Pembentukan Karakter Berbasis Asrama di SMA Dharma Wanita 1 Pare Firdaus1. Fathiyah Idris2. Radi Ahnaf Prayogi3 Universitas Islam Jakarta1, 2, 3 Email: firdayaya@gmail. ciyyahfor@gmail. rahnafprayogi@gmail. P-ISSN : 2745-7796 E-ISSN : 2809-7459 Abstrak. Sistem pendidikan berbasis asrama adalah salah satu sistem pendidikan karakter yang lebih komprehensif yang dapat digunakan selain pengaturan ruang kelas tradisional. Melalui bantuan sistem ini, anak dapat memperoleh arahan intelektual, moral, dan sosial yang komprehensif, sehingga memudahkan perkembangan karakternya secara keseluruhan. Sistem pendidikan berbasis asrama merupakan salah satu pilihan yang dapat digunakan karena diketahui dapat menumbuhkan suasana yang mendukung pengembangan karakter. Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk memahami secara utuh pelaksanaan proses pembentukan karakter berbasis asrama di SMA Dharma Wanita 1 Pare, maka dari ini saya menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki proses terbentuknya karakter dengan berbasis asrama beserta tantangannya. Berdasarkan hasil penelitian dengan metode wawancara kepada guru dan siswa, dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter berbasis asrama sangatlah efektif dan terjadi perubahan yang significant pada karakter peserta didik, khususnya pada bidang kedisiplinan. Meski pembentukan karakter berbasis asrama ini sangatlah Sistem pendekatan kedisiplinan yang digunakan oleh guru membuktikan sebuah keberhasilan, karena dilihat dari observasi yang peneliti lakukan bahwa peserta didik SMA Dharma Wanita 1 Pare sudah memiliki disiplin. Berdasarkan hasil penelitian mengenai pembentukan karakter berbasis asrama, didapatkan kesimpulan bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan karakter berbasis asrama sangat efektif dalam meningkatkan kedisiplinan siswa. Namun terdapat tantangan yang harus diatasi, seperti mengatur jumlah siswa per pembina asrama dan menumbuhkan motivasi untuk mengatasi rasa malas. Fakta membuktikan metode disiplin guru berhasil, terlihat dari pengamatan hasil kedisiplinan siswa SMA Dharma Wanita 1 Pare. Kata Kunci: Pembentukan Karakter. Asrama. SMA Dharma Wanita http://jurnal. id/index. php/aujpsi DOI : https://doi. org/10. PENDAHULUAN Sejalan permasalahan modern yang menuntut generasi muda memiliki integritas, disiplin, dan kemampuan beradaptasi yang baik, maka komponen pendidikan yang sangat penting. Sistem pendidikan berbasis asrama adalah salah satu metode pendidikan karakter yang lebih komprehensif yang dapat digunakan selain pengaturan ruang kelas tradisional. Dengan bantuan sistem ini, anak dapat memperoleh arahan intelektual, moral, dan Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 1, pp. 213-220, 2025 | 213 Pembentukan Karakter Berbasis Asrama di SMA Dharma Wanita 1 Pare Firdaus. Fathiyah Idris. Radi Ahnaf Prayogi memudahkan perkembangan karakternya secara keseluruhan. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, pendidikan karakter merupakan topik yang Diperlukan suatu metode yang efisien untuk membentuk karakter peserta didik di masa globalisasi dan modernisasi saat ini, karena persoalan moral dan etika semakin rumit. Sistem pendidikan berbasis asrama merupakan salah satu pilihan yang dapat digunakan karena diketahui dapat menumbuhkan suasana yang mendukung pengembangan karakter (Nurdin, 2. Sebagaimana disyaratkan dalam UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, dan bertanggung jawab, maka pembentukan karakter merupakan salah satu hal yang harus tujuan utama pendidikan. Menanggapi pengembangan karakter menjadi tugas lembaga pendidikan maupun keluarga. Sistem pendidikan yang berbasis di asrama, mendukung pengembangan karakter yang ketat, merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan. Dibandingkan dengan belajar di sekolah tradisional, suasana di asrama berbeda. Selain mempelajari materi akademis, siswa di asrama terlibat dalam interaksi sehari-hari dengan teman sebaya dan pengasuhnya. Prinsip moral dan karakter siswa, seperti kerja sama, disiplin, dan tanggung jawab, dapat ditingkatkan melalui kontak sosial ini (Hidayati, 2. Namun sekolah berbasis asrama juga mempunyai kelemahan, seperti bagaimana memastikan bahwa inisiatif yang ada saat ini benar-benar berhasil dalam mendorong pengembangan karakter. Oleh karena itu, untuk mencapai nilai-nilai ideal yang ingin ditanamkan, diperlukan kajian dan inovasi dalam pengelolaan asrama. Generasi muda yang tidak hanya berbakat secara intelektual namun juga tangguh secara moral dan sosial dapat dibentuk oleh SMA Dharma Wanita 1 Pare melalui strategi yang terintegrasi dan berkelanjutan. Berdasrkan hasil data tinjauan internal di SMA Dharma Wanita 1 Pare, siswa asrama dapat menunjukkan tingkat tanggung jawab dan kedisiplinan yang lebih tinggi dibandingkan siswa non-asrama. Namun hasil-hasil ini tidak tersebar secara merata di seluruh aspek pengembangan karakter. Beberapa anak masih memerlukan dukungan kemandirian dan pengendalian diri mereka. Oleh karena itu, untuk memastikan bahwa program pembangunan karakter berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, diperlukan peninjauan berkala. METODE Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan kualitatif, dengan metode data seperti wawancara, dan dokumentasi. Untuk memahami secara utuh pelaksanaan proses pembentukan karakter berbasis asrama di SMA Dharma Wanita 1 Pare, maka dari ini saya menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian menyelidiki proses terbentuknya karakter dengan berbasis asrama beserta tantangannya. Informasi yang dikumpulkan diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana pembentukan karakter dengan berbasis asrama. Waktu dan Lama penelitian ini diperkirakan sekitar 3 bulan, dimulai dari Desember Ae Februari 2025 Lokasi Penelitiannya adalah di SMA Dharma Wanita 1 Pare yang beralamat di Jalan Ahmad Yani No. 1 Pare Ae Kediri Jawa Timur. Dalam penelitian tentang pembentukan pengumpulan data yang sesuai dengan pendekatan yang digunakan yaitu : Wawancara Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 1, pp. 213-220, 2025 | 214 Pembentukan Karakter Berbasis Asrama di SMA Dharma Wanita 1 Pare Firdaus. Fathiyah Idris. Radi Ahnaf Prayogi Suatu metode dimana subjek dan peneliti bertemu dalam suatu situasi pada saat proses memperoleh informasi melalui proses tanya jawab lisan satu arah. Observasi Teknik pengumpulan data melalui observasi dan disertai berbagai rekaman kondisi atau perilaku subjek sasaran. Catatan Lapangan Teknik pengumpulan data untuk mencatat observasi, peristiwa, dan informasi lainnya selama penelitian. Berikut teknik-teknik analisis data yang peneliti gunakan : Pengumpulan Data Peneliti mengumpulkan data dari lokasi penelitian melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan menggunakan strategi yang dianggap tepat oleh peneliti dan menitikberatkan pada proses pengumpulan Reduksi Data Reduksi data adalah proses seleksi, mengalihkan perhatian pada penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data yang diperoleh dari berbagai catatan tertulis di Selama kegiatan pengumpulandata berlangsung, kegiatan reduksi data akan terus Saat pengumpulan data sedang langkah-langkah Sedang . eringkas, mengkode, pelacakan tema, pengelompokan, penilaian, mencata. Reduksi data dan transformasi proses tercakup mulai seorang peneliti melangkah ke lapangan. Penyajian Data Penyajian data adalah sekumpulan informasi yang menarik kesimpulan dan memberikan kesempatan untuk bertindak. Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah menyajikan data yang diperoleh Penarikan Kesimpulan Analisis data terakhir adalah menarik kesimpulan, dan ini adalah poin terpenting. Triangulasi Triangulasi memeriksa kebenaran data atau informasi yang diperoleh seorang peneliti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan cara meminimalisir bias-bias yang timbul pada saat pengumpulan dan analisis data. Menurut Norman K. Denkin dalam (Rahardjo, 2. , triangulasi meliputi empat hal, yaitu: . triangulasi metode, . triangulasi antar-peneliti . ika penelitian dilakukan dengan kelompo. , . triangulasi sumber data, dan . triangulasi teori. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi sumber data. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendekatan Pembentukan Karakter Berbasis Asrama Berdasarkan hasil observasi yang telah peneliti lakukan di SMA Dharma Wanita 1 Pare, diketahui bahwasannya SMA Dharma Wanita 1 Pare memiliki program unggulan yaitu boarding school atau asrama. Dalam program asrama tersebut. SMA Dharma Wanita 1 Pare berusaha menerapkan pendidikan karakter pada peserta didiknya. Penerapan pendidikan karakter tersebut melalui proses yang cukup panjang. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bidang kurikulum tentang bagaimana proses pembentukan karakter di asrama SMA Dharma Wanita 1 Pare, sebagai berikut : AuJadi, sebelum anak Ae anak masuk kesini itu kita test psikologi. Kita punya karakternya, yang punya karakter agresif atau suka berantem itu kita tidak satukan jadi satu asrama, ditakutkan nanti berantem. Terus, tidak juga kita satukan satu kelas. Jadi data psikologi, ketika anak Ae anak masuk itu sebagai data pembagian asrama, pembagian kelas, dan sebagainya. Jadi record ketika anak mendapatkan masalah kita lihat dari data psikologi anak ketika mereka masuk kesiniAy. (Riziq. Wawancara, 08 Januari 2. Dari hasil analisis wawancara tersebut dapat diketahui bahwa proses pembentukan karakter dimulai dari saat pendaftaran masuk, pihak sekolah meminta data psikolog atau Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 1, pp. 213-220, 2025 | 215 Pembentukan Karakter Berbasis Asrama di SMA Dharma Wanita 1 Pare Firdaus. Fathiyah Idris. Radi Ahnaf Prayogi pembagian asrama dan kelas peserta didik sesuai dengan kompetensi psikologi setiap Kemudian, dilakukan dengan berbagai pendekatan. Didapatkan dari hasil wawancara dengan guru bidang kurikulum SMA Dharma Wanita 1 Pare sebagai berikut : AuApendekatannya adalah kekeluargaan. Jadi, anak Ae anak ketika pulang sekolah, aktivitasnya seperti di rumah. Dimana disini juga namanya system house. Jadi, ada kakaknya, adeknya, orangtuanya juga. Dimana itu kalau kakak atau adeknya punya masalah jadi ceritanya sama kakaknya. Kalo yang dalam 1 keluarga itu punya masalah ceritanya sama yang sebagai gurunya atau orang tuanya. Karena anak Ae anak diajarkan bagaimana dalam keluarga yang sehat, keluarga yang menghargai yang kecil yaa mungkin seperti itu. Jadi pendekatannya bukan secara pesantren atau secara militer tapi secara kekeluargaan, jadi seperti dirumahAy. (Riziq. Wawancara, 08 Januari 2. Namun, memerlukan yang Namanya penerapan. Dalam hasil wawancara dengan salah satu peserta didik di SMA Dharma Wanita 1 Pare, didapatkan sebagai berikut : AuMenurut saya yang bisa membentuk karakter seseorang, kalau dilihat dari diri saya kedispilinannya, lingkungannya, pembinanya dan guru Ae gurunya juga. Jadi kedisiplinan di asrama dimulai dari bangun pagi dan ke keluargannya harus dieratkan, lalu para siswa Ae siswa tebentuk lah karakternya. Disini kita diajarkan ke keluargaan bagaimana hidup berdampingan, karna kita ini mahkluk sosial pasti kita hidup membutuhkan orang lain, lalu dari pembinanya dalam peraturan memberikan bimbingan secara tegas, tegasnya itu untuk merubah diri kita dan mereka juga terbuka untuk kitaAy. (Arista. Wawancara, 08 Januari 2. AuMungkin dari pahaman saya dari yang pertanyaannya tadi, itu disini ada seumpama kedisiplinan, kita itu menata lemari sesuai dengan PUDD. Jadi, suatu waktu dormitori itu bisa mengecek kalau lemari tidak rapi, terus asramanya tidak bersih. Mereka bisa biasanya, pernah dikeluarkan. Biar tujuannya itu siswanya bisa menata kembali. Jadi yang awalnya tidak rapi menjadi lebih rapi lagi. Kita di sini sedikit Ae sedikit mulai bisa terbiasa. Lalu ada semacam kayak mau izin keluar itu biasanya harus izin dulu ke dormitoryAy. (Arista. Wawancara, 08 Januari 2. Dari pembentukan karakter peserta didik di asrama memerlukan pendekatan. Di SMA Dharma Wanita 1 Pare ini menggunakan pendekatan kekeluargaan. Selain itu, pendekatan tersebut diterapkan dengan menerapkan nilai Ae nilai kedisiplinan seperti wajib bangun pagi, merapikan lemari sesuai PUDD, dan wajib izin ke dormitory ketika ingin keluar dari asrama. Asrama SMA Dharma Wanita 1 Pare ini sangat memfokuskan kepada penerapan nilai Ae nilai kedisiplinan untuk membentuk karakter peserta didik yang disiplin. Guru menilai bahwa pembentukan karakter berbasis asrama dimulai dari pendekatan secara kekeluargaan dan tanpa Pendekatan secara kekeluargaan dilakukan dalam program Ae program sekolah seperti camping, masak bersama, makan bersama dan sebagainya. Sedangkan, pendekatan tanpa hukuman itu hanya berlaku untuk beberapa bidang. Apabila terdapat bidang yang memerlukan hukuman, maka hukuman yang diberikan tidak berupa fisik, melainkan hal yang bermanfaat. Dari siswa, mereka merasa bahwa pendekatan yang dilakukan oleh gurunya ialah merangkul siswa Ae siswinya dan merasa bahwa pendekatan yang dilakukan oleh gurunya ialah pendekatan kedisiplinan. Selain itu, siswa juga merasa bahwa asrama merupakan tempat yang cocok untuk pembentukan karakter siswa sebab adanya Nilai Karakter yang Menjadi Faktor Pembinaan Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 1, pp. 213-220, 2025 | 216 Pembentukan Karakter Berbasis Asrama di SMA Dharma Wanita 1 Pare Firdaus. Fathiyah Idris. Radi Ahnaf Prayogi Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bidang kurikulum, didapatkan hasil sebagai berikut : AuKita makannya harus bersama, itu juga ada SOP nya. Harus habis juga lauknya, terus kegiatan agama juga ada. Jadi, ketika pulang sekolah, bersih diri, mandi, dan sebagainya. Habis itu sholat jamaAoah, sholat maghrib bagi yang beragama Islam, yang beragama non muslim bisa membaca kitab nya mereka. Lalu ada study map artinya mempelajari mata pelajaran yang baru mereka dapatkan di sekolah dan yang akan mereka pelajari. Setelah study map, istirahat. Juga besok paginya senam masuk ke KBM, sabtunya ada full ekstrakulikuler. Kalau minggu free, mereka bisa main sama temennya, bisa masak bareng sama housenya. Biasanya mereka ada masak Ae masak jagung atau bersih secara besar, bersihkan kasur dan ada juga jadwal untuk nyuci baju sendiri dan sebagainya. Kebetulan di sekolah kami ini ada car free day (CFD) kalo setiap hari minggu, itu boleh keluar dengan catatan harus pakai baju seragam sekolah atau seragam olahraga biar kita mudah mengenali terus di dampingi sama house advisiorAy. (Riziq. Wawancara, 08 Januari 2. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan beberapa siswa sebagai berikut : AuMenurut saya mungkin tidak jauh berbeda dengan pendapatnya Daniel. Jadi, menurut saya guru Ae guru disini itu pembinaan karakter untuk siswa, baik mulai dari cara mereka dalam Itu lah yang saya rasakan ketika di kelas, ada pembelajaran materi yang kurang paham saya tanya ke mereka itu selalu dijawab meskipun saya mungkin tipe orang yang gampang ingat, gampang lupa. Nah itu biasanya saya saat hari ini tanya itu ke mereka dijelaskan, terus dikemudian hari pada waktu mapel itu sendiri itu saya tanya lagi ketika saya lupa. Menurut saya guru Ae guru di sekolah dan di asrama berbeda diantaranya yakni, berbedanya itu di asrama saya memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin ketika ada sesuatu barang yang hilang itu di laporkan kepada pembimbing asramaAy. (Arista. Wawancara, 08 Januari 2. AuKalau menurut saya itu guru di sini itu asik banget. Soalnya itu juga dari cara mengajarnya itu udah modern, udah pake proyektor dan sebagainya. Jadi itu kita gak bosan, terus kalau ngantuk itu gurunya juga langsung respect gitu, ayo ice breaking gitu. Jadi lebih memudahkan kita, nggak bosen. Kadang itu juga keluar, ada perpetualang, scan kode, nyari kode gitu, asik gitu auto games-nya. Jadi nggak bikin bosen, belajar itu selalu fresh gitu. Kalau pembimbing yang di asrama itu menurut saya lebih kearah disiplin dan tanggung jawab, karena nanti ada waktunya bercanda tapi diusahakan disiplin. Gurunya juga sifatnya semacam merangkul, jadi tidak ada pilih kasihAy. (Silvia. Wawancara, 08 Januari 2. Berdasarkan hasil analisis wawancara, dapat diketahui bahwa nilai Ae nilai karakter yang menjadi faktor dalam pembinaan karakter di asrama SMA Dharma Wanita 1 Pare ialah nilai Ae nilai agama yang diterapkan kepada peserta didiknya dengan melalui pembiasaan sholat berjamaAoah. Selain itu, nilai Ae nilai karakter lainnya yang diterapkan ialah kedisiplinan, baik dalam bidang makan, belajar, maupun kebersihan kamar masing Ae masing peserta didik. Serta rasa tanggung jawab terhadap apa pun yang dimiliki oleh masing Ae masing peserta didik. Faktor Pendukung Pembentukan Karakter Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada guru bidang kurikulum, didapatkan informasi sebagai berikut : AuYang mendukung, alhamdulillah kita juga punya konsultan ada titik ukur ada nilai Ae nilai apa aja yang harus di perkuat, terus bagaimana Konsultan itu juga sudah berasrama juga, jadi kita juga banyak dapat informasi dari sana. Ketika mereka ada masalah itu larinya kemana, kesiapa, solusinya Sebenarnya kalo semua aspirasinya tersampaikan terus ada solusi, mungkin tidak akan menimbulkan masalah yang besar. Jadi kita meminimalkan dan diasrama itu identik dengan System house itu kita kuatkan, jadi sesama anak Ae anak itu sesama keluarganya, kakaknya ke adeknya itu lebih bisa cerita banyak ke house advisiornya untuk menghindari yang namanya bullying tadiAy. (Riziq. Wawancara, 08 Januari 2. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 1, pp. 213-220, 2025 | 217 Pembentukan Karakter Berbasis Asrama di SMA Dharma Wanita 1 Pare Firdaus. Fathiyah Idris. Radi Ahnaf Prayogi Dari hasil analisis data wawancara diatas, dapat diketahui bahwa faktor pendukung pembentukan karakter di SMA Dharma Wanita 1 Pare ialah adanya konsultan yang dihadirkan oleh pihak sekolah untuk peserta didiknya agar dapat mengkonsultasikan masalah yang dialaminya. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada salah satu siswa SMA Dharma Wanita 1 Pare, sebagai berikut : AuDisini mempunyai visi misi yaitu interprenership atau kewirausahaan banyak program-program yang di rancang dari beberapa organisasi contoh nya osis. PIK-R dan serta juga ada ekstrakurikuler yang lainnya untuk mengembangkan bakat minat siswa serta berbahasa InggrisAy. (Arista. Wawancara, 08 Januari 2. Dari hasil analisis wawancara diatas, diketahui bahwa yang menjadi pendukung dalam pembentukan karakter di SMA Dharma Wanita 1 Pare selain adanya konsultan, ialah adanya program Ae program yang dirancang oleh beberapa organisasi sekolah, seperti OSIS dan PIK-R. Perubahan Karakter Siswa Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada guru dan siswa SMA Dharma Wanita 1 Pare, didapatkan sebagai AuKalo pertama mungkin mindset mereka dulu, mereka yang sebelumnya takut untuk bercita Ae cita, disini mereka memiliki cita Ae cita yang sangat tinggi. Dari cita Ae cita yang tinggi itu akhirnya karakter yang mereka lakukan sehari Ae hari juga akan berubah. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu, disiplin. Waktunya belajar ya belajar, waktunya bermain ya bermain. Mungkin dirumah mereka sangat dimanja, disini mereka harus mencuci baju sendiri, merawat diri sendiri, kalo mereka tidak disiplin dan bersih diri, maka akan satu asrama dapat terpengaruh. Jadi secara tidak langsung mereka didorong untuk membersihkan diri. Karena mereka hidup berkoloni yaa istilahnya atau berkelompokAy. (Riziq. Wawancara, 08 Januari 2. AuPerubahan dari diri perkembangan diri saya yang menonjol yaitu saya disini merasa lebih rajin dalam mungkin pada waktu dikelas, yang dulunya saya sempet waktu SMP itu kaya mau, waktu pembelajaran dikelas, saya tertidur Disini juga pernah tertidur dikelas, tapi disemester 2 ini saya ingin mengurangi itu. Terus, lebih banyak mencatat juga, terus disini kan juga diajarkan mandiri, itu saya juga merasakan perkembangan diri saya disitu dari seperti Daniel tadi, mencuci sendiri, lalu menata lemari sendiri, terus dan membersihkan rumah, yang dulu biasanya dirumah yang bangun malas Ae Disini, kita perlahan Ae lahan diajarkan oleh lingkungan untuk bangun pagi. Dari situ saya juga mulai terbiasa dan munculnya perkembangan diri saya disini banyakAy. (Arista. Wawancara, 08 Januari 2. AuTidak jauh jawabannya dari arista, kita bisa mandiri yang paling kerasa itu saya bisa mengembangkan public speaking saya yang awalnya saya dirumah jarang berbicara / Disekolah ini jadi lebih lancar public speakingnya, dan juga saya mendapatkan banyak ilmu bahasa inggris dan sebagainya. Itu sangat berharga banget bagi saya dan juga apalagi disini itu diberi uang saku perbulan, dan kita juga bisa belajar mengatur keuangan, uang yang diberikan harus cukup untuk memberi peralatan dan keperluan pribadi dengan jumlah Rp. 000 per bulan. Dan juga saya anaknya individual disini saya belajar banyak tentang kekeluargaan pentingnya menurunkan ego dan menghormati sesama lainAy. (Silvia. Wawancara, 08 Januari 2. Dari didapatkan hasil analisis bahwa pengaruh dari pembentukan karakter yang ada di asrama sangat significant bagi peserta didik. Pengaruh tersebut dapat dirasakan baik di asrama maupun di rumah peserta didik itu Berdasarkan hasil penelitian dengan metode wawancara kepada guru dan siswa, dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter berbasis asrama sangatlah efektif Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 1, pp. 213-220, 2025 | 218 Pembentukan Karakter Berbasis Asrama di SMA Dharma Wanita 1 Pare Firdaus. Fathiyah Idris. Radi Ahnaf Prayogi dan terjadi perubahan yang significant pada karakter peserta didik, khususnya pada bidang kedisiplinan. Meski pembentukan karakter berbasis asrama ini sangatlah efektif, tetap terdapat tantangan yang perlu diatasi oleh pihak sekolah dan siswa, seperti : Pembagian jumlah siswa pada setiap pembina asrama, yang dapat diatasi pembagian siswa kepada setiap pembina . Mengatur segala perasaan dan pikiran serta rasa malas yang terjadi pada siswa dengan menanamkan nilai semangat pada diri siswa. Sistem pendekatan kedisiplinan yang digunakan oleh guru membuktikan sebuah keberhasilan, karena dilihat dari observasi yang peneliti lakukan bahwa peserta didik SMA Dharma Wanita 1 Pare disiplin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembentukan karakter berbasis asrama dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan kedisiplinan siswa. Oleh karena itu, sekolah perlu mempertimbangkan penguatan sistem asrama, seperti optimalisasi jumlah siswa per pembina asrama untuk memaksimalkan pengawasan dan bimbingan. Selain itu, diperlukan program khusus untuk menanamkan motivasi dan semangat pada siswa untuk mengatasi rasa malas. Keberhasilan menunjukkan bahwa metode serupa dapat meningkatkan karakter dan kedisiplinan KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai pembentukan karakter berbasis asrama, didapatkan kesimpulan bahwa : Pembentukan karakter berbasis asrama diterapkan di SMA Dharma Wanita 1 Pare dimulai dari menginput data psikologi peserta didik pada saat awal masuk atau saat Dalam penerapannya pun cukup banyak nilai Ae nilai karakter yang difokuskan, diantaranya adalah kedisiplinan. Nilai Ae nilai karakter yang menjadi faktor dalam pembinaan ialah nilai agamis, kedisiplinan, sosial, dan sebagainya. Faktor pembentukan karakter di asrama adalah adanya konsultan yang bersedia membantu mencari solusi dari setiap permasalahan peserta didik. Faktor penghambat dalam pembentukan karakter di asrama ialah pembagian peserta didik kepada setiap pembina, membuat pembinas asrama mengalami kesulitan dalam mengawasi peserta didik. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan karakter berbasis asrama sangat efektif dalam meningkatkan Namun tantangan yang harus diatasi, seperti mengatur jumlah siswa per pembina asrama dan menumbuhkan motivasi untuk mengatasi rasa malas. Fakta membuktikan metode disiplin guru berhasil, terlihat dari pengamatan hasil kedisiplinan siswa SMA Dharma Wanita 1 Pare. DAFTAR PUSTAKA