Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 5 Nomor 2. Oktober 2019 PEMBERIAN PAKAN ALAMI CACING SUTERA (Tubifex sp. ) DENGAN FEEDING RATE BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN CTENOPOMA (Ctenopoma acutirostr. NATURAL FEEDING OF SLUDGE WORMS (Tubifex sp. ) WITH DIFFERENT FEEDING RATE ON GROWTH AND SURVIVAL RATE OF CTENOPOMA (Ctenopoma acutirostr. FISH SEEDS M Atilah Setiawana. FS Mumpunib, dan Muarifb Hatchery Ikan Hias Karya Bintang Nusantara Staf Pengajar Program Studi Akuakultur. Fakultas Pertanian. Universitas Djuanda Jl. Tol Ciawi 1. Kotak Pos 35 Bogor 16720 Korespondensi : atilahsetiawan05@gmail. ABSTRACT The aim of this study was to determine the growth and survival rate of Ctenopoma fish This study used a completely randomized design with 3 treatments and 3 replications. The treatment in this study was a different feeding rate using natural feed of Tubifex sp namely A . %). B . %), and C . %) ). The test fish used was Ctenopoma fish seeds with an initial length of 2. 40 A 0. 10 cm and an initial weight of 0. 32 A 0. 05 g. Fish seeds are cultivated for 28 days with feeding frequency twice a day. The results of research showed that the use of different feeding rate had an significantly different (P<0. on the specific growth rate and absolute length growth with the best results in the treatment C. The survival rate was not significantly different between treatments (P>0. Key Words: Ctenopoma, feeding rate, growth, survival rate ABSTRAK Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup benih ikan ctenopoma. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan pada penelitian ini adalah feeding rate yang berbeda, menggunakan pakan alami cacing sutera: ( A . %). B . %), dan C . %) ). Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan ctenopoma dengan panjang awal 2,40 A 0,10 cm dan bobot awal 0,32 A 0,05 g. Benih ikan dipelihara selama 28 hari dengan pemberian pakan 2 kali per hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan feeding rate berbeda berpengaruh nyata (P<0,. pada laju pertumbuhan spesifik dan pertumbuhan panjang mutlak, didapatkan hasil terbaik pada perlakuaan feeding rate 12%. Hasil pada tingkat kelangsungan hidup menunjukkan tidak berpengaruh nyata (P>0,. Kata Kunci: feeding rate, pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, ctenopoma Atilah Setiawan. Muarif. Pemberian Pakan Alami Cacing Sutera (Tubifex sp. dengan Feeding Rate Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Ctenopoma (Ctenopoma acutirostr. Jurnal Mina Sains 5. : 84 Ae 92. Setiawan dan Muarif PENDAHULUAN Ikan hias di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, hal ini mengingat ikan hias memiliki pasar Ikan ctenopoma adalah salah satu ikan hias yang cukup populer dan memiliki nilai ekonomi yang baik, ikan ini berasal dari negara Afrika yaitu di daerah Congo dan banyak menempati daerah sungai Zaire, bagian tubuh pada ikan ini memiliki warna yang indah sebagai daya tarik bagi pembeli. Warna pada bagian tubuhnya memiliki warna dasar kecoklatan dengan bintik besar berwarna kehitaman, ikan jantan memiliki warna yang lebih indah dibandingkan dengan betina. Ctenopoma termasuk ikan yang aktif pada malam hari, memiliki alat bantu pernafasan berupa labirint yang membuat ikan ini dapat bertahan hidup pada keadaan yang kurang baik, ctenopoma memiliki duri pada bagian sirip dorsal untuk melindungi dirinya dari predator di sungai. Ctenopoma dapat hidup pada suhu air 23-28oC dan pH 6,5-7. Ikan ini dapat tumbuh hingga ukuran 20 cm dan memiliki sifat predator (Alderton 2. Permasalahan yang sering ditemukan oleh pembudidaya benih ikan ctenopoma adalah lambatnya pertumbuhan ikan yang dipelihara dan menurunnya tingkat kelangsungan hidup ikan, hal ini terjadi karena jumlah pemberian pakan yang belum sesuai dengan kebutuhan energi benih ikan ctenopoma. Hermawa et al. menyatakan penggunaan feeding rate yang tepat untuk budidaya ikan akan berdampak pada pertumbuhan ikan yang lebih cepat. Pakan yang diggunakan untuk pemeliharaan ikan ctenopoma adalah cacing sutera, dimana cacing sutera dapat berkembang pada tempat yang memiliki lumpur dengan ketinggian air rendah dan air mengalir, serta tersedia limbah kertas (Bintaryanto dan Taufikurohmah 2. Pemberian Pakan Alami Cacing Sutera Cacing sutera memiliki 57% protein untuk memenuhi kebutuhan ikan karnivora (Setiawati et al. Selain feeding rate faktor lain yang menjadi permasalahan budidaya ikan ctenopoma adalah penyakit berpengaruh untuk kelangsungan hidup ikan hias, penyakit yang biasanya muncul pada saat pemeliharaan ikan antara lain virus, bakteri, jamur dan parasit (Yoesdiarti et al. Hasil penelitian sebelumnya dapat dilihat bahwa penggunaan feeding rate cacing sutera dan pakan buatan sebesar 8% dari bobot tubuh ikan ctenopoma menghasilkan pertumbuhan terbaik pada 75% cacing sutera 25% pakan buatan, dengan bobot yang didapatkan 1,73 A 0,14 g dan panjang total 2,6 A 0,32 cm selama 50 hari (Sugito dan Asnawi 2. Penelitian yang dilakukan dapat terlihat kebutuhan akan pakan alami cacing sutera belum dapat digantikan sepenuhnya oleh pakan buatan, karena itu penelitian menggunakan pakan alami cacing sutera perlu dilakukan untuk menemukan feeding rate pakan yang tepat bagi pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup benih ikan BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan dilaksanakan pada bulan Juli Ae Oktober 2019, bertempat di Hatchery ikan hias Karya Bintang Nusantara. Jl. Alzimar 1. Perumahan Babakan Sari Raya No 5. Bogor. Jawa Barat. Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah wadah percobaan berupa akuarium 9 unit dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm, pompa aerator, selang aerasi, selang sipon, batu aerasi, pH meter untuk mengukur pH air, termometer untuk mengukur suhu air. DO meter, test kit Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 5 Nomor 2. Oktober 2019 (NH. ketelitian 0,01 g, jangka sorong dengan ketelitian 0,1 mm , baskom dan seser. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah benih ikan ctenopoma bobot awal 0,32 A 0,05 g/ekor dan panjang 2,40 A 0,10 cm/ekor, cacing sutera dan Kalium Permaganate (KMnO. Rancangan Penelitian Rancangan digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan A yaitu budidaya ikan ctenopoma menggunakan feeding rate 8%. Perlakuan B menggunakan feeding rate 10% dan perlakuan C menggunakan feeding rate 12% dengan pakan alami cacing sutera. Cacing sutera yang akan diberikan sebelumnya dibersihkan terlebih dahulu pemberian pakan dilakukan pada jam 00 dan 16. Penyifonan kotoran ikan ctenopoma dilakukan setiap sebelum dilakukan pemberian pakan ikan, setelah penyifonan akuarium diisi kembali dengan jumlah air yang dikeluarkan. Sampling ikan dilakukan setiap 7 hari sekali, selama 28 hari pemeliharaan. Sampel ikan yang digunakan sebanyak 10 ekor dari setiap akuarium percobaan, ikan sampel akan di ukur mulai dari bobot ikan, panjang ikan, dan mengamati jumlah Parameter Uji Laju Pertumbuhan Spesifik Metode Penelitian Wadah percobaan ikan ctenopoma menggunakan akuarium berukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm. Sebelum digunakan, kalium permanganat (KMnO. , setelah akuarium bersih wadah pemeliharaan diisi menggunakan air yang sudah diendapkan terlebih dahulu selama 3 hari di tandon, akuarium percobaan diisi air tandon sebanyak 4 liter/akuarium percobaan. Wadah percobaan yang sudah diisi air, selanjutnya dilakukan persiapan peralatan penunjang di setiap akuarium percobaan dengan memasang aerator dan selang aerasi yang dilengkapi dengan batu aerasi di setiap akuarium percobaan. Akuarium percobaan yang sudah siap, selanjutnya dilakukan proses penebaran benih ikan ctenopoma dengan kepadatan 20 ekor/akuarium, ikan yang ditebar kedalam akuarium percobaan sebelumnya sudah dilakukan penimbangan bobot dan pengukuran panjang benih ikan. Pemberian pakan benih ikan ctenopoma dilakukan 2 kali dalam 1 hari menggunakan pakan alami cacing sutera, dengan feeding rate yang berbeda pada setiap perlakuan yaitu 8%, 10%, dan 12%. Laju pertumbuhan spesifik adalah perubahan pertumbuhan ikan harian dari awal pemeliharaan hingga pada akhir pemeliharaan ikan (Effendie 1. , dihitung dengan rumus sebagai berikut : yei yanya ycycyc = [Oo Oe y. y yayaya% yanya Keterangan : LPS = Laju pertumbuhan spesifik (%) = Periode pemeliharaan . Wt = Bobot akhir pemeliharaan . Wo = Bobot awal pemeliharaan . Pertumbuhan Panjang Mutlak Pertumbuhan panjang mutlak adalah perubahan panjang ikan pada saat perlakuan awal pemeliharaan hingga pada akhir pemeliharaan ikan (Effendie 1. dihitung dengan rumus sebagai berikut: PPM = Pt Ae Po Keterangan : PPM = Pertumbuhan benih . Pemberian Pakan Alami Cacing Sutera Setiawan dan Muarif Pt = Panjang rata-rata benih pada waktu ke-t pemeliharaan . Po = Panjang rata-rata benih pada awal pemeliharaan . dengan menggunakan termometer dua kali dalam sehari dan amoniak akan diperiksa menggunakan tes kit amoniak pada awal pemeliharaan ikan. Kelangsungan Hidup Ikan Kelangsungan hidup ikan adalah jumlah persentase ikan yang hidup selama pemeliharaan (Effendie 1. Tingkat kelangsungan hidup dihitung dengan rumus berikut: yasya yaOyaN = ya yayaya% yasya Keterangan : KH = Kelangsungan hidup (%) Nt = Jumlah pemeliharaan . No = Jumlah ikan hidup saat penebaran . Parameter Penunjang Parameter Kualitas Air Parameter kualitas air yang diukur adalah DO, pH, suhu, dan amonia. Parameter DO diukur menggunakan DO meter setiap seminggu satu kali, pH diukur menggunakan pH meter yang diukur dua kali setiap hari, parameter suhu diukur Analisis Data Data yang telah diperoleh kemudian ANOVA (Analisis Raga. pada program SPSS 16. Jika ada perbedaan yang nyata antara perlakuan dilakukan uji lanjut dengan menggunakan metode BNT (Beda Nyata Terkeci. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Laju Pertumbuhan Spesifik Nilai Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) tertinggi didapatkan pada pemberian feeding rate 12% (C) dengan nilai 3,49%, nilai ini juga berbeda dengan hasil LPS pada pemberian 10% (B) dengan hasil nilai akhir 3,10%. Sedangkan nilai LPS terendah didapatkan pada pemberian feeding rate 8% (A) yaitu 2,61% (Tabel . Hasil perhitungan uji Anova menunjukkan hasil LPS berpengaruh nyata (P<0,. Tabel 1 Laju Pertumbuhan Spesifik Benih Ikan Ctenopoma (%) Perlakuan Ulangan 2,62 2,98 3,52 2,72 3,12 3,48 2,51 3,21 3,48 Rata-rata 2,61 3,10 3,49c Keterangan: Superskrip dari huruf pada tabel di atas yang berbeda menunjukkan hasil akhir berbeda nyata (P<0,. Pertumbuhan Panjang Mutlak Nilai Pertumbuhan Panjang Mutlak (PPM) tertinggi didapatkan pada feeding rate 12% (C) yaitu 0,57 cm, nilai ini juga berbeda dengan perlakuan feeding rate 10% (B) yaitu 0,49 cm. Sedangkan nilai LPS terendah didapatkan pada perlakuan feeding rate 8% (A) yaitu 0,36 cm (Tabel Hasil perhitungan pada uji Anova menunjukkan hasil berpengaruh nyata (P<0,. Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 5 Nomor 2. Oktober 2019 Tabel 2 Pertumbuhan Panjang Mutlak Benih Ikan Ctenopoma . Perlakuan Ulangan Rata-rata 0,36 0,37 0,36 0,36a 0,47 0,48 0,51 0,49b 0,57 0,58 0,57 0,57c Keterangan: Superskrip dari huruf pada tabel di atas yang berbeda menunjukkan hasil akhir berbeda nyata (P<0,. didapatkan pada perlakuan feeding rate 12% (C) yaitu 93%, perlakuan feeding rate 10% memiliki nilai TKH 93%, dan nilai terkecil pada perlakuan feeding rate 8% (A) yaitu 90% (Tabel . Hasil uji Anova menunjukkan bahwa antar perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,. Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup (TKH) pemeliharaan mengalami penurunan pada pemeliharaan ikan ctenopoma TKH tidak berubah secara nyata. Hasil yang Tabel 3 Kelangsungan Hidup Benih Ikan Ctenopoma (%) Perlakuan Ulangan 85,00 90,00 95,00 90,00 95,00 95,00 95,00 95,00 90,00 Rata-rata 90,00 93,33 93,33 hari pemeliharaan benih ikan ctenopoma dapat dilihat pada Tabel 4. Kualitas air yang diukur anatara lain suhu. DO, pH dan amonia, kualitas air yang dihasilkan masih dalam kisaran nilai optimal. Kualitas Air Hasil pengukuran kualitas air pemeliharaan ikan ctenopoma dengan perlakuan feeding rate yang berbeda yaitu A . %). B . %) dan C . %) selama 28 Tabel 4 Data Kualitas Air Pemeliharaan Parameter Suhu. C) DO. g/L) Amonia. g/L NH. Perlakuan 6,6-7,1 5,7-6,7 0,25 6,5-7,1 5,6-6,7 0,25 6,5-7,1 5,6-6,7 0,25 Pembahasan Pertumbuhan benih ikan ctenopoma digambarkan menjadi sebuah Nilai Optimal 23-28 AC (Alderton 2. 6,5-7 (Alderton 2. 5-Jenuh (Boyd 2. 0,25 (Boyd 2. pencapaian dari pemeliharaan benih ikan yang dilakukan. Pertumbuhan dapat dinilai melalui laju pertumbuhan spesifik pada Setiawan dan Muarif (Tabel . dan pertumbuhan panjang mutlak pada (Tabel . Hasil yang tertinggi dicapai pada pemberian feeding rate (FR) cacing sutera tertinggi yaitu FR 12%, peningkatan pertumbuhan pada pemeliharaan benih ikan ctenopoma dengan FR 12% disebabkan pemberian pakan dengan jumlah yang lebih banyak memenuhi kebutuhan makan dari benih ikan ctenopoma setiap harinya dengan protein yang baik. Pertumbuhan benih ikan kedua di ikuti dengan pemberian FR 10% dan pertumbuhan terendah didapatkan Nilai pertumbuhan benih ikan ctenopoma yang lebih rendah dengan pemberian FR cacing sutera yang lebih rendah disebabkan karena energi yang dihasilkan oleh pakan tidak memenuhi kebutuhan dari benih ikan Makanan adalah komponen penting bagi pertumbuhan ikan dimana makanan akan menjadi faktor utama penyuplai energi bagi ikan apabila makanan kurang dari kebutuhan ikan yang dipelihara maka yang terjadi tidak adanya energi untuk pertumbuhan ikan (Teduh et al. Kandungan protein pada pakan akan mempengaruhi laju pertumbuhan ikan dan jumlah pakan yang lebih sedikit akan mempengaruhi pertumbuhan ikan menjadi lebih lambat dibandingkan dengan pemberian pakan yang lebih banyak (Hermawan et al. Pertumbuhan pada tubuh ikan akan dipengaruhi oleh jumlah kandungan nutrien yang tersedia pada saat pemeliharaan ikan, semakin banyak jumlah nutrien yang dikonsumsi oleh ikan maka akan menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan beraktifitas oleh setiap individu ikan (Putra et al. Menurut Suminto et al. , pakan yang memiliki protein yang baik akan berpengaruh pada tingkat kesukaan makan ikan yang dipelihara dan ikan yang mengkonsumsi lebih banyak pakan akan cenderung memiliki pertumbuhan yang lebih baik. Pemberian Pakan Alami Cacing Sutera Pertumbuhan ikan yang rendah juga dapat diakibatkan karena adanya sebuah interaksi agonistik antara ikan yang dipelihara dalam sebuah wadah, dimana interaksi agonistik ini mempengaruhi individu ikan yang hidup pada sebuah perairan dengan melihat tingkah laku dari ikan tersebut yang mencakup pertahanan diri terhadap individu lain dan juga perlawanan secara agresif terhadap individu lain hal ini yang mengakibatkan stres pada ikan (Diantin et al. Dugaan penyebab penurunan pertumbuhan yang menggunakan FR cacing sutera terendah yaitu FR 8% adalah kurangnya energi pakan cacing sutera yang dimanfaatkan oleh individu benih ikan ctenopoma pada pemeliharaan, hal ini terjadi dikarenakan persaingan untuk mendapatkan makanan yang pada akhirnya benih ikan ctenopoma yang lemah tidak mengakibatkan pertumbuhan rendah pada FR 8%. Hasil dari penelitian Sugito dan Asnawi . menyatakan pada benih ikan ctenopoma, pada penelitian yang dilakukan menggunakan 100% pakan alami cacing sutera dengan pemberian feeding rate (FR) 8% didapatkan hasil pertumbuhan panjang mutlak 0,7 cm selama 28 hari pemeliharaan. Pertumbuhan panjang mutlak pada penelitian yang dilakukan lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Sugito dan Asnawi . , hal ini dapat terjadi diduga pada penelitian ini menggunakan ukuran ikan yang lebih kecil dan padat tebar ikan yang lebih tinggi. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Sari et al. yaitu pada benih ikan sidat, dimana dari penelitian yang dilakukan menggunakan feeding rate (FR) cacing sutera yang berbeda pada konsentrasi 5%, 8%, 11% dan 14% didapatkan hasil pertumbuhan bobot dan panjang tertinggi pada pemberian FR cacing sutera tertinggi yaitu 14%, hal ini mendukung hasil yang didapatkan dari penelitian benih ikan ctenopoma yang Jurnal Mina Sains ISSN: 2407-9030 Volume 5 Nomor 2. Oktober 2019 sudah dilakukan. Hasil yang didapatkan menunjukkan semakin besar FR yang diberikan maka pertumbuhan benih ikan ctenopoma akan semakin tinggi. Tingkat kelangsungan hidup adalah kemampuan individu mahluk hidup dalam hal ini adalah ikan, untuk dapat mempertahankan kehidupannya dalam waktu tertentu (Verawati et al. Kualitas hidup dalam pemeliharaan benih ikan ctenopoma mendapatkan hasil tidak berbeda nyata antar perlakuan yang ada. Hasil ini disebabkan karena benih ikan ctenopoma dapat hidup dengan baik pada wadah budidaya dengan kondisi yang sesuai dengan kebutuhan benih ikan ctenopoma, sehingga ikan ctenopoma masih dapat mentolerir tingkat kehidupan pada akhir pemeliharaan. Parameter kualitas air dapat dipertahankan dengan baik (Tabel . , dimana kualitas air yang didapatkan masih dalam baku mutu yang baik bagi pemeliharaan ikan, hal ini terjadi karena pengolahan kualitas air yang dilakukan dengan baik dengan cara penyifonan feses ikan, pemberian air sesuai dengan air yang dikeluarkan pada saat penyifonan dan penggunaan aerasi yang pada akhirnya mampu mencegah penumpukan toksik berbahaya bagi ikan yang dipelihara. Kualitas hidup dalam penelitian ini juga dipengaruhi oleh protein didalam pakan cacing sutera sebesar 57% protein yang tersedia, yang pada akhirnya walaupun feeding rate diberikan berbeda namun energi yang dihasilkan oleh pakan mempertahankan hidup selama proses pemeliharaan (Sari et al. Hasil yang tidak berbeda nyata pada kelangsungan hidup benih ikan ctenopoma juga dipengaruhi oleh faktor dalam pada setiap individu benih ikan dalam mencerna pakan yang diberikan, yang menyebabkan benih ikan akan bertahan hidup menggunakan energi yang berasal dari pakan (Putra et al. Hasil dari penelitian yang dilakukan Sugito dan Asnawi . yaitu pada benih ikan ctenopoma, dimana pada penelitian yang dilakukan menggunakan 100% pakan alami cacing sutera dengan feeding rate 8% didapatkan hasil kelangsungan hidup akhir sebesar 95%. Kelangsungan hidup pada penelitian yang dilakukan lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian Sugito dan Asnawi, hal ini dapat terjadi diduga pada penelitian ini menggunakan padat tebar yang lebih tinggi dan ukuran ikan yang lebih kecil. Kualitas air yang baik dapat mendukung kehidupan benih ctenopoma, penyifonan sisa feses pada wadah pemeliharaan ikan, penambahan jumlah air baru yang sesuai dengan air yang dikeluarkan saat proses penyifonan dan penggunaan aerasi pada setiap unit uji mendukung terciptanya lingkungan yang ideal bagi hidup benih ikan ctenopoma. Hal tersebut didukung dengan adanya hasil pengukuran kualitas air yang baik pada (Tabel . Kualitas air yang ada pada wadah pemeliharaan secara umum mengalami fluktuasi yang normal dalam batas nilai baku mutu kualitas air yang dibutuhkan untuk hidup dan tumbuh bagi benih ikan ctenopoma, kualitas air suhu dalam hal ini mengalami fluktuasi namun dalam kondisi yang normal pada suhu ruang yang masih dapat menunjang kualitas hidup dari benih ikan ctenopoma yaitu pada suhu 25-27oC air, hasil yang didapatkan sesuai dengan pernyataan Alderton . yaitu suhu air yang optimal bagi kehidupan ikan ctenopoma adalah 23-28oC. Kualitas air pH dalam hal ini juga masih dalam kondisi yang normal bagi nilai baku mutu yaitu mulai dari 6,57,1 dengan rata-rata pH harian 6,8-6,9 pada wadah pemeliharaan, hasil ini didukung pernyataan Alderton . dimana pH yang optimal bagi kehidupan ikan ctenopoma adalah 6,5-7. Sedangkan untuk kualitas air DO memiliki nilai kadar yang baik dan optimal bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan, semakin lama waktu pemeliharaan DO yang dihasilkan semakin menurun, dimana pada awal pemeliharaan benih ikan ctenopoma DO yang dihasilkan adalah 6,4-6,7 mg/L dan pada akhir Setiawan dan Muarif pemeliharaan didapatkan DO menjadi 5,75,9 mg/L, hasil yang didapatkan pada pengukuran DO didukung oleh pernyataan Boyd . yang menyatakan kadar minimal DO yang baik bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan adalah 5 mg/L hingga jenuh. Kualitas air Amonia (NH. didapatkan hasil yang baik dan optimal bagi kelangsungan hidup ikan dimana hasil yang didapatkan memiliki nilai 0,25 mg/L, hal ini menunjukkan nilai yang didapatkan pada hasil pengukuran amonia masih dalam nilai baku mutu yang baik bagi kualitas air yang tidak tercemar dengan pernyataan Boyd . yang menjelaskan bahwa nilai kadar amonia 0,25 mg/L masih dalam nilai baku mutu kualitas air yang dapat digunakan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pemberian pakan alami cacing sutera (Tubifex sp. ) dengan feeding rate yang berbeda menghasilkan nilai yang terbaik pada pemberian feeding rate 12%, dan nilai terendah didapatkan pada pemberian Feeding rate 8%. Sedangkan pada tingkat kelangsungan hidup didapatkan hasil tidak berbeda nyata antar perlakuan dengan nilai rata-rata diatas 90%. Saran Pemeliharaan benih ikan ctenopoma dapat menggunakan feeding rate 12%. Penelitian lanjutan disarankan dengan pemberian feeding rate cacing sutera (Tubifex sp. ) yang lebih tinggi dari 12% pada benih ikan ctenopoma. DAFTAR PUSTAKA