Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG PEMAKAIAN GIGI TIRUAN DENGAN TINGKAT KEPERCAYAAN DIRI LANSIA DI POSYANDU LANSIA RANGGEN SURABAYA THE RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE ABOUT DENTURE USE AND THE LEVEL OF SELF-CONFIDENCE OF THE ELDERLY AT THE RANGGEN ELDERLY POSYANDU SURABAYA Ajeng Diva Nawang Sasi1. Ratih Larasati2. Ida Chairanna Mahirawatie3 1,2,3 Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya. Jawa Timur. Indonesia . mail penulis korespondensi:ajengdiva20@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Masalah dalam penelitian ini yaitu kurangnya pengetahuan lansia tentang pemakaian gigi tiruan dengan tingkat kepercayaan diri lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang pemakaian gigi tiruan dengan tingkat kepercayaan diri lansia di Posyandu Lansia Ranggen Surabaya. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian cross sectional analitik dengan sampel 35 lansia di Posyandu Lansia Ranggen Surabaya. Instrumen pengumpulan data adalah lembar kuisioner. Teknik analisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil uji dari penelitian didapatkan nilai A value yaitu 0. 00 atau skor A signifikasi dibawah . Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara pengetahuan lansia tentang pemakaian gigi tiruan dengan tingkat kepercayaan diri lansia di Posyandu Ranggen Surabaya. Kata kunci: Pengetahuan. Gigi tiruan. Kepercayaan diri. Lansia. ABSTRACT Background: The problem in this study is the lack of knowledge regarding denture use in the elderly and their level of self-confidence. This study aims to determine the relationship between knowledge about denture use and self-confidence in the elderly at the Ranggen Elderly Health Post (Posyandu Lansi. in Surabaya. Methods: This research was an analytical cross-sectional study with a sample of 35 elderly people at the Ranggen Elderly Health Post (Posyandu Lansi. in Surabaya. The data collection instrument was a The analysis technique used the chi-square test. Results: The test results from the research obtained a A value of 0. 00 or a significance A score below . Conclusion: The conclusion of this study is that there is a relationship between the knowledge of the elderly about using dentures and the level of self-confidence of the elderly at Posyandu Ranggen Surabaya. Keywords: Knowledge. Dentures. Self-confidence. Elderly. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 PENDAHULUAN Kesehatan gigi dan mulut adalah bagian krusial dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. aspek kesehatan ini saling terhubung erat dan tidak dapat dipisahkan dari kondisi tubuh secara keseluruhan, karena gangguan pada rongga mulut dapat memengaruhi kesehatan fisik secara Keadaan gigi dan mulut yang sehat mencakup kemampuan seseorang untuk menjalankan fungsi dasar meliputi aktivitas dasar seperti mengunyah makanan, bernapas, serta Selain itu, kesehatan gigi dan mulut juga mencakup dimensi psikososial, seperti kepercayaan diri, kesejahteraan individu, menjalankan aktivitas kerja tanpa rasa sakit atau hambatan, serta bebas dari rasa tidak nyaman. Lansia bukanlah suatu penyakit, melainkan tahap akhir dalam perjalanan hidup yang ditandai dengan penurunan fungsi tubuh. Pada tahap ini, individu mengalami penurunan daya adaptasi terhadap tekanan fisiologis, sehingga keseimbangannya terhadap perubahan lingkungan menjadi lebih rentan. Lansia di bagi menjadi 3 yaitu lansia muda, lansia madya, dan lansia tua. Lansia muda adalah lansia yang masih dengan umur 60-74 tahun, kemudian lansia madya adalah lansia yang berada di tengah yaitu umur 75-90 tahun, kemudian di katakan lansia tua yaitu dengan umur 90 tahun ke atas. Gigi tiruan merupakan alat bantu buatan yang dirancang untuk menggantikan gigi serta jaringan lunak yang hilang. Penggunaan gigi tiruan berperan penting dalam mengembalikan fungsi estetik, kemampuan mengunyah, serta kemampuan berbicara, sekaligus menjaga kesehatan jaringan di sekitarnya. Kepercayaan diri merujuk pada kesadaran seseorang terhadap potensi dan kemampuan yang dimilikinya, disertai keyakinan diri, rasa puas terhadap dirinya sendiri, serta mampu bertindak sesuai dengan kemuan dirinya untuk mencapai suatu tujuan. Kehilangan sebagian atau seluruh gigi dapat memicu dampak psikologis dan emosional, seperti menurunnya rasa percaya diri, timbulnya kesedihan, depresi, perasaan kehilangan bagian tubuh, merasa lebih tua, serta terjadi gangguan konsep diri pada lansia. Berdasarkan data yang tertera pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018, sebanyak 19% masyarakat Indonesia mengalami kehilangan gigi. Namun, hanya 1,4% dari jumlah tersebut yang menggunakan gigi tiruan. Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, prevalensi kehilangan gigi pada rentang usia 45 hingga 54 tahun tercatat sebesar 23,6%, meningkat menjadi 29% pada kelompok usia 55 hingga 64 tahun, dan mencapai 30,6% pada individu berusia 65 tahun ke atas. Di wilayah Jawa Timur. Riskesdas 2018 mencatat bahwa 18% masyarakat mengalami kehilangan gigi, tetapi hanya 1,8%. Menurut SKI 2023 tercatat Jawa Timur mengalami gigi hilang sebanyak 46,5% dan yang memakai gigi tiruan atau gigi palsu hanya 3,0%. Menurut Kemenkes permasalahan kesehatan gigi dan mulut paling banyak dialami oleh individu berusia 55 hingga 64 tahun dengan persentase sebesar 30,8%. Berdasarkan data di atas pemakaian gigi palsu atau tiruan harusnya meningkat, tetapi yang terjadi lansia yang memakai gigi tiruan atau gigi palsu justru lebih sedikit. Berdasarkan pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan gigi tiruan, 36 responden . %) memiliki pengetahuan yang rendah, sementara hanya 9 responden . %) yang tergolong memiliki pengetahuan baik. Di samping itu, dorongan masyarakat untuk memakai gigi tiruan juga ikut ditelaah, hasil penelitian mengungkapkan bahwa sebanyak 29 responden . ,4%) memiliki motivasi rendah untuk menggunakan gigi tiruan, sedangkan 16 responden . ,6%) menunjukkan motivasi yang tinggi. Berdasarkan survei pendahuluan yang dilaksanakan oleh peneliti pada 19 oktober 2024 di Posyandu Lansia Ranggen, terhadap 10 lansia, diperoleh hasil lansia yang mengalami kehilangan gigi dengan kategori tinggi dengan skor rata rata 4,5-6,5. Penjelasan di atas menunjukkan adanya permasalahan, yaitu tingginya kehilangan gigi pada lansia di Posyandu Lansia Ranggen. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kehilangan gigi pada lansia yaitu karies gigi, infeksi pada jaringan pendukung gigi . , usia dan penyakit sistemik . , trauma fisik . ecelakaan atau Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 bentura. , dan faktor kemungkinan penyebab lainnya adalah pengetahuan dan sikap lansia dalam melakukan upaya perlindungan dan perawatan terhadap kesehatan gigi dan mulut berkelanjutan. Penyuluhan tentang penggunaan gigi tiruan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kehilangan gigi diharapkan dapat mendorong lansia untuk lebih peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut hingga mempertimbangkan untuk menggunakan gigi tiruan. Melalui edukasi yang tepat, lansia dapat mendapatkan pengetahuan pemeliharaan kesehatan rongga mulut serta memperoleh akses ke layanan kesehatan gigi yang lebih berkualitas, mendapatkan pemahaman mengenai gigi tiruan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup lansia secara keseluruhan. peneliti mengumpulkan kembali lembar kuisioner yang sudah diisi responden, peneliti melakukan pengolahan data dari kuisioner yang sudah diisi oleh responden yang terkumpul. Kemudian di lakukan pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan bantuan aplikasi SPSS untuk mempermudah analisis statistik sehingga analisis dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tepat. Analisis yang digunakan adalah uji Chi-square. Jika nilai Asymp. Sig. - taile. lebih kecil dari 0,05 maka H1 diterima. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang pemakaian gigi tiruan dengan tingkat kepercayaan diri lansia di Posyandu Lansia Ranggen Surabaya. HASIL Hasil pengolahan data yang diperoleh setelah pengisian kusioner akan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi sebagai berikut : METODE Penelitian ini dilakukan dengan desain analitik melalui pendekatan cross sectional, yaitu metode penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara dua atau lebih variabel yang diamati dalam satu waktu pengambilan data. Lokasi penelitian ini adalah posyandu Lansia yang berlokasi di Sekretariat Jl. Pucangan 3. No. Surabaya. Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2024 Ae Maret 2025. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden sebanyak 35 orang, yang dipilih guna menunjang pencapaian tujuan Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan Alat yang digunakan sebagai instrumen penelitian adalah lembar kuesioner yang telah dirancang sejalan dengan tujuan Teknik pengambilan data dengan melakukan koordinasi dengan Ketua Posyandu Lansia Ranggen Surabaya terkait pelaksanaan penelitian, peneliti menyampaikan maksud dan tujuan dari penelitian kepada responden, serta meminta kesediaan lansia untuk menandatangani lembar persetujuan sebagai tanda partisipasi dalam penelitian, peneliti membagikan lembar kuisioner kepada responden untuk dijawab. Tabel 1 Distribusi Karakteristik Lansia di Posyandu Ranggen Surabaya Tahun Karakteristik Persenta Jumlah Responden Distribusi Jenis Kelamin Lansia Laki-laki Perempuan Distribusi Umur Lansia >76 Merujuk pada tabel 1, diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 26 orang . ,2%), sedangkan laki-laki sebanyak 9 orang . ,7%). Tabel 2 Distribusi Pengetahuan Lansia Tentang Pemakaian Gigi Tiruan di Posyandu Lansia Ranggen Surabaya Tahun 2025 Pengetahuan Jumlah Persentase (%) Baik Cukup Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 Kurang Total Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa pengetahuan lansia tentang pemakaian gigi tiruan termasuk dalam kategori kurang sebanyak 17 orang . 5%) dan cukup 16 orang . 7%). Tabel 3 Distribusi Tingkat Kepercayaan Diri di Posyandu Lansia Ranggen Surabaya Tahun 2025 Kepercayaan Jumlah Persentase Diri (%) Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah Total Berdasarkan tabel 4. 5 menunjukkan bahwa kepercayaan diri lansia termasuk dalam kategori sangat rendah sebanyak 20 orang . 3%), rendah 12 orang . 2%), dan tinggi 3 orang . 5%). Tabel 4 Tabulasi Silang Hubungan Pengetahuan Tentang PemakaianGigi Tiruan Dengan Tingkat Kepercayaan Diri Lansia di Posyandu Lansia Ranggen Surabaya Tahun Penget Tingkat Kepercayaan To A Pemak Diri tal val Gigi Tiruan San San gat Ren Tin gat Ren dah ggi Tin Kurang 17 Cukup Baik Total Berdasarkan tabel 4. 6 bahwa hasil perhitungan dengan ststistik menggunakan teknik analisis data chi-square diperoleh data hubungan kedua variabel yaitu pengetahuan tentang pemakaian gigi tiruan degan tingkat kepercayaan diri lansia mempunyai nilai A value = 0. 00 ( < 05 ), maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan pemakaian gigi tiruan dengan tingkat kepercayaan diri lansia di Posyandu Lansia Ranggen Surabaya. PEMBAHASAN Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa jenis kelamin responden dengan persentase laki-laki 9 orang . 7%) dan perempuan 26 orang . 2%) serta dapat diketahui bahwa umur lansia yang paling banyak terdapat pada kelompok umur 66 - 70 tahun . 2%). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan pengetahuan lansia tentang pemakaian gigi tiruan termasuk dalam kategori kurang. Karena sikap dan motivasi lansia dalam menggunakan gigi tiruan dipengaruhi oleh pengetahuan yang lansia Karena pengetahuan yang kurang dapat menurunkan motivasi untuk menggunakan dan merawat gigi tiruan dengan baik dan benar. Penelitian ini mendukung penelitian oleh (Saputra et al. , 2. yang menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai penggunaan gigi tiruan dalam kategori kurang. Gigi tiruan adalah perangkat prostetik yang berfungsi untuk menggantikan gigi asli yang sudah tanggal. Secara umum, gigi tiruan terbagi menjadi dua jenis, yakni gigi tiruan lepasan (GTL) dan gigi tiruan cekat (GTC). GTL adalah jenis gigi tiruan yang dapat dilepas dan dipasang kembali oleh pemakainya, sedangkan GTC merupakan gigi tiruan yang dipasang secara tetap dan tidak bisa dilepaskan oleh pemakainya. Pemakaian gigi tiruan bertujuan untuk menggantikan gigi asli yang hilang sehingga dapat memulihkan kemampuan mengunyah yang terganggu karena kehilangan gigi, memperbaiki fungsi bicara dan pengecapan agar komunikasi tetap lancar, memperbaiki fungsi estetika wajah dan mulut, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri, dan dapat membantu Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 meningkatkan kualitas hidup lansia. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar responden berada dalam kategori dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat Banyak lansia merasa kurang percaya diri karena sering mengalami kegelisahan dan merasa rendah diri saat berinteraksi dengan sesama lansia di lingkungan sekitar, sehingga menghambat partisipasi mereka dalam kegiatan sosial Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Jayanti, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Jayanti, 2. yang menyatakan bahwa masalah psikologis pada lansia seperti perubahan konsep diri dan kepercayaan diri yang rendah sering disebabkan oleh berkurangnya kemampuan melakukan aktivitas, yang menimbulkan kecemasan dan rasa tidak berdaya. Penelitian ini bertentangan dengan temuan Penelitian ini tidak sejalan dengan (Kusuma, 2. yang mengungkapkan bahwa lansia di Dusun Kuroboyo memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Kepercayaan diri adalah bagian dari karakter kepribadian yang dimiliki oleh lansia. Sikap ini menjadi elemen penting bagi lansia dalam menjalin kehidupan sosial, karena dengan rasa percaya diri, mereka dapat mengembangkan dan mewujudkan potensi yang dimilikinya. Berdasarkan analisis data tingkat kepercayaan diri lansia tentang keyakinan akan kemampuan diri dalam kategori sangat rendah. Menurut (Atho'illah et al. , 2. lansia yang memakai gigi tiruan memiliki rasa percaya diri dan keyakinan bahwa lansia mampu menggunakan gigi tiruan secara efektif untuk mengatasi hambatan akibat kehilangan gigi. Menurut pendapat peneliti penggunaan gigi tiruan pada lansia terbukti dapat meningkatkan rasa percaya diri, sehingga lansia bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan Lansia yang memakai gigi tiruan merasa lebih nyaman dan tidak mengalami kecemasan atau rasa malu saat berbicara, mengunyah, atau berada dalam lingkungan bermasyarakat. Berdasarkan analisis data menggunakan ujichi-square dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pegetahuan lansia tentang pemakaian gigi tiruan dengan tingkat kepercayaan diri pada Dikarenakan Pengetahuan lansia tentang pemakaian gigi tiruan dalam kategori kurang dan tingkat kepercayaan diri lansia di Posyandu Lansia Ranggen Surabaya dalam kategori sangat Lansia yang memiliki cukup pemahaman mengenai penggunaan gigi tiruan lebih cenderung dapat beradaptasi dengan baik dan merasa nyaman saat menggunakan gigi tiruan. Sehingga kenyamanan ini dapat membuat lansia tidak merasa cemas atau malu saat berbicara, mengunyah, atau berinteraksi sosial, sehingga meningkatkan rasa kepercayaan diri pada lansia. Penelitian ini sejalan dengan hasil studi Rosma et al. , . yang menunjukkan bahwa melalui analisis statistik menggunakan chi-square pengetahuan dan kondisi kebersihan gigi serta mulut dengan penggunaan gigi tiruan di kalangan masyarakat Desa Tanjung Morawa. Temuan ini mendukung teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo . yang mengindikasikan bahwa pengetahuan atau aspek kognitif merupakan salah satu aspek atau bagian penting yang memengaruhi terbentuknya perilaku seseorang. Berdasarkan teori self efficacy yang dikemukakan oleh bandura . yang terdiri dari level, kekuatan, dan generalitas. Level yang dapat diartikan sebagai pengetahuan dan Pemahaman lansia mengenai pemakaian gigi Pengetahuan adalah hasil dari proses pengalaman, dan pemahaman yang dapat bersumber dari edukasi, pengalaman pribadi, dan informasi dari tenaga kesehatan Kemudian self efficacy yaitu lansia di Posyandu Ranggen Surabaya yang mau untuk menggunakan gigi Kekuatan atau keyakinan lansia terhadap kemampuannya untuk mau menggunakan dan memahami tentang gigi tiruan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki, pengalaman keberhasilan, dan dukungan sosial. Sehingga Pengetahuan yang baik dapat memberikan dasar bagi lansia di Posyandu Ranggen Surabaya untuk merasa mampu . elf efficac. menggunakan gigi Dan jika Self efficacy kuat dapat meningkatkan kepercayaan diri lansia dalam berkomunikasi dan beraktivitas sosial mapun Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian ini maka dapat di simpulkan bahwa pengetahuan lansia tentang pemakaian gigi tiruan di Posyandu Lansia Ranggen Surabaya dalam kategori kurang, tingkat kepercayaan diri lansia di Posyandu Lansia Ranggen Surabaya dalam kategori sangat rendah, ada hubungan pengetahuan tentang pemakaian gigi tiruan dengan tingkat kepercayaan diri lansia di Posyandu Lansia Ranggen Surabaya. Bagi lansia Ranggen di harapkan dapat memperhatikan kesehatan gigi dan mulutnya, khususnya dalam hal penggunaan gigi tiruan. Edukasi yang tepat dapat membantu lansia memahami tentang gigi tiruan sehingga lansia merasa nyaman dan percaya diri saat berinteraksi sosial. UCAPAN TERIMAKASIH