Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index PERBAIKAN PENDAPATAN PETERNAK SAPI PENGGEMUKAN MELALUI PEMANFAATAN LAMTORO TARAMBA DI KECAMATAN UNTER IWIS. KABUPATEN SUMBAWA. NTB Hermansyah*. Anwar Fachry. Prasetyo Nugroho. Syamsul Hidayat Dilaga Fakultas Peternakan Universitas Mataram Jalan Majapahit 62 Mataram Korespondensi: hermanspany@gmail. Artikel history : Received Revised Published : 25 Maret 2024 : 29 April 2024 : 30 April 2024 DOI : https://doi. org/10. 29303/pepadu. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini selain bertujuan untuk meningkatkan pendapatan peternak dengan memanfaatkan Lamtoro Taramba sebagai pakan sapi penggemukan juga ditujukan sebagai upaya penyelematan lingkungan dari pengaruh erosi karena penggundulan lahan yang terjadi secara massif belakangan ini termasuk di Kecamatan Unter Iwis Kabupaten Sumbawa. Peternak selain mendapatkan pelatihan singkat tentang tata cara pemilihan bibit, pola pembibitan, pemanenan dan teknik pemanfaatan Lamtoro taramba, juga diberikan masukan tentang perhitungan ekonomi mengenai hasil usaha penggemukan sapi menggunakan lamtoro taramba dibandingkan menggunakan tanaman pakan lainnya. Hasil pengabdian menunjukkan lamtoro taramba dipercaya peternak sebagai tamanan bermanfaat banyak dalam proses penggemukan sapi, tidak lagi dianggap hama perusak lahan. Lamtoro taramba membuka peluang bagi Pemkab Sumbawa melakukan pembinaan bidang peternakan secara holistic yang bermuara pada peningkatan pendapatan peternak. Kata Kunci: Lamtoro Taramba. Penggemukan Sapi. Pendapatan Peternak ABSTRACT This community service activity in addition to aiming to increase the income of farmers by utilizing Lamtoro Taramba as feed for fattening cattle is also aimed at saving the environment from the influence of erosion due to massive land deforestation that has occurred recently, including in Unter Iwis District. Sumbawa Regency. Apart from receiving short training on seed selection procedures, seeding patterns, harvesting and techniques for using Lamtoro taramba, farmers are also given input on economic calculations regarding the results of fattening cattle using Lamtoro taramba compared to using other feed crops. The results of the service show that lamtoro taramba is trusted by breeders as a plant that has many benefits in the process of fattening cattle, and is no longer considered a pest that destroys land and the The consolidation of breeders into groups makes it easier for the Sumbawa District Government to provide guidance on feed and the environment. Keywords: Lamtoro Taramba. Cattle Fattening. Farmer Income Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index PENDAHULUAN Kondisi pakan sapi di hampir seluruh daerah di Indonesia cenderung tidak tersedia merata sepanjang tahun. Pada bulan tertentu, terutama di musim penghujan, pakan cenderung Namun karena petani disibukkan oleh penanganan berbagai tanaman pangan di lahannya, mengakibatkan penanganan pakan menjadi terabaikan. Ternak diurus seperlunya saja, bahkan terkadang diabaikan dengan pertimbangan bisa mencari pakan sendiri. Sebaliknya pada musim kemarau, pakan seringkali tidak tersedian memadai, bahkan tidak jarang nihil. Di banyak tempat di Indonesia timur, rerumputan mati karena meranggas. Peternak kemudian memasok pakan sapi sekena saja, misalnya dengan memberikan jerami. Penyediaan pakan di lapangan yang terbatas, membuat kompetisi mencari pakan di berbagai tempat demikian tajam. Ujung persoalan tersebut adalah pendapatan peternak merosot akibat sapi jadi kurus karena keterbatasan pakan yang berimplikasi anjloknya harga sapi. Kecenderungan tersebut berlangsung berabad-abad dan cenderung tidak berkesudahan di banyak daerah. Berbagai langkah sudah dilakukan pemerintah namun hasilnya belum optimal. Pengenalan berbagai jenis tanaman pakan sudah dilakukan dengan hasil mengecewakan (Anonimus, 2. Kondisi cuaca yang ekstrem dalam satu dekade terakhir sebagian mulai terpatahkan sejalan dengan dkenalkannya tanaman Lamtoro cv. taramba yang terbukti relative tahan terhadap cuaca ekstrem. Lamtoro jenis lain yakni lamtoro cv gung sebetulnya sudah dikenal masyarakat di Pulau Sumbawa dan di berbagai daerah kering di Indonesia. Hanya saja lamtoro gung jarang dijadikan pakan andalan karena pohonnya besar dengan tinggi hingga puluhan meter dan memiliki bio massa terbatas, sehingga membuat peternak jarang memanfaatkannya. Belum lagi lamtoro gung dikenal rentan terhadap hama kutu loncat yang berefek pada produksi daun lamtoro ini jadi minim. Lamtoro taramba dimassalkan Fakultas Peternakan UNRAM yang bekerjasama dengan Pemerintah Australia melalui program Applied Research and Innovation System in Agriculture Project (ARISA). Pada tahun 2015 tanaman ini diperkenalkan di lima kecamatan di Kabupaten Sumbawa, termasuk Unter Iwis. Daerah lain tempat pemassalan lamtoro taramba di Pulau Sumbawa adalah di Kabupaten Sumbawa Barat dan di Kabupaten Dompu. Hampir berbarengan dengan itu, seraya berakhirnya program ARISA, kegiatan lingkungan dengan mengandalkan lamtoro taramba sebagai medium AoperjuanganAo dilanjutkan oleh program Indobeef, juga melalui mekanisme kerjasama Australia-Indonesia. Kegiatan yang disebutkan terakhir, sejak dua tahun lalu, tepatnya hingga 2023, sudah terhenti. Urusan pengembangan lamtoro taramba beralih peran dengan pemerintah daerah sebagai penggeraknya. Selain di Pulau Sumbawa, secara parsial lamtoro taramba dikembangkan pula di Pulau Lombok, antara lain Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Utara. Sikap masyarakat terhadap Lamtoro taramba di beberapa lokasi di Pulau Lombok, cukup positif ditandai dikembangnya tanaman ini di lahan peternak dan di lahan komunal (Sutaryono dkk. , 2. Kembali ke pengembangan lamtoro taramba di Pulau Sumbawa, termasuk guna lebih menjamin perbaikan pendapatan peternak dan keluarga di sana, dipandang perlu dilakukan kegiatan pengabdian ini di Sumbawa. Secara spesifik, pengabdian ini diarahkan guna membantu peningkatkan pendapatan dan memperbaiki kondisi lingkungan rusak di Unter Iwis, salah satu kecamatan yang berlokasi di hinterland Sumbawa. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index METODE KEGIATAN Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan selama sehari pada 25 Juli 2023, bertempat di Unter Iwis. Kabupaten Sumbawa. Rincian kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut. Jenis Kegiatan Pelaksanaan pengabdian berlangsung selama sehari yakni pada 25 Juli 2023. Peserta dan pemateri melakukan diskusi mendalam membahas berbagai topik urgen terutama terkait fluktuasi harga sapi bakalan, indukan dan sapi hasil penggemukan. Peserta diskusi bebas mengungkapkan pengalaman terutama 2-3 tahun terakhir terkait pakan, kondisi lingkungan dan gunjang ganjing harga sapi. Diskusi juga mengetengahkan tantangan beternak sapi di tengah kondisi pasca covid-19, termasuk tantangan terbaru yakni harga sapi di Sumbawa di tengah terjangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Hasil diskusi kemudian dirangkum untuk dicarikan solusi. Peserta Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini melibatkan 15 orang peternak anggota kelompok tani ternak Maju Bersama. Unter Iwis Sumbawa. Lima anggota kelompok ini tidak hadir pada kegiatan pengabdian karena ada kesibukan lain. Pendekatan Pola partisipatif yakni pelibatan peserta untuk berdiskusi mendalam membahas berbagai masalah terkini yang terkait topik tersebut dibahas secara mendalam dan terarah, disesuaikan dengan pengalaman peserta, guna menemukan solusi konkret tentang hal yang dihadapi peternak. HASIL DAN PEMBAHASAN Perbaikan Usaha Peternakan Sapi di Unter Iwis Kabupaten Sumbawa. Provinsi Nusa Tenggara Barat, menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu peternak guna menemukan solusi jangka pendek maupun jangka panjang tentang cara menyikapi situasi iklim berupa kemarau/panas yang ekstrem yang sering mendera setiap tahun. Dampaknya setiap tahun dirasakan peternak dalam bentuk produksi sapi yang berkurang ditandai badannya yang kurus, produksi susu menyusut dan berujung pada harga jual yang rendah. Itu semua terjadi karena warga di sana lebih mengenal rumput sebagai pakan andalan dan belum terbiasa memanfaatkan tanaman leguminosa seperti, lamtoro, turi, gamal dan lainnya Hal itu juga dikeluhkan (Dilaga. Pemanfaatan lamtoro taramba sebagai pakan sapi penggemukan selama ini relatif dilakukan terbatas oleh beberapa peternak saja. Lamtoro yang dipakai pun adalah lamtoro biasa, yakni jenis lamtoro gung, yang tersebar di pinggir jalan di berbagai tempat di Sumbawa. Guna memperoleh lamtoro liar . , belakangan peternak mendapat kesulitan karena antarpeternak seringkali saling mendahului untuk mendapatkan tanaman itu untuk keperluan penggemukan sapi dan ternak lain (Hermansyah, 2. Diakui bahwa pemanfaatan lamtoro sebagai pakan memberikan respon positif bagi ternak sapi ditandai relatif cepatnya sapi yang mengonsumsi lamtoro mencapai bobot potong. Sapi yang mengonsumsi lamtoro liar, dari segi waktu, lebih cepat dijual untuk kemudian dipotong dibandingkan sapi yang memakan rumput lapangan dan atau limbah pertanian. Lamtoro gung selama ini dihindari penanamannya oleh peternak karena beranggapan tanaman ini adalah hama perusak lahan. Pohonnya yang tumbuh cepat serta seringkali berukuran besar dengan fungsinya yang tidak seberapa bermanfaat . ayunya tidak bisa dimanfaatkan sebagai bahan banguna. , membuat tanaman ini lebih sering dibasmi. Pertumbuhan lamtoro liar yang juga gampang tumbuh dan menyebar kemana-mana hingga Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index mengakibatkan peternak perlu keluar uang untuk land clearing. Hal itu antara lain membuat lamtoro gung menjadi salah satu tanaman yang dibenci peternak. Menanam lamtoro di lahan baru terlebih di kawasan lahan relative produktif, dalam diskusi, sempat menjadi tertawaan dan cemoohan sebagian peternak. Menanam lamtoro dianggap tidak masuk akal. Hanya membuang waktu, pikiran, tenaga dan biaya. Namun setelah dijelaskan perihal pengalaman mengusahakan lamtoro dan manfaatnya bagi peternak, seperti telah diterapkan di beberapa kawasan oleh ratusan bahkan ribuan peternak di Kecamatan Labangka, dan beberapa tempat di Kabupaten Sumbawa Barat serta di sejumlah desa di Kabupaten Dompu, barulah peternak Untir Iwis menyatakan ketertarikan. Lamtoro juga dicela karena kerap mengakibatkan sapi yang mengonsumsi daunnya nampak seperti kurang sehat. Gejala itu terlihat dari kondisi sapi yang mengeluarkan liur setelah mengonsumsi lamtoro. Nafsu makan sapi juga sering berkurang bahkan nampak diam setelah memakan lamtoro. Keyakinan peternak sedikit berubah setelah dijelaskan tentang manfaat lamtoro bagi sapi dan ternak lain. Hal itu adalah gejala umum. Efisiensi pakan bisa dicapai dengan memanfaatkan lamtoro karena biomassa pakan yang diberikan menjadi berkurang dibandingkan dengan jika sapi mengonsumsi rumput atau limbah pertanian. Artinya, dengan memakan lamtoro, sapi jadi cepat kenyang. Pertumbuhan sapi yang mengonsumsi lamtoro kemudian berimplikasi bagi pendapatan peternak, juga berbeda jauh dibandingkan dengan jika sapi hanya mengonsumsi rumput atau limbah pertanian. Sapi yang melahap rumput, berdasarkan penelitian Dahlanuddin, 2018, hanya bertumbuh 0,23 kg per hari. Sedangkan sapi yang memakan lamtoro bertumbuh hingga 0,52 kg. Kariyani. LA. Harper K. Poppy DP dan Dahlanuddin, 2018 menambahkan, kenaikan bobot badan optimum sapi bali jika diberikan ransum komplet bisa mencapai 0,56 kg/hari. Pakan kering dan komplet yang dimaksudkan terdiri dari 35 % lamtoro, 45% ubi kayu dan 20% jerami padi. Pendapatan peternak sapi yang menggunakan lamtoro sebagai pakan utama mencapai Rp 000/ekor per bulan. Bandingkan dengan sapi yang memakan rumput yang memberikan sumbangsih hanya Rp 278. 000 per bulan (Hermansyah, 2. Belum lagi kondisi sapi yang mengonsumsi lamtoro yang secara fisik nampak lebih kokoh dengan bulu mengkilap dan relative jarang terkena penyakit. Hal sebaliknya terjadi pada sapi yang melahap rumput dan limbah pertanian (Hermansyah. Dilaga. Thei. Maharastri. , 2018. Oscar Yanuarianto. Muhamad Amin. Syamsul Hidayat Dilaga. Dahlanuddin, 2021. Hasil diskusi dengan peternak Untir Iwis antara lain membahas beberapa hal teknis menyangkut identifikasi fisik lamtoro taramba. Hal tersebut dijelaskan menurut pengamatan sepintas sebagai berikut: Tabel: Komponen pembeda lamtoro taramba dan lamtoro gung . engamatan sekila. Uraian Lamtoro Cv. 0,5-1,5 cm 12 bulan Kurang tahan Lebar daun Produksi Bio massa Panen perdana Daya tahan terhadap cekaman panas Daya tahan terhadap hama penyakit Kurang tahan Jumlah tunas setelah potong pertama Sedikit . -7 tuna. Ukuran/diameter . -30-an c. Umur teknis sekitar 20 tahun Catatan: data berdasarkan pengamaan sekilas penulis, 2024. Lamtoro Cv. Taramba 1-2 cm 7-8 bulan Lebih tahan Lebih tahan Banyak/belasan tunas 20-25 cm 25-20 tahun Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index Diskusi dengan peternak Untir Iwis berulang kali membahas pra kondisi sapi yang mengonsumsi lamtoro yang umumnya mengeluarkan liur dan seperti busa di mulutnya. Hal itu dikhawatirkan peternak karena disinyalir bisa membuat sapi sakit atau mati. Itulah faktor pemicu mengapa beberapa peternak enggan memberikan sapinya lamtoro. Sapi yang tadinya mengonsumsi rumput di padangan umumnya enggan merenggut lamtoro. Dapat dijelaskan bahwa gelajala semacam itu bersifat sementara. Setelah beberapa hari, antara 3-4 hari, busa di mulut sapi, praktis hilang dan sapi kembali makan dengan normal dan Hal itu terjadi karena proses penyesuaian jenis pakan . yang dikonsumsi yang merangsang keluarnya liur. Sejauh ini belum ada laporan sapi yang mati karena memakan Sebagian peternak menyatakan telah mengupayakan penanaman lamtoro taramba secara terbatas di bagian pinggir kebun dan ladangnya. Dinyatakan, perluasan areal tanam lamtoro taramba baru ditempuh bila tanaman tersebut kelak terbukti mampu memberikan manfaat nyata dalam bentuk ketersediaan pakan di musim kemarau dan berwujud terjadinya kenaikan bobot badan sapi akibat mengonsumsi lamtoro taramba. Beberapa peternak mulai meyakni lamtoro bisa membuka jalan bagi ketersediaan pakan di musim kemarau, hinga untuk itu peternak tersebut minta disediakan contoh bibit lamtoro taramba. Diskusi juga membahas peluang mendapatkan dan mengusahakan lamtoro plus bibitnya. Kelayakan finansial usaha perbibitan lamtoro tergolong menggiurkan (Hermansyah, 2. Nilai B/C ratio usaha ini jauh di atas 1, tepatnya rata-rata 7,52. Artinya, usaha ini layak diteruskan karena sangat menguntungkan (Tabel . Tabel 2. Nilai B/C Ratio usaha perbibitan lamtoro Tahun Rata-rata Nilai B/C Ratio 7,52 Sumber: Hermansyah, 2023 Maksudnya, dalam beberapa bulan, arus pengembalian modal usaha ini mencapai 7,5 kali lipat dibandingkan dengan besar modal yang dicurahkan. Hal ini dimungkinkan karena baru seorang pengusaha yang menanganinya. Jumlah/kelipatan itu boleh jadi berkurang sejalan dengan muncul dan menjamurnya pesaing pada usaha sama (Hermansyah, 2. Peserta pertemuan pengabdian menyatakan, pandemi Covid-19 yang melanda Sumbawa hingga paruh pertama tahun 2022, berpengaruh besar terhadap merosotnya nilai sapi. Harga sapi potong, misalnya, hanya laku 65-70 persen dari harga normal, itupun pembelinya jarang datang menyambangi. Pembatasan ruang gerak orang untuk bepergian dari satu desa/kawasan ke tempat lain mengakibatkan pembeli jarang bertandang. Belum lagi kecenderungan orang melakukan penghematan luar biasa agar bertahan hidup, sehingga pengeluaran rumah tangga terhadap hal yang dipandang kurang perlu, dibatasi warga. Posisi peternak yang merangkap sebagai peternak pembibitan sekaligus penggemukan, membuat sapi yang sedianya dijadikan bakalan, umpamanya, ditahan penjualannya untuk Begitupun sapi bibit . dibatasi penjualannya untuk dijadikan indukan. Fenomena tersebut terjadi hamper pada semua peternak. Beberapa peserta pernah mencoba mendatangi aparat instansi terkait untuk menanyakan informasi tren pakan sapi penggemukan. Namun tidak diperoleh jawaban memuaskan, terutama menyangkut aspek variasi jenis dan Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index Hal itu membuat peternak kewalahan memelihara sapi penggemukan, terutama dalam jumlah cukup banyak, misalnya di atas 7 ekor. Untuk mendapatkan pakan cukup, peternak mencari pakan hingga 4-6 jam setiap hari. Masalah menjadi semakin serius jika peternak dihadapkna pada adanya undangan atau acara hajatan keluarga dan handaitolan karena waktunya terbagi untuk mengurus sapid an menghadiri undangan. Momentum berbenturannya waktu mencari pakan dengan kegiatan hajatan mencapai 7-10 kali sebulan. Hal ini terlebih jumlah sapi di daerah ini terus membengkak dari 14. 054 ekor tahun 2017 menjadi 68. 218 pada 2018 (BPS KSB, 2. Hal lain yang menarik menyangkut perlu adanya solusi pemasaran sapi yang cenderung lesu belakangan ini. Ada kecenderungan, dalam beberapa tahun terakhir, harga sapi belum kunjung membaik terutama pasca Covid 19 dan dilanjutkan terjangkitnya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang Sumbawa hampir dua tahun terakhir. Dampak serangan PMK belum sepenuhnya hilang dari wilayah Unter Iwis. Peternak berharap adanya jalan keluar mengatasi lemahnya pemasaran sapi. Anjloknya harga bukan hanya terjadi pada sapi penggemukan, juga melanda indukan dan sapi bibit. Diharap harga sapi bisa normal dan pulih, guna memungkinkan pendapatan peternak kembali seperti sedia kala. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara ringkas dapat disimpulkan beberapa butir masukan sebagai berikut: Peternak mulai merasakan perbaikan pendapatan akibat pemanfaatan lamtoro taramba sebagai pakan sapi penggemukan. Peternak tidak lagi mengandalkan lamtoro gung/liar sebagai pakan sapinya namun mulai menanam lamtoro taramba guna mengatasi kelangkaan pakan di musim kemarau. Saran Adapun saran kegiatan ini adalah: Perlu adanya pelibatan institusi terkait guna lebih memasalkan penyediaan dan pemanfaatan lamtoro taramba sebagai pakan untuk sapi penggemukan. Pemanfaatan dan pengusahaan lamtoro taramba perlu diikuti kemungkinan adanya serangan yag mungkin menghinggapi tanaman ini. DAFTAR PUSTAKA