Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Analisis Perencanaan Disaster Recovery Plan Pada Galeri Nasional Indonesia Wulan Shafarila Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Isa Khairunnisa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Muhammad Daryl Dianry Bakri Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Davindra Rafif Febrian Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Kelvansyah Maheswara Hermawanto Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Fryzel Revianto Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Email: dwifajar@upnvj. ABSTRAK Di tengah era digital, institusi budaya seperti Galeri Nasional Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga kesinambungan layanan informasi dan perlindungan aset digital seni rupa. Ketergantungan terhadap sistem teknologi informasi membuat lembaga ini sangat rentan terhadap berbagai ancaman seperti serangan siber, bencana alam, dan kegagalan sistem internal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis kesiapan Galeri Nasional Indonesia dalam merancang dan menerapkan Disaster Recovery Plan (DRP) berbasis standar NIST SP 800-34 sebagai upaya sistematis untuk mengurangi risiko kehilangan data dan gangguan layanan. Pendekatan penelitian yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif eksploratif, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Galeri Nasional Indonesia telah melakukan beberapa langkah preventif seperti backup manual, pengembangan sistem informasi internal, dan penggunaan server mandiri. Namun, belum tersedia kebijakan DRP resmi yang terdokumentasi secara komprehensif. Berdasarkan temuan tersebut, disimpulkan bahwa Galeri Nasional Indonesia perlu segera menyusun kebijakan formal DRP yang mencakup klasifikasi aset kritis, strategi pemulihan sistem, dan pelatihan kesiapsiagaan staf. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi institusi budaya lain dalam merancang kebijakan keamanan informasi dan ketahanan digital di sektor Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Kata kunci: Disaster Recovery Plan. Galeri Nasional Indonesia. NIST SP 80034. Keamanan Informasi. Aset Digital Budaya. Ketahanan Sistem. ABSTRACT In the digital era, cultural institutions such as the National Gallery of Indonesia face major challenges in ensuring the continuity of information services and the protection of digital art assets. With high dependency on information technology systems, the institution becomes increasingly vulnerable to threats such as cyberattacks, natural disasters, and internal system failures. This study aims to evaluate the readiness of the National Gallery of Indonesia in designing and implementing a Disaster Recovery Plan (DRP) based on the NIST SP 800-34 standard as a systematic approach to minimize data loss and service disruption. The research applies a qualitative descriptive-explorative approach, utilizing in-depth interviews, field observations, and document analysis for data collection. The findings reveal that while the institution has taken several preventive measures, including manual data backups, internal information system development, and independent server use, it still lacks a formally documented DRP policy. The study concludes that the Gallery must urgently formulate a formal DRP that includes asset criticality classification, structured system recovery strategies, and disaster preparedness training for This research is expected to serve as a reference for other cultural institutions in developing effective information security policies and enhancing digital resilience in the public sector. Keywords: Disaster Recovery Plan. National Gallery of Indonesia. NIST SP 800-34. Information Security. Digital Cultural Assets. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 PENDAHULUAN Di era digital saat ini, institusi budaya seperti Galeri Nasional Indonesia memegang peran krusial dalam pelestarian karya seni bernilai tinggi dan Untuk menjalankan fungsinya secara optimal. Galeri Nasional Indonesia sangat bergantung pada dukungan teknologi informasi (TI), mulai dari pengelolaan koleksi digital, transaksi internal, hingga pelayanan kepada pengunjung. Namun, ketergantungan tersebut juga membawa kerentanan yang serius terhadap berbagai gangguan sistem, baik dari sisi teknis seperti kerusakan perangkat keras dan lunak maupun non-teknis, termasuk serangan siber dan bencana alam Ketidaksiapan institusi dalam menghadapi insiden-insiden tersebut dapat menimbulkan konsekuensi serius, seperti gangguan operasional yang berkepanjangan . , hilangnya data koleksi yang bersifat unik dan tidak tergantikan, terganggunya layanan publik, serta kerusakan reputasi lembaga secara menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan adanya Disaster Recovery Plan (DRP). Proses pemutakhiran DRP harus terstruktur dan terkendali dan setiap perubahan dalam rencana tersebut harus diuji di bawa kendali Direktur Teknologi Informasi (Sardjono. Perdana, & Putra, 2. Untuk menjawab tantangan ini, penelitian ini mengusulkan penerapan pendekatan NIST SP 800-34 yang dikembangkan oleh National Institute of Standards and Technology (NIST). Kerangka ini terdiri dari tujuh tahap penting, yaitu: . penyusunan kebijakan perencanaan kontingensi, . analisis dampak bisnis, . identifikasi kontrol pencegahan, . pembuatan strategi kontingensi, . pengembangan rencana kontingensi, . pengujian dan pelatihan, serta . pemeliharaan rencana (NIST, 2. Pendekatan ini ditujukan untuk memberikan perlindungan menyeluruh dari insiden TI dan menjaga stabilitas operasional lembaga, khususnya dalam pelestarian warisan budaya bangsa Indonesia. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kesiapan Galeri Nasional Indonesia dalam menghadapi bencana serta insiden digital serta mengkaji bagaimana standar NIST SP 800-34 dapat diterapkan secara kontekstual dalam merancang strategi rencana pemulihan bencana (Disaster Recovery Pla. yang sesuai. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi aset-aset informasi yang bersifat kritis, merumuskan prioritas pemulihan, serta menyelenggarakan pelatihan kesiapsiagaan bagi staf terkait FIPS 199 yang mengklasifikasikan sistem informasi berdasarkan tingkat dampak insiden . endah, sedang, tingg. Klasifikasi ini menjadi dasar dalam menentukan langkah perlindungan dan strategi pemulihan yang sesuai dengan potensi risiko. Selain itu, pendekatan ini juga didukung oleh teori manajemen risiko dan pengawasan internal, yang sangat relevan dalam konteks lembaga publik. Melalui Galeri Nasional Indonesia menghadapi krisis digital serta model DRP yang dapat dijadikan rujukan bagi Indonesia. Dengan internasional yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Galeri Nasional Indonesia diharapkan mampu meningkatkan resiliensi informasinya dan menjadi contoh bagi sektor kebudayaan nasional dalam hal perencanaan dan evaluasi pemulihan bencana digital. METODE Pelaksanaan kegiatan penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mendeskripsikan secara mendalam keberadaan serta implementasi Disaster Recovery Plan (DRP) Galeri Nasional Indonesia kesiapsiagaan institusi dalam menghadapi risiko bencana, baik alamiah seperti banjir dan gempa bumi, maupun non-alamiah seperti kebakaran. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 gangguan listrik, dan kerusakan sistem digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif eksploratif, yaitu suatu pendekatan yang bertujuan untuk memahami fenomena secara mendalam melalui interaksi langsung dengan subjek yang diteliti (Creswell, 2. Objek dalam penelitian ini adalah Galeri Nasional Indonesia, yang merupakan institusi pemerintah di bawah Kementerian Kebudayaan, yang memiliki tanggung jawab dalam pelestarian dan pengelolaan karya seni rupa Informan pengetahuan dan keterlibatan langsung dengan kebijakan dan operasional Galeri Nasional Indonesia. Informan tersebut adalah Bayu Genia Krishbie sebagai Penanggung Jawab Unit Galeri Nasional Indonesia, serta Jarot Mahendra sebagai Pamong Budaya, yang keduanya memiliki peran penting dalam pelaksanaan kebijakan perlindungan koleksi dan mitigasi risiko Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur dengan harapan peneliti mengeksplorasi topik secara fleksibel namun terarah. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis interaktif dari Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang terdiri dari tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan untuk menyaring informasi penting dan relevan dari wawancara. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif. Kesimpulan ditarik berdasarkan pola dan tema yang muncul dari data dan kemudian diverifikasi melalui proses member check kepada informan untuk memastikan akurasi Dengan menggunakan pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh dan komprehensif mengenai bagaimana Galeri Nasional Indonesia menangani gangguan atau bencana terhadap sistem informasi dan koleksi seni tanpa adanya dokumen Disaster Recovery Plan (DRP), serta menganalisis langkah-langkah yang diambil sebagai bagian dari strategi pelestarian koleksi seni dalam menghadapi risiko bencana. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 HASIL DAN PEMBAHASAN Galeri Nasional Indonesia adalah museum seni rupa modern dan kontemporer di bawah naungan Kementerian Kebudayaan melalui unit Museum Cagar Budaya (MCB) bertransformasi menjadi Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (BLU MCB) bersama dengan 9 museum dan 34 cagar budaya lainnya yang ada di Indonesia. Galeri Nasional Indonesia berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur No. 14 Gambir. Jakarta Pusat. Pada tahun 1998 Galeri Nasional Indonesia secara resmi dipecah dari Museum Nasional dan didirikan pada 8 Mei 1999 dan diresmikan operasionalnya setahun setelahnya hingga kini koleksi Galeri Nasional Indonesia berfokus pada karya seni lukisan, fotografi, purbakala/artefak kebudayaan. Identifikasi Layanan/Aset Galeri Nasional Indonesia Menurut Nurhadi . Pelayanan adalah rangkaian kegiatan tak kasat mata yang terjadi akibat interaksi antara karyawan dengan konsumen tujuannya untuk memecahkan masalah konsumen yang layanan/perusahaan. Galeri Nasional Indonesia memiliki layanan fisik yang melibatkan interaksi langsung konsumen/pengunjung. Galeri Nasional Indonesia memiliki fasilitas Gedung Pameran yang terdiri dari 3 gedung, yaitu gedung A. B dan D yang difungsikan sebagai gedung untuk pameran tetap dan pameran temporer . how khusu. Pameran temporer adalah pameran yang sifatnya tidak tetap dan lama pamerannya bervariasi. Kurun waktu lama pameran dapat berlangsung 1 hingga 3 bulan tergantung Tak hanya itu. Galeri Nasional Indonesia memiliki layanan perpustakaan sebagai salah satu sarana edukasi untuk membantu pelajar maupun mahasiswa seni rupa untuk keperluan riset, skripsi ataupun tesis. Selain itu, layanan perpustakaan Galeri Nasional Indonesia juga didukung dengan program edukasi lainnya seperti seminar dan workshop. Selain layanan dalam bentuk fisik. Galeri Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Nasional Indonesia juga memiliki layanan digital seperti website yang beralamat di gni. id yang berisi informasi mengenai koleksi seni Galeri Nasional Indonesia pameran atau kegiatan edukatif yang sedang berlangsung, dan lainnya. Tabel 1. Layanan Galeri Nasional Indonesia No. Jenis Aset/Fasilitas Fisik Deskripsi Koleksi karya seni rupa ukisan, patung, dl. Gedung pameran (A. B, dan D) Perpustakaan Ruang arsip koleksi/dokumen Artshop (Galnasho. Aset/Fasilitas Digital Arsip koleksi & pameran digital . udul, seniman, dl. serta dokumen penting Website Galeri Nasional Indonesia Raw data di Microsoft Office Sistem manajemen koleksi (The Museum System (TMS)) Sistem ticketing online (Traveloka & MOKA (OTS)) Server penyimpanan Layanan Fisik Pameran tetap & temporer Aktivitas komunitas (KamiSkets. Pembelian merchandise di Galnashop Program edukasi . eminar, workshop & perpustakaa. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Pembelian tiket On The Spot (OTS) Layanan Digital Virtual tour pameran 360A Layanan website . nformasi katalog koleksi seni, pameran yang sedang berlangsung, kegiatan edukasi, informasi kunjungan registrasi online dan pengajuan proposal Pembelian tiket online melalui platform Traveloka Arsip digital/dokumentasi koleksi & pameran Komunikasi layanan pengunjung via chatbot/email Identifikasi dan Penilaian Risiko Identifikasi Risiko Proses identifikasi risiko mencakup risiko yang berada di dalam dan di luar kendali tim Galeri Nasional Indonesia. Pengidentifikasian ini dilakukan secara komprehensif, dilakukan tiga bagian yaitu pada bencana/ancaman, sumber risiko, dan Identifikasi ini berguna untuk melihat dan menentukan ancaman risiko apa saja yang paling berpotensi terjadi, menyerang bahkan mengganggu aset-aset penting Galeri Nasional Indonesia. Bencana dan Risiko Keamanan Bencana tiba-tiba direncanakan yang dapat menyebabkan kerusakan dan Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Ancaman merupakan sesuatu atau kejadian kerusakan, atau dampak negatif lainnya dan dapat berasal dari faktor alami maupun buatan manusia. Sedangkan risiko adalah kemungkinan yang muncul akibat dari suatu ancaman yang menyebabkan kerugian ataupun dampak Tabel 2. Jenis Bencana dan Risiko No. Bencana/ Risiko Aset Terdampak Ancaman Bencana Alam (Natur. Banjir Gedung Kebakaran perkantoran/gedung Gempa Bumi pameran, koleksi & dokumen, komponen komputer, sarana dan Bencana Gangguan Kerusakan alat-alat Lingkungan/Te Server listrik, jaringan, database Arus Listrik koleksi dan komponen (Environmen. Kesalahan Vandalisme Database koleksi. Manusia Cyber Attack kebocoran informasi, (Human Erro. encurian data, kehilangan dan kerusakan koleksi serta Penilaian Risiko (Risk Assessmen. Menurut Sitorus, et al. Penilaian risiko adalah proses sistematis untuk memahami sifat dan tingkat risiko yang dapat mengganggu operasi bisnis. Penilaian risiko pada penelitian ini digunakan untuk mengidentifikasi ancaman yang dapat mempengaruhi aset serta layanan Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 yang paling diutamakan di Galeri Nasional Indonesia. Berikut merupakan penilaian terhadap layanan/aset yang dinilai berdasarkan hasil dari wawancara. Tabel 3. Identifikasi Risiko Aset/Layanan Galeri Nasional Indonesia No Aset/Layanan Ancaman Risiko Sumber Risiko Konsekuensi Koleksi karya Kesalahan Koleksi Kurang Kerugian seni rupa Human suhu, sistem karya tingg. Error andalism keamanan yang dokumen dl. Arsip fisik Bencana Banjir. Hujan deras. Kerusakan koleksi fisik, pameran serta tidak ideal Arsip digital Kesalahan Hilang/ter Penginputan Koleksi sulit hapus/tida data tidak diidentifikasi/di Human k terdata konsisten dan . dapat terjadi tema pameran Sistem Ancaman Serangan Malware. Kehilangan koleksi (The (Human e, data staf/orang yang koleksi, biaya Museum Erro. yang tinggi dan Syste. & Raw data . ile pemulihan yang Excel atau Microsoft Offic. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Server Bencana Overheat. Perubahan Perangkat Lingkung keras rusak, an/Teknis . endingin corrupt/kehilan rusa. , jaringan gan data secara tidak aman listrik/kabel yang telah lama Website Galeri Ancaman Website Serangan Gangguan Nasional jaringan, traffic akses website. Indonesia (Human dan layanan Erro. DDoS Sistem Risiko Perubahan Perubahan Terganggunya sistem, sistem (Bencana API payment Tekni. gateway error Kebijakan Perencanaan Kontingensi Kebijakan Kontingensi adalah penentuan sebuah kebijakan yang strategis yang dirancang untuk menanggulangi risiko yang mungkin akan terjadi dimasa mendatang. Rancangan ini dibuat untuk membantu instansi dalam merespons bencana/insiden negatif supaya lebih efektif agar dapat mengupayakan solusi yang cepat dan efisien. Kebijakan ini nantinya akan digunakan sebagai arahan/panduan dalam menghadapi situasi negatif dimasa mendatang. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, saat ini Galeri Nasional Indonesia belum memiliki kebijakan mengenai Disaster Recovery Plan. Kebijakan resmi mengenai DRP masih ditahap menunggu kebijakan Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 baru dari Badan Layanan Umum Museum Cagar dan Budaya (BLU MCB) yang saat ini masih dibangun dan dikembangkan. Analisis Dampak Bisnis (Business Impact Anaysi. Menurut Fitriani . Business Impact Analysis menggunakan informasi yang dihasilkan oleh analisis ancaman atau risiko yang mungkin terjadi, kemudian dihubungkan dengan aktivitas atau proses bisnis yang terjadi di perusahaan. Fungsi Business Impact Analysis ini adalah untuk mengidentifikasi sistem mana yang paling utama untuk diselamatkan apabila terjadi bencana. Business Impact Analysis juga membantu memahami dampak dari suatu bencana yang terjadi pada proses bisnis, membantu instansi dalam menyiapkan alternatif dan solusi cepat terhadap gangguan sistem. Business Impact Analysis pengklasifikasian bencana dari yang paling darurat hingga ke yang tidak terlalu darurat. Berdasarkan wawancara yang sudah dilakukan. Galeri Nasional Indonesia tidak memiliki dokumen resmi mengenai klasifikasi penentuan tingkat kritis sistem/layanan berdasarkan FIPS 199 untuk memprioritaskan berdasarkan tingkat dampak. Namun. Galeri Nasional Indonesia berusaha untuk tetap memprioritaskan keutuhan koleksi-koleksi dan fasilitas gedung yang menjadi layanan sekaligus bisnis utama sebagai lembaga layanan pemerintah yang bergerak dibidang pelestarian kebudayaan untuk Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, terdapat tingkatan dampak pada layanan/aset yang diutamakan Galeri Nasional Indonesia saat terjadinya bencana maupun gangguan. Tingkatan tersebut ditentukan dengan standarisasi FIPS 199 yang mendefinisikan tiga tingkat dampak potensial yaitu rendah, sedang dan tinggi. Tabel 4. Tingkatan Dampak Potensial Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Jenis Dampak konsekuensi yang akan Tingkat Layanan/Aset Dampak Koleksi karya seni Galeri Nasional Indonesia akan Tinggi rupa . ukisan, mengalami kerugian finansial patung, dokumen yang cukup besar karena nilai/harga karya koleksi harganya mahal Arsip fisik koleksi Kerusakan arsip koleksi fisik & pameran serta terutama untuk koleksi-koleksi dokumen penting yang umurnya sudah lama tidak Tinggi ada penggantinya dan akan terjadi gangguan operasional Arsip digital koleksi Jika koleksi/pameran tidak & pameran terdigitalisasi, maka koleksi akan . sulit diidentifikasi, dan Sedang diperlukan pengecekan secara manual serta dapat terjadi pengulangan tema pameran Sistem manajemen Dengan terganggunya sistem koleksi (The manajemen koleksi serta raw Museum Syste. & data akan terjadi kehilangan Raw data . ile Excel informasi koleksi, biaya yang atau Microsoft tinggi dan waktu pemulihan yang Offic. Server Perangkat keras tempat penyimpanan yang rusak dapat Tinggi Tinggi menyebabkan data corrupt/kehilangan data secara Website Galeri Gangguan akses website, dan Nasional Indonesia layanan publik terganggu Tinggi Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Sistem ticketing Terganggunya layanan pembelian & potensi kehilangan pengunjung Sedang Identifikasi Kontrol Pencegahan Identifikasi kontrol pencegahan bertujuan untuk meminimalkan dampak atau risiko terjadinya gangguan sistem sebelum insiden Hal penggunaan perangkat lunak, pembaruan sistem secara berkala, serta pembatasan akses terhadap sistem informasi. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan. Galeri Nasional Indonesia telah menerapkan beberapa kontrol pencegahan, baik pencegahan fisik maupun digital, seperti membuat dan mengelola sistem, memiliki server sendiri, dan pelaksanaan prosedur rutin untuk pemeliharaan perangkat dan pembaruan guna mencegah potensi ancaman terhadap sistem. Pengembangan Sistem Internal Galeri Nasional Indonesia sistem informasi internal secara mandiri sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan data dan layanan digital. Sistem ini dirancang untuk mendukung berbagai fungsi utama, seperti pengelolaan koleksi, dokumentasi, arsip digital, hingga pelayanan informasi kepada publik. Dengan membangun sistem sendiri. Galeri Nasional Indonesia memiliki kontrol penuh terhadap desain, fitur, dan keamanan sistem Pengembangan ini juga memungkinkan penyesuaian cepat institusional, serta meminimalkan ketergantungan terhadap pihak ketiga. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Perencanaan Pembangunan Pengelolaan Server Mandiri Galeri Nasional Indonesia juga berencana membangun dan mengelola server secara mandiri. Pembangunan server internal ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan, integritas, dan kerahasiaan data yang tersimpan, khususnya yang berkaitan dengan koleksi seni dan arsip institusi. Dengan tidak bergantung pada penyimpanan eksternal atau layanan cloud pihak ketiga. Galeri Nasional Indonesia dapat meningkatkan pengawasan terhadap alur data serta mengimplementasikan kebijakan perlindungan data secara lebih ketat. Pengelolaan server dilakukan oleh tim teknis internal yang Pelaksanaan prosedur evaluasi atau pemeriksaan terhadap pemeliharaan perangkat dan pembaruan dilakukan minimal kebutuhan yang sedang diperlukan. Tabel 5. Kontrol Pencegahan No. Jenis Kontrol Pencegahan Kontrol Pencegahan Layanan/Aset Fisik Digital Koleksi karya seni Memasang cctv dan Backup koleksi, rupa . ukisan, sistem pengawasan patung, dokumen yang ketat Blockchain tracking, dan firewall Arsip fisik koleksi Menyimpan di Memasang CCTV & pameran serta ruangan terkunci untuk memantau dokumen penting dengan pengatur suhu ruangan tempat dan kelembapan Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Arsip digital Di simpan di dalam Authentication & koleksi & pameran hardisk yang Authorization , . ditempatkan di enkripsi dan membuat ruangan khusus Sistem manajemen Membuat prosedur Membuat dan koleksi (The dan aturan dalam mengelola sistem dan Museum Syste. pemeliharaan sistem tidak bergantung pada & Raw data . ile dan data server eksternal selain Excel atau dari kebijakan BLU Microsoft Offic. Museum Cagar Budaya Server Membatasi akses Membuat server masuk ke dalam Website Galeri Menginstalasi UPS Melakukan Nasional Indonesia (Uninterruptible Power pemantauan uptime Suppl. , memilih dan keamanan colocation data center yang aman Sistem ticketing Menyimpan sistem di Mencatat aktivitas server yang transaksi, enkripsi data transaksi, backup Pembuatan Strategi Kontingensi Strategi kontingensi mencakup backup dan pemulihan data dengan mempertimbangkan klasifikasi penentuan tingkat kritis layanan/aset yang digunakan di Galeri Nasional Indonesia serta apa saja alternatif dan solusi cepat untuk penanggulangan sementara gangguan sistem. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan. Galeri Nasional Indonesia telah melakukan strategi pemulihan yaitu backup atau pencadangan data-data koleksi. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Strategi Backup Proses pencadangan yang dilakukan tim Galeri Nasional Indonesia masih dilakukan secara manual menggunakan tools Microsoft Office seperti Word. Excel, dan lainnya. Hal ini didasari oleh bencana kerusakan hardware server milik Pusat Data dan Informasi (Pusdati. Kemendikbudristek tahun 2021 dimana instansi tersebut merupakan lokasi colocation data center tempat penyimpanan server Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdati. , termasuk data-data beserta website dari Galeri Nasional Indonesia dan sebagai tempat penyimpanan data pada sistem TMS sehingga menyebabkan hilangnya data-data koleksi penting milik Galeri Nasional Indonesia. Lokasi Alternatif Menurut Supriyanto, et al. Rekomendasi pemilihan strategi lokasi alternatif didasari pada kemampuan biaya organisasi serta pertimbangan banyaknya data hilang yang dapat ditoleransi saat terjadi kerusakan atau gangguan pada layanan (RPO). Strategi lokasi alternatif yang dilakukan oleh Galeri Nasional Indonesia vendor/perusahan swasta sebagai tempat pembelian server dan penyimpanan data. Hal itu dilakukan setelah terjadi bencana Galeri Nasional Indonesia pernah melakukan pembelian lisensi server The Museum System (TMS) sebagai lokasi tempat penyimpanan server yang berisi data-data koleksi Galeri Nasional Indonesia. TMS merupakan perangkat lunak webbased ciptaan perusahaan/vendor swasta dan berpusat di Belanda yang membantu museum-museum di Eropa-Amerika Namun Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 kebijakan permintaan pemindahan server agar berada di dalam negeri dari pihak Pusat Data Nasional (PDN) dan ahli-ahli Jakarta Budaya. Sehingga lokasi server yang berisi data-data Galeri Nasional Indonesia tersimpan di Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) di Kominfo. Setelah terjadi bencana kedua yaitu serangan siber ransomware pada PDNS, saat ini Galeri Nasional Indonesia sedang menunggu Museum Cagar Budaya mengembangkan sistem aplikasi dan server yang tidak berlisensi, serta kebijakan terbaru pemerintah mengenai letak lokasi penyimpanan data centernya. Tabel. 6 Strategi Kontingensi No. Gangguan Kendala Proses Recovery Gangguan Server Server mengalami Memindahkan dan kerusakan, karena Menggunakan server empa/kebakara. sehingga data koleksi Listrik Mati Kebakaran Banjir Hilangnya daya Menyediakan Genset membuat beberapa agar saat mati listrik, perangkat komputer perangkat tetap menyala tidak dapat menyala dan bisa digunakan Menyebabkan aset Melakukan evakuasi koleksi fisik rusak langsung ke ruangan dan data arsip yang dianggap aman dan hilang/terhapus mem-backup data arsip Rusaknya aset Melakukan evakuasi koleksi fisik yang koleksi ke ruangan yang dianggap aman dan Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 merestorasi koleksi yang Malware Website down. Melakukan backup data, kehilangan data memasang anitivirus dan menindak lanjuti dengan melakukan forensik Peran dan Tanggung Jawab Penanggung jawab dalam penanganan insiden kecelakaan digital di Galeri Nasional Indonesia disesuaikan dengan jenis permasalahan yang terjadi. Jika permasalahan berkaitan dengan tempat penyimpanan data, maka penanggung jawabnya adalah pengolah penyimpanan tersebut. Untuk kendala yang muncul dalam proses pengoperasian sistem, tanggung jawab berada pada bidang operasional terkait. Sementara itu, apabila terjadi kerusakan fisik seperti perangkat keras yang terbakar, maka tanggung jawab penanganannya dialihkan kepada Pusat Data dan Informasi (Pusdati. Namun, dalam tahap pemulihan pasca insiden, tanggung jawab sepenuhnya dikembalikan kepada masing-masing museum atau galeri terkait. Mekanisme ini menunjukkan adanya pembagian tugas yang jelas antar unit, guna memastikan setiap permasalahan dapat ditangani secara tepat dan efisien oleh pihak yang berwenang. Pengembangan Rencana Kontingensi Pengembangan rencana kontingensi merupakan langkah penting dalam memastikan keberlangsungan layanan dan perlindungan aset digital Galeri Nasional Indonesia dari berbagai potensi gangguan atau Rencana ini disusun sebagai bentuk antisipasi dan kesiapsiagaan terhadap insiden yang dapat mengganggu operasional, baik yang bersifat teknis maupun non-teknis. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Informasi Pendukung Informasi pendukung dalam perencanaan kontingensi mencakup kebijakan, regulasi, dan dokumen administratif yang menjadi dasar penyusunan prosedur penanggulangan bencana. Saat ini. Galeri Nasional Indonesia sedang dalam tahap penyusunan dan pengembangan ulang kebijakan resmi terkait penanganan gangguan sistem dan bencana teknologi informasi. Kebijakan Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi, khususnya Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2019. Dokumen pendukung kebijakan masih terbatas, dan belum sepenuhnya dilengkapi dengan SOP, pedoman teknis, atau surat edaran internal yang mengatur secara rinci langkahlangkah pemulihan. Penyusunan kebijakan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk tim teknologi informasi, pengelola koleksi digital, serta pimpinan struktural di lingkungan Museum Cagar Budaya sebagai induk organisasi dari Galeri Nasional Indonesia. Meski belum merujuk secara eksplisit pada standar seperti NIST SP 800-34 atau FIPS 199, proses pengembangan sedang diarahkan untuk mencakup aspek-aspek tersebut ke Fase Aktivasi Fase aktivasi merupakan tahap awal yang dilakukan saat terjadinya insiden yang berdampak pada layanan atau sistem Dalam Galeri Nasional Indonesia, aktivasi rencana terdokumentasi secara resmi. Namun, secara teknis, tim TI dan unit terkait akan segera melakukan asesmen terhadap jenis Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 pembagian tanggung jawab yang telah berlaku. Contohnya, jika insiden terjadi pada tempat penyimpanan data, maka pengolah penyimpanan bertanggung jawab atas Jika pengoperasian sistem, maka bidang operasional yang akan Dalam kasus kerusakan fisik seperti kebakaran server, maka penanganan akan ditangani oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdati. Aktivasi ini penting untuk memastikan respons awal dilakukan secara cepat dan tepat sasaran. Fase Pemulihan Fase pemulihan berfokus pada pengembalian fungsi sistem dan layanan ke kondisi normal setelah insiden terjadi. Berdasarkan praktik yang ada. Galeri Nasional Indonesia telah menggunakan aplikasi seperti Microsoft Office sebagai respons terhadap pengalaman kehilangan data akibat kebakaran dan malware yang terjadi di masa lalu. Selain itu, instansi ini juga sempat menggunakan server berlisensi dari Eropa (Beland. sebagai lokasi alternatif penyimpanan, meskipun kini server data telah dipindahkan ke Pusdatin di Indonesia sesuai arahan yang Pemulihan dilakukan oleh unit atau museum/galeri terkait yang bertanggung jawab atas data dan layanan masingmasing. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemulihan bersifat desentralisasi dan membutuhkan koordinasi antar lembaga serta dukungan infrastruktur yang memadai. Fase Rekonstruksi Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Fase rekonstruksi mencakup kegiatan pasca-pemulihan, yaitu evaluasi, dokumentasi, dan penyempurnaan sistem agar insiden serupa tidak terulang. Pada tahap ini. Galeri Nasional Indonesia melakukan pembaruan kebijakan yang relevan, serta menyusun SOP teknis berdasarkan pengalaman insiden sebelumnya. Evaluasi menyeluruh juga diperlukan untuk menilai efektivitas fase aktivasi dan pemulihan, serta mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan. Fase ini juga dapat menjadi momen untuk mengintegrasikan standar keamanan informasi internasional, seperti NIST atau ISO/IEC 27031, ke dalam kebijakan institusional. Dengan demikian, rekonstruksi tidak hanya memulihkan kondisi, tetapi juga memperkuat sistem agar lebih tangguh terhadap risiko masa depan. Ucapan Terima Kasih Kami menyampaikan Terima Kasih kepada Galeri Nasional Indonesia atas kesempatan dan dukungan yang diberikan selama proses pengumpulan data dan observasi yang berkaitan dengan penelitian ini. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 PENUTUP Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa Galeri Nasional Indonesia memiliki kesadaran akan pentingnya perencanaan pemulihan bencana digital (Disaster Recovery Plan/DRP), namun masih menghadapi berbagai tantangan Berdasarkan NIST 800-34, mengidentifikasi beberapa aspek penting seperti potensi risiko terhadap aset layanan, upaya pencegahan melalui pengembangan sistem dan server internal, hingga strategi kontingensi dan pemulihan yang dilakukan. Meskipun belum tersedia kebijakan DRP resmi secara institusional. Galeri Nasional Indonesia telah melakukan beberapa langkah preventif dan responsif, seperti backup manual, penyimpanan server mandiri, serta Temuan ini menggarisbawahi pentingnya penyusunan DRP yang lebih sistematis, formal, dan terdokumentasi agar Galeri Nasional Indonesia dapat meningkatkan kesiapsiagaan digital dan melindungi asetaset budaya secara lebih optimal. Saran Berdasarkan hasil temuan penelitian, disarankan agar Galeri Nasional Indonesia segera merumuskan dan mengesahkan kebijakan Disaster Recovery Plan (DRP) secara formal yang sesuai dengan standar seperti NIST SP 800-34. Penyusunan dokumen ini perlu mencakup klasifikasi tingkat kritis layanan, prosedur pemulihan terstandar, serta skenario penanganan bencana yang lebih komprehensif. Selain itu, perlu dilakukan pelatihan rutin bagi staf terkait agar mereka memiliki pemahaman yang memadai mengenai langkah-langkah pemulihan saat terjadi insiden. Galeri Nasional Indonesia juga disarankan untuk memperkuat infrastruktur server dan sistem pencadangan secara otomatis, serta melakukan evaluasi berkala terhadap Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 risiko dan kesiapan operasional. Untuk jangka panjang. Galeri Nasional Indonesia dapat menjadi model rujukan bagi institusi budaya lain dalam menerapkan praktik keamanan informasi dan keberlanjutan layanan berbasis teknologi digital. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 DAFTAR PUSTAKA