Open Community Service Journal 5 . : 1-15 2026 Contents lists available at openscie. E-ISSN: 2828-1195 Open Community Service Journal DOI: 10. 33292/ocsj. Journal homepage: https://opencomserv. Gerakan Mendidik Anak Desa (GEMA): Upaya Peningkatan Kreasi. Literasi, dan Motivasi Belajar Anak di Desa Godog. Kabupaten Sukoharjo Rima Vien Permata Hartanto1. Enricho Santuario1. Faishal1. Muharra Teddy Erwiansyah1. Shofa Salsabila1 Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia *Correspondence E-mail: rimavien@staff. INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Disubmit 11 Juni 2025 Diperbaiki 31 Juli 2025 Diterima 2 Januari 2026 Diterbitkan 2 Februari 2026 Latar Belakang: Di Desa Godog. Kabupaten Sukoharjo, masih ditemukan permasalahan yang menjadi salah satu tantangan utama dalam dunia pendidikan, yaitu rendahnya literasi dan motivasi belajar Tujuan: Untuk menjawab permasalahan tersebut. Program Gerakan Mendidik Anak Desa (GEMA) dirancang sebagai langkah inisiatif yang menitikberatkan pada pengembangan kreativitas, literasi, dan motivasi belajar anak-anak. Metode: Program ini dilaksanakan melalui metode pendampingan secara langsung dengan berbagai kegiatan, seperti penggunaan media digital, permainan, dan kesenian. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa anak-anak menjadi lebih termotivasi dan memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap proses belajar. Mereka juga menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi dalam mengikuti kegiatan, terutama saat terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan dan berbasis teknologi. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif dan inovatif melalui media kreatif dan digital dapat menjadi cara alternatif dalam menumbuhkan semangat belajar anak-anak di desa. Kesimpulannya. GEMA dapat memberikan kontribusi positif dalam membangun lingkungan belajar yang lebih menarik, mengembangkan literasi, dan mendorong keberlanjutan semangat belajar anak-anak di desa secara holistik. Kata Kunci: Kreativitas Anak. Literasi Digital. Motivasi Belajar. Pendidikan Desa. Program Komunitas. Untuk mengutip artikel ini: Hartanto. Santuario. Faishal. Erwiansyah. Salsabila. Gerakan Mendidik Anak Desa (GEMA): Upaya Peningkatan Kreasi. Literasi, dan Motivasi Belajar Anak di Desa Godog. Kabupaten Sukoharjo. Open Community Service Journal, 5. , 1Ae15. Artikel ini berada di bawah lisensi: A Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. License. Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Copyright A2025 by author/s Pendahuluan Pendidikan merupakan suatu hal penting bagi sebuah negara dan bangsa karena Pendidikan menjadi dasar bagi setiap orang untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pendidikan wajib dipahami sebagai substitusi dari proses pembudayaan peserta didik. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah proses yang dilakukan manusia untuk mengubah sikap individu atau kelompok secara mandiri, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai melalui kegiatan pembelajaran, pengembangan, dan pelatihan. Pendidikan memegang peranan sentral baik pendidikan formal maupun non formal sebagai fondasi krusial bagi kemajuan suatu bangsa dan akses terhadap pendidikan berkualitas merupakan hak fundamental bagi setiap warga negara. Pendidikan mendorong peningkatan kualitas manusia dalam bentuk meningkatnya kompetensi kognitif, afektif, maupun psikomotorik (Disas, 2. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu dan keterampilan, pendidikan menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah dan kemajuan suatu peradaban bangsa yang mengedepankan pendidikan berkualitas bagi seluruh warganya akan menuai sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan berdaya saing Maka, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan peralihan pengetahuan dan memiliki keterampilan saja, tetapi juga sebagai penumbuhan dan pengembangan individu peserta didik untuk menjadi manusia yang beradab dan berbudaya (Syaparuddin & Elihami, 2. Namun kenyataannya, masih terdapat kondisi yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kualitas pendidikan di perkotaan dan pedesaan. Berdasarkan pengamatan di lapangan yang dilakukan oleh Tim Hibah kami, kondisi demografis di Desa Godog menunjukkan data bahwa mayoritas pendidikan anak-anak di Desa Godog saat ini sedang menempuh pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD). Sedangkan mayoritas penduduk di Desa Godog bermata pencaharian pekerjaan sebagai petani. Hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas anak-anak di desa, karena orang tua kurang memiliki pengalaman dalam pendidikan menyebabkan rendahnya pemahaman mengenai pendidikan bagi anak-anak. Kondisi ini berpotensi dapat membatasi perkembangan akademik mereka, tetapi juga menghambat tumbuhnya semangat belajar pada anak-anak di desa. Selain itu anak-anak di Desa Godog menghadapi tantangan berupa permasalahan belajar yang meliputi motivasi belajar yang kurang, metode pembelajaran yang monoton serta rendahnya akses pembelajaran kreatif. Dimana pedesaan tempat kami melaksanakan pengabdian masyarakat anak-anak usia Taman Kanak-kanak (TK) masih kesulitan dalam membaca dan menulis . ata diperoleh dari satu orang tua yang ditemui pada saat pelaksanaan GEMA). Hal ini menujukkan perlu diadadakanya pendampingan bagi anak-anak desa agar dapat membantu serta meningkatkan motivasi semangat belajar anak-anak desa saat mengikuti pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan upaya strategis dan inovatif sangat dibutuhkan untuk mengatasi kesenjangan dan memastikan setiap anak di desa memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai setiap potensi yang mereka miliki melalui pendidikan yang berkualitas. Apabila tidak segera diatasi anak-anak di desa akan mengalami sedikit ketertinggalan dari anak-anak yang ada di kota dalam penggunaan teknologi bidang pendidikan contohnya penggunaan media inovatif seperti permainan edukatif dan web berbasis digital dalam meningkatkan motivasi serta semangat belajar anak-anak desa. Maka muncul berbagai inisiatif dan gerakan yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan di wilayah perdesaan melalui Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang merupakan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbu. pada awal tahun 2020 sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia (Aan et al. , 2. Program MBKM menjadi kebijakan baru dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mulai diterapkan oleh perguruan tinggi merupakan pelaksanaan kegiatan untuk pengembangan bagi masyarakat desa melalui peran mahasiswa, sebagai agent of change atau penggerak untuk menuju perubahan ke arah yang lebih MBKM juga diharapkan mampu meningkatkan kreativitas dan kemandirian mahasiswa untuk selalu berinovasi demi mencari pengetahuan baru (Sabatini, 2. Ide atau gagasan yang dikembangkan oleh mahasiswa menjadi peran penting untuk melakukan perubahan kearah yang lebih Dengan moral yang tinggi diharapkan penempatan diri di tengah masyarakat ini dapat menjadi panutan terutama bagi masyarakat desa melalui pengabdian kepada masyarakat (Widia et al. , 2. Salah satu bentuk pengabdian masyarakat untuk meresponi kesenjangan pendidikan di kota dan desa serta untuk meningkatkan kreasi, literasi, dan motivasi belajar anak-anak di desa yaitu melalui program kerja yang diberi nama Gerakan Mendidik Anak Desa (GEMA). Program Gerakan Mendidik Anak Desa (GEMA) menjadi salah satu program kerja pada kegiatan Hibah Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pelaksanaan Program Gerakan Mendidik Anak Desa (GEMA) sebagai bentuk upaya kolektif yang melibatkan anak-anak di desa dalam rangka meningkatkan kreasi, literasi serta dorongan motivasi bagi anak-anak di desa agar lebih bersemangat dalam belajar. Program kerja ini disusun sebagai upaya untuk membantu anak-anak di desa. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua RT 03 Dukuh Tulakan. Desa Godog, menyatakan bahwa masih banyak anak di jenjang SD yang masih kesulitan belajar terutama dalam hal membaca, menulis, dan perhitungan dasar. Program Gerakan Mendidik Anak Desa (GEMA) juga bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dan literasi digital anak-anak di desa. Kami menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif, salah satunya melalui penggunaan media inovatif seperti permainan edukatif dan web berbasis digital. Pengalaman belajar yang menarik dan menyenangkan ini diharapkan dapat memberikan dorongan yang positif serta mendorong partisipasi aktif anak-anak sekolah dasar agar anak-anak di desa lebih percaya diri dan memiliki semangat belajar yang tinggi dalam proses belajar. Metode Pelaksanaan Pelaksanaan Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak usia dini di Desa Godog. Program ini berlangsung dari tanggal 6 Maret 2025 hingga 17 Mei 2025, dengan total 14 pertemuan yang dilaksanakan dua kali seminggu, tepatnya hari Kamis dan Sabtu. Kegiatan berlangsung di lingkungan desa yang telah dilengkapi fasilitas seperti meja, kursi, papan tulis, serta media pembelajaran lainnya, guna menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif. Peserta program paling banyak terdiri dari 52 anak-anak usia TK sampai SD/MI dari berbagai tingkat kelas, mulai dari TK A. TK B, hingga kelas 1 sampai kelas 6. Pengajar dan pendamping berasal dari tim hibah MBKM UNS, yang telah terlatih dalam menerapkan metode pembelajaran interaktif dan menyenangkan sehingga mampu menyesuaikan pendekatan pengajaran dengan kebutuhan dan gaya belajar masing-masing anak, sehingga proses belajar menjadi lebih menarik dan efektif. Dalam tahap persiapan dan pelaksanaan, terdapat beberapa pihak yang terlibat secara aktif. Koordinasi awal dilakukan bersama RT. RW. Kepala Sekolah, serta Kepala Dusun untuk memastikan kesiapan tempat, fasilitas, dan alat pendukung lainnya. Pada saat pelaksanaan, semua kegiatan diawasi oleh tim Hibah MBKM UNS yang mengumpulkan data melalui observasi langsung, menggunakan daftar kehadiran, serta dokumentasi foto kegiatan. Data tersebut kemudian dianalisis untuk menilai tingkat partisipasi dan keberhasilan program, terutama dari segi kehadiran dan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Program GEMA ini dirancang secara partisipatif dan bersifat edukatif. Metode yang digunakan meliputi kegiatan interaktif, diskusi, kegiatan kelompok, serta pemanfaatan media pembelajaran inovatif seperti kolase origami dan kerajinan tangan untuk mendorong kreativitas serta motivasi Berikut adalah langkah-langkah pelaksanaan Program GEMA sampai dengan tahap monitoring dan evaluasi pelaksanaan pengabdian masyarakat secara rinci: Perencanaan Awal dan Koordinasi Melakukan koordinasi awal dengan RT. RW. Kepala Sekolah, dan Kepala Dusun untuk membahas persiapan pelaksanaan, seperti penyediaan tempat, fasilitas, dan alat pendukung. Menyusun jadwal kegiatan, termasuk waktu pelaksanaan dan kesiapan sumber daya manusia serta media pembelajaran yang diperlukan. Pembukaan Kegiatan GEMA Melakukan pembukaan secara resmi di Balai Desa Godog oleh pihak Pemerintah Desa dan Ketua Hibah MBKM sebagai tanda resmi dimulainya kegiatan dan memberikan motivasi kepada peserta serta . Pelaksanaan Kegiatan Melaksanakan 14 pertemuan rutin yang dilakukan dua kali seminggu (Kamis dan Sabt. Materi yang diajarkan meliputi literasi, numerasi, dan kreasi dengan pendekatan interaktif dan menyenangkan. Penggunaan media dan alat bantu seperti kolase origami, kerajinan tangan, papan tulis, serta kegiatan kreatif lainnya dilakukan untuk meningkatkan motivasi dan kreativitas peserta. Pendampingan dan Partisipasi Aktif Pendampingan langsung melalui diskusi, tanya jawab, serta kegiatan kelompok yang mendorong partisipasi anak secara aktif. Memberikan motivasi, pujian, dan umpan balik positif agar peserta percaya diri dan termotivasi belajar mandiri. Pengumpulan Data Selama Pelaksanaan Melakukan observasi langsung dengan pencatatan presensi peserta setiap sesi kegiatan. Mendokumentasikan kegiatan melalui foto dan catatan lapangan untuk menilai keaktifan dan partisipasi peserta. Monitoring Berkala Melakukan pengawasan rutin untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai jadwal, dan fasilitas serta media pembelajaran tersedia dan berfungsi dengan baik. Melakukan evaluasi terhadap tingkat kehadiran peserta dan pemahaman mereka terhadap materi yang disampaikan, yang dilihat dari keaktifan dan respons selama kegiatan. Evaluasi Akhir dan Pelaporan Setelah seluruh kegiatan selesai, dilakukan analisis terhadap data kehadiran, partisipasi, dan pemahaman peserta. Membuat laporan hasil evaluasi terkait keberhasilan program, hambatan selama pelaksanaan, serta rekomendasi untuk pengembangan kegiatan di masa depan. Memberikan umpan balik kepada semua pihak terkait, termasuk masyarakat desa dan tim pelaksana, agar perbaikan dapat dilakukan untuk kegiatan selanjutnya. Tujuan akhirnya adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan partisipatif, agar program GEMA dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan di masyarakat desa, sekaligus memberi manfaat maksimal bagi perkembangan anak-anak usia dini di Desa Godog. Hasil dan Pembahasan Gambaran Umum GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. adalah sebuah program yang dirancang untuk membantu anak-anak di desa yang mengalami kesulitan belajar, terutama dalam membaca, menulis, dan perhitungan dasar. Program ini menerapkan pendekatan pembelajaran yang interaktif dan bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar serta membangun kepercayaan diri peserta agar mereka lebih termotivasi untuk berkembang secara optimal. Pelaksanaan program dilakukan secara rutin dua kali seminggu, yaitu setiap hari Kamis dan Sabtu, yang dimulai tanggal 06 Maret 2025 hingga 17 Mei 2025, dengan total 14 kali pertemuan. Dalam setiap pertemuan, dilakukan persiapan sarana dan prasarana seperti MMT dan papan tulis untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan nyaman bagi anak4 anak, sehingga mereka dapat belajar dengan lebih efektif dan menyenangkan. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. telah terlaksana sebanyak 14 kali pertemuan, dengan pengajar berasal dari tim hibah MBKM Kegiatan ini menunjukkan komitmen untuk memberikan pendampingan belajar yang efektif dan menyenangkan, serta berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di desa tersebut. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. diikuti oleh peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK hingga SD/MI. Berikut adalah rincian jumlah peserta berdasarkan jenjang Tabel 1. Peserta GEMA No. Kelas TK A TK B Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 4 Kelas 5 Kelas 6 Total Peserta Jumlah Sumber: Data Primer Tim Pengabdi, 2025 Data ini menunjukkan antusiasme tinggi dari peserta dalam mengikuti kegiatan belajar tambahan yang disediakan oleh program ini. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan di desa dengan memberikan bimbingan belajar kepada anak-anak usia TK dan SD/MI. Kegiatan ini mencakup pendampingan belajar, penyampaian materi, dan motivasi belajar. Metode yang digunakan meliputi pendekatan motivasi, penyampaian materi yang sesuai dengan jenjang pendidikan, serta membantu menyelesaikan tugas sekolah dan mengenalkan materi baru. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. tidak hanya meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar peserta, tetapi juga memberikan dampak positif pada pola belajar mereka di rumah serta memperluas wawasan mereka. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. tidak hanya fokus pada pelajaran sekolah, tetapi juga membantu peserta menjadi lebih kreatif dan semangat belajar melalui cara-cara yang menyenangkan dan melibatkan mereka secara Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. berhasil menarik perhatian anak-anak di Desa Godog untuk ikut serta dalam kegiatan belajar yang menyenangkan. Sejak awal sampai akhir program, jumlah anak yang ikut terus bertambah. Berikut ini adalah data perkembangan jumlah peserta di setiap Tabel 2. Partisipasi Peserta GEMA dari Pertemuan Pertama hingga Pertemuan Akhir Pertemuan ke- Jumlah Anak Sumber: Data Primer Tim Pengabdi, 2025 Pada pelaksanaan Program GEMA, jumlah anak yang ikut kegiatan terus meningkat dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya. Pada pertemuan pertama, ada 13 anak yang hadir. Jumlah ini naik menjadi 17 anak di pertemuan kedua, lalu bertambah menjadi 20 anak di pertemuan ketiga. Peningkatan ini terus berlanjut dengan 22 anak yang hadir pada pertemuan keempat dan kelima. Puncaknya, pada pertemuan keenam, jumlah peserta mencapai 26 anak. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak mulai tertarik dan menikmati kegiatan yang diberikan dalam program. Pertemuan ke- Jumlah Anak Gambar 1. Partisipasi Peserta GEMA dari Pertemuan Pertama hingga Pertemuan Akhir Sumber: Data Tim Pengabdi, 2025 Namun, pada pertemuan ketujuh dan kedelapan, jumlah peserta menurun menjadi 16 dan 10 anak. Penurunan ini bukan disebabkan karena mereka kehilangan minat, melainkan karena bertepatan dengan pelaksanaan ujian tengah semester (STS) di sekolah, sehingga banyak anak tidak bisa hadir. Setelah ujian selesai, partisipasi anak-anak kembali meningkat dengan cepat. Mulai dari pertemuan kesembilan hingga keempat belas, jumlah peserta terus bertambah setiap minggunya. Pada pertemuan terakhir, tercatat sebanyak 52 anak aktif mengikuti kegiatan. yang menarik, banyak dari mereka datang karena diajak oleh teman-temannya yang sudah lebih dulu ikut dan merasa senang. Perkembangan jumlah peserta ini menunjukkan bahwa Program GEMA benar-benar diterima dengan baik oleh anak-anak dan memberikan dampak positif. Meskipun sempat mengalami penurunan karena faktor eksternal seperti ujian sekolah, program ini tetap mampu menarik minat peserta hingga akhirnya partisipasi anak meningkat secara signifikan. Hal ini juga membuktikan bahwa kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat dapat menumbuhkan semangat belajar dan kebersamaan di kalangan anak-anak desa. Selain itu. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. juga memberikan pengaruh positif secara emosional, seperti meningkatkan minat belajar dan kebiasaan belajar di rumah, terutama karena adanya dukungan dari orang tua. Materi pelajaran disesuaikan dengan kebutuhan peserta, seperti matematika, bahasa Inggris, dan pendidikan kewarganegaraan, yang diajarkan dengan cara menarik, misalnya melalui sesi tanya jawab dan pemberian hadiah untuk peserta yang aktif. Selain belajar, peserta juga diajak berkarya dengan membuat gantungan kunci dari kawat bulu, hiasan dari clay, kolase dari kertas origami, dan batik tie dye. Dengan berbagai kegiatan tersebut. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, membantu peserta yang mengalami kesulitan belajar, sekaligus mengembangkan kreativitas mereka. Mengajar dan bimbingan belajar sendiri adalah proses membantu peserta memahami pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai penting dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar mereka (Wulandari et al. , 2. Di lingkungan desa, penting sekali untuk menyesuaikan cara mengajar dengan kondisi dan gaya belajar anak agar mereka lebih mudah memahami materi dan merasa senang saat Pendekatan yang tepat tidak hanya membuat penyampaian materi jadi lebih efektif, tetapi juga dapat meningkatkan semangat belajar peserta, mendorong mereka berpikir kritis dan kreatif, serta membantu mereka berkembang secara maksimal . erlihat pada Gambar . Gambar 2. Pelaksanaan Gema Sumber: Dokumentasi Tim Pengabdi, 2025 Peningkatan Literasi. Kreasi, dan Motivasi Belajar 1 Peningkatan Literasi Peningkatan literasi menjadi salah satu fokus utama Program Gerakan Mendidik Anak Desa (GEMA) dalam mendukung perkembangan anak desa. Pelaksanaannya Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. tidak hanya menggunakan metode konvensional, tetapi juga mengintegrasikan teknologi digital sebagai media pembelajaran. Salah satu bentuk inovasi yang dilakukan adalah pemanfaatan situs Wordwall. Wordwall merupakan platform interaktif yang memungkinkan anak-anak belajar sambil bermain melalui kuis, tebak-tebakan, dan permainan edukatif lainnya (AfAoidah, 2. Konten yang disajikan dalam platform ini meliputi tema-tema seperti makanan khas daerah, pengetahuan umum, serta tantangan literasi dasar lainnya yang dapat merangsang minat dan keterlibatan anak secara aktif dalam proses pembelajaran. Wordwall digunakan dalam Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. sebagai alat bantu untuk mengajarkan anak-anak membaca, memahami informasi, dan mengerjakan soal secara interaktif. Platform ini terbukti mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta melalui pendekatan gamifikasi yang menyenangkan. Hasil kajian Hartati et al. menunjukkan bahwa Wordwall dapat menciptakan pengalaman belajar yang dinamis dan berpusat pada peserta, meningkatkan partisipasi aktif, serta mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas peserta didik. Selain itu, penelitian oleh Aidah & Nurafni . juga memperkuat bahwa Wordwall merupakan media pembelajaran yang mudah digunakan dan efektif dalam meningkatkan minat serta motivasi belajar peserta di sekolah dasar. Dengan menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan berbasis teknologi seperti Wordwall. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. mampu menghadirkan suasana belajar yang tidak hanya informatif tetapi juga menyenangkan bagi anak-anak. Selain itu, adanya gamifikasi yang diterapkan melalui platform Wordwall mendorong kolaborasi dan keterlibatan emosional peserta. Seperti yang dijelaskan oleh Putra et al. , elemen-elemen permainan seperti poin, lencana, dan papan peringkat tidak hanya membangun suasana kompetitif yang sehat tetapi juga meningkatkan motivasi intrinsik peserta dalam belajar. Dengan demikian. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. tidak hanya mengembangkan kemampuan literasi melalui pembiasaan dan materi bacaan, tetapi juga melalui pemanfaatan media interaktif yang berbasis permainan sebagai bentuk pembelajaran inovatif dan menyenangkan . erlihat pada Gambar . Gambar 3. Pengenalan Literasi Digital Kepada Anak-Anak Desa Godog Sumber: Dokumentasi Tim Pengabdi, 2025 2 Peningkatan Kreasi Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. telah kami laksanakan di Desa Godog. Kabupaten Sukoharjo dengan tujuan untuk meningkatkan kreasi, literasi, dan motivasi belajar anak-anak. Dalam pelaksanaan program ini, kami mengadakan serangkaian kegiatan kreatif yang melibatkan anak-anak desa, di antaranya adalah membuat gantungan kunci dari kawat bulu warna-warni, hiasan dari clay, kolase dari potongan kertas warna-warni, dan batik tie dye. Kegiatan-kegiatan ini dirancang untuk merangsang imajinasi dan kreativitas anak-anak, serta memberikan mereka kesempatan untuk mengekspresikan diri melalui seni, dan kreativitas mereka. Kegiatan kreasi pertama yang kami lakukan adalah membuat gantungan kunci dari kawat bulu warnawarni. Dalam sesi ini, anak-anak kami ajarkan cara membentuk kawat bulu menjadi bentuk yang menarik, seperti bunga yang berwarna-warni. Proses ini melatih ketelitian dan kreativitas anak-anak karena mereka bekerja dengan bahan yang lentur namun memerlukan ketelitian dalam pembentukan Selain keterampilan teknis, kegiatan ini juga meningkatkan rasa percaya diri saat anak-anak berhasil menyelesaikan karya yang unik dan berbeda dari biasanya. Pencapaian ini memberikan efek positif terhadap kepercayaan diri mereka dalam bereksplorasi dan berkreasi . erlihat pada Gambar . Gambar 4. Membuat Gantungan Kunci dari Kawat Bulu Sumber: Dokumentasi Tim Pengabdi, 2025 Selanjutnya, kami mengadakan sesi pembuatan hiasan dari clay. Anak-anak diajarkan teknik dasar dalam membentuk clay menjadi berbagai bentuk lucu, seperti bunga, hewan, dan benda-benda lainnya. Proses ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk menyalurkan ide dan imajinasi mereka menjadi karya nyata. Teknik membentuk clay juga mengajarkan kesabaran dan ketelitian karena proses pembentukan memerlukan kendali dan fokus yang baik. Selain itu, anak-anak belajar memahami tahapan pembuatan karya seni dari awal hingga selesai, yang menambah wawasan mereka mengenai seni kriya . erlihat pada Gambar . Gambar 5. Membuat Hiasan dari Clay Sumber: Dokumentasi Tim Pengabdi, 2025 Kegiatan selanjutnya membuat kolase dari potongan kertas warna-warni menjadi salah satu favorit anak-anak. Mereka kami ajarkan untuk memilih warna potongan kertas yang mereka sukai dan menyusunnya menjadi gambar atau pola yang menarik. Melalui kegiatan ini, mereka tidak hanya dilatih untuk mengembangkan kreativitas, tetapi juga belajar mengenai konsep seni seperti pemilihan warna, keserasian, dan komposisi. Aktivitas ini membantu mereka memahami cara menyusun elemen-elemen kecil menjadi sebuah karya yang harmonis sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dan estetika . erlihat pada Gambar . Gambar 6. Membuat Kolase dari Potongan Kertas Origami Sumber: Dokumentasi Tim Pengabdi, 2025 Terakhir, kami melaksanakan kegiatan batik tie dye, dimana anak-anak belajar tentang teknik pewarnaan kain dengan pola yang menarik. Kegiatan ini membuka wawasan mereka terhadap seni tradisional sekaligus memberikan pengalaman praktis dalam proses pembuatan batik dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Pengenalan budaya melalui seni membantu anak-anak menghargai nilainilai tradisional sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas lokal mereka . erlihat pada Gambar . Gambar 7. Membuat Batik Tie Dye Sumber: Dokumentasi Tim Pengabdi, 2025 Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, terjadi peningkatan yang signifikan dalam kreativitas anak-anak. Mereka menunjukkan antusiasme yang tinggi dan keterlibatan yang aktif selama setiap sesi. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan manfaat sosial, di mana anak-anak belajar untuk bekerja sama dan saling mendukung dalam menciptakan karya seni yang unik dan menarik. Dampak positif lainnya adalah peningkatan motivasi belajar anak-anak. Dengan adanya kegiatan kreatif ini, mereka menjadi lebih bersemangat untuk belajar dan mengeksplorasi hal-hal baru. Kegiatan seni ini juga berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan literasi, di mana anak-anak diajak untuk mendiskusikan ide-ide mereka dan menceritakan proses kreatif yang mereka lakukan. 3 Peningkatan Motivasi Belajar Motivasi belajar menjadi sebuah faktor kunci dalam keberhasilan proses pendidikan. Motivasi belajar adalah daya penggerak dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan kegiatan belajar tersebut demi mencapai tujuan (Fernando dkk,2. Di Desa Godog. Kabupaten Sukoharjo rendahnya motivasi belajar anak dipengaruhi oleh kurangnya dukungan lingkungan dan pendekatan pembelajaran formal yang kurang variatif. Dalam konteks tersebut. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. berperan sebagai inovasi sosial yang menawarkan model pembelajaran alternatif berbasis komunitas yang humanistik dan partisipatif. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, bebas tekanan, dan mendukung keterlibatan aktif anak dalam setiap aktivitas. Pembelajaran humanistik menciptakan suasana lingkungan belajar yang non-otoriter dan menghargai potensi anak serta mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik (Jauhari & Karyono, 2. Anak-anak dalam kegiatan Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. bebas mengekspresikan diri melalui seni, permainan edukatif, membaca, dan menulis tanpa rasa takut salah. Berbagai kegiatan yang telah dilakukan dapat memperkuat rasa ingin tahu dan memberikan ruang aktualisasi diri yang sangat penting dalam pembentukan sikap belajar yang positif. Kehadiran relawan sebagai pendamping belajar yang bersikap hangat dan terbuka menjadi penguat utama dalam menciptakan hubungan emosional yang sehat antara anak dan lingkungan belajarnya. Seorang individu akan termotivasi untuk belajar ketika kebutuhan dasarnya termasuk rasa aman, dihargai, dan diterima telah terpenuhi (Salam, 2. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. mampu menghadirkan rasa aman emosional bagi anak, sehingga mereka merasa nyaman dan terdorong untuk belajar secara sukarela. Selain itu, keberhasilan anak dalam menyelesaikan tugas sederhana selama kegiatan, seperti membaca, menulis, dan menampilkan karya seni telah membentuk rasa percaya diri. Rasa percaya diri membentuk keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam melakukan suatu tugas yang mempengaruhi motivasi dan tindakan mereka (Kurniawati & Sunita, 2. Dalam Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. , keberhasilan kecil yang diperoleh anak menjadi fondasi motivasi yang mendorong mereka untuk terus berusaha dan berkembang. Dampak peningkatan motivasi belajar tersebut diharapkan tidak hanya terlihat saat kegiatan berlangsung, tetapi juga dalam keseharian anak di rumah dan sekolah. Anak-anak diharapkan menjadi lebih semangat mengerjakan tugas, lebih percaya diri berbicara di kelas, dan menunjukkan minat lebih besar terhadap aktivitas belajar lainnya. Dengan demikian. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. bukan hanya menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga berhasil menumbuhkan motivasi belajar yang berkelanjutan melalui pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan psikologis anak . erlihat pada Gambar . Gambar 8. Peningkatan Motivasi Belajar kepada Anak-anak di Desa Godog Sumber: Dokumentasi Tim Pengabdi, 2025 3 Respon Antusiasme Anak dalam Peningkatan LIterasi. Numerasi, dan Motivasi Tabel 3. Partisipasi Peserta GEMA dari Pertemuan Pertama hingga Pertemuan Akhir Pertemuan ke1 Jumlah Anak Sumber: Data Primer Tim Pengabdi, 2025 Program GEMA berfokus pada meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis anak-anak di Desa Godog melalui kegiatan literasi. Kegiatan ini dilaksanakan selama 10 pertemuan awal dengan metode pembelajaran yang variatif, termasuk penggunaan media digital interaktif Wordwall. Selama 10 pertemuan tersebut, total akumulasi kehadiran peserta tercatat sebanyak 199 kali, dengan ratarata 20 anak hadir pada setiap sesi. Dengan demikian, tingkat partisipasi literasi mencapai sekitar 38,5% dari total 52 peserta yang terdaftar. Persentase ini menunjukkan antusiasme awal yang baik, didukung oleh pendekatan kreatif dan digital. Meskipun partisipasi belum maksimal, keterlibatan peserta terus meningkat seiring bertambahnya variasi kegiatan. Penurunan jumlah peserta pada pertemuan ke-7 dan ke-8 terjadi karena pelaksanaan Sumatif Tengah Semester (STS) di sekolah. Setelah itu, partisipasi melonjak hingga mencapai puncak pada pertemuan ke-14 dengan kehadiran penuh 52 anak. Kegiatan kreasi dalam Program GEMA bertujuan meningkatkan kreativitas, keterampilan, dan berekspresi melalui aktivitas yang menyenangkan seperti kolase origami, batik tie dye, karya kawat bulu, dan hiasan clay. Kegiatan ini berlangsung dari pertemuan ke-11 hingga ke-14 dengan metode partisipatif yang memberikan ruang bagi peserta untuk bebas berekspresi dan berkolaborasi. Partisipasi peserta menunjukkan peningkatan signifikan dengan rata-rata kehadiran 43,8 anak per pertemuan dari total 52 peserta, mencapai tingkat partisipasi 84,2%. Motivasi belajar menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendidikan anak-anak desa yang menghadapi keterbatasan akses. Program GEMA mengintegrasikan peningkatan motivasi belajar dalam seluruh kegiatan dari pertemuan ke-1 hingga ke-14 dengan pendekatan yang menyenangkan dan Peserta aktif terlibat dalam berbagai aktivitas seperti bertanya, menyelesaikan tugas, mengikuti permainan edukatif, dan kegiatan seni. Total kehadiran peserta selama 14 pertemuan mencapai 382 kali, dengan rata-rata 27,3 anak per sesi, atau tingkat partisipasi 52,5%. Program ini menciptakan suasana belajar yang aman dan mendukung secara emosional, sesuai dengan prinsip pembelajaran humanistik. Kegiatan seni, permainan edukatif, dan penghargaan membantu membangun rasa percaya diri dan motivasi intrinsik yang berpengaruh positif pada sikap belajar anak di rumah dan 3 Tantangan dan Solusi Pelaksanaan Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. sebagai program pendidikan berbasis komunitas di Desa Godog. Kabupaten Sukoharjo tidak terlepas dari sebuah tantangan. Tantangan utama yang dihadapi adalah antusiasme dan keaktifan anak-anak di Desa Godog. Kabupaten Sukoharjo untuk selalu rutin mengikuti kegiatan GEMA. Tantangan tersebut berdampak pada konsistensi kehadiran anakanak dalam setiap sesi belajar. Untuk mengatasi tantangan tersebut. Tim Pengabdi membuat beberapa strategi sebagai solusi. Pertama. Tim Pengabdi aktif memberikan informasi kepada orang tua dan membuat poster yang menarik, kemudian poster tersebut dibagikan ke grup whatsapp. Kedua, membuat kegiatan dan agenda yang menarik bagi anak- anak, seperti membuat kerajinan dan permainan berbasis edukasi. Ketiga. Tim Pengabdi menyediakan snack dan memberikan souvenir kepada para peserta kegiatan. Keempat, membuat quiz berhadiah kepada peserta kegiatan. Dengan strategi yang dilakukan. Tim Pengandi mampu mengatasi hambatan yang dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan dalam pendidikan komunitas bukan penghalang mutlak, melainkan peluang untuk membangun pendidikan aktif dan interaktif bagi anak-anak di desa. Kesimpulan Program Gerakan Mendidik Anak Desa (GEMA) adalah program yang dilaksanakan di Desa Godog. Kabupaten Sukoharjo dan dirancang sebagai bentuk pengabdian masyarakat oleh mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang tujuan utamanya yakni memberikan pendampingan dan juga membantu anak-anak desa yang mengalami kesulitan belajar, khususnya pada aspek literasi dasar berupa membaca, menulis, dan berhitung. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. menerapkan pendekatan pembelajaran interaktif dengan berbasis teknologi digital salah satunya dengan menggunakan platform wordwall yang menjadi salah satu inovasi untuk menambah motivasi belajar bagi anak-anak desa. Selain itu, gerakan mendidik anak desa dapat meningkatan kreativitas dan juga keterampilan bagi anak-anak, kegiatan tersebut dicontohkan dengan membuat kreasi, seperti membuat gantungan kunci dari kawat bulu, hiasan clay, kolase warna-warni, dan juga batik tie dye. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak selalu dalam aspek pengetahuan semata namun juga menyentuh sikap dan juga pengembangan keterampilan secara seimbang. Selanjutnya. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. berhasil memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan motivasi belajar peserta bagi anak-anak Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dengan pendampingan hangat dan tanpa tekanan menjadi kunci utama yang menumbuhkan rasa percaya diri dalam belajar sehingga mendukung secara emosional untuk anak - anak desa dalam belajar. Dengan demikian, melalui Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. dapat membantu meningkatkan literasi, kreasi, dan juga motivasi belajar bagi anak-anak. Program GEMA (Gerakan Mendidik Anak Des. telah memberikan bukti nyata bahwa pendekatan pembelajaran yang interaktif, partisipatif, dan juga berbasis teknologi dapat menciptakan perubahan positif dan kualitas pendidikan di wilayah perdesaan terkhusus di Desa Godog. Kabupaten Sukoharjo. Program ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek dalam peningkatan akademik anak-anak desa, namun dapat menanamkan semangat belajar yang berkelanjutan bagi seluruh anak di Desa Godog. Kabupaten Sukoharjo. Ucapan Terimakasih Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Universitas Sebelas Maret Surakarta atas segala kesempatan, dukungan, dan fasilitas yang telah diberikan dalam penyelenggaraan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kami juga berterima kasih atas adanya Program Hibah MBKM UNS yang telah memberikan pendanaan dan pembekalan bagi Tim Pengabdi dengan nomor kontrak 135/UN27/KS/2025, sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak, terutama para guru, orang tua, serta masyarakat, dan anak-anak Desa Godog. Kabupaten Sukoharjo atas dukungan, bimbingan, partisipasi aktif, serta kepercayaan dalam melaksanakan kegiatan Gerakan Mendidik Anak Desa. Apresiasi juga kami tujukan kepada Tim Pengabdi serta semua pihak yang telah membantu pengumpulan data dan analisis demi kelancaran program ini. Authors Note Para penulis menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan mengenai publikasi artikel ini. Penulis mengkonfirmasi bahwa makalah tersebut bebas dari plagiarisme. References