JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 42-50, 2019 p-ISSN. 2443-115X e-ISSN. IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER DAN POTENSI ANTIDIARE EKSTRAK DAUN CINCAU (Stephania capitata (Blum. Spren. Submitted : 26 Maret 2019 Edited : 15 Mei 2019 Accepted : 25 Mei 2019 Ika Ayu Mentari1. Indah Hairunisa1 . Arsyik Ibrahim2 . Aditya Fridayanti2 Fakultas Kesehatan Dan Farmasi. Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Samarinda. Kalimantan Timur. Indonesia. Fakultas Farmasi. Universitas Mulawarman. Samarinda. Kalimantan Timur. Indonesia. Email : iam856@umkt. ABSTRACT Indonesia biodiversity has the second highest number of indigenous medical plants after the amazon rain forest, meanwhile Indonesian people usually used plants as a medicine source and some medicine plants have been developed as modern drugs. One of medicine plant in Indonesia that usually used as a refreshment was grass jelly (Stephania capitata (Blum. Spren. This plant frequently found in Sumatra. Borneo and Java island and the leaf of grass jelly has been reported as a medicine against stomach complaint . and This research was designed to investigate the secondary metabolites and the efficacy of leaf extract of grass jelly as anti diarrhea. The leaves extraction was done by using maceration with ethanol solvent at room temperature. Meyer reagent, dagendroff reagent, methanol, magnesium band, hydrochloric acid, iron . chloride, anhydrous acetic acid, sulfuric acid, chloroform were used for identification of secondary metabolites from grass jelly leaves. For potency anti diarrhea, animals were divided into six group: diarrhea group, treatment group with loperamid HCl and treatment group of leaf extract of grass jelly. The results showed that the leaf extract of grass jelly contain saponin, phenol, sterol and triterpen and the treatment with leaf extract of grass jelly significantly decreasing time duration of Keywords : grass jelly leaf. Stephania capitata (Blum. Spreng, secondary metabolite, anti PENDAHULUAN Indonesia merupakan Negara terbesar di Asia Tenggara yang memiliki lebih dari 17000 pulau dan kekayaan alam Indonesia kekayaan tumbuhan obat setelah hutan hujan Amazon. Oleh karena itu penggunaan tumbuhan obat di Indonesia masih sangatlah besar. Salah satu tumbuhan yang digunakan selain di bidang pengobatan tetapi juga sebagai bahan minuman penyegar adalah cincau. Daun cincau (Stephania capitata (Blum. Spren. oleh masyarakat pada umumnya digunakan sebagai obat demam dan obat Tumbuhan (Stephania capitata (Blum. Spren. atau yang dikenal sebagai sumbat kendi atau cincau minyak. Disebut cincau minyak mungkin karena jenis ini memiliki bagian permukaan daun yang mengkilap seperti berminyak. Morfologi dari tanaman ini, cincau minyak berupa liana berkayu, mirip dengan perdu besar, batang berukuran besar, membelit. Dari batang keluar akar lekat. AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 42-50, 2019 batang cincau minyak dapat mencapai 20 Daun berbentuk lonjong, berwarna hijau, dengan ujung yang runcing, permukaan daun mengilap dan tidak Daun berukuran 6,5x13,5 cm. Lembaran daun tidak tebal, tangkai daun panjang dan terdapat pada pangkal daun. Bunga berukuran kecil, berwarna hijau tua dan hijau kekuningan, buah kecil berukuran 10-17 mm. Tanaman cincau dapat di lihat pada gambar 1. Diare . nggris = diarrhe. adalah mengalami rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan fesesnya memiliki kandungan air berlebih dengan feses yang tidak berbentuk atau cair dengan frekuensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Selama fungsi normal dari usus, bahan padat dan cairan dalam tubuh yang bergerak melalui usus dengan gelombang peristaltik otot-otot halus di dalam usus. Gerakan peristaltik ini memakan waktu 3-5 jam untuk bergerak dari katup pilorus pada IKA AYU MENTARI titik proksimal dari usus kecil ke usus Bila usus tidak berfungsi normal, motilitas dapat meningkat baik atau menurun dan keduanya dapat menyebabkan diare. Motilitas usus menghasilkan diare dan menyebabkan tiga mekanisme yaitu: pengurangan waktu kontak dalam usus kecil, pengosongan usus besar yang terlalu cepat, dan pertumbuhan bakteri yang Air di dalam perut yang berfungsi menghancurkan makanan harus terkena epitel usus untuk jangka waktu penyerapan normal dan proses sekresi Jika kontak ini waktu menurun akan menghasilkan diare. Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan penelitian yang terdiri dari skrining fitokimia untuk mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder serta dan potensi antididare ekstrak daun cincau (Stehpania Capitata (Blum. Spren. Gambar 1. Tanaman Cincau AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 42-50, 2019 METODE PENELITIAN Bahan Penelitian Bahan penelitian yang digunakan adalah Pelarut Etanol, oleum ricini, air suling. Na CMC 1% , kertas saring, pereaksi Meyer, pereaksi Dagendroff, metanol, pita magnesium, asam klorida, besi . klorida, asam asetat anhidrat, asam sulfat, kloroform. Alat Penelitian Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Bejana maserasi, oven, rotary evavorator, penangas air, gelas beker, gelas ukur, batang pengaduk, timbangan analitik, spuit, sonde oral, kadang diare. Subjek Penelitian Penelitian menggunakan daun cincau (Stephania Capitata (Blum. Spren. yang diambil dari Kota Samarinda Kalimantan Mencit digunakan adalah mencit putih jantan galur swiss webster. JALAN PENELITIAN Prosedur Pengolahan Sampel Umur daun cincau hijau (Stephania capitata (Blum. Spren. yang digunakan adalah umur daun yang muda dan tua. Tempat pengambilan sampel terletak di kelurahan sungai kapih, pengambilan daun dilakukan pada saat pagi hari. Sampel yang digunakan merupakan sampel kering. Prosedur Ekstraksi Simplisia yang telah dirajang dimasukkan ke dalam wadah toples, lalu diberi cairan pengekstrak berupa etanol sampai simplisia terendam secara sempurna. Proses ekstraksi berlangsung selama 3 x 24 jam, hasil ekstrak disaring menggunakan kertas saring lalu ditampung ke dalam wadah kaca, kemudian simplisia kembali p-ISSN. 2443-115X e-ISSN. direndam dengan menggunakan pelarut etanol yang baru, diulangi proses ektrasksi hingga hasil ekstraksi berwarna bening. Pelarut yang masih terkandung di dalam menggunakan rotary evaporator hingga di dapatkan ekstrak kental. Kemudian pelarut yang masih terkandung di dalam eksrak menggunakan waterbath hingga didapatkan ekstrak kering. Prosedur Pengujian Pengujian Metabolit Sekunder Uji kandungan metabolit sekunder, meliputi uji kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, senyawa fenol, serta steroid dan Pengujian dilakukan dengan menggunakan reagen yang berfungsi untuk mendeteksi kandungan senyawa kimia yang sesuai, yang ada di dalam ekstrak etanol daun cincau. Identifikasi senyawa alkaloid menggunakan pereaksi Dagendroff, reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan jingga coklat, selain itu identifikasi alkaloid juga dapat menggunakan pereaksi Meyer dan reaksi positifnya ditunjukkan dengan terbentuknya endapan putih kuning. Identifikasi senyawa steroid dan triterpenoid dengan menggunakan asam asetat anhidrat, kloroform dan asam sulfat pekat, reaksi positif ditandai dengan terbentuknya warna ungu atau merah kemudian berubah menjadi biru menunjukkan adanya steroid dan Identifikasi senyawa flavonoid dengan menggunakan metanol dan logam Mg, serta asam klorida, reaksi positif ditandai dengan terbentuknya warna merah, kuning atau jingga. Identifikasi senyawa saponin dengan menggunakan air suling dan asam klorida 0,1 N lalu dikocok kuat, reaksi positif ditandai dengan terbentuknya busa stabil maka terbukti adanya saponin. Identifikasi senyawa fenol menggunakan larutan besi . klorida reaksi positif AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 42-50, 2019 ditandai dengan larutan menjadi warna biru atau hitam. Untuk tabung yang memberikan reaksi dan menunjukkan terdeteksi senyawa yang dimaksud maka diberikan keterangan ( ) memberikan reaksi dan tidak terdeteksi senyawa yang dimaksud maka diberikan keterangan negatif (-). Pengujian Antidiare Hewan uji dibagi menjadi lima kelompok yaitu empat kelompok terdiri dari variasi dosis 10 mg/KgBB, variasi dosis 20 mg/KgBB, variasi dosis 30 mg/KgBB, variasi dosis 40 mg/KgBB serta kelompok berikutnya terdiri dari kontrol negatif Na CMC, dimana setiap kelompok terdiri dari lima ekor mencit jantan. Sebelum di beri perlakuan mencit jantan diadaptasikan dahulu selama 1 minggu. Sesaat sebelum diberi perlakuan mencit jantan dipuasakan selama 1 jam, setelah dipuasakan kelompok negative hewan uji dan kelompok treatmen di induksi menggunakan oleum ricini, setelah 30 menit pemberian oleum ricini kemudian untuk kelompok negative diberikan Na CMC, kelompok kedua diberikan ekstrak etanol daun cincau dengan dosis 10 mg/KgBB, kelompok ketiga diberikan ekstrak etanol daun cincau dengan dosis 20 mg/KgBB, kelompok keempat diberikan ekstrak etanol daun cincau dengan dosis 30 mg/KgBB, kelompok kelima diberikan ekstrak etanol daun cincau dengan dosis 40 mg/KgBB Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah diameter serapan, frekuensi diare dan lama penyembuhan ANALISIS DATA Untuk frekuensi dan diameter serapan dianalisis dengan menggunakan uji-t test independent yang dibandingkan dengan kontrol positif . operamid HC. Dosis ekstrak daun cincau kemudian dibandingkan AKADEMI FARMASI SAMARINDA IKA AYU MENTARI dengan kontrol positif yaitu loperamid HCl dengan menggunakan analisis Uji-t test independent untuk mengetahui potensi ekstrak etanol daun cincau sebagai antidiare. HASIL DAN PEMBAHASAN Metabolit Sekunder Metabolit produk non essensial dari tumbuhan, kandungan metabolit sekunder ini berfungsi sebagai perlindungan diri tumbuhan dari serangan parasit atau serangga. Hasil metabolit sekunder yang di uji pada daun cincau (Stephania Capitata (Blum. Spren. adalah alkaloid, fenol, steroid dan triterpenoid serta flavonoid. Hasil uji metabolit sekunder ekstrak daun cincau (Stephania Capitata (Blum. Spren. bisa di lihat di table 1. Cincau (Stephania capitata (Blum. Spren. biasanya ditemukan di Indonesia, terutama di pulau Sumatera. Jawa dan Kalimantan. Tanaman ini sering digunakan oleh orang Indonesia sebagai obat untuk mengobati sakit perut dan demam. Berdasarkan hasil uji metabolit sekunder, daun cincau positif mengandung saponin, fenol, steroid dan triterpenoid. Hasil uji saponin dari ekstrak etanol daun cincau ditunjukkan oleh adanya busa stabil pada Saponin adalah glikosida triterpen dan sterol dan memiliki kemampuan untuk melisiskan sel darah merah. Saponin adalah senyawa aktif yang larut dalam air dan membentuk busa seperti busa sabun, ini karena saponin memiliki struktur hidrofilik dan lipofilik. Ikatan glikosida dalam saponin dapat diputus karena penambahan asam kuat air. Selain menambahkan asam klorida adalah untuk membedakan senyawa koloid dan protein yang terkandung dalam ekstrak, di mana protein juga akan menyebabkan busa saat Protein akan didenaturasi ketika ditambahkan ke asam klorida sehingga dapat membedakan buih dari protein atau saponin. Struktur kimia saponin, phenol dan triterpen dapat dilihat pada JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 42-50, 2019 p-ISSN. 2443-115X e-ISSN. Tabel 1. Hasil uji metabolit sekunder ekstrak daun cincau (Stephania Capitata (Blum. Spren. Metabolit Sekunder Alkaloid Hasil Negatif (-) Positif ( ) Saponin Fenol Steroid/triterpenoid Flavonoid Gambar Gambar 2. Struktur kimia Saponin (A). Phenol (B) dan Triterpen (C). Daun cincau juga menunjukkan hasil positif pada senyawa fenol yang ditandai dengan adanya warna larutan ungu Senyawa fenol adalah senyawa aromatik sehingga semuanya menunjukkan penyerapan UV yang kuat. Uji fenol menggunakan pereaksi besi . klorida dan kemudian membentuk reaksi kompleks dengan fenol yang ditandai dengan warna biru atau biru ungu. Salah satu manfaat fenol AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 42-50, 2019 bagi kesehatan adalah sebagai antioksidan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit degeneratif dan gangguan sistem kekebalan dalam tubuh. Berdasarkan hasil yang telah di uji, ekstrak daun cincau menunjukkan reaksi positif untuk steroid dan triterpenoid. Hasil positif ini ditandai dengan pembentukan cincin merah kecoklatan atau ungu, diikuti oleh larutan hijau atau ungu. Triterpenoid adalah senyawa berstruktur siklik kompleks, senyawa ini ditemukan pada lapisan lilin daun dan buah-buahan yang berfungsi sebagai pelindung untuk melawan serangga dan serangan mikroba, senyawa ini memiliki manfaat sebagai anti jamur, insektisida dan anti bakteri. Steroid adalah senyawa nonpolar karena steroid secara struktural mengandung lipid. Fungsi penambahan kloroform adalah sebagai pelarut untuk senyawa steroid dan triterpenoid, sedangkan fungsi penambahan asam asetat anhidrat adalah untuk membentuk turunan asetil dalam pelarut kloroform, setelah turunan asetil terbentuk bereaksi dengan H2SO4 untuk membentuk reaksi positif yang triterpenoid yang ditunjukkan dengan cincin merah kecoklatan atau ungu dan larutan Spesies cincau lainnya yang biasa digunakan sebagai bahan makanan dan penelitian di Indonesia adalah cincau hijau (Cyclea barbata L. Mier. Cincau hijau (Cyclea barbata L. Mier. mengandung triterpenoid, dan kumarin. Kandungan ini memiliki kemampuan antibakteri E. coli dan Salmonella typhi. Polifenol dalam cincau hijau (Cyclea barbata L. Mier. juga memberikan aktivitas antioksidan dan dapat digunakan sebagai pengawet makanan. Pada Cincau Hijau spesies ((Stephania capitata (Blum. Spren. tidak terkandung adanya senyawa alkaloid, seperti pada spesies Cincau hijau (Cyclea barbata L. AKADEMI FARMASI SAMARINDA IKA AYU MENTARI Mier. , hal ini dikarenakan spesies dari cincau kedua cincau tersebut berbeda sehingga kandungan yang terdapat di dalamnya pun bisa berbeda. Potensi Antidiare Ekstrak Daun Cincau Diameter Serapan Gambar 3. Diameter Serapan (C. Rata-rata dari diameter serapan untuk dosis 10 mg adalah 166,69 cm, pada dosis 20 mg rata-rata diameter serapan feses yaitu 86,1 cm, untuk dosis 30mg/KgBB dan 40 mg/KgBB rata-rata serapan diameter yaitu 60,8 cm dan 28 cm, sedangkan rata-rata diameter serapan Loperamid HCl adalah 24,80 cm. Data rata-rata tersebut diperoleh dari hasil akumulasi setiap 30 menit pengukuran serapan diameter feses hingga feses menunjukkan serapan nol . kemudian data dari diameter serapan Uji-t independent yang dimana setiap dosis akan dibandingkan dengan loperamid HCl. Berdasarkan hasil perhitungan Uji-t test independent didapatkan bahwa untuk dosis 10 mg/KgBB, 20 mg/KgBB, 30 mg/KgBB ttabel 5% < thitung, dan ttabel 1% < thitung, artinya ada perbedaan signifikan ukuran serapan diameter daun cincau untuk dosis 10 mg/KgBB, 20 mg/KgBB dan 30 mg/KgBB terhadap loperamid HCl, dan bisa dilihat dari rata-rata serapan diameter bahwa untuk JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. ,42-50, 2019 dosis 10 mg/KgBB hingga 30 mg/KgBB memiliki perbedaan nyata antara loperamid. Sedangkan untuk dosis 40 mg/KgBB menunjukan ttabel 5% > thitung, ttabel 1% > thitung artinya tidak ada perbedaan signifikan diameter serapan antara dosis 40 mg/KgBB dengan loperamid HCl, hal ini menjelaskan bahwa kemampuan dosis 40 mg/KgBB untuk parameter diameter feses sebanding dengan kontrol positif . operamid HC. IKA AYU MENTARI mg/KgBB, 20 mg/KgBB dan 30 mg/KgBB terhadap loperamid HCl, sedangkan untuk dosis 40 mg/KgBB menunjukan ttabel 5% > thitung dan ttabel 1% > thitung artinya tidak ada perbedaan signifikan frekuensi defikasi antara dosis 40 mg/KgBB dengan loperamid HCl, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan ekstrak etanol daun cincau pada dosis 40 mg/KgBB untuk parameter frekuensi diare sama dengan kontrol positif . operamid HC. Frekuensi Diare . Lama penyembuhan (Meni. Gambar 4. Frekuensi Diare (Kal. Gambar 5. Lama Penyembuhan (Meni. Parameter kedua yaitu frekuensi diare, pengamatan frekuensi diare dilakukan dengan cara menghitung jumlah defikasi mencit dari awal mulai terjadinya diare hingga berhenti diare. Rata-rata dari frekuensi diare yaitu untuk dosis 10 mg/Kg BB 18,40, 20 mg/KgBB rata-rata frekuensinya adalah 15,60, untuk 30 mg/KgBB adalah 10,80, 40 mg/KgBB 7,40 dan terakhir adalah loperamid dengan ratarata frekuensi yaitu 7,80. Data frekuensi ini selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Uji-t test independent. Berdasarkan hasil perhitungan Uji-t test independent . didapatkan bahwa untuk dosis 10 mg/KgBB, 20 mg/KgBB, 30 mg/KgBB ttabel 5% < thitung dan ttabel 1% < thitung, artinya ada perbedaan signifikan untuk frekuensi defikasi daun cincau dosis 10 Gambar 5 menunjukkan bahwa waktu lama penyembuhan dosis 40 mg/kgBB sebanding dengan lama penyembuhan loperamid HCl, sehingga untuk mengetahui perbedaan antara dosis 40 mg/KgBB dan kontrol positif dilakukan analasis Uji-t test Hasil Uji-t test independent antara dosis 40 mg/KgBB dan kontrol positif yaitu thitung > ttabel 5% dan thitung > ttabel 1% artinya tidak ada perbedaan signifikan antara lama penyembuhan diare ekstrak daun cincau pada dosis 40 mg/Kg BB dan loperamid HCl, data tersebut menunjukkan bahwa dosis ekstrak 40 mg memiliki kemampuan penyembuhan yang sama dengan loperamid HCl 2 mg. Dari hasil di atas pada aktivitas antidiare ekstrak etanol daun cincau secara AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 42-50, 2019 penyembuhan diare dan mengurangi frekuensi buang air besar pada dosis 10,20,30 dan 40 mg / kg berat badan juga dapat mengurangi penyerapan diameter buang air besar dengan dosis 20,30 dan 40 mg / kg berat badan. Mekanisme oleum ricini dapat menyebabkan diare adalah ketika diberikan oleum ricini secara oral akan menghasilkan efek pencahar iritan yang dimediasi oleh metabolit aktifnya, selanjutnya asam risinoleat menghasilkan iritasi lokal dan peradangan pada mukosa usus, mekanisme ini dapat melepaskan prostaglandin yang dapat meningkatkan motilitas saluran cerna, bersih sekresi air dan elektrolit. Dalam percobaan ini, ekstrak etanol daun cincau dengan dosis 20,30 dan 40 mg/kg berat badan membuktikan bahwa cincau hijau memiliki aktivitas anti diare. Diduga bahwa kandungan tannin dalam fenol dan terpenoid ikut andil dalam penghambatan gerakan peristaltik. Studi lain menunjukkan bahwa tanin dan asam tannic membentuk tannate yang mengurangi permeabilitas mukosa usus. Dari uraian pembahasan di atas kami percaya bahwa cincau (Stephania capitata (Blum. Spren. juga memiliki aktivitas yang sama dengan cincau hijau (Cyclea barbata L. Mier. dan menyarankan agar penelitian lebih lanjut tentang cincau hijau sebagai anti diarre dalam menyelesaikan masalah dalam pengobatan diare. SIMPULAN Kandungan metabolit sekunder dari ekstrak daun cincau adalah senyawa golongan fenol, saponin, steroid dan Fenol dan triterpenoid di duga kuat sebagai kandungan metabolit sekunder yang mampu menyembuhkan diare. Dosis AKADEMI FARMASI SAMARINDA IKA AYU MENTARI efektif ekstrak etanol daun cincau (Stephania Capitata (Blum. Spren. sebagai antidiare adalah 40 mg/KgBB dengan lama penyembuhan 142 menit. Potensi ekstrak etanol daun cincau 40 mg/KgBB (Stephania Capitata (Blum. Spren. sebagai antidiare sebanding dengan loperamid HCl 2 mg. DAFTAR PUSTAKA