Efektivitas Token Ekonomi dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Slowlearner di SD N 1 Trimulyo Kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan Rizka Puspita Sari1. Siti Zahra Bulantika2 STKIP PGRI Bandar Lampung, rizkapuspitasari73@gmail. com, 2szahrabulantika@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah metode belajar dengan token ekonomi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa slowlearner di SD N 1 Trimulyo Kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan single subject research. Jumlah partisipan dalam penelitian ini berjumlah satu siswa yang mengalami lamban belajar . low learne. berusia 8 tahun 6 bulan. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan tes psikologi. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis grafik yang melihat perubahan antara kondisi baseline. Berdasarkan grafik yang diperoleh diketahui bahwa terjadi peningkatan pada baseline A2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode token ekonomi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa slow learner di SD N 1 Trimulyo Kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan. Kata kunci: Token Ekonomi. Motivasi belajar. Slow learner Abstract: This study aims to determine whether the learning method with economic tokens can increase the learning motivation of slow learner students at SD N 1 Trimulyo. Tanjung Bintang District. South Lampung. This study used an experimental method with a single subject research approach. The number of participants in this study was one student who was a slow learner aged 8 years and 6 months. The data in this study were obtained through observation, interviews and psychological tests. The analysis used in this study uses graphic analysis that looks at changes between baseline conditions. Based on the graph obtained, it is known that there is an increase in baseline A2. The results showed that the token economy method could increase the learning motivation of slow learner students at SD N 1 Trimulyo. Tanjung Bintang District. South Lampung. Keywords: Economic Tokens. Learning Motivation. Slow learner PENDAHULUAN Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari proses pembelajaran adalah motivasi siswa dalam belajar. Tanpa adanya motivasi untuk belajar, siswa akan sulit untuk menerima informasi dari materi pembelajaran. Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang Rizka Puspita Sari. Siti Zahra Bulantika Journal of Guidance and Counseling Inspiration (JGCI). Vol. No. untuk melakukan aktivitas tertentu, demi mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya (Uno, 2. Dalam motivasi tercakup konsep-konsep, seperti kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan berafiliasi, kebiasaan, dan keingintahuan seseorang terhadap sesuatu(Sari et al. , 2. Ormrod . juga menjelaskan bahwa motivasi merupakan keadaan internal yang menghidupkan, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Dalam kenyataannya, tidak semua siswa memiliki motivasi dalam belajar, apalagi jika siswa tersebut memiliki suatu hambatan dalam belajar seperti siswa yang mengalami lamban belajar atau yang disebut dengan istilah slow learner. Slow leraner adalah istilah yang digunakan bagi anak yang mengalami kelambatan dalam menangkap informasi dalam belajar. Burt . alam Reddy, dkk 2. menjelaskan bahwa istilah slow learners diberikan untuk anak yang tidak dapat mengerjakan tugas yang seharusnya dapat dikerjakan oleh subjek seusianya. Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan di SD Negeri 1 Trimulyo Kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan diperoleh data bahwa terdapat siswa yang diduga mengalami slow learnener sehingga guru cukup kesulitan dalam menyampaikan materi. Siswa tersebut berinisial HJS yang berusia 8 tahun 6 bulan yang berada di kelas 2 SD. Siswa tersebut masih kesulitan dalam membaca dan berhitung. Ketika guru menjelaskan HJS kerap tidak menyimak dan tampak tidak tertarik dalam mengerjakan tugas. Menurutnya, ia merasa kesulitan dan sering tertinggal oleh teman-temannya dan malu untuk bertanya kepada guru. Ahmadi dan Supriyono . menjelaskan bahwa anak yang mengalami kelambatan dalam beajar membutuhkan waktu yang lebih lama dari waktu yang diperkirakan untuk subjek-subjek Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis dengan menggunakan tes Binet untuk mengetahui taraf inteligensi subjek diperoleh skor IQ 88 dengan kondisi MA 7 tahun 10 bulan. Artinya HJS memiliki kapasitas inteligensi yang berada dibawah rata-rata anak seusianya dan usia mentalnya cenderung lebih rendah dibandingkan usia kronologisnya. Menurut Jenson . alam Reddy, dkk 2. anak lamban belajar memiliki IQ 80 sampai 90 dan lebih lambat dalam menangkap materi pelajaran yang berhubungan dengan simbol, abstrak, atau materi Kebanyakan subjek lamban belajar mengalami masalah dalam pelajaran membaca dan berhitung. Kondisi ini menyebabkan HJS menjadi kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran dan menjadi kurang termotivasi untuk mengerjakan soal latihan yang diberi oleh Rizka Puspita Sari. Siti Zahra Bulantika Journal of Guidance and Counseling Inspiration (JGCI). Vol. No. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan sebuah upaya untuk membantu siswa yang mengalami slow learner agar dapat memiliki motivasi untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah dan mempermudah guru dalam menyampaikan materi kepada seluruh siswa. Siswa yang mengalami slow learner tentunya memiliki cara yang cukup berbeda dalam proses belajar dibandingkan siswa yang memiliki IQ normal. Salah satu teknik yang dapat diberikan adalah pemberian reinforcement atau penguat berupa penghargaan. Menurut Uno . , motivasi belajar dapat timbul karena adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik. Salah satu faktor ekstrinsik yang dapat mempengaruhi motivasi belajar adalah adanya penghargaan. Reinforcement diberikan dalam bentuk token ekonomi dimana siswa akan mendapat berupa tanda seperti stiker bintang atau cap yang diberikan oleh guru setiap kali siswa mencoba mengerjakan soal. Dalam jumlah tertentu token akan ditukarkan dengan hadiah yang telah disepakati sebelumnya. Token economy . konomi penand. merupakan sebuah program behavioral di mana individu dapat memperoleh token/tanda untuk beragam perilaku yang diinginkan dan dapat menukarkan penanda tersebut demi memperoleh penguat pendukung disebut. Token . merupakan penguat terkondisikan yang dapat diakumulasi dan dipertukarkan untuk mendapat penguat pendukung. Program modifikasi perilaku di mana individu dapat memperoleh token bagi perilaku tertentu dan AomenguangkannyaAo demi memperoleh penguat pendukung disebut token economy . konomi penand. atau token system . istem penand. (Martin dan Joseph, 2. Token ekonomi juga berhasil meningkatkan motivasi siswa dengan permaslaahan komuikasi (Sari, 2. Berdasarkan latar belakang ini maka peneliti ingin mengetahui apakah penggunaan teknik token ekonomi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa slowlearner yang ada di SD Negeri 1 Trimulyo Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. Sugiyono . mengartikan eksperimen sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Design eksperimen yang digunakan menggunakan design single subject research (SSR). Sunanto, dkk . menjelaskan bahwa penelitian tunggal atau SSR merupakan metode penelitian eksperimen yang dilaksanakan pada satu subjek tunggal dengan tujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari perlakuan yang diberikan secara berulang terhadap target perilaku yang ingin dicapai. Metode ini dipilih karena disesuaikan dengan kebutuhan penelitian Rizka Puspita Sari. Siti Zahra Bulantika Journal of Guidance and Counseling Inspiration (JGCI). Vol. No. dimana peneliti ingin mengetahui pengaruh suatu tindakan terhadap perilaku. Design analisis yang digunakan adalah A1 Ae B Ae A2 dimana A1 merupakan kondisi baseline sebelum diberikan intervensi. B merupakan kondisi intervensi, dan A1 merupakan kondisi setelah intervensi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh subjek, guru, serta orangtua maka ditentukan lah sebuah baseline untuk menentukan kondisi sebelum dilakukannya intervensi sebagai berikut: mengerjakan soal Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa A1 merupakan kondisi baseline sebelum dilakukannya intervensi. Kondisi A1 diperoleh melalui observasi proses belajar selama 6 hari dimana diperoleh rerata subjek dalam mengerjakan soal sebanyak 2 kali dari total 5 soal sedangkan rerata subjek dalam menjawab pertanyaan sebanyak 1 kali dari total 5 Mengerjakan soal dan menjawab pertanyaan merupakan target perilaku yang diharapkan dimana benar tidaknya jawaban tidak menjadi pengaruh. Kemudian pada kondisi B1 atau pada saat pemberian intervensi diperoleh hasil sebagai berikut: mengerjakan soal Rizka Puspita Sari. Siti Zahra Bulantika Journal of Guidance and Counseling Inspiration (JGCI). Vol. No. Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan pada kondisi B atau intervensi dimana subjek mau dan termotivasi dalam mengerjakan semua soal dari total 5 soal. Sedangkan dalam menjawab pertanyaan subjek mampu berusaha menjawab 4 pertanyaan dari total 5 pertanyaan. Angka tersebut diperoleh dari rerata hasil pengamatan selama 6 hari proses kegiatan belajar. Kemudian, pada fase A2 atau kondisi setelah intervensi diberikan diperoleh hasil sebagai berikut: mengerjakan soal Berdasarkan grafik di atas diketahui bahwa terjadi perubahan rerata target perilaku pada kondisi A2. Pada kondisi A2 subjek dapat mengerjakan soal dengan rerata 4 dari total 5 soal, sedangkan pada target perilaku menjawab pertanyaan subjek mampu menjawab 3 pertanyaan dari total 5 pertanyaan. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari kondisi A1 sampai kondisi A2 dimana sebelum diberi intervensi dengan token ekonomi subjek hanya memperoleh rerata nilai 2 dan 1 sedangkan setelah diberi intervensi subjek berhasil memperoleh rerata nilai 4 dan 3. Hopkins . menyebutkan bahwa salah satu faktor penyebab anak lamban belajar adalah motivasi yang rendah. Uno . menjelaskan bahwa motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi dalam memenuhi kebutuhannya. Uno . menambahkan bahwa motivasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu pertama, hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, dan kedua, harapan akan cita-cita. Dalam hal ini, subjek belum memiliki hasrat dan keinginan berhasil dikarenakan adanya perasaan tidak mampu karena kerap tertinggal dari teman-temannya dalam mengerjakan soal. Sehingga subjek perlu dimotivasi untuk menemukan cara belajar yang membuatnya semangat dalam mencoba mengerjakan soal yang diberikan oleh guru. Rizka Puspita Sari. Siti Zahra Bulantika Journal of Guidance and Counseling Inspiration (JGCI). Vol. No. Faktor lain selain faktor intrinsik yaitu faktor ekstrinsik. Faktor ekstrinsik yang mempengaruhi motivasi belajar meliputi pertama, adanya penghargaan, kedua, adanya lingkungan belajar yang kondusif, dan yang ketiga adanya kegiatan belajar yang menarik. Penghargaan yang diberikan berupa pujian dan ditandai dengan sebuah stiker bintang yang akan diberikan kepada subjek. Hal ini tentunya membutuhkan dukungan dari lingkungan belajar seperti guru dan teman-teman yang turut serta mendukung subjek. Guru berperan sebagai faktor eksternal yang memberi motivasi kepada subjek seperti pujian dan juga memberikan stiker bintang sebagai token ekonomi setiap kali subjek mengerjakan soal dan menjawab pertanyaan. Kerjasama antara guru dan teman di kelas tentunya akan memunculkan kegiatan belajar yang menyenangkan bagi subjek. Kondisi belajar yang menyenangkan serta adanya reinforcement bagi siswa dapat meningkatkan semangat atau motivasi siswa dalam Peningkatan nilai rerata yang diperoleh subjek sebelum dan setelah diberi intervensi menunjukkan bahwa pemberian teknik token ekonomi berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa slowlearner di SD Negeri 1 Trimulyo kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan. SIMPULAN Berdasarkan penjelasan pada hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa pemberian teknik token ekonomi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa Keberhasilan ini tentunya didukung pula oleh kerjasama pihak sekolah seperti guru dan teman-teman di kelas yang turut serta mengambil peran dalam mencipatakan suasana belajar yang menyenangkan. Harapannya teknik ini tidak hanya digunakan pada siswa yang mengalami slowlearner, namun juga kepada seluruh siswa secara merata agar seluruh siswa dapat meningkatkan lagi motivasi belajarnya tentunya dengan kesepakatan yang disesuaikan oleh kemampuan masing-masing guru. DAFTAR PUSTAKA