ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 HUBUNGAN POLA ASUH IBU TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BALITA (USIA 24 Ae 59 BULAN) Kasih Purwati1. Ibrahim2. Alfiansyah3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam,kasihpurwati@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, ibrahimbatam@gmail. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam,61120033@univbatam. ABSTRACT Background: Stunting is a condition of failure to thrive in children under five years old as a result of chronic malnutrition and recurrent infections, especially during the First 1,000 Days of Life (HPK), namely fetuses up to children aged 24 months. The aim of this research is to find out whether there is a relationship between maternal parenting patterns and the incidence of stunting in toddlers . ged 24-59 mont. in the working area of the Batu Aji Community Health Center. Batam City. Method: This research method is quantitative research, which uses an analytical observational approach, with a case control research design carried out in the working area of the Batu Aji Community Health Center. Batam City. The sampling technique was purposive sampling with a total sample of 82 respondents. Data wereanalyzed using the chi square test. Results: The results of research on 82 respondents showed a significant relationship between maternal parenting patterns and stunting in toddlers aged 24- 59 months with a p value = 000 (<0. with a probability of 9. 969 rounded to 10. 0 CI 95% Conclusion: There is a significant relationship between maternal parenting patterns and stunting in toddlers aged 24-59 months in the Batu Aji Health CenterWorking Area in 2022. Keywords : Mother's Parenting Patterns. Stunting. Toddlers ABSTRACT Latar Belakang : Stunting adalah keadaan gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun akibat dari kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang terutamapada periode 1. 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu janin hingga anak berusia 24 bulan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan pola asuh Ibu terhadap kejadian stunting pada balita . sia 24-59 bula. di wilayah kerja Puskesmas Batu Aji Kota Batam. Metode : Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, yang mengunakan pendekatan observasional analitik, dengan rancangan penelitian case control yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Batu Aji Kota Batam. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 82 responden. Data di analisis dengan menggunakan uji chi Hasil : Hasil penelitian pada 82 responden terdapat hubungan yang bermakna anatara Pola Asuh Ibu terhadap stunting balita usia 24-59 bulan dengan nilai p value = 0,000 (<0,. dengan probabilitas sebesar 9,969 dibulatkan menjadi 10,0 CI 95% Simpulan : Terdapat hubungan yang signifikan anatara Pola Asuh Ibu terhadap stunting balita usia 24-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Batu Aji tahun 2022. Kata Kunci : Pola Asuh Ibu. Stunting. Balita Universitas Batam Batam Batam Page 21 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 PENDAHULUAN Stunting adalah keadaan gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun akibat dari kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang terutama pada periode 1. 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu janin hingga anak berusia 24 bulan. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya (Kebudayaan & RI. Stunting menjadi permasalahan karena berhubungan juga dengan meningkatnya resiko perkembangan otak suboptimal sehingga terhambatnya pertumbuhan mental (Yesi. Berdasarkan dari data yang diambil secara global menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 yaitu sebanyak 149,2 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting, 45,4 juta mengalami kekurusan . dan 38,9 juta anak mengalami kelebihan berat badan . Adanya kejadian stunting pada balita sering kali tidak disadari dan setelah dua tahun baru terlihat ternyata balita tersebut pendek. Masalah gizi yang kronis pada balita disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama akibat orang tua tidak tahu atau belum sadar untuk memberikan makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi anaknya. Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan perilaku Ibu dalam mengasuh balitanya pola asuh memiliki peran dalam kejadian stunting pada balita karena asupan makanan pada balita sepenuhnya diatur oleh Ibunya. Ibu dengan pola asuh baik akan cenderung memiliki balita dengan status gizi yang lebih baik dari pada Ibu dengan pola asuh yang kurang baik (Venny, 2. Pengetahuan pola asuh yang baik dapat mengubah perilaku yang mengarah pada perbaikan gizi kesehatan pada Ibu dan anak. Pada kasus kejadian stunting dapat memberikan pola asuh yang Universitas Batam Batam Batam baik dan pemberian pendamping ASI dan juga mengkonsumsi makanan yang bergizi dengan membutuhkan peranan dari keluarga atau tenaga kesehatan dan pemerintah. Status gizi masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling mempengaruhi, dimana kurangnya pengetahuan orang tua tentang gizi dan kesehatan, khususnya Ibu merupakan salah satu penyebab terjadinya kejadian stunting pada Tenaga kesehatan harus melakukan penyuluhan atau memberi pengetahuan tentang pola asupan Ibu sehingga tidak menggalami stunting dan pengetahuan tentang tumbuh kembang anak. Pengetahuan minimal yang harus diketahui seorang Ibu adalah tentang kebutuhan gizi, cara pemberian makan, jadwal pemberian makan pada anak balita, sehingga akan menjamin anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal (Khasanah. Hadi, & Paramashanti, 2. METODE PENELITIAN Desain observasional analitik dengan menggunakan pendekatan case-control (Notoadmodjo, 2. Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Batu Aji Kota Batam. Populasi kasus penelitian ini adalah semua balita yang berjumlah 249 balita, sedangakan populasi kontrol adalah semua balita bukan stunting yang bertempat tinggal di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Batu Aji Kota Batam Tahun 2022. Banyak sampel pada penelitian ini didapatkan 82 sampel. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling (Notoadmodjo, 2. Jenis data yang diambil adalah data primer dan sekunder. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji analisis yaitu chi-square test dan odds ratio (OR). Data disajikan dalam bentuk tabel disertai deskripsi Page 22 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini merupakan deskripsi karakteristik setiap variabel penelitian. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1,Tabel 2 dan Tabel 3. Tabel 1 Data Distribusi Usia Responden Berdasarkan Nilai Median Median Usia Stunting (Bula. Usia Tidak Stunting (Bula. Minimum Maksimum Berdasarkan Tabel 1 didapatkan hasil bahwa nilai median usia pada kelompok stunting sebesar 51 bulan dengan usia minimum 24 bulan dan usia maksimun 59 bulan. Sedangkan nilai Median usia pada kelompok tidak stunting sebesar 44 bulan dengan usia minimum 28 bulan dan usia maksimum 59 Tabel 2 Distribusi frekuensi kejadian Kategori Responden . Persentase (%) Stunting Tidak stunting Jumlah Berdasarkan Tabel 2 didapatkan kejadian stunting 41 balita . %) dan kejadian tidak stunting 41 balita . %) di wilayah kerja Puskesmas Batu Aji. Stunting adalah keadaan tubuh yang pendek dan sangat pendek hingga melampaui defisit -2 SD di bawah median panjang atau tinggi badan. Telah diketahui bahwa semua masalah anak pendek, gemuk. PTM bermula pada proses tumbuh kembang janin dalam Universitas Batam Batam Batam kandungan sampai anak usia 2 tahun. Apabila prosesnya lancar tidak ada gangguan, maka anak akan tumbuh kembang dengan normal sampai dewasa sesuai dengan faktor keturunan atau gen yang sudah diprogram dalam sel. Sebaliknya apabila prosesnya tidak normal karena berbagai gangguan diantaranya karena kekurangan gizi, maka proses tumbuh kembang Akibatnya terjadi ketidak normalan, dalam bentuk tubuh pendek, meskipun faktor gen dalam sel menunjukkan potensi untuk tumbuh normal (Brigitte Sarah, 2. Berdasarkan hasil penelitian di daerah pesisir Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto, lebih dari separuh sampel . 5%) anak balita mengalami stunting dan . 5%) masuk dalam kategori normal. Melihat tingginya prevalensi dan dampak stunting sangat beresiko dalam proses kehidupan dimasa yang akan datang mengharuskan adanya intervensi dalam mencegah terjadinya stunting terutama pada masa awal kehidupan manusia. Tabel 3 Distribusi frekuensi Pola Asuh Ibu Kategori Pola Asuh Ibu Baik Pola Asuh Ibu Buruk Jumlah Responden . Persentase (%) Berdasarkan Tabel 3 didapatkan Pola Asuh Ibu Baik 45 balita . 9%) dan Pola Asuh Ibu Buruk 37 balita . 1%) memiliki di wilayah kerja Puskesmas Batu Aji. Pola asuh merupakan interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. mengasuh anak adalah mendidik, membimbing dan memelihara anak, mengurus makanan, minuman, pakaian, kebersihannya, atau pada segala perkara yang seharusnya diperlukannya, sampai batas bila mana si anak telah mampu melaksanakan keperluannya yang vital, seperti makan. Page 23 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Tabel 4 Hubungan Pola Asuh Ibu Terhadap Kejadian stunting pada balita . sia 24-59 bula. Stunting PolaAsuh Ibu Tidak Stunting Stunting Total Baik Buruk Total minum, mandi dan berpakaian. Salah satu yang mempengaruhinya yaitu ibu, keadaan gizi di pengaruhi oleh kemampuan ibu menyediakan pangan yang cukup untuk anak serta pola asuh yang di pengaruhi oleh faktor pendapatan keluarga, pendidikan, prilaku dan jumlah saudara (Vicka Lourine Rapar, 2. Peran keluarga khususnya seorang ibu dalam mengasuh dan merawat anak dapat memberikan dampak terhadapa tumbuh kembang anak. Pola asuh ibu merupakan perilaku ibu dalam merawat ataupun menjaga Perilaku ibu diantaranya berperan dalam memberikan air susu ibu atau memberi makanan pendamping, mengajarkan tatacara makan yang benar, memberikan makanan yang bernilai gizi tinggi, kemampuan mengontrol banyaknya porsi makanan yang harus dikonsumsi, mempersiapkan makanan yang hygienis, pola makan yang benar, sehingga asupan nutrisi dapat dengan baik diterima oleh Namun demikian hal penting yang juga harus diperhatikan adalah menu makan harus bervariasi sehingga membuat anak senang dan menyukai berbagai makanan yang sehat juga Kebiasaan pola asuh yang sudah diterapkan dengan baik dan benar banyak terjadi pada balita dengan tinggi normal atau tidak mengalami stunting dibandingkan dengan balita pendek yang memiliki tingkat ekonomi keluarga yang sama (Febriani Dwi B, 2. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan Pancoran Mas Depok tentang pola asuh dan status gizi anak menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara praktik Universitas Batam Batam Batam 0,000 9,969 merawat balita yang kurang baik memiliki resiko dua kali lipat terhadap kejadian stunting (Masita. Biswan, & Puspita, 2. Berdasarkan hasil Penelitian Tabel 4 ditemukan bahwa balita yang memiliki Pola Asuh Ibu Baik dengan stunting berjumlah 12 balita dengan persentase 26. 67% dan 33 balita tidak stunting dengan persentase 73. Balita yang memiliki Pola Asuh Ibu Buruk dengan stunting berjumlah 29 balita dengan persentase 78. 38% dan 8 balita tidak stunting dengan persentase 21. Hasil uji stastistik Chi Square didapatkan nilai p-value 000 dengan probabilitas sebesar 9,969 dibulatkan menjadi 10,0 CI 95% . Hasil tersebut menunjukkan bahwa aprobabilitas< level of significance . lpha ( = 5%). Sehingga dapat disimpulkan, bahwa Ho ditolak Ha diterima atau terdapat hubungan yang bermakna antara hubungan pola asuh ibu terhadapa kejadian stunting pada balita . sia 24-59 bula. di wilayah kerja Puskesmas Batu Aji. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ika Fujica Wati . dengan menggunakan chi quare diperoleh nilai p value 0,000 < 0,05 dimana p< artinya bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di desa Neglasari wilayah kerja Puskesmas Tanjung Agung Kabupaten lampung Selatan Tahun 2021. Artinya balita yang pola asuh ibu nya buruk mempunyai risiko terjadinya Page 24 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Pada penelitian ini menujukkan bahwa porposi balita dengan Pola Asuh ibu baik lebih dominan tidak stunting. Sebaliknya balita dengan Pola Asu ibu buruk lebih cendrung mengalami kejadian stunting. Kebiasaan yang ada di dalam keluarga berupa praktik pemberian makan, praktik pemanfaatan pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting anak usia 24 Ae 59 bulan (Bella et al. , 2. Praktik pemberian makan pada anak sangat penting dan besar bagi pertumbuhan anak seperti memberikan suasana nyaman bagi anak pada saat makan, sabar dan penuh perhatian pada saat memberikan makan, mengetahui selesa makan yang baik pada anak dapat menjalin keakraban di antara keduanya sehingga diharapkan anak mampu menghabiskan makanan yang diberikan (Yudianti & Saeni, 2. Menyusui dan Memberi makan dengan cara makan yang sehat dan bergisi serta mengontrol besar porsi yang dihabiskan akan meningkatkan status gizi anak (Yudianti & Saeni, 2. Rangsangan psikososial yang baik terhadap anak akan berpengaruh positif kepada status gizi anak (Rahmayana. Ibrahim, & Darmayati, 2. Keterikatan antara ibu dan anak merupakan faktor penting yang menjelaskan mengapa anak-anak berkembangdengan baik. Kondisi psikososial yang buruk akan berpengaruh negatif terhadap penggunaan zat gizi dalam tubuh, tapi sebaliknya jika kondisi psikososial yang baik akan merangsang hormon pertumbuhan dan merangsang anak untuk melatih organ-organ perkembangannya (Rahmayana et al. , 2. Pemanfaatan pelayanan kesehatan yang baik akan berdampak positif terhadap status gizi Anak Aeanak akan lebih rentan dan kekurangan gizi dan menempatkan anak pada resiko infeksi . akibat dari sulitnya mendapatkan akses dan kontak dengan pelayanan kesehatan seperti perawatan kehamilan yang buruk, pengobatan penyakit Universitas Batam Batam Batam yang tidak memadai, dan tingkat imunisasi yang rendah (Rahmayana et al. , 2. Hasil pengujian bivariat menunjukkan bahwa balita yang mengalami kejadian stunting dengan Pola Asuh Ibu baik hanya sebanyak 12 balita . 67%), sedangkan dengan Pola Asuh Ibu buruk sebanyak 29 balita . 38%). Balita dengan Pola Asuh Ibu Buruk sesuai dengan penelitian ini memiliki risiko lebih untuk mengalami kejadian stunting. Pernyataan ini didukung dengan pengujian chi square yang menghasilkan nilai OR sebesar 10,0 yang berarti bahwa balita yang Pola Asu Ibu nya buruk mempunyai risiko 10 kali untuk terjadi Didapatkan 29 balita . responden yang memiliki Pola Asuh ibu dalam kategori Pola Asuh ibu buruk dang mengalami Hal ini disebabkan oleh faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah Pola Asuh Ibu sehingga balita yang tidak mendapatkan Pola Asuh Ibu yang baik berisiko lebih tinggi untuk kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk proses pertumbuhan, gangguan pertumbuhan akan mengakibatkan terjadinya stunting pada balita. Stunting juga dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya ASI Ekslusif, status gizi, dan pendidikan ibu karena makin tinggi pendidikan, pengetahuan serta keterampilan maka kemungkinan akan baik pula tingkat ketahanan pangan keluarga, sehingga makin baik pula pola pengasuhan anak, makin paham waktu yang tepat dalam memberikan ASI pada bayi dan dampak yang (Komalasari. Supriati. Sanjaya, & Ifayanti. Didapatakan sebanyak 8 balita dengan persentase . 62%) responden yang memiliki Pola Asuh ibu dalam kategori Pola Asuh ibu buruk dan tidak mengalami stunting. Hal ini dikarenakan tidak hanya pola asuh ibu yang berpengaruh terhadap stunting, tetapi terdapat faktor lain seperti diberikan susu formula yang baik, pada saat MP-ASI diberikan makanan yang mengandung gizi baik serta memiliki perilaku hidup dan sanitasi yang bersih. Pada Page 25 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 orangtua yang memiliki balita tidak stunting menyatakan bahwa mereka memberikan makanan yang sehat dan seimbang serta memiliki akses lingkungan dan sanitasi yang Didapatkan sebanyak 12 balita . 67%) responden yang memiliki Pola Asuh Ibu kategori Baik dan mengalami stunting. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya stunting pada balita. Faktor penyebab stunting dibagi menjadi dua, yaitu faktor langsung dan faktir tidak langsung. Faktor langsung dari kejadian stunting adalah asuapan gizi dan adanya penyakit infeksi, sedangkan faktor tidak langsung adalah pemberian ASI yang tidak baik dan MP-ASI yang mengandung asupan gizi kurang, kurangnya pengetahuan orang tua, kesehatan dan masih banyak faktor lainnya (Mitra,2. Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh stunting dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan metabolisme dalam tubuh dan gangguan pertumbuhan fisik. Sedangkan dampak dalam jangka panjang adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh serta resiko tinggi terkena Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, stroke, kanker dan disabilitas pada usia lansia yang akhirnya akanan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia (Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, 2. Praktik pemberian makan pada anak sangat penting dan besar bagi pertumbuhan anak seperti memberikan suasana nyaman bagi anak pada saat makan, sabar dan penuh perhatian pada saat memberikan makan, mengetahui selesa makan yang baik pada anak dapat menjalin keakraban di antara keduanya menghabiskan makanan yang diberikan (Yudianti & Saeni, 2. Pemenuhan zat gizi yang sudah sesuai dengan kebutuhan namun penyakit infeksi Universitas Batam Batam Batam yang di derita tidak tertangani tidak akan dapat memperbaiki status kesehatan dan status gizi anak balita. Didapatakan sebanyak 33 balita . 33%) responden yang memiliki Pola Asuh ibu Baik dan mengalami tidak stunting. Bahwa ada beberapa alasan dikemukakan orang tua dimana ada beberapa faktor tidak langsung yang dapat menyebabkan hail ini adalah penghasilan keluarga Ou UMR sehingga memiliki asupan nutrisi yang cukup baik untuk mendukung pertumbuhan anak termasuk tinggi Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak, karena responden menyediakan semua kebutuhan anak, baik primer maupun sekunder (Putra. Kondisi sosial ekonomi juga berkaitan dengan terjadinya stunting. Keluraga dengan pendapatan relatif tinggi akan mudah memenuhi kebutuhan nutrisi sehingga terhindar dari kejadian stunting (Pacheco. Dari penelitian diatas banyak faktor yang berhubungan dengan kasus stunting salah satunya yaitu Pola Asuh Ibu. Hal ini sejalan dengan penelitian yang penulis lakukan yaitu adanya hubungan yang signifikan antara Pola Asuh Ibu terhadap kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Batu Aji. Hal tersebut dikarenakan apabila Pola Asuh Ibu Baik tidak diberikan akan mengakibatkan anak mengalami gangguan pertumbuhan terutama tinggi badan sehingga anak mengalami kejadian stunting. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada balita usia 24- 59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Batu Aji Kota Batam dengan jumlah sampel kelompok case control seluruh responden berjumlah 82 balita responden dapat disimpulkan bahwa pada kelompok responden stunting didapatkan sebanyak 50% responden dan pada kelompok responden tidak stunting didapatkan sebanyak 50% responden dan pada responden Pola Asuh Ibu Baik mendapatkan sebanyak 80. Page 26 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 responden dan pada responden Pola Asuh Ibu Buruk responden dan pada kelompok stunting, lebih dari setengah 78. 38% responden mendapatkan Pola Asuh Ibu buruk dan tidak stunting, lebih dari setengah 73. 33% responden mendapatkan Pola Asuh Ibu baik dan terdapat hubungan yang signifikan anatara Pola Asuh Ibu terhadap stunting balita usia 24-59 bulan dengan nilai p value = 0,000 (<0,. dengan probabilitas sebesar 9,969 dibulatkan menjadi 10,0 CI 95% . DAFTAR PUSTAKA