 2025. Winandar et al. , 2. yang menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis budaya lokal mampu meningkatkan pemahaman mahasiswa secara lebih kontekstual dan bermakna. Hal ini karena budaya lokal memberikan pengalaman belajar yang dekat dengan realitas sosial peserta didik, sehingga memudahkan proses internalisasi nilai. Pendekatan PAR yang digunakan dalam kegiatan ini juga memperkuat temuan (Kamal et al. , 2025b. Mariyono, 2024. Merla Madjid et al. , 2025. Sukmayadi et al. , 2. yang menegaskan bahwa metode partisipatif efektif dalam meningkatkan literasi karena melibatkan peserta secara aktif dalam proses pembelajaran. Keterlibatan ini memungkinkan mahasiswa untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengkonstruksi pengetahuan melalui dialog, refleksi, dan pengalaman langsung. Lebih lanjut, peningkatan pemahaman terhadap nilai-nilai seperti spiritualitas dan keseimbangan dalam tradisi Bissu menunjukkan bahwa literasi budaya memiliki keterkaitan erat dengan pembentukan karakter. Hal ini sejalan dengan pendapat (Fikri et , 2025. Setiani, 2025. Suriadi & Sriwahyuni, 2. yang menyatakan bahwa penguatan literasi budaya dapat menjadi media strategis dalam menanamkan nilai-nilai moral dan sosial pada generasi muda. Dengan demikian, hasil kegiatan ini menegaskan bahwa pendampingan literasi budaya yang dilakukan secara partisipatif dan kontekstual mampu meningkatkan kualitas pemahaman mahasiswa secara signifikan. Tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan nilai, sehingga membentuk individu yang lebih sadar budaya dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Perubahan Sikap dan Perspektif terhadap Budaya Lokal Pelaksanaan kegiatan pendampingan menunjukkan adanya perubahan yang cukup signifikan pada sikap dan perspektif mahasiswa terhadap budaya lokal, khususnya tradisi Bissu. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian mahasiswa cenderung memiliki pandangan yang stereotip dan kurang tepat, yang dipengaruhi oleh konstruksi sosial serta informasi yang tidak utuh. Bissu sering kali dipersepsikan hanya dari sisi simbolik atau bahkan dipandang secara negatif. Namun setelah mengikuti rangkaian kegiatan pendampingan, terjadi transformasi sikap yang ditandai dengan munculnya pandangan yang lebih terbuka, toleran, serta apresiatif terhadap keberagaman budaya. Perubahan ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses pembelajaran yang dialogis dan partisipatif. Pendekatan Participatory Action Research (PAR) memberikan ruang bagi mahasiswa untuk terlibat aktif dalam diskusi, bertukar pandangan, serta merefleksikan pemahaman mereka terhadap budaya Bissu. Melalui proses ini, mahasiswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga diajak untuk mengkritisi asumsi yang selama ini mereka yakini. Dengan demikian, pemahaman PARTICIPATORY JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Participatory E-ISSN : 3024-8795 | Volume 05. Nomor 02. Tahun 2026 yang terbentuk menjadi lebih objektif dan komprehensif, serta mampu mengurangi bias dan stigma yang sebelumnya melekat. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong berkembangnya sikap toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman budaya. Mahasiswa mulai menyadari bahwa setiap budaya memiliki nilai dan makna yang tidak dapat dinilai secara sepihak. Tradisi Bissu dipahami sebagai bagian dari sistem sosial dan spiritual masyarakat Bugis yang memiliki nilai keseimbangan, harmoni, dan kebijaksanaan. Kesadaran ini menjadi penting dalam membangun sikap inklusif di tengah masyarakat yang plural. Dari sisi pembahasan, perubahan sikap dan perspektif ini sejalan dengan teori konstruktivisme sosial yang menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman individu dibentuk melalui interaksi sosial dan pengalaman belajar. Dalam konteks ini, diskusi partisipatif dan refleksi yang dilakukan dalam pendekatan PAR berperan sebagai media konstruksi pengetahuan baru yang lebih kritis dan reflektif. Mahasiswa tidak hanya mengubah cara pandang, tetapi juga membangun kesadaran baru dalam memaknai budaya lokal secara lebih mendalam. Lebih lanjut, temuan ini juga relevan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis budaya lokal mampu meningkatkan sikap toleransi dan apresiasi terhadap keberagaman (Fahruddin et al. Mardliyah et al. , 2025. Minsih et al. , 2024. Wibowo, 2. Hal ini karena budaya lokal menyediakan konteks nyata yang dekat dengan kehidupan peserta didik, sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya lebih mudah dipahami dan diinternalisasi. Pendekatan partisipatif juga terbukti efektif dalam membentuk sikap karena melibatkan aspek emosional dan pengalaman langsung dalam proses belajar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendampingan berbasis PAR tidak hanya berdampak pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga mampu mentransformasikan sikap dan perspektif mahasiswa terhadap budaya lokal. Perubahan ini menjadi indikator penting dalam keberhasilan program, karena sikap yang terbentuk akan memengaruhi perilaku mahasiswa dalam kehidupan sosial, termasuk dalam upaya menjaga dan melestarikan budaya lokal di masa yang akan datang. Munculnya Kesadaran dan Aksi Pelestarian Budaya Pelaksanaan kegiatan pendampingan tidak hanya berdampak pada peningkatan pengetahuan dan perubahan perspektif mahasiswa, tetapi juga mendorong munculnya kesadaran kolektif untuk melestarikan budaya lokal, khususnya tradisi Bissu. Sebelum kegiatan dilakukan, sebagian besar mahasiswa cenderung memandang budaya lokal sebagai sesuatu yang bersifat pasif dan tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan mereka. Namun setelah mengikuti proses pendampingan, terjadi perubahan yang cukup signifikan, di mana mahasiswa mulai menyadari bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama, termasuk generasi muda sebagai agen perubahan. Kesadaran ini berkembang melalui proses pembelajaran partisipatif yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami makna budaya secara lebih Dalam kegiatan refleksi, mahasiswa tidak hanya mengungkapkan pemahaman baru yang diperoleh, tetapi juga mulai menunjukkan komitmen untuk terlibat dalam upaya pelestarian budaya. Hal ini menunjukkan bahwa proses PARTICIPATORY JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Participatory E-ISSN : 3024-8795 | Volume 05. Nomor 02. Tahun 2026 internalisasi nilai telah terjadi, di mana mahasiswa tidak hanya memahami budaya secara kognitif, tetapi juga menghayatinya sebagai bagian dari identitas sosial mereka. Lebih lanjut, kesadaran yang terbentuk tersebut mendorong munculnya berbagai bentuk aksi nyata yang diinisiasi oleh mahasiswa. Beberapa di antaranya adalah rencana penyelenggaraan diskusi lanjutan tentang budaya lokal, pembuatan konten edukatif di media sosial, serta keterlibatan dalam kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian budaya di lingkungan masyarakat. Aksi-aksi ini menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan telah berhasil menggerakkan mahasiswa dari tahap pemahaman menuju tindakan . ction-oriente. , yang merupakan tujuan utama dari pendekatan PAR. Dari sisi pembahasan, temuan ini sejalan dengan konsep pemberdayaan dalam pendidikan, yang menekankan bahwa proses pembelajaran seharusnya tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dan perubahan Pendekatan PAR secara khusus dirancang untuk menciptakan perubahan melalui keterlibatan langsung peserta dalam proses identifikasi masalah hingga tindakan solusi. Oleh karena itu, munculnya aksi nyata dari mahasiswa merupakan indikator keberhasilan pendekatan ini dalam membangun kesadaran kritis dan tanggung jawab PARTICIPATORY JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Participatory E-ISSN : 3024-8795 | Volume 05. Nomor 02. Tahun 2026 Selain itu, hasil ini juga didukung oleh penelitian (Abdullah et al. , 2026. Hartina et al. , 2025. Meli Apriliani & Unzzila, 2024. Munawarah et al. , 2025. Natasya et al. , 2025. Pahmi et al. , 2025. Rohani et al. , 2025. Saputra & Parisu, 2025. Tamrin & Masykuri, 2024a, 2024. yang menyatakan bahwa keterlibatan aktif dalam pembelajaran berbasis partisipatif mampu meningkatkan motivasi individu untuk berkontribusi dalam lingkungan sosialnya. Hal ini diperkuat oleh temuan (Fajarianto et al. , 2025. Krisnanik et , 2023. Tamrin & Masykuri, 2024. yang menunjukkan bahwa literasi budaya yang kuat dapat mendorong generasi muda untuk berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan kearifan lokal melalui berbagai media, termasuk teknologi digital. Dalam konteks yang lebih luas, munculnya kesadaran dan aksi pelestarian budaya ini juga memiliki implikasi penting terhadap penguatan identitas dan kohesi sosial. tengah arus globalisasi yang cenderung meng homogenkan budaya, keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya lokal menjadi sangat penting untuk menjaga keberagaman dan kekayaan budaya bangsa. Mahasiswa sebagai kelompok intelektual memiliki peran strategis dalam menyebarkan nilai-nilai budaya melalui pendekatan yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pendampingan berbasis PAR tidak hanya berhasil meningkatkan literasi budaya mahasiswa, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran kolektif dan mendorong lahirnya aksi nyata dalam pelestarian budaya lokal. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pendekatan yang partisipatif dan kontekstual sangat efektif dalam membangun generasi muda yang tidak hanya memahami budaya, tetapi juga memiliki komitmen untuk menjaga dan mengembangkannya secara berkelanjutan. SIMPULAN Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR), dapat disimpulkan bahwa pendampingan dan penguatan literasi budaya melalui pengenalan tradisi Bissu memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman, perubahan sikap, serta munculnya kesadaran dan aksi nyata mahasiswa dalam pelestarian budaya Kegiatan ini berhasil meningkatkan literasi budaya mahasiswa secara komprehensif, tidak hanya pada aspek pengetahuan, tetapi juga pada pemahaman nilainilai filosofis, historis, dan sosial yang terkandung dalam tradisi Bissu. Mahasiswa yang PARTICIPATORY JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Participatory E-ISSN : 3024-8795 | Volume 05. Nomor 02. Tahun 2026 sebelumnya memiliki pemahaman parsial dan dipengaruhi stereotip, mengalami perubahan menjadi lebih kritis, reflektif, dan mampu memaknai budaya secara lebih Selain itu, kegiatan ini juga mampu mentransformasikan sikap dan perspektif mahasiswa terhadap budaya lokal. Melalui pendekatan partisipatif, mahasiswa didorong untuk berpikir kritis, mengkaji ulang asumsi yang keliru, serta mengembangkan sikap yang lebih terbuka, toleran, dan apresiatif terhadap keberagaman Perubahan ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang dialogis dan kontekstual memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang yang lebih inklusif dan berimbang terhadap realitas sosial dan budaya. Lebih lanjut, pendampingan ini tidak hanya berhenti pada peningkatan aspek kognitif dan afektif, tetapi juga mendorong lahirnya kesadaran kolektif dan tindakan nyata dalam pelestarian budaya. Mahasiswa mulai menunjukkan komitmen untuk terlibat aktif melalui berbagai inisiatif seperti diskusi budaya, pembuatan konten edukatif, serta partisipasi dalam kegiatan pelestarian budaya di masyarakat. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan PAR efektif dalam menggerakkan mahasiswa dari tahap pemahaman menuju aksi . ction-oriente. , sehingga berdampak pada penguatan peran mereka sebagai agen perubahan. Dengan demikian, kegiatan ini membuktikan bahwa penguatan literasi budaya melalui pendekatan partisipatif dan kontekstual merupakan strategi yang efektif dalam membangun generasi muda yang tidak hanya memiliki pemahaman budaya yang baik, tetapi juga memiliki kesadaran, sikap, dan komitmen untuk menjaga serta melestarikan warisan budaya bangsa. Oleh karena itu, program serupa perlu dikembangkan secara berkelanjutan dan diperluas cakupannya agar mampu memberikan dampak yang lebih luas dalam memperkuat identitas budaya dan kohesi sosial di tengah arus globalisasi. DAFTAR PUSTAKA